Pengaman Kami Dibangunan Kayu

21 07 2008

Im…iki tulisanmu maneh tak posting yoo…hehehe…

Pengaman Kami di Bangunan Kayu

Udara kering mudah bagi angin untuk melemparkan debu. Lapangan itu tak lagi berwarna hijau karena rumput-rumput liar yang selalu tumbuh jika musim hujan. Hanya warna tanah kering diselimuti debu yang dihempas angin. Enam perempuan, dua berjilbab di depan tampak terburu, empat di belakang berjalan beriring. Dari timur dua kelompok pejalan ini saling diam karena tak mengenal. Lucu semuanya menutupi wajah dengan buku dan tas. Baru kusadar apa yang mereka lakukan untuk mencegah debu yang terbang. Lapangan itu tak pernah sepi bagi pejalan sebagai lintasan menuntut ilmu bekal menyongsong esok. Ujung selatan lapangan pohon trembesi kokoh dahannya panjang memberikan keteduhan bagi pejalan. Trembesi itu seperti tersenyum mengundang mempersilahkan pejalan lewat memberikan kepastian rasa teduh dan aman.

Kembali kukaitkan webbing di salah satu penyokong bangunan kayu. Rangkaian webbing terikat jadi satu tampak indah karena beragam warna ikut menghiasi bangunan kayu. Ujung yang lain kukaitkan pada penyokong lain bangunan kayu. Tubuhku kemarin telah kau pegang erat sehingga tak jatuh batinku. Temanku datang membawa satu pasang helm putih sambil mengibas membuang sisa air. Untung kupakai dengan benar helm ini saat jalan merangkak terbentur plafon gua cerita teman sambil mengulurkan satu helm padaku. Putih helm itu banyak goresan sebanyak kepala yang telah kau lindungi. Kukaitkan pada kayu bawah atap bangunan kayu. Sebelah barat bangunan dua temanku sibuk berputar mengelilingi dua pohon besar. Tali itu meliliti dua pohon besar mengikuti arah dua temanku. Sesekali menurunkan ember memberikan waktu pinggang lepas dari beban. Tanpa disadari kami diam menatapi satu persatu chest harnest, sit harnest, chest croll, oval MR, delta MR, carabiner, foot lop, prusik, coverall terpasang bergelantungan pada beberapa bagian bangunan kayu. Hanyut dengan pengalaman masing-masing. Tiga hari membawa pengalaman yang berarti. Diam sesekali menguap meneteskan air mata tanda lelah. Terngiang nyawa tergantung rangkaian alat terkait seutas tali. Duduk dikelilingi untaian peralatan pengaman kami. Meresapi bagitu besar fungsi peralatan yang telah kami cuci dengan hati. Kami menatap diam tanda sepakat akan selalu merawat dengan sepenuh hati.
Mereka seperti membalas pandangan kami. Tampak senyum segar mereka seakan mengucapkan terimakasih telah dicuci dibersihkan dengan hati. Kembali kupandangi trembesi itu. Kembali kupandangi pejalan-pejalan yang tak pernah berhenti melewati lapangan yang tetap kering berdebu masa itu. Kamipun tidak beranjak dari bangunan kayu meski matahari berlahan berangkat pulang. Setia menunggu pengaman kami sampai siap memasuki tempatmu untuk istirahat. Istirahatlah teman sambil menunggu waktu untuk mengamankan kami kembali.

–roim–


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: