We’re No Longer Three

14 10 2011

Bermula pada tahun 2007,tepatnya setahun setelah pernikahan kami, hadir bidadari kecil di tengah-tengah keluarga kecil kami, bidadari cantik yang kami beri nama Regina Aimee Mian Sihotang.
Selama lebih dari 3 tahun kami kemana-mana selalu bertiga. Pergi ke Mall, Nonton bioskop, Makan Malam, pokoknya kemana-mana selalu bertiga.
Sekarang, tepatnya saat Regina berumur 4 tahun 2 bulan, hadir kembali anggota baru di tengah-tengah keluarga kami. Seorang putri mungil yang cantik, yang kami beri nama Lucyana Audrey Deandra Sihotang.
Regina sekarang punya teman main baru, biarpun belum bisa diajak main puzzle, game online atau menggambar dan mewarnai yang menjadi hobby dari Regina saat ini.
Panggilan baru pun kami berikan untuk Regina : Kakak.
Dulu kami selalu memanggil Regina dengan panggilan “dek” sekarang kami panggil dengan “kak”.
Putri kami yang baru, Lucyana Audrey Deandra Sihotang lahir pada Sabtu pagi, tanggal 18 Juni 2011. Tanggal yang sama dengan tante nya (namboru nya) -kakak perempuan saya- Masih di Rumah Sakit yang sama tempat kakaknya dulu dilahirkan, dan ditangani oleh dokter yang sama pula ūüôā

Sekarang….kemanapun kami pergi, kami selalu ber-empat, tidak lagi ber-tiga.
Stroller yang kami bawa pun sekarang 2, karena si kakak kalo lagi ngantuk suka minta duduk di stroller nya.
Perlengkapan jalan2 yang kami bawa pun sekarang jadi bertambah banyak…

Pastinya kehadiran Lucyana semakin membuat keluarga kami semakin semarak…..acara begadang pun kini menjadi rutinitas yang berulang….

So…we’re no longer Three now, we’re Four of us

–Bonar, Sari, Regina, Lucyana–

 





pulang kampung

23 12 2008

selesai membantu temannya membuat tugas maket dia segera meluncur pulang ke tempat kosnya. sore itu dia berencana pulang kampung. ya, satu kebiasaan di penghujung tahun, untuk memperingati natal bersama orang tua dan saudara-saudaranya…apalagi di¬† natal kali ini sudah hadir di tengah keluarga besarnya, bayi mungil buah pernikahan kakaknya…rasanya tidak sabar dia untuk bertemu dengan keponakannya…

tapi ada satu hal yang mengganggu dia saat itu. pilek yang dideritanya selama beberapa hari ini tidak kunjung sembuh. temannya yang dibantu tadi menyarankan supaya dia makan obat saja pas perjalanan, supaya bisa tidur. tidak salah juga pikirnya.

sengaja dia tidak membeli tiket kereta api atau bus malam untuk perjalanan pulangnya. dia berniat membuat perjalanan semacam avonturir untuk perjalanan pulang kampungnya. barangkali dia terinspirasi oleh sepak terjang Si Roy, nama satu tokoh di sebuah novel karya Gola Gong yang akhir-akhir ini sering dia baca.

tas ransel carrier bermerek alpina yang dia beli bekas dari temannya sudah diisi penuh oleh pakaiannya. sebuah tas kecil untuk  menyimpan dompet sudah disiapkan.

jam 7 malam dia memulai perjalanannya. lamanya perjalanan sudah dia perhitungkan supaya bisa tiba pagi hari di kota jogjakarta. supaya dia bisa melanjutkan perjalanan naik kereta ekonomi jurusan bandung. ya…trayek angkutan dari kota-ke kota sepertinya sudah dia hapal betul.

perjalanan dimulai dari terminal landung sari – malang, dia naik sebuah bus 3/4 tujuan jombang. tiba di jombang dia langsung naik bus besar menuju jogja. efek obat pilek yang dia minum mulai bekerja. di dalam bus yang dia naiki dia mulai digerogoti rasa kantuk yang luar biasa. ahirnya dia memutuskan untuk tidur di deretan kursi untuk 3 orang, duduk di paling pinggir dekat jendela, dan tas ranselnya pun dia letakan di antara dua kakinya. supaya aman pikirnya.

sepanjang perjalanan dia terlelap. sempat terbangun sebentar namun dilanjut lagi tidur karena masih ngantuk berat.

pukul 4 subuh dia dibangunkan oleh kondektur bus tersebut. rupanya tinggal dia sendiri penumpang yang belum turun. sementara bus sudah sekitar setengah jam yang lalu parkir di terminal umbulharjo – jogjakarta.

dia pun menggeliat sebentar, mencoba untuk bangun. lalu dia merasakan keanehan. rasa kantuk yang masih menggantuk tiba-tiba lenyap. berganti kekagetan. tas ransel yang dia letakkan di sela-sela kakinya sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. dia pun segera menengok ke kolong-kolong bangku di dalam bus tersebut. tapi tasnya sudah tidak ada. lalu kemana larinya tas tersebut..?? dia pun segera turun dari bus dan bertanya kepada awak bus yang tadi membangunkan dia. rupanya si mas kondektur pun tidak tahu ada dimana tasnya berada. informasi yang diberikan oleh si kondektur adalah penumpang terakhir yang duduk disebelahnya adalah seorang perempuan yang sudah agak berumur. ya…itu yang dia ingat tadi waktu dia terbangun sebentar, dia seperti melihat seorang perempuan setengah baya di sebelahnya, tapi karena tidak ada kecurigaan apapun dia pun melanjutkan tidurnya lagi. lagi pula saat itu tas nya¬† masih berada di sela-sela kakinya.

rupanya dia telah menjadi korban sindikat pencoleng tas yang sering beraksi diatas bus di perjalanan antara solo dan jogja. lalu dia pun lapor ke pos polisi yang berada tidak jauh dari terminal. yah sekedar untuk formalitas sekaligus menumpahkan kekesalannya kepada pak polisi yang ada disitu yang menerima laporannya sambil manggut-manggut.

tapi dibalik musibah yang dia terima dia masih bersyukur pada Tuhan, karena dompet yang berisi uang dan dokumen2 lainnya masih aman tersimpan di dalam tas kecil yang memang sengaja dia buat untuk menyimpan dompet, padahal sebelum dia tidur di dalam bus tadi sempat terpikir untuk memasukkan dompetnya ke bagian atas ranselnya yang bisa digunakan untuk menyimpan dompet dan benda-benda kecil yang lain….ah..syukurlah…

jam 5 pagi, setelah nyuruput segelas kopi di terminal dia pun bergegas pergi, tujuannya adalah stasiun tugu – jogjakarta. jam 7 pagi kereta ekonomi tujuan bandung akan berangkat. dengan berjalan kaki sambil menghisap sebatang rokok diapun mulai menyusuri pagi di jogjakarta. tiba di stasiun dia mencari wartel untuk menelepon ke rumahnya di bandung, untuk melaporkan musibah yang sedang dia alami.

tepat jam 7 pagi kereta api bergerak perlahan, meninggalkan stasiun tugu, menuju kota bandung. laki-laki muda itu ada diatas kereta…

dia pun pulang kampung…

sebuah karma telah terbayar…

malang – jombang – solo – jogja – bandung, di penghujung tahun ’95

//teke407





salahkah…

20 12 2008

dia masih merenung sore hari itu.

sore itu di sebuah kamar kos-kosan semi permanen, berdinding triplek. balasan surat dari ibunya dibaca lagi berulang-ulang…ibunya mengatakan kalo kiriman uang untuk biaya hidupnya selama sebulan bakalan terlambat atau mungkin tidak ada…

sepertinya dia masih kurang percaya atas isi dari surat ibunya itu.

3 lembar uang pecahan lima ribuan diselipkan ibunya. sepertinya ibunya mengerti bahwa saat itu dia sedang tidak punya uang sepeserpun.

dua hari kemudian, dia membuka buku tempat dia menyimpan 3 lembar uang yang diselipkan sang ibu di dalam surat balasan. hari ini tinggal 1 lembar pecahan lima ribuan. langit diluar sudah mulai gelap. perutnya sudah mulai keroncongan, maklum dari tadi pagi hanya diisi sebungkus mie instan. saat dia mengambil uang tersebut dia melihat ada yang aneh atas uang tersebut. ternyata uang tersebut tidak utuh, alias ada bagian yang terpotong. yang pasti sisa potongannya tidak dikirm juga oleh ibunya. artinya uang tersebut cacat…!!!

“…gawat…!!” pikirnya, “bisa tidak makan nih, mana ini uang terkahir pula..” dia pun berpikir keras, memutar otaknya…bagaimana caranya agar dia bisa mengisi perutnya dengan sepiring nasi hangat dengan sayur lodeh kesukaannya dan sepotong tempe.

akhirnya dia menemukan akal. jalan keluar telah ditemukan. bergegas dia keluar dari kamar kos. hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong dan bersandal jepit. di bergegas menelusuri lorong menuju jalan raya di depan sana.

langit sudah gelap. tapi masih ada keragu-raguan atas rencananya. sempat dia hendak membatalkan rencananya itu, tapi bunyi keroncong di perutnya akhirnya membulatkan tekad dia untuk melaksanakan rencananya tersebut.

segera tangannya menggapai, mencegat bemo yang kebetulan lewat didepannya. lalu dia segera naik, kebetulan cuman dia sendiri penumpang di atas bemo itu. lampu di dalam bemo begitu temara kalo tidak¬† boleh dibilang cenderung gelap. “…stop disini, pak…” serunya kepada si sopir bemo setelah bemo berjalan beberapa ratus meter dari tempat dia naik. lalu dia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan selembar uang pecahan lima ribuan yang cacat tadi. nah, ini dia bagian yang paling menegangkan…!!!

rupanya kondisi yang temaram di “kokpit” bemo tadi memberikan keuntungan buatnya. sopir bemo tadi mengembalikan uangnya sebesar Rp. 4.500. ya…ongkos jarak dekat kala itu cuman lima ratus rupiah saja.

dia pun bergegas masuk ke dalam lorong yang ada disitu. langkahnya sengaja di percepat, dalam hatinya dia memanjatkan doa “…Ya Tuhan, tolong jangan sadarkan sopir bemo tadi kalo dia telah menerima uang yang tidak utuh…amiiinn…” beberapa saat kemudian dia melambatkan langkahnya. tidak ada teriakan dari sopir bemo tadi karena menerima uang yang cacat.

lalu dia mampir di sebuah warung kecil. dikeluarkannya sebuah uang logam limaratusan hasil dari kembalian naik bemo tadi. dibelinya 2 batang rokok kretek. lalu di bakarnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam…

hatinya berkecamuk. rasa lapar nya sudah hilang, berganti dengan kegelisahan di hatinya…

“Ya Tuhan, salahkan perbuatan saya atas sopir bemo tadi…??”

Malang, pertengahan tahun ’94

//teke407