Renungan Harian September

As A Man Thinketh

Posted: 02 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 23:7
====================
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”as a man thinketh, we are what we think
Ada sebuah buku yang cukup menggemparkan ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1902. Karya James Allen itu berjudul As A Man Thinketh (Seperti Yang Dipikirkan Seseorang), bercerita tentang kekuatan pikiran untuk menjadi sukses. Kata As A Man Thinketh diambil dari bagian pertama kitab Amsal 23:7. Mungkin dalam bahasa Indonesianya kurang jelas, seperti yang dapat dibaca pada ayat bacaan hari ini. Tapi dalam bahasa Inggris versi King James, ayat tersebut berbunyi: “For as he thinketh in his heart, so is he.” Kurang lebih kalau diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari bunyinya: You Are What You Think. Banyak orang berpendapat bahwa apa yang ditulis James Allen tidaklah alkitabiah karena memusatkan segala sesuatu pada pikiran manusia dan bukan pada Tuhan. Banyak pula yang berpendapat bahwa apa yang perlu kita jaga sebenarnya adalah hati. Tidak salah, karena Amsal 4:23 berkata “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Lebih lanjut Salomo berkata lagi, “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.”(Amsal 27:19). Tapi apakah benar pikiran tidak mempunyai peran sama sekali bagi kita?Saya tidak akan fokus kepada benar tidaknya karya James Allen menurut alkitab. Yang ingin saya tulis hari ini adalah bagaimana korelasi antar pikiran dengan perkembangan iman kita. Sadar atau tidak, pikiran kita adalah salah satu faktor besar yang menentukan seperti apa hidup kita, dan bagaimana hidup kita ke depan. Jika pikiran kita negatif, maka hidup kita pun akan penuh dengan hal-hal negatif. Selalu curiga, sulit percaya, pesimis, keraguan, misalnya, adalah beberapa diantaranya. Sebaliknya jika seseorang punya pikiran positif, maka hidupnya pun akan berisikan hal-hal positif. Semangat, jujur, tekun, tabah, optimis, tidak berburuk sangka dan hal positif lainnya akan menjadi pola kehidupan mereka. Pikiran negatif akan membuat orang hidup tanpa pengharapan. Dan hidup tanpa pengharapan tidaklah sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan buat kita. Orang yang pikirannya jahat hidupnya akan penuh dengan hal-hal jahat seperti menipu, mencuri, menyakiti dan lain-lain. Sebaliknya orang yang pikirannya baik akan berlaku santun pada orang lain, tidak cepat menuduh tanpa bukti dan sebagainya. Artinya, you are what you think, atau as a man thinketh, memang berpengaruh dalam kehidupan kita.

Jika demikian, kemanakah sebaiknya pikiran kita dipusatkan, agar pikiran kita tetap sehat dan tidak terkontaminasi dengan berbagai pikiran negatif, jahat atau kotor? Daud berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1). Ayat ini berbicara mengenai kehidupan orang percaya yang berpusat pada Tuhan. Di dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa selalu ada pengharapan dan keyakinan jika kita berpusat pada Tuhan. Dalam kesempatan lain, Tuhan Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27). Yesus adalah harta kita terbesar, dan berpusat padaNya kita akan mendapat damai sejahtera Kristus, yang tidak akan pernah sama seperti yang dapat diberikan dunia pada kita. Kemudian dalam Filipi 4:8, Paulus berkata “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Paulus mengajak kita semua untuk mendasarkan pikiran kita terhadap hal-hal positif.

Pikiran negatif cepat atau lambat akan merusak hidup kita, mengganggu kesehatan kita dan akan menjauhkan sukacita dari kehidupan kita. Hati memang harus kita jaga dengan baik, tapi jangan lupa pikiran kita pun harus selalu kita pelihara baik. Kita bisa meraih sukses, berkat akan turun atas usaha kita, bukan karena segalanya berpusat pada pikiran kita, tapi karena kita menaklukkan pikiran kita untuk berpusat pada Kristus.

We are what we think, put our thought based on Christ and be blessed!

Mewariskan Iman Turun Temurun

Posted: 03 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
===========================
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”teladan ibu, renungan harianAda banyak orang mencapai sukses berkat perjuangan orang tuanya. Dalam kotbah salah satu pendeta, saya pernah mendengar kisah seorang ibu yang diam-diam mengumpulkan beras sisa ayakan demi membayar sekolah anaknya. Ibu saya dulu mengorbankan karirnya, berhenti menjadi dokter agar fokus dalam membesarkan saya dan adik. Setelah kami berdua dewasa, barulah ibu kembali membuka praktek. Di sisi lain, ada banyak juga anak yang hancur hidupnya, karena tidak mendapatkan contoh yang baik di rumah. Keluarga yang retak, orang tua yang sering bertengkar, ayah atau ibu selingkuh, orang tua korupsi dan lain-lain membuat anak-anak mereka menjadi lepas kendali dan hidupnya berantakan.Sadar atau tidak, anak akan mencontoh perilaku orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja, sementara mereka tidak memberi contoh yang sama, si anak pun berpotensi untuk menganggap itu semua hanyalah sebuah perintah dari orang tua semata. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah, tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian menimbulkan kepahitan dalam perkembangan si anak. Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, jika orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka untuk dicontoh.

Ayat hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Ketika saya mencari tahu latar belakang dari Timotius, ternyata awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1. Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Ayat hari ini menjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike.

Peran seorang ayah adalah sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ibu pun tidak kalah pentingnya, seperti yang ada pada Amsal 1:8 : “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. Bahkan dari uraian di atas, peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting lewat cara kehidupan kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya. Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka?

Anak terbentuk sesuai contoh yang mereka lihat dari orang tuanya. Jagalah hidup kita agar kita tidak mewariskan hal yang buruk bagi mereka

Kantong Anggur Baru

Posted: 04 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Markus 2:22
=========================
“Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”kantong anggur baru
Berapa banyak plastik yang dipergunakan sehari-hari ketika berbelanja ke supermarket? Ada sebuah hypermart yang mengeluarkan produk tas belanja ramah lingkungan. Saya tidak tahu apakah di kota-kota lain tas belanja ini juga dipergunakan, tapi di kota saya tas ini dijual dengan harga Rp 10.000 dan bisa ditukar gratis apabila rusak. Tas ini tentunya lebih kuat dari plastik kresek yang gampang sobek jika diisi terlalu berat, apalagi jika dipakai berulang-ulang. Tapi meskipun tas belanja ini lebih kuat, jika dipergunakan terus menerus lama kelamaan pasti rusak juga. Jika tas yang kita pakai itu sudah terlalu lama dipakai untuk menampung beban berat, bisa dibayangkan seandainya tas tiba-tiba sobek dan isi belanjaan kita tumpah keluar. Beberapa belanjaan yang tidak tahan banting, seperti telur misalnya, akan pecah. Baik tas dan barang akan terbuang sia-sia.Di masa kehidupan Yesus, anggur disimpan di dalam kantong kulit. Kantong tersebut biasanya meregang setelah dimasuki anggur, karena anggur terus mengalami fermentasi, dan kemudian mengeras. Bisa dibayangkan jika kantong tua yang sudah mengalami peregangan diisi kembali dengan anggur baru. Anggur baru itu akan melanjutkan proses fermentasinya dan beresiko mengoyak kantong tua. Akibatnya anggur akan tumpah terbuang, demikian pula dengan kantong yang telah koyak tidak akan bisa dipergunakan kembali. Baik tas belanja di atas, maupun kantong anggur memberi satu gambaran yang sama: kerusakan bisa terjadi apabila wadah yang dipakai sudah terlalu tua dan tidak lagi layak guna.

Tuhan selalu mencurahkan anggur baru yang terbaik buat kita semua. Anggur baru akan memberi kita kapasitas maksimal dalam kehidupan, pekerjaan dan pelayanan. Jika kita tidak mempersiapkan hati kita untuk menerima anggur yang tercurah dari Tuhan, kita bisa kehilangan begitu banyak berkat. “Kantong” hati kita tidak mampu menampung curahan berkat, dan akibatnya berkat akan terbuang sia-sia tanpa kita sadari. Jika kita tidak menjaga hati dengan baik, jika kita masih memiliki hati lama yang menyimpan banyak dendam, iri hati, tidak menjaga kekudusan dan lain-lain, hati kita tidak akan bisa menerima berkat Tuhan. “Kantong” lama harus kita ganti dengan “kantong” hidup baru, sehingga kita bisa menerima berkat Tuhan secara maksimal, dan mempergunakan seluruh “anggur baru” yang dicurahkan Tuhan dengan kapasitas maksimal dalam hidup kita. Persiapkanlah diri anda dengan maksimal, sehingga tidak ada lagi segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada kita terbuang sia-sia.

Kantong lama tidak sanggup menampung anggur baru, maka gantilah kantong anda dengan kantong hidup yang baru

Singsingkan Lengan Baju

Posted: 05 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yakobus 2:18
=========================
“Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”iman tanpa perbuatan adalah matiAda pepatah yang mengatakan, “tuntutlah ilmu setinggi langit”. Saya yakin jika sanggup, tidak ada yang mau mencari ilmu ala kadarnya saja. Semua orang tentu ingin pintar. Orang tua pasti akan mati-matian menyekolahkan anaknya setidaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Biaya pendidikan sekarang semakin melonjak naik dari tahun ke tahun. Ada perguruan tinggi yang dalam setahun saja sudah menaikkan uang pembangunan sampai dua kali lipat. Untuk memasukkan anak ke SD yang punya kualitas baik saja sekarang biayanya sudah mencapai jutaan rupiah. Entah bagaimana tahun-tahun ke depan. Untuk apa menuntut ilmu hingga setinggi langit? Tentunya kita berharap, semakin tinggi ilmu yang kita miliki, semakin besar pula peluang untuk memiliki pekerjaan yang lebih baik. Semakin banyak yang kita pelajari, kita akan tahu lebih banyak. Setidaknya secara teoritis bakal demikian. Bayangkan jika ada orang yang belajar hingga mencapai S2 bahkan S3, tapi tidak pernah bekerja. Ilmunya tidak akan berguna sama sekali dan tidak akan menghasilkan apa-apa.Iman pun demikian. Ada banyak orang yang kalau dilihat hidupnya sangat religius. Tidak pernah lupa ke gereja, selalu berdoa sebelum makan, menjauhi hal-hal yang dilarang Tuhan, tapi tidak didukung sikap atau tindakan yang menunjukkan ketaatan mereka pada Tuhan. Ada yang malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ada seorang teman saya yang sejak lahirnya sudah terdaftar sebagai orang kristen, namun dia selalu takut melewati tempat gelap. Berkali-kali ia bercerita bahwa di kamarnya mungkin ada penunggunya. Ketika temannya merasa rumah mereka diganggu setan, ia pun tidak berani berbuat apa-apa dan malah meminta saya, yang belum satu dasawarsa menerima Tuhan Yesus, untuk membantu temannya itu. Ada pula beberapa teman yang hobinya mengkotbahi orang sembari menjelek-jelekkan kepercayaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa antara ke-religiusan dan perbuatan belumlah tentu sejalan.

Dalam ayat bacaan hari ini kita melihat bahwa Yakobus pun menyadari demikian. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20). Dia lebih jauh berkata bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2:17). Atau selanjutnya, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Jangan puas dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang taat dan percaya. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih.Tuhan ingin kita menjadi orang yang sabar, tidak sulit memaafkan, dan mampu menguasai diri kita. Sebuah perubahan menjadi lebih baik, dimana orang bisa melihat bahwa ketika menerima Yesus hidup anda diubahkan secara luar biasa, itulah yang diharapkan Tuhan. Jika tadinya orang tidak suka berteman dengan anda, sekarang tanpa anda, terasa seperti ada yang kurang. Kehadiran anda membawa sukacita bagi teman-teman, mereka yang tengah kesulitan akan merasa tenang di dekat anda, itulah yang diinginkan Tuhan. Ayo, singsingkan lengan baju, karena masih banyak yang bisa kita lakukan.

Iman dengan perbuatan adalah iman yang hidup, yang berkenan dihadapan Tuhan

Tiada Yang Tersembunyi

Posted: 06 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yesaya 29:15
====================
“Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?”Ada pepatah yang mengatakan, dunia hanya selebar daun kelor. Pepatah ini semakin lama semakin terbukti. Lewat teknologi modern kita dapat melihat kejadian-kejadian di berbagai belahan bumi manapun. Ada satelit yang berputar-putar di atas sana yang bisa menghubungkan berbagai sisi dunia secara langsung. Saat ini rasanya sudah sangat sulit mencari tempat yang benar-benar bebas dari pengamatan, perhatian atau penglihatan orang. Pembicaraan lewat telepon pun tidak lagi aman. Skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang baru-baru ini heboh bisa terbongkar lewat penyadapan telepon. Dengan penyadapan itu kita bisa mendengar percakapan mereka ketika merencanakan penipuan. Pada suatu kali teman saya sambil tertawa berkata, “dinding pun bisa mendengar.. tidak ada lagi privasi di dunia ini.” Bagaimana di dunia maya? Sebuah gambar humor lucu ini bisa menggambarkan jawabannya.

Tuhan tahu segalanya
Google dianggap banyak orang melanggar hak-hak privasi lewat fasilitas-fasilitas yang mereka sediakan. Humor satire yang ditampilkan pada gambar diatas dengan sinis menggambarkan bahwa kelak pada tahun 2084 google bisa mengetahui semua data kehidupan manusia. Berlebihan atau tidak, dari semua ilustrasi diatas kita bisa mendapat satu kesimpulan, bahwa untuk menyembunyikan sesuatu akan terus semakin sulit.Jika dunia saja sudah sanggup mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan, apalagi Sang Pencipta kita. Dia yang menciptakan kita, dia tahu semua tentang kita; apa yang kita kerjakan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita sembunyikan, semuanya Dia tahu. Jika manusia diibaratkan sebagai tanah liat yang dibentuk oleh tukang periuk, dapatkah tanah liat berkata bahwa tukang periuk tidak tahu apa-apa mengenai tanah liat yang dibentuknya? (Yesaya 29:16). Ketika manusia dengan sedaya upaya mencoba menyembunyikan berbagai rahasia, mungkin dunia bisa tertipu buat sementara waktu, tetapi tidak akan pernah bisa menipu Tuhan. Berbagai dosa, penipuan dan kejahatan yang kita sembunyikan, walau serapi apapun tetap terlihat jelas oleh Tuhan.Pada Mazmur 10:4-11 tertulis bahwa orang fasik selalu berpikir bahwa mereka bisa menyembunyikan kejahatannya dari Tuhan. Mereka ini akan sibuk menyembunyikan segala sesuatu yang mereka lakukan, berdalih dengan seribu satu alasan, menyangkal segala kejahatannya, menutupi dengan berbagai cara lewat penyuapan dan lain-lain. “Ia berkata dalam hatinya: “Allah melupakannya; Ia menyembunyikan wajah-Nya, dan tidak akan melihatnya untuk seterusnya.” (Mazmur 10:11). Mereka lupa bahwa ada Tuhan yang melihat segalanya dan tidak akan pernah bisa disuap. Dalam Yehezkiel 8:12 kita bisa lihat bahwa pikiran bahwa Tuhan tidak melihat kejahatan manusia tidak hanya menimpa para koruptor dan pelaku kejahatan, tapi bisa pula menimpa tua-tua Israel, orang-orang yang seharusnya menjadi panutan.

Kita semua telah ditebus dengan sangat mahal oleh darah Kristus. Oleh karenanya kita harus menjaga diri kita agar tidak terpeleset pada dosa lagi. Segala dosa bisa diketahui oleh Tuhan dan tidak akan pernah bisa kita tutupi. Dan ingatlah bahwa ada konsekuensi yang harus kita tanggung dalam setiap dosa yang kita lakukan. Jangan sampai apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita menjadi sia-sia karena berbagai perbuatan kita yang menyimpang.

Dalam sudut yang paling tersembunyi pun Tuhan tahu apa yang kita perbuat

Bad Day? No Way!

Posted: 07 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 15:15
=====================
“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.”bad day, hari buruk
Lagu Bad Day nya Daniel Powter terasa seperti menepuk-nepuk pundak saya hari ini… Hari dimulai dengan dibangunkan pagi benar oleh montir yang hendak memperbaiki mobil saya sebelum ia berangkat kerja ke bengkelnya. Air sudah dua hari tidak jalan, dan dua hari ini kami kesulitan air. Piring dan gelas bertumpuk di dapur, begitu juga baju karena tidak ada air untuk mencuci. Jangankan mencuci, untuk mandi pun sulit. Di saat hendak berangkat kerja, mobil mogok lagi! Dan kalau itu belum cukup, gaji saya juga tertahan, belum dibayar tanpa alasan jelas. Orang mungkin maklum kalau rentetan masalah yang terjadi hari ini bisa membuat saya cepat emosi dan kesal. Tapi tidak, saya tidak mau diracuni dengan rasa kesal. Ketika menulis renungan ini, saya sedang berpesta dalam hati saya. Kok?Saya punya satu pandangan baru sejak lahir baru, “it’s all in the state of mind.” Ketika hal-hal buruk terjadi, itu tidak berarti semuanya buruk. Dalam segala masalah yang menimpa, pasti ada juga hal-hal baik yang terjadi. Ya, air mati, mobil mogok, gaji belum cair, tapi di hari yang sama saya masih diberkati dengan kesehatan, masih bisa menulis renungan sambil mendengarkan musik, masih diberkati istri yang luar biasa yang saat ini sedang duduk di samping saya, serta dua anjing chihuahua lucu yang sedang bermain-main dengan riang di sekitar kami tanpa masalah. Di atas segalanya, saya tahu Yesus masih beserta kami sekeluarga, dan itu yang terpenting. Mau fokus ke arah yang mana? ke arah hal buruk atau hal baik, itu semua tergantung kita. Dalam hari yang paling indah sekalipun, kalau kita memusatkan pikiran pada hal buruk, maka hari yang indah itu akan berlalu sia-sia. Tepat seperti kata Salomo, jika hati tetap gembira, maka dalam kondisi apapun kita akan selalu berpesta.

Lord is good! Itu yang ingin saya katakan sejak awal. Berbagai masalah yang terjadi hari ini bukanlah berarti Dia sedang tidak peduli pada saya. Kesusahan boleh saja datang ke dalam hidup, tapi Yesus tetap membawa penghiburan yang penuh sukacita. Saya tidak tahu apakah besok air akan hidup kembali, saya tidak tahu kapan gaji akan cair, saya tidak tahu berapa ongkos yang harus saya keluarkan agar mobil bisa jalan lagi, tapi biarlah itu menjadi ujian buat esok hari. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:34). Yang pasti, kemarin, saat ini dan besok, Tuhan selalu ada beserta kami. Karena mobil mogok, hari ini saya diantar kerja oleh istri saya dengan sepeda motor. Untuk pertama kali dia memberanikan diri mengendarai motor di jalan raya, dan itu jadi salah satu memori indah untuk dikenang. Kalau mobil tidak mogok, satu memori indah pasti terlewatkan.

Memiliki Yesus dalam hidup kita bukan berarti kita akan 100% hidup tanpa masalah. Tapi kehadiran Yesus akan selalu membawa damai sukacita dalam hidup yang mampu membuat hati kita terus berpesta dalam kondisi apapun. Indah bukan? Saat ini saya tersenyum, geli juga rasanya membayangkan tumpukan masalah yang terjadi. Menderita karena masalah itu biasa, tapi bersukacita dalam kesusahan, itu beda. Dan semuanya dimungkinkan karena Yesus bertahta dalam diri kita. It’s all in the state of mind, the mind that is set toward Jesus.

Tersenyumlah dalam kesusahan, karena dalam Yesus ada sukacita dan damai sejahtera

Ingin Punya Anak (1) : Kisah Sara, Ibu Samuel

Posted: 08 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 1 Samuel 1:15
======================
“Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN”ingin punya anakAdakah di antara teman-teman yang masih menghadapi pergumulan untuk bisa punya anak? Jika ada, saat ini anda sama dengan kami. Dalam usia pernikahan yang relatif masih muda, sekitar 6 bulan, kami belum juga diberi, meskipun kami benar-benar menginginkannya. Apa yang salah? Apakah Tuhan tidak mendengar doa kami, atau menganggap kami tidak layak untuk menerima karunia seorang anak? Saya percaya tidak demikian. Saya percaya Tuhan mendengar doa. Kami percaya bahwa segalanya disediakan Tuhan tepat pada waktunya, dan rancanganNya adalah rancangan yang terbaik buat kita.Malam ini saya diingatkan tentang kisah orang tua Samuel, Hana dan Elkana yang ada pada 1 Samuel 1:1-28. Hana sudah bertahun-tahun belum dikaruniai anak dan mendapat tekanan dari madunya. Hana sempat depresi, dan ditengah puncak depresinya dia pergi ke bait Allah dan berdoa disana. Karena beratnya tekanan yang ia rasakan, ia tidak mampu berkata-kata secara langsung, hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa suara, sampai-sampai disangka sedang mabuk oleh imam Eli. Setelah selesai berdoa, ada dua hal yang terjadi. Satu, Hana tidak depresi lagi, mukanya tidak lagi muram dan dia kembali mau makan. (1 Sam 1:18). Dua, ketika mereka bersetubuh, Tuhan ingat pada mereka dan lahirlah Samuel, yang berarti “Aku telah memintanya dari pada Tuhan”. (1 Sam 1:19-20). Hana tidak mencurahkan hatinya kepada orang lain atau mencari-cari kesalahan. Seperti yang dapat dibaca pada ayat bacaan hari ini, Hana mencurahkan isi hatinya di hadapan Tuhan. Kita lihat bagaimana Samuel selanjutnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Semua berasal dari doa Hana di hadapan Tuhan.

Meski anak adalah anugrah dan berkat yang berasal dari Tuhan, tapi dari kisah Hana kita bisa belajar bahwa kita boleh meminta dan mencurahkan isi hati kita pada Tuhan. Kita bisa melihat bahwa Tuhan mendengar doa kita, dan bagaimana doa orang yang sungguh percaya padaNya punya kuasa besar (Yakobus 5:16). Yang penting, jangan putus pengharapan, teruslah berdoa dengan iman yang teguh dan percaya sepenuhnya pada Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya.

Tuhan tidak pernah melupakan anak-anakNya yang berseru padaNya

Ingin Punya Anak (2) : Kisah Sara, istri Abraham

Posted: 09 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Kejadian 16:2
====================
“Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.”abraham sara hagar ismail ishakMelanjutkan renungan kemarin, hari ini kita lihat kisah Sara, istri Abraham. Tuhan menjanjikan keturunan, seorang anak kandung bagi Abraham yang waktu itu sudah berusia sangat lanjut. (Kej 15:4). Bukan cuma menjanjikan keturunan, tapi Tuhan pun menjanjikan banyak keturunan, sebanyak bintang di langit (Kej 15:5). Sarai (belakangan namanya diganti Tuhan menjadi Sara) ketika itu sudah menopause, secara logika tidak ada lagi peluang bagi Sarai untuk bisa mengandung. Abraham dan Sara adalah orang beriman, bahkan Abraham dijuluki bapak orang beriman karena keteguhan imannya yang luar biasa dan keberaniannya bergumul dalam mentaati Tuhan. Tapi orang yang beriman belum tentu sanggup hidup tanpa ragu. Seringkali logika manusia menutupi iman, hingga membuat orang lupa kalau di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil.Maka pada suatu kali Sara pun berkata pada Abraham seperti yang kita baca pada ayat bacaan hari ini. Mereka percaya bahwa Abraham akan diberi keturunan, tapi tidak percaya bahwa Tuhan ada di atas logika manusia. Tuhan tidak pernah berkata bahwa Abraham harus mengusahakan anak dari orang lain, tapi Sara menyimpulkan sendiri berdasarkan logikanya, “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak.” Dan Abraham pun setuju. Lewat hamba Sara yang bernama Hagar, lahirlah Ismael. Ini sebuah keputusan dimana konsekuensinya berlanjut hingga hari ini, meskipun mungkin kita bisa memahami apa yang dirasakan Abraham dan Sara waktu itu. Ketika Ismael lahir, Abraham telah berumur 86 tahun. Ketika Sara akhirnya mengandung dan melahirkan Ishak, Abraham berusia 100 tahun. Sedang Sara sendiri waktu itu sudah berusia 90 tahun. Ketidaksabaran menimbulkan keraguan, malah mereka mengambil tindakan berdasarkan keraguan, bukan keimanan. Lihat hasilnya: sampai sekarang kita sulit melihat “dua keturunan Abraham” hidup rukun.

Ketika kita berdoa, banyak orang berharap bahwa Tuhan menjawab doa kita dengan instan. Bahkan ada pula yang langsung mencari alternatif lain dan akhirnya terjerumus dalam kuasa kegelapan. Dari kisah Abraham ini kita bisa belajar bahwa ketidaksabaran menghasilkan keraguan, dan jika itu dijadikan dasar, ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Semua akibat kita belum mampu percaya dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan.

Wajar memang jika dalam hidup ini kita masih sering diliputi keraguan, tapi jagalah agar keraguan itu jangan sampai membuat iman kita luntur, atau kita akhirnya memilih bertindak berdasarkan keraguan kita karena artinya sama saja dengan kita tidak percaya pada Tuhan. Tidak hanya dalam hal menantikan keturunan, tapi juga dalam berbagai pergumulan kita dalam hidup. Kita juga bisa belajar bahwa Tuhan tidak pernah lupa pada kita. Meskipun Abraham harus menunggu cukup lama, tapi janji Tuhan tetap digenapi, sesuai waktunya Tuhan. Semua yang dirancangkan Tuhan atas hidup anak-anakNya adalah yang terbaik. Berkaca dari dua renungan kemarin dan hari ini, mari kita terus tekun berdoa, percaya bahwa Tuhan mendengar doa kita, dan percaya kepadaNya dengan iman teguh tanpa ragu. Dalam kamus Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Yakinlah bahwa Tuhan menyediakan segala sesuatu yang terbaik bagi anda dan saya, sesuai waktuNya Tuhan.

Jangan sampai keraguan menguasai hidup dan membuat kita mengambil jalan pintas yang salah

Semanis Madu

Posted: 10 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yehezkiel 3:3
====================
“Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.”makan gulungan kitab, yehezkiel, manis seperti madu
Makanan apa yang tidak bisa basi? Jawabannya adalah madu. Madu yang asli, yang belum diencerkan dan dicampur apa-apa akan tahan disimpan dalam jangka waktu tidak terbatas di lemari biasa. Madu adalah pemanis yang sangat baik dan lebih manis daripada gula pasir dan tidak mengandung kolesterol. Kandungan fruktosa madu lebih manis 25% dibanding gula pasir. Kalau bicara gizi, madu termasuk komplit. Untuk kesehatan, kesegaran, mengembalikan stamina hingga kecantikan, madu terbukti punya khasiat buat itu semua. Rasanya pun nikmat dan disukai hampir semua orang. Dengan berbagai keunggulan ini, tidak heran kalau madu harganya tergolong mahal.Yehezkiel diutus Tuhan untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang keras hati dan kepala batu. Ini bukan tugas gampang! Saking sulitnya tugas ini, Tuhan merasa perlu menyuruh Yehezkiel untuk memakan gulungan kitab suci! Kenapa harus sampai seperti itu? Karena ini pekerjaan yang teramat sangat sulit. Tuhan berkata adalah jauh lebih mudah menyampaikan firman kepada bangsa-bangsa yang berbahasa asing dan berat lidah (dalam bahasa inggrisnya disebut “hard language”, bahasa yang sulit untuk dipelajari) ketimbang menyampaikan pada bangsa sendiri, bangsa Israel. (Yehezkiel 3:5-7). Saya rasa tidak ada orang yang mau disuruh makan gulungan kitab, tapi Yehezkiel menurutinya. Apa rasanya? Menurut Yehezkiel, rasanya manis seperti madu. Walaupun yang akan disampaikan Yehezkiel bagi bangsa Israel adalah penghukuman Allah bagi bangsa yang bebal, tapi yang dirasakan Yehezkiel adalah manis seperti madu.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Yehezkiel bukanlah kita harus ikut makan alkitab. Yang bisa kita ambil adalah kerajinan kita “mencerna” alkitab setiap hari. Menyegarkan rohani kita yang lelah lewat firman Tuhan. Seperti madu, firman Tuhan pun tidak akan pernah basi, dan manis rasanya bagi hidup kita. Banyak orang tidak merasa penting untuk menghafal ayat-ayat di alkitab, padahal jika kita rajin membaca dan menghafal beberapa ayat, setidaknya ada yang terbangun dan tumbuh dalam hidup kita. Memang kita tidak harus menghafal seluruh isi alkitab, dan bukan soal kehebatan menghafalnya yang penting, tapi fokuslah pada kebutuhan akan ayat-ayat yang menjadi berkat dalam hidup kita, yang dapat mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang hidup di dalam diri kita. Untuk hidup kita bukan hanya butuh makan makanan jasmani, tapi juga makanan rohani, rhema alias perkataan-perkataan Tuhan, seperti yang dikatakan Yesus yang tertulis pada injil Matius. “Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Pikiran kita harus selalu penuh dengan kebenaran firman Tuhan, agar apa yang kita pikirkan,katakan dan lakukan pun adalah hal-hal yang tidak jauh dari firman Tuhan pula. Rajin membaca alkitab setiap hari akan membuat diri kita penuh “madu” Tuhan yang menyegarkan, menyehatkan dan membuat hidup kita lebih manis dari sebelumnya. So, don’t try to eat the bible literally, but do eat the words and keep it in your heart and mind.

Seperti madu yang penuh khasiat dan manis rasanya, demikianlah firman Tuhan berperan dalam hidup kita

Sahabat Sejati

Posted: 11 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 18:24
====================
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”sahabat, renungan harianSaya mendengar sebuah cerita dari istri saya mengenai temannya. Temannya hampir saja tidak melanjutkan kuliahnya karena kekurangan dana. Orangtuanya bangkrut dan dililit hutang yang tidak sedikit, bahkan sampai harus menjual rumahnya dengan demikian tidak sanggup lagi membiayai kuliah anak mereka. Dalam keadaan tersebut, beberapa sahabatnya berinisiatif memberi bantuan. Mereka mengumpulkan uang mereka sebagai biaya sang teman melanjutkan kuliahnya. Baru-baru ini, teman istri saya itu pun menyelesaikan kuliahnya dengan sukses dan diwisuda. Di saat sulit, ternyata bukan pihak keluarga yang membantu, tapi justru sahabat lah yang peduli.“A Friend In Need Is A Friend Indeed.” Ini sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Betapa seorang sahabat sejati justru hadir di kala kita mengalami kesulitan hidup. Ketika kita sedang sukses dan berada di atas, pasti tidak akan sulit untuk mendapat sahabat, mereka akan datang dari berbagai arah tanpa dicari atau diminta. Tapi di saat kita mengalami kesulitan, banyak dari mereka akan menghindar dengan berbagai alasan. Ada yang takut dimintai tolong, ada pula yang pergi karena merasa tidak ada lagi yang dapat “dihisap” dari temannya. Ini bukanlah figur seorang sahabat. Sahabat yang baik akan tetap hadir bersama kita dalam keadaan suka maupun duka.

Apa yang terjadi pada diri teman istri saya tadi pernah ditulis oleh Salomo seperti yang dapat dibaca pada ayat bacaan hari ini. Ada sahabat-sahabat yang justru lebih karib daripada seorang saudara. Seperti apa figur sahabat sejati? Menurut Salomo pada Amsal 17:17, sahabat sejati adalah sahabat yang menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara bukan dalam suka, tapi justru dalam kesukaran. Di mata Yesus pun kita adalah sahabat-sahabatNya, bukan hanya murid biasa. Yesus pernah menyatakan bahwa kita ini bukan lagi hamba, tapi justru sahabat. Hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tapi kita diberitahukan segalanya tentang apa yang Dia dengar dari Bapa, dan karenanya kita dianggap sebagai sahabat oleh Yesus. (Yohanes 15:15).

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”(Yohanes 15:13). Tuhan Yesus telah membuktikannya sendiri dengan memberikan nyawanya untuk menebus kita semua, sahabat-sahabatNya. Sebelum kita menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat siapa sahabat-sahabat kita yang sejati, marilah kita tanyakan diri kita terlebih dahulu, sudahkah kita menunjukkan sikap sebagai seoranga sahabat sejati? Apakah kita termasuk seorang sahabat yang hadir dengan dukungan penuh ketika teman kita membutuhkan, atau kita termasuk sahabat yang menyingkir dan tidak mau ikut susah ketika mereka susah? Tuhan Yesus adalah seorang sahabat sejati yang mengorbankan nyawanya bagi sahabat, dan setia menyertai kita sampai akhir jaman. Jadilah seorang sahabat sejati seperti pribadi Yesus.

Seorang sahabat sejati akan terlihat jelas di saat kesukaran. Sudahkah anda menjadi seorang sahabat sejati?

Mengerti Firman Tuhan

Posted: 12 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Lukas 11:28
===================
Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”mengerti firman TuhanHari ini salah satu dari dua anjing chihuahua kami berulang tahun. Tidak terasa, sudah 3 tahun ia menjadi bagian hidup kami. Jika bagi sebagian orang anjing hanya sekedar binatang peliharaan, atau dijadikan penjaga rumah, bagi kami dia sudah seperti anak sendiri. Kip adalah seekor anjing yang sangat pintar dan sangat patuh. Dia akan minta dibawa keluar kalau kebelet, dia akan minta kalau air minumnya habis, tidak pernah mengacak-acak atau mengotori rumah. Dia selalu manja dan tidak segan-segan mendatangi kami untuk dibelai atau minta digendong. Tidak hanya itu keistimewaan Kip. Dia juga anjing yang penyayang dan perhatian. Jika salah satu diantara kami sedang kesal, dia akan menghampiri, menempel atau naik ke pangkuan dan segera menghibur. Suatu kali ketika saya menegur anjing satunya karena pipis sembarangan, Kip lah yang datang meminta maaf. Dia mengulurkan tangannya, dan menarik tangan saya ke arah anjing yang sedang dimarahi. Apa yang dia lakukan terasa menegur saya karena kurang bisa mengontrol kemarahan pada saat itu. Kedekatan selama 3 tahun membuat kami dan Kip bisa saling memahami meskipun bahasa yang dipergunakan jelas-jelas berbeda.

Luar biasa melihat bagaimana anjing bisa mempunyai rasa kasih dan kepedulian tinggi. Tapi semua itu tidaklah didapat secara instan. Kip sejak kecil diajar untuk mengerti kata-kata sederhana yang kami pakai buat mengajarkannya. Dia dulu juga pernah salah, dan setiap kesalahannya kami tegur sampai dia bisa mengerti hal yang baik dan buruk untuk dilakukan. Dia bukan hanya diajarkan untuk mengerti lewat hukuman, tapi juga mengerti akan kelakuannya yang benar lewat pujian yang kami berikan padanya. Dalam selang waktu tertentu, Kip pun menjadi anjing yang patuh, baik dan setia. Ini paralel dengan kita, manusia yang terus dibentuk Tuhan agar menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Seharusnya kita akan lebih mudah untuk mengerti karena kita memiliki hati nurani dan roh, yang tidak dimiliki oleh hewan. Kristus berulang kali menekankan pentingnya untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita bukan hanya sekedar membaca, tapi juga diminta untuk mengerti dan melakukan. Tanpa itu semua, sia-sialah apa yang kita ketahui. Lihat bagaimana Yesus menegur beberapa orang Saduki karena mereka tahu isi, tapi tidak mengerti kitab suci. Hal demikian disebut Yesus dengan sesat. (Matius 22:29). Ayat hari ini pun menggambarkan dengan jelas, bahwa orang yang bahagia adalah siapa saja yang mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya (dalam bahasa inggris dikatakan “But He said, Blessed (happy and to be envied) rather are those who hear the Word of God and obey and practice it!”

Dalam kisah “perumpamaan tentang seorang penabur” pada Matius 13:1-23,Yesus menjelaskan bahwa apa yang ditaburkan di tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman, lalu mengerti akan firman itu. Dan karenanya, orang yang berlaku demikian akan berbuah berlipat ganda. (Matius 13:23) Jika kita mau hidup bahagia dan hidup berbuah berlipat ganda, kita tidak cukup hanya membaca firman Tuhan, tapi juga harus mengerti, taat dan melaksanakannya. Ketika seekor anjing bisa belajar dari tuannya untuk kemudian patuh, taat dan setia, kita seharusnya bisa lebih baik lagi menerima pengajaran-pengajaran Tuhan, memahaminya dengan baik, serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita melakukan semua itu, nikmatilah hidup yang bahagia dan berbuah.

Tidak hanya membaca, tapi kita harus mengerti dan melakukan segala sesuatu sesuai firman Tuhan untuk hidup bahagia dan penuh buah

7 Tahun Tragedi Serangan 11 September

Posted: 13 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Roma 8:35
======================
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”7 tahun serangan 11 SeptemberTanggal 11 kemarin dunia memperingati 7 tahun tragedi serangan 11 September. 7 tahun yang lalu dunia dikejutkan dengan teror yang luar biasa mengerikan. Gedung World Trade Center luluh lantak ditabrak dua buah pesawat, kemudian disusul sebuah pesawat jatuh di gedung Pentagon yang merupakan simbol militer Amerika Serikat. Lebih 3000 orang tewas dalam tragedi tersebut, dan dalam seketika dunia dikecam kengerian. Tragedi ini menimbulkan trauma mendalam terutama bagi masyarakat di Amerika. Dalam sebuah survei dikatakan bahwa hingga saat ini sedikitnya 700 ribu orang Amerika mengalami trauma dan stres yang terus meningkat akibat serangan teroris tersebut.

Ada berbagai dampak yang timbul dari sebuah serangan mengerikan tersebut. Perasaan paranoid muncul terutama terhadap kaum Arab, peperangan sebagai tindak balas terjadi dan belum selesai hingga hari ini. Tapi di sisi lain Ada banyak orang yang tiba-tiba sadar bahwa mereka melewatkan banyak waktu untuk menyatakan cinta kasihnya kepada istri, saudara maupun teman-teman, sehingga ketika tragedi menimpa orang yang mereka sayangi, mereka tidak lagi punya kesempatan untuk menyatakan ungkapan kasih mereka. Banyak orang tersentak dan sadar bahwa dengan segala teknologi dan kekuatannya, manusia hanyalah mahluk yang lemah, dan karenanya manusia tetap butuh sosok yang sanggup memberi ketenangan, kedamaian, kelegaan, sebuah sosok yang mampu memberi perlindungan kepada siapapun.

Tragedi demi tragedi terus terjadi di dunia, baik serangan teroris, bencana alam, peperangan, kelaparan, krisis dan lain-lain. Satu hal yang nyata terlihat adalah bahwa kesemuanya itu tidaklah membuat manusia semakin jauh dari Allah, malah sebaliknya banyak orang yang bergegas mencari Allah. Begitu banyak kesibukan yang menyita waktu, kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang terkadang membuat manusia lupa untuk mengasihi keluarga, memberikan waktu dan perhatian, juga lupa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tragedi, bencana, peperangan dan krisis sering menjadi sebuah peringatan bagi manusia bahwa kita tidak bisa hidup sendirian tanpa adanya Tuhan sebagai gunung batu tempat perlindungan kita. Lihatlah sebelum krisis moneter menimpa Indonesia, jarang sekali ada pebisnis yang berkumpul bicara tentang Allah. Tapi setelah krisis, banyak pebisnis dari berbagai denominasi yang berkumpul untuk mendengarkan firman tanpa mempedulikan asal gerejanya. Ada banyak pebisnis berubah dan mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.Jika kita harus belajar dari hal terburuk sekalipun, inilah hal yang dapat kita ambil sebagai hikmah: bahwa di balik tragedi dan penderitaan akan timbul pertobatan, timbul kesadaran bahwa kita butuh Allah di atas segalanya, dan seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bukan menjadikan jauh, justru semakin mendekatkan kita kepadaNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5). Paulus tahu pasti bahwa ujung dari kesengsaraan adalah pengharapan dalam Kristus. Kita harus tetap sadar bahwa kita hanyalah mahluk lemah yang tidak akan mampu hidup tanpa Kristus, dan sadar pula bahwa ada banyak orang disekitar kita yang saat ini sangat membutuhkan pengharapan sejati. Mari kita jadikan peringatan 7 tahun tragedi serangan September 11 sebagai peringatan bahwa kita harus mengasihi lebih dari sebelumnya dan lebih kuat lagi berpegang pada Tuhan.

Ujung dari kesengsaraan adalah pengharapan sejati dalam Kristus yang selalu beserta kita

Akibat Ketidaktaatan

Posted: 14 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yunus 1:4
==================
“Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.”angin ribut, badai, yunusBerada dalam kapal yang sedang terombang ambing ditengah gelombang laut yang sedang mengamuk memang mengerikan. Saya punya pengalaman akan hal ini pada tahun 1992. Saat itu saya sedang dalam perjalanan dari Bali menuju Lombok dengan menggunakan kapal ferry. Di tengah perjalanan ombak begitu ganas. Seisi kapal terasa terlempar kesana kemari. Saya ingat betul saat itu hampir seluruh penumpang mabuk karenanya. Ada yang tertidur, banyak juga yang muntah-muntah. Kru kapal sibuk menyediakan kantong plastik sebagai tempat muntah. Penumpang yang duduk di depan juga disarankan untuk pindah ke belakang. Berjam-jam mengalami ombak ganas seperti itu adalah pengalaman yang cukup menakutkan dan tidak terlupakan.

Apa yang dialami Yunus rasanya lebih menyeramkan dari pengalaman saya. Angin ribut dan badai besar pada saat itu pasti lebih dahsyat dari yang saya gambarkan diatas sampai-sampai dikatakan kapal nyaris terpukul hancur. Yunus diutus Tuhan untuk pergi ke Niniwe, sebuah kota besar dengan sekitar 120 ribu penduduk pada masa itu untuk mengingatkan mereka supaya bertobat dan menghindari murka Tuhan turun atasnya. Tapi bukannya taat, Yunus malah melarikan diri dan berpikir bahwa Tuhan hanya ada di Israel dan tidak akan bisa melihatnya jika ia lari ke Tarsis. Apa yang terjadi? Tuhan menurunkan angin ribut disertai badai besar disebabkan oleh ketidaktaatan Yunus pada firmanNya. Bukan saja Yunus yang mendapatkan masalah serius, tapi juga orang lain yang ada bersama-sama dengannya di kapal. Kerugian materi dan hal psikologis yang mungkin mereka alami ketika itu tidaklah sedikit. Apa yang dialami Yunus tidak cukup sampai disitu. Seperti yang kita ketahui, Yunus pun harus mengalami hidup di dalam perut ikan besar selama tiga hari tiga malam. Dari dalam perut ikan, Yunus berdoa, dan diselamatkan setelah berjanji untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan.

Melawan Tuhan dan tidak menuruti kehendakNya akan berujung pada kesusahan dan penderitaan. Terkadang bukan diri kita sendiri saja yang harus menanggung konsekuensinya, tapi bisa pula berakibat pada orang-orang di sekitar kita, yang harus turut menanggung derita akibat keputusan kita yang keliru. Penderitaan, kesusahan, kesengsaraan akan silih berganti menerpa kita seperti angin ribut dan badai besar. Belajar dari kisah Yunus, kita harus hidup taat sesuai kehendakNya agar hidup kita luput dari terpaan angin dan badai. Jangan sampai kita harus mengalami dulu semua malapetaka untuk bisa menjadi taat pada firmanNya. Gantungkanlah hidup anda kepada Kristus dan lakukan sesuai kehendakNya dengan taat agar kita dijauhkan dari murka Allah. “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yohanes 3:36)

Melawan kehendak Tuhan hanya akan berujung pada penderitaan dan kesengsaraan

Allah Segala Bangsa

Posted: 15 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan:Yunus 4:11
==================
Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”niniwe, yunusSelain kisah mengenai ketidaktaatan yang berujung pada turunnya angin ribut dan badai besar dilanjutkan dengan keberadaan dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, kisah Yunus juga bercerita tentang adanya perasaan superior menjadi anak Allah. Yunus menunjukkan kemarahannya karena Niniwe luput dari murka Tuhan, meskipun sebenarnya Niniwe selamat atas peringatan yang berasal dari Yunus sesuai apa yang diperintahkan Tuhan. Yunus mengira bahwa hanya bangsa Israel lah yang mendapat janji Tuhan, satu-satunya bangsa yang diselamatkan, dan tidak ada bangsa lain selain Israel yang layak diselamatkan. Tuhan menjawab itu dengan menumbuhkan sebatang pohon jarak yang menyejukkan Yunus yang sedang emosi, kemudian di hari berikutnya layu dan mati. Yunus yang merasa terik matahari menyakiti kepalanya karena tidak lagi dipayungi pohon kembali kehilangan gairah hidup. Dan jawab Tuhan, : “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:10-11). Ya, bagaimana mungkin Tuhan berpangku tangan dan mengabaikan keselamatan kota Niniwe yang besar, yang juga hasil ciptaanNya? Tuhan peduli dan mengingatkan mereka lewat Yunus, mereka tidak keras hati dan mendengar. Maka keselamatan datang atas kota Niniwe sebagai akibat pertobatan mereka yang hanya dalam waktu singkat.

Menyambung kisah Yunus kemarin, kita melihat bahwa Tuhan bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia tidak hanya peduli pada umat pilihanNya, tapi juga peduli dan memberikan pengampunan yang sama atas bangsa-bangsa lain. Kesempatan untuk bertobat diberikan sama kepada semua orang tanpa terkecuali, dan bagi mereka yang bertobat diberiNya keselamatan. Di sisi yang sama kehendak bebas bisa mengakibatkan anak-anak Tuhan menjadi sesat, dan jika waktu telah tiba mereka masih dalam kesesatan, maka keselamatan pun tidak akan menjadi milik mereka. Selain kisah ketidaktaatan, Yunus juga bercerita banyak mengenai kasih Tuhan yang tidak terbatas bagi segala bangsa di muka bumi ini. Ada ayat lain yang menegaskan hal tersebut, “Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya.Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka.Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.” (Yeremia 18:7-10)

Ketika kita telah bertobat dan menyerahkan hidup sepenuhnya pada Kristus,hal itu bukan berarti kita boleh menjadi sombong sebagai anak Allah. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan menertawakan, bahkan mengutuki mereka yang belum selamat. Kenapa? Karena Tuhan mengasihi semua bangsa, siapapun, dimanapun dan kapanpun! Tuhan tidak pernah pilih kasih, Dia memberikan kesempatan yang sama bagi semuanya untuk mendapatkan keselamatan. Dan untuk itu, Tuhan sangat rindu memakai anak-anakNya sebagai penyampai kabar, seperti Amanat Agung yang diberikan Yesus sesaat sebelum naik ke surga. Tetap rendah hati dan memberi contoh indahnya hidup bersama Yesus, berbuat baik dengan hati yang penuh kasih, berjalan dalam hidup sesuai firman Tuhan adalah perilaku yang harus kita amalkan dalam hidup sehari-hari. Lihat apa kata Paulus kepada jemaat Roma, “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” (Roma 3:29). Allah adalah Allah segala bangsa yang akan mengadili semuanya dengan adil. Kita harus menjadi murid-murid Yesus, anak-anak Allah yang peduli dan taat kepada kehendak Tuhan. Tidak saja agar hidup kita luput dari angin ribut, tapi juga untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa.

Allah kita adalah Allah segala bangsa yang tidak pilih kasih

Eutikhus Yang Malang

Posted: 16 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:9
===========================
“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.”tertidur di gereja
Seandainya anda membaca pada tajuk berita surat kabar ada judul yang berbunyi: “Akibat Mengantuk Saat Kebaktian, Seorang Anak Muda Jatuh dari Tingkat Tiga” , apa reaksi anda? Mungkin reaksi bisa beragam. Ada yang geli, ada yang tertawa, ada juga yang geleng-geleng kepala, ada yang sedih dan lain-lain. Coba bayangkan seseorang tidak kuat menahan kantuk, kemudian tertidur dan gara-gara hal tersebut ia jatuh dari tingkat tiga ke bawah. Tapi ini bukan kisah fiksi, melainkan pernah benar-benar terjadi. Orang itu bernama Eutikhus, dan kejadian itu terjadi di Troas dalam rangkaian perjalanan penginjilan Paulus.

Mungkin Eutikhus bukanlah orang pertama yang tertidur dalam kebaktian, dan pasti bukan yang terakhir. Saya tidak tahu apakah ada yang mengalami pengalaman persis yang dialami Eutikhus, rasanya- dan semoga – tidak ada. Dalam tiap kebaktian ada saja orang yang tidak kuat menahan kantuk, bahkan tertidur. Jika ditanya alasannya pun bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan seminggu penuh telah bekerja terlalu berat, ada yang beralasan kurang tidur, bahkan ada yang menyalahkan pendeta karena kotbahnya membosankan.

Salah satu kunci agar bisa mengikuti kebaktian dengan baik adalah persiapan yang cukup. Banyak orang yang pergi ke gereja di hari Minggu hanya karena rutinitas, karena terbiasa atau karena dipaksa oleh orang tua, istri/suami dan lain-lain. Pertama-tama kita harus menyadari betul bahwa kita beribadah ke gereja itu banyak gunanya dalam segala hal, baik buat hidup yang sekarang atau hidup yang akan datang nanti.(1 Tim 4:8). Bayangkan ketika kita mengalami begitu banyak tekanan dan bergumul dalam pekerjaan selama 6 hari, kerohanian kita bisa disegarkan kembali, dipulihkan agar kuat menghadapi minggu berikutnya dengan siraman firman Tuhan. Bagaimana ibadah kita pun berpengaruh pada apa yang akan datang pada kita di kehidupan berikutnya. Berikutnya, kita harus menyadari betul bahwa tujuan kita menghadiri kebaktian adalah berkumpul bersama saudara-saudara seiman untuk memuliakan Tuhan. Kita bisa saling menguatkan, saling sokong, bersama-sama bersukacita dalam hadirat Tuhan. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20).

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Ingat bahwa iblis akan selalu mengaum-aum, mencoba mempengaruhi lewat segala hal agar kita tidak fokus dalam kebaktian, bahkan terus mengupayakan agar kita punya seribu satu alasan untuk tidak menghadiri kebaktian. Sebaiknya persiapkan diri anda sehari sebelumnya, termasuk dalam merencanakan apa yang anda akan lakukan pada malam minggu dan tidur yang cukup, sehingga anda dapat mengikuti kebaktian dengan segar dan bersemangat. Tetap ingatkan diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia yang membutuhkan kekuatan Tuhan agar bisa terus melanjutkan hidup kita dengan optimal. Meski mungkin anda telah menetapkan jadwal teratur untuk bersama Tuhan di saat-saat teduh di rumah setiap hari, tapi pada kebaktian di gereja anda memuliakan Tuhan bersama dengan saudara-saudara lainnya, merasakan hadirat Tuhan turun atas seluruh anak-anak Tuhan yang benar-benar mencariNya. Bukankah ini hal yang indah?

Eutikhus dibangkitkan dan tidak jadi mati, mukjizat bisa terjadi kapan saja, itu benar. Tapi jika kita tidak bersungguh-sungguh beribadah dalam kebaktian, berkat bisa melayang melewati diri kita. Kita kehilangan banyak hal indah dan kehilangan “stok” rohani buat perjuangan seminggu ke depan. Persiapkanlah diri anda semaksimal mungkin agar anda bisa mendengar perkataan Tuhan tanpa rintangan apapun.

Persiapkan diri sebaik mungkin setidaknya sehari sebelumnya agar kita dapat beribadah dengan baik

Membangun Sikap Positif

Posted: 17 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Bilangan 13:27
=====================
“Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya…”membangun sikap positif berdasarkan iman teguh
Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh? Pertanyaan ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.

Dalam sebuah kisah dalam kitab Bilangan, Musa mengutus 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham (Kejadian 17:8). Hasil dari pengintaian mereka menyimpulkan hal yang sama: tanah yang dijanjikan Tuhan memang tanah yang makmur, berlimpah susu dan madunya. Sampai di sini kesimpulan yang diperoleh kedua belas pengintai adalah sama. Tapi selanjutnya terjadi perbedaan pendapat dengan persentase tidak sebanding. 10 orang berkata bahwa bangsa yang tinggal disana adalah raksasa-raksasa yang jauh lebih kuat, menjadikan bangsa Israel hanya seperti belalang kecilnya dibanding mereka. “There’s no chance..” itu kata 10 orang. Hanya Kaleb dan Yosua yang berpandangan beda dengan iman yang teguh pada Tuhan. Karena tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, maka ada penyertaan Tuhan yang akan membuat mereka PASTI (bukan mungkin atau mudah-mudahan) mampu menduduki tanah terjanji itu. Dua belas pasang mata mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, kesimpulan akhir yang didapat berbeda. Sayangnya suara terbanyak yang pesimis lah yang akhirnya didengar. Akibatnya adalah sebuah keputusan yang fatal: mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sebuah fakta lain, diantara orang-orang yang ketika itu sudah dewasa sebelum mengalami 40 tahun di padang gurun, hanya Yosua dan Kaleb lah yang akhirnya mampu memasuki tanah Kanaan. Jika kita fokus pada Kaleb, kita melihat bahwa Kaleb mempunyai sikap positif dengan dasar iman teguh yang percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ketika ia diutus untuk mengintai ia masih berusia 40 tahun. 45 tahun berikutnya, ketika usianya telah menginjak 85 tahun ia masih tetap bersikap sama, tetap percaya penuh pada Tuhan. Pada usia 85 tahun dia masih siap dengan semangat tinggi untuk menduduki Hebron yang banyak raksasanya. 40 tahun berada di padang gurun tidak sedikitpun meruntuhkan imannya. Kaleb memiliki mental seorang pemenang, penuh sikap positif karena imannya sangat kokoh. “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11)

Kita tentu sudah sering mendengar janji-janji Tuhan mengenai hidup yang kekal, perlindungan dari bahaya, kelepasan dari kesesakan dan lain-lain. Semua itu tidaklah asing bagi kita. Tapi seberapa banyak diantara kita yang bisa bersikap seperti Kaleb? Apakah kita mampu selalu menghadapi setiap permasalahan dengan sikap positif, mempercayai semua janji Tuhan secara penuh seperti halnya Kaleb atau kita masih lebih banyak bersikap pesimis dan hidup penuh ketidakpastian? Lihatlah bahwa pandangan pesimis dari 10 orang pengintai bukan saja berakibat hanya pada mereka, tapi juga berdampak pada konsekuensi yang harus ditanggung seluruh bangsa Israel. Belajarlah dari sikap positif Kaleb karena sikap tersebut akan memberikan perbedaan yang signifikan bukan saja kepada diri sendiri, tapi juga pada orang lain.Mari kita belajar memandang gelas di atas sebagai gelas yang setengah penuh, bukan setengah kosong.

Iman yang teguh membangun sikap positif yang menyehatkan

Service Excellence

Posted: 18 Sep 2008 02:35 PM CDT

Ayat bacaan: Kejadian 24:18-19
=========================
“Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”service excellence, excellent service, extra service
Persaingan ketat di era globalisasi membuat orang tidak bisa lagi sekadar menjual produknya dengan cara-cara standar. Banyak perusahaan mulai menerapkan prinsip service excellence, dimana mereka memberi pelayanan prima sejak kedatangan pelanggan sampai layanan purna jual. Prinsip “pelanggan adalah raja” diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Kenyataannya kecenderungan orang memilih sebuah produk berdasarkan pelayanan yang baik sejak paska hingga purna jual dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kualitas produk mungkin sama, harga mungkin beda tipis, yang membedakan adalah berbagai extra service yang diberikan untuk memuaskan konsumen. Jika sebuah perusahaan ingin sukses dalam memenangkan kompetisi, mereka dituntut untuk memberikan berbagai pelayanan tambahan untuk kemudahan dan kenyamanan konsumen. Bisa dengan menyediakan layanan hotline 24 jam baik lewat telepon atau internet, bisa dengan menyediakan sistem delivery order yang tepat waktu, bisa lewat keramahan customer service yang punya empati terhadap konsumen dan sebagainya. Jika dulu membuat produk dengan kualitas tinggi sudah cukup, jika dulu faktor harga bersaing sudah cukup, saat ini semua itu tidak lagi cukup tanpa service excellence atau sebuah pelayanan prima.

Alkitab ternyata mencatat bahwa pelayanan prima lewat sebuah layanan ekstra telah ada sejak dulu. Kita bisa mendapat pelajaran lewat Ribka, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Rebekkah atau Rebecca. Suatu hari Abraham menugaskan hamba yang paling tua dalam rumahnya, Eliezer dari Damaskus, untuk mengambil seorang istri untuk anaknya. (Kejadian 24:1-10). Eliezer berhenti di kota Nahor pada sore hari, dan meminta minum pada sekelompok anak perempuan yang sedang berada disana untuk menimba air. Adalah Ribka yang memberi respon positif terhadap seorang asing yang tidak dikenalnya. Bukan hanya memberikan minum pada Eliezer, tapi juga kesepuluh unta yang dibawa Eliezer. Bukan hanya sekedar memberi sedikit air, tapi juga menyediakan minum untuk semuanya sampai puas. Ini bentuk service excellence yang luar biasa. Apa yang terjadi kemudian? Ribka diberi upah berlimpah berupa anting-anting emas setengah syikal plus gelang emas 10 syikal (Kejadian 24:22). Tapi bukan itu saja. Lebih dari itu, hidup Ribka diubahkan. Ribka dipinang menjadi istri Ishak. Dan kemudian kita melihat bahwa dari garis keturunannya lahirlah Yesus. Semua ini berawal dari sebuah sikap positif yang selalu siap untuk memberi pelayanan terbaik.

Belajar dari kisah Ribka, hendaklah kita semua fokus kepada bagaimana memberi pelayanan terbaik bagi orang-orang disekeliling kita, baik dalam pekerjaan maupun pelayanan. Lihatlah bagaimana Tuhan Yesus sendiri datang melayani dan memberikan nyawaNya untuk menebus manusia (Matius 20:28). Kita harus mampu meneladaninya. Tuhan ingin kita siap melayani sesama, bukan hanya sekedar pelayanan tapi jauh lebih banyak dari yang mereka harapkan. Seperti yang pernah saya tulis dalam renungan berjudul Mil Kedua, kita harus selalu siap untuk memberikan yang terbaik dan jangan berhenti hanya pada kata “sekedar” saja. Alami hidup yang diubahkan penuh dengan sukacita dan berkat lewat kerinduan kita untuk memberi pelayanan terbaik bagi sesama.

Tidak hanya satu, tapi berikan dua. Memberi excellent service dapat mengubah hidup anda

Judgment Night : Awas Salah Jalan

Posted: 20 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 14:12
====================
Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.alkitab dan roh kudus sebagai peta dan kompasSuatu kali di tahun 1993 keluarga saya berlibur ke Pantai Parangtritis. Ketika berjalan-jalan di pantai pada suatu malam, seorang sepupu saya mengamati dari bawah bahwa ada beberapa mobil yang melintas di balik pepohonan di atas pantai. Di ujung jalan yang dituju mobil-mobil itu kami melihat sebuah bangunan bercahaya, yang saat itu kami duga adalah hotel. Kami merasa penasaran akan bangunan itu, dan memutuskan untuk mengikuti jalur yang dilalui mobil-mobil tadi dengan mengendarai mobil juga. Jalannya sangat gelap, kiri kanannya hutan dan hanya muat dilalui satu mobil. 15 menit dalam perjalanan kami tidak kunjung mencapai bangunan itu, yang tadinya terlihat sangat dekat. Sepanjang perjalanan kami tidak bertemu mobil lain, malah jalan semakin lama semakin sempit dan hutan semakin rimbun. Kami pun dicekam rasa takut tersesat di hutan itu. Puji Tuhan kami berhasil kembali dengan selamat. Itu pengalaman menakutkan yang tidak bisa saya lupakan.

Ketika menulis pengalaman di atas saya tiba-tiba teringat akan sebuah film dari tahun yang sama berjudul Judgment Night. Film yang dibintangi Emilio Estevez ini bercerita tentang empat sahabat yang hendak menonton pertandingan tinju. Ketika terjebak macet di jalan, mereka memutuskan untuk memotong jalan yang diyakini bisa mempersingkat perjalanan mereka, tapi keputusan itu ternyata salah total. Di jalan itu mereka melihat peristiwa pembunuhan dan akibatnya mereka pun harus menyelamatkan diri karena sang pembunuh ingin menghilangkan nyawa mereka sebagai saksi pembunuhan. Kalau saja mereka sabar di jalan macet, mereka mungkin terlambat, tapi akan dapat menyaksikan pertandingan dengan selamat. Kini, mereka harus berjuang untuk selamat dari kejaran pembunuh.

Demikianlah kehidupan rohani kita dalam mengarungi perjalanan panjang di dunia. Setiap saat ada berbagai pilihan yang seakan-akan lurus, tapi bisa membuat kita tersesat atau bahkan berujung pada maut. Ada banyak ajaran yang seolah-olah terlihat benar, tapi sebenarnya menyesatkan. Salah satu aliran baru menyatakan kita akan mendapatkan hasil sejauh perbuatan kita. Ini seolah-olah terlihat benar, tapi keyakinan itu bertumpu pada pernyataan bahwa manusia-lah pusat dari segala sesuatu, bukan Tuhan. It’s all about nature, not God. Tidakkah mereka mempertimbangkan bahwa manusia dan segala yang ada di jagat raya ini punya Pencipta? Sesuatu yang terlihat benar sekalipun belum tentu lurus, itu kenyataannya.

Bagaimana kita bisa membedakan apa yang benar dan apa yang menyesatkan, apa yang lurus dan mana yang bengkok? Tuhan tidaklah melepaskan kita ke dunia yang buas ini tanpa bekal. Tuhan melengkapi kita dengan “peta” dan “kompas” yang akan menghindarkan kita untuk tersesat dalam hidup. “Peta” tidak lain adalah Alkitab. Alkitab sangat lengkap berisi segala petunjuk jalan yang akan menunjukkan kemana dan bagaimana kita harus melangkah. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (1 Tim 3:16-17). Sedangkan “kompas” adalah Roh Kudus yang selalu membimbing dan mengarahkan kita ke arah yang benar. “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.(Yohanes 16:13).

Jika kita menyampingkan Alkitab dan menolak kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita, kita tidak akan bisa melihat dengan jelas dan dapat tersesat pada jalan bengkok yang menuju maut. Hidup kita akan selalu disibuki keraguan, ketakutan dan ketidakpastian dalam segala hal. Ketika dalam perjalanan kita butuh peta dan kompas, demikian pula dalam mengarungi hidup kita butuh tuntunan Alkitab dan Roh Kudus agar kita tidak sampai salah langkah. Berikan diri anda sepenuhnya untuk dibimbing oleh Roh Kudus, tetaplah bertekun dalam mempelajari setiap firman Tuhan sehingga kita tidak dapat lagi disesatkan.

Jalan yang terlihat lurus belum tentu benar. Kita butuh firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus agar tidak tersesat

Serangan Teroris di Hotel Marriott, Pakistan : Who’s Side Is God On?

Posted: 21 Sep 2008 02:27 PM CDT

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:2
============================
“Ia pergi menemui Asa dan berkata kepadanya: “Dengarlah kepadaku, Asa dan seluruh Yehuda dan Benyamin! TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya.”bom di hotel Marriott Pakistan, serangan teroris, Bombing at Marriott Hotel PakistanRenungan tentang Lord Of War baru saja tampil 2 hari yang lalu. Renungan itu sudah saya tulis sekitar 3 minggu yang lalu, tapi saya pending postingannya dan dijadwal untuk tampil malam sabtu kemarin sesuai dengan apa yang saya dengar pada hati saya. Ternyata tepat di hari postingan terjadi sebuah serangan teroris lewat bom bunuh diri di Pakistan, tepatnya di hotel Marriott yang hingga saat ini sudah menewaskan lebih dari 50 orang.

Sebuah serangan terorisme yang mengerikan kembali mengguncang dunia, kali ini terjadi di Pakistan. Ledakan dahsyat itu berasal dari bom bunuh diri menggunakan truk berisi bom dengan daya ledak tinggi langsung meluluh lantakkan hotel Marriott di Islamabad Pakistan pada Sabtu malam kemarin. Diperkirakan korban tewas akan terus bertambah karena masih ada lusinan korban berada dalam hotel yang terbakar. Darah dan pecahan daging kembali berserakan di bumi. Aksi-aksi terorisme mengancam siapa saja, tidak pandang bulu, tanpa memandang latar belakang suku, budaya dan agama. Dunia kembali dicekam kengerian, trauma dan kepedihan terutama bagi korban cedera dan keluarga yang kehilangan akan membekas untuk waktu lama. Dunia masih dan akan terus berisi kekerasan, perselisihan, perkelahian dan peperangan. Dunia masih akan penuh dengan orang-orang yang tersesat dalam ego, adu kekuasaan dan arogansi. Dunia akan tetap terdiri dari orang-orang yang tersesat dalam paradigma dan dogma sesat dimana pembunuhan-pembunuhan keji mereka anggap mendapat pembenaran dari kepercayaan mereka. Inilah bentuk dunia hari ini, dan dalam renungan tentang Lord Of War kemarin kita telah mendapat gambaran tentang dunia yang penuh kekejaman dan kekerasan tersebut.

Bagaimana komentar dari presiden Pakistan yang baru saja terpilih, Asif Ali Zardari sehari setelah kejadian? “Terrorism is a cancer in Pakistan, we are determined, God willing, we will rid the country of this cancer.” Tidak salah memang jika Asif berharap bahwa jika Tuhan menginjinkan, mereka akan mampu membersihkan kanker teroris dari tubuh negara Pakistan. Masalahnya adalah, seringkali para pelaku teror bom bunuh diri juga mengatas-namakan justifikasi dari Tuhan. Lantas Tuhan ada di pihak mana?

Hal ini mengingatkan saya pada apa yang dikatakan Abraham Lincoln. Pada suatu ketika seorang pemimpin rohani berkata pada Lincoln, semoga dalam kepemimpinan Lincoln, “Tuhan akan berada di pihak kita.” Tapi apa jawaban Lincoln?

“for I know that the Lord is always on the side of the right. But it is my constant anxiety and prayer that I and this nation should be on the Lord’s side.

Kutipan komentar Lincoln ini sejalan dengan apa yang tertulis dalam 2 Tawarikh 15. Ketika Azarya dihinggapi Roh Allah, ia pergi menemui raja Asa dan berkata: “TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia.” (2 Tawarikh 15:2). Lihatlah dalam perjalanan panjang sejarah manusia, begitu banyak orang yang melakukan segala sesuatu dengan mengklaim bahwa Tuhan ada di pihak mereka. Mereka melakukan pembenaran-pembenaran sendiri atas tindakan mereka dengan mengatasnamakan Tuhan. Ayat bacaan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan berada di pihak orang yang berpihak padaNya ; orang yang mengenal hati Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan dan melakukan apa yang Dia kehendaki ; bukan orang yang berusaha meyakinkan diri sendiri, orang lain bahkan berusaha meyakinkan Tuhan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar. Ini bentuk justifikasi yang terbalik.

Kita bisa melihat lebih lanjut dalam Yesaya 58:1-12 mengenai kesalehan yang palsu dan sejati. Bentuk ibadah pada Tuhan, yang digambarkan sebagai berpuasa seharusnya bertujuan untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, selanjutnya untuk membagi makanan kepada orang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin, memberi pakaian pada yang telanjang dan tidak menutup mata terhadap saudara-saudara yang perlu ditolong. (ay 6-7). Ketika itulah kebenaran akan menjadi barisan depan, kemuliaan Tuhan hadir melindungi dari barisan belakang. (ay 8). Pada saat itulah kita memanggil, Tuhan akan menjawab. (ay 9). “TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” (ay 11). Tuhan Yesus juga mengingatkan hal yang sama. “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Ini menunjukkan keberpihakan Tuhan pada mereka yang tertindas dan butuh pertolongan. Ketika kita menunjukkan iman kita lewat perbuatan untuk menolong mereka, artinya kita berada di pihak Tuhan, dan Tuhan pun akan berada di pihak kita.

Adalah penting bagi kita untuk menjauhi segala jenis kejahatan, kemudian menjadi terang dan garam di dunia ini. Berbagai tragedi dan ancaman teror seharusnya menjadi “wake up call” bagi kita untuk mewartakan kasih lebih lagi. Tuhan akan selalu ada di pihak orang yang berpihak padaNya, mendengar firmanNya, menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya. Dalam renungan kemarin kita melihat bahwa ada “peta” dan “kompas” yang telah disediakan Tuhan sebagai penuntun agar kita tidak salah jalan dan tetap berada di pihakNya. Hindarilah mengambil keputusan dan melakukan tindakan dengan pembenaran-pembenaran sendiri dan memaksakan kondisi bahwa Tuhan berada di pihak kita, tapi fokuslah pada usaha sungguh-sungguh untuk selalu ada dan taat di pihak Tuhan.

Jangan memaksakan kehendak kita dengan mengatasnamakan Tuhan, tapi lakukanlah segala sesuatu menurut kehendakNya

Lord Of War

Posted: 19 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Habakuk 2:9
=====================
“Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka!”lord of war, renungan harian“There are 555 million firearms in worldwide circulation, one for every 12 people. The only question is, how do we arm the other 11?” Ini pertanyaan yang mengawali kisah film Lord Of War. Yuri Orlov (Nicolas Cage) melihat peluang dari berbagai kekerasan yang terus terjadi di dunia, baik dari premanisme, gang, pertikaian kelompok separatis hingga perang. Kebutuhan akan senjata di dunia ini tidak ada habisnya, setiap hari ada orang yang bertikai, setiap hari ada yang saling bunuh. Hidup manusia dan kekerasan seolah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan, dan untuk itu semua mereka butuh senjata. Peluang itu dicium oleh Yuri  yang kemudian berkarir menjadi pemasok senjata terbesar di dunia.

Lord of War menggambarkan sisi kekerasan manusia secara nyata. Berbagai adegan pembunuhan baik pria, wanita bahkan anak-anak akan membuat penonton tercekam. Anak-anak di bawah umur memanggul senjata dan diajar berperang. Mengerikan, tapi semua itu memang terjadi di berbagai belahan dunia. Bagi Yuri, semua yang ia lakukan hanyalah bisnis semata. Dia tidak peduli apa yang orang akan lakukan dengan senjata jualannya, yang penting dagangannya laku. Dia tidak ingin ada yang terbunuh, tapi lebih dari segalanya, ia hanyalah menjual produk. Dalam film ini kita akan melihat bahwa Yuri kehilangan semua orang yang ia cintai satu persatu. Ia menyembunyikan segala kejahatannya dengan rapi dari keluarganya, ia pintar berkelit, ia sukses dan kaya, tapi damai dan sukacita hilang dari hidupnya. Kita akan melihat juga ada banyak kesempatan untuk bertobat, Tuhan berkali-kali mengetuk pintu hatinya, tapi Yuri tetap mengeraskan hati dan meneruskan apa yang ia bisa lakukan meskipun harga dan konsekuensi yang harus ia bayar sungguh mahal. Ia ditinggalkan anak dan istrinya, saudaranya terbunuh, orangtuanya tidak lagi mengakuinya sebagai anak, ia terus hidup dalam dosa yang terus mendapat pembenaran menurut dirinya sendiri.

Dalam hidup kita akan bertemu dengan berbagai peluang untuk memperkaya diri lewat jalan sesat. Selalu ada banyak godaan yang jika tidak hati-hati akan membuat kita bergelimang dosa dan kekejian di mata Allah meskipun hal tersebut bisa mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit. Ada banyak anak-anak Tuhan akhirnya terjerumus dalam dosa, mulai dari korupsi, konspirasi dan lain-lain hanya karena tidak kuasa melawan arus sesat dalam pekerjaan atau pertemanannya. Ayat bacaan hari ini menegur dengan tegas orang-orang yang mendapatkan keuntungan lewat cara yang tidak halal. Disembunyikan seperti apapun, Tuhan akan tetap mengetahui segala perbuatan kita. Paulus berulang kali mengingatkan untuk menjauhi segala jenis kejahatan. “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” (1 Tes 5:22) , “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”(1 Kor 15:33),“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”(Kol 2:8) dan masih banyak lagi. Semua peringatan ini penting untuk terus kita ingat, karena peluang, kesempatan dan godaan untuk jatuh ke dalam dosa yang dibenci Tuhan akan terus ada disekitar kita. “Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia.” (Mazmur 12:8)

Ketika kita tahu bahwa dunia ini penuh dengan kekejaman dan kekerasan, kita seharusnya semakin aktif mengenalkan kasih sejati Kristus yang menyelamatkan. Kita seharusnya menjadi saluran kasih kepada sesama kita, bukan malah menjadi ikut-ikutan arus sesat atau bahkan menjadi penyedia sarana untuk itu atas dasar bisnis atau apapun. Perbedaan nyata antara anak-anak Allah dan anak-anak iblis adalah nyata. “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 3:10). Seperti dalam film, kita lihat Yuri tidak bertobat, tidak dihukum dan terus melanjutkan pekerjaan jahatnya hingga di akhir film, terkadang kita melihat pula bahwa banyak orang-orang berperilaku jahat terus merajalela di dunia ini. Salomo menulis “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” (Pkh 8:11). Tapi itu tidak berarti bahwa Tuhan mentolerir kejahatan. Lewat kejahatan dan kesesatan kekayaan bisa datang, umur bisa panjang, tapi tetap akan ada banyak yang harus dikorbankan, akan ada konsekuensi yang harus dibayar dengan harga mahal. “Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya.”(Pkh 8:12). Kita harus hidup menurut Kristus dan menjauhi dosa, apapun alasannya. Kejahatan akan terus ada di sekitar kita. Orang jahat dan penipu akan terus bertambah jahat, mereka akan terus menyesatkan dan disesatkan, tapi kita harus terus berpegang teguh pada kebenaran yang berasal dari Tuhan agar terhindar dari segala kesesatan (2 Tim 3:13-14).  Hidup damai sejahtera, kebahagiaan, damai sukacita dan cinta kasih akan selalu beserta orang yang selalu hidup di jalan Tuhan.


Tidak ada toleransi untuk dosa. Teruslah berpegang pada tangan Tuhan agar kita tidak terseret arus sesat yang deras

Orang Asing

Posted: 22 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Keluaran 23:9
====================
“Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.”

menindas orang asingSalah satu pekerjaan saya adalah mengajar di sebuah kursus desain. Ada yang jangka waktu belajarnya 6 bulan, ada yang hanya sebulan, dan ada pula yang intensif dalam seminggu. Dalam waktu sesingkat itu, saya pun harus membuat siswa siswi dapat beradaptasi dengan cepat. Kenapa demikian? Karena saya akan lebih mudah mentransfer ilmu jika mereka sudah benar-benar “in” dan merasa nyaman. Umumnya kursus, tingkatan usia pun beragam, mulai dari remaja sampai orang yang sudah tua. Latar belakang pendidikan mereka juga beragam, ada yang dari SMU, ada yang sedang atau baru lulus kuliah, ada yang sudah bekerja dengan berbagai profesi. Sebut saja dokter, pegawai kantoran sampai penyanyi dangdut. Latar belakang yang berbeda-beda ini tentunya memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Semua itu harus cepat saya lakukan, karena masa belajar mereka sangat singkat. Selama beberapa tahun berada dalam kondisi seperti itu, saya terbiasa untuk melakukan proses adaptasi dalam waktu sangat singkat. Karenanya untuk masa matrikulasi atau penyesuaian dasar untuk mengikuti pendidikan pun seringkali ditugaskan pada saya, meskipun pada kelas yang bukan bidang saya. Intinya, bagaimana saya bisa membuat mereka tidak lagi merasa asing dengan lingkungan pendidikan mereka yang baru, dan bagaimana memotivasi mereka agar mereka dapat mengikuti pelajaran dengan lebih bersemangat. Ada yang mudah karena orangnya nyantai atau humoris, ada pula yang susah karena orangnya tertutup, merasa rendah diri, segan dan lain-lain. Salah satu metode awal yang saya lakukan adalah menghafal nama mereka satu persatu, dan umumnya mereka akan lebih cepat akrab dan merasa nyaman jika mereka mengetahui bahwa pengajar mereka mengenal nama mereka. Pola pendekatan lain tergantung apa yang saya baca dari pribadi masing-masing, dan semuanya harus cepat saya lakukan agar tidak ada waktu terbuang.

Dalam dunia pekerjaan, pendidikan dan lingkungan tempat tinggal kita akan selalu berhadapan dengan pendatang baru. Banyak di antara pendatang baru mendapatkan bentuk diskriminasi sampai intimidasi. Salah seorang teman saya pernah hanya bertahan seminggu di sebuah perusahaan karena menurutnya dia tidak dipedulikan teman-teman sekerjanya. Tidak pernah membalas sapa, membuang muka, dan memprotes apapun yang ia kerjakan. Bentuk-bentuk perlakuan seperti ini akan terus terjadi di berbagai tempat pada pendatang baru. Kita sebagai anak-anak Tuhan jangan sampai ikut-ikutan seperti itu. Ketika orang masih merasa asing pada sebuah lingkungan, kita seharusnya mengulurkan tangan menyambut dan membuat mereka merasa nyaman. Musa dalam beberapa kesempatan mengingatkan kita akan hal tersebut, seperti yang bisa kita baca dalam Keluaran 23:9 mengenai peraturan hak manusia, dalam Keluaran 22:21 mengenai peraturan menghadapi orang yang tidak mampu, juga dalam Imamat 19:33-34. Musa mengingatkan umat Israel pada waktu itu untuk tidak menindas, justru harus mengasihi orang asing karena mereka pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di Mesir. Dalam Imamat 19:33-34 tertulis “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia.Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Ini sebuah peraturan yang mengharuskan kita untuk mengasihi dan memperlakukan orang asing sama seperti yang kita buat terhadap diri sendiri.

Sebagaimana dua hukum terutama yang diajarkan Yesus, kita harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri, termasuk pada orang asing. Hindari pemikiran kaum mayoritas vs kaum minoritas, hindari bentuk-bentuk diskriminasi, hindari pemikiran bahwa kita berkuasa lebih atas mereka hanya karena mereka masih asing dalam lingkungan kita. Sebagaimana Yesus mengasihi kita, seperti itu pula kita harus mengasihi orang lain. “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Tuhan ingin anak-anakNya tampil beda,tidak serupa dengan dunia ini, dan hidup dengan kemampuan mengetahui apa yang baik dan berkenan di hadapan Allah. (Roma 12:2). Ketika ada orang asing atau pendatang baru yang masuk ke dalam kehidupan kita, sapalah mereka, ucapkan selamat datang dan bantu mereka untuk bisa merasa nyaman.

Hindari bentuk penindasan dan bagikan kasih kepada orang lain, seperti kita dipenuhi kasih Kristus

Jangan Menghakimi

Posted: 23 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Roma 14:4
==================
“Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.”

GMB,BamsBagi penggemar band kristen tentu sudah tidak asing lagi dengan band GMB (Giving My Best). Mereka sudah memberkati begitu banyak orang dalam perjalanan mereka. Beberapa bulan yang lalu penggemar mereka dikejutkan dengan mundurnya Sidney Mohede sang vokalis. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata posisinya digantikan Bams, vokalis band Samsons. Munculnya suara pro dan kontra tidak terelakkan. Sebagian orang menganggap reputasi Bams selama ini tidaklah cukup untuk menduduki posisi dalam sebuah band sekelas GMB. Mereka melihat Bams sebagai sosok selebritis yang kehidupannya tidak mencerminkan seorang anak Tuhan yang baik. Sulit dibantah memang, karena saya pernah beberapa kali melihat gaya hidup dan wawancara Bams di infotainment yang membuat saya pun sempat ragu.

Tapi Tuhan mengingatkan saya akan hal ini. Ayat bacaan berbicara pada kita semua bahwa kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi siapapun. Siapakah kita ini yang merasa diri kita berhak menilai negatif orang lain? Urusan penghakiman adalah hak Tuhan, bukan kita.(Roma 12:19). Dalam Matius 7:1-3 kita diingatkan agar kita tidak menghakimi supaya kita tidak dihakimi. Apa yang kita pakai untuk mengukur orang lain akan dipakai pula kepada diri kita sendiri. Dalam kisah perempuan yang berzinah, Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7) Ini sebuah peringatan bahwa kita semua juga masih banyak berbuat dosa, dan karenanya kita tidak bisa menghakimi orang lain seolah-olah kita lah yang paling bersih.

Saya rasa tidak ada orang yang tidak pernah terjerumus dalam dosa. Banyak diantara kita, termasuk saya sendiri yang masa lalunya juga penuh dengan kekelaman. Betapa luar biasanya Tuhan yang memberi pengampunan ketika kita bertobat. Bayangkan dalam posisi manusia yang pantas dihukum semua dosa-dosanya, Tuhan malah mengirim Yesus Kristus ke dunia untuk membayar lunas semua dosa kita. Dia mati di atas kayu salib untuk kita semua, menggantikan tempat yang seharusnya kita tanggung. Kemudian Tuhan memberikan kita berkat melimpah, diantaranya kehidupan kekal, pengampunan, sukacita, damai sejahtera dan pengharapan – yang semuanya diberikan lewat Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Jika kita benar-benar menyadari hal ini, kita pun akan semakin mengurangi kecenderungan untuk menilai dan menghakimi orang lain. Jika kita bersyukur atas segala pengampunan dan kesempatan yang diberikan Tuhan pada kita, sudah selayaknya kita pun memberikan kesempatan bagi siapapun untuk berbalik dari kejahatan dan dosa. Mungkin panggilan buat Bams adalah awal yang baik untuk memulai kehidupannya yang baru. Dia mendengar panggilan Tuhan dan memilih untuk melakukannya. Ini adalah sesuatu yang seharusnya kita dukung, bukan sebaliknya dicurigai dan dihakimi. Melayani dalam sebuah band rohani kristen bukanlah tempat untuk ajang popularitas, menumpuk harta atau menjual suara, bukan juga sebuah entertainment semata, tapi menawarkan sebuah pelayanan lewat pujian dan penyembahan, yang bisa menawarkan kehidupan buat generasi kita. Dan semua itu adalah demi kemuliaan Tuhan. Seperti yang tertulis pada Filipi 4:8, marilah kita mendasarkan pikiran kita kepada hal-hal yang positif dan menjauhkan bentuk-bentuk penghakiman dan penilaian negatif terhadap orang lain.

Ketika saudara kita sadar dan bertobat, berilah mereka kesempatan, karena Tuhan pun selalu memberi kesempatan dan pengampunan buat kita semua

Mengasihi Musuh

Posted: 24 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 24:17
=========================
“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok”

mengasihi dan berdoa bagi musuhBagaimana defenisi musuh bagi anda? Bagi sebagian besar orang, musuh berarti seseorang yang dibenci, mungkin karena menyebabkan kerugian, sakit hati, kekecewaan dan lain-lain. dan karenanya mereka ini tidak pada tempatnya diampuni, apalagi dikasihi. Dalam sebuah acara siraman rohani saudara kita yang berlainan keyakinan di radio, seorang guru agama menjelaskan perbedaan antara lawan dan musuh. Lawan adalah kompetitor yang dibutuhkan, seseorang yang berbeda pendapat dengan anda dan sebagainya. Sedang musuh adalah seseorang yang harus diperangi, dihancurkan, dimusnahkan. Mungkin pola pikir duniawi pun demikian, karena seorang musuh telah menyebabkan kerugian atau kekecewaan yang tidak sedikit. Mengasihi orang yang memang kita kasihi, membalas kebaikan dengan kebaikan tidaklah sulit. Tapi ajakan mengasihi musuh, ini sebuah ajakan yang bisa kita anggap aneh dan umumnya sangat sulit untuk dilakukan.

Coba bayangkan jika musuh yang anda benci mengalami masalah, malapetaka atau setidaknya problema, tidakkah hal itu bisa memuaskan hati kita? Banyak orang yang akan sangat menikmati hal tersebut, malah ironisnya banyak yang memanjatkan syukur pada Tuhan ketika si musuh sedang menderita. Ayat bacaan hari ini menegaskan janganlah kita bersukacita dan bergembira ria ketika musuh kita jatuh. Dalam kesempatan lain Yesus pun dengan tegas mengajarkan: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44). Mengapa harus demikian? ayat selanjutnya menjelaskan alasannya. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”(Mat 5:45) Alasannya adalah, karena dengan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menyakiti kita-lah kita menjadi anak-anak Bapa. Ini sebuah ajaran luar biasa yang membedakan kita yang percaya pada Yesus dengan orang-orang duniawi. Meskipun demikian, ajaran ini tidaklah mudah untuk dilakukan, dan bisa jadi makan waktu yang tidak singkat untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Seorang penulis Kristen bernama Alfred Plummer (1841–1926) pernah menulis: “To return evil for good is devilish; to return good for good is human; to return good for evil is divine. To love as God loves is moral perfection.” Plummer benar, membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang manusiawi, sedang membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat Ilahi. Untuk kehidupan kita pun, sebuah rasa sakit hati dan kebencian akan musuh tidaklah sehat. Kita tidak akan pernah bisa hidup bahagia dalam damai dan sukacita jika kita masih menyimpan dendam dan kebencian. Lihatlah bagaimana tindakan Yesus di atas kayu salib. Dalam Lukas 23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Bukankah luar biasa, ketika Yesus tengah mengalami penderitaan di luar batas kemanusiaan, Dia masih bisa berdoa bagi mereka yang menyalibkan dan menyiksa-Nya. Jika mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka masih terasa sulit bagi anda, biarkanlah diri anda dituntun oleh Roh Kudus untuk hal itu. Jangan keraskan hati, berdoalah dan minta agar Roh Kudus menerangi diri anda. Terang cahaya dari Roh Kudus akan mampu menembus kegelapan yang paling dalam sekalipun di hati kita, dan itu akan membuat kita sanggup untuk memaafkan musuh kita. Sulit memang, tapi kita harus sanggup mencapai tingkat tersebut. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

Roh Kudus mampu memberikan kelegaan sehingga kita sanggup memberikan pengampunan dan mendoakan musuh kita

Gembalakanlah Domba-Ku

Posted: 25 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 21:17
=========================
“Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

gembalakan domba Kristus, feed my sheepJika anda ditanyakan sebuah pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali berturut-turut apa yang anda rasakan? Ada yang mungkin kesal, ada yang sedih karena merasa apa yang ia jawab tidak cukup meyakinkan untuk dapat dipercaya dan sebagainya. Umumnya sebuah pertanyaan yang diulang-ulang bermaksud untuk meyakinkan si penanya terhadap jawaban yang ia terima. Saya membayangkan seandainya saya ditanya oleh istri saya tiga kali berturut-turut, saya mungkin menduga bahwa ada yang ia curigai dari saya. Sebuah kejadian yang mirip terjadi beberapa saat sebelum Yesus naik ke surga. Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihiNya sebanyak tiga kali, dan tiga kali pula Petrus menjawab, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau. Respon Yesus selanjutnya pada semua jawaban Petrus adalah, “gembalakanlah domba-dombaKu”. Apakah Yesus meragukan Petrus mengasihi diriNya? tidak. Pertanyaan yang diulang-ulang itu bukanlah untuk diriNya, melainkan untuk Petrus. Yesus tidak menanyakan apakah Petrus mengasihi domba-dombaNya, tapi apakah Petrus mengasihi Yesus. Dia melakukannya untuk menggarisbawahi bahwa kasih kepada Kristus yang sungguh-sungguh lah yang memampukan Petrus untuk terus melayani dan menyelamatkan banyak jiwa, yang sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah.

Kristus adalah gembala yang baik, yang memberikan nyawa bagi domba-dombaNya (Yohanes 10:11). Domba-domba Yesus berbicara bukan hanya kita yang sudah percaya, tapi juga domba-domba yang tersesat yang butuh diselamatkan. “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.”(Yohanes 10:16). Semua ini sama pentingnya, dan Yesus memberikan nyawaNya termasuk juga untuk menyelamatkan mereka.(Yohanes 10:17).

Sebelum Yesus naik ke surga, Dia berpesan pada Petrus untuk peduli pada domba-dombaNya yang Dia kasihi dengan sepenuh hati. Bagaimana kita bisa mengasihi domba-domba seperti halnya Kristus mengasihi mereka? Tidak ada cara lain selain dengan cara mengasihi Kristus dengan sungguh-sungguh. Menggembalakan domba bukanlah pekerjaan gampang. Terkadang domba-domba yang kita layani bisa bersikap tidak menyenangkan, kita terkadang merasa bahwa apa yang kita buat bagi mereka seolah-olah tidak dihargai, bisa jadi bukannya terimakasih yang kita dapat tapi malah komplain dan kritikan, dan itu semua bisa membuat kita kehilangan motivasi dan semangat. Tapi kasih kita kepada Kristus bisa menjadi dasar motivasi yang cukup untuk memampukan kita untuk terus berada pada jalur yang sama, terus setia untuk melayani, terus menggembalakan domba-domba Kristus. Petrus kemudian kembali mengingatkan kita tentang hal ini dalam pelayanannya. “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” (1 Petrus 5:2). Apakah anda mengasihi Kristus lebih dari apapun? Jika ya, gembalakanlah dombaNya.

Hanya dengan mengasihi Kristus kita mampu melayani dan mengasihi domba-dombaNya

Koruptor

Posted: 26 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:10
============================
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

koruptor, akar kejahatan adalah cinta uangSeorang jaksa yang terlibat kasus korupsi baru-baru ini menangis di persidangan ketika tengah membacakan pledoi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dia dituntut hukuman 15 tahun, tuntutan yang membuatnya syok hingga tidak bisa makan dan tidur. Dia pun menangis membayangkan bagaimana nasib istri dan anak-anaknya jika ia harus dipenjara selama 15 tahun. Baginya hukuman 15 tahun itu sama saja dengan hukuman mati bagi anak-anak, istri, orang tua dan mertuanya. “Bagaimana nasib kedua anak saya yang masih balita, dan yang akan lahir..” katanya. Istri sang jaksa memang tengah hamil tua. Anehnya, walaupun jelas-jelas terbukti korupsi, ia masih menganggap hukumannya tidak adil. Lho, apakah ketika melakukan korupsi dia tidak memikirkan bahwa hal tersebut tidaklah adil bagi masyarakat umum? Mendapatkan uang dengan cara kotor kini membawa konsekuensi serius tidak saja bagi dirinya sendiri, tapi bagi keluarganya. Vonis sudah dijatuhkan bagi dirinya, yang ternyata lebih berat dari tuntutan diatas. Dia akhirnya mendapat vonis 20 tahun penjara. Saya membayangkan keluarganya akan sulit hidup normal sebagai keluarga koruptor. Bentuk hukuman dari penilaian masyarakat dalam gerak gerik mereka sehari-hari akan sangat menyakitkan. Ketika mungkin tadinya ia membayangkan bahwa uang yang ia peroleh dapat membuat dia tertawa terbahak-bahak kini berubah menjadi syok, ratapan kesedihan yang tak kunjung usai.

Harta kekayaan tentu menjadi keinginan hampir semua orang. Saya rasa tidak akan ada yang mau hidup miskin dan kekurangan. Orang bekerja keras agar mampu membiayai hidupnya beserta keluarga dan meningkatkan taraf hidup mereka. Tapi rasa cinta berlebihan terhadap uang akan membuat orang tergoda untuk mengambil jalan pintas yang salah, lewat cara-cara jahat, penipuan, penggelapan, suap dan sebagainya. Dan lihatlah akibatnya.

Berusaha untuk mendapatkan penghasilan tidaklah salah jika dilakukan lewat cara-cara benar atas hasil jerih payah kita. Banyak orang yang salah mengartikan ayat bacaan hari ini sebagai larangan untuk mengumpulkan uang. Yang menjadi akar kejahatan bukanlah “uang”, tapi “cinta uang”, menjadikan uang sebagai yang paling utama di dalam hidup. Hal ini sama artinya dengan menomor duakan Tuhan. Yesus mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (dewa uang).” (Matius 6:24). Selanjutnya kita lihat firman Tuhan mengenai orang yang memperkaya dirinya dengan apa yang bukan menjadi haknya. “Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya…”(Habakuk 2:6). Kejahatan cinta uang, mencari keuntungan lewat jalan pintas dan menguasai apa yang bukan menjadi hak adalah sebuah kejahatan serius di mata Tuhan. Daud pun mengingatkan bahwa “lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik, sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.” (Mazmur 37:16-17).

Tuhan adalah Allah yang peduli pada kita, yang tidak akan membiarkan siapapun yang terus dekat padaNya menderita sendirian. Tuhan Yesus pun menjabarkan dengan jelas dalam Matius 6:25-34 bahwa kita tidak perlu khawatir akan kesusahan hidup, karena Allah mengetahui segalanya yang kita butuhkan. Menggaruk uang lewat jalan salah memang sepintas terlihat nikmat, korupsi memang bisa mendatangkan kekayaan dengan instan, tapi semua itu adalah kejahatan di mata Allah. Dengan alasan apapun, kita tidak dibenarkan untuk mengambil jalan pintas demi mengumpulkan harta. Doakan setiap pekerjaan anda agar diberkati Tuhan. Biarkan Tuhan bertahta di atas segala usaha anda, tetaplah mengucap syukur dan jangan lupa kewajiban untuk membayar apa yang menjadi hak Tuhan lewat persembahan persepuluhan, maka lihatlah Tuhan mencukupkan segala sesuatu dalam hidup anda.

Bukan tawa bahagia, tapi ratapan tak kunjung akhir-lah yang dituai orang yang mengeruk keuntungan dengan cara kotor

Kasih Sejati

Posted: 27 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan:1 Kor 13:5
===================
Ia (Kasih) tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

kasih sejatiA baru saja naik jabatan. Dia pun mendapatkan banyak hadiah. B, teman A, juga memberi hadiah. Karena kesibukannya,A lupa mengirimkan kartu ucapan terima kasih kepada B, atau sekedar telepon. B terus menunggu tanggapan dari A, tapi tanggapan itu tidak pernah datang, meskipun mereka berulang kali bertemu setelahnya. Seiring waktu berjalan, ternyata B merasa tersinggung karena pemberiannya seolah-olah tidak mendapat tanggapan dan merasa tidak dihargai. B merasa disisihkan, karena hadiah pemberiannya tidak mendapat balasan sesuai yang ia harapkan.

Dalam banyak bentuk lain hal seperti ini sering terjadi. Banyak orang yang memberi mengharapkan ucapan terima kasih, atau mengharapkan imbalan, atau mengharapkan hadiah kembali sebagai bentuk balasan. Bahkan banyak Pemberian kerap kali bukanlah sebagai ungkapan kasih, melainkan mengharapkan bentuk-bentuk keuntungan seperti mendapat promosi kenaikan jabatan, lulus ujian dan lain-lain. Ini sesungguhnya tidak sejalan dengan gambaran kasih menurut alkitab. Di dalam ayat bacaan hari ini kita melihat bahwa kasih sejati adalah kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih sejati tidak mengharapkan balasan, tidak pamrih, dan keluar dari hati sebagai ungkapan kasih kita terhadap orang lain. Ketika kita memberi sesuatu dengan motif lain dan bukan berdasarkan kasih, hal-hal seperti di atas pun mungkin terjadi. Itu karena kita berharap orang yang kita beri seharusnya mengembalikan lagi dalam bentuk lain sesuai keinginan kita. Kasih sejati akan membuat kita memberi dengan sukacita, tanpa menyimpan apapun dibalik pemberian, dan tidak mengharapkan apapun, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Seperti Tuhan mengasihi kita tanpa henti, ketika Tuhan selalu mengampuni kita setiap kali kita, ketika kita sadar bahwa Yesus rela mengorbankan diriNya demi menebus kita, kita merasakan kasih tak terbatas Tuhan atas diri kita. Sebagai anak-anak Tuhan, kita pun seharusnya bisa merefleksikan kasih tak terbatas Tuhan kepada orang lain.

Kasih sejati tidak menuntut imbalan

Diam Di Kaki Tuhan

Posted: 28 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Lukas 10:39
========================
“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”

diam di kaki TuhanDalam salah satu episode Kick Andy! yang saya tonton, Nugie mendapat kejutan dengan hadirnya sang ibu tanpa ia ketahui. Dia bergegas menyongsong sang ibu yang kelihatan agak sulit berjalan, tangannya lalu menopang dan membimbing ibunya ke bawah. Kemudian terdengar suara Nugie yang bertanya, “tadi kan kita teleponan, kok nggak cerita sih mau kesini..?” sambil diselingi tawa gembira. Kemudian si ibu diwawancarai singkat, apakah ia bangga punya anak seperti Nugie, dan si ibu menjawab, “sangat bangga..”. Nugie kemudian memeluk dan mencium ibunya. Ibu Nugie layak bangga, sangat layak. Di saat begitu banyak selebritis yang terjatuh akibat obat-obatan dan dosa lain, anaknya tidak ikut terjebak dan malah tampil sebagai sosok pecinta lingkungan hidup. Di saat banyak selebritis yang terlalu sibuk bekerja hingga melupakan orang tuanya, anaknya tetap dekat padanya. Saya berpikir, ada berapa banyak orang tua saat ini yang merasa kesepian karena anak-anak mereka semua terlalu sibuk bekerja dan tidak punya waktu mengunjungi mereka, meluangkan waktu untuk bersama-sama dengan mereka. Orang tua membesarkan anak-anak mereka, dan berjuang habis-habisan agar anak mereka bisa berhasil membangun karir, tapi kemudian karena karir pula mereka tidak lagi punya waktu luang. Coba tanyakan kepada para orang tua yang kesepian, apakah yang mereka butuh, kemewahan harta benda dari sang anak, atau waktu-waktu indah bersama anak-anaknya. Mungkin, dan saya yakin, orang tua akan sangat rindu memeluk anaknya seperti dulu ketika mereka kecil.

Tuhan pun demikian. Kita begitu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Ayat bacaan hari ini mengambil kisah ketika Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Mendapat kunjungan dari Kristus, Marta pun sibuk melayani. Tapi Maria memilih untuk terus duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Marta kemudian mengeluh karena ia melayani sendirian dan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42).

Ada kalanya kita harus menarik rem dari kesibukan kita, baik pekerjaan ataupun pelayanan. Ada saatnya kita harus berhenti berkeluh kesah dan meminta tolong atas segala permasalahan kita. Dan pergunakanlah waktu tersebut untuk duduk diam di kaki Tuhan, merasakan kasihNya yang begitu damai, mendengar suaraNya menyampaikan hal-hal yang ingin Dia katakan pada kita, menikmati persekutuan pribadi yang indah dengan Bapa. Inilah bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari kita. Tuhan rindu menikmati saat-saat teduh bersama anak-anakNya, Tuhan rindu memeluk anak-anakNya, dan itu tidak akan terjadi jika kita tidak tahu kapan saatnya menghentikan ritme kesibukan kita sehari-hari. Kita memang tidak dilarang untuk memohon bantuan dari Tuhan lewat doa-doa kita, tapi ada waktu dimana kita diminta untuk diam dan mengetahui bahwa Allah berkuasa di atas segalanya. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11). Ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah terlelap, tidak pernah lengah menjaga kita, dan Dia lah sumber pertolongan yang selalu mendengar. Saatnya bagi kita untuk duduk diam dan ganti mendengar apa yang hendak Ia nyatakan dalam hidup kita.

Berikan waktu terbaik anda untuk diam di kakiNya, dan mendengar suaraNya

Sela

Posted: 29 Sep 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Mazmur 3:9
=======================
“Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! S e l a”

sela,MazmurAyat bacaan di atas adalah salah satu dari sekian banyak ayat kitab Mazmur yang diakhiri dengan kata Sela. Sela banyak diartikan orang sebagai selingan musik, namun tidak menutup kemungkinan lain berdasarkan para ahli alkitab merujuk pada waktu jeda, istirahat, diam sejenak, menekankan atau menutup bagian lagu. Dalam versi bahasa Inggris (amplified) diterjemahkan sebagai “pause and calmly think of that”, dan ada pula yang menyebutnya sebagai “stop and listen”. Selain pada Mazmur, Sela juga beberapa kali kita jumpai dalam Habakuk 3. Mungkin kata Sela ini sering dianggap kurang penting sehingga sering dilewatkan, padahal melihat jumlahnya yang banyak diulang, Sela pasti memiliki makna yang penting.

Sebuah lagu dari GMB di album terbaru mereka mengambil judul Sela. Demikian liriknya:

Saat ku berteduh
kuuntai doaku
dalam kesunyian ku merindu suaraMu

Kau peluk hatiku
dalam hadiratMu
di relung jiwaku, kumendengar suaraMu

Haleluya.. haleluya..haleluya.. amin (2x)

Menyambung renungan kemarin tentang duduk diam mendengar apa yang ingin dinyatakan Tuhan bagi kita, kata Sela mempertegas hal itu. Rutinitas dari segala aktivitas kita sehari-hari, semua kesibukan kita juga memerlukan waktu Sela. Demikian pula dengan pelayanan. Ada banyak anak-anak Tuhan yang begitu sibuk dengan pelayananNya hingga tidak sempat lagi mengambil saat teduh untuk menikmati kasih Tuhan dalam hadiratNya. Apapun yang kita kerjakan dan menyita waktu kita selalu butuh jeda, butuh sela. Dan di saat itulah jiwa kita beristirahat, menikmati keintiman hanya bersama Bapa. “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mazmur 42:2-3) Bagi saya, waktu sela adalah waktu yang kita pakai dimana kita melepaskan segala atribut dunia dengan segala permasalahannya, dan datang menghampiri tahta kudus Tuhan dengan tangan menyembah, berserah sepenuhnya dan membawa pujian yang terbaik hanya untuk Allah. Ini saat yang indah untuk introspeksi, merenung, mengkaji ulang hal-hal yang telah kita lakukan sehari penuh, apakah semua yang kita lakukan adalah sesuai dengan kehendakNya atau belum, saat yang indah dimana Tuhan bisa terasa begitu dekat. Waktu sela bukanlah waktu dimana kita masih memenuhi doa kita dengan permintaan tolong akan ini dan itu, tapi merupakan waktu dimana kita diam, merasakan pelukan Tuhan dan mendengar suaraNya.

Perenungan Daud tentang Allah dalam kitab Mazmur demikian panjang, termasuk di dalamnya waktu Sela. Jangan lewatkan waktu-waktu Sela agar jiwa kita disegarkan kembali, merasakan kedamaian ketika Allah hadir di dekat kita, dimana tidak ada kekhawatiran, ketakutan dan masalah.

Beri waktu Sela dalam kehidupan sehari-hari untuk kembali fokus kepada apa yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: