pulang kampung

23 12 2008

selesai membantu temannya membuat tugas maket dia segera meluncur pulang ke tempat kosnya. sore itu dia berencana pulang kampung. ya, satu kebiasaan di penghujung tahun, untuk memperingati natal bersama orang tua dan saudara-saudaranya…apalagi di  natal kali ini sudah hadir di tengah keluarga besarnya, bayi mungil buah pernikahan kakaknya…rasanya tidak sabar dia untuk bertemu dengan keponakannya…

tapi ada satu hal yang mengganggu dia saat itu. pilek yang dideritanya selama beberapa hari ini tidak kunjung sembuh. temannya yang dibantu tadi menyarankan supaya dia makan obat saja pas perjalanan, supaya bisa tidur. tidak salah juga pikirnya.

sengaja dia tidak membeli tiket kereta api atau bus malam untuk perjalanan pulangnya. dia berniat membuat perjalanan semacam avonturir untuk perjalanan pulang kampungnya. barangkali dia terinspirasi oleh sepak terjang Si Roy, nama satu tokoh di sebuah novel karya Gola Gong yang akhir-akhir ini sering dia baca.

tas ransel carrier bermerek alpina yang dia beli bekas dari temannya sudah diisi penuh oleh pakaiannya. sebuah tas kecil untuk  menyimpan dompet sudah disiapkan.

jam 7 malam dia memulai perjalanannya. lamanya perjalanan sudah dia perhitungkan supaya bisa tiba pagi hari di kota jogjakarta. supaya dia bisa melanjutkan perjalanan naik kereta ekonomi jurusan bandung. ya…trayek angkutan dari kota-ke kota sepertinya sudah dia hapal betul.

perjalanan dimulai dari terminal landung sari – malang, dia naik sebuah bus 3/4 tujuan jombang. tiba di jombang dia langsung naik bus besar menuju jogja. efek obat pilek yang dia minum mulai bekerja. di dalam bus yang dia naiki dia mulai digerogoti rasa kantuk yang luar biasa. ahirnya dia memutuskan untuk tidur di deretan kursi untuk 3 orang, duduk di paling pinggir dekat jendela, dan tas ranselnya pun dia letakan di antara dua kakinya. supaya aman pikirnya.

sepanjang perjalanan dia terlelap. sempat terbangun sebentar namun dilanjut lagi tidur karena masih ngantuk berat.

pukul 4 subuh dia dibangunkan oleh kondektur bus tersebut. rupanya tinggal dia sendiri penumpang yang belum turun. sementara bus sudah sekitar setengah jam yang lalu parkir di terminal umbulharjo – jogjakarta.

dia pun menggeliat sebentar, mencoba untuk bangun. lalu dia merasakan keanehan. rasa kantuk yang masih menggantuk tiba-tiba lenyap. berganti kekagetan. tas ransel yang dia letakkan di sela-sela kakinya sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. dia pun segera menengok ke kolong-kolong bangku di dalam bus tersebut. tapi tasnya sudah tidak ada. lalu kemana larinya tas tersebut..?? dia pun segera turun dari bus dan bertanya kepada awak bus yang tadi membangunkan dia. rupanya si mas kondektur pun tidak tahu ada dimana tasnya berada. informasi yang diberikan oleh si kondektur adalah penumpang terakhir yang duduk disebelahnya adalah seorang perempuan yang sudah agak berumur. ya…itu yang dia ingat tadi waktu dia terbangun sebentar, dia seperti melihat seorang perempuan setengah baya di sebelahnya, tapi karena tidak ada kecurigaan apapun dia pun melanjutkan tidurnya lagi. lagi pula saat itu tas nya  masih berada di sela-sela kakinya.

rupanya dia telah menjadi korban sindikat pencoleng tas yang sering beraksi diatas bus di perjalanan antara solo dan jogja. lalu dia pun lapor ke pos polisi yang berada tidak jauh dari terminal. yah sekedar untuk formalitas sekaligus menumpahkan kekesalannya kepada pak polisi yang ada disitu yang menerima laporannya sambil manggut-manggut.

tapi dibalik musibah yang dia terima dia masih bersyukur pada Tuhan, karena dompet yang berisi uang dan dokumen2 lainnya masih aman tersimpan di dalam tas kecil yang memang sengaja dia buat untuk menyimpan dompet, padahal sebelum dia tidur di dalam bus tadi sempat terpikir untuk memasukkan dompetnya ke bagian atas ranselnya yang bisa digunakan untuk menyimpan dompet dan benda-benda kecil yang lain….ah..syukurlah…

jam 5 pagi, setelah nyuruput segelas kopi di terminal dia pun bergegas pergi, tujuannya adalah stasiun tugu – jogjakarta. jam 7 pagi kereta ekonomi tujuan bandung akan berangkat. dengan berjalan kaki sambil menghisap sebatang rokok diapun mulai menyusuri pagi di jogjakarta. tiba di stasiun dia mencari wartel untuk menelepon ke rumahnya di bandung, untuk melaporkan musibah yang sedang dia alami.

tepat jam 7 pagi kereta api bergerak perlahan, meninggalkan stasiun tugu, menuju kota bandung. laki-laki muda itu ada diatas kereta…

dia pun pulang kampung…

sebuah karma telah terbayar…

malang – jombang – solo – jogja – bandung, di penghujung tahun ’95

//teke407

Iklan