Renungan Harian Maret 2009 [Renungan Harian Online]

There’s Season For Everything

Posted: 01 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:1
=======================
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

segala sesuatu ada masanyaPernahkah anda merasakan bahwa anda sudah berbuat yang terbaik, namun tidak mendapatkan hasil yang terbaik? Anda sudah mati-matian belajar, tapi hasilnya jelek. Anda sudah mati-matian bekerja, tapi belum mendapatkan imbalan memadai, ada yang malah diberhentikan. Anda tidak melakukan kesalahan, tapi anda dipersalahkan. Anda sedang menikmati zona nyaman dalam hidup anda, tiba-tiba semua seakan-akan diambil dari anda, dijungkirbalikkan, dan dalam sekejap mata anda berada dalam keadaan yang sebaliknya. Hal seperti itu bisa terjadi kapan saja pada siapa saja. That’s how life goes. Terkadang kita akan merasakan berada pada sebuah situasi dan kondisi yang penuh ketidakadilan, kondisi sulit yang rasanya tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Terkadang Tuhan ijinkan itu hadir dalam hidup kita. Bukan untuk menyiksa kita, tapi justru untuk mendatangkan kebaikan. Kebaikan? Ya, kebaikan. Mungkin saat ini anda tidak bisa melihat satupun sisi baik dari masalah yang anda alami, tapi pada suatu hari nanti, percayalah, anda akan tersenyum dan tahu bahwa itu adalah sebuah proses kehidupan yang bisa mendewasakan, menguatkan dan menebalkan iman kita.

Pagi ini saya dibangunkan dengan sebuah lagu lawas karya The Byrds berjudul “Turn Turn Turn” yang terdengar dalam hati saya. “To everything, turn, turn, turn, there is a season, turn, turn, turn, and a time for  every purpose under heaven..”. Dalam lagu itu dikatakan untuk segala sesuatu ada waktunya. A time to be born, a time to die. A time to plant, a time to reap. A time to be luck, a time to break down, dan sebagainya. Lirik lagu ini dikutip dari Pengkotbah. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”(Pengkotbah 3:1). There’s a season to everything, and a time for every matter or purpose. “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.”(ay 2-8). For everything there’s a season. Ada masa dimana kita berada pada situasi tidak menyenangkan. Tapi ingatlah bahwa semua itu akan indah pada waktunya. Jika anda belum melihat apa-apa saat ini dari sisi kebaikan, bersabarlah, karena memang kemampuan kita tidak sanggup untuk mengerti rencana Tuhan buat diri kita jauh ke depan. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (ay 11).

There are seasons, times and eras in our lives. Kita harus mampu menyikapi setiap masa dalam hidup kita dan mencoba menangkap hal positif dalam masa yang paling kelam sekalipun. Jika belum bisa, percayalah bahwa segala yang diijinkan Tuhan untuk terjadi pada anak-anakNya hanyalah untuk mendatangkan kebaikan. Tidak ada hal buruk dalam rancangan Tuhan. Semua hanyalah rancangan damai sejahtera akan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Tentu saja masa-masa sukar yang penuh ketidakadilan itu menyakitkan untuk dijalani. Tentu saja kita lebih suka tertawa ketimbang menangis, lebih suka menari ketimbang meratap. Itu pasti. Namun masa-masa sukar itu justru seringkali membuat kita jadi mengenal Tuhan jauh lebih dalam. Ketika mengalami masa seperti itu, kita akan belajar bahwa tidak akan pernah cukup untuk mengandalkan kekuatan dan kepandaian manusia saja. Tapi di atas segalanya, ada Tuhan yang selalu menyiapkan rancangan terbaik buat setiap anda dan saya! Kita akan belajar dan mengerti bahwa tidak ada tempat perlindungan lain yang lebih baik selain Allah. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2). Yes, God is our refuge and strength. Percayalah bahwa dalam keadaan sulit sekalipun, dalam masa-masa sukar, in bad times and dark-clouded seasons, Tuhan tetap ada bersama-sama dengan kita. Ketika anda masuk dalam masa seperti ini, tetaplah berpegang pada Tuhan. “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (55:24). Kita disiapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, naik dan bukan turun. (Ulangan 28:13). Jika saat ini anda masih merasa dalam posisi ekor, dan sedang ada di bawah, bertahanlah, bangkitlah dan teruslah berjalan. jangan putus pengharapan. Ingatlah bahwa ada sesuatu yang indah yang direncanakan Tuhan di depan. Anda mungkin belum melihatnya, tapi Tuhan telah menyediakan semua itu di depan. Dan dalam prosesnya, penyertaan Tuhan selalu ada. Dalam masa seperti apapun anda saat ini, itu tetaplah masa yang tepat untuk percaya padaNya. It’s always the right season to put your trust in Him.

Masa sukar boleh hadir, tapi kasih setia Tuhan tetap menopang kita

Kemampuan dan Karakter

Posted: 02 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:2
======================
“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”

kemampuan dan karakter, mengembangkan kapasitasAda begitu banyak partai di negara kita. Menjelang pemilu seperti saat ini, berbagai bendera dengan berbagai warna, corak, logo memenuhi setiap sudut kota dan desa. Setiap partai sadar betul perlunya kaderisasi, dalam bahasa inggrisnya forming a cadre, demi menjaga kelangsungan hidup mereka. Perlunya mencari kader yang sesuai dengan visi/misi dan ideologis masing-masing partai menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan secara berkesinambungan. Ada partai yang mendasarkan pengkaderan pada artis-artis dengan tujuan untuk mencari massa. Mereka menganggap bahwa faktor popularitas yang dimiliki para artis tersebut bisa menjadi senjata ampuh untuk menjaring pemilih. Soal mengerti politik atau tidak? “ah… itu bisa dipelajari..yang penting orangnya  terkenal dan punya massa..” kata salah seorang teman yang juga caleg sebuah partai. Ada yang mencari kader anak-anak muda. “lebih fresh… dan belum terlalu banyak dititipi “pesan sponsor” dan berbagai kepentingan..” kata yang lain. Ada yang mencari presenter atau pembaca berita, yang dianggap lebih pintar ngomong, dan bisa difungsikan menjadi corong suara partai. Dan banyak lagi dasar-dasar pemilihan orang untuk menjadi kader. Dalam urusan keluarga pun demikian, ada banyak ayah yang memaksakan anaknya untuk mengambil jurusan tertentu agar dapat meneruskan perusahaannya. Banyak usaha yang dijalankan turun temurun. Inipun bentuk pengkaderan. Seorang teman sudah dibiasakan bekerja di toko milik orang tuanya sejak SD, dengan harapan agar anaknya terbiasa menghadapi pelanggan dan akrab dengan seluk beluk toko serta segala sesuatu yang dijual disana. Semua orang rasanya menyadari betul bahwa masa hidup di dunia ini adalah begitu singkat, sehingga kaderisasi untuk kelanjutan sebuah organisasi atau perusahaan menjadi begitu penting.

Paulus mengingatkan hal tersebut pada Timotius. Segala sesuatu yang telah dipelajari dan diperoleh Timotius dari Paulus dipesankan supaya bisa dipercayakan lagi kepada orang-orang dengan kualifikasi tertentu. Pemuridan (discipleship)  penting agar pelayanan mewartakan kabar gembira dan menyelamatkan jiwa-jiwa bisa semakin meluas dan tidak berhenti hanya pada Timotius dan teman-teman sepelayanannya. Saya tertarik melihat dua kualifikasi yang disebutkan Paulus. “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”(2 Timotius 2:2). Kepada siapa pengajaran-pengajaran itu harus diteruskan? Paulus berkata: kepada (1) orang-orang yang dapat dipercayai, dan (2) cakap mengajar orang lain. Kita melihat ada dua faktor utama yang layak mendapat sebuah tanggung jawab. Bukan hanya kemampuan, seperti cakap mengajar, tapi juga karakter, salah satunya yaitu: bisa dipercaya. Lihatlah bahwa punya segudang talenta, bakat dan gelar berderet-deret tidak serta merta menjadi tolak ukur utama untuk layak mendapatkan sebuah tanggung jawab. Dalam ayat ini tersirat sebuah pesan penting, agar kita tetap mengembangkan kapasitas kita baik dari pelipat gandaan talenta, penggunaan talenta itu demi kemuliaan Tuhan, dan jangan lupa pengembangan karakter yang sesuai dengan firman Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang talenta di injil Matius 25:14-30, kita melihat bagaimana Tuhan mempercayakan tanggung jawab sesuai kapasitas kita masing-masing. Ada yang diberi lima, ada yang dua, dan ada yang satu. “…masing-masing menurut kesanggupannya” (ay 15). Ayat 15 berbicara mengenai kapasitas, menurut kesanggupan kita, sejauh mana Tuhan bisa mempercayai kita untuk menerima tanggungjawab dariNya. Tuhan tidak akan mau memberi tanggungjawab besar dan banyak berkat pada orang dengan kapasitas kecil, karena “wadahnya” tidak akan sanggup menampungnya. Dalam Markus 2:22 kita membaca mengenai kantong anggur baru. Di masa Yesus ada di dunia, anggur disimpan dalam kantong-kantong kulit. Ketika anggur mengalami fermentasi secara kontinu, kantong pun akan meregang dan mengeras. Apabila anggur baru dituang ke dalam kantong anggur lama, fermentasi yang terjadi pada anggur baru itu akan semakin meregangkan kantong lama tadi, dan kantong lama itu pun bisa koyak. Anggur pun akan terbuang sia-sia. Anggur-anggur baru itu akan membawa berbagai berkat, anugrah dan talenta yang siap untuk dicurahkan Tuhan atas kita. Jika kita masih saja memakai “kantong” hidup kita yang lama, semua itu bisa menjadi sia-sia. Inilah pentingnya untuk mempersiapkan diri kita untuk selalu mengembangkan kapasitas kita semaksimal mungkin, baik dari segi kemampuan maupun karakter, agar semua anggur yang tercurah tidak terbuang sia-sia. Dan dengan demikian, kita pun akan beroleh kesempatan untuk dipercaya sebagai duta-duta surgawi di dunia ini.

Sudahkah anda memaksimalkan segala potensi yang ada dalam diri anda, yang semuanya berasal dari Tuhan? Sudahkah anda memiliki karakter yang berkenan di hadapan Tuhan, seperti misalnya bisa dipercaya, tidak curang dan tidak malas? Jika anda merasa masih kurang dalam mengembangkan kapasitas anda, bertekadlah hari ini juga untuk mau bertumbuh baik dalam kemampuan dan karakter anda. Semakin anda mendekati pribadi Kristus, semakin banyak pula tanggung jawab besar yang dipercayakan Tuhan atas diri anda. Terkadang kesempatan besar tidak datang dua kali. Terus mengembangkan kemampuan dan mau belajar untuk terus memperbaiki karakter-karakter kita yang masih buruk haruslah mendapatkan perhatian serius dari diri kita masing-masing. Hendaklah kita semua selalu siap sedia dan tekun mengembangkan talenta-talenta kemampuan dan karakter kita sehingga ketika kesempatan yang lebih besar besar yang berasal dari Tuhan tercurah atas kita, semua itu tidak menjadi sia-sia.

Persiapkan diri anda untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi dengan terus mengasah kemampuan dan karakter

Jangan Frustrasi dan Menyerah!

Posted: 03 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Amsal 24:16
====================
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”

jangan frustrasi, jangan menyerah, bangkitDalam sebuah pertandingan kejuaraan di tahun 70an, Rudy Hartono maestro bulu tangkis Indonesia saat itu berhadapan dengan pemain hebat asal Malaysia, Punch Gunalan. Ketika itu Punch memimpin dengan telak. Rudy ketinggalan angka 1-14. Satu angka lagi, Punch akan menjadi juara. Secara logika tentu kemenangan hanya tinggal menunggu waktu saja. Tapi apa yang terjadi? Rudy Hartono tidak menyerah sama sekali. Secara luar biasa dia membalikkan keadaan. Angka demi angka diraih untuk menyusul Punch hingga akhirnya keluar sebagai pemenang. Dalam sebuah acara TV beberapa puluh tahun berikutnya, Rudy menceritakan apa yang terjadi saat itu. Demikian kira-kira katanya: “kalau saat itu saya menyerah dan berpikir “yah mati deh…. saya pasti bisa benar-benar mati dan kalah” katanya. Rudy saat itu berpikir positif. Nothing to lose. “Kalaupun kalah tidak masalah, karena saya sudah benar-benar berusaha” katanya. Sikap positif ini membuat Rudy memandang ketinggalan angka dalam posisi kritis itu menjadi sebuah peluang untuk meraih kemenangan. Tekanan secara perlahan berpindah kepada Punch, dan Rudy pun memenangkan pertandingan. Bayangkan jika Rudy saat itu mudah menyerah, mendasarkan hanya pada logika dan hilang semangat ketika dalam posisi kritis, hasil akhirnya tentu akan berbeda.

Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menyerah. Kita tahu bahwa ada pengharapan tanpa batas dalam Kristus. Amsal menuliskan “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16). Sebagai anak-anak Tuhan yang punya pengharapan, tidak seharusnya kita mudah jatuh, frustrasi, menyerah dan kemudian kalah. Orang benar boleh jatuh berkali-kali, tapi tetap bangkit, dan kemudian menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. “Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:36-37). Tentu saja ada rasa sakit ketika kita terus menerus bertemu dengan kegagalan. Tapi jangan jadikan itu sebagai sesuatu yang traumatis kemudian membuat kita sulit bangkit karena terus terbelenggu dengan masa lalu. Jadikan kegagalan itu sebagai sebuah pelajaran berharga, dan jadikanlah sebuah titik tolak untuk bangkit.

Rasul Paulus pernah berkata demikian: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:8-9). Sebuah perkataan yang menunjukkan sebuah mental baja yang tidak mudah menyerah. Kita tahu bagaimana beratnya pergumulan Paulus setelah ia bertobat. Di lempar batu, menghadapi badai besar dalam salah satu pelayarannya ketika melayani, dipenjara, dianiaya dan lain-lain. Bagaimana Paulus bisa mencapai pola pikir seperti itu? Demikian katanya: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (ay 10). Yang dimaksud Paulus dalam ayat 10 ini dia jelaskan pada ayat 17. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (ay 17). Segala penderitaan yang dialami Paulus dan rekan-rekan sepelayanan belumlah sebanding dengan penderitaan yang dialami Yesus dalam menebus dosa-dosa manusia. Dan penderitaan itu semua masih terbilang ringan jika dibandingkan dengan kemuliaan kekal, sebuah kebahagiaan yang luar biasa dan abadi sifatnya, yang dijanjikan Tuhan. Dengan dasar demikian, Paulus dan rekan-rekan tidak merasa tawar hati bahkan menghadapi maut sekalipun. “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” (ay 16).

Penderitaan boleh datang, kegagalan boleh hadir dalam hidup kita, tapi semua itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal untuk belajar melangkah dalam proses perjalanan hidup kita untuk mencapai kesuksesan. Dalam Filipi, Paulus mengungkapkan sebuah tips penting menjalani kehidupan: “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Yesus pun mengingatkan dengan tegas bahwa kita tidak boleh terus terikat dengan segala kegagalan di masa lalu. “Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:62). Jangan menyesali kegagalan dan masa lalu anda secara berlebihan, apalagi jika itu mendatangkan frustrasi hingga kemudian menyerah. Jadikan semua itu sebagai titik awal sebuah proses belajar menuju keberhasilan, dan jadikan semua itu sebagai pelajaran untuk bersandar kepada Tuhan. Mulailah mengandalkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Ketika anda masih terjatuh saat ini, jangan patah semangat, karena Tuhan punya rencana luar biasa dalam hidup anda. Bangkitlah!

Belajarlah dari kegagalan dan jadikan itu sebagai awal kesuksesan

Yes, I Do

Posted: 04 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
“Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.”

pernikahan, keluarga Ilahi, materai Tuhan, selingkuh, ceraiBulan lalu saya bertemu dengan seorang artis senior yang sudah menjalani karir di dunia entertainment selama 58 tahun. Sebuah rentang masa yang sungguh panjang dalam berkarir, yang ternyata diikuti pula dengan catatan rekor luar biasa dalam hubungan suami istri. Beliau sudah menjalani 42 tahun pernikahan, dan hingga sekarang masih sangat harmonis. Saya bertanya apa rahasianya, karena kita sudah begitu terbiasa mendengar kisah artis kawin-cerai dengan didasari berbagai alasan. Ia menjawab: “intinya adalah, ketika kita mengatakan “yes i do”, it’s the end of a love seeking journey. Kita mengucapkan “Yes I do” bukan berbicara kepada penghulu, pastur, pendeta, pemuka agama, orang tua dan sebagainya, tetapi kepada Tuhan sendiri.” Ia melanjutkan: “Pernikahan itu bukan kontrak, tapi komitmen. Dan komitmen itu tidak main-main karena kita bicara sama Tuhan”. Ketika dunia selebritis seolah mempermainkan ikatan suami-istri seenaknya, apa yang dikatakan oleh artis senior ini sungguh mencengangkan. Istrinya ada disana, dan terlihat betapa hubungan mereka begitu mesra. Dan kita sedang berbicara mengenai sepasang suami istri yang mengucapkan ikrarnya 42 tahun yang lalu.

Gaya hidup modern penuh dengan kawin-cerai. Celakanya tidak hanya terjadi di antara mereka yang kurang menghayati pentingnya sebuah komitmen saja, tapi malah dituliskan pula menjadi lirik-lirik lagu yang sedikit banyak bisa mempengaruhi pola pikir seluruh lapisan masyarakat. Ada begitu banyak lagu yang seolah melegalkan kawin-cerai dan perselingkuhan. Sephia, Kekasih Gelap, Aku Cinta Kau dan Dia, Lelaki Cadangan, Jadikan Aku Yang Kedua, dan banyak lagi, menjadikan perasaan dan excuse-excuse lainnya sebagai legalitas berselingkuh dan bercerai. Tuhan tidak menyukai hal itu. Dia membenci hal itu. Mari kita baca Maleakhi 2. “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:14-16). Tuhan membenci perceraian, Tuhan membenci orang yang berkhianat. Dan ketika ini terjadi, jangan heran jika hidup tidak lagi memiliki sukacita dan damai, karena Tuhan tidak lagi berkenan menerima persembahan apapun dari tangan mereka.

Sebuah pernikahan kudus adanya, dimateraikan bukan lagi dua melainkan menjadi satu langsung oleh Tuhan. Kita berbicara mengenai materai Tuhan, dimana Tuhan sendiri menjadi saksi sebuah pernikahan, bukan materai seharga Rp 6000 yang kita beli di kantor pos. Jika orang sudah takut melanggar sebuah perjanjian yang dimateraikan dengan keping kertas seharga Rp 6000, apalagi jika materai tersebut menyangkut Tuhan di dalamnya. Sebuah pernikahan di mata Tuhan adalah sebuah perjanjian Ilahi yang harus diisi dengan menghayati sebuah kesatuan. “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:5-6). Lebih lanjut, sebuah pernikahan, seperti yang dikatakan oleh sang artis senior, berarti sebuah komitmen untuk mengemban tanggung jawab. Mari kita lihat kitab Efesus. “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:33). Suami dan istri memiliki peran masing-masing yang haruslah saling isi, karena mereka bukan lagi dua melainkan satu.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Lihatlah konsekuensi serius jika seorang tidak menghormati konstitusi pernikahan. Jika dalam Maleakhi di atas kita membaca Allah tidak berkenan menerima apapun dari tangan mereka lagi, dalam 1 Petrus 3:7 kita membaca bahwa doa-doa kita akan terhalang jika kita bisa menghormati pasangan hidup kita. Masalah akan selalu ada, baik dalam keluarga yang paling harmonis di dunia sekalipun. Yang membedakan adalah bagaimana menyikapinya. Semua masalah bisa diselesaikan dengan keterbukaan dan kejujuran, dan hendaklah diselesaikan dengan cepat, jangan ditunda-tunda hingga menumpuk dan menjadi rumit. Mencari pelarian di luar bukanlah sebuah penyelesaian, malah seringkali membuka permasalahan demi permasalahan baru yang akan mempersulit segalanya. Lebih dari itu, hal tersebut pun dibenci Tuhan. Walaupun ada teman-teman pembaca yang saat ini belum menikah, suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi anda untuk memasuki jenjang pernikahan ini. Baik teman-teman yang sudah menikah maupun yang belum, mari kita bangun sebuah hubungan pernikahan yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, sehingga rumah tangga kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang indah bagi keluarga-keluarga lainnya. Ketika dunia penuh dengan kawin-cerai, ini saatnya kita memperkenalkan keindahan keluarga ilahi yang dimateraikan langsung oleh Tuhan.

Setia, saling mengasihi dan hidup sesuai firman, itulah ciri keluarga Ilahi yang diberkati Tuhan

Membangun dan Mengisi Kehidupan

Posted: 05 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Amsal 24:3-4
=====================
“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.”

membangun dan mengisi kehidupanCoba perhatikan apa yang terdapat dalam rumah anda saat ini? Sebuah rumah biasanya memiliki kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Mungkin ada pula yang dilengkapi dengan taman, teras dan ruang-ruang lainnya. Semuanya tentunya terdiri atas perabotan-perabotannya sendiri. Sebuah kamar tidur misalnya, tidak akan lengkap tanpa kasur dan lemari baju. Dapur tanpa kompor atau tempat mencuci piring tentunya akan terlihat kosong, dan sebagainya. Sekarang bayangkan jika sebuah rumah hanya diisi dengan hal yang sama. Kamar mandi tentu penting dalam sebuah rumah. Tapi bagaimana jika rumah berisi kamar mandi semua? Tentu aneh bukan? Atau bagaimana jika sebuah rumah hanya diisi dengan kasur semua, atau kursi semua. Tidak akan ada rumah yang demikian, namun hidup kita seringkali diisi hanya dengan satu hal saja, tanpa mempertimbangkan hal lainnya, dan hidup kita bisa berubah menjadi aneh, seaneh rumah yang hanya diisi dengan satu jenis perabot saja.

Ada orang yang hanya menuntut ilmu. Selesai satu, dilanjutkan dengan yang lain, dan tidak diaplikasikan sama sekali untuk memberkati sesama. Ada orang yang hanya mementingkan pelayanan, tapi membiarkan keluarganya terbengkalai. Ada kepala keluarga yang hanya duduk seharian di rumah namun tidak bekerja mencari nafkah. Sebagai manusia, kita semua telah dilengkapi Tuhan secara khusus dengan berbagai talenta, bakat dan kemampuan tersendiri yang tentunya bisa kita pakai dalam kehidupan kita, untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Ayat bacaan hari ini diambil dari Amsal yang berbunyi: “Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah dalam bentuk harafiah, rumah yang didirikan dari batu, pasir, kayu, rangka besi, dan berbagai bahan bangunan lainnya. Tapi rumah disini berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal berharga, berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat bangsa dan negara, dan tentunya berharga di mata Tuhan. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa berharganya sebuah kehidupan. Perjalanan hidup ini sesungguhnya singkat. Musa menyadari betul hal itu, sehingga salah satu doanya berisi demikian: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Alangkah sia-sianya jika kehidupan yang singkat itu tidak kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Betapa sia-sianya jika hari demi hari berlalu begitu saja tanpa makna, gone with the wind. Maka Musa pun berdoa meminta hikmat untuk bisa menghitung hari demi hari dan mengisinya dengan hal-hal bermakna. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (ay 12).

Adalah penting bagi kita semua untuk memiliki hikmat agar dapat memaksimalkan segala potensi yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita dengan bijaksana. Ingat bahwa segala-galanya pada suatu hari nanti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. (Roma 14:12). Perumpamaan talenta dalam Matius 25:14-30 menggambarkan hal tersebut secara jelas. Memang banyak yang menjadi tugas kita dalam menjalani kehidupan, tapi ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah melengkapi kita semua secara cukup. Bahkan dalam kelemahan sekalipun, Tuhan menyatakan segala kasih karunia-Nya cukup bagi kita, dan justru dalam kelemahan itu kuasa Tuhan akan menjadi sempurna. (2 Korintus 12:9). Esensi dari kehidupan adalah bagaimana kita bisa bertumbuh dan berbuah, dan mengisinya dengan mempergunakan segala potensi yang ada bagi kita demi kebaikan diri kita, keluarga dan buat sesama, dimana Tuhan dipermuliakan di atasnya. Seperti layaknya membangun rumah, kitapun harus membangun kehidupan kita dengan pondasi yang kuat, dan mengisinya dengan berbagai hal yang berguna. Jangan hanya berhenti pada satu bentuk saja, tapi penuhilah hidup dengan banyak warna sehingga catatan kehidupan kita akan semarak dengan penuh warna.

Hikmat, kepandaian dan pengertian akan membentuk sebuah kehidupan yang berharga

Manipulasi Citra

Posted: 06 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Efesus 4:14-15
=====================
“sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

manipulasi citra, tipuan duniaSalah satu mata pelajaran yang saya ajarkan adalah desain grafis, salah satunya dengan mempergunakan software pengolah gambar Photoshop. Photoshop mampu melakukan pengeditan gambar dengan luar biasa, sehingga bisa membuat orang percaya pada apa yang mereka lihat, walaupun gambar itu merupakan sebuah rekayasa. Itulah sebabnya salah satu kehandalan software ini terletak pada kemampuannya dalam hal manipulasi citra, baik lewat penggabungan dua gambar atau lebih, pengeditan, dan sebagainya sehingga bisa menipu pandangan orang ketika melihatnya. Semakin anda menguasai Photoshop, hasil manipulasi pun akan semakin rapi. Membuat orang gemuk menjadi kurus, make-up digital, menghilangkan jerawat, kerut-kerut wajah, menghilangkan berbagai bagian-bagian yang tidak diinginkan dan sebagainya bukan lagi hal yang mustahil. Alat bantu seperti ini akhirnya bisa membuat foto-foto yang kita lihat di majalah seolah terlihat begitu sempurna, walaupun kalau dibandingkan dengan foto aslinya bisa jadi jauh berbeda. Bagi orang awam tentu sulit membedakan mana yang asli dan tidak, namun bagi yang sudah menguasai Photoshop tentu punya kemampuan lebih peka dalam mengetahui keaslian sebuah foto ketika mereka melihatnya.

Begitu pula dengan dunia ini. Kita hidup di sebuah dunia yang penuh dengan rupa-rupa tipuan, dan kita sering termakan oleh tipuan-tipuan ini. Iklan-iklan selalu berbicara tentang memiliki kulit yang putih, yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa punya kulit gelap itu berarti buruk rupa. Iklan-iklan menunjukkan bahwa cantik adalah orang yang langsing dan tinggi, maka tidak heran jika ada banyak remaja yang depresi dan menjadi minder karena mereka tidak kurus dan kurang tinggi. Padahal jelas bahwa ada begitu banyak hal lain yang jauh lebih penting dibandingkan sebuah penampilan fisik semata, yang ironisnya justru tidak bisa dijadikan faktor mutlak. Gambaran sebuah fisik yang sempurna berbeda dari masa ke masa, dan berbeda pula dari satu bangsa dengan bangsa yang lain. Tapi gencarnya tipuan iklan bisa membuat orang meletakkan dirinya pada hal-hal fisik sesuai dengan apa yang diinginkan si pembuat iklan atau pemilik produk. Cepat atau lambat, manusia akan kehilangan jati dirinya, kehilangan makna hidup dan tidak lagi menyadari bahwa siapapun mereka, siapapun kita, anda dan saya, kita adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa, dimana Tuhan punya rencana luar biasa bagi kita masing-masing.

Dunia yang kita diami penuh tipuan dan jebakan. Di setiap sisi kehidupan, iblis terus mencari kelemahan kita dan mencoba memangsa kita. Begitu gencarnya sehingga terkadang kita sulit untuk membedakan mana jalan yang benar, dan mana yang menuju kebinasaan. Hal ini bukan lagi hal baru, karena dalam Amsal jauh-jauh hari sudah tertulis demikian: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25). Untuk mampu membedakan, kita harus tahu betul apa yang menjadi kehendak Tuhan, dan tidak ada jalan lain selain terus memperlengkapi diri kita dengan firman Tuhan, hidup bertumbuh dan berbuah dalam iman akan Kristus dan terus ada dalam bimbingan Roh Kudus. Dalam surat untuk jemaat Efesus, Paulus menulis bahwa untuk melawan tipu muslihat iblis kita harus terus memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjata Allah. (Efesus 6:10-20).

Tanpa membekali diri kita dengan firman Tuhan, iman dalam Kristus dan senantiasa berada dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kita akan mudah diombang-ambingkan dengan segala tipuan dunia, lengkap dengan segala bentuk penyesatannya. Kita akan sulit mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang lurus dan mana yang menuju maut. Begitu banyak ajaran-ajaran yang seolah terlihat baik, namun ternyata sesat. Dan Paulus berkata: “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” (2 Korintus 11:14). Jika kita memahami firman Tuhan, kita akan tahu mana pengajaran yang sesuai dengan firman Tuhan dan mana yang tidak. Iman dalam Kristus, yang adalah kepala, disertai dengan penyertaan Roh Kudus yang terus membimbing hidup kita akan membuat kita memiliki kepekaan kuat akan sesuatu yang benar dan sesat. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah jangan sampai kita sekali-kali membiarkan diri kita terbuka akan kebohongan, karena salah satu pintu masuk kesesatan adalah karena kita membiarkan diri kita untuk bersedia mendengar kebohongan. (Yehezkiel 13:19). Hendaklah kita selalu membangun hidup dengan kebenaran firman Tuhan sehingga kita tetap terjaga dari tipu muslihat dunia.

Jadikan kebenaran firman Tuhan menjadi nilai hidup utama, bukan apa yang kita lihat dan dengar di dunia ini

Penyertaan Tuhan Adalah Kunci Keberhasilan

Posted: 07 Mar 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Kejadian 39:2
=====================
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.”

penyertaan Tuhan, berhasil dalam pekerjaan, berhasil dalam hidupKetika usaha kita gagal, ketika impian kita kandas ditengah jalan, bagaimana sikap kita? Ada banyak orang yang terbenam dalam kegagalan itu dan menjadi sulit untuk bangkit. Ada pula orang yang kemudian menyalahkan Tuhan bahkan mengalami kepahitan pada Tuhan. Sebaliknya ketika orang berhasil, banyak diantara mereka yang menjadi lupa diri, tenggelam dalam percaya diri yang berlebihan dan meninggalkan Tuhan. Hasil positif bisa kita peroleh lewat kerja keras kita, lewat usaha kita yang sungguh-sungguh, namun semua itu tidaklah berarti tanpa adanya penyertaan Tuhan. Apa sebenarnya yang bisa membuat kita berhasil?

Mari kita lihat kisah Yusuf pada kitab Kejadian. Dalam pasal 37 kita melihat betapa Yusuf diperlakukan semena-mena oleh saudara-saudaranya yang iri hati pada dirinya. Dia dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual kepada saudagar-saudagar Meridian yang kemudian membawa Yusuf ke Mesir. Bayangkan penderitaan Yusuf tersebut. Apakah dia membenci Tuhan? Apakah Yusuf menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi pada dirinya? Tidak. Alkitab tidak mencatat hal-hal seperti itu. Dalam Kejadian 39, justru Alkitab menyatakan kebalikannya. Kita bisa melihat bagaimana kedekatan Yusuf dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa menyertai Yusuf. Dan penyertaan itu membuat Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Ayat bacaan hari ini dengan jelas menyatakan bahwa yang membuat Yusuf selalu berhasil adalah karena penyertaan Tuhan, dan bukan karena kehebatan dirinya sendiri. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” (Kejadian 39:2)

Berulang-ulang penekanan tentang hal tersebut dicatat di ayat-ayat selanjutnya. Ayat berikutnya berbunyi: “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (ay 3-4). Ketika Yusuf kemudian dipenjara, kembali kita temukan ayat yang menyatakan tentang penyertaan Tuhan. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu…..Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil. (ay 21,23).

Penyertaan Tuhan merupakan sebuah kunci yang sangat penting dalam perjalanan setiap keberhasilan dalam hidup Yusuf. Apa yang membuat Yusuf mendapat penyertaan dari Tuhan? Ada beberapa hal yang bisa kita lihat lewat kisah hidupnya.

  • Yusuf selalu rajin bekerja
  • “Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri.” (ay 6)

  • Yusuf tetap menjaga kekudusan
  • Lihatlah bagaimana Yusuf digoda oleh istri Potifar, namun dia memilih untuk tidak berzinah. “…Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ay 9)

  • Yusuf menjauhi dosa
  • “Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.” (ay 12)

  • Yusuf adalah orang yang jujur
  • Dia tidak memanfaatkan situasi dan berbuat curang meskipun peluang ada didepan mata. Yusuf melakukan segalanya sesuai dengan mandat yang diberikan kepadanya. “…Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya..” (ay 8-9).

  • Yusuf tidak mendendam
  • Atas segala kejadian pahit yang dia alami, dia tidak pernah mendendam. Baik ketika disiksa oleh saudara-saudaranya dalam Kejadian 37, maupun ketika dimasukkan ke dalam penjara (39:20).

  • Yusuf memiliki sikap positif
  • Dia tidak pernah bersungut-sungut, mengeluh atau menyesali nasib. Yusuf selalu punya sikap positif dalam perjalanan hidupnya.

Semua hal di atas menunjukkan bahwa Yusuf selalu taat dan percaya pada Tuhan. Dalam kondisi tidak enak dia tidak sekalipun ragu akan Tuhan. Dan sebaliknya ketika ada kesempatan untuk mendapat kenikmatan duniawi, dia tidak terjebak sama sekali. Semua itu menunjukkan kedekatan Yusuf dengan Tuhan. Tidak heran jika kemudian Tuhan menyertai Yusuf, dan penyertaan Tuhan itu membuat apapun yang dibuat Yusuf menjadi berhasil.

Untuk memperoleh kesuksesan sejati, ingatlah bahwa semua itu bukanlah semata-mata karena kekuatan kita, tapi karena ada campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Intinya adalah bagaimana kita hidup berkenan di hadapan Tuhan. Bagaimana kedekatan kita dengan Tuhan, apakah kita selalu rindu untuk datang padaNya, membawa pujian dan hormat kita kepada Tuhan. Bagaimana kita mampu percaya sepenuhnya pada Tuhan dan tidak mengeluh walau sedang dalam keadaan sulit sekalipun. Ketika semua itu kita lakukan, Tuhan akan memberi penyertaanNya dalam hidup kita, maka keberhasilan pun akan menjadi bagian kita. Marilah kita belajar dari kisah Yusuf dan dapatkanlah keberhasilan yang berasal dari Tuhan.

Tuhan menyertai anak-anakNya yang taat sehingga apapun yang diperbuat akan berhasil

Membicarakan Dosa Orang Lain

Posted: 08 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

pengemis buta, perkataan sia-siaAda seorang peminta-minta yang bungkuk punggungnya lewat di depan kampus tempat saya mengajar. Secara spontan, seorang siswa sambil tertawa berkata “waduh..sudah minta-minta, bungkuk pula.. apa ya dosa ibunya..” Saya terkesiap mendengar celetukannya. Memang tanpa sadar, namun tajam. Kenapa ibunya yang langsung disalahkan, kenal saja tidak. Merefleksikan hal tersebut pada kehidupan kita sehari-hari, kita pun sering secara tidak sadar mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya.

Kejadian seperti ini pun pernah terjadi pada masa kehidupan Yesus di dunia. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya, lewatlah seorang pengemis yang buta sejak lahir. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Bayangkan jika anda ada di posisi orang buta tadi, betapa sakit rasanya dikatai seperti itu. Orang buta itu tentu sudah menderita karena tidak bisa melihat. Bukannya di bantu, di sapa dengan ramah, atau diberi sedekah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. “Kok sampai bisa buta begitu ya… apa karena dosanya atau orang tuanya..” Aduh, sakitnya mendengar komentar seperti ini, yang ironisnya datang dari murid-murid Yesus pula. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa mereka sendiri adalah manusia yang berdosa juga, dan belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani.

Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sesuatu yang belum pernah ia alami sejak lahir. Tidak hanya itu saja, Yesus pun berkata: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ay 3). Pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia? Tidakkah itu luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa.

Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya, tapi mulailah mengambil tindakan nyata, selagi “hari masih siang”. Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai. “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.” (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan memberkati orang lebih banyak lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi hari masih siang.

Ambil langkah positif dengan melakukan tindakan nyata untuk memberkati orang lain

Motivasi Sejati Melayani

Posted: 09 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Lukas 3:2
==================
“pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.”

motivasi melayaniWorhsip leader, pemain musik, diaken, dan hamba Tuhan lainnya merupakan jabatan yang menonjol di Gereja. Rata-rata jemaat akan mengenal muka-muka yang sering tampil melayani baik dalam ibadah Gereja maupun berbagai bentuk pelayanan lainnya. Melayani pekerjaan Tuhan sungguh merupakan sebuah panggilan yang sangat penting, yang sudah seharusnya dilakukan oleh semua anak-anak Tuhan sesuai amanat Agung yang diberikan Kristus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Melayani pekerjaan Tuhan adalah amat baik, itu kita semua setuju. Tapi sudahkah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani? Di balik sebuah pelayanan, seperti halnya profesi dan pekerjaan lainnya, ada begitu banyak motivasi di belakangnya. Saya pernah membaca beberapa kali bahwa melayani pada mulanya diawali dengan motivasi yang tulus kemudian berubah menjadi menunjuk pada diri sendiri.Ketenaran, pamor, popularitas yang menghinggapi para hamba Tuhan seringkali membelokkan motivasi ke arah diri sendiri.

Pada masa negeri Yudea berada di bawah kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh kaisar Tiberius, disebutkan pada saat itu yang memegang status sebagai Imam Besar adalah Hanas dan Kayafas. Imam Besar kalau kita runut ke belakang, jabatan Imam Besar ini pertama sekali diberikan kepada Harun melalui sebuah tanda berupa tongkat Harun yang berbunga diantara imam-imam Lewi lainnya. (Bilangan 17). Karena Allah sendiri yang mengangkat Harun sebagai Imam Besar, jabatan ini pun punya tugas yang luar biasa besar sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Imam Besar dituntut untuk senantiasa hidup benar dan kudus. Imam Besar merupakan “perpanjangan tangan” Tuhan di dunia ini untuk menyampaikan pesan-pesanNya kepada umatNya di dunia. Pada saat itu, Hanas dan Kayafas tengah menjabat sebagai Imam Besar. Tapi lihatlah ayat bacaan hari ini mengatakan sesuatu yang aneh. Ketika Hanas dan Kayafas ada di posisi Imam Besar, seharusnya firman Tuhan datang kepada mereka. Tapi bukan itu yang terjadi, karena dalam ayat ini kita membaca firman Tuhan bukannya datang pada Hanas dan Kayafas yang menyandang jabatan penting, tapi malah datang pada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Ini sesuatu yang aneh. Mengapa bisa demikian? Mengapa Tuhan melecehkan jabatan Imam Besar yang Dia tetapkan sendiri? Dari apa yang kita lihat dalam Alkitab, ternyata Imam Besar pada masa itu sudah berubah motivasinya. Dan Tuhan memutuskan untuk tidak lagi berfirman melalui mereka. Hanas dan Kayafas motivasinya sudah melenceng menunjuk pada diri sendiri. Ketika mereka seharusnya menjadi rekan sekerja Tuhan, wakil Tuhan di dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan, ternyata mereka malah berubah menjadi musuh Tuhan dengan menjadi bagian dari penyaliban Yesus Kristus. Jabatan, kekuasaan, kekayaan, pengaruh, bisa membutakan mata para pemimpin seperti Hanas dan Kayafas sehingga akhirnya mereka tidak lagi disertai Roh Tuhan. Maka Tuhan lebih memilih Yohanes, yang tidak menyandang gelar apa-apa, dan sedang berada di padang gurun.

Apa yang membuat Tuhan memilih Yohanes Pembaptis? Yohanes punya hati yang jauh berbeda dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas. Yohanes tidak membawa murid-muridnya untuk berpusat pada dirinya, melainkan membawa mereka kepada Yesus Kristus. Mari kita baca ayat berikut: “Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.”(Yohanes 1:35-37). Lihatlah bahwa Yohanes menunjuk pada Yesus dan mengarahkan murid-muridnya untuk mengikuti Yesus, bukan dirinya. Itulah hati yang dimiliki Yohanes, dan itulah yang membuat Tuhan lebih suka pada Yohanes ketimbang kedua Imam Besar tersebut.

Bagi teman-teman yang sudah melayani, perhatikan baik-baik motivasi anda dalam melayani. Jika kita tidak waspada, kita bisa kehilangan Roh Tuhan karena motivasi kita melenceng dalam melakukan pelayanan. Ketika Yesus melihat murid-murid Yohanes mengikutiNya, Yesus bertanya: “Apakah yang kamu cari?” (ay 38). Ya, ini pertanyaan yang sama untuk para hamba Tuhan. “Apa yang anda cari?” Apa yang anda cari dari pelayanan? Apakah pamor, popularitas, atau melayani agar mendapat berkat melimpah, atau semata-mata karena mengasihi Tuhan dan rindu lebih banyak lagi orang bisa mengenal Kristus? Apakah pelayanan sudah diikuti oleh sikap hidup yang benar, yang bisa dijadikan kesaksian dan teladan bagi orang lain? Bagi pelayan-pelayan Tuhan di segala posisi, baik worship leader, musisi, diaken dan sebagainya, jangan sampai pelayanan anda menunjuk pada diri sendiri. Pelayanan sejati haruslah menunjuk pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga kali pula Petrus menjawab “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Dan jawaban Yesus kemudian pun tiga kali diulang: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-17). Lihatlah bahwa motivasi yang terutama dalam pelayanan adalah karena anda dan saya mengasihi Yesus. Itu yang harus menjadi sumber utama dalam melayani. Jika motivasi kita sampai melenceng, akibatnya tidak main-main. Sebab Tuhan berfirman: “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” (1 Korintus 16:22). Milikilah motivasi yang benar dalam melayani, bukan karena kehebatan kita melainkan semata-mata karena kita mengasihi Kristus.

Pelayanan sejati adalah pelayanan yang menunjuk pada Yesus Kristus

Siapa Yang Buta?

Posted: 10 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

pengemis buta, perkataan sia-siaAda seorang peminta-minta yang bungkuk punggungnya lewat di depan kampus tempat saya mengajar. Secara spontan, seorang siswa sambil tertawa berkata “waduh..sudah minta-minta, bungkuk pula.. apa ya dosa ibunya..” Saya terkesiap mendengar celetukannya. Memang tanpa sadar, namun tajam. Kenapa ibunya yang langsung disalahkan, kenal saja tidak. Merefleksikan hal tersebut pada kehidupan kita sehari-hari, kita pun sering secara tidak sadar mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya.

Kejadian seperti ini pun pernah terjadi pada masa kehidupan Yesus di dunia. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya, lewatlah seorang pengemis yang buta sejak lahir. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Bayangkan jika anda ada di posisi orang buta tadi, betapa sakit rasanya dikatai seperti itu. Orang buta itu tentu sudah menderita karena tidak bisa melihat. Bukannya di bantu, di sapa dengan ramah, atau diberi sedekah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. “Kok sampai bisa buta begitu ya… apa karena dosanya atau orang tuanya..” Aduh, sakitnya mendengar komentar seperti ini, yang ironisnya datang dari murid-murid Yesus pula. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa mereka sendiri adalah manusia yang berdosa juga, dan belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani.

Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sesuatu yang belum pernah ia alami sejak lahir. Tidak hanya itu saja, Yesus pun berkata: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ay 3). Pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia? Tidakkah itu luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa.

Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya, tapi mulailah mengambil tindakan nyata, selagi “hari masih siang”. Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai. “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.” (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan memberkati orang lebih banyak lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi hari masih siang.

Ambil langkah positif dengan melakukan tindakan nyata untuk memberkati orang lain

Kuasa Doa dan Puji-Pujian

Posted: 11 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 16:25
=============================
“Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.”

pujian mengatasi masalahWhat would we do when life treats us bad? Ketika kita berada di luar zona kenyamanan kita, dan kemudian kita mengalami penderitaan, masalah dan tiba-tiba berada dalam kegelapan? Sebuah pepatah kuno mengatakan, daripada ribut akan kegelapan, lebih baik nyalakan sebatang lilin. Tapi kenyataannya seringkali orang merasa kecewa dan kemudian bersungut-sungut bahkan menyalahkan Tuhan. Banyak yang kemudian kecewa pada Tuhan, karena mereka menganggap segala kepatuhan mereka selama ini tidak seharusnya menempatkan mereka pada segala penderitaan dan problema kehidupan.

Seringkali kita merasa kecewa pada Tuhan karena kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, atau mendapatkan apa yang tidak kita harapkan. Kekecewaan akan mudah datang jika kita menilai segala sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Kita lupa bahwa di atas segalanya ada Tuhan yang selalu menyertai kita, bahkan dalam kegelapan yang paling gelap sekalipun, jika kita tetap memandang dan mencari Dia. Selain kecewa, ada alternatif lain yang patut dicoba ketika kita menghadapi masalah dan penderitaan. Mari kita baca Kisah Rasul 16:16-40. Pada saat itu Paulus dan Silas berhadapan dengan seorang perempuan tukang tenung, dimana hasil tenungnya menghasilkan laba besar bagi tuan-tuannya. (ay 16). Mereka mengusir roh jahat yang merasuki perempuan tukang tenung itu, dan akibatnya ia tidak lagi bisa mendatangkan uang pada para tuannya. Perbuatan Paulus dan Silas ini mendatangkan sebuah masalah yang sangat serius bagi Paulus dan Silas. Mereka kemudian ditangkap, dan dicambuk berkali-kali, lalu dilemparkan ke dalam penjara dengan keadaan dipasung. (ay 23-24). Paulus dan Silas menghadapi hal tersebut tidak dengan menyalahkan Tuhan, mengeluh dan mengumpat, tapi mereka memilih sebuah jalan untuk tetap bersyukur, berdoa dan menyanyikan pujian-pujian kepada Allah. Mereka melakukannya dengan lantang, sehingga narapidana lain pun mendengarkan mereka. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (ay 25). Dan lihatlah apa yang terjadi. “Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” (ay 26). Kepala penjara pun panik, dan mengira bahwa Paulus dan Silas pasti telah melarikan diri. Ia hendak bunuh diri karena merasa dirinya gagal. Tapi Paulus dengan lantang berkata: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” (ay 28). Kejadian ini kemudian membawa dampak luar biasa, tidak saja bagi Paulus dan Silas yang mendapatkan kembali kebebasannya, tapi juga bagi sang kepala penjara. Perhatikan ayat berikut: “Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (ay 30-33). Luar biasa, ketika Paulus dan Silas mengambil pilihan untuk terus memuji dan menyembah Tuhan dalam keadaan penuh masalah dan penderitaan, tidak saja mereka diselamatkan, tapi sang kepala penjara pun selamat. Tidak hanya kepala penjara saja, bahkan seluruh keluarganya. Luar biasa.

Lihatlah kekuatan dari doa dan puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kita atas penyertaan Allah. Mengikuti Allah tidak berarti bahwa kita akan 100% lepas dari masalah, tapi ingatlah selalu bahwa Tuhan akan selalu ada beserta kita, bahkan dalam kegelapan yang paling gelap sekalipun. Daripada bersungut-sungut, mengeluh, mengumpat dan menyalahkan Tuhan, lebih baik kita coba alternatif yang dipilih oleh Paulus dan Silas. Pujian dan penyembahan pada Tuhan dari hati yang tulus akan membawa dampak positif, tidak saja pada diri kita sendiri tapi juga pada orang-orang disekitar kita. Dalam keadaan sulit sekalipun, ingatlah bahwa Tuhan selalu ada beserta anda, dan jangan berhenti bersyukur. Terkadang berat memang, namun melihat Paulus dan Silas sanggup melakukannya karena mereka sungguh mengasihi Tuhan tanpa pamrih, saya yakin kita semua pun bisa berbuat demikian. Semua tergantung pilihan kita, apakah kita memilih untuk mengeluh, mengasihani diri dan menyerah, atau kita tetap bersyukur kepada Tuhan, karena kita sungguh mengasihi Dia dan mengerti benar bahwa Tuhan punya rencana untuk mencelakakan kita. Paulus dan Silas mengambil pilihan ke dua, dan kita melihat dampaknya luar biasa. Maka ketika kita ada dalam sisi gelap kehidupan, ketika kita mengalami kesulitan, tetaplah bersyukur. Ubahlah pola pikir kita. Berhentilah memusatkan pikiran pada beratnya masalah, sebaliknya, pusatkan pada Tuhan yang jauh lebih besar dari semua masalah itu. Percayalah bahwa Tuhan senantiasa melimpahkan kasih setianya untuk rencana-rencana besarnya buat anda. “Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 106:1)

Hidup bisa saja susah, namun Tuhan senantiasa menyertai kita. Bersyukurlah senantiasa

Tiga Tipe Manusia

Posted: 12 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 6:15
=======================
“Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

tiga tipe manusia, aram, elisa, gehaziSeberapa jauh kita bisa percaya pada penyertaan Tuhan? Ketika hidup sedang aman dan nyaman tanpa masalah, mungkin mudah untuk percaya. Tapi bagaimana jika sedang berada dalam permasalahan, apalagi jika masalah yang dihadapi terasa sungguh berat? Tinggal sedikit orang yang masih bisa percaya dan mau mengandalkan Tuhan. Umumnya orang akan cepat merasa khawatir, cemas dan sebagainya. Keraguan apakah Tuhan akan menolong atau tidak bisa muncul. Tidak hanya itu, bahkan tidak jarang orang mulai meragukan eksistensi Tuhan dalam kehidupannya, atau malah mulai ragu apakah Tuhan benar-benar ada atau tidak.

Dalam kisah Elisa dalam perikop 2 Raja-Raja 6:8-23 mengenai raja Aram yang memerintahkan bala tentaranya untuk mengepung kota dan menangkap Elisa.kita bisa melihat tiga tipe manusia, yaitu tipe orang Aram, tipe Gehazi sang bujang, dan tipe Elisa. Tipe Orang Aram menggambarkan tipikal orang bebal, yang buta total, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di depan mereka. Tipikal orang Aram tidak akan mampu melihat apa yang terjadi di depannya, dibawa menuju kebinasaan pun mereka tidak tahu. (ay 18-20).

Tipikal Gehazi bisa melihat apa yang terjadi di depan mata, namun tidak tahu harus berbuat apa dan hanya fokus pada masalah sehingga gampang panik. Bayangkan betapa capainya hidup seperti ini. Hanya mengandalkan logika, kepandaian, sepenuhnya bergantung pada segala sesuatu yang kelihatan di depan mata. Perhatikan perkataannya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” (2 Raja Raja 6:15). Gehazi pun dikisahkan merasa panik ketakutan dan langsun berlari pada Elisa. Tipikal Gehazi inilah yang dimiliki oleh banyak anak-anak Tuhan. Mereka seperti halnya Gehazi, hanya bisa melihat apa yang terjadi di depan mata mereka. Mereka percaya Tuhan, tapi saat menghadapi masalah, mereka akan dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Mereka hanya berpikir celaka, bingung, diombang-ambingkan keadaan dan hidup penuh keraguan.

Tipe Gehazi tentulah jauh lebih baik dari tipe orang-orang Aram yang hendak menangkap mereka. Gehazi menjadi tenang setelah Elisa berdoa untuk meminta Tuhan membuka mata bujangnya. “Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.” (ay 17). Apa yang dilihat Gehazi setelahnya sungguh luar biasa. Ia melihat ada begitu banyak kuda di sekeliling gunung dan kereta berapi (chariots of fire) di sekeliling Elisa.

Tapi tipe Elisa jauh lebih baik dari tipe Gehazi. Pribadi Elisa sungguh berbeda. Tipe Elisa adalah mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain. Orang yang memiliki tipikal Elisa mampu melihat Tuhan dan tahu bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalah. “Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”(ay 16). Hidup memang tidak akan mungkin tanpa masalah. Masalah akan senantiasa ada dalam perjalanan kehidupan kita. Tapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang menyertai kita, dan Tuhan jauh lebih besar dari segala pergumulan yang kita hadapi. Kita harus terus melatih diri kita untuk melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, karena hanya dengan hidup bersama denganNya lah kita akan mampu menghadapi masalah dengan ketenangan. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Jika kita masih berada pada fase setipe Gehazi, berdoalah seperti Elisa, “Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.”

Tuhan yang kita sembah jauh lebih besar dari masalah terbesar sekalipun

Iman Nuh

Posted: 13 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Ibrani 11:7
===================
“Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.”

iman nuh, iman sebesar biji sesawiIman adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun seringkali sulit untuk dijelaskan, apalagi dipraktekkan. Implikasi dan aplikasi iman sungguh sangat luas, begitu luas sehingga Yesus berkata bahwa jika sekiranya saja kita memiliki iman sebesar biji sesawi sekalipun, maka gunung sekalipun akan pindah, dan dengan iman tidak akan ada hal yang mustahil lagi bagi kita. (Matius 17:20). Kita melihat bahwa iman yang seukuran biji sesawi saja (diameternya kurang dari satu milimeter) akan bisa membawa dampak yang begitu luar biasa. Sebuah gambar di samping mungkin bisa menggambarkan kira-kira sebesar apa biji sesawi itu jika dibandingkan dengan jari telunjuk manusia. Kita seringkali berkata bahwa kita beriman pada Kristus, hal itu akan gampang diucapkan ketika hidup sedang berada pada titik puncak kenyamanan, namun akan menjadi begitu sulit untuk direalisasikan ketika berbagai masalah sedang menjungkirbalikkan kita ke titik terendah. Semua orang boleh mengaku sudah memiliki iman, namun segalanya akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi dan tindakan kita dalam menghadapi situasi sulit, sebuah ketidakpastian, hal yang secara logis mustahil atau bahkan hal yang belum bisa kita lihat secara nyata. Reaksi dan tindakan kita akan menunjukkan secara nyata sejauh dan sebesar apa iman kita, sejauh mana kita percaya, sejauh mana kita patuh.

Penulis Ibrani mencoba menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan iman. Mari kita lihat firman Tuhan berikut: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dalam bahasa Inggris, dikatakan demikian: “NOW FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality” Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak/belum kita lihat, dan mempunyai kepastian sebagai sesuatu yang nyata, meski tidak terlihat sekalipun. Kemudian penjelasan selanjutnya: “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” (Ay 2-3). Berbagai kesaksian luar biasa yang dialami begitu banyak nabi dalam Perjanjian Lama semuanya oleh karena iman mereka. Dan iman lah yang membuat kita bisa mengerti bahwa alam semesta yang bisa kita lihat saat ini, semua terjadi karena firman Tuhan, yang tidak dapat kita lihat. Mari kita lihat salah satu contoh tentang hal ini, dari kisah Nuh.

Nuh mendapat tugas “aneh” dari Tuhan pada suatu hari. Dia diminta untuk membangun sebuah bahtera super besar, yang harus mampu memuat seluruh keluarganya beserta sepasang dari segala jenis hewan. Nuh bukanlah seorang tukang kapal. Dan sepertinya pada masa itu hujan belum pernah turun, sehingga kita bisa membayangkan, bagaimana jika kita menjadi Nuh pada saat itu. Perintah untuk membangun kapal besar, di usia senjanya, padahal sebelumnya mungkin dia belum pernah melihat apa yang digambarkan sebagai sebuah bahtera. Apa yang dilakukan oleh Nuh? Nuh taat melakukan perintah Tuhan tanpa membantah sedikitpun. Saya membayangkan, mungkin selama masa ia membangun, begitu banyak orang yang menertawakannya, mengapa ia membangun sesuatu yang luar biasa besar di atas daratan. Nuh pada saat itu mendapat hikmat Allah, dimana Allah sendirilah yang secara langsung memberitahukan detail-detail untuk membangun sebuah kapal. “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.” (Kejadian 6:15-17). Ukurannya tidak main-main, sekitar 133 meter panjangnya, 22 meter lebarnya dan 13 meter tingginya. Saat itu rasanya belum pernah ada yang namanya hujan lebat yang begitu lama yang akan membuat seluruh bumi tenggelam. Nuh belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, sehingga saya yakin logikanya tidak akan mampu menggambarkan hal tersebut. Namun Nuh taat, dan mengerjakan seluruhnya sesuai perintah Tuhan. Nuh percaya bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Dia memilih untuk patuh. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22). Setelah selesai, Tuhan pun berkata: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” (7:1). Lalu hujan pun turun selama 40 hari dan 40 malam menenggelamkan segalanya. Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Nuh beserta keluarganya diselamatkan. Karena Nuh orang yang selalu baik? Bukan demikian yang dicatat Alkitab. Allah menyelamatkan Nuh bukan karena Nuh orang baik, melainkan karena Nuh adalah orang benar.

Karena iman, Nuh melakukan segala sesuatu yang belum pernah atau bisa dia lihat dengan ketaatan penuh, iman yang dimiliki Nuh membuat ia dinyatakan benar di hadapan Tuhan, dan karenanya diselamatkan. Inilah yang dijelaskan Penulis Ibrani mengenai Nuh. “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7). Dengan kata lain, Ketaatan Nuh berasal dari imannya, dan karena imannya itulah ia diperhitungkan Tuhan sebagai orang yang benar.

Sudahkah kita memiliki iman seperti Nuh? Sanggupkah kita terus memegang teguh janji Tuhan, meski mungkin saat ini kita belum melihat jawaban apapun atas permasalahan kita? Masihkah kita tetap percaya dan terus bersyukur meski gelombang kesulitan masih terus bergejolak? Miliki iman yang teguh, tetaplah percaya bahkan ketika anda belum melihat apa-apa. Percayalah bahwa iman sanggup membuat segala sesuatu yang mustahil sekalipun menjadi nyata, bahkan dengan ukuran biji sesawi sekalipun.

Dengan iman Nuh dibenarkan dan diselamatkan beserta keluarganya

Iman Abraham

Posted: 14 Mar 2009 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Ibrani 11:17-18
======================
“Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.”

iman abraham, iman buktiKemarin kita telah melihat bagaimana bentuk iman Nuh, iman yang menjadikannya benar di mata Tuhan. Menyambung renungan kemarin, mari kita lihat bagaimana bentuk iman Abraham. Abraham dikenal juga sebagai bapak orang beriman. Bagaimana Abraham bisa mendapatkan julukan itu? Apakah Abraham tidak pernah mengalami jatuh bangun dalam masalah iman? Alkitab menjelaskan bahwa Abraham mengalami banyak masa-masa dimana ia mengalami pergumulan iman seperti kita. Tapi lihatlah salah satunya, mengenai rentang waktu yang panjang sejak Abraham menerima janji Tuhan hingga saat janji itu digenapi dengan kelahiran Ishak. Jarak waktu yang panjang ini memang pantas menjadi salah satu alasan mengapa Abraham dijuluki bapak orang beriman, meskipun dalam rentang waktu yang panjang ini Abraham mengalami jatuh bangun berkali-kali dalam perjalanan imannya. Mari kita lihat satu persatu penggalan kisah hidup Abraham yang menunjukkan kekuatan imannya.

Bentuk iman yang dimiliki Abraham sungguh tidak main-main. Penulis Ibrani mencatat beberapa kisah kekuatan iman Abraham. Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” (Ibrani 11:8-10). Abraham memilih untuk taat ketika ia disuruh berangkat ke negeri lain, meninggalkan tanah dimana ia sedang hidup nyaman. Abraham belum pernah melihat tanah yang dijanjikan Tuhan, namun dia patuh mengikuti Tuhan. Maka Ibrani 1:11 (“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”) pun terlihat dari kisah awal perjalanan Abraham ini.

Kemudian selanjutnya dalam Ibrani tertulis demikian: Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” (ay 11). Lihatlah usia Abraham dan Sarai ketika mendapat janji Tuhan mengenai keturunan sebanyak bintang di langit (Kejadian 15:15). Pada saat itu Sara sudah menopause, usianya sudah sangat lanjut, dan Abraham pun demikian, sudah sangat tua, secara logika sudah tidak lagi mampu. Abraham saat itu tentu tidak bisa melihat masa depan, namun dia tetap percaya, bahwa Tuhan, yang memberikan janji itu adalah setia. Lihatlah rentang waktu yang panjang sejak Abraham menerima janji Tuhan hingga saat janji itu digenapi dengan kelahiran Ishak. Jarak waktu yang panjang ini memang pantas menjadi salah satu alasan mengapa Abraham dijuluki bapak orang beriman, meskipun dalam rentang waktu yang panjang ini Abraham mengalami jatuh bangun berkali-kali dalam perjalanan imannya. Maka Ibrani 1:11 kembali terlihat dari bagian ini.

Kemudian kita tahu kisah Abraham yang disuruh mengorbankan Ishak. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” (Ibrani 1:18). Bayangkan jika anda ada di posisi Abraham. Anda sudah menunggu begitu lama untuk mendapatkan keturunan, dan ketika akhirnya anda mendapatkan janji Tuhan itu di usia 100 tahun, tapi kemudian anda diminta Tuhan untuk menyembelih anak anda sendiri sebagai korban persembahan. Apa yang dilakukan Abraham? Abraham taat, meski saat itu saya yakin hatinya hancur berantakan. Untuk menuju tempat mempersembahkan Ishak di sebuah gunung, Abraham membawa dua bujangnya bersama-sama dengan mereka. Perhatikan sebuah ayat yang secara luar biasa menggambarkan sebesar apa iman Abraham. “Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” (Kejadian 22:7). Perhatikan kata kami dalam “…sesudah itu kami kembali kepadamu.” Kami kembali kepadamu. Kami! Bukankah Abraham seharusnya kembali seorang diri, karena Ishak sudah dijadikan korban bakaran? Tapi begitu luar biasa iman Abraham, ia tahu pasti bahwa Tuhan sungguh setia, Tuhan sanggup membuat segala mukjizat. Abraham percaya sepenuhnya pada Tuhan, meskipun pada saat ia berkata kepada bujangnya ia belum melihat apa yang akan terjadi di depan. Melihat atau tidak, Abraham percaya dan taat pada Tuhan dengan sepenuh hati, tanpa protes, tanpa bersungut-sungut, tanpa ragu. Penulis Ibrani berkata: “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. (Ibrani 11:19). Itulah bentuk iman Abraham yang luar biasa, lewat imannya ia mampu setia dan taat pada Tuhan, mampu percaya bahwa setiap rancangan Tuhan adalah yang terbaik bagi dirinya, meskipun ia belum melihatnya. Abraham berkali-kali membuktikan imannya yang luar biasa, karenanya ia pantas menyandang predikat bapak orang beriman.

Sejauh mana kita bisa percaya pada sesuatu yang belum kita lihat, sejauh mana kita mampu taat meski apa yang kita hadapi belum menunjukkan apapun yang bisa kita terima secara logika, sejauh mana kita mau melakukan kehendak Tuhan meski tidak masuk akal, iman kita lah buktinya. Sebuah iman yang teguh akan membuat kita sanggup untuk taat tanpa ragu, tanpa bertanya-tanya. Yesus pun mengingatkan kembali hal yang sama. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Percayalah, Tuhan selalu menyiapkan rancangan yang terbaik bagi anda. In the end, it will all be beautiful, meskipun saat ini apa yang dialami masih bertolak belakang sekalipun. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena itu tidak perlu khawatir. Tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman teguh.

Dengan iman Abraham menerima semua janji Tuhan tepat pada waktuNya

4 responses

16 03 2009
fe

Sebagai manusia biasa yang sangat Lemah di hadapan Sang Maha Kuasa, sudah seLayaknya kita tetap berusaha untuk terus, terus & terus memperbaiki setiap haL dari diri kita. Waktu kemarin saya sempat membaca untaian aksara penuh makna sangat mendaLam,

Semua adaLah

Antara Engkau dengan Tuhan

Orang-orang seringkaLi tak bernaLar, tak Logis dan egois
Meski demikian, maafkanLah mereka

BiLa engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois
Meski demikian, tetapLah bersikap baik

BiLa engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Meski demikian, tetapLah jujur dan berterus terang

BiLa engkau sukses, mungkin engkau akan mendapat teman-teman paLsu dan musuh-musuh sejati
Meski demikian, tetapLah meraih sukses

Apa yang engkau bangun sekian Lama, mungkin akan dihancurkan seseorang daLam semaLam
Meski demikian, tetapLah membangun

BiLa engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
Meski demikian, tetapLah berbahagia dan temukan kedamaian hati

Kebaikan yang engkau Lakukan hari ini, mungkin akan diLupakan orang keesokan harinya
Meski demikian, tetapLah Lakukan kebaikan

Berikan miLikmu yang terbaik pada dunia dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Meski demikian, pada dunia berikan miLikmu yang terbaik pada dunia

KetahuiLah, pada akhirnya …
Sesungguhnya ini semua adaLah masaLah antara engkau dengan Tuhan
Tidak akan pernah menjadi masaLah antara engkau dengan mereka

25 03 2009
debora1207

hari ini gk sempat saat teduh, aq teringat ke itoku ini
langsung deh, aq menuju blognya🙂

Hehe..thx ya, to…buat page Renungan ini🙂

Take care. Gbu

18 06 2009
mokattam

Karena iman Nabi Musa dapat membelah lautan demi menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Firaun dan bangsa Mesir.Dalam Injil (Mat.17:20) Yesus mengajarkan tentang iman sebesar biji Sesawi yang dapat memindahkan gunung. Ada sebuah buku yang ditulis oleh Abu Shalih Al-Armini yang berjudul Tadhakur fiha Akhbar min al-kana’is wa al-adyar min nawahin Mishr wa al-iqtha’aih (Daftar berita-berita tentang gereja dan biara-biara di propinsi Mesir dan daerah sekitarnya) yang antara lain mengisahkan sejarah pemeliharaan Allah berupa mukjizat yang terjadi pada zaman al-Iman Al-Aziz billah bin al-Mu’izz, kafilah pertama dinasti Fatimiyah (995-997M). Dikisahkan pada waktu itu ada seorang provokator Yahudi bernama Ibnu Killis. “Tahukah anda, hai Raja kaum beriman”,kata Ibnu Killis memulai hasutannya. “Dalam kitab orang Nasrani (Injil) ada tertulis, bahwa apabila seseorang mempunyai iman sebesar biji sesawi ia akan mampu memindahkan gunung dari tempatnya”. Maksudnya tentu saja ia menghendaki agar kalifah memanggil pemimpin tertinggi orang Kristen itu untuk membuktikan kebenaran kata-kata Injil tersebut. Pada waktu itu, Patriakh gereja Koptik di Mesir yang dijabat oleh Anba Abram al-Suryani, tidak bisa mengelak dari permintaan raja. Tantangan ini sudah menjadi sebuah pertaruhan eksistensi gereja Kristus di Mesir. Sebab kalau iman Patriakh dan orang-orang Kristen tidak dapat mendatangkan keajaiban di hadapan raja, maka Kekristenan dianggap ajaran palsu belaka dan konsekuensinya tidak boleh ada di seluruh wilayah Mesir.Selanjutnya dikisahkan, Patriakh memerintahkan seluruh umat Kristen untuk berdoa dan berpuasa selama tiga hari tiga malam. Pada hari yang ditentukan , Anba Abram bersama seluruh umat Kristen menghadap Kalifah al-Mu’izz untuk memenuhi permintaannya. “Ya Rabbu arham! Ya Rabbu arham! Ya Rabbu arham!” (Tuhan, kasihanilah! Tuhan, kasihanilah! Tuhan, kasihanilah!), begitu seluruh umat Kristen berseru dengan histeris kepada Allah dalam nama Kristus, memohon agar Ia mendatangkan keajaiban yang diminta raja. Apa yang terjadi? “Allahu akbar”, tiba-tiba raja berteriak nyaring,begitu menyaksikan gunung itu benar-benar bergerak “Cukup, wahai Bathrik (Patriakh), semua telah membuktikan kebenaran imanmu”. Menurut beberapa sumber sejarah Mesir, bukit yang bergerak itu sampai hari ini disebut Mokkatam (artinya: “pecah”),karena dashyatnya mukjizat tersebut (The Story of the Copts oleh Iris Habib al-Mishr).
————————
Mt 17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

http://en.wikipedia.org/wiki/Simon_the_Tanner#The_miracle_of_moving_the_mountain
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Coptic_Orthodox_Popes_of_Alexandria
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Patriarchs_of_Alexandria
http://www.touregypt.net/featurestories/mokattam.htm
http://www.amazon.com/story-Copts-Iris-Habib-Masri/dp/B0007ARI7Q
http://openlibrary.org/b/OL4089527M/story-of-the-Copts
http://www.cavechurch.com/miracle/index.asp#1)%20A%20great%20crowd%20of%20people:
http://www.cavechurch.com/video/video_pop.asp?ID=3
[flash]http://www.youtube.com/v/wQXlLCJTd-s[/flash]

marcopolo confirm the story
http://www.newmiracles.org/mokatam.htm
http://www.placestudies.com/page/travel-classics/marco-polo

12 06 2010
ryo

mmmm
mmmmm
mmmmmm
mmmmmmmm
(http://rior06.student.ipb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: