Renungan Harian Oktober

Fatamorgana

Posted: 01 Oct 2008 01:07 PM CDT

Ayat bacaan:Mat 24:24-25
=========================
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.”

fatamorganaFatamorgana adalah sebuah fenomena menarik yang dapat kita lihat dengan kasat mata. Umumnya fenomena ini terjadi di gurun pasir. Orang seolah melihat sebuah oase, kumpulan air seperti kolam, danau, atau terkadang bisa pula melihat bayangan sebuah kota, yang ketika di tuju ke lokasi penglihatan ternyata tidak ada. Apa yang mereka lihat sebenarnya adalah pantulan dari langit yang timbul akibat pantulan udara panas yang berfungsi seperti sebuah cermin. Meskipun biasanya sebuah fatamorgana terjadi di gurun yang luas, tapi sebenarnya fatamorgana juga dapat kita saksikan di tengah kota. Saya sering melihat bayangan genangan air di atas aspal yang panas ketika sedang mengendarai mobil yang tidak lain adalah akibat pantulan yang membentuk sebuah fatamorgana.

Dalam menghadapi masalah hidup yang gersang dan panas seperti gurun pasir, orang akan rindu akan kehadiran oase yang bisa menyejukkan. Sayangnya seperti juga penampakan bayangan oase yang ternyata tidak ada, apa yang ditawarkan dunia pun seringkali hanya berupa fatamorgana. Kuasa gelap bisa seolah-olah menawarkan kesembuhan, kekayaan, berbagai mukjizat yang kelihatan luar biasa, tapi semua pemberian itu hanyalah bentuk tipu muslihat iblis untuk mencuri, membunuh dan membinasakan manusia. Iblis dengan segala tipu dayanya akan terus berusaha memanipulasi manusia dengan berbagai kemudahan dan keuntungan dan tanpa kita sadari kita masuk dalam jeratnya yang membinasakan. Lihatlah di kalangan generasi muda, baju-baju, atribut bergambar tengkorak dan bertuliskan simbol-simbol kuasa kegelapan menjadi sesuatu yang dianggap cool, trendy dan gagah. Ini salah satu tipu daya iblis yang mempengaruhi generasi muda. Selain itu okultisme atau praktek-praktek perdukunan pun bisa seolah-olah terlihat sebagai solusi cepat dalam mengatasi permasalahan manusia, baik itu masalah kesehatan, kekayaan, jodoh dan lain-lain. Hal ini sudah diingatkan oleh Yesus sejak jauh hari seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Iblis memang licik dan selalu mencobai manusia. Bahkan iblis berani mencobai Yesus. “Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Mat 4:8-9). Ya, semua bisa diberikan oleh iblis, tapi semua itu hanyalah tipuan yang tidak gratis, karena kita akan masuk ke dalam jebakan iblis yang akan meminta tumbal, membuat kita terus terikat tanpa akhir bahkan berujung pada siksa kekal di neraka. Bagaimana Yesus menyikapi bujukan iblis tersebut? Lihatlah jawaban Yesus yang tegas. “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10)

Tawaran-tawaran dari kuasa kegelapan memang bisa terlihat menggiurkan, tapi hanyalah seperti fatamorgana saja. Di luar kelihatan baik, tapi di dalam menghancurkan dan membawa manusia pada kebinasaan. Pengaruh ini bukan hanya marak terjadi di jaman sekarang seperti iklan-iklan sms berbau okultisme yang membanjiri televisi, tapi jauh sebelumnya sudah pula menimpa jemaat Galatia. Paulus pun menegur mereka. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” (Gal 1:6-7). Kita harus tetap waspada dengan tipuan-tipuan iblis di dunia. Mata manusia mudah tertipu oleh fatamorgana iblis, karenanya, selalu pergunakan firman Tuhan sebagai kacamata kita untuk melihat segalanya dengan kasat mata. “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” (Efesus 6:10-11)

Hati-hati jangan sampai tertipu oleh fatamorgana ciptaan kuasa kegelapan

Gunung Batu Kita

Posted: 02 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Mazmur 62:8
========================
“Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.”

kriminalitas, perlindungan pasti dari AllahSudah lama saya tidak berlangganan koran karena bosan melihat berita yang hanya berisi tindak kejahatan atau dagelan politik yang tidak pernah pro rakyat. Bulan ini istri saya memutuskan untuk berlangganan koran kembali, dan seperti deja-vu, hampir tiap lembar yang dibaca berisi berbagai kejahatan dan perilaku badut politik yang sama sekali tidak lucu. Kesimpulan yang saya dapat dari berita-berita itu hanyalah pesan bahwa tidak ada tempat yang aman di dunia ini dan tidak ada yang mempedulikan anda karena semua sibuk mementingkan diri sendiri. Data Crime Clock FBI menunjukkan statistik kriminalitas yang mengerikan. Saya ambil contoh data tahun 2006. Satu perilaku kejahatan terjadi setiap 22.2 detik, satu pembunuhan tiap 30.9 menit, satu perkosaan tiap 5.7 menit, satu perampokan tiap 1.2 menit, satu penyerangan terhadap orang lain tiap 36.6 detik, satu penjarahan tiap 14.4 detik dan seterusnya. Semua itu hanyalah data statistik untuk Amerika sepanjang 2006. Artinya jika kita ingin melihat data statistik untuk dunia, angka-angka penunjuk waktu itu sudah pasti akan jauh lebih singkat.

Fakta diatas saya sajikan bukan untuk menakut-nakuti anda, tapi justru sebaliknya. Saya ingin mengingatkan bahwa di atas segalanya ada perlindungan di dalam Allah kita. Daud mengingatkan kita bahwa keselamatan ada di tangan Allah, gunung batu kekuatan kita, tempat perlindungan kita. Dalam banyak kesempatan lain pun Daud mengingatkan hal yang sama di berbagai ayat dalam Mazmur. Dalam Ulangan, Musa yang sudah sangat lanjut usianya mengingatkan bangsa Israel akan penyertaan Tuhan yang penuh perlindungan. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6). Dan ada banyak lagi janji Tuhan untuk melindungi kita dalam Alkitab.

Teknologi canggih terbukti tidak cukup ampuh memerangi tindak kejahatan di muka bumi. Memasang alarm, memelihara selusin anjing penjaga berbadan besar tidak juga memberi kepastian keamanan, menyewa puluhan pengawal menjaga rumah atau berbagai asuransi yang anda ikuti pun tidak serta merta memberi jaminan. Ketika begitu banyak alternatif keamanan lewat usaha manusia tidak mampu memberi rasa aman pada jiwa anda, jangan lupa bahwa ada Tuhan yang memberikan perlindungan yang pasti. Hanya Dia yang sanggup memberi perlindungan pada kita dan keluarga. Janji Tuhan seperti ini: “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” (Mazmur 34:8), atau “Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” (Mazmur 91:11). Haleluya! Jika anda merasa susah tidur pada malam hari dan merasa gelisah akan segala sesuatu yang mengkhawatirkan anda, ingatlah bahwa Allah adalah Penjaga Israel. Dia adalah Gunung Batu yang kokoh, tempat perlindungan yang luar biasa. Serahkan dan percayakan segala kekhawatiran dalam tanganNya, dan jiwa kita pun dapat beristirahat dengan tenang.

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. (Mazmur 62:6)

Materai

Posted: 03 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Wahyu 7:3
======================
“katanya: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”

materai AllahFungsi sebuah materai dalam legalitas cukup penting. Sebuah surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1 juta rupiah atau dengan mata uang lainnya dengan jumlah minimal yang sama memerlukan materai. Apakah surat itu menyebutkan penerimaan uang, penyimpanan atau pembukuan uang, akta yang dibuat oleh notaris atau juga surat pengakuan hutang/piutang, jika informasinya melebihi total dengan nominal di atas memerlukan sebuah materai agar memiliki kekuatan hukum. Terutama apabila surat tersebut nantinya dipergunakan sebagai alat bukti di pengadilan, surat haruslah dilunasi dulu bea materainya.

Tuhan pun ternyata menganggap penting fungsi materai. Materai dalam Alkitab berbicara mengenai tanda kepemilikan. Selain itu juga berbicara mengenai perlindungan. Perhatikanlah ayat bacaan hari ini menjelaskan bahwa penghukuman Allah baru akan dilaksanakan setelah malaikat memberikan tanda materai pada dahi semua suku keturunan Israel. Dalam kitab Perjanjian Lama kita diingatkan tentang tanda darah yang harus dioleskan pada ambang atas dan kedua tiang pintu sebelum malaikat Allah mengambil nyawa setiap anak sulung, baik manusia maupun hewan. Kisah ini kita jumpai pada masa bangsa Israel ada di bawah pimpinan Musa. Dan dengan demikian tulah tidak akan terkena pada pintu-pintu yang ditandai dengan darah dari seekor anak domba jantan. “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.” (Keluaran 12:13). Hal ini berbicara mengenai perlindungan Allah kepada umatNya.

Hari-hari ini dunia dilanda kecemasan dari berbagai hal. Kecemasan dari segi ekonomi, politik, keamanan, isu-isu rasialisme dan penindasan minoritas dan sebagainya. Baik miskin atau kaya, rasanya semua manusia di bumi ini memiliki permasalahannya sendiri dan dicekam kecemasan akan setiap permasalahan yang ada tersebut. Beberapa hari ini saya tengah berhadapan dengan sebuah kekhawatiran yang cukup menyita pikiran. Dan tadi malam ketika saya berdoa, Tuhan mengingatkan saya pada kata “materai”, yang kemudian saya tulis menjadi renungan hari ini. Seperti halnya Tuhan mengingatkan saya, sayapun ingin mengingatkan teman-teman bahwa Tuhan telah memberikan anda materai yang menjadi tanda jaminan bagi Allah untuk mengenali milikNya. Lihat apa yang tertulis pada Efesus 1:13-14. “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimateraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” Itu artinya Allah pun telah menyediakan perlindunganNya kepada kita.

Allah sanggup melindungi anda beserta keluarga anda. Dalam keadaan dunia seperti apapun, lingkungan yang tidak sehat, atau jika anda berada di tengah orang-orang yang setiap saat bisa mempengaruhi anda pada dosa, ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan tanda di diri anda untuk dilindungi. Serahkanlah segala permasalahan, diri anda dan keluarga anda ke dalam tangan Tuhan, karena Dia mampu menjaga kita semua. Walaupun kita hidup bercampur dengan orang lain yang mungkin memberi pengaruh buruk atau menyebabkan kekhawatiran dalam hidup, yakinlah bahwa Tuhan mampu membedakan kita dari mereka. Ada materai Allah dalam diri kita, yang tidak hanya menjadi tanda kepemilikan dari Allah tapi juga sebagai sebuah jaminan perlindungan dariNya. Bukankah itu luar biasa!

Kita adalah anak-anak Allah yang berharga di mataNya sehingga kita telah dimateraikan sebagai milikNya yang pasti Dia lindungi

Banyak Tempat Tinggal Di Rumah Bapa

Posted: 04 Oct 2008 11:53 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
=========================
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”

tempat tinggal di Rumah Bapa, kewargaan surgaSepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi para pemudik untuk membawa saudara atau temannya dari kampung untuk ikut ke kota. Impian untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik biasanya membuat mereka tertarik untuk mengadu nasib di kota besar. Kenyataannya menurut banyak pemerintah di kota-kota besar, lonjakan pendatang pasca mudik seringkali menimbulkan permasalahan. Di kota saya menurut data statistik biasanya ada 100.000 pendatang setiap tahunnya pasca mudik yang mencoba mencari peruntungan. Efek urbanisasi ini pun dianggap akan membebani pemerintah karena impian mereka nantinya tidak sesuai dengan kenyataan. Sampai ada pemeo yang bunyinya, “kejamnya ibu tiri, tak sekejam ibu kota”, ini menggambarkan ganasnya tingkat persaingan untuk bertahan hidup di ibu kota maupun kota besar lainnya. Jakarta sendiri merencanakan akan merazia pendatang baru pada H+7. Bagi saya ini merupakan sebuah ironi yang dilematis. Betapa ironis, saudara sebangsa setanah air yang punya status kewarganegaraan yang sama dilarang untuk masuk ke kota yang notabene adalah bagian dari negaranya sendiri. Ironis, betapa banyak penduduk dalam sebuah negara yang sudah merdeka 63 tahun ternyata tetap tidak merdeka untuk masuk ke wilayah yang merupakan bagian dari negaranya sendiri. Namun disisi lain, saya juga memahami kesulitan yang akan menimpa para pemimpin daerah akibat para pendatang baru tanpa pekerjaan ini. Puluhan hingga ratusan orang dengan kondisi sulit memasuki daerah yang menjadi tanggung jawab mereka tentu bukan masalah sepele untuk diatasi. Ini sebuah kondisi dilematis yang merupakan realita hidup setiap tahunnya.

Hidup memang tidaklah mudah. Tapi ingatlah bahwa apa yang kita alami di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Petrus mengingatkan bahwa di dunia ini kita hanyalah pendatang atau perantau. Kita harus berjuang melawan keinginan-keinginan daging agar mampu hidup dalam kekudusan dalam tempat perantauan sementara ini (1 Petrus 2:11). Kalau begitu, dimana kewargaan kita yang sesungguhnya? Bagi orang percaya yang menerima Yesus sebagai juru selamat, kita adalah warga surga. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20). Di surga tidak ada pembatasan. Bagi setiap kita yang memegang perintah Kristus dan melakukannya, maka mereka akan dikasihi Tuhan dan juga oleh Kristus sendiri. (Yohanes 14:21), dan untuk kita ada tempat yang disediakan di surga. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (ay 2-4). Lihatlah apa yang dikatakan Yesus, bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal yang sudah disediakan bagi orang percaya. Sebuah tempat indah dimana tidak lagi ada air mata. Sebuah tempat penuh damai sukacita. Sebuah tempat nyata dimana Yesus kini berada. “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga” (Ibrani 8:1). Disana Yesus telah menyediakan tempat bagi siapapun yang percaya padaNya, yang memegang teguh dan melakukan semua yang Dia firmankan. Tidak ada kuota maksimum, tidak ada pembatasan jumlah, siapapun diundang untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Bahkan Yesus pun terus mengetuk pintu hati manusia untuk diselamatkan, agar manusia pun bisa diselamatkan dan masuk ke dalam tempat yang telah Dia sediakan. Bukankah hal ini sangat indah?

Jika saat ini pergumulan, permasalahan dan kesulitan masih mengelilingi kita, janganlah gelisah. Betapa indahnya ketika Yesus memulai firmanNya tentang Rumah Bapa dengan perkataan: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1). Di dalam “tempat perantauan” kita ini kita telah dijanjikan penyertaan Tuhan, dan ada tempat sebenarnya bagi kita yang telah disediakan Kristus sendiri. Surga, Rumah Bapa, adalah sebuah tempat yang nyata, bukan halusinasi atau fatamorgana, yang akan menjadi tempat kekal bagi setiap orang percaya yang hidup sungguh-sungguh menjaga kehidupannya sesuai firman Tuhan. Mari kita terus bertekun agar tempat yang Dia sediakan itu juga tersedia bagi kita.

Di Rumah Bapa ada banyak tempat tinggal, cukup bagi semua manusia yang bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat

Dari Perspektif Tuhan

Posted: 05 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan:Pengkotbah 3:11
===========================
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

melihat dari perspektif Tuhan, indah pada waktunyaWhat a heartbreaking scene to see. Hati saya serasa tersayat-sayat ketika melihat Kip, anjing jantan kami menangis dan meraung ketika Jazz, pasangannya pergi meninggalkan rumah untuk sementara. Jazz terpaksa kami pindahkan buat sementara waktu karena kondisinya yang baru saja selesai “loops” alias menstruasi. Secara naluri Kip menjadi agresif dan ingin mengawini Jazz, dan itu merubah pola hidup serta kebiasaannya. Semalaman ia duduk di lantai di depan Jazz, tidak mau makan, menggerutu dan tidak tenang. Kenapa kami tidak mengijinkan Kip? Karena usia Jazz masih 6 bulan dan ini datang bulan pertamanya. Jika Jazz hamil dalam usia yang terlalu muda, ia beresiko kehilangan nyawa ketika melahirkan. Normalnya anjing setidaknya harus berusia 1 tahun agar punya cukup tenaga untuk melahirkan. Tapi Kip tidak mengerti itu, dia hanya mengikuti nalurinya akan sesuatu yang kelihatannya menyenangkan. Mungkin Kip tidak akan pernah tahu bahwa kami terpaksa memisahkan mereka buat sementara waktu demi kebaikan keduanya. Kip mungkin marah pada kami, hingga detik ini dia masih berjalan kesana kemari mencari Jazz dan melihat kami dengan pandangan yang saya rasa seperti bertanya,“kenapa kalian begitu tega…” Saya yakin begitu pula Jazz di tempat adik istri saya saat ini, mungkin ia bertanya-tanya apa salah yang ia perbuat hingga harus jauh dari kami semua. Seandainya mereka tahu bagaimana perihnya perasaan saya melihat mereka harus berjauhan, harus mengalami ini semua, seandainya mereka tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik buat mereka berdua.

Tadi ketika saya berusaha menyuapi Kip agar mau makan, tiba-tiba saya diingatkan Tuhan, bahwa inilah yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang terasa tidak enak, tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Terkadang kita bertanya mengapa Tuhan tega “merusak” sesuatu yang sedang kita nikmati, atau tidak memberikan sesuatu yang sangat kita idam-idamkan, atau memberi hal-hal yang menyulitkan untuk dilalui dalam hidup kita, bahkan mengambil orang yang kita cintai. Seringkali kita berdebat mempertanyakan keputusan Tuhan, tidak jarang pula kita marah atau mempersalahkan Tuhan. Tapi dengarlah bahwa pola pikir kita sangat terbatas dan terkadang sulit untuk menjangkau apa yang terbaik menurut perspektif Tuhan.

Pikiran saya melayang pada pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika ibu saya sedang berada di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit akibat kanker. Di saat pergumulan itu saya mengalami berbagai kesaksian luar biasa hingga bertemu dengan Yesus. Secara logika tentu saya berharap ibu saya dijamah Tuhan dan disembuhkan, namun Ibu saya tetap dipanggilNya. Apakah hal tersebut berarti Tuhan tidak mendengar doa saya, tidak mempedulikan iman saya? Tidak. Kenapa? Bayangkan pada saat itu adik dan ayah saya terus menerus pergi ke dukun dan menggunakan berbagai kuasa gelap agar ibu saya sembuh, dan apa yang terjadi jika saya waktu itu tidak dijamah Tuhan untuk membimbing ibu saya untuk bertobat dan memaafkan semua orang yang masih ia anggap sebagai ganjalan. Apa yang terjadi jika waktu itu saya tidak terus berperang melawan berbagai kuasa gelap yang terus menerus menghujani ibu saya? Mana yang lebih baik, sembuh dibawah kuasa iblis atau pulang ke rumah Bapa dalam keadaan bersih? Tuhan tahu apa yang terbaik, dan itu pasti.

Tuhan mengingatkan kita, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9) Tapi kita harus percaya dengan iman teguh bahwa apa yang ia berikan kepada kita adalah yang terbaik buat kita, sesuatu yang indah pada waktunya. Kita harus percaya dan mengimani hal tersebut meskipun mungkin kita belum mengerti atau mungkin tidak pernah mengerti alasannya. Dengarkan janji Tuhan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Biarlah kita mendengar suara Tuhan yang penuh kasih hari ini bahwa sesuatu yang tidak mengenakkan perlu dikerjakan dalam diri kita bukan untuk menyakiti kita, tapi untuk kebaikan kita, karena rencana Tuhan baik adanya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Tuhan tahu dan selalu memberikan yang terbaik buat kita, tepat pada waktunya, indah pada waktunya. Percayalah dengan iman penuh akan hal itu

Pilih Yang Mana?

Posted: 06 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15
===========================
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.”

pilih surga atau nerakaPagi ini saya teringat akan sebuah perbincangan dengan teman baik saya semasa SMP. Ketika pelajaran agama selesai, kami ngobrol tentang “pilih mana, surga atau neraka”. “Kalau saya sih pilih neraka, soalnya kata pak guru barusan di sana banyak selebritis, pasti cantik-cantik deh..” katanya sambil tertawa. Sedangkan di surga? menurutnya hanya berisi orang-orang tua berjenggot yang membosankan. Saya ingat betul kata-katanya karena pada waktu itu pun menurut saya komentarnya kontroversial. Satu hal yang luput dari logikanya adalah di neraka situasi tidaklah sama dengan surga. Di sana ada api menyala dan belerang penuh siksaan yang tidak terperikan seperti yang banyak dilukiskan pada kitab Wahyu. Mungkin karena masih anak-anak, bayangan kengerian itu belumlah bisa digambarkan secara nyata di pikirannya. Apa yang bisa tergambarkan adalah hal-hal duniawi yang sudah dilihat langsung.

Ada banyak orang yang berpikir sama seperti teman saya. Dalam perjalanan hidup saya hingga saat ini saya telah banyak bertemu dengan orang yang mementingkan kekayaan,kemewahan, pangkat, jabatan, ketenaran dan sebagainya. Mereka begitu terobsesi dengan harta benda duniawi sampai-sampai melupakan keselamatan dan kehidupan kekal yang ditawarkan Kristus. Seperti kisah orang kaya yang tidak mau melepaskan hartanya pada Markus 10:17-27, begitulah mereka lebih memilih hal-hal duniawi daripada beroleh harta di surga. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala hal terbaik yang bisa ditawarkan dunia. Jika perbuatan jahat mereka ketahuan, apa yang mereka miliki bisa lenyap dalam waktu singkat, digantikan dengan hukuman yang dalam dunia pun sudah sangat menyiksa, bukan hanya atas diri sendiri tapi juga keluarga. Jika saat ini mereka masih bisa berkelit? Itupun bukan berarti orang bisa selamat, karena Allah mengetahui segala yang kita perbuat dan pikirkan, dan ada saatnya nanti dimana kita akan diminta pertanggungjawaban ketika kita menghadap tahta pengadilan Kristus (2 Korintus 5:10). Kecantikan fisik akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kekayaan harta benda yang kita miliki di dunia inipun tidak kekal sifatnya dan tidak ada yang 100% aman. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19).

Segala kemewahan, harta berlimpah dan hal-hal terbaik yang bisa ditawarkan oleh dunia mungkin bisa terlihat menyilaukan, namun semuanya hanyalah sementara, seperti halnya hidup kita di dunia ini yang sangatlah singkat jika dibandingkan kemana kita menuju sesudahnya. Kita perlu benar-benar menjaga agar tidak ada hal yang merintangi perjalanan kita bersama Kristus. Kita perlu benar-benar menjaga agar diri kita setia dan taat hingga akhir. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:2). Segala yang terbaik yang kekal sifatnya ada di surga, yang akan kita peroleh jika kita hidup taat sesuai firman Tuhan dan berpegang teguh pada Kristus Sang Juru Selamat. Sehebat apapun kemewahan dan popularitas di dunia ini tidak akan pernah bisa mendekati kegemilangan hidup bersama Kristus di surga.

Jangan terjebak pada kelimpahan yang ditawarkan dunia yang sifatnya hanya sementara

Gandum Atau Ilalang?

Posted: 07 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Matius 13:29-30
============================
“Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

gandum dan ilalangDalam perjalanan hidup saya hingga kini, saya merasakan betapa sulitnya untuk hidup benar di tengah dunia yang tidak benar. Apakah itu di sekolah, kampus, pekerjaan maupun lingkungan tetangga, kita akan terus menerus berhadapan dengan berbagai karakter yang siap menjauhkan kita dari kehendak Tuhan. Seringkali kita berada di tengah orang-orang yang mungkin setiap kali bertemu kita akan mengejek kekristenan kita. Atau jika tidak separah itu, kita tetap bertemu dengan orang-orang yang menggiring kita untuk berbuat dosa. Jika atasan kita menerima suap misalnya, kita pun diminta untuk ikut arus, setidaknya tidak sok jujur dan melaporkannya, atau kita harus siap-siap kehilangan pekerjaan. Ketika teman-teman kita berbuat dosa, kita akan dibilang sok suci dan dikucilkan apabila kita tidak mengikuti mereka. Ini baru dua contoh dari ribuan kasus yang kita hadapi sehari-hari.

Dalam Matius 13:24-30 ada sebuah perumpamaan menarik tentang gandum yang tumbuh berbarengan dengan ilalang. Kedua tanaman ini tumbuh di tempat yang sama dan kelihatannya cukup sulit untuk dipilah. Ini perumpamaan yang berbicara tentang orang benar dan orang fasik yang dibiarkan hidup berdampingan. Keduanya jelas mempunyai karakteristik berbeda, tapi tumbuh bersamaan. Kita kelihatannya tidak bisa berdoa dan meminta agar “ilalang” diangkat Tuhan, sebab Tuhan mengizinkan lalang itu tumbuh. Lalu bagaimana? Yang penting adalah menjaga status kita tetap sebagai “gandum” meskipun ada ribuan ilalang disekeliling kita. Perbuatan-perbuatan kita sebagai “gandum” haruslah tetap terang dan mempermuliakan Bapa. Tentu perbuatan kita itu akan mendapat reaksi dari kelompok ilalang. Petrus pun menyadari hal itu dan berkata “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.” (1 Petrus 4:4). Sulit? jelas sulit. Namun semua kesulitan itu memang harus kita lalui, dan pada akhirnya nanti kita akan selamat ketika kita dimintai pertanggung jawaban. “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” (1 Petrus 4:5).

Sebagai warga “gandum”, ingatlah bahwa anda memiliki karakteristik sebagai gandum, bukan ilalang! Gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan, bahkan lebih tegas lagi disebutkan dalam Filipi 3:20 bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga. Akan halnya ilalang akan diikat untuk dibakar. Pada panen akbar di akhir zaman pun hal ini kembali dinyatakan. “Dan Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumipun dituailah.” (Wahyu 14:16). Semua tuaian jelek akan berakhir ke dalam kilangan murka Allah, dimana dari kilangan itu akan mengalir darah. (Wahyu 14:19-20). Sungguh mengerikan bukan? Kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan seperti halnya ilalang, berarti kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kematian kekal. Satu saat nanti pasti akan terjadi pemisahan antara gandum dan ilalang. Gandum akan masuk ke dalam lumbung Tuhan, sedangkan ilalang akan dibakar habis. Sebelum hal itu sampai, pastikan benar-benar bahwa anda adalah gandum!

Nyanyian Burung

Posted: 08 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Mazmur 98:4
========================
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (“Make a joyful noise to the Lord, all the earth; break forth and sing for joy, yes, sing praises!”)

nyanyian burungLagu Burung Kutilang karya Ibu Sud tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari, dengan tak jemu-jemu.. mengangguk-angguk sambil bernyanyi..tri-li-li-li-li-li-li-li…” Apakah anda suka suara nyanyian burung di pagi hari? Rasanya hampir semua orang menyukainya. Betapa indahnya kicau burung menyambut pagi. Begitu merdu, hingga mampu membawa perasaan bahagia dan damai dalam hati. Kenapa dan untuk apa sebenarnya burung bernyanyi? Jawaban singkat mungkin muncul: karena mereka bisa dan harus. Burung bernyanyi untuk menarik perhatian pasangannya dan mempertahankan teritori mereka. Tapi diatas fungsi burung bernyanyi, apa yang kita dengar adalah jauh lebih dari itu. Betapa alam ini diciptakan secara luar biasa indah dan penuh nyanyian.

Burung bernyanyi karena mereka memiliki organ bernama syrinx, bukan larynx seperti yang kita miliki. Syrinx terletak lebih dalam dalam tubuh burung jika dibandingkan larynx pada manusia. Syrinx menurut para ahli adalah kotak suara burung yang menimbulkan suara merdu seperti nyanyian. Meski demikian, masih banyak hal yang tidak bisa kita ketahui dengan pasti mengapa suara yang keluar bisa sedemikian merdu. Saya bukanlah seorang ahli biologi, maka apabila pertanyaan mengapa burung bernyanyi ditanyakan pada saya, saya akan menjawab bahwa itu adalah anugrah Tuhan yang sangat indah. Tuhan menaruh lagu dalam hati mereka dan lagu itu terdengar indah di telinga kita. Hal yang sama sebenarnya juga dianugrahkan pada kita. Mazmur 40:3 mengatakan: “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” Begitu banyak ciptaan Tuhan yang kita nikmati setiap saat, begitu banyak karyaNya yang sangat indah, sehingga sudah selayaknya kita memberikan pujian kepada Tuhan, dan salah satunya adalah lewat nyanyian penuh sukacita. Kitab Mazmur berbicara banyak tentang keindahan ciptaan Tuhan dan semua berkatNya, perlindunganNya dan kasihNya bagi kita, dan berkali-kali pula dalam kitab Mazmur kita mendapatkan ajakan untuk bernyanyi memanjatkan syukur bagi Tuhan. “Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” (Mazmur 104:33) Ajakan untuk memuji segala perbuatan ajaib Tuhan lewat nyanyian baru pun berkumandang di banyak ayat pada Mazmur. “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.” (Mazmur 98:1).

Kicauan merdu burung bisa menjadi peringatan bagi kita bahwa kita pun telah dianugrahkan oleh Tuhan suara dengan nyanyian-nyanyian yang bisa kita pakai untuk memuliakan Tuhan, berterimakasih atas semua berkatNya dalam hidup kita. Allah kita adalah Allah yang luar biasa dan sangat mengasihi kita. Dia layak untuk itu! “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Mari kita terus persembahkan pujian-pujian yang terbaik lewat nyanyian yang penuh sukacita.

Let’s sing for joy at the work of His hands

Fountain Of Life

Posted: 09 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Wahyu 21:6
=======================
Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”

fountain of life, air kehidupanAh.. kami kembali kesulitan air. Air dari Perusahaan Air Minum (PAM) sudah macet selama dua hari, dan hidup pun menjadi sulit selama dua hari ini. Bayangkan stok air yang kami miliki cuma satu bak mandi kecil, dan itu harus dihemat sampai air kembali mengalir, yang kami sendiri tidak tahu kapan akan terjadi. Saya belajar satu hal dari kejadian ini: betapa air memiliki peran yang sangat penting, kalau boleh saya katakan vital bagi kehidupan kita. Kadang-kadang hal itu tidak kita pikirkan ketika air mengalir tanpa masalah di rumah, tapi semua akan kita sadari begitu kita mengalami kesulitan air. Air adalah unsur alam yang mutlak dibutuhkan oleh setiap mahluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Bisa dikatakan tidak akan ada kehidupan tanpa air. Air pun merupakan sumber kesuburan, dimana mahluk hidup akan tumbuh dan berkembang. Peradaban demi peradaban biasanya dimulai di pinggiran sungai atau lokasi dimana ada air. Dalam kehidupan kita sehari-hari pun terdapat begitu banyak penggunaan air, seperti minum, masak, mandi, mencuci, membersihkan dan lain-lain.

Tadi pagi ketika saya bangun dan mengucapkan selamat pagi pada Tuhan, Dia memberi sebuah kalimat yang sangat jelas saya dengar dalam hati saya: “Fountain of life”. Ya, saya langsung berpikir bahwa jika kebutuhan air dalam hidup ini begitu penting, demikian pula kerohanian kita butuh air. Seringkali kerohanian kita mengalami kekeringan, jiwa kita terasa haus dan jika dibiarkan, kita pun bisa mengalami dehidrasi rohani, dimana kita kehilangan kepercayaan, kehilangan harapan, kehilangan motivasi dan semangat, yang kemudian digantikan oleh rasa khawatir, takut, was-was, ragu yang bisa membuat emosi kita labil sehingga kita kehilangan sukacita dalam hidup. Tapi jangan takut, dan lihatlah Tuhan itu luar biasa! Dia ingin mengingatkan kita semua hari ini bahwa Tuhan Yesus menyediakan mata air kehidupan yang akan mengalir tanpa henti dalam hidup setiap anak-anakNya, setiap orang percaya yang taat sepenuhnya kepadaNya. Lihatlah apa kata Yesus pada perempuan Samaria. “Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” (Yohanes 4:10). Selanjutnya kita melihat janji Yesus tentang air kehidupan. “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yohanes 7:37-38). Lihatlah betapa baiknya Kristus sebagai gembala yang akan menuntun kita ke mata air kehidupan, dimana Allah akan menghapus air mata dari kita semua. (Wahyu 7:17). Dan betapa indahnya Yerusalem baru, dimana sungai air kehidupan yang jernih bagai kristal mengalir keluar dari tahta Kristus (Wahyu 22:1). Kemudian kembali ditegaskan bahwa mempelai wanita (kita, orang-orang percaya) dipersilahkan mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma (Wahyu 22:17).

Ketika air di dunia ini satu saat bisa berhenti mengalir, tidak demikian halnya dengan air kehidupan yang bersumber dari Kristus. Saya bersyukur akan kasih Kristus yang tidak henti-hentinya mengalir dalam hidup ini bagai air yang segar dan baru setiap hari. Selama kita berjalan bersama Kristus, selama itu pula air kehidupan mengalir dalam hidup kita tanpa macet, tanpa sangkut, dan akan selalu jernih. Air kehidupan Kristus akan selalu lebih dari cukup untuk membuat jiwa kita segar, kerohanian kita tidak akan kekeringan. Mengalir, mengalir dan mengalirlah dalam diri saya dan diri anda. Haleluya, puji Tuhan!

Segarlah jiwa dan roh setiap hari dengan air kehidupan yang mengalir tanpa henti dari tahta Anak Domba

Tuhan Selalu Beserta Kita

Posted: 11 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Mazmur 63:7-9
=========================
“Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.”

Tuhan selalu beserta kitaHari ini saya merasa sangat lelah. Kegiatan sudah dimulai sejak pagi, dan saya baru tiba di rumah pada malam hari. Dalam perjalanan pulang hujan lebat mengiringi saya. Hujan sudah dimulai sejak sore harinya, sehingga perubahan dari terang ke gelap hari ini berlangsung bersama hujan. Ketika sampai di rumah, saya pun tertidur saking lelahnya. Sekitar jam 12 tadi saya terbangun, dan Tuhan menanyakan tiga hal pada saya. “Tadi pagi, ketika hari begitu cerah, adakah Aku bersamamu?” Saya jawab, “ada, Bapa..” Kemudian pertanyaan kedua: “Ketika hujan turun lebat tadi, adakah Aku bersamamu?” Saya kembali menjawab, “ada”. Pertanyaan terakhir: “di kegelapan malam tadi, adakah Aku bersamamu?” Saya kembali menjawab ada. Dan saya pun tersenyum di tempat tidur, merasakan tenang dan kelegaan yang luar biasa.

Hidup manusia tidak lepas dari berbagai pergumulan. Sama halnya dengan apa yang kami alami saat ini. Saya tidak pernah ragu akan pertolongan Tuhan, tapi sebagai manusia biasa timbunan permasalahan terkadang bisa menyita pikiran dan menimbulkan rasa khawatir menatap hari-hari ke depan. Tapi Allah kita memang Allah yang peduli dan selalu beserta kita. Dalam waktu-waktu tertentu ketika kita berbeban, Dia akan tetap menyatakan kehadiran diriNya ada bersama dengan kita. Itu pula yang menjadi pesan Yesus sesaat sebelum naik ke surga. “.. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20).

Malam ini saya merasa sangat lega. Ayat bacaan hari ini menggambarkan apa yang saya alami dan rasakan saat ini dengan sangat tepat. Terkadang Tuhan menenangkan badai, tapi di saat lain Dia membiarkan badai mengamuk dan menenangkan kita anak-anakNya. Terkadang Tuhan menyalakan lentera dalam kegelapan, terkadang Dia membiarkan kita berjalan dalam kegelapan namun tetap menuntun kita melewati kegelapan dengan tanganNya. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 54-9). Yang jelas, Tuhan selalu ada beserta kita, baik dalam cuaca cerah, mendung maupun kegelapan malam. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Apapun yang kita hadapi, seberat apapun, yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah sekalipun meninggalkan kita sendirian. Never! Dalam menghadapi masalah apapun, jangan putus harapan dan tetaplah teguhkan hati. Kenapa? Sebab Tuhan selalu ada bagi kita semua yang setia dan berharap padaNya. (Mazmur 31:24-25).

In good times, bad times even in times of trouble you can be sure that God is always be with you

Monumen Kebanggaan Nasional

Posted: 10 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:1
===========================
“Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”

monumen nasional, warga sorgaManusia tidak henti-hentinya membangun bangunan pencakar langit yang menjadi bisa simbol kebanggaan. Gedung Empire State Building (381 m) yang dibangun dengan gaya Art Deco yang sangat indah menjadi gedung tertinggi selama 40 tahun. Kemudian banyak gedung-gedung tinggi yang silih berganti merebut posisi teratas sebagai gedung tertinggi di dunia dengan segala kelebihannya. Petronas Twin Towers di Kuala Lumpur Malaysia yang selesai dibangun tahun 1998 misalnya, mencapai tinggi 452 m, 88 lantai. Twin Towers ini dilengkapi jejantas udara atau jembatan udara di lantai 41 dan 42. Ketinggian gedung ini sebentar lagi akan dikalahkan oleh Burj Dubai (Menara Dubai). Burj Dubai kini masih dalam pengerjaan dan diperkirakan akan mencapai ketinggian 800-an meter. Indonesia memiliki Tugu Monas (Monumen Nasional). Meski ketinggiannya jauh dibawah gedung-gedung pencakar langit di atas, tapi Monas yang diresmikan Presiden pertama RI Soekarno memiliki keunikannya sendiri. Puncak Monas berbentuk obor dibuat dari emas seberat 35 kg. Pada saat itu proyek pembangunan Monas menjadi sesuatu yang kontroversial karena dibangun pada saat dimana-mana terjadi antrian untuk mendapatkan beras. Terlepas dari kontroversialnya, Monas yang dibangun sebagai monumen peringatan untuk mengenang perjuangan rakyat adalah salah satu simbol kebanggaan Indonesia.

Dari masa ke masa manusia selalu berlomba-lomba untuk mencatat rekor atau mencari kebanggaan lewat berbagai hal, salah satunya seperti membangun gedung-gedung monumental yang menarik perhatian dunia. Tidak ada yang salah memang, tapi satu hal yang patut diingat adalah semua pujian, kehormatan dan kebanggaan di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Monumen-monumen istimewa akan terus muncul, setiap saat pencapaian yang lebih baik akan selalu hadir menggantikan yang lama. Penulis kitab Ibrani menyadari hal itu dan berkata bahwa ada hal yang lebih membanggakan untuk kita capai. Disana tertulis bahwa para saksi iman akan selalu menyadari bahwa mereka hanyalah orang asing dan pendatang di bumi ini (Ibrani 11:13). Kewarganegaraan sebenarnya bagi kita adalah surga (Filipi 3:20), dan oleh sebab itu Allah pun dengan bangga menyediakan kota bagi kita. “…Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibrani 11:16). Dengarlah apa yang dikatakan Yesus mengenai hal ini. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:2-3). Ketika satu saat nanti dunia berakhir, bagi kita telah disediakan suatu tempat kediaman di surga, sebuah tempat yang sangat indah penuh damai sukacita dimana tidak ada lagi penderitaan dan air mata. Semua itu adalah janji Allah yang disediakan bagi kita. Inilah hal yang sepantasnya membuat kita bangga.

Kita hanyalah sebentar di dunia ini. Semua kebanggaan, kehormatan dan kehebatan yang kita buat di dunia inipun hanya sementara. Tapi ingatlah, bagi kita yang selalu fokus hidup untuk menyenangkan Tuhan memiliki tempat tinggal yang kekal, lengkap dengan kebanggaan yang juga kekal sifatnya. Siapakah kita ini sehingga semua itu dipersiapkan Kristus bagi kita? Tapi kasih Allah begitu besar, sehingga kita manusia yang sebenarnya tidak layak menerima semuanya itu diberikan anugrah yang sungguh luar biasa. Dan inilah sebuah bentuk kebanggaan tanpa akhir yang sesungguhnya. Tetaplah hidup untuk menyenangkan hati Tuhan, dan nikmatilah tempat penuh kebahagiaan dan sukacita yang disediakan Tuhan bagi kita.

Dunia hanyalah tempat transit sementara. Tuhan telah persiapkan tempat kediaman kekal yang indah dan penuh sukacita bagi kita yang selalu menyenangkan hatiNya

Cobalah Periksa

Posted: 12 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Markus 6:38
=========================
“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.”

5 roti 2 ikan untuk 5000 orang5 roti + 2 ikan = 5000 roti & ikan + 12 bakul sisa. Hal ini sungguh tidak bisa dijelaskan secara hitungan matematis bahkan logika manusia. Tapi inilah yang terjadi pada perikop “Yesus memberi makan lima ribu orang” yang tertulis pada Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17 dan Yohanes 6:1-13. Jika kita baca lagi, yang terjadi bahkan lebih dari jumlah diatas, karena hitungan 5000 orang itu hanyalah laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Sebuah keajaiban yang mencengangkan bukan? Bagaimana mungkin 5 buah roti dan dua ekor ikan bisa mencukupi untuk memberi makan total manusia sebanyak itu. Tapi itulah yang terjadi, itulah mukjizat yang dilakukan Kristus.

Mukjizat lima roti dan dua ikan bermula dari rasa belas kasihan Yesus melihat begitu banyak orang bagaikan domba tanpa gembala. (Markus 6:34). Yesus mulai mengajar mereka hingga hari mulai gelap. Ketika murid-muridnya meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak itu pulang agar bisa makan, Yesus malah berkata “kamu harus memberi mereka makan!” (Markus 6:37) Memberi makan 5000 pria plus wanita dan anak-anak? Bagaimana mungkin? Menarik apa yang dikatakan Yesus selanjutnya, seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Saya yakin, Yesus sanggup membuat mukjizat dengan mendatangkan makanan secara instan. Tapi apa yang dilakukan Yesus ternyata berbeda. Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak bermaksud bekerja sendirian. Dia meminta partisipasi dari murid-muridNya dengan bertanya, “berapa banyak roti yang ada padamu?” Dan perhatikan lanjutannya:“Cobalah periksa!” Hasilnya adalah lima roti dan dua ikan, yang kemudian ternyata lebih dari cukup untuk memberi makan ribuan orang.

Mukjizat Tuhan seringkali dilakukan melalui kita anak-anakNya. Yesus meminta kita untuk mengambil bagian. Sebagai manusia kita bisa berkata bahwa kita tidak sanggup, tidak mampu, tidak mempunyai apa-apa, tapi Yesus akan masuk lebih dalam dan akan berkata, “cobalah periksa dulu. Periksa, periksa dan periksa, apa yang ada padamu.” Dan ketika kita menemukan apa yang kita punya, Dia akan membuat itu menjadi berkat yang berarti bagi hidup orang banyak di sekitar kita. Kita bisa belajar dari kisah ini bahwa mukjizat Tuhan timbul akibat tanda kepedulianNya pada kita, dan terjadi dengan kerja sama yang dinamis dengan anak-anakNya. Siapkah anda untuk menjadi saluran berkat dan mukjizat Tuhan bagi orang-orang di sekitar anda? Jika anda ragu akan kesanggupan anda, periksalah dahulu apa yang anda miliki, apa talenta yang diberikan Tuhan pada anda, dan bawalah itu pada Yesus agar diberkati dan dipakaiNya. Yesus tidak pernah dan tidak akan pernah meminta apa yang tidak kita miliki. Dia meminta apa yang kita punya dan mengubahnya menjadi berkat luar biasa. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, termasuk mempergunakan sedikit saja dari yang kita miliki untuk menjadikannya mukjizat nyata dalam hidup saudara-saudara kita. Jika anda merasa tidak memiliki apapun, nanti dulu. Cobalah periksa.

Tuhan bisa bekerjasama dengan kita lewat talenta untuk menyatakan diriNya

Tanpa Mukjizat

Posted: 13 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 10:41
======================
“Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”

memperkatakan Yesus, mewartakan injilAda beberapa pendeta yang diberi talenta luar biasa oleh Tuhan sehingga mereka mampu melakukan berbagai mukjizat bagi ribuan orang. Kita kerap melihat betapa luar biasanya Tuhan bekerja lewat mereka, sehingga banyak orang sakit disembuhkan, pelepasan, bahkan ada beberapa kasus dimana orang yang sudah meninggal kembali bangkit. Menyaksikan semua ini bisa membuka mata kita akan kuasa Tuhan, betapa tidak ada yang mustahil bagi Dia. Sayangnya, ada banyak orang mendasarkan keimanannya hanya pada mukjizat, keajaiban, hal-hal mustahil yang jadi nyata dan sebagainya. Bagi sebagian orang, Tuhan adalah sama dengan pesulap sekelas David Copperfield dan kawan-kawan. Jika tidak ada mukjizat terjadi, berarti Tuhan tidak ada, minimal sedang dianggap sedang tidak berada ditempat, sedang cuek, sedang istirahat atau cuti. Ada banyak orang juga yang bersikap apatis, merasa bahwa mewartakan kabar gembira itu bukanlah tugas mereka. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mampu membuat mukjizat.

Jika kita baca perjalanan para tokoh dalam alkitab, kita akan mendapatkan banyak mukjizat dilakukan oleh mereka. Musa, Elia, Yesaya dan lain-lain semua pernah membuat mukjizat. Yesus pun menyembuhkan banyak orang sakit dan membangkitkan orang mati. Para rasul dalam pelayanan mereka setelah kebangkitan Yesus pun melakukan hal yang sama. Pertanyaannya, apakah orang hanya bisa percaya dan menerima Tuhan hanya lewat mukjizat semata? Fakta membuktikan tidak selamanya. Yesus masih dihujat dan diminta untuk disalibkan, meski mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus terjadi berulang kali di hadapan mereka. Pertanyaan kedua, apakah cara memberitakan injil hanya bisa dilakukan lewat kuasa kesembuhan dan talenta-talenta yang mendatangkan keajaiban? Tidak. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari cerita tentang Yohanes.

Dalam masa hidupnya hingga meninggal, Yohanes tidak pernah melakukan tanda-tanda atau mukjizat apapun. Tapi hal tersebut tidak membuat dia menjadi tokoh yang dilupakan, dan yang lebih penting lagi, tanpa kemampuan membuat mukjizat, Yohanes tetap bisa memberitakan tentang Kristus dan akibatnya ia menyelamatkan banyak orang. Bagaimana cara yang dilakukan Yohanes? Bukan dengan menyembuhkan, melainkan dengan menjadi saksi Kristus, memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. (Yohanes 1:29). Yohanes mengabarkan kabar gembira dengan cara memperkatakan tentang Yesus. Ternyata hal tersebut cukup untuk membuat banyak orang percaya dan diselamatkan. Selain memperkatakan dan menjadi saksi Kristus, Yohanes juga memberitakan injil lewat memberi nasihat (Lukas 3:18).

Sebenarnya kita semua telah diberi kuasa untuk melakukan hal-hal yang sama, bahkan lebih jika kita percaya pada Yesus (Yohanes 14:2).Tapi bisa dimaklumi bahwa sebagian besar orang mungkin belum siap untuk itu, atau masih perlu waktu untuk bertumbuh imannya. Jika kita belum mampu untuk melakukan mukjizat, bukan berarti bahwa kita tidak sanggup melakukan amanat agung, mewartakan kabar gembira, memberitakan injil. Untuk memberitakan injil kita tidak dituntut untuk mampu membuat KKR, mampu menghidupkan orang mati, mampu menyembuhkan orang sakit, mampu melakukan berbagai mukjizat dan sebagainya,tapi cukup lewat memperkatakan Yesus, menjadi saksi, mengenalkan siapa Yesus kepada saudara-saudara kita. Apa yang kita alami ketika kita berjalan bersama Yesus, dan saat kita telah mengalami Tuhan bisa kita angkat dalam serangkaian kata sebagai kesaksian kita. Belajarlah dari Yohanes yang memperkatakan apa yang ia lihat, ia alami dan ia saksikan, sehingga kita pun bisa mulai dari sekarang untuk menjadi murid Yesus sesungguhnya.

Bukan hanya melakukan mukjizat, tapi memperkatakan dan menjadi saksi Kristus pun merupakan cara untuk memberitakan injil

Ayam Glonggongan

Posted: 14 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 20:17
========================
“Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil.”

ayam glonggongan, daging glonggonganDalam bulan puasa di bulan yang lalu muncul kasus ayam glonggongan. Ayam glonggongan adalah penggelembungan ukuran ayam dengan cara memasukkan air lewat cara penyuntikan. Ukuran ayam akan meningkat karena tubuhnya dipenuhi air. Adanya kecenderungan masyarakat untuk membeli daging ayam yang gemuk dengan harga murah dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk mencari keuntungan. Bukan hanya ayam, tapi lalu muncul pula sapi glonggongan. Bedanya, jika ayam disuntik air setelah mati disembelih, pada sapi air dimasukkan melalui selang ketika sapi masih hidup. Sapi kemudian mati karena dijejali air terlalu banyak, baru kemudian disembelih. Saya tidak habis pikir bagaimana orang bisa bertindak seperti itu, seolah-olah mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan apa-apa kelak di hadapan Tuhan.

hikmat Salomo ada yang berbicara mengenai perilaku penipuan. “Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil.” (Amsal 20:17). Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang. Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. “Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu” (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. “Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa.” (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. “Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 25:16). Betapa ironisnya jika keuntungan yang hanya bisa dinikmati sesaat lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan.

Dalam hidup kita, godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu ada. Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tapi yang salah adalah sikap cinta uang (1 Timotius 6:10), dan cara-cara mendapatkannya seperti melalui kejahatan dan kecurangan. Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:10). Jauhilah segala perilaku kecurangan agar kita selamat dari bencana dan kebinasaan.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi akan berujung pada penderitaan

Produk Produk Berbahaya

Posted: 15 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: 1 Korintus 7:1
===========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”

produk berbahaya, entrobacter sakazaki, daging glonggonganKemarin kita sudah melihat bagaimana orang-orang jahat memanfaatkan momen bulan puasa dengan menjual produk daging glonggongan, yang digelembungkan dengan cara memasukkan air ke dalam tubuh hewan. Sebuah tindakan yang tidak saja kejam terhadap hewan, tapi juga dapat mengancam kesehatan kita yang mengkonsumsinya. Kalau fenomena daging glonggongan sudah membuat kita geleng-geleng kepala, bagaimana dengan maraknya penjualan daging busuk/bangkai di pasaran? Ini juga salah satu kejahatan yang berbahaya bagi kesehatan. Daging-daging busuk dikumpulkan dari tong-tong sampah kemudian diolah kembali dan dijual! Semua itu tidak menjadi pemikiran para penipu. Mereka tidak peduli nyawa orang, yang penting adalah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Sebenarnya produk-produk berbahaya yang masih diperdagangkan masih sangat banyak. Yang paling sering kita dapati di supermarket mungkin produk-produk kadaluarsa. Dalam produk susu untuk balita pun kita harus waspada. Beberapa bulan yang lalu Indonesia sempat heboh dengan ditemukannya produk susu lokal yang mengandung bakteri Entrobacter Sakazakii (gambar disamping). Atau kasus yang masih hangat, susu mengandung melamin yang menewaskan banyak anak di negara RRC. Berbagai campuran zat kimia yang tidak aman bagi tubuh terdapat di berbagai produk. Banyak dari produk berbahaya ini tidak kasat mata, tidak terlihat berbeda, dan mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan penyakit dalam tubuh manusia.

Efek produk-produk berbahaya di atas mengingatkan saya akan bahaya yang sama yang dapat mengancam kesehatan kehidupan rohani kita. Ketika kita “mengkonsumsi” berbagai kebiasaan buruk, tontonan, bacaan yang tidak baik dan hal-hal sejenis lainnya, secara sadar atau tidak,kerohanian kita pun berpotensi untuk teracuni. Berbagai tontonan di televisi dipenuhi oleh dendam, perselingkuhan, pembunuhan, pornografi, perkosaan, mistik dan lainnya yang sangat berbahaya bagi kerohanian kita, apalagi bagi anak-anak yang masih berkembang. Begitu banyak “produk-produk” berbahaya bagi rohani yang sekilas tidak terlihat membahayakan, tapi sebenarnya sangat beresiko bagi kerohanian kita. Dengan berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, kita seringkali memberikan toleransi dan kompromi yang tidak pada tempatnya pada pencemar-pencemar rohani. Kita lupa bahwa kompromi pada dosa sekecil apapun dapat membuka pintu masuk bagi dosa-dosa lainnya yang akan menimbun diri kita.

Adalah sangat penting bagi kita untuk menjaga diri agar tidak tercemar. Paulus mengajak kita untuk menyucikan diri dari segala pencemaran, baik jasmani maupun rohani. Dengan demikian kita akan menerima janji bahwa Tuhan akan menjadi Bapa kita, dan kita akan menjadi anak laki-laki dan perempuanNya. (1 Kor 6:18). Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar melainkan untuk yang kudus (1 Tes 4:7). Paulus juga mengingatkan bahwa dengan menjaga kekudusanlah kita layak dipakai Allah untuk pekerjaan-pekerjaan yang mulia. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Tim 2:21). Lebih lanjut lihatlah apa yang dikatakan Petrus. “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” (1 petrus 1:22). Kita harus senantiasa menjaga diri kita dari semua pencemaran baik jasmani maupun rohani, sehingga kita bisa menyempurnakan kekudusan kita di hadapan Allah. Jagalah diri kita dan orang-orang terdekat kita dari kecemaran.

Taat pada kebenaran firman Tuhan akan membuat kita peka terhadap pencemaran

Proses Panjang Sajian Makanan

Posted: 16 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Kejadian 39:5
==========================
“Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.”

proses panjang sajian makanan, saling memberkatiHari ini beberapa makanan lezat terhidang di meja. Istri saya sudah repot-repot memasak, dan hal itu membuat saya sangat senang apalagi setelah hari yang melelahkan dengan pekerjaan. Di meja makan saya berpikir, pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa agar makanan-makanan lezat itu bisa sampai ke atas meja harus melewati sebuah proses panjang? Peternak ayam telah bersusah payah membiakkan ayam untuk dijual, para nelayan yang menentang badai dan menghadapi berbagai resiko ketika melaut untuk mendapatkan ikan, petani yang dibawah terik matahari bekerja menanam padi dan sayur mayur, kemudian para supir yang mengantarkan produk-produk tersebut ke pasar, para penjual di pasar, atau jika anda membeli di supermarket, ada karyawan/karyawati yang akan membantu anda. Setelah semua ini, istri saya tercinta pun memasak dan akhirnya makanan bisa dihidangkan. Ini baru uraian singkat, karena saya yakin proses jejaring makanan ini pasti melewati jalan yang lebih rumit lagi.

Ketika kita berdoa sebelum makan, kita berdoa agar makanan kita diberkati Tuhan, dan menjadi sumber tenaga dan kekuatan yang menjauhkan penyakit dari tengah-tengah kita. (Keluaran 23:25). Kita mendoakan orang yang memasak dan menghidangkan, tapi banyak yang lupa bahwa sebenarnya butuh proses panjang agar makanan bisa terhidang dan melibatkan banyak pihak. Mereka-mereka ini pun layak untuk kita doakan, karena jika satu saja mata rantai itu terputus, makananpun tidak akan sampai ke atas meja kita. Dalam ayat bacaan hari ini kita melihat Yusuf menjadi saluran berkat Tuhan atas Potifar. Artinya lewat kita anak-anakNya yang percaya, Tuhan bisa memberkati orang lain. Kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Seringkali cacian, prasangka dan tuduhan yang lebih sering keluar dari lidah kita ketimbang berkat bagi orang lain. Kita sering lupa bahwa untuk menjadi diri kita sekarang ada banyak orang yang memiliki peran penting di sepanjang perjalanan hidup kita. Adalah jauh lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang buruk daripada mengingat jasa dan kebaikan orang lain. Petrus pun mengingatkan kita untuk terus memberkati, karena kita dipanggil untuk memperoleh berkat pula. “Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” (1 Petrus 3:9-10) Kita harus saling memberkati. Jika kita lihat di sekeliling kita ada banyak orang yang bisa kita berkati, dan itu jauh lebih baik untuk keluar dari lidah kita daripada segala hal yang buruk.

Jika anda melihat hamparan makanan lezat dihidangkan di depan anda, ingatlah bahwa semua itu butuh proses perjalanan yang panjang. Doakan dan berkatilah mereka yang terlibat karena tanpa mereka makanan itu tidak akan tampil di meja anda.

Seperti Tuhan selalu memberkati kita, kita pun harus memberkati lebih banyak lagi

Bersyukurlah Senantiasa Atas Kasih SetiaNya

Posted: 17 Oct 2008 11:13 AM CDT

Ayat bacaan: Mazmur 106:1
=========================
“Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

bersyukurlah, mawar, duriBeberapa orang mengeluh karena mawar memiliki duri, tapi saya kira kita seharusnya bersyukur karena duri memiliki mawar. Orang yang tertusuk duri mungkin menyesalkan kenapa bunga mawar yang begitu indah harus berduri, tapi jika duri bisa bicara, mungkin duri akan bersyukur bahwa ia memiliki mawar. Kita bisa memandang dari banyak sisi akan benda yang sama, baik dengan keluhan ataupun bersyukur. Saya pernah mengatakan bahwa saya punya pandangan “it’s all in the state of mind”. Bahwa dalam hal buruk tidaklah berarti semuanya buruk. Pasti ada hal baik dibalik situasi buruk yang kita alami. Ajakan untuk bersyukur pun sebenarnya bukan hal baru. Kita sudah sering berhadapan dengan ajakan ini baik lewat tulisan, kotbah dan sebagainya. Namun pola pikir untuk selalu bersyukur ini memang bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi jika kita sedang berada dalam tekanan. Yang lebih ironis lagi, banyak orang berusaha mencari Tuhan ketika mereka tengah membutuhkan bantuan, namun lupa bersyukur saat mereka diberkati. Banyak orang memandang mukjizat dari Tuhan hanyalah datang dari hal-hal ajaib yang “bombastis” seperti orang sakit parah disembuhkan, orang lumpuh berjalan,orang buta melihat, bahkan orang mati dibangkitkan. Padahal, ketika kita masih memiliki kesehatan dan kemampuan untuk berjuang di tengah kesulitan, itu pun merupakan mukjizat dan berkat yang berasal dari Tuhan.

Begitu sulitnya untuk mengucap syukur pada saat sulit, sehingga ada orang yang berusaha mengucapkan syukur namun terbatas hanya pada kata-kata saja, tidak didasarkan dari hati. Karena itu alkitab pun mencatat banyak nasihat untuk mengucap syukur dalam segala hal. Salah satunya yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, sebuah kalimat yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita. “Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kalimat ini dituliskan berkali-kali dalam kitab Mazmur, bahkan tampil juga dalam kitab Tawarikh dan Yeremia. Saya yakin Tuhan menyadari benar sulitnya berada dalam sebuah situasi berat sehingga Dia merasa perlu mengingatkan kita berkali-kali bahwa kasih setiaNya bagi kita berlaku untuk selama-lamanya. Bukankah itu patut kita syukuri?

Jika kita bercermin pada alkitab, ada banyak tokoh disana yang tetap mampu memandang lewat iman ketika masalah menghadang mereka. Lihatlah Ayub yang memuji Tuhan meski mengalami penderitaan (Ayub 1:20-22). Selanjutnya Daud, yang pada suatu ketika dikejar, hendak dibunuh oleh Saul dan terjebak di dalam gua. Apa yang dilakukan Daud? Dia malah memuji Tuhan dan bermazmur! (Mazmur 57:1-12). Lalu apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara? Mereka bukannya menyesali nasib, namun malah berdoa dan menyanyikan puji-pujian pada Allah dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kasih setia Tuhan, Dia tetap menyertai dalam segala hal. Tidak ada yang harus kita takutkan. Yang harus kita lakukan adalah tetap mengucap syukur dan melantunkan puji-pujian. We are never alone even in the deepest trouble.

Apa yang diberikan Tuhan pada kita sebenarnya adalah baik, meski ketika pada saat ini terlihat seolah-olah sulit untuk dilalui. Dia adalah Allah yang tidak pernah berubah. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”(Yakobus 1:17) Karena itulah, dalam kondisi sulit sekalipun kita pantas mengucap syukur. Paulus pun menyadari berbagai pengalaman dari tokoh-tokoh alkitab di masa lalu, ia pun berulang kali menyatakan bahwa dirinya dipenuhi ucapan syukur meski dalam penderitaan berat. “Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. “ (2 Timotius 1:3). Dunia boleh gonjang ganjing, namun kita harus tetap tegar dan percaya pada Tuhan lewat berbagai pujian,penyembahan dan ucapan syukur kita. Dia ingin kita tampil sebagai terang, seperti lentera di tengah kegelapan, sebuah posisi yang tidak akan mampu kita jalani jika kita sendiri goyah imannya.

Jika anda percaya bahwa Tuhan setia mengasihi anda, dan tidak ada satupun dari janjiNya yang Dia ingkari, mengucap syukurlah sekarang juga. Tuhan mengasihi anda lebih dari apapun. Bahkan setiap helai rambut di kepala kita pun dihitungNya. (Matius 10:30). Dia telah melukiskan kita dalam telapak tanganNya dan kita selalu ada di ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Tuhan tidak pernah melupakan anda. Karena itu, pandanglah setangkai mawar dengan pola pandangan baru. Jangan bersungut-sungut melihat duri, tapi bersyukurlah bahwa duri yang tajam itu memiliki mawar yang sungguh indah.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Live Life To The Fullest

Posted: 18 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 10:10
==========================
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

live life to the fullest, live life to the max, bikin hidup lebih hidup, pintu menuju keselamatan, gembala  yang baik, jalan dan kebenaran dan hidup, YesusAda iklan minuman keras yang pernah saya lihat di salah satu channel siaran luar negeri yang berbunyi “live life to the fullest”, ada pula iklan lain yang berbunyi “live life to the max”. Di dalam negeri, ada juga yang hampir sama bunyinya, “bikin hidup lebih hidup.” Ya, begitu banyak iklan menawarkan sesuatu yang bisa membuat hidup ini lebih maksimal, atau sekedar membuat hidup lebih terasa hidup. Tidak perduli apa yang mereka tawarkan, baik untuk kesehatan atau malah merugikan, iklan adalah tetap iklan yang mencari motto untuk menggugah dan membuat orang tertarik pada produk mereka. Kenapa bawa-bawa hidup? Jelas mereka menyadari bahwa sesungguhnya orang butuh alasan dan tujuan untuk hidup. Tanpa hal tersebut, hidup hanya akan berupa rutinitas yang tidak berharga, sesuatu yang tidak berarti bahkan sia-sia. Betapa banyaknya orang yang memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya, karena mereka kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Atau kalau kita melihat pendukung fanatik kesebelasan sepak bola saja, kita akan melihat betapa kesebelasan kesayangan mereka sungguh sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan mereka, dan menjadi alasan dan tujuan hidup mereka. Ketika tim kesayangan mereka kalah, mereka pun bisa mengamuk dan melakukan kebodohan-kebodohan terhadap pendukung tim lawan atau tempat-tempat disekitaran stadiun, seperti kerusuhan, penghancuran dan penyerangan. Pada suatu ketika di kota saya, tim kesayangan kota ini kalah oleh musuh bebuyutannya, dan yang terjadi adalah, para pendukung keliling kota men-sweeping mobil-mobil yang nomor pelatnya sama dengan tim lawan. Hanya satu kali kalah, mereka mengamuk seolah-olah hidup mereka berakhir.

Betapa tinggi tingkat kebutuhan manusia akan sebuah alasan yang kuat untuk hidup. Sayangnya banyak yang mendasari arti hidupnya hanya dalam batasan sempit yang sifatnya hanya duniawi alias sementara saja. Padahal lihat apa yang dijanjikan Yesus pada kita. Ayat bacaan hari ini dengan tegas mencatat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri sebagai tujuan kedatangannya. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Banyak orang yang menafsirkan ayat ini sebagai sebuah janji akan kelimpahan materi atau finansial, tapi itu sangatlah sempit karena apa yang dijanjikan Yesus sebenarnya jauh lebih dari itu. Dia menjanjikan kita sebuah hidup. Bukan hanya hidup, tapi juga hidup yang berkelimpahan, hidup dimana kita bisa mengalami pengalaman dan kepenuhan, hidup yang dimerdekakan, lepas dari kuk dan segala dosa yang mengikat kita, hidup yang penuh arti, nilai dan penuh sukacita, hidup yang dipenuhi segala kehendak Allah yang indah bagi kita. Itulah hidup yang dijanjikan Yesus lewat kedatanganNya. Jadi terlalu sempit jika kita hanya memandang kelimpahan hanya sebatas materi saja.

Kita lihat sendiri disekitar kita, banyak orang kaya tapi tidak bahagia, ada yang punya jabatan penting tapi hidupnya hampa, banyak pula yang sudah memiliki segala keinginan duniawi, tapi mereka tidak punya sukacita. Memiliki harta, tahta dan segala keinginan daging tak terbatas, tapi tidak memiliki kehidupan dalam makna sebenarnya. Sebuah bentuk kehidupan yang benar-benar penuh makna, jelas tujuannya hingga kepada kehidupan kekal, penuh damai dan sukacita, dimana ada rencana Allah yang indah didalamnya. Semua itu sudah dijanjikan oleh Kristus, Gembala Yang Baik, Gembala yang siap memberikan nyawa bagi domba-dombaNya. (Yohanes 10:11). Ini sebuah gambaran kontras mengenai perbedaan Yesus dengan gembala-gembala Israel yang mementingkan diri mereka sendiri. Mari kita lihat apa yang tertulis dalam kitab Yehezkiel. “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.” (Yehezkiel 34:2b-4). Bukankah banyak “gembala-gembala” yang seperti ini dalam dunia? Tapi Tuhan Yesus memberikan diriNya sendiri bagi kita. Dia sungguh Gembala yang baik. Perhatikan bahwa Yesus telah mengatakan semuanya dengan tegas dan pasti. Selain gembala, Yesus pun menegaskan bahwa Dia adalah pintu menuju keselamatan, dan dijanjikan sebuah akses untuk memasuki padang rumput. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yohanes 10:9). Selanjutnya mari kita lihat penegasan lain. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Yesus tidak berkata “mudah-mudahan kamu bisa datang pada Bapa jika melalui Aku”, Dia juga tidak berkata “jika masuk melalui Aku, mudah-mudahan kamu bisa selamat”. Tidak. Apa yang Dia janjikan semuanya merupakan sebuah kepastian yang tegas. Hanya dalam Dia lah kita semua bisa memiliki hidup yang benar-benar hidup.

Adalah hak pribadi masing-masing orang untuk memiliki idolanya sendiri, saya tidak dalam kapasitas untuk menyatakan itu salah, tapi yang ingin saya sampaikan adalah, ada yang lebih baik dari mereka semua, dan itu adalah Kristus sendiri. Dia adalah gembala yang baik, pintu menuju keselamatan, juga jalan dan kebenaran dan hidup, yang menjanjikan kita untuk memiliki sebuah hidup dengan segala kelimpahan. Di dalam Dia lah kita bisa menemukan arti dan makna kehidupan sesungguhnya, demikian pula tujuan hidup kita pun akan terlihat dengan jelas. Now let’s love life, let’s enjoy life, let’s celebrate life, and let’s live life to the fullest!

Miliki hidup yang maksimal lewat iman akan Kristus

Under Construction

Posted: 19 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yudas 1:24
=======================
“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,” (“Now to Him Who is able to keep you without stumbling or slipping or falling, and to present you unblemished [blameless and faultless] before the presence of His glory in triumphant joy and exultation [with unspeakable, ecstatic delight] )”

under constructionAda proses perbaikan jembatan tidak jauh dari rumah saya yang sudah berlangsung sebulan terakhir. Setiap kali saya pulang bekerja, saya akan bertemu dengan papan “sedang dalam perbaikan/under construction”. Sebuah proses konstruksi biasanya tidak berlangsung cepat. Butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya dan membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Sebuah proses pembangunan dapat menghasilkan sesuatu yang indah pada akhirnya setelah melalui proses panjang, apalagi jika dibangun oleh arsitek yang bagus dan punya blueprint bagus pula. Tadi malam ketika saya pulang saya kembali melihat papan pengumuman tersebut, dan saya pun terpikir bahwa kita manusia sebenarnya pun sedang dalam proses “under construction”.

Hidup adalah sebuah proses. Proses dari buruk menjadi baik, dari lemah menjadi kuat dan sebagainya, tapi bisa juga berlaku sebaliknya. Begitu banyak proses pembelajaran yang kita alami baik dari pendidikan formal, lingkungan maupun pengalaman yang dapat membentuk kita menjadi seperti siapa kita hari ini. Sebagai anak-anak Allah, kita harus mengetahui bahwa Tuhan telah merancang diri kita masing-masing. Ada “blueprint” bagi setiap kita yang disediakan bagi Allah, Dia telah menetapkan apa yang menjadi rencanaNya bagi kita seperti apa yang Dia katakan pada Yeremia. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5). Mungkin sebuah proses pembentukan itu akan sulit untuk dilalui, namun dari surat Yudas, kita bisa belajar bahwa Tuhan Yesus dengan setia siap untuk membimbing kita agar tidak tersandung dan jatuh dalam proses itu, hingga kita bisa mencapai akhir yang penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya. (Yudas 1:24). Kita punya alkitab berisi firman Tuhan sebagai pedoman, kita punya Roh Kudus sebagai pembimbing, kita punya Gembala yang baik dalam diri Yesus Kristus, dan kita punya Allah yang punya rancangan penuh damai sejahtera bagi kita. Jika kita taat dan selalu menjaga kerohanian kita untuk tunduk pada kehendak Tuhan, roh kita pun akan selalu dipimpin langsung oleh Roh Allah. Sebaliknya, jika orang lebih mendasarkan hidup pada keduniawian, mereka akan lebih memilih rancangannya sendiri, hidup tidak sesuai dengan rencana Allah dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Kita semua masih “under construction” hingga hari ini. Yudas mengajak kita untuk tumbuh dalam iman, berdoa dalam Roh Kudus dan tetap memelihara diri kita dalam kasih Allah agar kita bisa melewati masa-masa konstruksi dengan sukses. “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” (Yudas 1:20-21). Ingatlah bahwa proses ini bukanlah proses satu arah. Dalam pembentukan, kita harus tetap menunjukkan belas kasihan pada orang lain dan menyelamatkan mereka dari bahaya keruntuhan rohani. “Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” (Yudas 1:22-23). Apa yang Tuhan rencanakan bagi kita adalah rancangan penuh damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kita semua hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Suatu hari nanti, proses pembentukan akan berakhir. “Under construction” akan berubah menjadi “end of construction”. Tersedia kehidupan kekal yang penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya bagi kita semua, jika kita taat mengikuti “blueprint” dari Tuhan.

Hasilnya akan sangat indah jika kita mengijinkan untuk dibentuk sesuai rancangan yang disediakan Tuhan bagi kita

Mewaspadai Tiga Hal (1) : Keinginan Daging

Posted: 20 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Roma 8:7
=====================
“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”

15-16Kemarin saya berbicara tentang perjalanan kehidupan kita yang tetap mengalami proses pembentukan (under construction) hingga akhir. Kita harus senantiasa menjaga diri kita agar tidak tersandung dalam perjalanan, agar kita bisa mencapai akhir dari proses (end of construction) dengan gilang gemilang. Tadi malam saya diingatkan Tuhan akan sebuah ayat yang merupakan kelanjutan dari proses ini.

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:15-16).

Ada 3 perkara seperti yang saya beri cetak tebal dari ayat diatas yang bisa menjadi jendela masuknya pengaruh-pengaruh iblis yang dapat membuat kita terbelenggu dosa. Selama tiga hari kedepan, kita akan melihat hal ini satu persatu. Hari ini renungan dimulai dari poin pertama, keinginan daging.

Apa saja yang menjadi keinginan daging? Keinginan atau perbuatan daging adalah rupa-rupa keinginan yang berasal dari tubuh kita, penuh jebakan yang sangat menggoda dan sangat berpotensi untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Surat Paulus pada jemaat di Galatia menjabarkan dengan jelas apa yang dimaksud dengan keinginan daging. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21) Keinginan daging ini tidak hanya merusak orang dunia, tapi dunia pelayanan kekristenan pun mendapat ancaman yang sama. Jika kita lihat, banyak hamba-hamba Tuhan yang sudah aktif melayani masih juga terikat dengan berbagai keinginan daging. Ada diantara mereka yang jatuh akibat dosa selingkuh, korupsi, minum minuman keras dan sebagainya. Beberapa dari keinginan-keinginan daging ini sepintas terlihat nikmat dan mungkin tidak terlihat sebagai sebuah dosa besar, akibatnya banyak orang yang memberi toleransi terhadap masuknya dosa dan menganggap bahwa hal itu hanyalah sebuah dosa kecil yang sepele. Tanpa disadari dosa kecil itu bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai dosa selanjutnya yang berakibat fatal dan mampu menjatuhkan kita.

Alkitab memberi banyak contoh kejatuhan pelayan-pelayan Tuhan akibat terjerumus dalam keinginan daging. Misalnya imam besar Eli (1 Samuel 2:11-17) atau Simson yang jatuh akibat godaan Delila (Hakim Hakim 13-17). Daud seorang yang berkenan di hati Allah pun tidak luput dari dosa akibat keinginan daging. Lihat apa yang terjadi ketika Daud menyuruh Yoab dan seluruh orang Israel pergi berperang sementara ia santai-santai di istana. Apa akibatnya? Ketika itulah Daud mengintip Batsyeba mandi, dan selanjutnya berzinah, bahkan sampai membunuh Uria, suami Batsyeba. Kisah ini dapat dibaca pada 2 Samuel 11. Bagaimana pandangan Tuhan mengenai perbuatan Daud? “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.” (2 Samuel 11:27). Ada banyak lagi contoh kejatuhan tokoh-tokoh alkitab yang disebabkan oleh keinginan daging, dan ini harusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak satupun dari kita yang bisa 100% kebal terhadap godaan kedangingan ini.

Kita harus terus melatih diri kita agar mampu hidup menurut Roh dan bukan daging. “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Paulus menulis bahwa menuruti keinginan daging berarti perseteruan terhadap Allah, dan siapapun yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. (ay 7-8). Jika kita terus memberi kelonggaran untuk memenuhi berbagai keinginan daging, kita akan mati. Sebaliknya jika Roh lebih berkuasa dalam hidup kita, kita akan hidup. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (ay 13). Godaan akan selalu hadir untuk menjebak kita. Maka dari itu marilah kita tetap berjalan dalam Kristus yang mampu menjaga supaya kita tidak tersandung dan membawa kita menuju kegembiraan di hadapan kemuliaanNya. (Yudas 1:24)

Kita harus berjaga-jaga dari godaan keinginan daging yang menjadikan kita serupa dengan dunia ini

Mewaspadai Tiga Hal (2) : Keinginan Mata

Posted: 21 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 27:20
========================
“Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.”

15-16Melanjutkan renungan kemarin yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal kedua yang patut kita waspadai selain keinginan daging adalah keinginan mata. Bagi saya, mata adalah salah satu anugrah yang indah. Dengan mata saya bisa memandang, melihat keindahan ciptaan Tuhan, paduan-paduan warna dalam segala hal dan keindahan lainnya. Saya bekerja di dunia desain web dan grafis, sehingga fungsi mata sangatlah vital bagi saya. Mata memang memungkinkan kita untuk menikmati banyak hal secara visual, tetapi bila tidak dijaga, mata bisa mendatangkan keinginan-keinginan yang bisa menjadi pintu masuk bagi dosa-dosa untuk mencengkram dan menjerumuskan kita. Ada salah seorang murid saya yang bercerita bahwa dia baru saja menghabiskan hampir setengah dari gajinya dalam beberapa jam. Dia pergi ke mal hanya karena iseng sepulang kerja, tanpa keperluan membeli kebutuhan apa-apa. Disana dia melakukan “window shopping”, melihat-lihat etalase dan apa yang ditawarkan berbagai butik. Karena tidak tahan melihat produk-produk yang menarik, katanya, dia pun mulai membeli ini dan itu, dan ketika dia sadar, ternyata hampir setengah dari gajinya habis dipakai untuk membeli barang yang sebenarnya tidak begitu ia butuhkan. “Nyesal banget rasanya..” begitu katanya sambil tersenyum kecut.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “mata adalah jendela hati yang menyimpan seribu cerita”. Apa yang dirasakan hati kita bisa tercermin dari mata. Selanjutnya ada pula pepatah yang mengatakan “dari mata turun ke hati”, menunjukkan betapa mata punya koneksi erat dengan hati yang menyimpan keinginan, hasrat dan perasaan. Apa yang kita lihat bisa menimbulkan berbagai keinginan, yang jika tidak kita jaga dapat membuat kita tersandung dalam proses “under construction” kita. Ada banyak orang yang akhirnya tergoda untuk korupsi karena tidak tahan melihat kilapnya mobil tetangga atau rekan sekerja. Ada yang sulit menabung bahkan jadi berhutang karena ingin menyamai gaya hidup teman-temannya. Ada yang seperti murid saya di atas, sulit mengendalikan diri dari godaan mata. Kita mendengar banyak berita perkosaan yang diawali dari menonton film porno. Semua ini berhubungan dengan mata, sebagai awal kejatuhan orang dalam dosa.

Kemarin kita sudah melihat apa yang terjadi pada Daud yang berzinah dengan Batsyeba. Hal itu diawali lewat mata ketika Daud mengintip Batsyeba mandi. Dari kisah lain dalam kitab1 Raja Raja 21, kita bisa melihat kisah raja Ahab yang menginginkan kebun anggur milik Nabot. Ketika Nabot menolak karena kebun itu merupakan harta pusaka nenek moyang, raja Ahab pun termakan godaan istrinya Izebel untuk membunuh Nabot. Akibatnya pun cukup fatal. Apa yang dilakukan Ahab merupakan hal yang jahat di mata Tuhan. (1 Raja Raja 21:25). Keinginan mata bisa membuat kita serakah ingin menguasai harta orang lain, atau menghamba pada harta agar bisa memiliki harta benda yang mungkin belum saatnya kita miliki.

Salomo berkata bahwa mata manusia tidak akan pernah puas. Apa yang dimunculkan oleh keinginan mata bisa meracuni hati kita dengan berbagai keinginan yang tidak pada tempatnya. Tidak semua yang diinginkan mata mendatangkan manfaat bagi kita, bahkan bisa menjebak kita untuk tidak lagi hidup sesuai kehendak Allah. Mata perlu kita awasi dan tunduk dalam hukum Roh. Jika keinginan mata mulai menggoda, berdoalah seperti pemazmur “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!” (Mazmur 119:37) Mari kita selalu menjaga mata kita dari berbagai keinginan-keinginan yang sifatnya duniawi agar kita tidak tersandung dan bisa berhasil dibangun hingga akhir.

Mata bisa membutakan hati untuk menginginkan banyak hal yang menjerumuskan kita dalam dosa

Mewaspadai Tiga Hal (3) : Keangkuhan

Posted: 22 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Amsal 8:13
=======================
“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”

15-16Angkuh dalam bahasa Indonesia punya banyak padanan kata seperti sombong, congkak, pongah, takabur dan sebagainya. Semua ini mengarah pada pengertian yang sama, yaitu menghargai diri secara berlebih-lebihan dan memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri. Ketika pagelaran Java Jazz 2008 digelar di bulan Februari lalu, saya berkali-kali bertemu dengan Jean Paul “Bluey” Maunick pentolan Incognito. Saya sangat terkesan, orang setenar dia ternyata punya kerendahan hati yang luar biasa. Dia tidak pernah menolak diajak foto bareng oleh fansnya, selalu tersenyum dan menjawab pertanyaan siapapun dengan sangat ramah. Dia berbaur dan berjalan bebas ditengah kerumunan penonton dengan santai. Ketika saya tanya apakah dia tidak merasa terganggu dengan banyaknya orang yang terus menerus mengajaknya berfoto, dia tersenyum dan menjawab “not at all.” Bluey berkata bahwa dia tidaklah berarti apa-apa tanpa penggemarnya. Tidak ada gunanya berkreasi membuat lagu-lagu jika tidak ada yang mendengar. Karena itu dia tidak pernah keberatan untuk temu ramah dengan fans dimanapun dia pergi. Ketika kita kerap mendengar artis-artis yang menuntut penghargaan dan fasilitas berlebihan untuk tampil di sebuah kota atau negara, apa yang dibuat Bluey terasa begitu menyejukkan.

Menyambung dua renungan terdahulu yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal ketiga yang patut kita waspadai adalah keangkuhan. Ketika kita berada dalam posisi yang tinggi dalam jabatan, ketika kita memiliki suatu kelebihan dibanding orang lain, baik dalam hal harta, kemampuan atau skill dan lain-lain, dosa keangkuhan ini diam-diam dapat menyelinap dalam diri kita. Keangkuhan dapat membutakan rohani, sehingga lupa bahwa semua yang ia dapat berasal dari berkat Tuhan, bukan atas kemampuannya semata. Betapa ironisnya jika orang yang diberkati Tuhan dengan talenta atau kemakmuran bukannya bersyukur dan semakin peduli, tapi malah menjadi sombong. Karena itulah sikap angkuh atau sombong menjadi salah satu dari tujuh hal yang dibenci Tuhan seperti yang diuraikan Salomo dalam Amsal 6:16-17. “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:mata sombong….” Mata sombong dalam bahasa Inggrisnya disebutkan “Proud look”, sikap yang meninggikan diri sendiri dan menganggap rendah orang lain.

Alkitab mencatat banyak kisah mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap keangkuhan. Mari kita lihat beberapa diantaranya. Kita lihat kisah raja Hizkia dalam kitab 2 Raja Raja dan 2 Tawarikh. Hizkia adalah seorang raja yang saleh yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal selalu berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah Tuhan sehingga dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda. (2 Raja Raja 18:5-6). Sayangnya ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya, Hizkia sempat jatuh dalam keangkuhan. Akibatnya hampir saja Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah. Untunglah Hizkia cepat sadar akan keangkuhannya sehingga murka Allah tidak sampai menimpa bangsa yang dipimpin Hizkia pada masa pemerintahannya (2 Tawarikh 32:25-26). Dari ksah lain, mari kita lihat apa yang terjadi pada raja Nebukadnezar dalam kitab Daniel. Keangkuhan yang membuat Nebukanedzar meninggikan diri diganjar Tuhan dengan membuat dirinya menjadi seperti lembu hingga tujuh masa. (Daniel 4:1-37).

Keangkuhan sangatlah berlawanan dengan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kekristenan. Allah pun sangat menentang keangkuhan. “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”(Yakobus 4:6) Ketinggian hati akibat keangkuhan membuat orang menolak bergantung pada Allah dan memberikan kepada diri sendiri kehormatan yang seharusnya diberikan pada Tuhan. Seperti halnya keinginan daging dan keinginan mata, perkara keangkuhan pun dapat membuat kita tersandung dalam proses “under construction” kita. Ada banyak dosa mengintip dari kesombongan, dan Tuhan sangat membenci sikap ini. Kita harus terus meneladani perilaku Kristus yang melayani siapapun dengan penuh kasih. Tidak ada tempat bagi keangkuhan dalam kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (1 korintus 13:4). Ketika kita mendapat limpahan berkat baik dari segi kemakmuran, ketrampilan maupun talenta, bersyukurlah pada Tuhan dan pakailah itu untuk memberkati sesama. Hindari sikap sombong dalam keadaan apapun, dalam alasan apapun. Marilah kita semua belajar hidup rendah hati dan penuh kasih seperti Kristus.

Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, demikianlah kita harus tetap rendah diri dan menghindari keangkuhan.

Tumpangan Bagi Orang Asing

Posted: 23 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Ibrani 13:2
========================
“Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

tumpangan bagi orang asing, berbuat untuk Yesus, menjamu malaikatAda sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan terjadi sekitar pertengahan tahun 90an. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang sehabis mengerjakan tugas kelompok. Hari sudah larut malam, sekitar pukul 11 malam. Di tengah perjalanan saya melihat ada seorang wanita hamil yang terlihat kesakitan bersama kedua orang tuanya berdiri di tengah jalan. Saya berhenti dan bertanya ada apa. Ternyata wanita hamil itu telah pecah ketubannya. Mereka sedang menunggu taksi untuk membawa mereka ke rumah sakit. Sudah beberapa taksi berhenti, tapi ketika melihat si wanita “belepotan”, mereka pun menolak untuk membawanya. Saya mempersilahkan mereka untuk naik ke mobil dan menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit. Sejenak mereka terlihat kaget dan ragu, karena mereka tidak kenal saya, begitu pula saya tidak kenal mereka. Tapi kemudian mereka naik juga dan saya pun bergegas membawa mereka. Di sepanjang perjalanan ibu dan ayah wanita itu berulang kali menyatakan permintaan maaf karena mengotori mobil saya, meskipun saya pun berulang kali menyatakan bahwa yang penting anak dan cucu mereka bisa selamat. Sesampainya di rumah sakit, saya langsung memanggil perawat dan menarik sebuah kursi roda yang terletak di depan pintu rumah sakit. Wanita itu pun langsung dibawa ke dalam. Sang ayah kemudian bertanya berapa yang harus mereka bayar pada saya, tapi saya menolak. Dia pun kemudian menawarkan untuk membersihkan mobil, tapi saya memintanya untuk menemani anaknya saja yang jelas lebih butuh kehadirannya pada saat itu. Akhirnya sang ayah membungkuk sambil menangis dan memegang tangan saya mengucapkan terima kasih, menanyakan nama saya dan berkata bahwa nama saya nanti akan mereka jadikan nama cucu mereka, jika yang lahir laki-laki. Saya baru sampai di rumah sekitar pukul 1 pagi. Saya langsung mengambil ember dan kain, membersihkan mobil dari air ketuban yang membasahi jok mobil belakang. Ibu saya yang tadinya khawatir karena saya pulang sangat larut menjadi terheran-heran melihat saya. Saya tidak pernah lagi bertemu dengan mereka hingga saat ini.

Apa yang membuat saya berhenti dan membawa mereka waktu itu? Apakah merasa diri seperti superhero, sok jagoan atau pahlawan? Sama sekali tidak. Saat itu saya hanya berpikir bagaimana jika seandainya yang berdiri disana adalah ibu atau saudara perempuan saya. Saya berpikir bagaimana jika si wanita terlambat mendapat pertolongan sehingga dia dan anaknya sampai meninggal. Alangkah menyedihkannya saya sebagai manusia jika saya tidak berbuat apapun melihat itu semua. Pada saat itu saya belum lahir baru, sehingga belum tahu apa-apa tentang apa kata alkitab mengenai perbuatan saya. Hari ini saya bertemu sebuah ayat yang luar biasa. Betapa luar biasanya jika tanpa kita ketahui perbuatan kita telah menjamu malaikat-malaikat!

Mari kita lihat sejenak ke kisah Abraham dalam Kejadian 18:1-15. Disana diceritakan bagaimana kemurahan hati Abraham menerima 3 tamu asing dengan sangat ramah. Dia menghidangkan makanan dan minuman pada para tamu, bahkan mengambilkan air untuk membasuh kaki mereka. Belakangan diketahui ternyata ke 3 tamu asing yang berada dalam kemahnya sesunggguhnya adalah malaikat-malaikat Tuhan. Para malaikat itu pun menyampaikan pesan Tuhan yang sangat penting bagi Abraham, yaitu janji untuk memberi anak laki-laki, sebuah janji yang kemudian menjadi sangat menentukan bagi perjalanan hidup kita hingga saat ini. Bayangkan jika saat itu Abraham menolak kehadiran orang asing dan membiarkan mereka lewat begitu saja.

Menjamu malaikat pastilah luar biasa. Tapi satu hal yang penting, malaikat atau bukan, kita harus tahu bahwa segala sesuatu yang kita buat bagi orang lain adalah sangat berharga di mata Tuhan. Dalam masa kehadiran Yesus di dunia pun, Yesus tidak hanya peduli pada murid-muridNya dan orang-orang yang Dia kenal di sekitarNya, tapi Yesus melayani siapapun tanpa pandang bulu. Apakah mereka orang Yahudi, Samaria, Romawi, apakah mereka nelayan, pemungut cukai, orang kusta, orang kemasukan setan, prajurit, apakah mereka pria, wanita atau anak-anak, semua diberikan pelayanan penuh kasih. Selanjutnya Yesus pun berkata: “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Artinya apapun yang kita lakukan buat orang lain berarti melakukannya untuk Yesus. Bagaimana jika kita tidak peduli, tidak mau melakukan apapun untuk menolong? Ini jawaban Yesus: “Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”(Matius 25:45-46).

Coba kita perhatikan di sekitar kita. Apakah kita mau menjamu seorang pengemis yang mengetuk rumah kita, atau kita takut piring dan gelas kita akan kotor? Apakah kita sudah memberikan pertolongan pada tetangga-tetangga kita yang sedang kesulitan? Apakah kita mau memberi sedekah ketika bertemu pengemis di jalan atau malah merasa kesal, terganggu bahkan jijik terhadap kehadiran mereka? Kenal atau tidak, berilah perhatian terhadap siapapun yang membutuhkan, orang percaya atau bukan, karena itu artinya anda telah melakukan sesuatu untuk Kristus. Dan siapa tahu, mungkin anda tengah menjamu malaikat.

Jangan pandang bulu dalam membantu karena sekecil apapun, semua itu berharga di mata Tuhan

Tempat Yang Disediakan Bagi Orang-Orang Penakut

Posted: 24 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Wahyu 21:8
=======================
“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

orang penakut, pengecutMungkin tidak aneh jika orang berpendapat bahwa pembunuh, pemerkosa, perampok dan tukang sihir layak ditempatkan di neraka. Tapi bagaimana jika orang-orang penakut ternyata dikelompokkan pada posisi yang sama? Jika ada diantara teman-teman yang kaget, anda sama dengan saya. Ayat bacaan hari ini saya temukan tadi malam sebelum berdoa menjelang tidur, dan saya pun tersentak. Rasa takut bukanlah hal yang jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dan ternyata Tuhan punya pandangan sendiri terhadap bagaimana kita menyikapi sebuah masalah. Banyak penafsir yang mengartikan rasa takut pada ayat ini mengarah pada mereka yang tidak berani mengakui imannya disaat penderitaan atau penganiayaan datang, atau malu mengakui di depan orang bahwa kita adalah orang yang percaya pada Kristus (dalam versi bahasa Inggrisnya, “orang-orang penakut” ini diterjemahkan dengan “coward” atau “pengecut”), dan saya tidak menentang hal tersebut sama sekali. Saya setuju. Tapi di sisi lain saya mendapatkan sebuah sudut pandang lain.

Mari kita lihat Injil Markus 4:35-41. Disana ada kisah angin ribut yang diredakan Tuhan Yesus. Ketika itu murid-murid Yesus ketakutan menghadapi topan yang sangat dahsyat. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu mulai dipenuhi air. Dimana Yesus pada saat itu? Yesus tengah tidur di buritan di atas sebuah tilam. Mereka pun segera membangunkan Yesus dan berkata “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”. Yesus bangun, kemudian menghardik angin itu dan selanjutnya angin menjadi reda dan danau seketika menjadi teduh sekali. Sesaat setelah Yesus meredakan angin ribut, Dia pun langsung menegur murid-muridnya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ketika angin ribut melanda, tidakkah wajar jika mereka merasa takut? Bukankah sudah pada tempatnya jika angin ribut itu membuat mereka cemas dan khawatir akan tenggelam? Tapi lihatlah, Tuhan Yesus tidak berkata, “aduh murid-muridKu, maaf Aku tidak cepat bangun dan kalian keburu ketakutan seperti itu..” Tidak. Tuhan Yesus malah menegur mereka, karena tidak ada setitik imanpun dalam hati mereka, tidak ada keyakinan sedikitpun bahwa mereka akan baik-baik saja dengan kehadiran Yesus di kapal bersama mereka. Hal ini mengingatkan kita bahwa di tengah badai sehebat apapun kita wajib menggunakan iman kita dan percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah selalu memegang kendali. Tidak ada yang harus kita takuti.

Mengapa menjadi orang penakut atau pengecut bisa mengarahkan kita menuju lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang? Rasa takut itu berarti kita tidak percaya pada perkataan dan janji-janji Allah. Itu artinya kita meragukan firman Allah. Dengan kata lain, artinya kita tidak percaya pada Allah. Padahal tidak kurang dari 300 kali Allah meyakinkan kita dengan perkataan “Jangan takut!” pada Alkitab. Lebih jauh lagi, orang yang dicekam rasa takut akan lemah dan mudah disusupi godaan iblis. Tidak sedikit orang yang memilih untuk mencari jawaban instan lewat kuasa-kuasa kegelapan, okultisme karena mereka berada dalam ketakutan atau kekhawatiran tertentu yang tengah melanda mereka. Tidak sedikit yang tersesat bahkan terikat karenanya. Ketika dunia meyakinkan kita bahwa inilah saatnya bagi manusia untuk takut, cemas dan khawatir, ketika sebagian orang bahkan berpikir untuk tidak punya anak karena takut melihat anaknya tumbuh ditengah-tengah dunia yang begitu kejam, ketika begitu banyak kejahatan, penyakit dan problema yang seolah tanpa solusi, ketika ekonomi dunia semakin memburuk, ketika masa depan seolah-olah terlihat kelam, ingatlah bahwa Tuhan telah berulang kali meyakinkan kita bahwa ada alasan kuat untuk tidak putus pengharapan dan tetap hidup di dalam keyakinan penuh akan janji-janjiNya. Di surga tidak ada penakut dan pengecut. Mereka semua adalah orang yang percaya pada Allah dan firmanNya. Rasa takut mungkin sekali waktu akan menyerang kita, namun jika hal ini terjadi, ingatlah kembali akan janji-janji Allah pada kita. Kita punya Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”(Matius 24:35).

Ketika rasa takut menyergap, tetaplah berdiri tegak dengan keyakinan penuh bahwa kita hidup dalam janji Allah

Maju Kena Mundur Kena

Posted: 25 Oct 2008 02:09 PM CDT

Ayat bacaan: Keluaran 14:13
===========================
“Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.”

maju kena mundur kena, situasi terjepit, situasi sulitPernahkah anda berada dalam sebuah situasi seperti judul renungan hari ini, “maju kena mundur kena”? Maksud saya adalah situasi dimana jalan didepan kita seolah-olah buntu, tapi untuk berbalik arah atau mundur juga tidak bisa. Dalam film-film adegan seperti ini sering kita jumpai. Musuh mengejar dari belakang, dan kemudian tokoh utamanya terjebak pada jalan buntu. Untuk berbalik tidak mungkin lagi, sebab musuh ada di belakangnya. Itu dalam film, bagaimana dalam realita kehidupan? Misalnya, bagaimana jika kita bertetangga dengan orang sulit yang selalu mencari masalah dan membuat kita lelah dalam kekesalan berkepanjangan. Jalan keluarnya mungkin pindah, tapi pindah rumah bukanlah sesuatu yang gampang. Contoh lain, bagaimana jika anda tidak lagi kerasan bekerja di kantor karena pekerjaan yang begitu berat dengan gaji yang tidak sebanding, atau teman-teman sekerja yang menjengkelkan, bos yang kasar, tapi untuk mencari kerja baru saat ini tidaklah mudah. Pengalaman-pengalaman “maju kena mundur kena” seringkali menimpa hidup kita, dan jujur saja, saat ini pun saya tengah berada pada situasi demikian.

Teman, masih berhubungan dengan renungan kemarin, hari ini saya diingatkan oleh sebuah kisah yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Belum lama bangsa Israel baru keluar dari perbudakan di Mesir, tapi ternyata raja Firaun berubah hati dan tidak rela melepaskan mereka (Keluaran 14:5). Dia kemudian mengejar bersama enam ratus kereta yang dikendarai para perwiranya (ay 7). Keadaan menjadi sulit, karena di depan bangsa Israel terbentang Laut Teberau yang juga dikenal dengan nama Laut Merah, sementara di belakang ada ratusan tentara Firaun. Bangsa Israel pun terjepit. Menghadapi situasi demikian bangsa Israel pun menjadi ketakutan dan panik. Mereka pun mulai menyalahkan Musa dan mengatakan bahwa lebih baik menjadi budak ketimbang terjebak dalam situasi terjepit seperti itu. Apa jawaban Musa? Seperti apa yang tertulis pada ayat bacaan hari ini, Musa mengingatkan mereka akan 3 hal. Jangan takut, berdiri tetap, dan fokus kepada penyertaan Tuhan. (ay 13). Selanjutnya seperti yang kita ketahui, Laut Teberau terbelah sehingga mereka bisa berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Air menjadi tembok buat mereka (ay 15 – 22). Selanjutnya ketika bala tentara Firaun mengejar hingga ke tengah laut, air pun kembali berbalik ke posisi semula dan menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya. (ay 26-28). Mereka pun akhirnya selamat sampai ke seberang (ay 30). Kisah Laut Teberau ini kemudian disinggung ulang dalam Mazmur 106:7-12 dan Nehemia 9:9-11.

Mari kita lihat tiga langkah yang dikatakan Musa dalam menghadapi kondisi terjepit.
1. Jangan Takut.
Rasa takut tidak akan menolong, malah bisa semakin melemahkan dan melumpuhkan kita. Bahkan dalam renungan kemarin yang berjudul “Tempat Yang Disediakan Bagi Orang-Orang Penakut”, kita sudah melihat bahwa rasa takut itu sama artinya dengan meragukan perkataan dan janji-janji Allah, dan bisa membawa kita kepada kematian yang kekal.
2. Berdiri tetap dalam iman.
Ketika kita dicekam rasa takut berkepanjangan, iman kita bisa terkikis. Orang yang berada dalam ketakutan akan mudah tergoda untuk mengambil jalan pintas, apapun asal bisa keluar dari masalah selanjutnya menghalalkan segala cara, bahkan jalan-jalan menuju maut yang terlihat seolah-olah menyelamatkan, seperti layaknya “fatamorgana” yang sudah pernah saya tulis buat renungan beberapa minggu yang lalu. Kita harus tetap teguh iman menghadapi kondisi apapun.
3. Fokus kepada kasih dan penyertaan Tuhan.
Pada kisah Laut Teberau diatas kita melihat penyertaan Tuhan yang luar biasa untuk mengeluarkan bangsa Israel dari situasi terjepit. Tuhan kita adalah Allah yang penuh dengan kasih setia dan tidak pernah ingkar janji. “Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 106:1). Karena itu kita tidak perlu ragu. Tetaplah berdiri teguh dalam iman dalam situasi sesulit apapun. Mari kita jalani hidup walau seberat apapun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Jangan takut, jagalah agar iman tetap kokoh dan percayalah pada Tuhan yang masih terus membuat mukjizat yang menyatakan kemuliaanNya hingga hari ini. Sebagaimana Dia menyelamatkan bangsa Israel, demikian pula Dia mampu menyelamatkan kita dari situasi “maju kena mundur kena”.

Dalam situasi seperti apapun, percayalah bahwa Allah selalu menyertai kita dengan kasih setiaNya

Jangan Mengungkit Masa Lalu

Posted: 26 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Filemon 1:11
=========================
“dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.”

mengungkit kesalahan masa lalu, memaafkanPerselisihan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga adalah hal yang pasti pernah dialami semua orang yang sudah berkeluarga. Seringkali pertengkaran dimulai dengan sebuah perselisihan yang sebetulnya ringan, tapi kemudian emosi semakin meningkat sehingga yang bertengkar bisa terlihat seperti kucing berkelahi seperti gambar disebelah kiri. Apa yang biasanya menyebabkan pertengkaran menjadi besar? Salah satu yang paling sering adalah faktor mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu. Masalah yang sebenarnya sudah diselesaikan pun kembali beterbangan keluar sehingga suasana malah semakin memanas. Saya pernah membaca kisah sebuah keluarga yang kemudian berakhir dengan perceraian karena kebiasaan suaminya yang selalu mengungkit masa lalu dikala bertengkar. Ada pepatah yang mengatakan, “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya.” Pepatah ini menggambarkan betapa sulitnya mengampuni, betapa sulitnya menerima perubahan/pertobatan seseorang. Seolah-olah ada cap/stempel “sekali begitu tetap begitu” yang melekat pada seseorang yang pernah berbuat salah, dan cap itu seakan permanen dan tidak bisa dibersihkan.

Hari ini saya diingatkan pada surat Paulus untuk Filemon. Filemon mempunyai seorang hamba bernama Onesimus. Onesimus pernah merugikan Filemon, kemungkinan mencuri sesuatu dan kemudian kabur (Filemon 1:18). Sesuai hukum Romawi saat itu, hukuman untuk jenis kejahatan ini adalah hukuman mati. Filemon kemudian bertemu dengan Paulus, dan kemudian setelah dilayani Paulus, Onenimus pun bertobat dan menerima Kristus. Hidupnya pun mengalami perubahan. Onenimus disuruh pulang kembali pada Filemon. Kemudian sepucuk surat dilayangkan Paulus kepada Filemon untuk memintanya menerima kehadiran Onenimus kembali, karena Onenimus yang sekarang bukanlah Onenimus yang dulu lagi, seperti yang kita lihat dari ayat bacaan hari ini. Paulus meminta agar Filemon mau memaafkan Onenimus dan menerimanya kembali, bukan lagi sebagai seorang hamba, tapi sebagai saudara yang kekasih di dalam Tuhan. (ay 16). Cara pendekatan Paulus yang elegan dan bijaksana untuk mendamaikan keduanya sungguh digambarkan secara menarik dalam surat Filemon. Dia tidak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin rohani atau yang lebih tinggi dari Filemon, tapi menganggap bahwa Filemon sebagai saudara dan teman sekerja. Tidak ada paksaan atau perintah dari Paulus, malah secara luar biasa Paulus pun menyatakan siap menanggung segala kerugian yang pernah dibuat Onenimus. Intinya Paulus meminta agar Filemon tidak lagi mengungkit kesalahan di masa lalu dan mau menerima Onenimus kembali sebagai saudara seiman, karena Onenimus sudah berubah.

Sebagai murid Yesus yang taat, Paulus mengajarkan prinsip pengampunan seperti apa yang diajarkan Yesus. Pengampunan dari Kristus adalah pengampunan yang tuntas. Dia tidak pernah mengungkit lagi dosa yang telah kita akui di masa lalu. Oleh sebab itulah kita pun harus berbuat hal yang sama kepada saudara-saudara kita. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”(Matius 6:14-15). Kita harus siap untuk mengampuni tanpa batas seperti yang firmanNya dalam perikop “Perumpamaan Tentang Pengampunan” (Matius 18:21-35). Dalam doa yang diajarkan Yesus Kristus pun kita membaca: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). Disini kita melihat bahwa ada hubungan antara mengampuni dan diampuni.

Seorang teolog bernama Henry Ward Beecher pernah menulis: “Forgiveness ought to be like a canceled note torn in two, and burned up, so that it never can be shown against one.” Ya, bagaikan nota yang sudah dibatalkan, disobek dan dibakar, sehingga tidak lagi bisa dipakai untuk mendakwa apa-apa, itulah bentuk pengampunan tuntas yang sesungguhnya. Janganlah mengungkit-ungkit masa lalu terutama ketika bertengkar, dan belajarlah memaafkan secara tuntas seperti halnya Kristus mengampuni kita juga secara tuntas.

Terus mengungkit masa lalu mengakibatkan frustasi dan mempersulit pembaruan di masa depan

Mengejar Yang Tidak Kelihatan

Posted: 27 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Wahyu 18:14
========================
“Dan mereka akan berkata: “Sudah lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi.”

yang tidak kelihatan adalah kekalPraktek korupsi di negara kita seolah tidak ada habisnya. Belum lama kita mendengar pengakuan seorang mantan anggota DPR yang menerima cek untuk memuluskan tokoh tertentu menduduki posisi penting. Pengakuannya berakibat pencopotan dirinya dari partai. Ketika ditanya uang suap itu dipakai untuk apa saja, dia berkata dipakai untuk membeli mobil dan modal untuk memulai sebuah usaha. Tapi sekarang usaha yang dirintis lewat uang haram itu gagal dan mobil yang dibeli pun bolak balik masuk bengkel. “mungkin karena berasal dari uang panas, habisnya pun tidak jelas..” begitu katanya. Cerita ini lagi-lagi membuktikan bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah kekal.

Pada suatu saat manusia akan berada pada suatu keadaan dimana uang tidak bisa lagi diandalkan. Bagi pasien yang mengidap penyakit dimana sudah tidak ada lagi obatnya, uang sebanyak apapun tidak lagi berguna. Jika ada suami atau istri yang lari dengan orang lain, uang pun tidak lagi menjadi dewa penolong. Ketika ada keluarga berantakan, uang tidak lagi serta merta bisa membalik keadaan. Seorang jaksa kini berakhir dengan vonis 20 tahun penjara. Dan ada banyak lagi contoh dimana uang sebanyak apapun tidak lagi bisa merubah apa-apa. Betapa ironisnya jika manusia masih mengira bahwa uang adalah sesuatu yang harus jadi fokus utama yang dipercaya mampu menyelamatkannya. Apakah saya menganggap uang tidak dibutuhkan? Tidak, kita jelas masih membutuhkan uang untuk mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari. Tapi yang saya maksud, harta bukanlah segala-galanya karena tidak akan pernah kekal sifatnya.

Ayat bacaan hari ini menggambarkan hal itu. Pada suatu hari nanti semua itu akan lenyap, tidak lagi ada kemewahan dan keindahan kilau harta. “Dan mereka akan berkata: “Sudah lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi.” (Wayhu 18:14) Selanjutnya, “mereka berkata: “Celaka, celaka, kota besar, yang berpakaian lenan halus, dan kain ungu dan kain kirmizi, dan yang dihiasi dengan emas, dan permata dan mutiara, sebab dalam satu jam saja kekayaan sebanyak itu sudah binasa.” (ay 16). Yang tinggal hanyalah yang bersifat kekal. Apa yang kekal? Mari kita baca apa kata Paulus. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18).

Perkara rohani adalah menyangkut hal-hal yang tidak kelihatan. Iman, kasih, pengharapan dan kebajikan adalah hal-hal yang tidak kelihatan. Namun nilainya jauh melebihi harta benda, sebab sifatnya kekal. Semua itu akan kita miliki lewat Kristus. Kristus adalah segala-galanya. Bila kita mendapatkanNya, kitapun memliki segala-galanya. Kita harus selalu hidup seperti Dia dan mengikuti segala perintahNya. Harta bukanlah untuk ditimbun, tapi harus dipakai untuk memberkati demi menyatakan kemuliaanNya. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9: 7-8). Dan ingatlah ayat ini: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Tuhan akan selalu mencukupi. Yang penting bagi kita adalah memfokuskan diri kepada apa yang tidak kelihatan, karena yang tidak kelihatan lah yang membawa kita untuk memiliki segala-galanya yang kekal. Kehidupan kekal di dalam kerajaan Allah menanti kita yang dengan taat mengikuti Kristus.

Dunia hari ini masih terus dipenuhi dengan ajakan untuk berlomba-lomba mengejar kekayaan. Jangan sampai kita mengikutinya. Yang penting kita harus mengejar kekudusan dan hal-hal rohani. Pada suatu saat anda akan berbahagia melihat bagaimana Allah memberi penghormatan kepada orang benar.

Allah menawarkan yang tidak kelihatan tapi kekal, sementara iblis menawarkan yang kelihatan tapi hanya sementara. Pilih yang mana?

Unity

Posted: 28 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 17:20-21
=============================
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

denominasi, bersatu, unitySaya sedang duduk hendak menulis renungan, dan diluar hujan sedang turun. Biasanya setelah hujan akan muncul pelangi. Perpaduan warna-warna yang membentuk pelangi terlukis di langit sangatlah indah dilihat. Saya yakin jika warna itu terpecah-pecah dan tidak bersatu, keindahannya akan jauh berkurang. Pikiran saya melayang kepada banyaknya denominasi yang masing-masing punya tata cara berbeda. Dan saya pun diingatkan akan doa Yesus di Taman Getsemani, hanya beberapa sebelum Dia ditangkap dan disalibkan.

Di Taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa untuk semua orang yang percaya padaNya lewat pemberitaan mereka, baik lewat pengajaran, pewartaan, kesaksian, sikap hidup dan lain-lain. (Yohanes 17:20). Apa yang diminta Yesus bagi orang percaya? Dia tidak meminta agar Tuhan selalu memastikan orang percaya agar hidup tanpa penderitaan, selalu senang, tidak pernah jatuh sakit atau disakiti baik secara fisik maupun perasaan. Tapi yang Tuhan Yesus minta adalah agar semua orang percaya menjadi satu, seperti Tuhan di dalam Kristus dan Kristus di dalam Tuhan.(ay 21) Dia berdoa agar kita bersatu, hidup rukun satu dengan lainnya agar dunia bisa mengetahui bahwa Tuhanlah yang mengutus Kristus untuk menyelamatkan manusia. (ay 23).

Memang ada banyak denominasi, tapi janganlah terlalu cepat menghakimi bahwa denominasi yang satu lebih rendah dari yang lain, apalagi sampai menuduhnya sesat. Selama sebuah gereja mengakui Bapa, Anak dan Roh Kudus, selama gereja selalu fokus dan haus akan Tuhan, selama semuanya didasarkan pada Alkitab, maka Tuhan Yesus ada disana. Ketika ada orang yang menganggap bahwa hanya gereja dengan jumlah jemaat besar lah yang diberkati, dan menganggap enteng gereja yang jemaatnya hanya sedikit. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus hadir tidak hanya pada ribuan jemaat, tapi dengan jumlah sedikit pun yang bersekutu dalam doa, Tuhan Yesus hadir diantara mereka. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20). Alangkah indahnya jika semua gereja mendasarkan bukan pada perbedaan tapi pada kesamaan, bahwa semuanya adalah satu dalam Kristus, merupakan bagian dari tubuh Kristus. Dan saya melihat hari-hari ini sungguh indah, dimana ditengah berbagai persoalan kehidupan yang menerpa, ada banyak anak-anak Tuhan tidak lagi mempersoalkan denominasi ketika mereka berkumpul dan bersatu dalam doa di tempat pekerjaannya. Ada persekutuan-persekutuan dan pelayanan interdenominasi yang terus tumbuh, ada buletin-buletin yang menjangkau semuanya, dimana Tuhan Yesus lah yang dipermuliakan, dan itu menjadi dasar kebersamaan bagi masing-masing denominasi yang berbeda. Kebersatuan kita merefleksikan Trinitas. Kemuliaan Tuhan akan terlihat melalui kita anak-anakNya dan saya yakin, Tuhan akan sangat bangga jika itu kita lakukan.

Dalam 1 Korintus 12:12-31 Paulus menguraikan panjang lebar akan hal ini. Banyak anggota, tetapi satu tubuh. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” (1 Korintus 12:12). Mata adalah organ tubuh penting, tapi bagaimana jika tubuh kita hanya terdiri dari mata? “Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” (ay 21-22). Masing-masing kita sebagai bagian dari tubuh Kristus mendapat karunia tersendiri, yang jika digabungkan akan dapat menjadi kesaksian akan Kristus. Perpecahan merupakan keinginan iblis. Iblis akan selalu mempengaruhi dan menggoda agar kita terpecah.

Dalam Roma 16:17 kita diingatkan untuk waspada terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan dan godaan. Kita harus semakin utuh dalam kesamaan, bukan malah memperbesar jurang perbedaan. Seperti pelangi yang indah karena warna-warna berbeda bersatu membentuk untaian indah di langit, begitula indahnya jika kita semua bersatu, saling dukung, saling menguatkan dan saling bantu tanpa mempersoalkan latar belakang denominasi dimana kita bertumbuh. Semua adalah anggota tubuh Kristus, dimana jika mereka berkumpul atas nama Kristus, Dia pun hadir ditengah-tengah mereka, sama seperti Kristus hadir didalam persekutuan kita.

Hendaklah kita menjadi satu, seperti Kristus ada di dalam Tuhan, Tuhan ada di dalam Kristus, dimana kita ada didalamnya

Terburu-buru menarik Kesimpulan

Posted: 29 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Yohanes 1:46
=========================
“Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?Terkadang saya bingung dengan pendapat orang di luar sana tentang Indonesia. Himbauan untuk tidak datang ke Indonesia sudah begitu sering kita dengar. Indonesia dianggap bukan tempat yang aman bagi turis, ada banyak artis luar negeri yang ragu untuk menggelar konser disini, bahkan ada yang dengan ekstrim menganggap Indonesia sebagai sarang teroris. Sebagian lagi yang sudah pernah berkunjung ke Indonesia menganggap Indonesia adalah negara yang penduduknya ramah. Beberapa artis luar yang pernah saya tanya selalu mengutarakan hal yang sama, terkesan dengan keramahan masyarakat disini. Ada salah seorang pemain saxophone dari Oregon mengatakan bahwa travel warning yang selalu didengung-dengungkan di luar sana terlalu berlebihan, karena ketika mereka berada disini ternyata situasi tidak seperti yang mereka bayangkan dari berbagai pemberitaan yang mereka dapati di negaranya.

Itulah kecenderungan manusia, seringkali terlalu cepat menarik kesimpulan terhadap sesuatu. Ketika kita berada dalam satu lingkungan kecil yang kebetulan terdapat beberapa orang yang tidak sopan, kita bisa dengan cepat berkata “kota ini benar-benar kasar!” Padahal beberapa orang itu tidaklah representatif untuk mewakili sebuah kota dengan penduduk ribuan.Ketika ada seorang anak yang bandel, orang bisa berkata: “orang tuanya nggak benar..” atau “memang sudah turunan..”. Ketika ada satu orang yang kita temui sedang dalam keadaan marah, kita bisa menganggap bahwa ia pemarah. Ketika kita berpapasan dengan orang yang tidak tersenyum, kita langsung menganggap bahwa orang itu sombong. Dan ada banyak contoh lain dari kecenderungan manusia untuk menilai terlalu cepat hanya berdasarkan pandangan sesaat.

Ketika Yesus mengumpulkan murid-murid pertamaNya, Natanael pun pernah menarik kesimpulan terlalu terburu-buru. Ketika mendengar perkataan Filipus bahwa mereka telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret, Natanael langsung berkata “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Nazaret hanya kota yang kecil, sekitar 80 mil dari Yerusalem. Sebagai kota yang terletak pada jalur perdagangan dari Damaskus ke Galilea, mungkin Natanael mendengar banyak kekacauan dan kejahatan disana, sehingga langsung menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin jika seorang Mesias akan datang dari kota seperti Nazaret. Saya tidak tahu bagaimana pastinya pandangan orang di masa itu tentang kota Nazaret, mungkin kota itu tidak ada baiknya seperti kata Natanael, namun lihatlah fakta bahwa Yesus “orang Nazaret” melakukan banyak mukjizat. “Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kisah Rasul 10:38). “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Matius 11:5), bahkan lebih dari itu, Dia menebus dosa-dosa kita dengan nyawaNya sendiri. Dan ini semua dilakukan oleh “Seorang” yang tumbuh dan dibesarkan di Nazaret. Jika kita mundur ke belakang melihat Yesaya 53:3, disana dinubuatkan bahwa Mesias akan merupakan orang yang hina, dan dengan berasalnya Yesus dari Nazaret, nubuatan ini pun dipenuhi.

“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kita harus belajar untuk menjawab “ya, sesuatu yang baik bisa datang dari Nazaret.” Janganlah terlalu cepat menggeneralisir sesuatu. Kita harus menjaga diri agar tidak terperosok pada kecenderungan mengambil kesimpulan negatif terlalu cepat. Seperti jawaban Filipus pada Natanael, “Mari dan lihatlah!”, kita harus membuka mata lebar-lebar dan melihat sesuatu dengan objektif sebelum menilai terlalu cepat.

Hindari kecenderungan untuk terburu-buru menarik kesimpulan karena hal demikian tidaklah baik

Tidak Semua Orang Farisi….

Posted: 31 Oct 2008 11:00 AM CDT

Ayat bacaan: Lukas 13:31
========================
“Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.”

orang farisiOrang-orang Farisi. Mereka adalah kelompok atau faksi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan keagamaan pada masa Yesus. Biasanya mereka adalah ahli-ahli Taurat yang menerapkan prinsip ajaran Taurat dan tradisi Yahudi dengan sangat ketat. Tidak heran ketika Yesus datang dan menggenapi hukum Taurat, mereka pun merasa gerah dan terancam dalam kelangsungan penerapan hukum-hukum dan tradisi itu (Matius 15:12). Maka kita menemukan banyak persinggungan antara Yesus dengan para orang Farisi. Ketika kita mendengar sebutan orang Farisi, secara otomatis pikiran kita akan tertuju pada sesuatu yang jauh dari positif. Orang Farisi dianggap sebagai kelompok yang penuh kemunafikan, beribadah hanya semata-mata karena tradisi saja dan menolak perubahan-perubahan. Mereka merasa diri mereka punya tingkat kerohanian tinggi melebihi orang lain, tetapi mereka sendiri tidak menghayati dan melaksanakan apa yang mereka katakan. Mereka juga bersekongkol untuk mencobai Yesus (Matius 16:1) bahkan berusaha untuk membunuhNya (Markus 3:6). Yesus pun mengecam mereka sebagai orang-orang munafik (Matius 23:1-36), dan mengingatkan murid-muridNya untuk mewaspadai ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Yang dimaksud ragi orang Farisi adalah ragi kemunafikan, ragi yang mengedepankan kerohanian hanya pada penampakan luar saja, sedang ragi Herodes adalah ragi yang mengedepankan keduniawian, daripada kerohanian.

Tadi pagi saya diingatkan akan ayat yang menjadi ayat bacaan untuk hari ini. Ketika itu Yesus akan pergi ke Yerusalem, kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan berkata padaNya: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jika diatas kita melihat bahwa orang-orang Farisi kerap bersekongkol untuk membunuh Yesus, tapi pada ayat ini justru sebaliknya, mengingatkan Yesus agar menghindar dari Yerusalem supaya tidak dibunuh Herodes. Apa yang kita dapat dari kisah ini masih berkaitan dengan renungan dua hari yang lalu bahwa kita tidak bisa atau tidak boleh menggeneralisir apapun. Kita melihat bahwa tidak semua orang Farisi berhati jahat. Mari kita lihat lagi kisah Nikodemus. Nikodemus adalah seorang Farisi yang menyandang predikat tokoh agama (Yohanes 3:1), tapi ia mendatangi Yesus pada suatu malam dan mengakui bahwa Yesus datang sebagai guru yang diutus Allah (ay 2). Selanjutnya kita lihat kisah setelah Yesus wafat di kayu salib. Ada seorang bernama Yusuf dari Arimatea yang merupakan anggota Majelis Besar yang tidak setuju dengan putusan Majelis itu. Dia disebutkan sebagai orang yang baik lagi benar (Lukas 23:50). Dia mendatangi Pilatus untuk meminta agar mayat Yesus dikuburkan. Dialah yang kemudian menurunkan mayat Yesus, membungkusNya dengan kain kafan dan meletakkan dalam kubur di dalam bukit batu yang belum pernah dipakai. Tidak disebutkan apakah Yusuf dari Arimatea adalah Farisi atau bukan, namun kita mengetahui statusnya sebagai anggota Majelis Besar yang dikenal juga dengan sebutan Sanhedrin. Sanhedrin merupakan badan pemerintahan Israel yang berisikan gabungan orang Farisi dan Saduki. Jadi ada kemungkinan Yusuf pun adalah seorang Farisi.

Dari kisah-kisah Farisi ini kita bisa belajar bahwa kita tidak boleh buru-buru menghakimi dan menggeneralisir sesuatu. Ketika satu atau banyak orang dalam sebuah badan/lembaga/kelompok/organisasi/perkumpulan bahkan gereja sekalipun ada yang tidak benar, itu bukan berarti bahwa seluruh orang disana semuanya tidak benar, apalagi langsung menganggap bahwa badan/lembaga/kelompok/organisasi/perkumpulan tersebut adalah jahat. Ketika kita melihat bahwa banyak anggota DPR yang korupsi, hal tersebut tidak serta merta berarti bahwa semua orang di DPR adalah koruptor, atau DPR adalah lembaga koruptor, karena meski mungkin sedikit sekali, saya yakin masih ada orang-orang baik disana. Kita harus mampu menghindari kecenderungan menggeneralisir sesuatu, dan lebih baik fokus ke “dalam”, yaitu bagaimana kita membenahi diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan sampai selumbar (secukil kayu) di mata saudara lebih jelas terlihat ketimbang balok di mata kita. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2).

Banyak bukan berarti seluruhnya. Hindari kecenderungan menghakimi dan menggeneralisir sesuatu

2 responses

2 08 2010
lena sihombing

terimakasih atas renungan yg sangat bagus semoga menambah iamn,percaya dan cintaku pada tuhan yg setia pada hambanya ini.Tuhan memberkati.

27 09 2011
ruddy

renyah ….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: