Tour de Sulsel [1.000 Km = 36 jam]

22 08 2008

Akhirnya berangkat juga..

Setelah sekian lama perjalanan ini tertunda, sehabis miting boss-ku menjadwalkan bahwa kami berangkat tanggal 13 Agustus 2008, sempat ragu juga, tanggal 13 ??…hmm…menurut rumor angka 13 adalah angka tidak baik, tapi who give a damn…adrenalinku sudah terlanjur memuncak mengingat perjalanan yang pasti mengasikkan yang akan kami tempuh, keliling sulawesi selatan…kapan lagi…!! (gratis boo…)

Rute yang akan kami tempuh adalah dari kota makassar terus menuju utara sampai ke Palopo lalu ke Bone lalu kembali lagi ke makassar.

Setelah packing semalam dan mengemas pelengkapan perjalanan secukupnya (baju ganti, mandi bag, kamera pocket digitalku tidak lupa juga note-book) kami berangkat meninggalkan kota makassar sekitar pukul 10.30 Wita dengan mengendarai Toyota Avanza inventaris Kantor. Tim yang berangkat adalah saya sendiri (Bonar), Pak Rakhmat (boss saya) dan Pak Marzuki sebagai driver. Target kota pertama yang akan kami kunjungi hari ini adalah kota Kabupaten Pangkep. Pangkep ini adalah kependekan dari Pangkajene Kepulauan. Di peta mungkin teman-teman tidak akan menemukan kata “Pangkep” karena [mungkin] disini sudah dibiasakan untuk menyebut Kab Pangkajene Kepulauan dengan singkatan Pangkep.

Kab Pangkep ini adalah salah kota kabupaten di sulawesi selatan yang wilayahnya selain daratan (di pesisir barat sulsel) juga terdiri atas pulau-pulau kecil yang tersebar di seberang daratan Kab Pangkep. Jarak dari kota makassar tidak terlalu jauh, hanya sekitar 51 Km. Perjalanan menuju Pangkep ini dapat ditempuh selama +- 1 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dilalui agak membosankan, setelah melewati Kab Maros praktis pemandangan yang bisa dilihat hanya rumah-rumah penduduk, lahan-lahan kosong, dan tambak2 kecil. Kami singgah di Kantor Pemerintah Kab Pangkep sebentar karena tujuan dari perjalanan kami ini adalah berkunjung ke kantor2 pemerintah di kota-kota yang kami lewati, namun tidak semua, hanya beberapa kantor pemerintah saja. Jalan raya di Kab Pangkep ini cukup luas dan bersih. Lalu lintas di dalam kota cukup lengang, karena memang ini adalah kota kecil yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bumi berupa pertanian dan tambak ikan.

Jalan raya disini merupakan jalan poros yang menghubungkan wilayah makassar di selatan dengan kota-kota disebelah utara makassar. Bus-bus besar (bus malam) dan truk-truk yang mengangkut barang dari dan menuju kota makassar akan melewati jalan poros kota pangkep ini. Sebelum meninggalkan kota pangkep kami singgah di rumah makan yang berada sebelum jembatan yang memisahkan kota pangkep dan kota barru. Menu siang ini adalah Sop Sodara (nama yang unik bukan..?? saya juga belum tahu kenapa makanan ini dinamakan demikian…) dan Ikan Bandeng Bakar (orang makassar menyebut ikan bandeng dengan sebutan ikan Bolu)….hmmm yummmi…menu yang lezat untuk mengisi perut kami yang kosong.

Selesai makan perjalanan pun kami lanjutkan lagi…menuju kota Barru.

Kota Kabupaten Barru ini adalah juga salah satu kota kabupaten yang berada di pesisir barat sulawesi selatan. Berjarak sekitar 50 Km dr Kab Pangkep (+- 101 Km dari Makassar) membuat perjalanan menuju kota ini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Maklum, pak marzuki yang bertugas mengemudi mulai menunjukkan kemampuannya sebagai pengemudi handal, ditunjang juga dengan jalanan yang mulus dan cenderung lurus-lurus saja membuat jarum speedometer tidak turun dari angka 100 Km/jam, wuihhh….!!

Tiba di Kota Barru, sesuai rencana kami singgah di Kantor Pemerintah Kab Barru, ketemu dengan staff disana, [seperti sebelumnya] berbasa-basi sedikit, kasih masuk surat, kami pun segera berangkat menuju target kota berikutnya. Kabupaten Barru ini juga merupakan kota yang tidak terlalu besar dan cenderung sepi. Jalanan cukup besar dan lengang. Mayoritas penduduk disini hidup dari bertani dan membuka tambak ikan bandeng. Selebihnya adalah pegawai pemerintahan dan beberapa instansi swasta yang kebetulan membuka kantor cabang di kota ini.

Jalan raya disini juga jalan poros yang menghubungkan kota makassar dan kota-kota di utara kota makassar, membuat kota ini hanya menjadi kota persinggahan. Traffic light di kota ini bisa dihitung dengan jari, itupun tidak semua berfungsi sebagaimana layaknya lampu lalu-lintas, hanya lampu kuningnya saja yang kedip-kedip menandakan pengguna lalu lintas agar berhati-hati di setiap persimpangan jalan yang ada.

Oh iya, masih ingat tragedi jatuhnya Pesawat Adam Air pada awal Januari 2007 lalu ? Kebetulan, baru-baru ini juga kita banyak mendengar berita bocornya rekaman percakapan di kockpit sesaat sebelum pesawat nahas ini jatuh. Nah, di perairan Kab Barru ini juga pertama kali ditemukannya salah satu serpihan pesawat nahas itu. Kebetulan nelayan lokal disini yang bernama Basri yang ketiban rejeki, mendapat hadiah Rp. 50 jt sebagai imbalan jasa atas penemuannya itu, yang juga sempat membuat nelayan-nelayan lokal disini berlomba-lomba mencari serpihan-serpihan lainnya demi mendapat imbalan serupa seperti yang di dapat pak basri tadi…oportunis juga yah…hehehe…sampe-sampe lupa cari ikan…hahahaha… D

Selesai urusan di Kabupaten Barru perjalanan kami lanjutkan lagi. Target kota berikutnya adalah kota Pare-Pare.

Kota Pare-pare atau dikenal juga dengan nama Kota Bandar Madani berjarak +- 156 Km dari Makassar. Perjalanan menuju kota Pare-pare cukup mengasikkan karena melewati garis pantai barat wilayah sulawesi selatan membuat perjalan tidak terlalu membosankan. Memasuki wilayah kota pare-pare kita akan disambut gapura kota yang diatasnya bertuliskan “Kota Tempat kelahiran Presiden RI ke-3, Bp B J Habibie”. Rupanya sedemikian bangganya masyarat kota ini karena ada warga kotanya yang sempat menjadi Presiden di negeri ini, padahal pak Habibie sendiri sudah sangat jarang sekali datang ke kota kelahirannya ini…hehehe…tapi sudahlah, setiap orang khan berhak mengekspresikan kebanggaannya dengan cara sendiri-sendiri. Memasuki kota Pare-Pare kita akan disambut keramaian kota yang tidak kami temui di dua kota sebelumnya. Sangat kontras. Karena kota disini cukup ramai, banyak sekali toko-toko buka di sepanjang jalanan kota yang menjual berbagai macam keperluan. Penginapan dan rumah makan dapat dengan mudah ditemukan di kota ini. Tidak aneh, karena Pare-pare juga adalah kota yang menghubungkan provinsi sulawesi selatan dengan kota balikpapan di kalimantan timur. Sebab pelabuhan di Pare-pare ini juga melayani jasa penyebrangan dari dan menuju balikpapan dengan kapal ferry. Pelabuhannya cukup besar. Hasil-hasil bumi dan barang-barang niaga yang hendak diangkut menuju kalimantan dibawa melalui jasa penyebrangan ferry di pelabuhan kota pare-pare ini.

Disini juga banyak dijual barang-barang elektronik seperti : kulkas yang besar seperti lemari pakaian dengan pintu yang dapat dibuka ke kiri dan kanan, televisi plasma berlayar lebar -semacam kirara basso- dan barang elektronik lainnya, mayoritas barang bekas. Tidak tahu sampah-sampah elektronik ini diimpor dari mana, ada yang bilang ex malaysia, yang pasti kita bisa membelinya dengan harga sangat miring dengan kondisi yang masih lumayan bagus.

Selain perlengkapan elektronik, di salah satu pasar yang ada disini juga dijual barang-barang import lainnya seperti dompet, ikat pinggang, celana jeans, kaca mata, jam tangan, semuanya bermerek yang cukup ngetop, seperti DKNY, Braun Buffel, Oakley, Levi’s dan lain-lain. Orang disini bilang “Cakar”alias Cap Karung…hahahaha….

Selesai urusan di Kota Pare-pare perjalanan kami lanjut menuju utara kota ini, yaitu Kabupaten Pinrang. Kabupaten pinrang merupakan salah satu lumbung padi terbesar di sulawesi. Oleh sebab itu rata-rata penduduk disini hidup dari bertani. Banyak petani sukses datang dari Kabupaten ini, tidak heran, rata-rata petani disini punya mobil dan sudah pernah naik haji.

Perjalanan menuju Pinrang melewati areal persawahan yang cukup indah, tumbuhan padi yang mulai menguning disisi kiri dan kanan jalan menjadikan pemandangan sepanjang perjalanan tidak membosankan. Perjalanan menuju Pinrang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja, maklum jaraknya hanya 27 Km dari pare-pare. Selesai urusan di Pinrang perjalanan kami lanjut lagi. Kali ini menuju kota Palopo. Untuk itu kami memutar arah kembali ke arah pare-pare karena persimpangan jalan menuju kota palopo ada di pare-pare, yaitu kearah timur lalu ke utara. Perjalanan menuju Kota Palopo akan melewati Kab Sidrap dan Kab Luwu. Nah ini dia, kebiasaan menyingkat nama kota juga berlaku untuk kota sidrap ini. Seperti halnya Pangkep tadi, teman-teman juga tidak akan menemukan nama kota Sidrap di Peta, karena ini adalah singkatan dari nama kota Sidenreng dan kota Rappang (keunikan lainnya khas sulsel rupanya..hhehe…).

Kota Sidrap ini hanya berjarak 33 Km dari kota Pare-pare. Kami pun singgah untuk melepas lelah sejenak di daerah Tanru Tedong yang merupakan bagian dari Sidrap di sebuah warung kopi yang ada di pinggiran jalan. Sepintas saya mendengar mbak yang punya warkop ini bercakap-cakap dengan kru warkop ini menggunakan bahasa jawa, ohh…rupanya si penjual kopi ini berasal dari tanah Jawa. Jauh-jauh datang ke Kota Sidrap ini untuk ekspansi jualan kopi. Akhirnya saya pun bercakap-cakap dengan mbak yg punya warung menggunakan bahasa jawa, sekedar melepas kerinduan berkomunikasi dengan bahasa jawa yang tidak saya dapatkan selama saya tinggal di Makassar, secara saya khan pernah lama tinggal di Malang. Selepas ngopi kami melanjutkan perjalanan menuju kota Luwu. Kota kabupaten Luwu ini mempunya ibu kota dengan nama Belopa setelah sebelumnya melewati Siwa. Di kota Siwa ini ada juga penyebrangan dengan menggunakan kapal cepat (Jet Foil) menuju Kolaka – Kendari – Sulawesi Tenggara. Perjalanan menuju kota belopa ini kami tempuh pada saat langit mulai gelap.

Pemandangan di kiri dan kanan jalan berupa hutan perdu, jarang sekali rumah penduduk. Di tengah perjalanan kami sempat dikejutkan dengan menyebrangnya seekor “sapi berkaki pendek” alias babi…untung saja tidak tertabrak….hehehe…

Setelah melewati Belopa ibu kota Kab Luwu perjalanan kami lanjut menuju kota Palopo. Sekitar jam 10 malam kami baru tiba di Palopo. Artinya sekitar 4,5 jam perjalanan dari Pare-pare atau total sekitar hampir 12 jam perjalanan dari Makassar. Pantat saya sudah panas rasanya, pingin segera turun dari mobil. Kami pun singgah di di sebuah rumah makan chinesse food dan memesan mie kuah. lumayan enak, apalagi perut sudah terlanjur kelewat lapar, maklum jam makan malam sudah lewat.

Selesai makan kami segera mencari penginapan di dalam kota palopo. Penginapan yang kami dapat lumayan memberikan rasa nyaman. Dengan kocek Rp 150rb kita sudah bisa dapat kamar dengan fasilitas twin bed, AC, TV Kabel, Kamar mandi shower dan sarapan pagi tentunya.

Selesai mandi saya pun segera merebahkan diri di kamar dan tertidur pulas. Keesokan harinya sekitar pukul 7 pagi kami sudah bersiap-siap check out dari hotel.Perjalanan pun dilanjut lagi.

Kami sebentar singgah di pasar sentral kota palopo untuk membeli oleh-oleh buat teman-teman di kantor. Disini dijual Sagu yang masih mentah dengan harga Rp. 30.000, kue-kue kering (bagea) dengan harga Rp. 5.000 per kemasan juga tidak ketinggalan Dampo alias dodol Duren. Berhubung sedang tidak musim duren harga dampo ini cukup mahal, yaitu Rp. 40.000 dengan ukuran setengah buku tulis biasa (ukuran berapa itu yah..??).

Sebelum meninggalkan kota Palopo kami singgah sebentar ke sebelah utara kota untuk mengambil foto-foto lokasi tambak yang menjadi salah satu komoditas di kota ini. Kota Palopo yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai Teluk Bone di sebelah barat ini tidak seramai kota Pare-pare, namun fasilitas di kota ini cukup lengkap. Salah satunya adalah pasar sentral yang merupakan jantung dari kota palopo dan kota-kota satelit disekitarnya yaitu kota Belopa, Masamba, Malili, Sorowako dan Tana Toraja.

Kota yang cukup bersih dan rapih. Aparat kebersihan di kota ini cukup rajin dan tentunya juga dibarengi dengan kesadaran dari warga kota yang cukup tinggi akan kebersihan membuat kota semakin terlihat asri. Selesai mengambil foto di utara kota perjalanan kami lanjutkan lagi menuju Kabupaten Bone. Perjalanan menuju Bone adalah ke arah selatan dari kota Palopo. Melewati Kabupaten Sengkang yang merupakan penghasil kain sutera. Sebagai informasi, di Kab Sengkang ini juga terdapat budi daya ulat sutera yang menjadi bahan untuk membuat kain sutera khas sulawesi selatan.

Jarak dari kota palopo menuju sengkang adalah sekitar 200 Km. Perjalanan menuju kota sengkang banyak melalui hutan-hutan perdu, lahan kosong, tambak-tambak ikan yang cukup besar lalu wilayah pegunungan. Saya mulai terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan, maklum, rasa lelah mulai menghinggapi, herannya koq pak marzuki masih “nyala” aja. Memang barangkali sudah menjadi tuntutan profesinya sebagai “pilot” yang mengharuskan dia untuktetap tangguh dan “nyala” hehehehe…

Selepas Sengkang perjalanan kami lanjut menuju Watampone, ibu kota Kabupaten Bone. Kami memutar melewati Watansoppeng, perjalanan ditempuh dengan jarak sekitar 38 Km, lalu Ujung Lamuru dan akhirnya kota Watampone, total jarak tempuh dari dari Sengkang menuju Watampone adalah sekitar 150 Km. Sehingga total jarak yang sudah kami tempuh dari Palopo menuju Watampone adalah sekitar 350 Km. Jauh juga yah…

Tiba di jantung kota Watampone keramaian khas kota pelabuhan menyambut kami. Kota Bone yang merupakan kota kelahiran Bp Wapres Jusuf Kalla, Nurdin Khalid dan Andi Ghalib ini berada di pesisir timur sulawesi selatan, merupakan kebalikan dari kota pare-pare yang berada di pesisir barat. Namun kedua kota ini mempunyai kesamaan sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan dengan provinsi lain. Kalau Pare-pare menghubungkan sulawesi dengan kalimantan maka Bone menjadi kota penghubung dengan Kendari – Sulawesi Tenggara.

Pelabuhan Bajoe di kota ini menjadi pintu masuk ke Kendari melalui pelabuhan Kolaka disana. Pelabuhan Bajoe yang cukup besar mampu menampung belasan bus dan truk-truk pengangkut barang dari dan menuju Bone/sulawesi selatan. Kami tiba di Watampone sekitar jam 4 sore. Karena target kami adalah makan kepiting khas Bone, kami harus rela menunda jam makan siang kami.

Setelah berputar-putar mencari rumah makan yang menjual kepiting kahirnya kami mendapat kan rumah makan yang menjual hidangan kepiting. Nama masakannya cukup unik juga “Kepiting bumbu coca-cola” entah kaitannya apa dengan merek minuman ringan bersoda itu yang pasti rasa kepitingnya tidak ada sama sekali rasa minuman berkarbonasi itu. Aneh khan..? trus maksudnya apa yah..?? hehehe…karena perut sudah terlanjur lapar maka kami tidak memusingkan “judul” dari hidangan yang kami makan itu, yang penting sikkaaatt…!!

Harga 1 porsi kepiting tidak terlalu mahal, cuman Rp. 15.000/porsi, cukup enak apalagi kepitingnya banyak telurnya….nyamm..nyamm…sedaaappp..,mak nyuusss…kalo kata pak bondan di satu acara kuliner di salah satu TV swasta.

Selepas makan kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sempat boss ku menawarkan untuk menginap semalam lagi di Bone, namun karena hari masih terang kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke makassar alias pulang. Perjalanan menuju makassar kami tempuh melalui Camba. Kota Camba ini ada di tengah-tengah pesisir timur dan barat. Perjalanan kesanan melewati wilayah pegunungan yang lengkap dengan jalan berkelok-kelok. Kalo tidak biasa dijamin anda pasti mabok karena perut kita digoyang-goyang terus sepanjang jalan karena jalan yang berkelok-kelok, mirip jalan di Puncak – Bogor tapi ruas jalan lebih sempit dan terjal.

Ada sedikit masalah yang kami hadapi di perjalanan pulang ini. Bensin kami sudh tiris, sedangkan di kota bone pasokan bensin datang terlambat. Perjalanan yang harus kami tempuh masih sekitar 168 Km lagi menuju Makassar. Setiap SPBU yang kami lewati selalu di padati dengan antrian kendaraan yang bermaksud mengisi bensin, padahal bensin saat itu masih kosong. Akhirnya kami nekat melanjutkan perjalanan, dengan resiko kehabisan bensin di perjalanan. Ahirnya kami pun dapat tiba di kota Maros dengan kondisi tangki bensin yang nyaris kosong, begitu kami isi bensin, kami minta agar diisi full tank, pada saat bensin sudah diisi full angka di display pompa menunjukkan angka 44,7 liter, berarti sisa bensin ditangki sebelum diisi adalah hanya 0,3 liter….wah..wah..wah..untung aja kami bisa segera ketemu pompa besin…kalo tidak urusan bisa runyam….

Oh iya, perjalanan lewat Camba yang kami tempuh ternyata melewati lokasi wisata Air Terjun Bantimurung [saya baru tahu lho…] yang terkenal sebagai habitat kupu-kupu terbesar di dunia, sayang karena hari sudah malam kami tidak sempat mampir. Jam 21.35 WIta, tanggal 14 Agustus 2008 saya pun tiba kembali di rumah. Lumayan cape, tapi asik, seru…!

Kalo saya hitung-hitung Total jarak yang kami tempuh selama perjalanan ini adalah sekitar +- 1.000 Km… Lumayan, nambah lagi jam terbang perjalan darat saya selama disini.

cuman satu yang belum kesampaian, yaitu ke Tana Toraja, mungkin nanti di lain waktu, kalo ada kesempatan…

//teke407


Aksi

Information

6 responses

22 08 2008
iwan setyawan

Harusnya ente bawa GPS, bikin track selama perjalanan itu dan marking semua tempat-tempat yang menarik dijadiin sebagai POI (point of interest). Lalu diupload ke peta…
Jadi kalo aku mau kesana, tinggal ngikutin jalur ente😀

22 08 2008
dudi

kalo mantan orang SITAC ngomong lgsg ngasih saran yang konkret kan? kekeke…

BTW, Indonesia itu ternyata eksotik ya ke? ada banyak tempat yang kadang kalo kita liat bisa bikin berdecak kagum “wow, keren”… “gila mantep banget” dsb-dsb.

Waktu ke Aceh pertama kali juga gitu, sepertinya udah harus mencicipi daerah lain nih. Papua sepertinya menarik. Kapan kita kesana ke?

23 08 2008
bonar

komen fur topeng : oke penk, ditunggu supply GPS nya, mungkin [kalo jadi] oktober ini mau ke Toraja, liburan panjang lebaran boss..!!

komen fur dudi : oke ‘dud, dijadwalkan ae, tak enteni pisan tiket-e (hehehehe :P) secara ongkos ke papua…ya ampyuuunnn…larange boss….hahahaha…!!
untuk keliling sulawesi selatan ini biar mantebb harus sekitar seminggu-an, biar puass…hehehe…:P

1 09 2008
stenlymandagi

…postingan daeng ini mengingatkan pengalaman saya dulu di thn 2005 dulu. Tour d’Sulsel ke (hampir) kabupaten di sulsel (minus selayar) bersepeda motor sendirian..
Paling asik, waktu ke toraja. Indah….
Pare2 nginap di Hotel Cahaya Ujung yg ada ‘pijat’ plusnya…:-)
Start dari Makassar-Mangkutana (Luwu Utara)lewat jalur barat, kembalinya melalui jalur timur. Paling selatan di Tjg Bira..keren pasir putihnya. Makan soto kuda di jeneponto…

Hanya 1 yg terlewati..air terjun bantimurung.

Kangen juga untuk kembali ke sana…..

1 09 2008
stenlymandagi

…postingan daeng ini mengingatkan pengalaman saya dulu di thn 2005 dulu. Tour d’Sulsel ke (hampir) kabupaten di sulsel (minus selayar) bersepeda motor sendirian..
Paling asik, waktu ke toraja. Indah….
Pare2 nginap di Hotel Cahaya Ujung yg ada ‘pijat’ plusnya…:-)
Start dari Makassar ke Mangkutana (Luwu Utara)lewat jalur barat, kembalinya melalui jalur timur. Paling selatan di Tjg Bira..keren pasir putihnya. Makan soto kuda di jeneponto…

Hanya 1 yg terlewati..air terjun bantimurung.

Kangen juga untuk kembali ke sana…..

2 09 2008
bonar

@ stenlymandagi,

sebenernya masih banyak lagi lokasi yg pengen saya kunjungin di sulsel ini, tapi karena keterbatasan waktu [dan tentu juga biaya hhehehe..] jadinya belum semua lokasi bisa saya datangin, mungkin dilain waktu dan kalo ada kesempatan…saya bakaln cerita lagi..

salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: