Renungan Harian November

Kepekaan Tinggi

Posted: 03 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Efesus 5:10

========================

“dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.”

coffee cupper, coffee taster, wine taster, ujilah apa yang berkenan kepada TuhanSebulan lalu saya iseng membeli kopi yang cukup terkenal di Bandung. Kopi ini tampaknya sudah turun temurun diwariskan sejak awal 1900an. Ini saya tahu dari melihat kemasannya yang masih didesain seperti desain awal. Bahkan ejaan yang dipakai pun masih ejaan lama. Ketika masuk ke toko, saya ditanya oleh sang pemilik, mau kopi seperti apa? Saya bingung menjawabnya karena jujur, saya bukanlah penikmat kopi. Membelinya saja hanya karena iseng. Dia pun kemudian menjelaskan beberapa jenis kopi agar saya bisa memilih. Setelah melakukan pembayaran, dia kembali berpesan agar kopi sebaiknya diminum sebelum sarapan, takaran satu sendok makan dan sebagainya. Wah, saya bingung. Si pemilik jelas seorang yang sangat mengerti kopi, dia tahu bagaimana kopi harus diminum agar rasanya benar-benar sempurna. Saya pun ingat istilah “coffee cupper” atau “coffee taster”. Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup sekalipun. Itu di dunia per-kopi-an. Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah “wine taster”, orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.

Kepekaan itu terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Sama halnya dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan langsung peka, mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (Efesus 5:10). Untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai “anak terang” (ay 8). Istilah “anak terang” dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar keduniawian. Bahkan kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis yang terbungkus rapi sekalipun. “Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang” (ay 13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana, lewat apa yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan “coffee-cupper” dan “wine taster” yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang

Mengalami Kemuliaan Tuhan

Posted: 02 Nov 2008 10:27 AM CST

Ayat bacaan: Keluaran 33:11

===========================

“Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.”

yosua, mengalami kemuliaan TuhanMengalami kemuliaan Tuhan dan merasakan hadiratNya tentu merupakan keinginan kita semua. Terkadang berbagai kesibukan yang menyita waktu membuat kita menomor duakan menjalin hubungan dengan Tuhan, melewatkan saat-saat teduh, lupa berdoa, dan akhirnya tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai prioritas tertinggi dalam hidup. Berbagai dosa dan godaan dunia, dan keinginan daging pun dapat menyebabkan orang kehilangan kemuliaan Tuhan dalam hidupnya. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kisah Yosua.

Yosua adalah hamba Musa yang setia, yang selalu mengikuti kemanapun Musa pergi. Pada periode kehidupan di padang gurun pun, Yosua selalu hadir di dekat Musa dan melihat segala yang terjadi. Salah satu saat terpenting yang ia alami adalah melihat sendiri peristiwa perjumpaan Musa dengan Tuhan.

“Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.

Ada sesuatu yang menarik dari ayat bacaan diatas, dimana ketika Musa sudah selesai berbicara dan meninggalkan kemah, Yosua anak Nun memilih untuk tetap tinggal di kemah. Mengapa? Sepertinya Yosua terpesona dengan apa yang ia saksikan dan rasakan, yakni hadirnya kemuliaan Tuhan di dalam kemah itu. Yosua tidak ingin berpisah dari hadirat Tuhan yang hadir disana. Saya yakin sejak saat itu Yosua semakin gigih berusaha untuk belajar bagaimana agar dia bisa semakin intim dengan Tuhan, tidak hanya sebagai penonton dari jauh tapi sebagai pelaku, tetap berada dalam kemuliaan itu dan mengalami seperti Musa. Maka selanjutnya kita menyaksikan bahwa ia dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel untuk masuk ke tanah terjanji, Kanaan. “Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau.”(Ulangan 31:23). Yosua sejak muda sudah belajar untuk mengejar kemuliaan Tuhan, dan hasilnya tidaklah sia-sia.

Allah sangat merindukan orang yang selalu rindu untuk berbicara dengan Dia, bukan sekedar berbicara tentang Dia. Kita bisa belajar dari orang-orang yang selalu merindukan Tuhan seperti Yosua. Firman Tuhan dalam Mazmur berkata “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.” (Mazmur 84:5). Dalam perjanjian baru kita melihat bahwa bagi orang-orang seperti ini, Tuhan akan memberitahukan banyak hal. “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (Kolose 1:27). Dalam bahasa Inggrisnya (amp) lebih jelas, “Christ within and among you”, “Kristus ada di dalam kita dan bersama kita”. Haleluya! Ini yang membedakan antara anak-anak Tuhan dengan warga dunia lainnya, yaitu kehadiran Tuhan berjalan bersama dengan kita. Ini pula yang dikatakan Musa. “Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini? (Keluaran 33:16).

Belajar dari Yosua, agar bisa merasakan kemuliaan Tuhan dan mengalami perjalanan bersama Tuhan sepanjang hidup kita, inilah hal yang harus kita lakukan.

1. Setia dalam melayani

Yosua adalah hamba yang setia pada Musa, dan kesetiaannya itu menjadikan dirinya sebagai pewaris Musa. Kita harus memiliki hati hamba yang selalu rindu untuk melayani. Begitu pula Yesus datang ke dunia untuk melayani dan bukan dilayani bahkan memberi nyawaNya untuk menebus banyak orang. (Markus 10:45)

2. Mencintai Hadirat Tuhan

Yosua tidak meninggalkan kemah karena ia benar-benar rindu untuk terus merasakan hadirat Tuhan hadir dalam hidupnya. Jangan sampai Tuhan menjadi prioritas kesekian dalam hidup. Kita harus terus tekun berdoa dan hidup dari firman Tuhan (Matius 4:4).

3. Punya iman penuh dan tetap percaya

Ingatlah bahwa Yosua adalah salah satu yang diutus Musa untuk mengintai situasi Kanaan. Ketika 10 orang pesimis, hanya Yosua dan Kaleb lah yang punya iman teguh pada Tuhan dan merasa yakin mereka pasti akan mampu merebut tanah terjanji. (Bilangan 13:30). Ia pula yang memimpin peperangan melawan orang Amalek di Rafidim.(Keluaran 17:8-16). Iman penuh akan Kristus akan membuat kita mampu merasakan kasih karunia, dan dengan demikian kita akan selalu hidup dalam pengharapan dan menerima kemuliaan Allah.(Roma 5:2).

Teruslah berkomitmen untuk hidup dalam kekudusan dan keintiman dengan Tuhan agar kemuliaan Tuhan selalu hadir dalam diri kita

Jemaat Efesus

Posted: 04 Nov 2008 10:38 AM CST

Ayat bacaan: Wahyu 2:2-4

========================

“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”

jemaat EfesusHari ini saya mengajak teman-teman untuk melihat lebih jauh jemaat di Efesus. Kota Efesus ini terletak di Asia Kecil (kawasan di Asia Barat Daya yang letaknya saat ini kurang lebih di Turki bagian Asia). Kota Efesus adalah kota tua yang punya peradaban tinggi selama berabad-abad dan merupakan kota perdagangan yang kaya. Di kota ini pula, seperti halnya daerah Asia Kecil lainnya penduduknya menyembah berhala. Mereka menyembah patung dewi Artemis yang dipercaya jatuh dari langit (Kisah Para Rasul 19:35). Disana pun berkembang kekuatan sihir, sesuai pengakuan beberapa tukang sihir yang bertobat (ay 19). Tidaklah mudah memang untuk mewartakan Injil di Efesus. Paulus menggambarkannya sebagai pelayanan yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan (20:19). Tapi berkat tuntunan Roh Kudus, Alkitab mencatat pelayanan Paulus membuahkan hasil luar biasa. Selama 2 tahun Paulus mengajar dengan berani (19:8-10) mulai dari rumah ibadat hingga ruang kuliah Tiranus (19:8-10). Ia juga melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (19:11). Semua ini membuat firman Tuhan terdengar oleh semua orang (ay 10) dan makin berkuasa (ay 20).

Jemaat di Efesus adalah jemaat yang setia dan penuh semangat penginjilan. Mereka tidak terpengaruh pada lingkungan disekeliling mereka yang menyembah berhala. Mereka dikatakan selalu menjaga integritas mereka, mereka punya karunia mampu membedakan rasul palsu dari yang asli, mereka rela menderita dan tidak kenal lelah. Semua ini diketahui benar oleh Tuhan seperti firmanNya dalam Wahyu 2:2. Luar biasa bukan? Tapi Tuhan kemudian menegur mereka, seperti yang bisa kita baca dalam ayat 4. Mengapa? Karena mereka meninggalkan kasih mula-mula. Artinya mereka lebih memprioritaskan “pekerjaan Tuhan” daripada kerinduan untuk mengenal lebih jauh “pribadi Tuhan”.

Dari kisah ini kita belajar bahwa memang penting untuk melakukan pekerjaan Tuhan, namun lebih penting lagi bagi kita untuk melayani Tuhan, menjaga keintiman dengan Tuhan secara konsisten. Kita harus tetap mengarahkan fokus pada kasih yang semula agar fokus tidak berpindah kepada “sekedar menjalankan tugas dan kewajiban” dan akibatnya kehilangan kasih yang semula, kasih yang meluap-luap ketika kita pertama kali menerima Kristus. Menjaga keintiman dengan Tuhan akan membuat kasih mula-mula tetap ada dalam diri kita. Tekun berdoa, tidak meninggalkan saat teduh, meluangkan waktu-waktu khusus untuk berdiam di hadiratNya, memanjatkan pujian/penyembahan dengan penuh rasa syukur dan suka cita, semua itu akan membuat roh kita tetap menyala dalam kasih mula-mula. Agar pelayanan kita berkenan bagi Tuhan, marilah kita tetap menjaga bahwa apapun yang kita kerjakan adalah semata-mata demi kemuliaanNya, karena kita begitu mengasihiNya, bukan karena sekedar sebuah tuntutan semata.

Tetapkan prioritas yang benar agar semua yang kita lakukan berkenan dihadapan Tuhan

Ujian Kesabaran

Posted: 05 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Efesus 4:2

=======================

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

bersabar,Tuhan menghargai jerih payah, buah Roh Hari-hari ini saya merasa kesabaran saya tengah diuji habis-habisan. Begitu banyak hal yang mengesalkan disekeliling saya, baik dari situasi atau orang-orang yang mencari masalah. Masalah yang datang seolah beruntun membuat saya sulit mengontrol emosi. Sebelum semuanya berlanjut, puji Tuhan, Dia mengingatkan saya agar bisa bersabar. Memang kehidupan kita tidak bisa dilepaskan dari berbagai hal yang mengesalkan, dan kita akan berhadapan setiap hari dengan orang-orang yang sulit. Atau ada pula yang sudah berusaha untuk berubah, berusaha mengasihi dan sabar, terkadang bisa merasa frustasi karena merasa lingkungan atau orang-orang di sekitarnya tidak ada yang mendukung. Sebelum anda dan saya terkena stroke akibat darah tinggi, berhentilah segera untuk marah, dan mari kita buang jauh-jauh emosi dari diri kita.

Kemarin saya diingatkan Tuhan untuk mendasarkan apapun yang kita perbuat seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia. Tuhan menyediakan upah yang disediakan Tuhan bagi kita . Jika kita melakukannya demi mengharapkan balas jasa, perhatian atau komentar dari manusia, kita akan kecewa. Artinya, Tuhan begitu menghargai segala usaha dan jerih payah yang kita lakukan untukNya, meskipun mungkin usaha kita itu dianggap sepele oleh manusia.(Kolose 3:23-24) Hukum yang paling utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:37-40), dan kekesalan atau emosi bisa melenyapkan kasih dalam hidup kita. Tentu, saya setuju bahwa adalah sulit untuk tetap bersabar jika kita dalam tekanan yang luar biasa. Kemampuan manusia yang terbatas inipun sering tidak lagi bisa diandalkan dalam situasi berat. Namun dengarlah, bahwa kesabaran adalah salah satu dari buah roh. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:23). Roh Kudus lah yang memampukan kita untuk dapat mengontrol diri, menguasai dan mengendalikan emosi, tetap mengasihi dalam kondisi apapun, tetap berada dalam sukacita, sehingga kita mampu bersabar dalam situasi berat sekalipun.

Demikian pula pesan Paulus kepada jemaat Efesus yang saya angkat menjadi ayat bacaan hari ini. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Begitu besarnya tantangan yang dihadapi oleh jemaat di Efesus terhadap sekelilingnya, seperti juga mungkin besarnya tantangan yang kita hadapi setiap hari dari orang-orang dan situasi sulit, dan pesan Paulus pun relevan buat kita semua. Kesabaran hanya akan mampu diperkuat jika kita berada di dalam berbagai kesulitan. Disanalah kita bisa ditempa dan dibentuk, dan semakin kuat mengandalkan Roh Kudus agar menghasilkan buah yang matang. Yakobus mengingatkan hal yang sama kepada kita. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:2-4). Kita akan terlena dan gampang rubuh jika kita tidak dilatih, dan bentuk latihan itu adalah dengan berada di dalam situasi sulit. Saya mengajak teman-teman sekalian untuk bersabar dalam menghadapi kondisi sulit yang mungkin tengah anda hadapi seperti saya. Percayakan semuanya pada Roh Kudus agar kita mampu mengatasi semua kesulitan dan menjadi pemenang.

Kesabaran akan semakin kuat justru ketika kita berada kesulitan. Lewatilah ujian itu dan jadilah pemenang

Mewaspadai Kesombongan

Posted: 06 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 2:12
========================
“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.”

kesombongan,kekejian di mata AllahAda seekor ayam jago yang selalu mondar mandir di depan rumah saya. Ayam ini akan berkokok dengan gagahnya setiap subuh, dan kalau saya mendengar suaranya, tanpa melihat jam pun saya tahu bahwa pagi sudah datang. Saya tidak tahu pasti kenapa biasanya ayam berkokok menjelang pagi. Ada banyak alasan mulai dari yang puitis, ilmiah hingga mistis. Sebagian ayam jago pun tidak hanya berkokok di pagi hari, ada yang tengah malam, ada pula yang siang hari. Mungkin melindungi teritorinya dari ayam jago lain, mungkin untuk menarik perhatian ayam betina, mungkin dengan maksud bernyanyi seperti burung, mungkin karena adanya perubahan suhu, dan sebagainya. Biarlah itu kita serahkan pada ahli biologi untuk menjawabnya. Tapi yang jelas, diiringi suara berkokok atau tidak, pagi hari akan menggantikan malam. Alangkah bodohnya jika ada ayam yang mengira bahwa suara kokoknya-lah yang menyebabkan matahari terbit di pagi hari. Kenapa saya mengatakan hal ini? Karena ada banyak manusia yang bersikap atau berpikir seperti itu, dan itu adalah salah satu bentuk kesombongan.

“untung ada saya disana..”, “bayangkan jika saya tidak berada disana, apa jadinya?”, “hanya saya yang sanggup..”, dan banyak “saya” lainnya. Ini sering kita dengar, dan mungkin saja pernah kita ucapkan. Saya teringat akan sebuah kutipan yang pernah dikatakan oleh salah seorang ilmuwan ternama: “There are only two kinds of men: the righteous who think they are sinners and the sinners who think they are righteous.” Hanya ada dua jenis manusia, orang benar yang merasa mereka berdosa, dan orang berdosa yang merasa dirinya benar. Tipe pertama bukanlah masalah, karena sudah pada tempatnya kita sadar bahwa kita adalah orang-orang berdosa. Tipe kedua jelas merupakan sebuah bahaya. Mereka di kelompok kedua adalah orang yang selalu merasa benar, mencari pembenaran lewat apapun, memutar balikkan segalanya demi pembenaran pribadi, menilai diri lebih dari orang lain, yang dengan singkat bisa kita sebut sebagai kesombongan. Kesombongan cenderung ada di dalam diri setiap manusia dan setiap saat menggoda untuk masuk kesana. Tindakan-tindakan yang merasa paling benar ini dapat menggiring orang untuk bertindak lebih jauh, mulai dari merendahkan orang lain sampai tindakan anarkis yang merugikan. Kesombongan bisa membuat manusia menutup hati terhadap Allah, merasa diri mereka sudah sangat kuat/pintar sehingga tidak lagi membutuhkan Tuhan dalam hidup mereka. Bahkan bisa menganggap bahwa mereka sudah sama dengan Allah.

Itu sebabnya Tuhan sangat menentang kesombongan. Salah satunya dapat dibaca pada ayat hari ini. Dalam Yakobus 4:6 disebutkan bahwa Allah menentang orang yang congkak, tapi mengasihi orang yang rendah hati. Ada banyak lagi ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan terhadap kesombongan. Dalam Amsal malah lebih keras lagi, kesombongan dianggap merupakan sebuah kekejian bagi Allah dan mereka ini tidak akan luput dari hukuman. (Amsal 16:5). Tidak saja merupakan kekejian, kesombongan juga bisa mendatangkan kehancuran. Amsal 16:18 berkata: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Hikmat Salomo menyatakan bahwa kecongkakan atau kesombongan adalah sikap yang mendahului dosa-dosa lain yang akan berujung pada sebuah kejatuhan atau kehancuran. Alkitab mencatat banyak kisah kejatuhan akibat dosa kesombongan ini, misalnya pada kisah runtuhnya menara babel (Kejadian 11:1-9), raja Nebukadnezar yang dihukum menjadi seperti lembu (Daniel 4:1-37), atau lihat kisah raja Herodes yang akhirnya ditampar malaikat dan mati dimakan cacing-cacing (Kisah Para Rasul 12:20-23).

Ayat bacaan kemarin bisa kita imani untuk mencegah masuknya dosa kesombongan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Lebih jauh bisa kita baca pada Filipi 2:3 bahwa kita jangan mencari pujian yang sia-sia demi kepentingan diri sendiri, tapi hendaklah rendah hati. Kita hanyalah berasal dari debu (Mazmur 103:14), tidak ada apapun yang bisa kita banggakan, karena semua yang kita miliki berasal dari Tuhan (Ulangan 8:14-18). Marilah tetap bersikap rendah hati dengan disertai rasa syukur atas segala karunia yang telah diberikan Tuhan pada kita.

Adalah kasih Allah dan bukan kokok ayam yang mendatangkan pagi

Darah Anak Domba

Posted: 07 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Wahyu 12:11
========================
“Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.”

darah Anak Domba, kuasa darah YesusMasih layakkah kita takut akan kuasa iblis dalam hidup kita? Ini pertanyaan yang gampang-gampang sulit. Pertanyaan ini pernah saya tanyakan pada seorang teman, dan ia menjawab bahwa ia takut menjadi “terlalu yakin” jika mengatakan bahwa iblis tidak lagi punya kuasa atas hidupnya, sehingga ia bisa-bisa kurang waspada dan kemudian terjatuh dalam jebakan. Di sisi lain, keyakinan kita akan Kristus tentu menegaskan bahwa kita tidak perlu takut. Tadi pagi saya diingatkan Tuhan tentang peperangan melawan iblis. Apa yang saya dengar adalah sederhana: iblis sudah dikalahkan oleh Kristus di atas kayu salib. Ya, kita masih berperang melawan kuasa-kuasa kegelapan dan roh-roh jahat, tapi peperangan kita bukanlah bentuk peperangan yang menentukan siapa yang menang atau siapa yang kalah, karena Kristus sudah mengalahkan iblis. Yang kita perangi adalah usaha dari iblis untuk mempengaruhi kita, memanipulasi kita dan berusaha meyakinkan kita kalau mereka seolah-olah masih punya power atas hidup kita. Dan lihatlah betapa seringnya manusia masih dikalahkan oleh tuduhan-tuduhan iblis.

Ingatkah anda pada sebuah lagu “Oleh Darah Anak Domba”? Lagu ini diambil dari Wahyu 12:11 yang dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa iblis dikalahkan dan kuasanya dihancurkan oleh darah Anak Domba dan kesaksian kita. Mengapa darah? Mari kita baca Imamat 17:11. “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Bagaimana dengan kuasa darah Yesus? Darah Yesus memiliki kuasa yang hebat.
Pertama, darah Yesus mempunyai berbicara mengenai konsep pendamaian lewat penebusan. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7). Upah dari dosa adalah maut yang membuat kita terpisah dari Allah yang Maha Kudus, dan dengan sendirinya berarti kematian. Tuhan Yesus membayar lunas dengan darahNya sendiri sehingga terjadi perdamaian antara manusia dan Allah. Hubungan kita dengan Allah pulih lewat darah Yesus.
Kedua, darah Yesus mempunyai kuasa menjangkau. “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.” (Efesus 2:13) Begitu dalam dan lebarnya jurang antara manusia dengan Allah sejak manusia jatuh dalam dosa sehingga tidak bisa terseberangi baik lewat perbuatan baik, amal, bahkan pengorbanan kita sekalipun. Tapi kemudian Yesus datang sebagai jembatan, mencurahkan darahNya untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Ketiga, darah Yesus memiliki kuasa untuk menyucikan. “..dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Siapa lagi yang mampu menyucikan kita dari segala dosa selain darah Anak Allah?

Darah Anak Domba, darah Yesus telah membayar lunas semua hutang dosa di hadapan Allah dan karenanya kita semua bisa selamat dengan hubungan yang dipulihkan. Dengan darahNya pula kuasa iblis dihancurkan . Oleh sebab itu lewat kesaksian-kesaksian kita ini kita akan selalu membuka tabir tipu daya iblis. Setiap kali iblis berusaha mempengaruhi dan menjebak, ingatlah bahwa dia tidak punya kuasa lagi terhadap kita, karena mereka telah dikalahkan oleh Darah Anak Domba.

Kita memperoleh hidup yang berkemenangan dengan hubungan yang dipulihkan lewat darah yang dicurahkan Anak Domba. Thank You Jesus, we love you so..

Kontradiksi Rut dan Naomi

Posted: 08 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Rut 1:21
=====================
“Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”

rut, naomi, menyikapi permasalahan hidupBagaimana cara kita menyikapi permasalahan hidup? Terkadang sulit bagi kita untuk melihat sesuatu yang positif dari sebuah permasalahan. Banyak diantara kita yang tidak sabar dan segera mencari alternatif penyelesaian yang sayangnya, seringkali tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Mari kita lihat kisah keluarga Elimelekh dan Naomi.

Pada suatu masa terjadi kelaparan di tanah Israel. Menyikapi itu, maka Elimelekh, Naomi dan dua anaknya pun memutuskan untuk pindah ke daerah Moab. Ini merupakan tindakan yang salah. Tuhan telah memberikan tanah perjanjian kepada bangsa Israel, artinya disana ada penyertaan Tuhan. Mereka seharusnya percaya bahwa mereka hidup di tanah yang dijanjikan Tuhan sendiri. Mereka tidak seharusnya buru-buru pergi karena jika mereka berpegang teguh pada Tuhan, tentu mereka seharusnya yakin bahwa Tuhan tidak akan membiarkan mereka merana. Namun mereka memilih pergi dan masuk ke negeri penyembah berhala. Kedua anak mereka kemudian menikah dengan wanita setempat, Rut dan Orpa. Lalu terjadilah bencana dalam keluarga mereka. Suami dan kedua anak Naomi meninggal, dan yang tinggal hanyalah kedua menantunya.

Adalah Rut yang tetap setia mengikuti Naomi. Katanya: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17). Ini sebuah kebalikan dari sikap Naomi. Naomi tidak sabar dan memilih untuk meninggalkan tanah yang dijanjikan Tuhan agar terhindar dari kelaparan, sedangkan Rut memilih tetap setia meskipun harus ikut mertuanya yang sudah kehilangan segala-galanya, bahkan mengakui bahwa Allahmu adalah Allahku. Dia siap untuk meninggalkan kehidupan yang menyenangkan dan rela menderita semata-mata karena kesetiaannya kepada mertua dan juga Allah yang sekarang ia sembah. Bayangkan, secara logika manusia, seharusnya Rut tahu bahwa akan sulit baginya untuk mencari nafkah dan kembali membangun keluarga jika ia berada di tanah dimana suku bangsanya tidak dihargai. Tapi Rut mengutamakan kesetiaan dan kasihnya baik pada mertua maupun Allah dan memilih untuk hidup taat meskipun penderitaan membayang di depan. Ini sebuah kontradiksi yang nyata dengan cara pandang Naomi.

Ketika mereka tiba di Betlehem, kembali Naomi menunjukkan sikap negatif. “Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (ay 20-21). Dia hanya melihat dari satu sisi, yaitu kehilangan suami dan kedua anaknya, dan akibat kesalahannya dulu meninggalkan tanah Israel, maka Tuhan mendatangkan malapetaka atasnya. Yang tidak dia sadari adalah, bahwa Naomi sama sekali tidak pulang dengan tangan yang kosong. Ada Rut disampingnya, seorang menantu setia yang bertobat, yang siap mengurusnya sampai akhir hayatnya. Bukankah itu merupakan berkat luar biasa? Disini kita melihat bahwa dalam keadaan paling gelap sekalipun, ada secercah sinar harapan dari Tuhan bagi umatNya. Dan lewat Rut lah nantinya Naomi dipulihkan. Bahkan, dari keturunannya Daud lahir, dan kemudian Yesus Kristus. Naomi sama sekali tidak pulang dengan tangan kosong!

Dari kisah ini kita melihat dua wanita dengan sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi permasalahan hidup. Kesetiaan dan ketaatan Rut tidak hanya menyelamatkannya namun juga menyelamatkan Naomi. Hal ini juga pernah diingatkan Yesus pada kita, bahwa kita tidak hanya hidup dari roti (roti secara luas mencakup segala kebutuhan utama kita dalam hidup seperti makanan, pakaian dan sebagainya), tapi juga hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. (Mat 4:4). Ketika beban masalah terasa berat menimpa kita, jangan melarikan diri, tapi bersabarlah dan taruhlah kepercayaan penuh pada Allah. Hal ini juga pernah dialami Paulus dalam pelayanannya. Mereka mengalami berbagai penderitaan dan beban yang begitu besar yang sewaktu-waktu bia membuatnya putus asa bahkan rasanya seperti dihukum mati, namun dia tidak putus pengharapan dan selalu menggantungkan kepercayaan bukan pada diri mereka sendiri melainkan pada Allah. (2 Korintus 1:8-9). Sekalipun saat ini penderitaan tengah kita alami, percayalah bahwa anda dan saya tetap terpelihara didalam kekuatan Allah dalam perjalanan hidup kita seperti yang diingatkan Petrus dalam 1 Petrus 1:5. Karena itu, mari kita percayakan seluruh hidup kita pada Tuhan yang akan selalu setia memelihara kita, bahkan dari hal yang paling berat sekalipun.

Penyertaan Tuhan akan membantu kita melewati berbagai kesulitan

Situasi Baru

Posted: 09 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yosua 3:4
======================
“…maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.”

situasi baru, suasana asing, Tuhan menuntun jalanTempat kursus dimana saya mengajar memiliki beberapa kelas yang berbeda. Ada yang setahun, ada yang 6 bulan, ada pula kelas workshop intensif yang hanya berlangsung sekitar 1 bulan, bahkan terkadang hanya dalam satu minggu atau beberapa hari. Karena itu saya pun setiap saat bertemu dengan siswa-siswa baru dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak hanya yang baru tamat SMU, tapi juga ada yang sudah bekerja, ada dokter, ibu rumah tangga, bahkan penyanyi dangdut pun pernah menjadi murid saya. Penampilan mereka pun berbeda-beda. Ada yang rapi, ada yang santai, tapi ada pula yang seperti preman. Kemampuan mereka juga berbeda, begitu pula dengan daya tangkap dan daya serap mereka maupun tingkat keseriusan mereka terhadap pelajaran. Seringkali dalam satu kelas yang sama, saya menghadapi berbagai keragaman itu, sehingga saya harus pintar-pintar menentukan ritme belajar yang paling tepat untuk mengakomodasi seisi kelas. Jika terlalu cepat, nanti yang daya tangkapnya lemah akan ketinggalan, sebaliknya jika terlalu lambat, yang daya tangkapnya baik bisa merasa bosan. Pertanyaan dan kasus yang mereka ajukan pun beragam dari hari ke hari. Bahkan terkadang saya mendapat kelas yang belum pernah saya ajarkan sebelumnya. Setiap hari tantangan baru datang, dimana sebagian tidak bisa saya prediksi dan persiapkan sebelumnya.

Dalam hidup ini kita seringkali berhadapan dengan sebuah situasi baru yang belum pernah kita alami sebelumnya. Atau mungkin kita masuk ke sebuah lingkungan baru dimana kita belum pernah datangi, sebuah teritori atau zona yang masih asing bagi kita. Adalah wajar jika terkadang kita merasa was-was jika berada atau menghadapi situasi dan tempat yang masih asing bagi kita. Mari kita lihat apa yang tertulis pada kitab Yosua. Bangsa Israel diberitahukan untuk mengikuti tabut perjanjian dan memperhatikannya baik-baik karena mereka belum pernah melalui jalan itu sebelumnya. (Yosua 3:3-4). Demikian pula kita yang akan terus berhadapan dengan jalan-jalan yang sama sekali baru dan asing bagi kita. Adalah sangat perlu untuk mengikuti Tuhan dengan cermat, mentaatiNya dan peka untuk melihat arah yang ditunjukkanNya, baik ketika hal tersebut mudah untuk dilakukan, tapi juga ketika hal tersebut bukan merupakan hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan. Tuhan mempunyai alasan tertentu untuk kebaikan kita dengan caraNya, dan kita bergerak memasuki tujuan dan arah tersebut sesuai kehendak Tuhan. Kita lihat bahwa perjalanan bangsa Israel dipimpin langsung oleh Tuhan. Tabut perjanjian berbicara mengenai keberadaan Allah dan kepemimpinan Allah dalam perjalanan mereka. Betapa bahagianya jika kitapun menyadari bahwa Tuhan selalu berada di dekat kita, memimpin jalan-jalan kita melewati situasi atau suasana baru.

Allah tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Dengar apa kata Tuhan: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Mazmur pun mengingatkan tentang Tuhan menuntun hidup kita seperti seorang gembala yang baik. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:1-3). Dan ada banyak lagi janji penyertaan Tuhan dalam setiap situasi yang kita hadapi.

Menghadapi berbagai situasi baru dalam pekerjaan mengajar saya, saya selalu merasakan kehadiran Tuhan menuntun saya. Seringkali saya diberikan hikmat untuk mengajarkan ini dan itu, terkadang saya harus mengganti apa yang sudah saya persiapkan dengan apa yang Dia inginkan untuk saya sampaikan, dan saya sudah sering membuktikan bahwa penyertaan Tuhan dan ketaatan saya untuk mengikuti tuntunanNya selalu memberikan yang terbaik, bukan hanya pada saya sebagai pengajar tapi juga bagi siswa-siswa yang saya bimbing. Saya percaya dalam setiap sisi kehidupan pun Tuhan punya rencana dan arah demi kebaikan kita bersama. Jika anda berhadapan dengan situasi baru, suasana atau tempat baru yang mungkin masih asing, berpeganglah pada Tuhan, dan biarkan Tuhan membimbing jalan anda.

Tuhan selalu membimbing anak-anakNya ke arah yang benar

Menjaga Nama Baik

Posted: 10 Nov 2008 11:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 22:1
=======================
“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”

menjaga nama baik, anak AllahMenjaga nama baik keluarga tentu merupakan hal yang penting. Orang tua yang sudah dengan susah payah membesarkan kita tentu berharap bahwa anaknya akan berhasil menjadi orang yang berguna. Betapa bangganya orang tua jika anak-anaknya mampu hidup dengan baik dan benar di masyarakat, menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, mereka akan merasa bahwa jerih payah mereka tidak sia-sia. Sebaliknya betapa perih hati mereka, jika anak-anaknya berbuat hal-hal yang tidak terpuji. Seringkali konsekuensi dari perilaku yang tidak benar tidak hanya harus ditanggung si pelaku, tapi lebih luas lagi juga akan mengenai keluarga dan orang tuanya. Tidak hanya dalam keluarga, tapi di dalam pekerjaan pun orang akan dituntut untuk menjaga nama baik dan martabat tempatnya bekerja. Sering kita lihat bahwa satu-dua orang melakukan tindakan keliru, maka instansi/lembaga/perusahaan atau badan di mana ia bekerja akan mendapat cap negatif dari masyarakat.

Pentingnya menjaga nama baik itu pun disadari oleh Salomo. Ia berkata bahwa “nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Sekaya apapun seseorang, namun jika ia tidak disukai orang, semuanya tidak akan berarti. Banyak orang lupa menjaga nama baik demi mengejar harta, dan pada akhirnya penyesalan lah yang mereka dapati. Ketika seorang anggota DPR tertangkap karena korupsi, keluarga besarnya mengecam dan berkata bahwa perbuatannya itu tidak saja merugikan dirinya, tapi juga memalukan dan mencemarkan nama baik keluarga besarnya.

Satu hal yang harus kita ingat, selain menjadi anak dari orang tua kita, dan menyandang nama keluarga, kita juga menyandang status sebagai anak Allah. Allah mengasihi kita sebagai anak-anakNya, Dia telah memberikan begitu banyak berkat dan karunia agar kita mampu untuk hidup ditengah-tengah dunia yang sulit ini, dan berbagai kemampuan untuk hidup benar. Yohanes menyadari benar akan hal itu. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah..” (1 Yoh 3:1). Karena itu sebagai anak Bapa, tentu kita pun harus menjaga nama baikNya. Bayangkan apa yang terjadi jika kita mengaku sebagai anak Tuhan tapi kelakuan kita jauh dari firman-Nya, jauh dari mencerminkan pribadiNya, maka kita akan menjadi batu sandungan bagi orang disekeliling kita. Secara tidak langsung kita menghalangi orang untuk mengenal pribadi Tuhan yang benar. Sebaliknya, jika kita bisa menjadi teladan, terang dan garam bagi orang lain, tentu disana nama Tuhan akan dipermuliakan. Dan itulah yang harus kita lakukan, sebagai orang yang menyandang predikat sebagai anak Tuhan.

Dalam satu dari 10 Firman Tuhan yang diturunkan pada Musa, Tuhan mengingatkan kita untuk menghormati ayah dan ibu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu. (Ulangan 5:16). Di mata Tuhan, menjaga kehormatan orang tua sangatlah penting. Dengan demikian, sangat penting juga bagi kita untuk menjaga kekudusan dan hidup benar sesuai firman Tuhan untuk menjaga nama baik Bapa di surga. Kita harus senantiasa menjaga pikiran, perkataan dan perbuatan kita agar kita tidak mencemarkan nama Tuhan dan memberi pemahaman yang salah tentang bagaimana Kristus mengasihi manusia. Janganlah kita menjadi batu sandungan yang malah semakin menjauhkan orang lain untuk mengenal Kristus. Tuhan Yesus pun mengingatkan hal serupa, bahwa “pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik”. (Matius 7:17). Sebagai anak Allah, haruslah kita mencerminkan pribadi Allah sesungguhnya. Peribahasa “like father like son” harus kita jadikan sebuah dasar yang mampu menggambarkan Allah dalam kehidupan kita. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)

Sebagai anak Allah kita harus menjaga nama baik Bapa dan memuliakanNya dalam kehidupan sehari-hari

Meningkatkan Kapasitas

Posted: 11 Nov 2008 11:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 25:15
=========================
“Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”

meningkatkan kapasitas, renungan harianPerkenalan saya dengan komputer sudah terbilang cukup lama. Saya masih sempat menggunakan disket besar tipis berwarna hitam yang cuma bisa diisi sekitar 400 kb. Kemudian muncul disket kecil yang kapasitasnya 1.4 mb. Teknologi kemudian berkembang menjadi flash disk yang kapasitasnya terus semakin besar. Hard disk pun demikian, sekarang sudah mencapai ukuran terra bytes. Semakin besar kapasitasnya, semakin banyak pula yang bisa kita simpan disana. Jika kita membeli disk berkapasitas besar, rasanya sayang jika hanya diisi sedikit sekali. Semakin banyak yang kita simpan di dalamnya maka disk itu pun akan semakin tinggi nilai kegunaannya bagi kebutuhan kita. Teknologi mengembangkan ukuran kapasitas disk sehingga makin besar dan makin tinggi nilai gunanya.

Dalam perumpamaan tentang Talenta, kita melihat bahwa Tuhan mempercayakan kita tanggung jawab sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya..” (Matius 25:15). Tuhan bukan sedang pilih kasih, ada yang diberi sedikit, ada yang banyak, tapi perhatikan bagian kalimat “menurut kesanggupannya”, atau dengan kata lain sesuai kapasitas kita. Artinya, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan talenta besar pada kapasitas kecil. Jika diilustrasikan dengan disket atau disk diatas, bisakah kita mengisi disk tersebut melebihi batas kapasitasnya? Kalau begitu, kita harus memiliki kapasitas yang memadai agar mendapat kepercayaan untuk menerima sebuah tanggung jawab dari Tuhan. Bukan hanya kapasitas mengenai kemampuan saja, seperti keahlian, bakat-bakat tertentu, tapi juga kapasitas yang berhubungan dengan karakter seperti jujur, sabar, tidak sombong, mampu bekerja sama dan lain-lain. Ayat bacaan diatas berbicara mengenai panggilan untuk mengembangkan kapasitas kita lebih lagi, agar Tuhan dapat mempercayakan hal-hal yang lebih besar pula bagi kita.

Mari kita lihat Ezra. Ezra dikatakan sebagai seorang ahli kitab dan mahir dalam Taurat Musa (Ezra 7:6). Tapi meski demikian, dia tidak berhenti sampai disitu. Selanjutnya dikatakan bahwa “Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (ay 10). Fakta ini menunjukkan bahwa Ezra terus meningkatkan kapasitasnya, baik kemampuan (meneliti Taurat Tuhan) maupun karakter (melakukannya). Untuk memperoleh hal-hal yang lebih besar dari Tuhan, kita harus meningkatkan kapasitas kita terlebih dahulu. Jika kita tidak memperhitungkan hal ini, maka kitapun dapat kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang besar dalam hidup kita. Oleh karena itu, mari kita sama-sama terus bertumbuh baik dalam kemampuan maupun karakter sesuai firman Tuhan, memperbesar kapasitas kita sehingga kita akan siap ketika Tuhan mempercayakan sesuatu yang besar dalam hidup kita serta mampu melipatgandakannya.

Teruslah mengasah dan mengembangkan kapasitas agar siap menerima tanggung jawab yang lebih besar

Depresi Dalam Kegelapan

Posted: 12 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kejadian 1:3
=========================
“Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”

depresi, kegelapan, bunuh diri, terang duniaHari ini saya kedatangan tamu, rombongan sepupu dan keponakan saya. Ada sebuah fakta yang cukup mengagetkan yang saya dengar dari salah seorang sepupu saya yang baru kembali dari kunjungan kerja sebulan di Norwegia. Dia bercerita bahwa ada sebuah kota yang ia kunjungi bernama Tromso. Disana perbedaan terang dan gelap bisa begitu ekstrim. Ada banyak hari dimana matahari sama sekali tidak muncul, dan sepanjang hari yang ada hanyalah kekelaman malam. Yang mengejutkan saya adalah fakta berikut: bahwa tingkat kematian akibat bunuh diri begitu tinggi disana. Apa yang menyebabkan hal tersebut? Kota itu dilanda kemiskinan tak berujung? Tidak. Banyak orang tertindas? Tidak. Orang tidak punya pekerjaan dan makanan? Tidak. Apa yang menyebabkan tingginya angka kematian akibat bunuh diri disana ternyata adalah depresi. Depresi ini timbul akibat terus menerus berada dalam kegelapan. Ketika itulah saya tiba-tiba diingatkan akan ayat mengenai penciptaan. Tuhan menciptakan terang, maka terang itu jadi.

Ternyata apa yang dikandung ayat ini implikasinya luas, bukan hanya menyangkut kegelapan rohani dan kegelapan terhimpit masalah kehidupan, tapi ternyata kegelapan pun punya dampak langsung dalam kehidupan nyata. Saya sebelumnya tidak menyangka bahwa orang yang terus menerus berada dalam kegelapan ternyata bisa mengakibatkan depresi dalam hidupnya, walaupun mungkin mereka tidak sedang berada dalam kesulitan hidup. Maka ayat di atas pun terasa sangat menggambarkan pentingnya terang di mata Tuhan. Itu adalah salah satu bentuk kasih tak terhingga Tuhan bagi kita yang dikasihiNya: Dia menganugrahkan terang sebagai berkat luar biasa bagi kita. Haleluya!

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia pun berulang kali menyatakan makna penting “terang” bagi kita. Lihatlah bahwa salah satu tujuan kedatangan Yesus ke dunia adalah sebagai terang yang menyinari kehidupan kita. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup “ (Yohanes 8:12). Atau lihatlah ayat ini: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya “ (Yohanes 1:4-5). Kita diingatkan untuk terus berjaga-jaga dengan pelita yang tetap menyala. (Lukas 12:35). Betapa Tuhan menyadari bahwa banyak manusia yang terjatuh dalam kegelapan, dan bagaimana bahayanya sebuah kegelapan itu, sehingga Kristus berpesan agar kita mampu menjadi terang dan garam dunia. (Matius 5:13-14). Yesus pun kemudian mengingatkan kita bahwa selama kita percaya pada terang dan terang itu ada pada kita, kita pun menjadi anak-anak terang. (Yohanes 12:36).

Ada saat dimana kita berada dalam kegelapan dan pada saat tertentu seolah-olah sulit melihat setitik cahayapun. Ada kalanya hidup kita akan bertemu dengan kegelapan, baik kegelapan secara rohani, atau ketika kita berjalan dalam kegelapan, bahkan dikala kita dihadapkan seperti contoh kota Tromso diatas, kegelapan yang terus menerus menyelubungi bumi. Ketika hal tersebut kita alami, jangan takut, jangan biarkan depresi menyerang kita, dan jangan pernah putus asa. Ingatlah bahwa bagi Tuhan, kegelapan, kehampaan atau kemustahilan hanyalah lahan subur bagiNya untuk membuat suatu keajaiban. Selalu ada terang dalam diri kita selama kita percaya pada Kristus, Sang Terang Dunia. Dan kegelapan tidak akan bisa mengalahkan Terang. (Yohanes 1:5). Berpeganglah teguh dalam iman akan Kristus, dan biarlah cahaya terangNya menyinari diri kita dan memancar kepada orang lain di sekitar kita.

Gelap hanya akan bisa menang jika terang disingkirkan. Tetap teguh dalam iman dan pengharapan, maka terang Kristus akan tetap ada dalam diri anda

Iri Hati (1) : Jangan Sepelekan Perasaan Iri

Posted: 13 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

iri hati, keinginan dagingMalam ini saya teringat sebuah pengalaman lumayan seru yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu istri saya masih menempati sebuah kamar kos, dan ketika ia pulang, ternyata ia mendapati seekor ular di depan kamarnya. Saya pun datang kesana, dan teman-teman sekosnya ikut heboh. Tidak ada yang berani memastikan apakah ular itu berbisa atau tidak, sehingga semuanya terlihat bingung bagaimana mengatasinya. Untunglah ada seorang teman yang berani, ia mengambil tongkat dan secara perlahan memindahkan ular ke dalam karung. Untunglah ular itu masih di depan kamar. Bagaimana jika sempat masuk dan bersembunyi di sudut-sudut ruangan? Tentu tidak ada yang menginginkan ada ular dari spesies yang tidak jelas berbisa atau tidak, hadir di dalam rumahnya. Orang akan merasa takut jika ada benda atau mahluk hidup yang punya potensi membahayakan masuk ke dalam rumahnya, artinya masuk ke dalam kehidupannya. Namun banyak yang lupa bahwa ada pula dosa yang mungkin tidak terlihat nyata sebagai sebuah dosa, tapi bisa diam-diam menyelinap ke dalam hidup dan kemudian bisa menyerang dan akibatnya mematikan. Yang saya maksud adalah dosa iri hati.

Iri hati adalah sebuah perasaan tidak puas yang timbul akibat keuntungan atau kesuksesan orang lain. Iri hati membuat orang merasa tidak nyaman ketika ada orang lain yang lebih darinya. Hal ini rasanya sepele, mungkin kita alami sehari-hari, mungkin tanpa sadar kita rasakan, seolah-olah hanyalah sebuah ungkapan kekesalan sesaat yang alamiah, manusiawi dan tidak berbahaya. Kita cenderung memaklumi perasaan iri hati sebagai sesuatu yang wajar, Tapi berhati-hatilah. Iri hati adalah racun dari iblis yang mampu mengubah kasih menjadi kebencian, menghilangkan kasih dan akibatnya melumpuhkan iman dalam kehidupan kita.

Ayat bacaan hari ini berkata “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Artinya iri hati akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Perbuatan jahat apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang terbuka ini? Banyak sekali, mulai dari “sekedar” cemburu, depresi hingga pembunuhan. Pembunuhan adalah akibat fatal yang diawali dari iri hati yang pertama kali dicatat. Kita lihat apa yang terjadi ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya “kalah”. Hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. Apa kata Tuhan melihat Kain? Mari kita lihat ayat 7. Ini kata Tuhan: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tuhan tidak berkata, “Kain, itu adalah hal yang wajar, santai saja..” Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: “Kain, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Kain menyerah pada roh jahat, dan berawal dari iri hati, ia membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah, akibat dan konsekuensi yang timbul berawal dari iri hati yang dicatat alkitab.

Iri hati jelas adalah masalah yang serius, yang harus kita singkirkan sepenuhnya, secepatnya , tanpa kompromi. Mari kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap “lebih serius” seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sadarilah betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena jaman ini akan dibawa pada kesudahannya. Paulus mengatakan: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:12-13). Yes, it’s time to wake up. Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa kegelapan pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita lewat hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14). Mari kita perlakukan sikap iri hati yang hendak masuk ke dalam diri kita dengan tindakan yang sama seperti memperlakukan seekor ular kobra yang hendak masuk ke rumah kita.

Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun

Iri Hati (2) : Mencabut Kabel Iman

Posted: 14 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:11-12
==============================
“Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.”

mencabut kabel, iri hati, memutus kasihApa yang terjadi jika seseorang mencabut kabel dari stop kontak ketika anda sedang menonton televisi? Televisinya akan mati bukan? Sama halnya seperti peralatan elektronik lainnya, jika kabel dicabut, aliran listrik yang mengalir akan terputus dan akibatnya peralatan elektronik yang menggunakan listrik sebagai sumber dayanya tidak akan dapat berfungsi. Lewat ilustrasi singkat ini saya ingin menyambung renungan kemarin.

Kemarin kita telah melihat bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Iri hati bukanlah bagian dari sifat rohani orang percaya. Itu adalah sebuah perasaan yang iblis coba tekankan pada diri kita, bagaikan umpan yang digantung di depan mata, menunggu kita menggigitnya. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sedangkan iri hati adalah bagian keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Saya mengilustrasikannya sebagai kabel yang tercabut dari stop kontak. Selanjutnya apa yang terjadi? Begitu kasih terganggu, iman kita pun bisa berhenti bekerja, karena “iman bekerja oleh kasih” (ay 6).

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan. Ketika kita dikuasai rasa iri hati, selalu merasa diri lebih baik dan lebih benar dari orang lain, kita tidak menyadari bahwa “kabel iman” kita telah tercabut, dan akibatnya kita tidak dapat berjalan bersama berkat-berkat dari Tuhan. Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Kemudian Yohanes melanjutkan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay 14), dan “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati untuk masuk ke dalam kehidupan kita sedini mungkin. Kita harus berhenti membiarkan iblis mencabut kabel iman kita. Sudah waktunya kita untuk memulai hidup di dalam terang. Waktu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya sudah dekat. Dan ketika Dia datang, tentu kita tidak ingin Dia menemukan kita dalam keadaan rohani yang sakit dan lemah, menjalani hidup dalam kondisi diracuni iri hati dan segala bentuk keinginan daging lainnya. Saya terus berdoa, semoga ketika Dia datang, Dia akan menemukan kita semua berdiri gagah di dalam Roh, penuh kasih, iman dan pengharapan. Saya ingin kita Dia dapati hidup di dalam kemenangan yang telah Dia bayar lunas di atas kayu salib. Pastikan kabel iman kita senantiasa terpasang dengan baik.

Iri hati mengganggu aliran kasih dan mencabut kabel iman. Katakan tidak pada iri hati!

Berdoalah Dengan Sederhana

Posted: 15 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 6:7
=======================
“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”

berdoa dengan sederhanaAda seorang teman yang bertanya, “bagaimana sih cara berdoa”? Dia mengaku jarang berdoa karena tidak pandai merangkai kata. “saya bukan pengarang, saya tidak puitis, untuk menyampaikan perasaan lewat kata-kata sulitnya setengah mati”, kira-kira begitu keluhannya. Begitulah, banyak orang yang berpikir bahwa jika di dunia ini seringkali dibutuhkan kepandaian merangkai kata penuh bunga-bunga untuk menghadapi orang penting, apalagi jika mereka harus berkata-kata pada Tuhan, Pemilik seluruh bumi dan isinya. Saya jadi ingat ada seorang teman ketika saya masih duduk di bangku SMA, setiap harinya dia mengkonsep dulu doanya di atas kertas. “biar tidak ada yang ketinggalan dan kata-katanya bagus”, itu selalu menjadi alasannya. Belum lagi kalau kita tengah berada dalam pergumulan berat, terkadang kata-kata saja pun sulit untuk keluar dari mulut kita, apalagi jika ditengah beban itu kita harus berpikir untuk merangkai kata-kata dengan indah atau mencari kosa kata puitis yang sulit-sulit. Repot kan? Ada juga yang terus menerus mengulang-ulang kata-kata dalam doanya, seolah-olah terus mengingatkan Tuhan supaya tidak sampai lupa. Atau ada juga yang menjadi minder karena membandingkan doanya dengan doa pendeta yang biasanya mengutip firman Tuhan dan tersusun dengan rapi. Padahal semua tidaklah harus demikian, tidak dibutuhkan otak yang puitis agar Tuhan mendengar doa kita, Tuhan tidak pernah menuntut kerumitan susunan kata, atau harus pakai ejaan sesuai kaidah bahasa yang benar.

Tuhan Yesus sendiri mengajarkan bahwa doa jangan sampai bertele-tele. Tuhan tidak pernah menilai doa kita lewat keindahan kata atau jumlah pemakaian suku kata dalam sekali doa. Mengapa demikian? “..karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Matius 6:8). Tuhan pun berfirman “manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. “(1 Samuel 16:7). Tuhan tidak mementingkan apa yang dilihat manusia, tetapi Dia melihat hati kita. Kerendahan hati, penyerahan diri total, kesederhanaan dan tampil jujur apa adanya, itulah yang penting. Bagi yang ingin bertobat, akui segala kesalahan dengan jujur. Bagi yang punya beban, katakan beban kita dan mohonlah pada Tuhan dengan kesederhanaan dan kejujuran untuk menguatkan kita. Jangan lupa menyampaikan ucapan syukur, baik lewat kata-kata, nyanyian pujian maupun penyembahan. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Dan yang penting, berdoalah dalam nama Yesus. “…supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16) ; “..dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (ay 14:13-14). Mengapa demikian? Karena Yesuslah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui Dia (ay 14:6). Bagi yang bisa berbahasa Roh silahkan berbahasa Roh, karena Roh bisa membantu kita untuk menyampaikan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26). Yang penting, carilah tempat tenang dimana kita tidak terganggu dengan hiruk pikuk di sekitar kita, datanglah kepada Bapa dengan segala kerendahan hati dan kejujuran, berdoa dengan iman, berikan ucapan syukur sebagai persembahan terbaik bagi Dia, dan lakukan dalam nama Yesus.

Just be simple, just be yourself. Tidak perlu berpikir terlalu rumit, tidak perlu bertele-tele, karena Tuhan melihat hati kita. Pengkotbah juga mengingatkan kita: “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkotbah 5:1). Doa bukanlah kompetisi merangkai kata, menyusun kata puitis dan dramatis, dan bukan pula sebuah hafalan. Doa pun bukanlah sebuah formalitas atau sekedar ritual, seremonial, sementara hati seseorang sebenarnya tidak tertuju padaNya. yang Tuhan sungguh mengenal setiap ciptaanNya. Dia tahu apa yang kita alami dan rasakan, Dia tahu hati kita. Karena itu, berdoalah dengan cara seperti adanya diri kita sendiri, tidak perlu meniru gaya orang lain, apalagi pura-pura. Doa adalah sebuah anugrah yang luar biasa, anugrah berupa kesempatan dimana kita bisa menghampiri tahta kasih karunia, menghampiri Bapa dan berkomunikasi atau berhubungan secara timbal balik denganNya. Jadilah diri anda sendiri, berdoalah dengan sederhana dan jujur, dan sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh 4:24)

Just be simple and be yourself honestly in every prayers you make

1 Lawan 600, Menang 1

Posted: 16 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Hakim Hakim 3:31
=============================
“Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel.”

samgar, mengatasi masalah, Tuhan ajaibAda banyak film-film hollywood bergenre action yang secara akal sehat tidak masuk akal. Film-film action seperti Rambo (Stallone), Commando (Schwarzenegger) dan film-film sejenisnya menampilkan seorang jagoan yang mampu mengalahkan puluhan ataupun ratusan lawan sendirian. Bagaimana mungkin satu lawan ratusan menang satu? Peluru berdesingan di sekitarnya, bahaya terus mengancam, tapi mereka tidak takluk, malah mampu keluar sebagai pemenang. Film-film action ini semuanya memang fiktif. Ada orang yang iseng, penasaran atau kurang kerjaan, menghitung total lawan Rambo yang terbunuh pada tiga dari empat film (belum termasuk film keempatnya yang terbaru), dan totalnya mencapai 129 orang. Dan itu sulit diterima logika kita. Tapi tahukah anda bahwa alkitab pernah mencatat kisah yang lebih mencengangkan? Jika Rambo menggunakan senapan, panah dan alat-alat perang lainnya, ada tokoh yang bernama Samgar di dalam kitab Hakim Hakim yang mampu menewaskan banyak orang Filistin hanya dengan tongkat penghalau lembu. Berapa totalnya? 600 orang!

Nama Samgar mungkin tidak terlalu dikenal. Ia tidaklah sepopuler Daud, Gideon, Musa, Paulus dan nama-nama besar lainnya yang sudah sangat kita kenal. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena Samgar hanya muncul dua kali dalam alkitab, yaitu pada kitab Hakim Hakim 3:31 yang menjadi ayat bacaan hari ini, dan kemudian disebutkan sekali lagi dalam nyanyian Debora di dalam Hakim Hakim 5:6. Namun meski demikian, apa yang dilakukan Samgar tetap tercatat di dalam alkitab. Ia mampu menewaskan 600 orang Filistin dengan hanya bersenjatakan tongkat penghalau lembu. Rasanya pendekar-pendekar kungfu bersenjata tongkat pun sulit menyamainya. Apakah Samgar jago kungfu? Saya yakin tidak. Apakah dia ahli ilmu bela diri? Itupun saya rasa tidak.. Tapi apa yang membuatnya mampu mengalahkan demikian banyak? Saya percaya semua itu karena bantuan Tuhan. Dia percaya pada penyertaan Tuhan, dia siap dan maju menghadapi lawan-lawannya, dan dia memenangkan peperangan dengan mencengangkan. Hasil akhirnya, tidak saja Samgar yang selamat, tapi juga menyelamatkan orang Israel dari kebinasaan.

Kita pun setiap hari berjuang dan berperang. Bukan melawan manusia, namun melawan roh-roh jahat di udara, iblis yang setiap saat ingin menyesatkan dan membinasakan. Dalam hidup sehari-hari pun kita tidak luput dari perjuangan menghadapi berbagai masalah dan kesulitan, yang terkadang datang bertubi-tubi. Tapi ingatlah bahwa kata mencengangkan, mengherankan, ajaib, itu semua bukanlah hal baru bagi Tuhan. Baik di masa lalu, seperti yang tertulis sepanjang alkitab yang tebal ini, bahkan hingga hari-hari ini, Tuhan tetap menunjukkan bahwa Dia mampu menjungkirbalikkan logika manusia dengan rangkaian mukjizat dan keajaiban yang terus Dia lakukan. Yesus pun berkata: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Lukas 18:27). Nothing is impossible with God. 600 masalah sekalipun akan mampu kita atasi apabila kita percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Jika kita mengacu pada yang dicatat dalam alkitab, Tuhan telah berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan tidak mampu Dia lakukan. Lihatlah siapa yang Dia pilih untuk mengalahkan raksasa Goliat yang juga orang Filistin. Bukan panglima perang tinggi besar, tapi Daud, yang ketika itu masih muda, yang masih kemerah-merahan. (1 Samuel 17:42). Contoh lain, lihatlah kisah Gideon (Hakim-Hakim 6-8), bagaimana Tuhan menyuruh Gideon mengumpulkan hanya 300 prajurit saja, untuk menghadapi orang Midian dan Amalek yang seperti belalang banyaknya atau bahkan seperti pasir di tepi laut banyaknya. Dari yang bukan kisah peperangan pun sama. Yusuf dijual saudaranya ke Mesir, ia hanya sendirian, namun ia memenangkan perjuangan hidup dan menjadi raja. Nuh disuruh membangun kapal yang luar biasa besar pada usianya yang sudah lanjut, ia hanya sendirian, mungkin hanya dibantu oleh anak-anaknya, namun ia mampu. Banyak lagi kisah-kisah yang bisa mendasari kita untuk mampu tampil sebagai pemenang mengatasi berbagai persoalan, bahkan yang kelihatannya tidak mungkin sekalipun. Intinya, dengan adanya penyertaan Tuhan, jika kita percaya sepenuhnya pada Tuhan, maka kita pasti berhasil mengatasi masalah apapun. Mungkin kita pun sendirian bergumul saat ini dengan permasalahan, namun sebenarnya kita tidak pernah sendirian, karena Yesus tetap ada bersama kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Matius 28:20)

Tuhan dapat memakai siapapun secara luar biasa. Kita mungkin bukanlah superhero, kita bukan bangsawan, orang super kaya, mencapai jenjang pendidikan yang tertinggi sejagat dan lain-lain. Kita mungkin hanyalah orang biasa yang tidak dikenal orang, namun kita bisa menjadi orang biasa seperti Samgar, yang mengandalkan Tuhan dan percaya sepenuhnya dalam menghadapi masalah. Bagi orang dunia mungkin kita yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya tidaklah terkenal, bahkan mungkin direndahkan, namun percayalah, Tuhan mengenal dan berkenan pada anak-anakNya yang mengasihi dan percaya padaNya. Berbagai hal ajaib Tuhan pakai untuk menyatakan diriNya. Bahkan Tuhan lebih suka memakai orang-orang lemah atau bodoh untuk menunjukkan siapa Dia. “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Korintus 1:27). Semua ini mengajarkan kita agar menggantungkan iman bukan kepada akal dan logika manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1 Korintus 2:5). Untuk mampu dipakai Allah secara luar biasa dan untuk mampu lepas dari masalah, kuncinya hanyalah tetap berusaha sebaik-baiknya sambil terus mengandalkan hikmat Allah, bukan pada kekuatan sendiri atau kemampuan manusia yang terbatas. Untuk itu, janganlah pernah putus asa, jangan pernah menyerah, jangan pernah kecil hati, karena dengan iman yang benar, Tuhan pun akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yan ajaib lewat hidup kita, lebih dari yang anda kira.

Tuhan memakai orang biasa untuk melakukan perkara luar biasa

Tetap Setia Melayani Tuhan

Posted: 17 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan:Lukas 14:11
=======================
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

setia melayani TuhanDalam sebuah wawancara saya dengan seorang vokalis dari sebuah band ternama saya mendapat cerita menarik tentang awal karirnya. Semuanya dimulai ketika ia tengah melayani pada satu kebaktian di gereja. Pada saat itu ia bermain drum, dan kebetulan setelah kebaktian bakal ada sebuah konser musik jazz. Permainan drumnya menurut si vokalis tidaklah istimewa. Tapi entah kenapa ia menarik perhatian seorang pianis terkenal di negara kita yang sedang menunggu kebaktian selesai. Dia diundang untuk datang ke rumah sang pianis, kemudian disuruh berhenti bermain drum, dan beralih kepada olah vokal. Ia lalu mengikuti sebuah acara TV yang mencari penyanyi berbakat dan berhasil keluar sebagai salah satu pemenang. Bakatnya kemudian mengantarkan dirinya untuk menjadi vokalis dari sebuah band anak muda yang sedang naik daun.Kesuksesan pun menghampiri dirinya. Apakah semua itu merubah dirinya? ternyata tidak. Dia masih aktif melayani hingga saat ini di gereja. Menurutnya, semua yang ia raih adalah berkat dari Tuhan. Dulu dia sungguh-sungguh melayani, kini pun komitmennya tidak berubah sedikitpun. “kita tahu berapa banyak anak-anak Tuhan yang meninggalkan Tuhan setelah meraih sukses, dan lihat apa yang terjadi pada mereka.. gue tidak mau seperti itu, gue mau setia. Lagipula semua yang gue capai berasal dari Tuhan..” katanya. Luar biasa bukan? Kisah yang sama saya jumpai dalam pagelaran Java Jazz 2008 di hari ketiga yang jatuh pada hari Minggu. Ada beberapa musisi internasional yang ikut tampil pada kebaktian pagi yang diadakan di Jakarta Convention Center. Mereka memang musisi-musisi bertaraf internasional dan terkenal, tapi ketika ada di panggung untuk memuliakan Tuhan, mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sedang melayani. “All for the glory of Jesus!” teriak salah seorang vokalis Incognito.

Sang vokalis tidak salah. Kita melihat dalam perjalanan hidup selebritis begitu banyak yang terjatuh pada berbagai macam dosa karena mereka terbuai akan kesuksesan, kemakmuran dan kekayaan mereka. Ketika Tuhan memberkati mereka secara melimpah, mereka bukannya bersyukur dan menjadi lebih mencintai Tuhan, tapi sebaliknya malah meninggalkan Tuhan dan terus tenggelam dalam dosa. Bersikap tetap rendah hati dan setia melayani Tuhan adalah sebuah pilihan terbaik, apalagi ketika kita mempunyai kesempatan, kemampuan dan talenta untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Tuhan dalam berbagai bidang. Apapun yang kita buat bagi Tuhan, betapapun kecilnya, akan sangat berharga di mata Tuhan. Paulus pun mengingatkan kita akan hal tersebut.“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Kita harus memiliki visi yang sama seperti Tuhan Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. (Matius 20:28).

“Don’t wait till tomorrow what you can do today”. Peribahasa ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Tidak ada alasan apapun untuk bisa melayani Tuhan, karena kita semua memiliki kelebihan dan bakat yang berbeda-beda. Miliki komitmen untuk melayani, bukan untuk ketenaran pribadi, tapi untuk kemuliaan Allah yang telah memberikan kita kemampuan untuk itu. “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (1 Petrus 4:11)

Nyatakanlah kemuliaan Allah lewat tindakan, perbuatan dan pelayanan kita pada sesama

Teguran Allah (1) : Bileam dan Keledainya

Posted: 18 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Bilangan 22:30
===========================
“Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”

Memang tidak enak rasanya jika kita ditegur. Walaupun teguran itu biasanya terjadi akibat kesalahan kita sendiri, dan demi kebaikan kita juga, tetapi tetap saja teguran seringkali meninggalkan perasaan tidak nyaman. Apalagi kalau sudah menyangkut harga diri, wah runyam ceritanya. Itu masih teguran dari sesama manusia. Bagaimana jika yang menegur bukan manusia, tetapi keledai? Apa rasanya? Mari kita tanya pada Bileam. Bileam mengalami peristiwa yang bagi kita mungkin terasa sangat memalukan. Kebandelannya membuat Tuhan berbicara melalui keledai yang ditungganginya.

Pada saat itu Raja Balak mengirim beberapa utusannya menemui Bileam, dengan tujuan menyuruh Bileam mengutuk bangsa Israel. Ketika hal itu disampaikan pada Bileam, Bileam pun meminta waktu untuk bertanya pada Tuhan. Apa kata Tuhan? “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” (Bilangan 22:12). Ini adalah sebuah larangan, dan Bileam pun taat. Tapi kemudian penolakan Bileam disikapi Balak dengan kembali mengutus orang-orang yang lebih banyak dan lebih terhormat, ditambah upah yang jauh lebih besar. Dan Bileam pun awalnya kembali menolak, tapi lihat ini, Bileam kembali mempertanyakan hal yang sama pada Tuhan. Meskipun keputusan bertanya pada Tuhan merupakan sebuah bentuk ketaatan, namun ketaatannya tidak penuh. Jika ia taat penuh, seharusnya Bileam tidak perlu bertanya lagi karena sejak awal Tuhan telah menyatakan tidak. Tapi Bileam kembali bertanya dan berharap Tuhan berubah pendirian. Tuhan tahu isi hati Bileam dan kemudian terpaksa menguji kesetiaannya. Tuhan mengijinkan dia pergi dengan catatan hanya diijinkan untuk melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Dan keberangkatan Bileam pun membuat Tuhan marah. Ketika manusia tidak lagi mendengar perintah Tuhan lewat perkataan halus, Tuhan pun memakai sarana lain. Dalam kasus Bileam, Tuhan memakai keledainya! Keledai Bileam melihat Malaikat dan hal tersebut mengganggu kelancaran perjalanan, sehingga Bileam pun kesal lalu memukuli keledainya. Dan selanjutnya keledai itu pun berbicara menegur Bileam, yang kemudian disusul dengan penampakan Malaikat. Semua itu, membuat Bileam sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Dan untunglah, Bileam segera menyesali kesalahannya dan berubah menjadi taat sepenuhnya. Betapa ironisnya, seekor keledai saja mampu melihat, tapi manusia tidak. Semua ini tidak harus terjadi apabila Bileam patuh sepenuhnya sejak awal dan tidak berulang-ulang mempertanyakan keputusan Tuhan.

Sikap Bileam ini sebenarnya menjadi cerminan sikap banyak orang percaya. Inilah pergumulan banyak anak Tuhan, termasuk saya sendiri, dan mungkin anda juga. Bileam bukan orang yang tidak percaya, dia sama seperti kita, percaya pada Tuhan, dan menunjukkan ketaatan, tapi sayangnya ketaatan itu masih sering tidak sepenuhnya utuh. Terkadang kita pun berusaha meyakinkan Tuhan, bahkan memaksa Tuhan untuk menyetujui apa yang kita anggap baik, padahal itu belum tentu yang terbaik menurut Tuhan. Doa-doa kita bukanlah dibangun dalam bentuk ketaatan dan penyerahan sepenuhnya, namun malah bertujuan untuk meminta Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan. Maka tidak heran jika ada saat dimana kita ditegur. Teguran Tuhan bisa datang lewat apa saja, baik secara lembut lewat hati nurani, lewat firman Tuhan yang disampaikan pada kita, lewat orang-orang yang berbicara pada kita, hingga teguran keras lewat berbagai kejadian jika kita masih juga bandel dan tuli.

Saya sendiri beberapa kali mendapat teguran dari Tuhan lewat berbagai hal. Saya tahu pasti, Tuhan bisa memakai sarana apapun untuk menegur. Saya pun tahu pasti, teguran itu bukanlah bertujuan untuk menyakiti atau mempermalukan kita, tapi bertujuan demi kebaikan kita juga. Tidakkah lebih baik ditegur saat ini daripada dibiarkan untuk masuk ke dalam siksaan kekal? Ayub pernah berkata, “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17). Berbagai teguran itu jika kita sikapi dengan baik akan membuat kita terus bertambah baik pula. Itu pasti. Bentuk teguran adalah untuk mendidik kita, karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita menderita kelak. Dan karena itulah, kita pantas berbahagia ketika ditegur Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita cukup ditegur dengan halus, atau harus lewat teguran “memalukan” seperti Bileam, atau bahkan harus melalui penderitaan dan rasa sakit? Semua tergantung sejauh mana kita mau mendengarkan dan menuruti teguran Tuhan, sejauh mana kita mau berubah dari jalan yang salah dan kembali pada “rel” yang sesuai keinginan Tuhan. Bagi saya sendiri, adalah jauh lebih baik untuk terus ditegur demi kebaikan, daripada dibiarkan tersesat dan berakhir pada penyesalan. Saya bersyukur untuk teguran demi teguran, juga untuk kesempatan yang masih diberikan pada saya untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Oleh sebab itu, janganlah keraskan hati ketika kita ditegur. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7b).

Dengarkan dan patuhi segera teguran Tuhan sesegera mungkin

Teguran Allah (2) : Berbahagialah Jika Ditegur

Posted: 19 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ayub 5:17
=====================
“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”

berbahagia ditegur Tuhan, teguran AllahKemarin kita sudah melihat apa yang terjadi ketika Bileam ditegur Tuhan lewat keledainya. Hari ini mari kita lihat lebih jauh ayat yang sudah saya kutip sebelumnya, yaitu dari kitab Ayub. “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17). Mengapa kita harus berbahagia ketika ditegur Allah? Ayat-ayat berikutnya mulai dari ayat 18-26 menjelaskan alasannya dengan serangkaian daftar yang sungguh luar biasa kepada orang yang ditegur Allah.
– Kita luput dari malapetaka,
– Tuhan akan menyelamatkan kita dari bencana kelaparan,
– janji akan perlindungan,
– ada berkat atas pekerjaan,
– kemurahan hidup,
– keamanan,
– panjang umur
– diberkati dengan keturunan yang banyak
Semuanya menjadi janji yang ditetapkan Allah bagi orang yang Dia tegur. Dan lihatlah penutup dari perikop ini: “Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!” (ay 27).

Semua berkat luar biasa diatas bisa tercurah ketika kita mendengar teguran Allah dan berbalik menuruti kehendakNya dengan sepenuh hati. Artinya, teguran Allah akan menempatkan kita pada posisi yang benar, sehingga dosa dan kesalahan-kesalahan kita tidak lagi merintangi datangnya berkat yang Dia curahkan pada kita. Itulah mengapa ketika kita ditegur, kita seharusnya merasa berbahagia. Teguran itu adalah bentuk didikan atas kasih Allah yang sangat besar pada kita. Dia tidak ingin satupun dari kita tersesat dan akhirnya tidak mendapat bagian dari kerajaanNya kelak. Pada kesempatan lain, Salomo juga melihat hal yang sama. “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” (Amsal 6:23). Atau lihatlah ayat lain: “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.” (12:1). Salomo kemudian melanjutkan “Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.”(15:32) dan akhirnya menyimpulkan: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (29:15). Semua teguran Allah pada kita bukanlah bermaksud untuk menyiksa dan menyakiti kita, namun semuanya adalah untuk mendidik kita agar lebih baik dan selamat hingga akhir. Ketika Dia memberi teguran, itu bukanlah berarti Allah menjatuhkan batu besar di atas kepala kita agar binasa, tapi sesungguhnya yang Dia lakukan adalah menyelamatkan anda agar jangan sampai tertimpa batu besar seperti gambar di atas. Maka ketika mendapat teguran dari Allah, bersyukurlah. Itu tandanya Tuhan sayang pada kita, Dia memperhatikan kita dan sangat peduli, Dia begitu mengasihi kita. Yang penting adalah bagaimana sikap kita menyikapi datangnya teguran Tuhan tersebut.

Kita manusia yang setiap hari tidak luput dari kesalahan, tapi Tuhan telah berulang kali menunjukkan bahwa Dia sanggup mengubah orang secara ajaib. Dia tetap peduli dan selalu mengingatkan kita, dan pada saat-saat tertentu, Dia merasa perlu untuk memberi teguran, semua untuk kebaikan kita sendiri. Janganlah kita mengeraskan hati, lalu bersungut-sungut dan malah menyalahkan Tuhan dalam menyikapi teguran, karena hal tersebut bisa membinasakan kita. “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” (Ibrani 3:7-11).Jika kita mendengarkan tegurannya dan memperbaiki diri, Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita menuju jalan yang benar sesuai dengan rencana dan kehendakNya dalam hidup kita. Mari kita semua peka dan jeli dalam menangkap teguran Tuhan dan segera menjadikannya sebagai peringatan atau didikan yang berasal dari kasih Tuhan yang begitu besar untuk terus menyempurnakan diri kita.

Teguran mendatangkan kebaikan pada kita. Berbahagialah mereka yang ditegur Allah!

Kita Tidak DibiarkanNya Sendirian

Posted: 20 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 46:2
=========================
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”

kita tidak pernah dibiarkan sendiri, menghadapi permasalahan, pergumulanSaya menyadari benar betapa sulitnya kita menghadapi cobaan, apalagi ketika kita merasa sendirian, sementara orang lain tidak ada yang bisa mengerti, malah menambah penderitaan dengan terus menyalahkan kita. Saya sendiri pernah mengalami hal yang kurang lebih sama. Mungkin di dunia ini kita merasa tidak ada yg bisa mengerti dan memberi kekuatan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tetap ada bersama anda. Saya selalu berkata pada teman-teman saya yang tengah mengalami persoalan hidup, bahwa jangan pernah menggantungkan seluruh harapan pada manusia, karena hal tersebut bisa berujung pada kekecewaan. Dari saudara-saudara seiman sekalipun, terkadang mereka malah menjadi batu sandungan dan bisa semakin menjauhkan rasa percaya kita pada Bapa.

Saya yakin Tuhan punya rencana dalam hidup kita. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Dia selalu hadir menyertai kita dengan kasih setiaNya. Ada ayat yang berbunyi “Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Ayat ini tampil beberapa kali pada kitab Mazmur, dan juga beberapa kitab lainnya. Lewat ayat inilah saya yakin bahwa Tuhan sangat mengerti pergumulan kita, Dia sangat peduli, sehingga merasa perlu untuk mengingatkan kita beberapa kali pula untuk tetap bersyukur dalam segala situasi. Satu hal yang pasti, kita tidak pernah sendiri dibiarkanNya sendirian. Yesus selalu beserta kita. Betapa indahnya janji Yesus: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) Berkali-kali pula Dia mengingatkan kita bahwa Dia akan selalu beserta kita ketika berbagai kesulitan dan masalah tengah menerpa hidup kita. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Dan lihatlah perkataan Yesus ini. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Saya mengundang teman-teman sekalian untuk membaca Mazmur 46:1-11, disana ada janji luar biasa Allah ketika kita berada dalam kesesakan. Ada banyak lagi sebenarnya, dan semuanya itu menunjukkan betapa Tuhan mengerti dan siap mengangkat kita dari keadaan paling gelap sekalipun. Dan ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah ingkar janji. Yang jadi pertanyaan bukanlah apakah Tuhan mau atau sanggup membantu kita, tapi sejauh mana kita bisa percaya pada firman Tuhan dan janji-janjiNya. “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” (Yosua 21:45) Firman Tuhan itu selalu ya dan amin.

Teman-teman yang dikasihi Yesus, terutama anda yang saat ini tengah menghadapi pergumulan hidup, datanglah padaNya malam ini. Berdoalah, ucapkan syukur atas janji setiaNya untuk selalu menyertai kita. Percayalah dengan iman teguh bahwa Tuhan sungguh mengerti dan akan melepaskan anda dari cobaan apapun. Dia selalu rindu akan kehadiran anak-anakNya, bukan hanya untuk berkeluh kesah dan mohon pertolongan, tapi untuk memberikan korban terbaik lewat ucapan syukur. Dia rindu anak-anakNya menyadari sepenuhnya bahwa dalam Tuhan tidak akan pernah ada batas pengharapan, dan tidak akan pernah ada masalah yang tidak terselesaikan. Dalam Dia ada kemenangan! Kami selalu mendoakan saudara agar saudara dikuatkan dan tetap diberi kelegaan dan sukacita berlimpah dalam percobaan terberat sekalipun. Haleluya.

Jangan pernah takut, karena kita tidak akan pernah dibiarkanNya sendirian

Bekerja Sungguh-Sungguh Untuk Tuhan

Posted: 22 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kolose 3:23
========================
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

bekerja dengan sungguh sungguh untuk TuhanAda banyak orang yang menganggap tingkat keseriusan bekerja itu berbanding lurus dengan upah yang mereka dapatkan. Beberapa teman saya pernah berkata bahwa mereka cukup bekerja ala kadarnya, karena apa yang mereka peroleh sebagai upah menurut mereka terlalu sedikit. Saya mengerti jika orang akan lebih termotivasi jika mereka mendapatkan upah yang memadai, apalagi jika disertai insentif. Saya juga mengerti, ada banyak pimpinan yang memanfaatkan karyawannya secara keterlaluan, menyuruh mereka melakukan lebih dari apa yang menjadi “job description” mereka. Dan karenanya saya tidak menyalahkan mereka yang membandingkan pekerjaan dengan perolehan upah. Hari ini saya hanya ingin mengingatkan bagaimana kita harus bekerja menurut firman Tuhan.

Di awal karir saya sebagai pengajar, saya memulainya dari tingkat bawah, menjadi seorang asisten. Berapa yang saya dapat waktu itu? Dalam sebulan saya hanya menerima sekitar 100-200 ribu rupiah, sudah termasuk ongkos saya bolak balik. Ada banyak teman yang pada waktu itu berpikir bahwa keputusan saya untuk menjadi asisten sebagai sebuah keputusan yang salah dan buang-buang waktu. Bukannya saya waktu itu tidak butuh uang.. siapa sih di dunia ini yang tidak membutuhkan uang untuk hidup? Tapi saya percaya, ada sesuatu yang lebih saya butuhkan di dunia ini lebih daripada sekedar uang. Apa itu? Saya butuh Tuhan berkenan atas hidup saya, juga terhadap apa yang saya kerjakan. Saya berpikir untuk memuliakan Tuhan atas segala hal yang saya perbuat. Itu yang menjadi motivasi saya, dan saya pun bekerja sebaik mungkin karenanya. Pada waktu itu saya belum tahu bahwa ada ayat yang berbicara mengenai hal ini, karena saat itu saya masih baru saja lahir baru. Dan keputusan saya itu ternyata tidak salah. Karir saya ternyata meningkat hingga hari ini, dan mampu menghidupi keluarga saya, meski tidak dalam kelebihan. Yang pasti Tuhan tetap mencukupkan segalanya, sehingga kami sekeluarga tidak kekurangan suatu apapun. Dia memang Tuhan yang menyediakan. Puji Tuhan untuk itu.

Pekerjaan apapun, selama pekerjaan itu baik dan benar, lakukanlah sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Tuhan sanggup memberkati pekerjaan anda dan memberi kelimpahan, jika Dia berkenan atas usaha anda. Itu pasti. Pekerjaan yang dianggap rendah sekalipun oleh manusia, akan berharga sangat tinggi untuk Tuhan, jika kita melakukannya untuk Tuhan, atas kasih dan rasa syukur kita pada penyertaanNya dalam hidup kita. Kita lihat ayat sebelum ayat bacaan hari ini: “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.” (Kolose 3:22) Memang apa yang dinyatakan Paulus ditujukan untuk hamba-hamba mengenai ketaatan akan tuan mereka, namun apa yang dinyatakan sudah sepantasnya berlaku bagi setiap profesi atau pekerjaan. Semua itu akan sangat berarti di hadapanNya, dan merupakan persembahan yang harum jika kita mempersembahkannya untuk Tuhan.

Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah baik jika kita lakukan untuk memuliakan Tuhan. “Kita melakukan pekerjaan Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31). Kita juga harus melakukan pekerjaan dengan kasih. “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”(1 korintus 16:14). Dan lakukanlah perkerjaan kita dalam nama Yesus disertai ucapan syukur. “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”(Kolose 3:17). Pekerjaan sekecil apapun yang kita peroleh merupakan pemberian yang baik dan sempurna dari Allah. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:17). Dan itu pantas kita syukuri, kita berterimakasih atas pemberianNya dengan bekerja sungguh-sungguh sebaik mungkin dengan senantiasa dipenuhi ucapan syukur dalam nama Kristus. Selain itu, lewat cara dan etos kerja kita pula-lah kita bisa mengenalkan Yesus kepada teman-teman yang belum mengenalNya, seperti yang digambarkan pada ayat berikut: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” (1 Tesalonika 4:11-12).

Semua pekerjaan yang baik dan benar merupakan berkat luar biasa dari Tuhan, tidak perduli kecil atau besar. Ketika kita bisa mempertanggungjawabkan tugas kecil, maka Tuhan pun sanggup mempercayakan tugas-tugas yang lebih besar lagi. Renungan hari ini akan saya tutup dengan kutipan perkataan Martin Luther King, Jr yang luar biasa: “If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well.”

Segala pekerjaan yang baik dan benar adalah berkat dari Tuhan, karenanya lakukanlah dengan sepenuh hati

Etika dan Sopan Santun

Posted: 23 Nov 2008 11:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-5
=======================
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

etika dan sopan santunEtika dan sopan santun, juga budi pekerti seharusnya menjadi bagian hidup siapapun. Apalagi budaya ketimuran itu menjunjung tinggi etika dan sopan. Konon pada suatu masa budaya ketimuran dikenal dengan keramah-tamahan, murah senyum, baik budi pekerti, sopan santun, namun perkembangan jaman tampaknya diikuti pula oleh erosi etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai lapisan. Tepat dibelakang rumah saya ada belasan pemuda yang sedang menimba ilmu untuk menjadi tentara. Secara teoritis mereka seharusnya adalah warga negara terpilih, yang mendapat kehormatan untuk mengemban tugas mulia sebagai abdi negara. Tetapi, mungkin karena status itu pula akhirnya sebagian calon tentara ini diliputi kesombongan yang berlebihan. Sebagian dari pemuda-pemuda ini menunjukkan sikap yang sangat tidak terpuji. Mereka kerap membuat keributan, kerap mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh, parkir sembarangan menutupi rumah saya, seenaknya membuang sampah ke halaman saya, dan yang lebih tidak sopan lagi, buang air kecil tepat di tangga masuk ke rumah saya, tepat didepan mata saya. Ini potret pemuda-pemuda pilihan yang sebentar lagi menjadi tentara. Memalukan. Pada waktu mudik lebaran kemarin pun saya sempat membaca berita yang menyebutkan bahwa mereka tidak mau bayar ketika naik kereta api untuk kembali dari kampung halamannya setelah berlebaran. Ini gejala premanisme yang serius. Belum lagi menjadi tentara sudah begini, apalagi nanti setelah resmi? Mereka ini mencoreng korpsnya sendiri. Akhirnya nanti bukan hanya mereka yang dianggap negatif, tapi korps secara keseluruhan pun bisa tercemar.

Jika budaya ketimuran saja sudah berbicara tentang menjaga sikap dan tingkah laku, etika dan sopan santun, apalagi bagi kita yang menyandang predikat anak-anak Tuhan. Sayangnya di antara anak-anak Tuhan pun masih juga ada yang tidak siap menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat, bahkan menjadi batu sandungan. Bagaimana bisa mengenalkan Yesus, jika orang sudah terlebih dahulu anti pati? Inti dari kekristenan adalah kasih, dan itulah yang harus menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan. Hubungannya kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Korintus 13:4-5). Di dalam kasih itu ada sabar dan murah hati. Kasih tidak mengenal kecemburuan, memegahkan diri atau sombong, tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong dan tahu sopan santun. Mari kita lihat lagi sebuah ayat yang sudah sempat saya kutip pada renungan kemarin: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” (1 Tesalonika 4:11-12). Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain, apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita. Kesombongan adalah sebuah kekejian di hadapan Allah (Amsal 16:5) dan merupakan awal dari kehancuran (16:18). Bentuk-bentuk kesombongan akan membuat orang memegahkan diri secara berlebihan sehingga kehidupan orang sombong akan jauh dari etika, perilaku terpuji dan sopan santun. Tidak itu saja, kesombongan pun akan menjadi pintu masuk dari dosa-dosa lain.

Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Apabila kita tidak menjaga perilaku dan perkataan kita, maka ibadah kita pun menjadi sia-sia. (Yakobus 1:26). Karena itu, marilah kita menyatakan kasih kepada orang lain, mari kita menjadi pelaku firman. Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia tengah dilanda krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, namun jadilah orang yang berbeda dengan dunia, penuh sopan santun dan ber-etika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita ditengah masyarakat.

Kesopanan dan rendah hati adalah bagian dari kasih yang merupakan inti dari kekristenan

We Are The Body Of Christ

Posted: 24 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 122:1
=========================
“Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”

Ada tiga orang teman saya dalam waktu yang berbeda bercerita bahwa mereka mulai kehilangan gairah untuk pergi ke Gereja. Alasannya pun berbeda-beda. Yang satu terlalu disibuki dengan pekerjaan, sehingga ia kerap merasa terlalu lelah untuk beribadah pada hari Minggu. Yang satu sudah terlalu lama hidup tanpa Gereja, sehingga ia kehilangan motivasi dan urgensi untuk pergi ke Gereja. Satu lagi teman saya merasa bahwa banyak jemaat di Gerejanya bersikap munafik, terutama teman-teman sekerja di kantornya yang juga kebetulan beribadah pada Gereja yang sama. Ia menganggap bahwa para jemaat yang notabene adalah rekan sekerja dan pimpinannya tidaklah mencerminkan sikap sebagai orang kudus dalam dunia kerja. “Buat apa ke Gereja kalau orang-orangnya seperti itu?” katanya. Salah satu dari teman saya itu kemarin saya ajak untuk sama-sama beribadah, dan awalnya ia bersemangat untuk pergi bareng. Apa yang terjadi di hari Minggu? Dia mengatakan bahwa dia tidak enak badan karena terlalu lelah bekerja dalam beberapa hari terakhir, dan membatalkannya.

Saya jadi ingat sebuah kisah tentang seorang ibu di salah satu kota kecil di Amerika. Si ibu ini masuk headline di harian lokal karena satu hal saja: ia tidak pernah absen ke Gereja selama 20 tahun. 20 tahun! Itu waktu yang tidak singkat. Fakta ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak saya:

  • Apakah ibu itu tidak pernah sakit atau tidak enak badan di hari Minggu?
  • Apakah dia tidak pernah punya masalah dengan jemaat lainnya, pengerja atau mungkin pendeta di Gerejanya?
  • Apakah selama 20 tahun tidak pernah terjadi hujan atau cuaca buruk di hari Minggu?
  • Apakah ia tidak pernah merasa terlalu lelah sehingga lebih tertarik untuk tidur?
  • Apakah ia tidak pernah melakukan liburan akhir pekan ke tempat lain?
  • Apakah ia tidak pernah ketiduran sehingga terlambat untuk berangkat?
  • Apakah tidak pernah ada sanak saudara atau tamu berkunjung ke rumahnya di hari Minggu sehingga ia harus melewatkan waktu bersama mereka?
  • Apakah tidak ada acara mendadak yang harus membatalkan jadwal ke Gereja?
  • Tidakkah ia pernah merasa bosan mendengar kotbah atau firman tentang hal yang itu lagi, itu lagi?

Semua ini seringkali menjadi alasan untuk absen dari ibadah Gereja. “ah..satu kali kan nggak apa-apa.. sekali-kali saja kok..” Ya, mungkin awalnya hanya satu kali, tapi ketahuilah bahwa iblis itu terus mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8), dan akan memanfaatkan berbagai alasan untuk mencegah kita beribadah, mencari dan bertemu Tuhan, memuliakan Tuhan, mendengar firman dan menerima berkat. Iblis akan terus berusaha untuk mencegah anak-anak Tuhan bersekutu dalam nama Yesus dan saling mendoakan. Lambat laun, kemalasan akan menebal seperti karat dan orang yang demikian akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita karena terus semakin jauh dari Tuhan. Memang beribadah itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan sudah seharusnya kita beribadah tanpa membatasi waktu. Hati, pikiran dan mulut kita senantiasa dipenuhi ucapan syukur dan memuji Tuhan. Sungguh baik sekali jika kita rajin meluangkan waktu untuk bersekutu dengan intim dengan Tuhan lewat saat-saat teduh kita. Tapi penting pula untuk diingat bahwa Gereja adalah tempat dimana anggota-anggota keluarga Allah berkumpul menjadi satu keluarga dengan Yesus sebagai kepala, sedangkan kita adalah bagian dari tubuhNya (the body of Christ). “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Efesus 1:22-23) Selanjutnya Paulus mengingatkan lagi: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” (2:19-21). Ya, kita adalah bagian tubuh Kristus, dimana Yesus adalah Kepala. Ini adalah suatu kesatuan luar biasa. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri. Alangkah indahnya jika kita mempunyai teman berbagi, saling mendoakan, saling mengingatkan dan saling menolong. Ketika kita sedang dalam kesusahan, saudara yang lain yang kebetulan sedang tidak mengalami kesusahan akan mengulurkan tangan, begitu pula sebaliknya. Hidup bersama dan saling menguatkan sebagai satu kesatuan sebagai tubuh Kristus. “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” (1 Korintus 12:20). Dan ingatlah bahwa Kristus sendiri akan hadir jika kita berkumpul dalam namaNya. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Mat 18:20). Kita juga bisa memiliki wadah dimana iman kita bisa bertumbuh. “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4:14-16). Belajar dari ibu di atas, mari kita sama-sama menyadari perlunya saling membangun dalam kasih, saling menguatkan, dengan Kristus bertahta sebagai kepala dari kita semua, sehingga kita bisa berkata seperti Daud pada ayat bacaan hari ini: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” Saling membangun dalam kasih sebagai satu tubuh utuh yang tidak tercerai-berai

Kehilangan Kasih Mula-Mula (2) : Kepahitan Terhadap Tuhan

Posted: 26 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ibrani 12:15
====================
“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”

kepahitan terhadap manusia, kehilangan kasih mula-mula Ada sebuah survei yang pernah saya baca di majalah mengatakan bahwa 70% orang marah akan sesuatu. Kemarahan bisa berasal dari berbagai masalah, ketidakpuasan atau kecemburuan. Rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah marah. Kemarahan ini dalam waktu tertentu bisa berubah menjadi kepahitan jika dibiarkan berlarut-larut. Kemarahan tidak hanya diarahkan kepada sesama manusia, tapi ada pula yang marah hingga mengalami kepahitan kepada Tuhan. Kenapa? Banyak alasannya. Misalnya, ada yang mengalami kepahitan karena orang yang sangat mereka sayangi mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya atau mungkin juga kematian. Adik saya sendiri mengalami kepahitan sejak ibu kami meninggal. Disaat ibu kami meninggal, dua keadaan yang kontras terjadi. Saya mendapat pengalaman-pengalaman rohani luar biasa sehingga bertobat dan menerima Kristus, sedangkan adik saya mengalami kepahitan karena tidak rela ibu dipanggil Tuhan. Ada yang merasa apa yang mereka alami tidaklah adil. Ada banyak orang yang kecewa pada Tuhan karena ia melihat rekan sekerjanya mengalami karir yang meningkat pesat sementara mereka masih jalan di tempat, atau teman di kampus yang jarang masuk dan kerjanya menyontek mendapatkan nilai lebih baik daripada dirinya yang mati-matian belajar. Ada pula yang mengalami kepahitan akibat didera kemiskinan, tekanan hidup, masalah bertubi-tubi dalam waktu yang lama. “Buat apa beribadah? Toh hidup sama saja, terus menderita dan kekurangan..” Ini kira-kira keluhan seorang supir angkot yang pernah saya dengar.

Dalam Alkitab pun beberapa kali kita menemukan kisah tentang kepahitan. Ayub misalnya, pernah berkata: “Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?” (Ayub 9:22-24). Kepahitan Ayub terus berlanjut, lalu ia berkata: “Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya. Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah. Ia merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang.” (Ayub 16:12-14). Pada kisah lain, kita melihat juga Naomi pernah mengalami kepahitan. Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Rut 1:20-21). Yesus pernah pula menggambarkan kekecewaan dan kemarahan manusia akibat merasa diperlakukan tidak adil dalam perumpamaan tentang penggarap kebun anggur pada Matius 20:9-19.

Kepahitan dalam ayat bacaan di atas digambarkan dengan menarik. Kepahitan digambarkan sebagai akar. Sebuah pohon tumbuh akibat suplai makanan dari akar. Apabila akar ini pahit, maka kepahitan akan mencemari pohon mulai dari batang, ranting hingga daun. Kepahitan yang mengakar tidak saja merugikan diri sendiri tapi bisa membuat orang berpikir pendek dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi pada kita. Kepahitan pada Tuhan ini akan timbul jika kita tidak melihat kejadian-kejadian yang kita alami dalam kerangka yang lebih besar. Jika kita melihat hanya pada saat ini, dengan kemampuan nalar manusia yang terbatas, mungkin kita akan melihat apa yang kita alami hanyalah penderitaan, ketidakadilan bahkan timbul rasa ketidakpedulian Tuhan pada kita. Tapi ingatlah bahwa rancangan yang disediakan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11), Ia juga menjanjikan kita sebuah hidup yang dipenuhi segala kelimpahan. (Yohanes 10:10). Dan Tuhan pun mengingatkan pada kita: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Kepahitan akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan kehilangan kasih mula-mula, kemudian kehilangan kesempatan untuk menerima berkat-berkatNya.

Jika anda saat ini tengah mengalami kepahitan, berdoalah dan miliki kembali iman tanpa keraguan. Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia, tidak pernah meninggalkan kita dan selalu peduli. Tuhan sangat mengasihi kita. Mari kita periksa diri kita, apakah kita telah hidup sesuai firmanNya. Jangan sampai ada berkatNya terhalang karena kita belumlah hidup benar. Jangan sampai ada hal-hal yang kita lakukan tidak berkenan di hadapanNya dan karenanya kita mengalami berbagai penderitaan, yang sebenarnya bukan dari Tuhan tapi adalah sebagai konsekuensi dari tindakan kita yang salah. Kita hendaknya tetap menjaga diri agar tidak mengalami kepahitan yang tidak akan membawa apa-apa yang lebih baik kepada kita. Ketika hujan dan badai sirna, kita akan melihat pelangi yang indah. Ayub akhirnya menyadari kesalahan pola pikirnya dan berhenti menyalahkan Tuhan. (Ayub 42:1-6). “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (ay 2), “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (ay 5-6). Seperti Ayub yang kemudian menyadari kesalahan pola pikirnya, mari kita yang mengalami kepahitan kembali datang pada Tuhan. Berbaliklah sekarang juga. Alami kembali kasih mula-mula, karena tidak ada rencana Allah yang gagal atau sia-sia. Tuhan mengasihi anda!

Kepahitan akibat kekecewaan atau kemarahan pada Tuhan berasal dari kerangka pemikiran sempit. Percayalah akan rencanaNya yang indah bagi anda

Kehilangan Kasih Mula-Mula (3) : Kepahitan Terhadap Sesama Manusia

Posted: 27 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Wahyu 8:11
=======================
“Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.”

kepahitan terhadap manusia, kehilangan kasih mula-mulaKalau kemarin kita melihat hal kepahitan terhadap Tuhan, hari ini mari kita melihat kepahitan terhadap sesama manusia. Ada kalanya dalam perjalanan hidup kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan akibat perbuatan orang lain seperti ditolak, ditipu, dikhianati, dikecewakan, dilukai dan sebagainya. Hal-hal seperti ini menimbulkan luka dan terkadang membekas dalam diri kita. Endapan bekas itu kemudian menjadi trauma dan timbullah kepahitan dalam hidup. Seringkali kepahitan ini timbul bukan terhadap orang-orang yang jauh dari kita, tapi justru terhadap orang-orang yang dekat dengan kita. Orang yang kita cintai, orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya, tetapi ternyata malah menyakiti perasaan kita. Begitu banyak istri yang mengalami kepahitan terhadap suaminya akibat dikhianati, anak yang mengalami kepahitan terhadap orang tuanya akibat tidak diperhatikan atau pengalaman-pengalaman traumatis di masa kecil, kepahitan terhadap saudara sendiri dan lain-lain. Orang yang mengalami kepahitan lama-lama akan mengalami krisis kepercayaan. Mereka akan selalu dilingkupi rasa curiga, akan selalu merasa tidak aman, yang seringkali berlebihan. Mereka akan sulit percaya agar tidak terjebak untuk kesekian kalinya. Mereka akan membangun tembok tebal dan tinggi dimana mereka akan mengurung diri mereka didalamnya. Ada seorang teman yang trauma karena dikhianati kekasihnya, dan saat ini ia tidak berani untuk menerima orang lain. Ia berkata bahwa ia harus menjaga jarak dari siapapun, tidak mau terlalu dekat dengan siapapun, karena semua orang punya potensi untuk mengecewakannya. Ia juga menjadi rendah diri,selalu merasa kurang dari orang lain. Rasa sulit percaya pada orang lain ini adalah masalah hati, yang jika dibiarkan berlarut-larut lama kelamaan akan mencemarkan kerohanian juga. Mereka pun akan sampai kepada tahap dimana mereka sulit percaya pada Tuhan, dan akhirnya kehilangan kasih mula-mula.

Saya mengerti bahwa terkadang tidaklah mudah bagi kita untuk mengampuni, apalagi jika kepahitan itu timbul akibat sesuatu yang sangat menyakitkan dan traumatis. Perkosaan, pelecehan seksual, siksaan dalam waktu lama dan lain-lain bisa membuat para korban merasa masa depannya hancur sehingga mereka akan sulit untuk melangkah ke depan. Tapi Alkitab tetap mengajarkan untuk mengampuni, seperti Tuhan pun senantiasa siap untuk mengampuni kita. Kita manusia yang tidak luput dari kesalahan dan terus berbuat dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23), tapi lihatlah betapa Allah begitu mengasihi kita. Ayat selanjutnya berkata “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (ay 24). Itulah bentuk kasih Tuhan pada kita. Berkali-kali kita jatuh dalam dosa, tapi Tuhan tetap tidak kenal lelah memberi pengampunan. Inilah prinsip pengampunan yang tuntas. Dia tidak akan mengungkit lagi dosa-dosa di masa lalu yang telah kita akui dengan pertobatan sungguh-sungguh. Bentuk kasih seperti inilah yang diajarkan Kristus untuk kita lakukan. Dalam Matius 28:22, menjawab pertanyaan Petrus, Tuhan Yesus berkata bahwa kita haruslah mengampuni tidak hanya tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ini menggambarkan pengampunan tak terbatas yang harus mampu kita sediakan. Lalu Yesus juga mengingatkan: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:3-4). Yesus meminta kita untuk menjaga diri agar selalu siap untuk memberikan pengampunan tanpa terkecuali dan tanpa batas. Selanjutnya ada hubungan kuat antara mengampuni dan diampuni. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”) (Markus 11:26).

Kita harus mampu membuang segala kepahitan dalam hidup dan menggantikannya dengan kemampuan untuk mengampuni sebagaimana Tuhan sendiri mengampuni kita lewat Kristus. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31-32). Menghadapi kepahitan terhadap orang lain kunci pertamanya adalah memaafkan. Bukan sekedar memaafkan dari luar, tapi kita harus mampu memberi pengampunan tulus dan ikhlas yang berasal dari hati. Tanpa melakukan hal ini, kita akan terhalang untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan. Percayalah Tuhan mampu mengangkat kepahitan itu hingga ke akar-akarnya bahkan menggantikannya dengan damai sukacita dalam hidup yang berkelimpahan. Jika kita lihat ayat bacaan hari ini, sebuah bintang besar bernama Apsintus jatuh dari langit kemudian membuat sepertiga dari semua air menjadi pahit, dan orang yang meminumnya akan mati. Kepahitan itu mematikan. kepahitan terhadap orang lain haruslah diatasi sesegera mungkin agar tidak menjadi racun yang menghilangkan kasih mula-mula, terus menghancurkan bahkan mematikan kita. Jangan sampai kepahitan membuat kita kehilangan kasih mula-mula, tapi berikanlah pengampunan, tetaplah ingat kasih Allah, tetaplah percaya pada kuasaNya, sehingga Tuhan akan mengobati kepahitan itu dan menggantikannya dengan damai sejahtera, sukacita dan berkat-berkat lainnya.

Kepahitan itu mematikan. Pilihlah hidup yang penuh berkat dan kelimpahan dengan menjaga kasih mula-mula tetap menyala

Kehilangan Kasih Mula-Mula (4) : Cinta Dunia

Posted: 28 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15
=====================
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.”

kehilangan kasih mula-mula, cinta duniaBegitu banyak yang ditawarkan dunia ini buat kenyamanan, kemudahan dan kemewahan hidup. Harta, jabatan, status, semua itu dijamin bisa mempermudah hidup buat ukuran dunia. Berbagai iklan menawarkan banyak hal yang secara duniawi bisa membuat anda lebih nyaman. Dunia memang terus berlomba untuk membangun aspek-aspek yang bisa memuaskan keinginan manusia untuk memiliki harta dunia lengkap dengan kenikmatan dan kenyamanannya. Untuk mampu memperoleh itu semua, orang pun akan terus berusaha menimbun harta dan tanpa sadar akan terjerumus menjadi hamba uang. Mereka akan tidak lagi perduli darimana uang itu berasal, bagaimana cara mendapatkannya, karena mereka mendasarkan segala sesuatunya kepada benda-benda mati yang sifatnya duniawi. Jelas,karenanya mereka akan kehilangan kasih mula-mula dan semakin jauh dari Tuhan. Mereka akan lebih tertarik untuk mengamankan aset-asetnya sambil terus mencari jalan untuk memperoleh lebih banyak lagi ketimbang memikirkan hal-hal bersifat surgawi. Begitu pula jabatan. Lihatlah bagaimana orang menghalalkan segala cara untuk bisa memperoleh sebuah kedudukan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa menjadi caleg alias calon legislatif? Berapa yang harus mereka bayar agar bisa menjadi calon bupati, walikota, gubernur dan sebagainya, bahkan kepala desa? Terkadang ambisi untuk mendapat jabatan membuat orang buta, dan mereka pun mengeluarkan biaya yang jauh melebihi kemampuannya. Akibatnya, kemudian kita mendengar berbagai kisah kegagalan yang berakibat buruk. Ada yang mengerahkan massa untuk memaksakan posisinya, bahkan ada pula yang melakukan tindakan bunuh diri akibat terlilit hutang setelah kalah. Dalam alkitab pun ada banyak kisah kejatuhan akibat menghamba pada tuan yang salah, bagaimana seseorang bisa kehilangan kasih mula-mula dan kemudian meninggalkan Tuhan. Salah satu contohnya adalah Demas, salah seorang teman sepelayanan Paulus. Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku…” (2 Timotius 4:10). Motivasi yang salah, menghambakan harta, pangkat dan jabatan, ini semua bertentangan dengan firman Tuhan, dan tidak akan pernah membawa kebaikan dalam hidup kita.

Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita agar jangan mengasihi dunia dan apa-apa didalamnya, seperti harta, manusia, jabatan, status dan lain-lain. Mengapa demikian? Karena jika orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yohanes 2:15). Mari kita baca ayat selanjutnya. “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (ay 16-17). Kasih Bapa tidak akan ada didalam orang yang mengasihi dunia. Yesus juga mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengabdi pada dua tuan. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Mamon adalah dewa uang. Karena kita tidak dapat mengabdi pada dua tuan sekaligus, maka ketika kita lebih memilih untuk mengasihi segala yang ditawarkan dunia, kasih Allah pun hilang dari diri kita. Tuhan sendiri mengecam keras mereka yang meninggalkanNya dan berpaling pada dunia. “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Jadi ketika orang mulai merasa memiliki segalanya, dan berkata seperti si kaya dalam “perumpamaan orang kaya yang bodoh” : “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Lukas 12:19), berhati-hatilah. Sebab itu tandanya orang tersebut sudah terperosok terlalu jauh meninggalkan Tuhan. Tuhan pun kemudian menjawab si kaya: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ay 20). Uang dan harta tidak bisa dibawa serta ketika manusia meninggalkan dunia, alangkah sia-sianya jika kita hidup semata-mata mengejar kekayaan dan jabatan kemudian meninggalkan kasih mula-mula,berpaling dari Tuhan.

Apapun yang kita miliki di dunia ini sifatnya hanya sementara, dan tidak akan dapat membahagiakan apalagi menyelamatkan kita. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19-20). Kita melihat bahwa ada banyak orang yang kaya raya, memiliki segalanya tapi tetap tidak bahagia dan terus dicekam kekhawatiran, karena untuk bisa menikmati pun merupakan karunia Tuhan. “Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkotbah 6:1-2) atau ayat berikut: “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.” (5:19). Semua itu, baik kekayaan maupun kemampuan untuk menikmati semunya berasal dari Tuhan, dimana tanpa mengasihiNya, kita tidak akan bisa memperoleh itu semua lengkap dengan kuasa untuk bisa menikmati, juga untuk beroleh harta surgawi yang kekal. Tuhan tidak melarang kita untuk memiliki makanan, pakaian dan kebutuhan duniawi, tapi ingatlah bahwa yang jauh lebih penting dari itu semua adlah kepemilikan terhadap harta di surga dengan segala kemuliaannya. Harta surgawi yang seharusnya menjadi bagian orang-orang percaya itulah yang bersifat kekal, dan seharusnya menjadi fokus kita. Tuhan sanggup menyediakan segalanya buat kita, karenanya kita tidak perlu bergantung pada kekayaan dan kenikmatan duniawi. Tetapi itu semua hanya ada pada orang yang sungguh-sungguh mengasihiNya. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9). Karena itu, kita jangan sampai kehilangan kasih mula-mula, yang tidak saja menghalangi berkat Tuhan tercurah buat kita, tapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh harta surgawi.

Harta duniawi hanyalah mampu berfungsi sebagai alat tukar yang tidak kekal dan tidak ada perlindungan apalagi keselamatan di dalamnya

Kehilangan Kasih Mula-Mula (5) : Rutinitas

Posted: 29 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 29:14-15
=======================
“Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.”

kehilangan kasih mula-mula, ibadah hanya rutinitasDi saat orang pertama kali jatuh cinta, mereka akan merasakan segala-galanya sangat indah. Yang paling pahit pun terasa manis. Segala kekurangan pasangannya akan dirasa seperti sebuah kelebihan dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Semua hal yang dapat menyenangkan kekasih akan dilakukan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu hal yang biasa kita jumpai ketika orang yang baru jatuh cinta. Pada suatu saat ketika sebuah hubungan berjalan sebagai sebuah rutinitas dari hari ke hari, perlahan orang akan mulai kehilangan rasa cinta yang meluap-luap seperti di awal. Tidak lagi ada gairah disana, tidak lagi ada semangat dan hasrat untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya demi orang yang kita cintai, tapi hanya didasarkan semata-mata karena itu adalah sebuah kewajiban. Ketika pertama kali lahir baru, kita pun mengalami cinta yang meluap-luap pada Kristus. Kita akan sangat termotivasi dan bersemangat ketika melakukan ibadah karena kita sangat mengasihi Kristus. Namun lama kelamaan jika semua itu menjadi satu rutinitas, tanpa sadar banyak diantara anak-anak Tuhan yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan, kehilangan kasih mula-mula mereka.

Ada banyak orang yang rajin ke gereja, rajin berdoa, namun melakukannya hanya karena sebuah kebiasaan atau rutinitas. Dulu saya pernah bertanya kepada seorang teman, untuk apa ia pergi ke gereja pagi-pagi benar? Ia menjawab karena ia orang kristen, dan ia harus ke gereja supaya tidak dimarahi orang tuanya. Ketika ibadah dilakukan hanya atas alasan sebuah rutinitas semata, kebosanan dan kejenuhan pun mengintip. Gairah akan hilang, kasih menurun, dan akhirnya orang bisa kehilangan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan.

Di dalam rutinitas seringkali kita temui kejenuhan. Segala sesuatu terasa membosankan dan monoton. Tidak ada gairah dan semangat di dalamnya, dan orang akan menjadi lupa pada motivasi, alasan atau tujuan sebenarnya dari apa yang mereka lakukan. Dalam kehidupan rohani pun tujuan beribadah ini bisa melenceng menjadi sekedar rutinitas. Mungkin awalnya dilakukan karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, namun seiring waktu, semuanya menjadi pola kebiasaan yang tidak lagi didasarkan dari hati yang mengasihi. Ada banyak orang yang berdoa hanya menyampaikan teks hafalan itu-itu saja, karena sudah setiap hari mengucapkan hal yang sama. Ada pula yang memang hadir di gereja, tapi mereka tidaklah memiliki hati yang haus akan firman Tuhan, bukan mencari Tuhan. Mereka akan mengobrol, mencari humor dari kotbah pendeta, atau sms-an. Ketika hal ini terjadi, kita bisa melihat bahwa kasih mula-mula yang pernah mereka alami sudah terkikis. Ketika ada orang yang menganggap sebuah kotbah membosankan, atau “acara”nya buruk, lagu-lagunya tidak enak, tidak sesuai selera dan sebagainya, itu karena mereka mementingkan tata caranya di atas hubungan pribadi dengan Tuhan. Jika itu terjadi, bukan gerejanya yang buruk, tapi hubungan pribadi mereka dengan Tuhan lah yang buruk. Ibadah tidak berbicara soal selera, melainkan berbicara tentang kerohanian seseorang dalam membangun hubungan dengan Tuhan.

Sebuah ibadah yang baik seperti yang diajarkan Yesus sendiri adalah menyembah Allah didalam Roh dan kebenaran. (Yohanes 4:24). Adalah penting bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas Roh dan kebenaran secara terus menerus, dan itu semua tidaklah akan berhasil apabila kita kehilangan kasih mula-mula dan melakukan ibadah hanya sebagai simbol maupun rutinitas semata. Sebuah ibadah sejati digambarkan jelas oleh Paulus. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1). Sebuah ibadah hendaklah dilakukan atas kasih dan rasa syukur tak terhingga bagi Allah saja. Janganlah sampai semua itu hanya merupakan rutinitas tanpa disertai rasa maupun ucapan syukur yang tulus dari hati dan akibatnya kita menjadi bodoh dan kehilangan penyertaan Allah dalam hidup kita. “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” (Roma 1:21). Sebuah ibadah sejati tidak boleh terbatas hanya pada ritual-ritual keagamaan, rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan atau ikut persekutuan, tapi ibadah sejati haruslah juga menyangkut sebuah hubungan atas kasih dan syukur kepada Tuhan dalam Roh dan Kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja.

Miliki motivasi dan dasar yang benar dalam beribadah agar kita tidak kehilangan kasih mula-mula

Kehilangan Kasih Mula-Mula (6) : Pergaulan Buruk

Posted: 30 Nov 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:33
======================
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

hilang kasih mula-mula, pergaulan burukMasih ingat renungan tentang HIV bulan Agustus lalu? Disana saya menceritakan tentang seorang mahasiswa saya yang ternyata terjangkit HIV akibat penggunaan narkoba lewat pemakaian jarum suntik. Bagaimana ia bisa terkena penyakit mematikan ini? Semua adalah akibat pergaulan yang salah. Teman-temannya sesama pemakai hanya mengatakan bahwa memakai narkoba itu enak dan tidak pernah menyinggung tentang bahaya yang ditimbulkan. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah besar dalam hidup yang berujung pada penyesalan. Hamil diluar nikah akibat salah memilih pasangan yang tidak baik, menjadi pemabuk akibat terbiasa minum-minum bersama teman, kecanduan clubbing/dugem tanpa kenal waktu, terjerumus pada macam-macam kejahatan, menderita penyakit mematikan akibat kebiasaan buruk dan tidak menjaga tubuh dan lain-lain semuanya seringkali berawal dari bentuk pergaulan yang buruk. Itu contoh ekstrim. Untuk kasus yang lebih “ringan”, ada teman-teman atau lingkungan yang hobinya mematahkan semangat kita dengan pernyataan-pernyataan negatif. Bayangkan betapa sulitnya tumbuh jika kita ada dalam sebuah lingkungan negatif seperti ini. Contoh lain, ada orang yang merasa sungkan untuk berdoa sebelum makan ketika berada bersama teman-temannya yang berbeda keyakinan. Bahkan tidak jarang ada pula yang menyangkal kekristenan dirinya karena tidak ingin tersisih dalam pergaulan. Semua ini adalah contoh nyata dari dampak yang ditimbulkan dari pergaulan yang buruk. Ketika orang mulai mengorbankan imannya demi pergaulan atau lingkungannya, kasih mula-mula pun akan terkikis hingga lama-lama hilang.

Lingkungan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter kita. Dalam ayat bacaan hari ini, Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk berhati-hati dalam memilih pergaulan agar mereka tidak sampai sesat. Ajakan yang sama tentunya berlaku untuk kita, terutama hari-hari ini dimana begitu banyak pergaulan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai bentuk dosa terutama lewat keinginan daging. Dalam ayat lain, Paulus pun mengingatkan agar kita jangan bergaul dengan orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu, sekalipun mereka menyebut diri mereka saudara. (1 Korintus 5:11). Semua ini bertujuan baik, agar kita tidak terpengaruh, kehilangan kasih mula-mula dan mengalami degradasi iman. Jika tidak berhati-hati, tanpa sadar kita menjadi semakin jauh dari Tuhan dan akibatnya dapat terjerumus dalam kuasa kegelapan. Kita pun akan kehilangan semua janji Allah. Karenanya kita harus berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan kita. Setidaknya kita harus mampu menyaring atau menetralisir dampak dari sebuah lingkungan pergaulan yang buruk.

Disisi lain, kita tidak boleh juga bertindak terlalu ekstrim hingga kita menganggap orang yang berbeda keyakinan sebagai kenajisan. Dalam Kisah Para Rasul 10:28, Petrus mengatakan bahwa dalam menghadapi orang lain yang berbeda, kita tidak boleh menyebut mereka najis atau tahir (haram). Kita tetap harus membuka diri, karena Tuhan mau pakai kita untuk menyatakan kemuliaanNya dan mengenalkan kasih Kristus pada orang lain. Tuhan butuh hati kita untuk mengasihi, butuh tangan-tangan yang menyembuhkan, butuh kaki kita untuk pergi bergerak dan suara untuk menyatakan kebenaran. Sebagaimana kita merasakan kasih Allah dalam hidup kita, seperti itu pula kita harus mengasihi saudara-saudara kita yang lain. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11). Tanpa membuka diri dan melihat saudara-saudara yang belum mengenal Kristus dengan kacamata kasih, kita tidak akan mampu mengenalkan pribadi Yesus lewat segala hal yang kita lakukan. Jadi kita tetap harus mau membuka diri dan mengasihi tanpa terkecuali, namun dilain pihak kita tetap harus menjaga diri kita agar berbagai keinginan daging yang berbuah dosa tidak sampai mencemari kita. Yang penting iman kita harus mampu terus bertumbuh, bukan sebaliknya malah berkompromi dengan dunia.

Sangat baik, jika kita mampu menjadi terang dalam kegelapan, namun pada saat yang sama berhati-hatilah agar kita tidak malah ikut-ikutan menjadi gelap. “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Galatia 6:1). Kita harus terus memastikan agar kasih mula-mula tidak redup bahkan padam sambil tetap mengulurkan tangan bagi mereka yang sesat agar kembali kepada Bapa. Tetaplah tekun menjaga iman, jangan mengorbankannya demi berkompromi dengan dunia. Jika anda mulai merasa tawar dan kehilangan kasih mula-mula dalam sebuah lingkungan pergaulan, kembalilah segera pada Tuhan dan jangan biarkan diri anda terjerumus makin dalam. Tuhan sangat mengasihi kita dan ingin kita pun tetap mengasihiNya seperti saat pertama kali kita jatuh cinta padaNya.

Miliki iman yang terus bertumbuh dan jangan sampai terpengaruh pada pergaulan yang buruk

4 responses

12 11 2008
Bona Panggabean

Hai, boleh kenal, lae? ;)

12 11 2008
bonar

horas lae…sepertinya langsung diarahkan saja ke “tentang saya” aja harusnya, hehehe..supaya yang lain bisa lihat dan kalo tertarik utk nge-link ke lae sekaligus bisnisnya…hehehe
rupanya kita sedang sama-sama “berjuang” di bisnis lewat internet nih lae…
semoga sukses lae, kalo lae mau nyoba peluang ini silahkan lae klik disini : http://www.asiabersama.com/bonar407 mari kita sama-sama meraih sukses…

salam sukses…
horas

31 10 2009
alberta

renungannya bagus dan mudah dicerna

28 02 2011
sam sihombing

renungannya bagus, dapatkah dikirim ke email saya?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: