Rumah Kita

22 07 2008

Berhubung masih belum ada ide untuk menulis, jadi saya posting saja tulisan teman-teman, sekedar untuk bernostalgi(l)a…hehehe..

Buat mister Imron “Ro’im-Kalong439” Fauzi, mohon maaf sebelumnya karena kelancangan saya untuk meng-upload tulisan ente tanpa pamit-pamit dulu…sekalian wae tak pamit nang kene yoo ‘im…hehehe

Rumah Kita

“ … Bravo !!!” ……. pekik sang nakoda, disambut “IMPALA…!!!!” bersama kami menjawab dengan suara pelan. Pelan namun terasa nuansa beribu makna seperti saat memohon dikabulkannya doa kita kepada Sang Robb waktu sholat berjamaah … Amiin pelan penuh makna. Suasana itu langsung hilang tertutup bayangan proses rapat koordinasi yang baru selesai. Rapat koordinasi ternyata tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan kepanitiaan. Bahkan semakin menambah beban kepanitiaan. Rapat koordinasi justru sebagai ajang pembantaian. Belum selesai melamun memikirkan strategi menyelesaikan target-target paksaan hasil rapat “Hei … AM … habis rapat rapikan ruangan ini!!!” suara cempreng badan kekar mungkin terlalu sering melahap menu latihan. Kulit hitam hangus seakan menandakan segudang pengalaman kegiatan. Wajah dan badannya mengingatkan pemain sepak bola Edgar “Pitbull” Davids yang pernah merumput di Juventus. Suara dan sosok menakutkan itu membuyarkan lamunan tersentak sesegera seperti robot membersihkan dan merapikan ruangan first room.

Dinding-dinding itu bisu kembali. Setelah merekam dan memasukkan dalam memori. Tergantung berjejer tepat di bawah plafon beton 13 foto seperti lintasan sejarah. Menempel papan putih dan beberapa suvenir di dinding timur. Papan putih banyak menyimpan goresan kenangan buah hasil otak. Papan putih itu tak pernah kosong silih berganti selalu terisi. Papan putih itu selalu menjadi pandangan pertama setiap kali memasuki ruangan ini. Sesekali kuperhatikan satu persatu benda-benda di ruangan ini sambil kulipat karpet merah bersama teman. Sedikit lebih maju dan terlipat mulutnya dari pada biasanya. Terburu gerakan melipat karpet menimbulkan kepulan debu. Ekspresi dongkol sangat mencolok tingkah laku dan wajah temanku berkaos diklatsar XX. Demikian pula dua temanku disebelah juga bertingkah laku sama melipat karpet lain. Sesekali menggerutu namun tak jelas kalimatnya.

Temanku perempuan berjambul mengambil sapu di balik pintu. Dahinya mengkerut mulutnya juga mengkerut. Mulutnya kelihatan lebih maju daripada temanku yang melipat karpet bersamaku. Lucu sebetulnya temanku berjambul ini mau tertawa ketika ujung sapu yang diambil patah. Memang sudah patah sebelum digunakan temanku yang berjambul. Lucu melihat wajahnya antara marah dan ingin tertawa. Semakin lucu wajahnya tidak semetris karena marah dan manahan emosi tertawa. Temanku yang berjambul mengambil sapu yang lain. 3 orang berjaket oranye mengelilingi meja hitam. Berwibawa apabila menggunakan jaket oranye. Mereka berkumpul di meja hitam. Meja hitam mejanya ketum sang nakoda saat rapat. Temanku yang berjambul dan temanku gigi berkawat menyapu lantai bawah kursi dan bawah meja hitam. Tanpa ada jawaban hanya mengangkat kaki. Permisi dan ijin sudah keluar dari dua temanku. Wajahnya sedikitpun tidak melihat dua temanku. Seakan dua temanku itu dianggap tidak ada. Sinar wibawa jaket itu pudar oleh mereka pemakai jaket wibawa. Dua temanku mempercepat menyapu.

Lantai kotak-kotak muram. Selain warna asli bekas kotoran roda sepeda motor menempel kuat di lantai. Ada 3 sepeda motor pernah memasuki ruangan ini terlihat dari corak ban sepeda yang berbeda mungkin kemarin malam. Tentunya susah dihilangkan bekas itu kalau hanya dengan sapu. Selain ban sepeda bekas sepatu juga ikut memuramkan lantai. Jumlah berapa sepatu tentunya susah untuk dihitung. Membuat risih jika memandang lantai terutama bagian pintu. Padahal ada keset di depan pintu. Tubuhnya miring-miring ketika berjalan melewati kursi panjang. Tubuhnya miring karena membawa satu ember air. Ada 5 orang bercerita dan bersenda gurau duduk di kursi panjang. Dua orang menggunakan jaket oranye. Entah apa yang diceritakan. Pandanganku tertuju pada kursi panjang itu. Sebetulnya kursi panjang itu terdiri dari kursi-kursi pendek tinggal kerangka. Kursi-kursi pendek disusun satu baris dan dihubungkan dengan papan panjang. Papan panjang sebagai tempat duduk dan bersandar jadilah kursi panjang. Kursi panjang tampak indah dengan grafity bertuliskan IMPALA UNIBRAW. Rasa kagum kutujukan kepada pembuat kursi panjang itu. Kursi panjang buah karya tangan terampil. Bergerak merangkak mundur cepat dan bertahap. Berusaha tidak ada yang terlewatkan Baru dua bilasan air dalam ember langsung coklat warnanya. Bekas roda dan sepatu hilang oleh sapuan air temanku. Namun lantai itu masih muram. Semua itu karena disuruh. Terbesit tidak ada rasa ikhlas pada wajah kami. Lantai itu masih muram.

Berduyun-duyun jalan dan lari. Tanpa ada komando kami menuju bangunan kayu. Bangunan kayu diapit oleh gerbang hijau yang masih basah oleh hujan yang baru reda. Mendung masih menggantung di atas menghalangi jingga sinar matahari. Saat kami melewati jalan aspal hitam yang masih basah. Satu persatu naik ke bangunan kayu. Mulai satu persatu mengeluarkan isi hati setelah ditahan dalam dada. Gemuruh didada sudah tak kuasa menampung. Umpatan, benci, sakit hati, kecewa meluncur dari mulut-mulut mungil. Bangunan kayu mengangguk memahami. Memang bangunan kayu tempat mencurahkan isi hati. Karena mereka tak menganggap kami.

Sosok perempuan rambut panjang lurus hitam menggunakan jaket warna oranye mendekati kami. Langkah-langkah pelan anggun selalu menebarkan senyum. Temanku bergeser memberikan tempat. Matanya bulat berbinar memandang kami satu persatu. Mulut mungil tak pernah lepas dari senyum memulai pembicaraan. Suaranya pelan namun terdengar jelas di telinga kami. “Kenapa tidak bergabung dengan kami di ruangan sana.” jari kecil bersih menujuk ke first room seberang jalan aspal. “Oh ya … terimakasih ya sudah membersihkan rumah kita yang kedua”. “Jadi bersih rumah kita oleh jerih payah kalian adik-adikku”. Ucapan terimakasih yang kami tunggu-tunggu keluar dari pemakai jaket oranye. Orang ini berbeda dengan mereka yang ada di sana, batinku. Kami sedikit tercengang dengan kata-kata “rumah kita”. Sekarang adalah rumah kamu, tempat tinggal kamu dan saudara-saudara kamu. Organisasi ini bisa berjalan membutuhkan tempat. Tempat untuk diskusi membuat ide-ide kegiatan. Tempat untuk rapat mengkoodinasikan kepanitian agar kegiatan dapat berjalan dengan baik Tempat untuk mencari ilmu dan mengasah kemampuan. Tempat untuk kita sebagai keluarga. Apabila rumah kita kotor, semrawut, bau apek. Orang akan enggan untuk masuk ke sumah kita. Maka rumah itu akan kosong tidak berfungsi. Aktivitaspun terhenti. Kita tidak akan memperoleh ilmu dan pengalaman. Kalimat-kalimat itu meluncur dari bibirnya yang tipis. Kami mengangguk membawa pemahaman baru. Bangunan kayu tampak gembira. Telah hadir sosok wanita pemakai jaket wibawa.

Suara adzan terdengar dari masjid di sebelah barat bangunan kayu membangunkan dari lamunanku. Dengan langkah berat kutinggalkan bangunan kayu. Bangunan kayu tersenyum …

-baron-supermen kampes njero = ro’im-


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: