Renungan Harian Desember

Kehilangan Kasih Mula-Mula (7) : Kemapanan

Posted: 01 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yeremia 48:11
====================
“Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah.”

kemapanan, kehilangan kasih mula-mulaKita selalu berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari berbagai problema kehidupan yang membebani kita. Kita meminta Tuhan menenangkan badai yang mengombang ambingkan kita. Kita selalu berharap Tuhan menjawab doa kita, menurunkan mukjizat-Nya yang ajaib sehingga kita bebas dari belenggu masalah. Tapi banyak diantara kita yang kemudian melupakan Tuhan ketika badai berhenti dan laut sudah tenang. Ketika permasalahan telah diangkat dari kita, hidup menjadi baik-baik saja, kita mulai merasa mapan dan tenang tanpa masalah, kita lupa untuk terus mengucap syukur dan malah sibuk dengan kenikmatan duniawi yang kita miliki. Ini salah satu hal yang ironis. Di satu sisi kita ingin agar bebas dari pergumulan hidup kita, tapi di sisi lain, kemapanan dan kenyamanan kemudian bisa membuat kita secara perlahan melupakan Tuhan, yang memberi kita kemerdekaan. Ya,orang bisa kehilangan kasih mula-mula akibat kenyamanan atau kemapanan, akibat hidup yang tenang seperti laut tanpa angin kencang.

Ayat bacaan hari ini adalah mengenai Moab. Moab adalah gambaran dari orang-orang yang merasa aman dan tenang untuk waktu yang lama, dalam kondisi yang sebenarnya masih terhilang. Tidak jarang orang yang berada dalam kemapanan merasakan bahwa mereka telah memiliki segalanya dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan dalam hidup mereka. Mereka merasa bahwa semua yang mereka dapat adalah buah dari kerja keras mereka, dan bukan karena berkat Tuhan turun atas mereka. Moab digambarkan bagaikan anggur tua di atas endapan, tidak pernah terguncang, dituang dari bejana ke bejana atau dibuang. Orang-orang Moab menjadi statis, tidak bertumbuh. Tidak hanya itu, mereka pun menjadi angkuh. “Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kesombongannya, keangkuhannya dan kecongkakannya, tentang tinggi hatinya.” (Yeremia 48:29). Mari tanyakan pada Firaun atau Nebukadnezar atau Belsyazar. Mereka adalah raja-raja terkenal dalam Perjanjian Lama dengan kekayaan berlimpah, namun tidak merasa perlu untuk mendengar Tuhan. Apa kata Tuhan untuk bangsa Moab? “Sebab itu, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan mengirim kepadanya tukang-tukang yang akan menuangkannya, mencurahkan tempayan-tempayannya dan memecahkan buyung-buyungnya.” (ay 12). Dengarlah, ada masa ketika Tuhan merasa perlu untuk mengguncang kemapanan itu agar manusia kemudian berbalik mencari Tuhan, belajar mengandalkanNya dan akhirnya mengerti bahwa apapun yang dimiliki, segala kemapanan dan kenyamanan hidup itu tidak lain adalah berkat luar biasa dari Tuhan.

Puji Tuhan jika ketika tempayan penyimpan anggur itu digoyang, orang akan tersadar dan berbalik, bertobat dan kembali pada kasih mula-mulanya pada Tuhan, karena tidak semua manusia mampu menyadari hal tersebut sebagai sebuah teguran dari Tuhan. Kitab Wahyu menuliskan: “Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan,dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.” (Wahyu 9:20-21). Artinya tetap ada manusia yang bukannya sadar, tapi malah bersungut-sungut menganggap Tuhan itu kejam dan tidak berhenti menyembah “berhala-berhala” lain seperti harta kekayaan, patung-patung, benda-benda yang dianggap membawa keberuntungan dan sebagainya. Bagaimana Tuhan menghukum “anggur tua yang mengendap diam” seperti bangsa Moab? Demikian firman Tuhan: “Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat! Maka harta kekayaannya akan dirampas dan rumah-rumahnya akan menjadi sunyi sepi. Apabila mereka mendirikan rumah, mereka tidak akan mendiaminya; apabila mereka membuat kebun anggur, mereka tidak akan minum anggurnya.” (Zafanya 1:12-13).

Tuhan tidak menginginkan kita kehilangan kasih mula-mula ketika kita diberi berkat dan dilepaskan dari kesulitan hidup atau sakit penyakit. Tuhan ingin kita bersyukur, memuliakan Dia bukan saja dalam hidup kita, tapi juga dalam segala tindakan dan perbuatan kita, menjadi terang dan garam bagi dunia. Tuhan tidak menginginkan kita kemudian lupa bersyukur dan terlena dalam kemapanan dan kenyamanan, tapi Tuhan ingin kita semua memberi kesaksian pada dunia betapa hebat dan ajaibNya pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Saya berdoa jika ada diantara teman-teman yang dalam kemapanan hidup tanpa masalah kemudian kehilangan rasa mengasihi Tuhan, tidak lagi merasa haus dan lapar akan Dia, bertobatlah dan baliklah segera. Saya berdoa agar jangan sampai Tuhan harus menurunkan tongkat penghukumNya seperti pada bangsa Moab. Jangan sampai ucapan Tuhan yang mengerikan ini kembali keluar seperti yang Dia tujukan pada Belsyazar lewat Daniel: “tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan” (Daniel 5:27). Karena sebagai anak-anak Tuhan yang baik, kita seharusnya cepat sadar dan kembali pada kasih mula-mula. Bagi teman-teman yang mungkin tengah mengalami proses, bersabarlah dan jangan bersungut-sungut, ingatlah bahwa untuk membuat bejana yang indah itu butuh proses yang terkadang terasa menyakitkan. Namun ketika anda selesai dibentuk menjadi sebuah bejana yang indah, jagalah tetap kasih mula-mula dan teruslah memuji dan menyembah Tuhan. Allah selalu menyatakan kasihNya pada kita. Bahkan lewat karya penebusan Kristus, itu menjadi sebuah bukti nyata betapa Tuhan selalu rindu untuk merangkul manusia yang berdosa untuk menjadi anak-anakNya yang terkasih. Mari kita senantiasa menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup kita, selalu menjaga kasih mula-mula tetap menyala, sehingga kita tidak perlu mengalami hukuman Allah dalam melalui proses pembentukan atau perjalanan hidup kita.

Ketika hidup tenang tanpa badai, jangan terlena pada kenyamanan tapi tetaplah bersyukur pada Tuhan

Kado Buat Yesus

Posted: 02 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 2:10
==================
“Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.”

kado buat yesus, menyambut natal, mempersiapkan hatiKetika saya kecil, saya begitu gembira setiap kali memasuki bulan September. Kenapa? Karena itu artinya dalam dua minggu kedepan saya akan merayakan ulang tahun. Berarti sebentar lagi saya akan mendapatkan hadiah-hadiah, dan sering pula ulang tahun saya dirayakan dengan pesta mengundang teman-teman dan saudara-saudara. Maka sepanjang dua minggu pertama saya akan begitu ceria menanti hari ulang tahun saya tersebut. Tidak hanya ulang tahun, orang biasanya akan bersukacita ketika menanti sesuatu yang menyenangkan dan bermakna khusus bagi mereka. Pesta Natal dan Tahun Baru, liburan, konser musisi kesayangan, dan sebagainya. Penggemar bola tidak akan sabar menanti tim favoritnya untuk tampil di televisi di akhir pekan. Maka banyak diantara mereka yang telah mempersiapkan diri menjelang penampilan timnya seperti janji nonton bareng dengan teman-teman, mempersiapkan snack dan sebagainya. Adik saya punya hobi nonton film. Ketika film yang ia tunggu mendekati waktunya untuk tampil di bioskop, ia pun sibuk menanti dengan bergairah. Beberapa kali ia malah rela pergi jauh-jauh ke Malaysia, hanya karena film yang ia nanti lebih cepat diputar disana.

Di bulan Desember ini kita memperingati kelahiran Yesus Kristus. Bayangan hiasan-hiasan Natal di pusat-pusat perbelanjaan dan berbagai tempat lainnya hadir di pikiran kita. Kita mendengar lagu-lagu Natal yang terasa jauh lebih indah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Banyak diantara kita yang sangat senang memasuki bulan Desember, karena sebentar lagi akan ada pesta perayaan Natal dan Tahun Baru, ada banyak yang punya tradisi tukar-tukaran kado, liburan, merangkai pohon natal bersama keluarga, menghias rumah agar lebih semarak dan sebagainya. Semua itu sering membuat kita lebih ceria dalam bekerja, dan tidak terlalu banyak mengeluh ketika menghadapi pekerjaan menumpuk. Semua itu sama sekali tidak salah. Tapi sudahkah kita memikirkan kado buat Yesus sendiri?

Ketika kita bersukacita menyambut datangnya hari Natal, ada hal yang lebih penting yang seharusnya menjadi sumber sukacita kita ketimbang perayaan, pesta, kado dan sebagainya. Hal tersebut adalah kehadiran Kristus di dunia untuk menebus dosa-dosa kita, menghapus dosa dunia, dan menjadi sebuah jalan menuju keselamatan. Itu hal yang sangat luar biasa, yang menggambarkan besarnya kasih Allah pada kita manusia yang selalu berbuat dosa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Bayangkan apa jadinya jika Yesus tidak hadir di planet bumi ini, apa yang akan terjadi dengan hidup kita? Kristus lahir ke dunia, hadir di tengah-tengah kita hingga mati di kayu salib, semua itu untuk kita. Semua itu untuk kita, anak-anakNya yang Dia kasihi. Orang-orang majus dari Timur berangkat menuju Betlehem untuk menyembah bayi Yesus (Matius 2:2). Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, namun semua kelelahan itu sirna berubah menjadi sukacita ketika mereka melihat bintang yang menunjukkan arah dimana Yesus lahir.

Kita mundur sedikit melihat apa yang dikatakan malaikat kepada Yusuf lewat mimpinya. “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21), “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel (arti Imanuel adalah Allah ada bersama kita)” (ay 23). Kelahiran Yesus karena kasih Allah yang begitu besar memberi dampak yang luar biasa besar bagi hidup dan keselamatan kita. Dan untuk itulah kita bersukacita. Jika demikian, apa kado yang paling tepat buat Yesus? Yesus hanya membutuhkan satu hal saja, yaitu hati kita. Hati kita yang terbuka, percaya kepadaNya dan selalu menyembahNya. Hati yang didasari iman sehingga Kristus diam di dalam hati, sehingga kita akan berakar dan berdasar oleh kasih. Hati yang penuh kasih kepada sesama, seperti halnya kasih Kristus kepada kita. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33). Memasuki bulan Desember, mari siapkan hati kita sebagai hadiah yang indah bagi Yesus. Renungkan makna kehadiran Yesus di dunia. Mari penuhi hati dan mulut kita dengan ucapan syukur, bukan didasari hanya pada perayaan dan pesta, namun dasarkan pada kasihNya yang begitu besar pada kita.

Berikan kado yang terbaik buat Kristus yaitu hati kita

Bebas Dari Dakwaan Iblis

Posted: 03 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Yohanes 1:9
==========================
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

bebas dari dakwaan iblis, tuduhan iblisDi awal saya mulai menulis renungan, ada saat-saat dimana saya merasa ragu apakah saya layak untuk menuliskan renungan setiap hari. Apakah saya layak bekerja untuk Tuhan? Apakah mungkin saya bisa menjadi saluran berkat buat saudara-saudara di dunia maya? Saya tidak ragu sedikitpun akan keajaiban Tuhan yang bisa memakai siapapun untuk mewartakan firmanNya, namun jujur saja, saya ini merasa bukan apa-apa. Jumlah tahun setelah saya menerima Kristus pun belum melewati jumlah jari tangan. “Ingat kan dosa-dosa kamu dulu?” “Memangnya kamu sudah “holy” banget jadi orang?” dan bentuk-bentuk dakwaan lain dihadirkan iblis untuk melemahkan saya. Teman, dengarlah, ini hobi iblis, sang pendakwa untuk terus menuduh kita, melemahkan kita agar menjadi jatuh. Saya ketika itu berdoa, dan setelahnya menjadi yakin bahwa Tuhan memang sanggup dan mau memakai saya. Bagaimana saya mementahkan dakwaan-dakwaan iblis tadi? Cuma satu cara: mengakui dosa dan segera bertobat. Sebagai manusia tentu kita tidak luput dari dosa, dan itu menjadi sumber yang sangat disukai iblis untuk mendakwa kita. Betapa rajinnya iblis yang mencoba menuduh dan mendakwa kita siang dan malam. Maka kita pun berkali-kali bertemu dengan orang yang masih merasa dirinya sebagai “terhukum”, terikat dalam dosa-dosa masa lalunya, meskipun ia sudah berkali-kali berdoa agar kesalahannya diampuni.

Kalau kita lihat awal kisah Ayub, kita akan melihat bagaimana gencarnya iblis mendakwa dirinya. Itulah iblis, yang dalam Ayub 1:12 disebutkan sebagai “the accuser” alias penuduh/pendakwa (versi English amplified) yang terus berusaha melemahkan kita. Iblis tidak ingin kita diselamatkan. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin jatuh. Yang dipakai untuk mendakwa adalah dosa kita, maka untuk menutup mulut iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Imani dan percayalah akan hal itu. Tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena dosa kita sudah diampuni. Apa kata Tuhan mengenai orang yang mengakui dosanya? “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Dosa semerah kirmizi bisa putih seputih salju, semerah kain kesumba sekalipun bisa seputih bulu domba. Ingatlah syaratnya adalah mengakui dosa, karena bagaimana Tuhan mengampuni jika kita tetap menyimpan dosa di dalam diri kita? Dosa yang tidak diakui akan merintangi dan merusak hubungan antara kita dengan Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).

Saya menyadari bahwa saya masih jauh dari sempurna. Tapi saya bertekad untuk terus berusaha menjadi seperti Yesus, meneladani Yesus dalam segala aspek kehidupan saya. Ketika saya tergelincir, saya harus segera mengakui dosa itu, dan harus berani menjadikannya pula sebagai kesaksian. Dalam beberapa renungan yang saya tulis pun saya pernah beberapa kali menuliskan teguran-teguran Bapa pada saya dan kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Semua saya akui sehingga iblis tidak lagi bisa mendakwa saya dan bisa dikalahkan. Bukankah Wahyu 12:11 mengatakan bahwa iblis dikalahkan oleh darah anak domba dan oleh kesaksian kita?
Jangan pernah ragu akan pengampunan Tuhan. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” (Efesus 1:7). Kita memilki Allah yang luar biasa yang sangat ingin kita diselamatkan. Karena itulah Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Jika kita berbuat dosa, segeralah berbalik pada Tuhan, mohon pengampunan lalu hiduplah dalam terang. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Jika anda masih merasa dakwaan iblis seakan membelenggu anda, katakanlah segera bahwa anda telah mengakui segalanya dan menerima pengampunan dari Yesus. Bebaslah dari dakwaan iblis, dan bertumbuhlah dalam kasih Kristus.

Iblis tidak bisa mendakwa dosa yang sudah kita buka tuntas dan sudah diampuni

Walk With God

Posted: 04 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kejadian 5:24
==========================
“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (“And Enoch walked with God; and he was not, for God took him”)

walk with God, berjalan bersama Tuhan, hidup bergaul dengan TuhanPagi tadi saya dan istri membawa kedua anjing kami jalan pagi. Betapa menyenangkannya melihat kedua anjing mungil itu berjalan dengan gembira bersama kami. Ketika salah satu dari anjing berjalan terlalu ke depan, kami pun harus mempercepat langkah, karena jika tidak, lehernya akan tercekik. Sebaliknya jika salah satu dari mereka terlalu lambat, kami pun harus memperlambat langkah agar leher mereka tidak tercekik. Perjalanan menjadi lancar jika mereka berjalan beriringan, dengan ritme yang sama dengan kami. Saya merasa pagi tadi adalah pagi yang sangat membahagiakan, berjalan beriringan dengan istri dan kedua anjing yang begitu saya sayangi seperti anak sendiri.

Malam ini ketika hendak menulis renungan, saya teringat pada Henokh. Kisah mengenai Henokh dalam Alkitab tidaklah panjang, namun Henokh memberi sebuah kisah yang istimewa. Dalam ayat bacaan hari yang diambil dari kitab Kejadian 5:24 ini kita melihat bahwa Henokh dikatakan hidup bergaul dengan Allah(walked with God) , dan ia tidak mengalami kematian jasmani karena langsung diangkat Allah. Kata “hidup bergaul” atau “walked with God” ini kembali terulang pada kisah Nuh. “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (“…Noah walked with God.”) (Kejadian 6:9). Dan apa yang terjadi pada Nuh? Ketika Tuhan kecewa dan kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk di bumi akibat bumi telah rusak akibat perbuatan manusia-manusia, hanya Nuh dan keluarganya lah diantara manusia-manusia lainnya yang diselamatkan. Kuncinya? Nuh adalah seorang yang benar, tidak bercela dan tentu saja hidup bergaul dengan Allah. Selanjutnya pada Perjanjian Baru, Henokh dan Nuh kembali disebutkan. “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:5). “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (ay 7). Henokh dan Nuh mengalami sesuatu yang sangat luar biasa karena iman mereka, sebuah iman yang memungkinkan mereka berjalan bersama Tuhan dimana Allah berkenan atasnya.

Hidup bergaul tidaklah bisa berjalan sempurna jika tidak dilakukan beriringan. Seperti jalan pagi saya diatas, ketika satu tertinggal perjalanan tidak akan lancar, begitu pula jika satu berjalan terlalu cepat di depan. Hidup bergaul yang baik adalah ketika kedua pihak berjalan seirama, ada hubungan timbal balik atau take and give. Mari kita periksa diri kita. Apakah kita hanya berdoa untuk meminta berkat, agar terjadi kesembuhan atas sakit, agar Tuhan melepaskan kita dari kesulitan, tanpa mempersembahkan apa-apa bagi Tuhan, bahkan sebuah ucapan syukur yang sederhana sekalipun? Sudahkah kita melakukan kehendakNya untuk menjadi terang dan garam bagi dunia? Sudahkah kita memikirkan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkanNya, atau kita masih terus bersungut-sungut menganggap Tuhan kurang tanggap mendengar jeritan kita? Take and give, semuanya seimbang, dalam satu ritme langkah yang beriring sempurna. Itulah sebuah hidup bergaul sesungguhnya. Tuhan rindu agar kita mau berjalan bersamaNya, mengalami hal-hal luar biasa, merasakan kehadiranNya yang penuh damai dan sukacita. Sebuah perjalanan bersama Tuhan adalah perjalanan indah dimana kita tidak perlu ragu tentang apapun yang ada di depan sana. Bukan saja perjalanan dimana sukacita dan damai sejahtera dari kehidupan kekal menanti di depan sana, tetapi kita pun bisa menikmati setiap langkah perjalanan kita bersamaNya. It’s just too beautiful to imagine. Tidak ada kata terlambat untuk mulai berjalan bersama Tuhan dalam setiap detik hidup kita. Mulailah dari sekarang, karena setiap langkah itu berharga.

Kita menuju arah yang benar jika berjalan bersama Tuhan

Everyday Is A Test

Posted: 05 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
======================
“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

everyday is a test, setiap hari ada masalah, masalah bertubi-tubi, menghadapi masalah beruntunBosan mendengar air mati di rumah saya? Itulah yang lagi-lagi terjadi. Sudah dua hari air kembali mati. Tadi pagi komputer istri saya sepertinya terkena virus, sehingga tugas saya pun bertambah lagi, membawa komputer untuk direparasi. Cukup? Tidak, karena malam setelah saya selesai mengajar dan hendak pulang, mobil tiba-tiba rusak. Sabar, tentu itu yang seharusnya saya lakukan, dan saya tahu Tuhan pun menginginkan saya untuk bisa bersabar menghadapi berbagai masalah. Tapi sejak air berhenti mengalir kemarin, saya terus menerus mendengarkan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini di dalam hati saya.

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” What a wonderful God He is! Dalam tiap titik kesulitan di atas, saya merasakan kuasa Tuhan dinyatakan. Bagaimana? Mari saya ajak teman-teman melihat situasinya satu persatu.

  • Pertama, air mati. Ternyata di bawah rumah saya ada selang kecil yang lubangnya kira-kira sebesar sedotan (straw). Untuk menampung satu ember membutuhkan kira-kira setengah jam, tapi air itu mengalir dari gunung dan tidak berhenti, sehingga saya bisa menampung dengan sabar terus menerus untuk mengisi bak mandi saya. Tidakkah saya bersyukur bahwa Tuhan memberi saya tenaga yang cukup untuk menggotong ember demi ember sehingga kami tidak harus kekurangan air? Tidakkah saya bisa bersyukur bahwa masih ada selang yang walaupun kecil tapi masih bisa mengalirkan air ke dalam ember? Itu jauh lebih baik daripada tidak ada sumber air sama sekali, atau jika saya dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu mengangkat ember.
  • Kedua, kasus komputer yang terkena virus. Saya tinggal membawa komputer itu ke kampus dimana saya mengajar, karena disana ada teknisi-teknisi yang siap membantu memperbaiki tanpa biaya. Ya, saya memang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membongkar pasang komputer, dan membawanya ke kampus, tapi saya masih punya tenaga lebih dari cukup untuk itu.
  • Ketiga, mobil mogok, ternyata Tuhan kembali menunjukkan kuasaNya. Walaupun hari sudah malam, tapi saya bertemu dengan montir sepeda motor yang bersedia membantu, setidaknya hingga mobil bisa saya bawa kembali ke rumah dengan selamat. Dan luar biasa, walaupun orang itu tidak saya kenal, dia tidak mau menerima bayaran sama sekali meski telah mengutak atik mobil berjam-jam. “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” That’s absolutely right, and I praise the Lord for that. Haleluya!
Everyday’s a test. Setiap hari adalah ujian, apakah kita mampu taat dan tetap bersukacita ketika menghadapi permasalahan hidup atau tenggelam dalam keluhan dan kekecewaan. Petrus mengingatkan akan hal yang sama pula. “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Petrus 4:13). Berbagai ujian itu pun akan mendatangkan ketekunan (Yakobus 1:3). Kita belajar sabar, belajar tekun, dan yang lebih penting lagi, belajar percaya sepenuhnya pada Tuhan bukan ketika kita sedang aman-aman saja, tapi justru ketika kita menghadapi kesulitan hidup. Kita bisa bersungut-sungut dan mengeluh karena kesulitan itu menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, sebaliknya kita bisa bersukacita dan bersyukur bahwa Tuhan selalu beserta kita dalam hal apapun. Mukjizat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya tidak harus selalu dari hal-hal “bombastis” seperti orang mati dibangkitkan, orang sakit parah tiba-tiba sembuh dan sebagainya, tapi dalam banyak hal yang mungkin terlihat kecil, – terkadang sangat kecil sehingga banyak yang tidak menyadarinya karena fokus pada masalahnya dan bukan pada penyelesaian – , itu semua tetaplah mukjizat Tuhan yang nyata, tidak kurang hebatnya dari mukjizat-mukjizat di atas. Tiga masalah yang saya alami beruntun mulai kemarin semuanya menjadi bukti bahwa penyertaan Tuhan tetap ada, dan mukjizatNya tetap terjadi. Semua telah dicukupkan, dan Dia tetap hadir dengan kuasaNya yang ajaib.

Apapun masalah yang tengah kita hadapi, itu semua adalah ujian, dan bagaimana sikap dan cara menjawabnya semua tergantung diri kita sendiri. Saya percaya, Tuhan menjanjikan berkat yang lebih lagi bagi anak-anakNya yang mampu melewati berbagai ujian dengan sukacita berlimpah dan tetap percaya penuh pada kuasaNya. Jadi ketika anda menghadapi masalah beruntun dan bertubi-tubi, bersukacitalah karena Allah telah mencukupkan kasih karuniaNya bagi kita agar mampu menghadapi semuanya itu. Haleluya!

Anda tengah didera masalah bertubi-tubi? Bersyukurlah karena itu artinya anda akan merasakan kuasa Allah yang ajaib

Belajar Dari Ibu Penjual Jamu

Posted: 06 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 28:19-20a
=============================
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

bersikap ramah, kasih, mengasihiKemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi “terdampar” di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.

Dan saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya ke sebuah bengkel hingga bertemu si ibu tadi. Dari dia, saya pun diingatkan dan belajar akan satu hal. Ini sebuah analogi dari bagaimana kita sebagai murid Yesus harus bersikap menghadapi dunia. Ayat bacaan hari ini menulis bahwa Yesus meminta kita para muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Mengapa demikian? Karena kepada Yesus telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di surga. (Matius 28:18).Tidak ada orang yang bisa datang pada Tuhan tanpa melalui Yesus (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu, dimana siapapun yang masuk melalui Dia, maka orang itu akan selamat dan mempunyai hidup lengkap dengan segala kelimpahan. (Yohanes 10:9-10). Tuhan Yesus selalu merindukan domba-dombaNya yang hilang dan menginginkan mereka semua kembali padaNya, dan karenanya akan diselamatkan dari kematian yang kekal. “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13). Kita sebagai murid-muridNya diutus untuk mewartakan kabar gembira, menyelamatkan banyak jiwa untuk mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal yang penuh damai sejahtera.

Bagaimana seharusnya sikap kita untuk menjadi murid Yesus yang benar? Kita diminta untuk memiliki sikap-sikap baik kepada orang lain sebagai berikut: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:12-13). Semua kualitas baik di atas haruslah didasarkan oleh kasih. “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (ay 14). Kasih menjadi dasar kekristenan yang seharusnya kita miliki jika terang Kristus ada dalam diri kita. Kita harus mengasihi siapapun di dunia ini tanpa pandang bulu. Kita diminta untuk saling melayani lewat kasih, dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang berasal dari Tuhan malah untuk berbuat dosa. “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13). Kita harus selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Titus 3:2), dan dengan demikian orang akan mengenal Yesus. Lewat siapa lagi terang Kristus akan memancar dan memantul kepada orang lain jika tidak melalui kita?

Jagalah agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Jangan diskriminatif, memasang pagar tinggi terhadap saudara-saudari kita yang lain, terutama yang belum mengenal Kristus. Jangan pasang double, triple atau multiply standard, tetapi perlakukanlah semua orang dengan baik berdasarkan kasih, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ibu penjual jamu gendong diatas menawarkan dagangannya dengan kelemahlembutan, kesabaran dan keramahan, dan saya mendapat manfaatnya untuk menjaga stamina saya yang terkuras habis beberapa hari belakangan ini. Kita pun bisa belajar dari ibu penjual jamu untuk bersikap sama terhadap orang yang belum mengenal Tuhan. Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Yesus agar lebih banyak lagi jiwa terhilang bisa diselamatkan. Bukan lewat kekerasan, lewat caci maki, penghinaan atau pemaksaan, karena semua itu tidaklah ada gunanya dan tidak ada untungnya baik bagi kita maupun bagi saudara-saudara kita. Tidak ada jalan lain untuk memperkenalkan pribadi Yesus yang sesungguhnya dan segala berkat, hidup yang kekal dan pintu keselamatan menuju Bapa tanpa segala sesuatu sikap baik yang berdasar pada kasih.

Kenalkan Kristus dengan bersikap ramah dan penuh kasih pada sesama

Jalan Menuju Keselamatan

Posted: 07 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Roma 3:23
======================
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”

Yesus jalan keselamatanSemua orang telah berbuat dosa, semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu berita buruk. Saya membayangkan seandainya saya adalah salah satu jemaat Roma yang membaca surat dari Paulus itu, rasanya saya akan merasa terpukul. Mungkin sebagian besar jemaat Roma telah berusaha melakukan kebaikan, rajin beramal dan sebagainya, namun ternyata semuanya itu belum cukup untuk menyelamatkan, membersihkan diri dari dosa atau mengembalikan kemuliaan Allah ke dalam hidup mereka. Ayat hari ini saya garis bawahi sebagai sebuah dasar yang sangat penting disadari bagi hadirnya pemulihan hidup. Coba kita lihat bagaimana kehidupan anak-anak kecil. Adakah orang tua yang mengajarkan mereka untuk berbohong, mencuri dan sebagainya? Tapi tanpa diajari, kita sering menjumpai anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa ternyata telah berani berbohong atau mencuri sesuatu. Ini membuktikan bahwa ternyata sejak lahir manusia memang telah membawa bibit-bibit dosa. Di sisi lain, kita melihat bahwa begitu banyak orang terus menerus tergoda oleh keinginan daging, sehingga kerap kali terpeleset ke dalam dosa meskipun sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat sekalipun. Wajar jika manusia kehilangan kemuliaan Allah karena antara manusia cenderung untuk tunduk pada keindahan dan kenikmatan akibat kedagingan yang bermuara pada dosa.

Ada kabar buruk kedua: perbuatan baik kita, sebaik apapun, ternyata tidak mampu menjadi kendaraan yang mampu mengantarkan kita menuju keselamatan. Titus 3:5 menggambarkan hal tersebut dengan jelas. Pada Roma 3:27 pun Paulus mengingatkan hal yang sama, bahwa tidaklah ada gunanya bermegah berdasarkan perbuatan. Kekristenan bukanlah mengajarkan bahwa kita boleh berbuat jahat, sebaliknya kita sangat diharuskan untuk selalu berbuat baik tanpa terkecuali dan mendasarkan segala sesuatu dalam kasih, seperti halnya Tuhan mengasihi kita. Namun perbuatan baik saja belumlah cukup.

Kelanjutan ayat bacaan hari ini menjelaskan sebuah konsep keselamatan. “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24) Ya, penebusan dalam Yesus, itulah yang membebaskan kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, sehingga manusia mampu beroleh kembali kemuliaan Tuhan untuk dinyatakan dalam hidupnya. Semua itu diberikan dengan cuma-cuma karena karya penebusan Kristus. Itu bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:16-17). Tuhan Yesus menanggung dosa kita di atas kayu salib untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, dan kemudian mampu hidup menurut kehendak Tuhan. (1 Petrus 2:24). Allah telah melakukan sebuah langkah luar biasa sehingga kita semua bisa terlepas dari belenggu dosa yang selama ini merintangi hubungan kita dengan-Nya. Selanjutnya giliran kita, apa yang harus kita lakukan? Puji Tuhan jawabannya pun telah disediakan. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:9-10). Kita hanya diminta untuk mengakui dan percaya. Kenyataannya tidaklah mudah untuk mengakui dengan mulut, apalagi percaya. Padahal ini adalah hal penting. Dengar apa kata Yesus: “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.” (Lukas 12:8). Untuk itulah, kita sebagai anak-anak Allah yang telah mengalami sendiri penyertaan Tuhan dengan berbagai berkatNya harus tampil dengan kesaksian-kesaksian kita, dengan pola hidup kita, seperti yang dipesankan Kristus, agar semua lidah mengaku bahwa Yesus lah Tuhan. Anugrah keselamatan sungguh mahal, dan itu semua diberikan cuma-cuma lewat karya penebusan Kristus.

Demikianlah firman Tuhan: “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:18). Ini sebuah penekanan penting. Kita hanya bisa dibebaskan dari hukuman, menerima kembali kemuliaan Allah dan menerima keselamatan jika dan hanya jika kita mengaku dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Mari kita membuka hati kita untuk menerima Yesus sepenuhnya, sehingga kita tidak harus berakhir sia-sia ke dalam hukuman kekal, melainkan memperoleh kemenangan penuh damai dan sukacita bersama Allah.

Yesus pikul dosa kita di atas kayu salib agar kita diselamatkan adalah anugrah terindah karena Allah mengasihi kita

Kemiskinan Yang Paling Miskin

Posted: 08 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 21:13
========================
“Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.”

kemiskinan yang paling miskin, bunda teresa, mengasihi sesama, membantu orang lainAda seorang pengemis yang selalu saya jumpai setiap hari dalam perjalanan menuju tempat kerja saya. Seorang bapak tua yang berjalan tertatih-tatih dari mobil ke mobil di sebuah lampu merah, mengharapkan belas kasihan pengendara yang lewat untuk menghidupi dirinya. Ketika saya tidak punya uang pecahan untuk diberikan padanya, saya mengucapkan maaf sambil tersenyum kepadanya. Pada suatu kali, bapak itu tiba-tiba mendekati saya dan berkata: “pak, bapak memang tidak setiap hari memberi saya uang sedekah, tapi bapak setiap hari memberi senyum. Ada banyak mobil yang memberi uang, tapi hanya sedikit yang memberi senyum..saya merasa senang sekali..” Dan dia mulai mendoakan saya seraya mengucapkan terima kasih. Apa yang anda pikirkan ketika melihat seorang pengemis? tentunya memberi uang sedekah bukan? Ternyata di balik itu mereka pun memiliki kerinduan untuk dihargai, dikasihi dan diperhatikan.

Jika berbicara mengenai kepedulian terhadap orang miskin, ingatan saya akan segera tertuju pada Bunda Teresa. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di Kalkuta, India. Bunda Teresa ada ditengah-tengah masyarakat yang sangat miskin di sana, melayani Tuhan di antara yang termiskin, terbuang dan sangat membutuhkan. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, lepra dan sakit penyakit lain, orang yang telanjang, hingga orang yang tidak dicintai, tidak diinginkan, tidak diperhatikan atau orang-orang tertolak. Tentu pengalaman sekian banyak dasawarsa itu membuat Bunda Teresa tahu betul apa yang dibutuhkan orang. Dengarlah apa katanya:

“We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty.”

Kemiskinan terbesar bukanlah kelaparan, telanjang dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Itulah kemiskinan yang paling miskin. Begitu banyak orang yang mengalami kepahitan bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi dan sebagainya. Ada beberapa orang yang saya kenal mengalami hal seperti ini, meskipun secara ekonomi mereka berkecukupan.

Amsal Salomo mengingatkan kita untuk memiliki telinga peka terhadap jeritan orang yang membutuhkan pertolongan. Jika tidak, maka jeritan kita ketika membutuhkan pertolongan pun tidak akan didengar Tuhan. Mengapa demikian? Karena Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8). Kedatangan Kristus ke dunia untuk menebus dosa kita adalah bukti nyata betapa besar kasih Allah pada kita. Karena Allah begitu mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi orang lain. (1 Yohanes 4:11). Mengasihi tidaklah harus selalu berbentuk pemberian materi, tapi lewat perhatian, lewat membagikan sebagian waktu kita untuk mendengarkan mereka yang membutuhkan pertolongan, atau yang paling mudah, lewat senyum tulus, itu bisa meringankan penderitaan mereka.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini merasa tidak diinginkan atau tidak dicintai (unwanted and unloved), dan sementara ini tidak ada dukungan moril, kepedulian atau empati dari saudara-saudara seiman, ingatlah ini: bahwa diatas segalanya ada Tuhan yang selalu peduli dan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengar anda. Anda tidak pernah sendirian. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Meski mungkin orang terlihat tidak menghargai anda, tapi anda berharga di mata Tuhan. Bacalah Mazmur 139:13-18, disana tertulis bahwa kita adalah hasil “tenunan” Tuhan sendiri, itu adalah sebuah kejadian yang dahsyat dan ajaib. Tuhan peduli, dan Dia punya rencana istimewa bagi anda.

Bagi kita yang tidak mengalami “kemiskinan yang paling miskin” ini, sudahkah kita perduli kepada saudara-saudara kita yang tengah menjerit meminta pertolongan? Jika pengabdian seperti Bunda Teresa terasa begitu jauh dan sulit, sudahkah kita memperhatikan orang-orang yang sangat dekat di sekitar kita? Maukah kita menyisihkan sebagian dari diri kita untuk mereka, atau kita malah bersungut-sungut karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka? Yesus berkata: “..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Menjelang perayaan Natal untuk memperingati kelahiran Yesus ke dunia, marilah kita mengimani dengan sungguh-sungguh perbuatan Kristus yang melayani tanpa terkecuali dengan penuh kasih.

Beri bantuan pada yang membutuhkan atas dasar kasih, karena Tuhan yang kita sembah juga adalah kasih

Menabrak Tembok

Posted: 09 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 59:1-2
==========================
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

menabrak tembok, dosa menghalangi hubungan kita dengan TuhanBelakangan ini hujan turun setiap hari di kota saya. Hujan tersebut menimbulkan kabut dan mengaburkan kaca mobil saya, sehingga saya sulit melihat dengan jelas terutama untuk melihat ke belakang. Tadi malam ketika saya pulang kerja, seperti biasa saya hendak memarkirkan mobil dengan cara mundur ke dalam garasi. Sesuatu yang rutin saya lakukan, seharusnya tidak ada masalah untuk itu. Tapi kabut yang menutupi kaca mobil bagian belakang ternyata membuat saya sulit melihat, dan saya pun menabrak tembok rumah saya. Untunglah cuma bemper yang pecah, lampu mobil saya tidak sampai terkena dan pecah. Saya pun diingatkan tentang apa yang terjadi jika kita tidak bisa melihat dengan jelas ketika melangkah.

Ada orang yang menganggap Tuhan tidak mendengar doa mereka, tidak menjawab permintaan mereka dan sebagainya. Memang terkadang masalah waktu kita dengan waktunya Tuhan itu berbeda, dan apa yang dibuat Tuhan itu adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. (Pengkotbah 3:11). Namun ada satu hal yang juga harus kita waspadai, dan kita pastikan tidak sedang berkuasa atas diri kita, yaitu: dosa. Kita harus memastikan benar bahwa tidak ada kejahatan dalam diri kita, tidak ada dosa yang kita sembunyikan lagi dalam diri kita. Dosa itu bisa merintangi hubungan antara kita dengan Tuhan, sehingga Dia tidak mendengar dan menjawab doa-doa kita.

Jangan sembunyikan dosa-dosa anda, karena biar bagaimana pun Tuhan mengetahuinya dan hal tersebut bisa menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat dan keselamatan dari Tuhan. Salomo berkata: “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.” (Amsal 28:13-14).Kita harus segera membereskan dosa-dosa kita, mengakuinya dan bertobat. Tuhan Yesus mengingatkan hal yang sama pula. Mari kita lihat Yohanes 5 mengenai kisah Yesus ketika mengunjungi kolam yang disebut Betesda dan menyembuhkan orang yang sudah tiga puluh delapan tahun menderita penyakit. Setelah orang itu disembuhkan, Yesus berpesan padanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14). Dosa, baik besar atau kecil haruslah segera diselesaikan, diakui sehingga tidak menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan.

Seperti halnya kejadian menabrak tembok yang menimpa saya di awal renungan hari ini, dosa yang ada dalam diri kita bisa menghalangi pandangan kita, sehingga kita menjadi sulit melihat sesuai firman Tuhan dan akhirnya menjadi celaka. Saya sudah kenal betul posisi rumah saya, tapi masih juga bisa mengalami kecelakaan dengan menabrak tembok, seperti itu pula kita, yang mungkin sudah mengenal Tuhan, mengenal pribadiNya, namun dosa bisa menghalangi dan menjauhkan kita dariNya dan akhirnya mengalami celaka. Jangan beri toleransi pada dosa sekecil apapun, karena baik besar atau kecil tetaplah dosa yang bisa menjadi penghalang. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” (Galatia 5:9). Karena itu, ingatlah selalu pesan Yesus: “Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.”(Matius 12:35) Singkirkan kabut yang menghalangi kita dengan Tuhan, sehingga kita jangan sampai “menabrak tembok” dan bisa selamat dalam perjalanan hidup kita.

Agar selamat dalam menempuh hidup, kita harus menyingkirkan kabut dosa yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan

Menyampaikan Kebenaran Dengan Keramahan

Posted: 10 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
“sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang..”

bersikap ramah, menyampaikan kebenaran dengan keramahan, sabar, lemah lembutDalam mengajar saya berhadapan dengan berbagai orang dengan daya tangkap yang berbeda-beda. Saat ini saya tengah mengajar sebuah kelas kursus singkat sebulan dengan jumlah siswa 6 orang. Kali ini saya merasa sungguh sulit mengajarkan mereka. Mengapa? Karena daya tangkap ke enam siswa tersebut sama-sama lemah. Saya pun harus berulang-ulang mengajarkannya, dan setiap kali harus memperpanjang waktu mengajar agar mereka punya lebih banyak waktu untuk belajar. Ada kalanya rasa kesal mulai muncul, terutama ketika mereka bingung pada bagian yang padahal baru saja saya sebutkan. Tapi saya segera membuang rasa kesal itu dan tetap bersikap ramah. Saya yakin kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan membuat mereka akan semakin tidak mengerti. Justru dengan ketenangan dan keramahan, mereka akan bisa menangkap pelajaran dengan lebih baik, meskipun saya harus meluangkan lebih banyak waktu.

Pulang mengajar hari ini, saya diingatkan dengan ayat bacaan diatas. Paulus mengingatkan Timotius, dan tentu bagi kita semua, bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, ia tidak boleh emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Timotius juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. (2 Timotius 2:24) Kenapa demikian? “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” (masih pada ayat 24). Ketika orang melawan dan menentang kebenaran, Timotius haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi. “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” (Roma 3:29). Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Roma 10:12-13). Tapi bagaimana orang bisa mengenal Tuhan jika mereka belum percaya? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus jika kita mengandalkan emosi dan kekerasan? Disinilah kita melihat pentingnya sebuah kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kekerasan, penyiksaan dan sebagainya. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa dan malah semakin menjauhkan orang dari kebenaran, hal tersebut juga bertentangan dengan firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dari jerat iblis. Lihat, orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi, tapi mereka adalah korban-korban jeratan iblis. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus Sang Juru Selamat dengan ramah dan penuh kasih.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan membawa keselamatan bagi mereka yang belum percaya

Bangkitlah dan Menjadi Teranglah

Posted: 11 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 60:1-2
======================
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.”

bangkitlah dan menjadi teranglahKemarin saya menulis mengenai Menyampaikan Kebenaran Dengan Keramahan. Itu yang saya dengar dalam hati saya untuk disampaikan dalam renungan kemarin. Ketika saya menuliskan itu, saya tidak tahu apakah pesan itu ditujukan kepada seseorang atau kelompok secara khusus, kepada saya secara pribadi atau sebagai pesan umum dari Tuhan untuk mengingatkan kita agar tetap berlaku ramah, sopan, lemah lembut dan penuh kesabaran dalam menjalankan Amanat Agung. Tapi tadi pagi saya menerima sebuah sms yang membuat saya berujar “halleluya…Tuhanku, Engkau ajaib..”. Apa isi sms itu? Sms itu datang dari seorang teman di Medan yang dalam waktu dekat akan melayani doa keliling di sebuah area untuk menyingkirkan otoritas perzinahan , memulihkan keluarga-keluarga dan menyelamatkan jiwa yang terhilang agar kembali kepada Kristus bersama teman-teman FA(Family Altar)nya. Dan semuanya menjadi jelas. Walaupun pesan dalam renungan kemarin berlaku buat kita semua, namun secara khusus pesan itu sungguh tepat bagi mereka. Haleluya.

Tuhan terus berbicara pada kita hingga hari ini lewat berbagai cara yang ajaib. Hari ini, ketika saya selesai mendoakan pelayanan mereka, ayat ini pun hadir dalam hati saya. Ketika kita mengaku dan percaya pada Yesus, kita pun menerima terang. Sebab terang yang sejati adalah Kristus sendiri. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Tuhan Yesus memberikan terang kepada kita semua, dan kita harus berusaha untuk menjaga agar terang itu terus bersinar dan menerangi sekeliling kita. Paulus dalam surat Efesus pun berkata: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Efesus 5:14). Ingatlah bahwa terang yang kita terima bukanlah untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk orang lain, terutama saudara-saudara kita yang masih berada dalam gelap. Ayat bacaan hari ini meneguhkan hal itu. Bangkitlah dan menjadi teranglah, agar kegelapan dan kekelaman yang menutupi bumi digantikan terang Tuhan yang terbit atas kita, dan kemuliaanNya dinyatakan lewat kita anak-anakNya.

Tuhan rindu anak-anakNya mampu memberi peran nyata untuk menjadi cahaya dalam kegelapan. Tuhan ingin kita terus bersinar dimana kemuliaan Tuhan akan terbit atas kita. Menjadi terang bukan hanya didapat lewat berdoa keliling atau melayani penuh waktu, tapi bisa juga lewat perbuatan-perbuatan kita yang menunjukkan perbedaan nyata dengan pola pikir duniawi. Misalnya ketika orang korupsi, kita tidak ikut-ikutan. Di tengah ketamakan akan harta milik pribadi, kita justru murah hati dan mau membantu orang lain. Ketika orang terlalu sibuk tanpa henti mengumpulkan harta, kita meluangkan waktu untuk saat teduh dan melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika orang menjadi sombong akan kesuksesannya, kita tetap rendah hati dan selalu ingat bahwa semua itu adalah berkat yang berasal dari Tuhan. Jika dunia melakukan pemaksaan lewat kekerasan, kita mengenalkan bahwa Tuhan adalah kasih lewat hidup dan perbuatan kita. Ketika orang hidup morat marit tanpa harapan, kita tetap bersukacita karena dalam Kristus selalu ada pengharapan. Ketika dunia hidup menurut kedagingan, kita hidup benar dipimpin Roh Kudus. Semua itu menunjukkan bahwa ada terang sejati yang berkuasa di dalam diri kita, dimana dunia akan melihat perbedaan nyata dan mengerti akan arti terang dalam Kristus.

“Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya.” (Hakim Hakim 5:31). Bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya, penuh sinar terang, itulah yang ada dalam diri orang-orang benar yang mengasihi Tuhan. Kita harus terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lewat doa, baik doa pribadi maupun membangun mezbah keluarga dan sebagainya. Kemudian, janganlah pernah menutup diri dan hanya memusatkan segala sesuatu pada kebutuhan dan kecukupan diri sendiri saja. Lihat sekeliling kita, masih banyak yang butuh pertolongan dan terikat dalam gelap, peduli lah pada mereka. Jika kita melakukan itu, Tuhan pun akan berkata: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). Begitu banyak kegelapan di sekitar kita. Apakah anda siap untuk tampil menjadi terang? Bangkitlah dan menjadi teranglah!

Terang membawa sukacita dan keselamatan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain

Yesus Memberi Kelegaan

Posted: 12 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 11:28
=========================
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

beban berat, kelegaan dalam Kristus, Yesus memberi kelegaanHari ini sehabis mengajar, saya melihat satu murid saya laki-laki melewati saya sambil menangis tersedu-sedu. Saya pun terkejut dan bertanya mengapa. Ternyata ia merasa tidak sanggup mengikuti pelajaran dan merasa tertinggal dibanding teman-temannya. Situasinya memang berat, karena sebelumnya dia belum pernah sekalipun menyentuh komputer. Dan ketika dihadapkan pada pelajaran-pelajaran untuk mendesain web dan grafis, dia pun merasa shock. Ketika bebannya terasa semakin berat, ia mulai patah semangat dan tidak lagi sanggup menahannya sehingga menangis. Saya kemudian berbicara padanya, menguatkannya dan memberi semangat, dan berjanji akan memberikan waktu ekstra kepadanya agar ia bisa mengejar ketertinggalannya. Setelah setengah jam, akhirnya dia tersenyum lagi.

Beban permasalahan hidup memang terkadang begitu berat untuk kita pikul. Jika untuk masalah kuliah saja orang bisa mengalami “breakdown” seperti murid saya tadi, saya membayangkan bagaimana jika beban itu ada dalam banyak segi kehidupan secara luas. Jangankan sekolah, untuk makan saja setiap hari mungkin sulitnya bukan main. Tidak heran jika banyak orang merasa tidak lagi punya solusi untuk hidupnya sehingga mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri. Di tempat saya tinggal, banyak orang menganggap saya kaya raya, meskipun saya sebenarnya jauh dari status kaya. Mengapa demikian? Karena saya selalu tampak seperti tidak punya beban, selalu senyum dan kehidupan rumah tangga saya pun terlihat “happy-happy” saja. Apa benar saya tidak punya permasalahan? Tentu saja seperti orang lain, saya pun punya masalah-masalah yang harus dihadapi. Jika saya tetap bisa tersenyum, tetap bersukacita dan tampil santai tanpa beban, itu semata-mata karena saya sungguh percaya ada Kristus yang bertahta di atas hidup saya dan keluarga saya, dan di dalam Kristus akan selalu ada pengharapan. Pengharapan bahwa segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, karena semua itu saya anggap sebagai proses yang tidak akan saya lalui sendirian, melainkan ada Yesus, Raja di atas segala Raja yang jauh lebih besar dari permasalahan seberat apapun. Dia akan selalu memberi kelegaan, dan di dalamnya ada keselamatan. Dari mana saya bisa yakin? Perjalanan hidup saya bersama Yesus menjadi sebuah rangkaian kesaksian nyata, dan saya terus melihat firman-firman Tuhan selalu digenapi. Haleluya, puji Tuhan.

Saya terlahir sebagai orang yang selalu khawatir. Tapi setelah saya menerima Kristus, maka hidup saya diubahkan total. Ini tepat seperti apa yang dikatakan Paulus.“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Tuhan Yesus tahu benar bagaimana kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari beban masalah dan kesengsaraan. Maka lihatlah apa kata Yesus. Dia mengajak semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya, dan Dia akan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Jika anda mau belajar untuk percaya sungguh-sungguh dan meletakkan hidup padaNya, semua itu akan anda rasakan secara nyata, seperti apa yang saya alami dan saksikan berulang kali dalam hidup saya. Ketika masalah mulai datang, kita akan mulai diserang “virus” kekhawatiran, merasa ketakutan dan sebagainya. Tapi Yesus kembali mengingatkan kita dengan panjang lebar dalam Injil Matius 6:25-34. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 25:34). Jika burung-burung di langit pun diberi makan oleh Bapa, atau rumput yang umurnya pendek pun didandani langsung oleh Allah, tidakkah kita jauh lebih berharga dari itu semua? (ay 26,30) Dan Yesus pun kemudian mengingatkan agar kita tidak perlu khawatir tentang makan, minum dan pakaian. (ay 31). “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (ay 32). Yang penting bagi kita adalah terlebih dulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan disediakan bagi kita. (ay 33). Ini janji Allah yang pasti. Dalam Yesus, kita akan mendapat kelegaan, kedamaian, sukacita, keselamatan, dan tentu saja akan selalu ada pengharapan.

Saya rindu melihat lebih banyak lagi senyum penuh sukacita hadir di sekitar kita, dimana kekhawatiran akan lenyap digantikan kelegaan dan pengharapan dalam Yesus. Apakah saat ini anda salah satunya yang tengah ditimpa berbagai masalah dan mulai kehilangan harapan? Datanglah pada Yesus yang akan melepaskan anda dari beban berat. Sebagai anak-anak Tuhan pun kita harus selalu menjaga iman kita agar tetap teguh. Alangkah ironisnya jika kita yang sudah menerima Yesus tapi masih terus dicekam kekhawatiran dan ketakutan. Karena itu, mari kita percaya dengan sepenuh hati janji Tuhan di atas, agar hidup kita bisa menjadi bukti nyata bahwa hidup bersama Yesus itu memang beda.

Ketika hidup semakin sulit, datanglah pada Yesus yang akan memberi kelegaan

Dia Buka Jalan

Posted: 13 Dec 2008 12:51 PM CST

Ayat bacaan: Yesaya 43:19
====================
“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

dia buka jalan, tuhan ajaibIngat lagu “Dia buka jalan” yang merupakan versi terjemahan karya Don Moen, “God Will Make A Way” ? “Dia buka jalan, saat tiada jalan..dengan cara yang ajaib, dibukaNya jalanku..” dan sebagainya.. Ini lagu yang tidak asing bagi saya. Ketika di awal perkenalan saya dengan Yesus ditengah pergumulan menghadapi ibu saya yang sedang sakit keras, lagu ini sungguh menguatkan saya. Malam ini sepulangnya saya dari undangan di sebuah pertemuan, lagu ini terus menerus hadir di dalam hati saya. Dan sepanjang jalan pun saya terus mengucap syukur dan berterimakasih pada Tuhan hingga sampai di rumah.

Dalam sebulan terakhir saya merasa begitu banyak pintu berkat dibuka. Ada berkat-berkat lewat caraNya yang ajaib dan tadinya terasa sangat tidak mungkin kini hadir begitu dekat. Memang hasil nyata belum ada yang terlihat, tapi bukankah jalan yang dibuka oleh Tuhan itu pun sudah merupakan mukjizat luar biasa? Setelah menerima Yesus, saya terus melatih diri untuk belajar akan satu hal: bahwa segala sesuatu haruslah sesuai dengan waktunya Tuhan, dan bukan menurut keinginan saya. Saya mengalami transformasi dari orang yang selalu pesimis dan dicekam kekhawatiran akan hari esok kemudian berubah menjadi orang yang hidup dengan keyakinan dan pengharapan penuh pada janji Tuhan. Tuhan selalu menyediakan rancangan damai sejahtera untuk menyongsong hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11), dan sangat dalam lewat pekerjaan-pekerjaanNya yang besar. (Mazmur 92:5). Dan ketika waktunya Tuhan tiba, kita pun akan melihat jalan-jalan yang terbuka lebar membentang di hadapan kita. Lihatlah betapa indahnya janji Tuhan dalam ayat bacaan hari ini. ““Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19). Ya, Tuhan mampu membuat jalan di padang gurun masalah hidup dan sungai-sungai di padang belantara yang kering. Dalam banyak hal, Tuhan lebih suka menyediakan “kail” agar kita bisa memancing ketimbang menghadirkan “ikan” secara langsung. Mengapa demikian? Karena Tuhan tidak menyukai orang yang malas. Dia telah menyediakan segala sesuatunya dengan cukup agar kita mampu berusaha dan bekerja dengan giat. Begitu banyak orang yang tidak melihat apa-apa selain jalan buntu, sehingga sebuah jalan baru yang disediakan Tuhan lewat cara yang ajaib itu pun jelas merupakan sebuah berkat besar. Ketika kita tetap berhubungan dengan Tuhan dan menyerahkan hidup kita kepadaNya, mengetahui jalan menuju Kerajaan Allah berserta kebenarannya, maka segala sesuatu akan disediakan oleh Tuhan bagi kita (Matius 25:33), termasuk di dalamnya jalan-jalan yang Dia buka untuk melepaskan kita dari kesesakan dan memberkati hidup kita dengan penuh kelimpahan. Yang luar biasa, Tuhan telah menyediakan kasih karuniaNya dengan cukup lewat kecakapan, kemampuan dan talenta yang dapat kita pakai untuk bekerja dengan baik, merespon jalan demi jalan yang dibukaNya bagi kita.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Efesus 3:20). Ya, Tuhan memang luar biasa, karena Dia sanggup melakukan lebih dari apa yang kita doakan. Semua itu akan kita peroleh setelah kita menemukan Kerajaan Allah beserta kebenarannya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Kuncinya adalah percaya, percaya dan percaya. Adalah penting bagi kita untuk tetap hidup dalam pengharapan penuh dalam iman akan Kristus. “dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” (Efesus 2:6-7). Jangan pernah menyerah, jangan cepat putus asa, karena Tuhan sanggup menyediakan segala kebutuhan bahkan lebih untuk anak-anakNya yang sungguh mengasihi Dia. Jadikan hidup anda sebagai kesaksian nyata, sehingga orang lain bisa mengenal Kristus dengan melihat betapa ajaibnya pekerjaan Tuhan dalam hidup anda. “Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan.” (Habakuk 1:5).

Tuhan mampu buka jalan penuh berkat lewat caraNya yang ajaib

Kaleng Coca Cola

Posted: 14 Dec 2008 12:18 PM CST

Ayat bacaan: Roma 5:20
===================
“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”

kaleng coca cola, kasih karuniaBanyak orang yang peduli pada dosa-dosa “berat”, tapi sedikit yang memperhatikan dosa “ringan”. Rasanya mayoritas orang akan tahu bahwa membunuh atau mencuri itu termasuk dosa, tapi tidak banyak yang peka untuk urusan kecil, seperti misalnya membuang sampah sembarangan di jalan. Dalam perjalanan beberapa hari yang lalu ketika saya berhenti di sebuah lampu merah, mobil di depan saya seenaknya melemparkan kaleng coca cola keluar dari jendela seenaknya. Dalam hati saya berkata, “itu termasuk dosa juga loh..” Beruntung orang itu tidak tinggal di Singapura, karena jika ia disana tentu ia akan mendapat hukuman denda dalam jumlah yang besar bahkan kurungan. Dan begitulah manusia, kita cenderung mentaati peraturan karena takut akan hukuman, bukan karena sebuah kesadaran dan kepatuhan dari diri sendiri. Apakah benar membuang sampah sembarangan itu termasuk dosa? Coba pikirkan, jika kaleng itu sampai melukai kaki orang yang menyeberang, atau jika tergiling oleh mobil dan menyebabkan ban orang bocor. Kaleng itu bisa membuat orang lain celaka. Littering atau membuang sampah sembarangan menunjukkan sebuah egoisme atau ketidakpedulian seseorang pada orang lain. Dan itu jelas dosa. Ketika saya melanjutkan perjalanan, dalam hati saya mendengar: “dosa membuang kaleng minuman sembarangan di jalan, tapi kasih karunia memungutnya.”

Apa yang saya dengar dalam hati saya sejalan dengan ayat bacaan hari ini. Dunia ini sudah terlalu penuh dosa. Adanya pemeo yang mengatakan “peraturan ada untuk dilanggar” menunjukkan adanya tendensi manusia untuk mencari pembenaran dan kambing hitam dari pelanggaran-pelanggarannya. Dalam Roma 5:20 Paulus berkata bahwa semakin manusia berusaha mentaati hukum, semakin pula mereka melanggarnya dan karenanya berdosa terhadap Allah. Tapi lihatlah betapa Allah mengasihi manusia. Semakin manusia berbuat dosa, Allah semakin mencurahkan kasih karunianya secara berlimpah. Untuk apa? Tidak lain agar manusia bisa diselamatkan dan tidak harus berakhir sia-sia dalam api neraka. Itulah luar biasanya Tuhan yang tidak pernah ingin satupun dari kita tidak selamat. Bahkan Tuhan menganugerahkan AnakNya yang tunggal agar siapapun yang percaya pada Anak tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Semua itu karena Tuhan begitu mengasihi kita.

Jika kita memiliki kasih karunia yang berasal dari Tuhan, kita akan tahu bahwa membuang kaleng coca cola sembarangan di jalan adalah perbuatan yang salah, dan kasih karunia akan menyadarkan kita untuk memungut kaleng itu agar tidak ada orang celaka karenanya. Itu sebuah perbuatan yang didasarkan kepedulian dan kasih terhadap orang lain. Roma pasal 5 ayat 12-21 menggambarkan sebuah perbandingan antara Adam dan Kristus. Ketika Adam melakukan pelanggaran, hal itu membuka pintu masuk bagi dosa sehingga dosa yang menimbulkan maut akhirnya menjalar pada semua orang.(Roma 5:12). Dalam lembaran demi lembaran Alkitab kita melihat bagaimana dosa hadir pada banyak sisi kehidupan manusia. Tapi Tuhan tetap mengasihi, karena lewat berbagai orang-orang pilihanNya pun Dia terus berusaha mengingatkan manusia untuk berpaling dari dosa. Bahkan karya terbesar yang menyelamatkan kita lewat penebusan Kristus pun adalah buah dari kasih Allah pada kita. Ketika akibat pelanggaran satu orang kita semua jatuh dalam dosa, dan karena dosa-dosa itu kita sebenarnya tidak layak menerima anugrah Tuhan, tapi Tuhan justru menghadiahkan kasih karunia melalui Yesus. “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” (ay 17). Jadi inilah kesimpulannya: “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (ay 19). Kedatangan Kristus ke dunia membawa kasih karunia yang berlimpah yang akan membawa siapapun yang menerima-Nya untuk memperoleh keselamatan. Seperti halnya dosa yang berkuasa atas alam maut dan membawa kita menuju kematian, demikian pula kasih karunia memberi jalan bagi kita untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan memberi hidup yang kekal melalui Yesus Kristus. (ay 21).

Ketika dunia memilih untuk berbuat dosa, Tuhan menjawabnya dengan kasih karunia berlimpah. Itulah pribadi Tuhan yang penuh kasih. Kasih Tuhan ini sungguh luar biasa besar. Dengan analogi kisah kaleng coca cola diatas, apa yang dilakukan Tuhan sebenarnya jauh lebih dari sekedar “memungut kaleng”, tapi Dia membersihkan hati pelakunya, yaitu manusia, dengan anugrah kasih karunia. Mari kita miliki kasih karunia yang berlimpah agar kita tetap hidup benar dan terhindar dari perbuatan dosa sekecil apapun.

Kasih karunia berlimpah-limpah adalah jawaban atas dosa manusia yang dianugrahkan Allah lewat Yesus Kristus

Broken Ceiling

Posted: 15 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 1:21
========================
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Yesus Juru Selamat, menebus dosaHari ini ketika saya tengah mengajar, saya tiba-tiba terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak, langit-langit di ruang kelas saya tiba-tiba saja pecah tepat ditengah. Dan seseorang bergantung disana dengan tangannya. Ternyata orang itu adalah salah seorang karyawan di kampus yang tengah membersihkan atap. Maklum, di musim hujan seperti ini atap bisa bocor jika saluran pembuangannya dipenuhi daun-daun yang berjatuhan dari pohon tepat di samping kelas saya. Tanpa sengaja karyawan tadi menginjak bagian yang lapuk, dan akibatnya langit-langit itu jebol, dan dia pun tergantung di langit-langit ruangan. Atap ruangan kelas pun bolong, kami buru-buru menyelamatkannya dan menggeser komputer-komputer ke pinggir agar tidak terendam jika hujan turun.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya diingatkan bahwa dosa bisa merusak diri kita seperti halnya atap di ruang kelas saya. Dosa yang mungkin sepintas terlihat nikmat, pada awalnya terasa manis, dapat membawa kehancuran cepat atau lambat. Dan kita semua tahu apa konsekuensi akibat kelalaian kita melanggar ketetapan-ketetapan Tuhan. Upah dosa tidak lain adalah maut.

Menjelang natal yang sebentar lagi akan kita rayakan, marilah kita mengingat kenapa Yesus turun ke dunia. Yesus datang bukanlah untuk menciptakan sebuah hari dimana kita berpesta, berkumpul bersama keluarga dengan makanan yang terhidang lengkap, untuk adanya hari libur dan sebagainya. Tapi kelahiran Yesus, seperti yang kita baca pada ayat bacaan hari ini punya tujuan sebagai ungkapan kasih yang luar biasa besar dari Tuhan, yaitu untuk menyelamatkan kita semua, manusia, dari dosa-dosa kita. Yesus adalah Juru Selamat. Itulah pesan yang disampaikan malaikat Tuhan kepada Yusuf, sekaligus mengingatkan kita semua akan tujuan kedatangan Yesus. Hari Natal memang kita peringati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus ke dunia, tapi dari sudut pandang yang lebih luas, kita bisa melihat bahwa hari Natal merupakan peringatan akan besarnya kasih Allah pada kita, sebuah anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan kepada dunia yang sudah penuh oleh dosa dengan menghadirkan AnakNya yang tunggal sebagai Juru selamat. “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23). Sebuah karunia yang sebenarnya tidak layak kita terima. Bayangkan apa jadinya hidup kita saat ini jika Yesus tidak datang dan menebus dosa kita, jika karya penebusan Kristus tidak terjadi. Tentu kita masih berada dalam kegelapan dengan hubungan dengan Tuhan dalam kondisi hancur dan terpisah. Tapi Tuhan tidak menghendaki itu terjadi. Yesus pun mengingatkan kita apa akibatnya jika kita menolak untuk mempercayai Yesus. “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yohanes 8:24).

Manusia adalah karya masterpiece Tuhan, yang Dia ciptakan menurut gambarNya (Kejadian 1:27). Kemudian manusia mengalami kehancuran akibat jatuh dalam dosa. Tapi lewat Yesus kita diselamatkan dan mengalami pemulihan hubungan dengan Tuhan. Human is like a broken ceiling, but we can be restored when we give our hearts to Jesus. Haleluya!

Yesus datang ke dunia untuk memperbaiki kerusakan kita akibat dosa

Bergembira Dalam Kelelahan

Posted: 16 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 15:13
====================
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.”

hati yang gembira, lelahTerkadang saya berpikir betapa manusia cenderung untuk sulit merasa puas. Selalu ada saja yang dikeluhkan, selalu ada yang kurang. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Dulu, ketika saya belum memiliki pekerjaan, saya mengeluh dan terus berusaha dan meminta agar kiranya Tuhan memberkati saya dengan pekerjaan. Saat ini, ketika saya diberkati dengan pekerjaan yang begitu banyak sehingga saya tidak berhenti bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam selama beberapa hari terakhir ini, akhirnya malam ini tubuh saya terasa berontak. Saya merasa capai, uring-uringan dan akhirnya mengeluh. Jadi pengangguran mengeluh, punya pekerjaan banyak mengeluh. Tapi barusan saya mendapat teguran dalam hati saya, bahwa saya tidak boleh berlarut-larut membiarkan hal itu terjadi. Apa persisnya yang saya dengar? “manusia ini ya.. tidak punya kerja mengeluh, dikasih kerja mengeluh..” Itu perkataan yang saya dengar. Tuhan mengingatkan lagi pada saya, bahwa semua itu adalah berkat. Berkat yang bukan biasa-biasa, tapi luar biasa. Ada banyak orang yang mencari satu pekerjaan saja sulitnya bukan main, sedangkan saya tengah dipercayakan untuk melakukan banyak hal. Betapa keterlaluan jika saya malah mengeluh dan bukannya bersyukur bukan? Apalagi baru saja kemarin seorang murid saya berkata bahwa dia salut melihat saya, yang walaupun sedang sangat sibuk tapi tetap terlihat ceria seperti tanpa beban pikiran. Itu bentuk yang seharusnya ada dalam hidup anak-anak Tuhan. Tapi malam ini saya malah terpeleset dan kehilangan rasa gembira akibat terlalu lelah. Saya pun melakukan doa singkat, dan saat menulis renungan ini, saya sedang tersenyum. Saya kembali merasakan sukacita, merasakan kegembiraan ditengah kelelahan saya. Dan tubuh saya rasanya jauh lebih ringan.

Salomo menulis serangkaian hikmat mengenai hati yang gembira. Salah satunya adalah ayat bacaan hari ini: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Hati yang dipenuhi sukacita akan selalu membuat kita kelihatan ceria, sedangkan keluhan-keluhan akan mematahkan semangat kita. Selanjutnya Salomo berkata: “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15) Bagaimana tidak buruk? Orang yang bersungut-sungut dan dipenuhi keluhan tidak akan bisa merasa senang dan bahagia. Tidak saja akan membuat perasaannya menjadi semakin tidak baik, tapi juga akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Istri/suami, anak, orang tua, saudara, teman, tetangga, dan lain-lain, semua bisa kena getahnya. Padahal mereka tidak punya salah apa-apa. Dan ketika hati hanya dipenuhi amarah, kekesalan dan keluhan, semuanya pun terasa buruk. Lalu Salomo mengingatkan lagi: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 9 dari 10 penyakit disebabkan oleh pikiran. Dan benarlah apa yang dikatakan Salomo, hati yang gembira merupakan obat yang manjur, tapi semangat yang patah (bandingkan dengan Amsal 15:13 diatas) akan mendatangkan penyakit, atau membuat kita terlihat jauh lebih tua sebelum waktunya.

Saat ini saya berpikir betapa pentingnya kita mengucap syukur dalam segala hal. Anda merasa lelah? Ada Tuhan Yesus yang meringankan beban kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Ketika anda merasa beban pekerjaan menyita begitu banyak waktu anda dan membuat anda begitu letih, segera arahkan pikiran anda untuk melihat dari sudut pandang bahwa semua pekerjaan itu adalah berkat dari Tuhan, yang dipercayakan pada anda sesuai talenta yang telah Dia anugrahkan. Jangan fokus pada keletihan dan kesusahan anda dalam menyelesaikan pekerjaan. It’s a blessing from God, sesuatu yang seharusnya kita syukuri dan bukan malah membuat kita dipenuhi keluh kesah. Daud mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya, tapi Dia tetap fokus kepada rasa syukur pada Tuhan ketimbang tenggelam dalam permasalahannya. “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4). Paulus juga mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal, baik maupun buruk. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:8). Sesulit-sulitnya hidup, kita punya Kristus yang telah menyelamatkan kita dan menjanjikan kehidupan kekal penuh damai dan sukacita. Itu adalah hal yang luar biasa besar yang seharusnya mampu membuat kita selalu gembira dalam kondisi apapun.

Senyum saya semakin lebar sekarang, saat renungan ini mencapai akhir. Karena apa yang saya tuliskan juga sedang mengingatkan diri saya sendiri. Saya tidak merasa lelah lagi, karena beban itu telah diangkat dan digantikan dengan sukacita berlimpah. Haleluya. Saya mau bekerja dengan baik dalam segala perkerjaan yang telah dianugrahkan Tuhan pada saya dengan hati yang gembira, dan melakukannya sepenuh hati dengan sungguh-sungguh seperti sedang melakukannya untuk Tuhan (Kolose 3:23). Saya rindu mengajak teman-teman sekalian yang mungkin sedang merasakan kelelahan dalam pekerjaan juga untuk bersama-sama dengan saya mengembalikan kegembiraan dalam hati anda. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! S

Kegagalan Adalah Kesuksesan Yang Tertunda

Posted: 17 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ibrani 12:3
==================
“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”

kegagalan, putus asa, patah semangat, lemahDibalik satu kisah sukses biasanya terdapat seribu kisah kegagalan. Orang mungkin melihat bagaimana suskesnya seseorang, tapi lupa bagaimana orang itu jatuh bangun dan mengalami kegagalan berkali-kali sebelum akhirnya bisa mencapai kesuksesan. Hari ini mendung, dan rumah sangat gelap jika tidak ada lampu. Dan lampu tidak akan kita nikmati jika Thomas Alva Edison berkepribadian mudah menyerah. Thomas Alva Edison memang berhasil menemukan lampu, itu sebuah keberhasilan luar biasa, namun lihatlah berapa banyak hari-hari yang ia habiskan di laboratorium bawah tanah di rumahnya karena terus menerus menemui kegagalan. Tidak kurang dari 2000 percobaan gagal dialaminya, namun itu tidak membuatnya patah semangat, menjadi lemah atau putus asa kehilangan harapan. Thomas Alva Edison berkata: “I never failed once. It just happened to be a 2000-step process” Dia tidak pernah merasa gagal. Sesuatu yang dianggap orang sebagai kegagalan itu, bagi Edison adalah sebuah proses menuju keberhasilan. Pada akhirnya, 2000 langkah proses itu pun menjadi buah karyanya yang bisa kita nikmati sampai sekarang.

Dari kisah Edison kita melihat bahwa seseorang yang berhasil itu bukanlah manusia yang sempurna yang tidak pernah gagal. Mungkin satu-dua kali,mungkin puluhan, mungkin ratusan bahkan ribuan kali mereka akan membentur tembok, tapi semangat, ketekunan dan kerajinan membuat mereka tidak pernah menyerah. Begitu pula dengan keimanan kita. Jika kita melihat orang yang hidup benar, mereka pun pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi mereka mau belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi. Dalam Amsal kita membaca: “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16) Paulus mengingatkan hal yang sama. “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1) Kita hidup ditengah banyak orang yang akan selalu memperhatikan hidup kita. Maka kita wajib meninggalkan beban dan dosa yang merintangi kita dan terus dengan tekun berusaha untuk hidup lebih baik lagi. Caranya tidak lain adalah melakukannya dengan mata yang tertuju pada Yesus (ay 2). Dan setiap kali kita merasa lemah dan hampir putus asa, arahkan pikiran kita pada Yesus yang tidak pernah menyerah pada tekanan dan siksaan demi menggenapi kehendak Bapa. (ay 3). Dalam melakukan pelayanannya, Paulus dan kawan-kawan pun tidak kurang sulitnya. Mereka pun mengalami berbagai bentuk penolakan, penindasan bahkan penganiayaan. Tapi mereka tidak menyerah. “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:8-9). Dan seperti apa yang tertulis pada Ibrani 12:3, Paulus kembali mengulangi bahwa kuncinya adalah Kristus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”(ay 10). Dalam Kristus selalu ada pengharapan. Manusia yang tidak luput dari kesalahan, dan setiap hari kita pun akan selalu berhadapan dengan berbagai godaan dosa maupun kelalaian dan sebagainya. Yang penting, kita harus selalu mau belajar dari kesalahan dan terus bertekun dalam doa, mendalami firman Tuhan, dan tidak membiarkan berbagai kesalahan itu berlarut-larut, apalagi sampai menyerah pada dosa.

Kegagalan adalah sukses yang tertunda, selama kita tidak putus asa, tidak patah semangat dan mau terus bertekun dalam perjalanan hidup kita. Jadikanlah kegagalan itu sebagai sebuah proses menuju keberhasilan. Tetaplah berlomba dengan tekun, belajarlah selalu dari kegagalan  dan jadilah orang yang berhasil keluar sebagai pemenang.

Jangan pernah putus asa karena dalam Kristus selalu ada pengharapan

Bertumbuh

Posted: 18 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Timotius 4: 7b-8
===============================
“Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

bertumbuh, melatih diriAda seorang teman yang pernah bercerita mengenai kerinduan akan imannya untuk bisa bertumbuh, tapi dia merasa masih jalan di tempat selama bertahun-tahun. Ia sudah berdoa, tapi tetap saja ia tidak merasakan adanya hasrat kuat untuk mendalami Alkitab, secara teratur menyediakan waktu untuk saat teduh, bahkan kerinduan untuk beribadah bersama di gereja. “keinginan sih jelas ada… tapi tetap aja malas rasanya untuk berdoa apalagi baca Alkitab..” begitu katanya. Saya pun pernah mengalami hal-hal seperti itu. Ada masa dimana saya mengantuk di gereja, ada masa dimana saya begitu malas membuka Alkitab, bahkan malas berdoa kalau sedang tidak ada yang saya butuhkan. Tapi itu dulu, karena sekarang saya benar-benar merasakan betapa dekatnya Tuhan, dan Dia berbicara setiap hari dalam penyertaanNya yang luar biasa dalam hidup saya. Kita tidak akan bisa bertumbuh dengan instan, dan berharap bahwa dengan satu doa, lalu abrakadabra! Kita tiba-tiba langsung bertumbuh dalam dia. Satu doa, sim salabim, kita tiba-tiba merasakan dorongan yang kuat untuk ber-saat teduh dan membaca Alkitab. No, no…that’s not the way it’s supposed to be.

Memang benar, jika kita membaca 1 Korintus 3:7, kita akan melihat bahwa Allah-lah yang memberi pertumbuhan. Itu benar. Namun ada bagian yang harus kita lakukan. God does his part, but we have to do our part too. Ayat bacaan hari ini mengajarkan kita untuk terus melatih diri kita beribadah. “Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7b). Seperti halnya orang yang ingin tubuhnya sehat, mereka pun harus melatih diri mereka agar berolahraga secara teratur. Mau punya tubuh kekar? Pergi ke fitness centre dan bentuklah tubuh disana. Ingin pintar? Belajarlah sungguh-sungguh. Everything in life is a process. Termasuk juga pertumbuhan iman, haruslah melalui proses dimana ada bagian Tuhan, dan ada pula bagian kita, yang harus kita lakukan. Melatih diri untuk beribadah itu sangat penting, karena ada janji yang terkandung disana. Janji yang tidak saja berguna untuk kehidupan di dunia, namun juga untuk kehidupan yang akan datang. (ay 8).

Selain melatih diri, kita juga diajak untuk mematikan segala hal yang bersifat duniawi. “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…” (Kolose 3:5). Kita tidak akan pernah bisa bertumbuh dan hidup dalam Roh jika diri kita masih terus dikuasai oleh berbagai keinginan daging. Apabila kita menuruti apa yang diinginkan daging, maka kita akan mati, sebaliknya jika kita mematikan hal-hal duniawi dan membiarkan diri kita dipimpin oleh Roh, maka kita pun akan hidup. (Roma 8:13). Agar kita bisa bertumbuh dan menjadi milik Kristus, kita harus hidup dalam Roh, karena menjadi milik Kristus berarti ada Roh Allah yang diam di dalam kita. (ay 9). Roh Allah tidak akan diam di dalam kita jika kita terus membiarkan kedagingan mengambil alih kehidupan kita.

Dengan terus melatih diri untuk tekun dan rajin beribadah dan mematikan keinginan-keinginan duniawi, kita pun akan bertumbuh. Saya mengalami sendiri masa-masa dimana saya tidak bertumbuh dan hanya jalan di tempat dan sekarang merasakan sendiri bagaimana luar biasanya bertumbuh dari hari ke hari. Saya hanya ingin bilang, ada banyak hal yang akan anda lewatkan jika anda tidak bertumbuh. Bertumbuh dalam iman akan Kristus itu indahnya bukan main. Ada damai dan sukacita disana, ada kasih, ada kesabaran, ada pengharapan, dan lain-lain, semua itu begitu menguatkan saya dalam menjalani profesi dan kehidupan. Hidup dipimpin Tuhan itu luar biasa rasanya. Ada banyak hal yang disingkapkan, mata kita akan melihat segala sesuatu dari sebuah sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Itu semua adalah pengalaman yang saya alami sendiri. Berdoalah, minta Tuhan untuk melakukan bagianNya, dan lakukan pula bagian anda, dan anda akan bertumbuh. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” (2 Petrus 3:18). Selamat bertumbuh!

Jangan berhenti hanya sebatas “rindu”, namun lakukanlah bagian anda agar bisa merasakan pertumbuhan luar biasa dalam iman akan Kristus

ekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

Gembira itu menyehatkan dan membuat awet muda. Gembira datang dari rasa syukur. Bergembiralah senantiasa

Pernikahan Bukan Peternakan

Posted: 19 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
====================
“TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

pernikahan, bukan peternakanBeberapa minggu yang lalu ada salah seorang siswa yang sudah berkeluarga berbincang-bincang dengan saya selepas kuliah. Obrolan akhirnya sampai kepada keluarga, dan dia bercerita bahwa ia menceraikan istrinya dan kemudian menikah lagi. Alasannya apa? “karena tidak bisa punya anak..” katanya ringan sambil tertawa kecil. Saya merasa kaget, tapi sebenarnya itu adalah sebuah potret kehidupan. Begitu banyak orang yang akhirnya mengalami kegagalan rumah tangga karena kekecewaan akan pasangannya yang belum juga mampu menghadirkan keturunan. Ketika usia terus bertambah, namun tidak juga mendapat keturunan, apalagi setiap hari ditanyai “kapan punya anak” dari keluarga atau teman-teman, mereka pun mulai berpikir bahwa pernikahan mereka telah gagal. Sebagian lagi akan memakai hal ini sebagai alasan untuk menikah lagi untuk kedua kalinya. Apakah saya merasa tidak butuh keturunan? Sama sekali tidak. Saya masih terus berdoa agar Tuhan berkenan memberkati kami dengan keturunan. Saya, sama seperti pasangan lainnya, tentu mengharapkan keluarganya dilengkapi dengan anak-anak. Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak. Pernikahan bukanlah peternakan.

Dari contoh siswa saya di atas tadi, dan banyak kasus lain mengenai kegagalan rumah tangga akibat tidak mendapat keturunan, saya melihat adanya salah kaprah mengenai tujuan utama mendirikan lembaga pernikahan. Mereka memandang pernikahan layaknya sebuah peternakan, dimana kita bisa mengembangbiakkan keturunan kita. Sekali lagi, pernikahan bukanlah peternakan. Sebuah pernikahan, dimana Tuhan sendiri yang memateraikan pembentukannya, punya tujuan yang jauh lebih penting daripada sekedar memiliki keturunan. Apalagi jika dasarnya hanyalah “kejar tayang” atau takut disebut “bujang lapuk/perawan tua”, akibat nafsu, gengsi, desakan orang tua dan lain-lain. Itu semua bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan menurut firman Tuhan. Ayat bacaan hari ini menyatakan dengan jelas tujuan Allah menciptakan pasangan buat manusia, yaitu sebagai penolong. Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam (ay 21), yang menunjukkan sebuah hubungan erat, bahwa istri adalah bagian hidup suami, bukan sekedar alat pemuas nafsu dan “pabrik” pembuat anak.Tapi Tuhan melengkapi kita dengan seorang pasangan agar kita bisa saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling menolong. Dalam sebuah pernikahan yang diberkati Tuhan, kita bisa mengalami, menikmati dan saling berbagi sukacita dan cintakasih. Kita bisa saling support ketika salah satu tengah mengalami kesulitan. Kita bisa menghidupkan sebuah persekutuan dengan memuliakan Allah diatas segalanya. Janji pernikahan yang kita ucapkan pun menyatakan hal itu, bukan menyatakan bahwa kita menikah untuk membuat anak. Memiliki penerus garis keturunan adalah penting dan merupakan dambaan hampir setiap orang, namun itu bukanlah yang terutama.

“Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN..” (Mazmur 127:3). Anak adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan. Jangan tawar hati jika hingga saat ini anda masih seperti saya yang belum saatnya dikaruniai anak. Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Tuhan, Sang Pencipta. Yang penting adalah kita menyadari hakekat dari sebuah pernikahan sesuai apa yang difirmankan Tuhan. Jangan merasa bahwa tanpa anak, lembaga pernikahan yang anda bangun sebagai sebuah kegagalan. Karena ada Allah yang bertahta di atasnya, yang telah memberkati dan mengikat penyatuan hubungan antara suami dan istri. Jadikan pernikahan sebagai tempat dimana anda bisa bersinergi dengan pasangan untuk memuliakan Tuhan, dan bersama-sama seiring sejalan melakukan kehendak Allah atas kehidupan kita. Pernikahan yang gagal bukanlah pernikahan yang tidak melahirkan anak, melainkan pernikahan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ada anak atau tidak, tetaplah miliki pernikahan yang sukses penuh dengan kebahagiaan

Gunung Merapi

Posted: 20 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 24:44
=====================
“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

gunung Merapi, kedatangan Yesus kedua kaliGunung Merapi yang terletak di antara Jawa Tengah dan Yogyakarta adalah gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini. Gunung ini berdiri tegak dengan ketinggian 2968 m dan dinyatakan sebagai salah satu gunung berapi yang paling berbahaya di dunia. Sejarah mencatat sejak tahun 1548, gunung Merapi sudah meletus sebanyak 68 kali. Letusan kecil terjadi setiap 2-3 tahun sekali, dan yang lebih besar meletus dalam kisaran 10-15 tahun sekali. Karena bahayanya, sedikit saja gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda mulai aktif, pemerintah pun akan segera mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi agar penduduk yang tinggal di lereng Merapi segera mengungsi pun akan segera dikeluarkan. Pada tahun 2006 gunung Merapi sempat mengeluarkan hujan abu vulkanik dan awan panas yang lebat. Hal ini membuat warga panik dan melarikan diri mencari tempat yang aman. Lava yang mencapai 4 juta meter kubik menutupi seluruh kapasitas kubah gunung Merapi, sehingga jika Lava kembali menyembur dari dalam, lava itu akan langsung keluar dari kubah dan menghancurkan daerah di sekitarnya. Ancaman gunung berapi memang mengerikan, begitu pula ancaman-ancaman yang diakibatkan dari berbagai bencana alam lainnya. Begitu menakutkan sehingga orang pun akan segera bergegas menyelamatkan diri ketika alam terlihat mulai menunjukkan tanda-tanda terjadinya bencana.

Setelah Yesus meninggalkan Bait Allah untuk terakhir kalinya dan duduk di atas Bukit Zaitun, murid-murid Yesus bertanya tentang kapan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya dan apa yang akan menjadi tanda dari kedatanganNya. “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Yesus kemudian menjelaskan dengan panjang lebar banyak hal yang akan menjadi tanda kedatanganNya mulai dari deru perang, pengikut Yesus akan diserahkan untuk disiksa dan dibunuh, akan banyak orang murtad, kebencian merajalela, dan sebagainya. Meski menjelaskan berbagai tanda-tanda yang mendahului kedatanganNya untuk kedua kali, Yesus tetap mengingatkan manusia untuk selalu siap sedia, karena Dia akan datang pada saat yang tidak disangka-sangka. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (ay 42-44).

Petrus mengingatkan bahwa di akhir jaman akan tampil para pengejek yang mempertanyakan tentang kebenaran kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. “Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” (2 Petrus 3:4). Akan muncul orang-orang yang siap mempengaruhi kita semua agar lengah dan lupa untuk berjaga-jaga. Petrus mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah lalai, dan tidak pernah menghendaki ada yang binasa. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (ay 9). Tuhan menginginkan kita untuk tetap berjaga-jaga, karena Dia tidak mau ada anakNya yang sampai binasa. Selanjutnya Petrus berkata: “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” (ay 10). Seperti halnya perkataan Yesus sendiri, hari itu akan tiba pada saat yang tidak terduga, seperti pencuri. (ay 10). Pada saat itu langit akan lenyap, bumi akan hangus dalam nyala api dan segala di atasnya akan lenyap. Maka dari itu, kita pun diingatkan untuk tetap hidup suci dan saleh. (ay 11).

Para pengejek selalu ada di sekitar kita, seperti apa yang diingatkan Petrus. Manusia punya tendensi untuk mengabaikan peringatan, dan baru ketakutan ketika bencana sudah terlanjur datang. Kita pun sangat berpotensi untuk lengah, dan beranggapan bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang saat ini, besok, tahun depan, sepuluh tahun lagi, alias masih lama. Tidak ada yang tahu persisnya kapan Yesus akan kembali ke dunia. Karena itu, janganlah lengah, tetaplah berjaga-jaga dalam hidup yang kudus dan berkenan di hadapan Tuhan setiap saat.. Lengah dan lalai hingga mengabaikan tanda-tanda akhir jaman sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada mengabaikan ancaman gunung Merapi. Kelalaian kita mengabaikan pesan yang tertulis dalam Alkitab akan menjerumuskan kita kedalam penyesalan tak berkesudahan. Mari kita selalu berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh!

Mengabaikan firman Tuhan sama artinya dengan mengundang bencana

Ambil Bagian Dalam Pekerjaan Tuhan

Posted: 21 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 22:15
===========================
“Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.”

ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, jangan apatis, pro aktifAda seorang teman yang bercerita betapa kantornya penuh dengan orang-orang munafik. Mereka rajin ke Gereja, bahkan sebagian besar dari mereka melayani, selalu berdoa panjang lebar, namun perilaku mereka tidaklah mencerminkan Kristus. Teman saya bercerita bahwa mereka hanya peduli terhadap kelompoknya, mereka membeda-bedakan karyawan, dan yang lebih parah, sogok menyogok dan korupsi pun merajalela disana. “business is business..” kata atasannya suatu kali sambil tertawa. Di sisi lain, ada banyak anak-anak Tuhan yang mengalami kemuliaan Tuhan dalam hidupnya, mereka sudah melihat sendiri bahwa bagi Tuhan tidak ada satu hal pun yang mustahil, ada banyak kesaksian dalam hidup mereka, tapi mereka bersikap apatis dan merasa bahwa belum saatnya bagi mereka untuk “menyibukkan” diri buat Tuhan. “ah.. pendeta aja deh… aku kan cuma orang biasa..” atau: “sekarang ini saatnya kerja dulu.. kerja aja belum benar udah ngomongin melayani Tuhan..” Ada banyak orang yang berpikir demikian. Kita sering lihat, dan mungkin kita sendiri juga sama, bahwa ada banyak pendapat yang menyatakan rohani dan sekuler itu adalah dua hal yang berbeda. Rohani adalah ketika kita rajin ber-saat teduh, rajin ke Gereja, rajin membaca firman Tuhan, rajin berdoa.. sementara sekuler adalah saat kita bekerja, dalam pergaulan bersama teman-teman, di kampus, di sekolah, di mal dan lain-lain. Artinya seolah-olah kita punya “switch” yang bisa memprogram kita untuk “rohani mode on”, atau “sekuler mode on”. Ketika sedang dalam “mode sekuler”, kita memberi toleransi pada banyak hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Dan bertobatnya nanti ketika “switch” dipindahkan ke “mode rohani”.Padahal, segala tingkah laku dan perbuatan kita ada dalam pengamatan banyak orang disekitar kita.

Ayat bacaan hari ini menyatakan dengan jelas bahwa kita sebagai anak-anak Allah haruslah mampu menjadi saksi terhadap apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Kita tidak dapat bersaksi terhadap apa yang tidak kita lihat dengan mata sendiri, atau kita dengar dengan telinga sendiri. Sebuah rangkaian hidup bersama Kristus akan menghasilkan banyak hal dimana kemuliaan Tuhan dinyatakan, dan bagi kita yang telah mengalami hal ini, kita diminta untuk bersaksi. Apa yang harus kita berikan sebagai kesaksian? Kitab 1 Yohanes berkata: “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia” (1 Yohanes 4:14). Kesaksian bukanlah semata-mata harus dinyatakan lewat kotbah, bersaksi di depan ratusan bahkan ribuan orang secara lisan, tapi kesaksian juga harus hadir lewat tindakan, ucapan dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Jangan sampai kita malah menjadi batu sandungan karena bersikap munafik di depan orang lain.

Kita harus senantiasa menjaga cara hidup kita agar terang Kristus bisa memancar lewat diri kita kepada banyak orang. Tuhan ingin bekerja lewat anak-anakNya. Adalah sebuah anugrah apabila Tuhan mau memakai kita untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Maka dari itu janganlah bersikap apatis, hanya menonton dari kejauhan, tapi jadilah bagian dari pekerjaan Tuhan, jadilah pelaku firman, dan berikan contoh teladan yang baik seperti halnya Yesus mengasihi diri anda. Bersyukurlah pada Tuhan karena kita telah menerima Kristus, dan karenanya kita menjadi orang yang sudah diselamatkan, telah dilepaskan dari dosa dan beroleh pengampunan. Ketika dulu beratnya dosa memberati pundak kita, kini beban dosa itu telah dilepaskan. Damai sejahtera kini ada dalam diri kita, dan seharusnya kita pun rindu agar saudara-saudara kita yang lain pun memperoleh kesempatan yang sama. Untuk itulah kita harus bersikap pro-aktif, lewat hidup yang penuh dengan kesaksian, baik lewat ucapan, pikiran maupun perbuatan. Berikan contoh yang baik,  nyatakan bahwa ada jaminan keselamatan yang pasti dalam Yesus, dan berikan kesaksian sesuai dengan segala kebaikan Kristus yang anda alami sendiri dalam hidup anda. Berkaryalah, dan nyatakan sebuah hidup yang berbeda dengan pola hidup duniawi karena ada Kristus yang diam di dalam diri anda. Jadilah bagian dari Kerajaan Surga. Mintalah agar Tuhan bekerja lewat diri kita, sehingga melalui kita, kasihNya bisa membuat perubahan baik dalam keluarga, lingkungan sekitar bahkan dunia.

Jangan puas hanya sebagai penonton, tapi jadilah pelaku

Give Love On Christmas

Posted: 22 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:11
===========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”

give love on christmas, berbagi kasih, kasih dasar kekristenan Ketika mendekati bulan Desember biasanya ada beberapa musisi yang membuat album Natal. Dari Filipina, seorang musisi terkenal bernama Sitti, tahun ini mengeluarkan album Natalnya yang pertama. Sehubungan dengan peluncuran albumnya, saya berkesempatan melakukan sebuah sesi wawancara. Salah satu pertanyaan yang saya ajukan kepadanya adalah: Apa makna hari Natal buat anda? Ia kemudian menjawab dengan serangkaian kalimat yang sangat indah.

“Christmas is a time of thanksgiving and appreciation… Primarily of course to our Father God who gave Jesus, to remember the sacrifice He did just for us, as an example for us on how to live our lives on this earth. It is a time when love and sharing and smiles abound and are exchanged among everyone.”

Kemudian saya menanyakan pesan apa yang ingin ia sampaikan lewat album Natalnya, dan ia menjawab:

“A message of hope for a brighter, more harmonious future; a wish for peace and goodwill and love for everyone especially on Christmas.”

Bagi Sitti, Natal bermakna sebagai sebuah hari untuk berterimakasih dan bersyukur. Sitti menyadari betul betapa besar kasih Tuhan pada kita sehingga Tuhan Yesus dianugrahkan kepada kita, dan lewat karya penebusan Kristus kita pun dibebaskan dari belenggu dosa, dari kegelapan dan diselamatkan. Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, ia pun mengatakan bahwa bentuk kasih Tuhan yang dinyatakan secara nyata lewat kasih Kristus buat kita haruslah menjadi sebuah contoh bagaimana kita harus hidup di dunia. Natal bagi Sitti adalah saat untuk memberi kasih dan berbagi senyum dengan orang lain. Album Natalnya pun dikeluarkan bukan untuk memanfaatkan momen mencari keuntungan, tapi ada pesan akan sebuah harapan masa depan yang lebih cerah dan harmonis, pesan perdamaian dan kasih untuk semua orang. Dalam beberapa pertanyaan lain Sitti mengungkapkan bahwa ia sangat menyadari betapa besar kasih Tuhan pada dirinya, sehingga ia bisa mencapai kesuksesan dalam karirnya. Dan untuk itu, ia pun mempunyai kewajiban untuk membagi kasih itu kepada orang lain. Berhubung Sitti adalah seorang penyanyi, maka ita pun membagi kasih dan berkat itu lewat lagu-lagu yang ia bawakan.

Apa yang ia sampaikan sejalan dengan ayat bacaan hari ini. Jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah pada kita, maka kita pun seharusnya saling mengasihi. (1 Yohanes 4:11). Jika Allah tidak mengasihi kita, maka Yesus tidak akan pernah datang ke dunia, dan hingga saat ini kita masih akan tetap berada di dalam kegelapan dengan kondisi hubungan terputus dengan Tuhan. Apa yang diberikan Tuhan kepada kita sungguh luar biasa besar. Pengorbanan Yesus lewat karya penebusan yang diluar batas perikemanusiaan pun akhirnya membayar lunas semua hutang-hutang dosa kita dan memulihkan sebuah hubungan indah antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Di dalam Yesus ada keselamatan, ada damai sukacita dan ada kelimpahan. Terlebih, di dalam Dia ada kasih yang sempurna. Perhatikanlah doa Yesus bagi murid-muridNya. “dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yohanes 17:26).

Saat menjelang Natal adalah saat yang tepat untuk mulai berpikir untuk membagi kasih kepada orang lain. Tidak hanya dengan kata-kata semata, tetapi juga lewat perbuatan dan dalam kebenaran. (1 Yohanes 3:18). Alangkah indahnya jika kasih sempurna Kristus yang ada di dalam kita bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita yang lain. Sebuah perayaan Natal janganlah sampai terhenti hanya pada pesta-pesta atau kado-kado indah dengan keluarga dan teman, tapi rayakanlah itu dengan membagi kasih kepada siapapun mereka di sekitar kita. Biarlah kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat anda dan saya lewat sebuah bentuk ungkapan kasih tanpa terkecuali kepada setiap orang. Kasih adalah sebuah inti dasar dari kekristenan, yang sanggup menutupi banyak sekali dosa. (1 Petrus 4:8). Seperti halnya Sitti yang ingin membagi kasih dan berkat yang ia terima dari Tuhan sebagai makna Natal, marilah kita juga membagi kasih lewat ucapan, senyuman, kepedulian dan perbuatan nyata. Biarlah nama Yesus dimuliakan lewat diri kita, sehingga lebih banyak lagi yang diselamatkan. Christmas is all about love. It’s time to share the perfect love we have from Jesus. Let’s give love on christmas.

Berikan cinta kasih sempurna Kristus kepada orang lain sebagai ungkapan syukur atas kedatangan Kristus ke dunia

White Christmas

Posted: 23 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 51:9
====================
“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!”

white christmas, seputih saljuSalju yang putih seringkali dikaitkan dengan keindahan Natal. Tidak heran ketika ada lagu White Christmas, yang menjadi populer ketika dibawakan oleh Bing Crosby dalam film “Holiday Inn” tahun 1942, kemudian menjadi lagu legendaris dan lagu natal wajib terlebih setelah tampil dalam film berjudul sama tahun 1954. Kartu-kartu Natal pun banyak yang menggambarkan keindahan pohon atau rumah yang ditutupi putihnya salju.Hiasan pohon natal pun demikian. Ada banyak orang yang menambahkan kapas untuk menciptakan kesan salju memenuhi hiasan pohon natal mereka. Selain dari keindahan yang tercipta lewat turunnya salju, warna putih yang menjadi warna salju pun sering dijadikan sebuah lambang akan sesuatu yang bersih bahkan kesucian.

Malam ini saya ingat akan kisah Daud. Daud yang sangat dekat dan mengenal hati Tuhan, pada suatu ketika melakukan serangkaian perbuatan yang tercela. Ia berzinah dengan Batsyeba, berbohong dan kemudian membunuh Uria, suami sah dari Batsyeba. Daud jadi begitu kejam dan tidak sadar akan perbuatannya yang dikuasai hawa nafsu. Ia dikuasai dosa. Dan apa yang Daud lakukan dianggap sebagai perbuatan jahat di mata Tuhan. (2 Samuel 11:27). Lalu Tuhan mengutus Nabi Natan untuk datang kepada Daud dan memperingatkannya. Dihadapkan pada pelanggaran-pelanggarannya,Daud tidak dapat berkelit untuk membela diri. Daud pun mengakui bahwa ia berdosa kepada Tuhan. Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” (2 Samuel 12:13a). Apa jawaban Natan? “Dan Natan berkata kepada Daud: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.” (ay 13b). Meskipun tetap ada konsekuensi atas dosa yang telah Daud lakukan, tapi Tuhan memberi jaminan pengampunan kepadanya ketika ia menyadari dan mengakui kesalahannya.

Maka Mazmur 51 pun kemudian ditulis. Dalam Mazmur 51 Daud menuliskan rangkaian syair nyanyian yang sangat indah akan pengakuan dosa, pertobatan dan permohonan atas pengampunan Allah. “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mazmur 51:9). Daud menyadari bahwa Tuhan mampu mentahirkan dirinya dan membasuhnya agar bersih dari dosa-dosa dan pelanggaran yang ia perbuat, dan menjadikannya kembali putih, bahkan lebih putih dari salju. Untuk memperoleh pengampunan dan kembali memutihkan dosa-dosa kita, kita harus membasuh diri kita dengan jalan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan, segera bertobat dan memohon pengampunan turun atas diri kita. “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku..” (Yesaya 1:17) Dan jika kita melakukan ini, firman Tuhan berkata demikian: “..Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (ay 18).

Hari Natal dimana kita memperingati kelahiran Yesus Kristus ke dunia akan kita rayakan dua hari lagi. Mari kita menguduskan diri, mengakui segala dosa kita, dan mintalah agar Tuhan mengampuni serta membersihkan hati kita. Dia akan selalu memberi pengampunan, bahkan memulihkan sukacita ketika kita berbalik dari jalan-jalan yang jahat dan kembali kepada jalanNya. Tuhan akan memutihkan dosa yang sangat merah sekalipun untuk menjadi seputih salju. Bukan salju asli yang penting dalam menyambut Natal, tapi kekudusan kita yang seputih salju lah yang penting. So, let’s have a White Christmas.

Jadilah seputih salju untuk merayakan kelahiran Kristus

Merry Christmas and Happy New Year

Posted: 24 Dec 2008 12:19 PM CST

merry christmas, selamat natal, tahun baru, new year

Renungan Harian Online (RHO) mengucapkan :
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2009

Great blessings will be given to you upon this Christmas
Jesus Bless You All

Joy To The World!

Posted: 24 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Lukas 2:10-11
====================
“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

joy to the world, renungan natal, hari natalSudah seminggu saya mendengar sebuah kalimat yang tidak asing lagi di dalam hati saya. Joy To The World, kalimat ini kita kenal sebagai judul dari salah satu lagu natal yang paling terkenal di dunia.

Joy to the world, the Lord is come!
Let earth receive her King;
Let every heart prepare Him room,
And Heaven and nature sing,
And Heaven and nature sing,
And Heaven, and Heaven, and nature sing.

Apa yang membuat kita bersukacita di malam Natal ini? Apakah pesta di kantor, tukar menukar kado dengan teman-teman, liburan bersama keluarga, tidak harus masuk kantor untuk beberapa hari, christmas dinner bersama keluarga? Itu semua memang menyenangkan, tapi ada hal yang jauh lebih besar yang akan membuat kita bersukacita tanpa henti.

Saya akan mulai dari ayat yang sudah berulang kali saya kutip. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Kita manusia yang lemah, penuh dosa, dan sebenarnya tidak layak untuk diselamatkan. Tapi lihatlah betapa Allah mengasihi kita semua, hingga Dia mengaruniakan Anak-Nya untuk turun ke bumi, agar kita semua tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Ini sebuah ayat luar biasa yang menggambarkan betapa besarnya kasih Tuhan. Yesus hadir ke dunia, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawaNya bagi tebusan banyak orang. (Matius 20:28). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi kehendak Bapa, bukan atas kehendakNya sendiri. “..Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.” (Yohanes 8:42). Selanjutnya mari kita lihat apa kehendak Tuhan itu: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.(Yohanes 6:40). Kedatangan Yesus ke dunia untuk menebus dosa kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan kita dengan Tuhan. Yesus menjembatani kita, domba-domba yang tersesat, dan mengembalikan kita semua kepada Allah.

Untuk siapakah keselamatan itu? Apakah untuk segelintir orang saja? cuma untuk murid-muridNya? Tidak, sama sekali tidak. Keselamatan itu dianugrahkan untuk semua orang percaya, tanpa memandang suku bangsa. “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.(Yohanes 10:16). Keselamatan untuk segala bangsa ini kembali ditegaskan Yesus, dan begitu pentingnya sehingga menjadi pesan terakhir sebelum Dia naik ke Surga setelah kebangkitanNya. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20). Kembali Paulus mengingatkan lagi akan hal ini: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Roma 10:12-13). Inilah kehendak Bapa yang luar biasa yang disampaikan kepada kita semua, dimana semuanya dimulai dari kelahiran Yesus ke dunia. All because of His love to us.

Keselamatan adalah sebuah kepastian dalam Yesus Kristus. Itu sebuah rahasia besar yang sangat menentukan bagaimana akhir dari perjalanan hidup kita di dunia. “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (Kolose 1:27). Ini yang dimaksudkan sebagai rahasia oleh Paulus: bagi kita yang percaya dan menerima Yesus, maka Yesus ada di dalam diri kita, yang berarti kita semua akan turut menikmati kebesaran Allah. The secret has been revealed! Dan hanya lewat karya penebusan Kristus lah kita bisa menghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keberanian. (Ibrani 4:16,10:19).

Dengan semua anugrah luar biasa itu, bagaimana kita tidak bersukacita? Inilah yang menjadi pesan Natal kali ini. It’s time to rejoice! “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Let’s rejoice together, for the Lord has come.

Selamat Hari Natal buat teman-teman semua, Tuhan Yesus memberkati anda! Joy to the world!
Bergembiralah karena anda sudah ditebus dan diselamatkan

Go Tell It On The Mountain

Posted: 25 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 9:5
===================
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Yesus lahir, hari natal“Go tell it on the mountain,
over the hills and everywhere;
go tell it on the mountain,
that Jesus Christ is born.”

Ini sebuah lagu yang tidak asing lagi bagi kita. Lagu ini sudah berusia lumayan lama, yaitu sejak sekitar pertengahan tahun 1800an. Go Tell It On The Mountain dinyanyikan oleh bangsa keturunan kulit hitam yang masa itu menderita akibat perbudakan. Sebuah kondisi yang sudah turun menurun mereka alami. Tapi lihatlah bahwa meskipun demikian mereka tidak putus pengharapan. Ada sukacita dan pengharapan yang besar akan Kristus yang lahir di Betlehem, dan mereka sadar betul bahwa Kristus akan membebaskan mereka. Maka lahirlah lagu ini sebagai curahan sukacita mereka, seakan-akan mereka ingin berteriak dari gunung-gunung mengabarkan kelahiran Kristus.

Kelahiran Kristus ke dunia sebagai bukti nyata kasih Allah dalam hidup kita membalikkan keadaan yang gelap gulita kepada sebuah janji akan kehidupan baru yang terang benderang. Yesus Kristus turun ke dunia sebagai terang yang mampu membebaskan segala kegelapan dengan cahayaNya. Mari kita baca nubuatan Yesaya. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yesaya 9:1). Yesaya menggambarkan bahwa ada banyak sorak sorai sukacita yang besar (ay 2). Mengapa demikian? Lihat ayat selanjutnya. “Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.” (ay 3). Tuhan Yesus mengangkat beban berat yang kita pikul, melepaskan ikatan dosa yang membelenggu kita lewat kedatanganNya dan karya penebusanNya. Kemudian kita lihat ayat berikutnya: “Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.” (ay 4). Yesus adalah Raja Damai yang mampu mengenyahkan permusuhan dan merubah hati setiap orang yang percaya kepadaNya menjadi hati yang penuh kasih. Kemudian kita sampai pada ayat bacaan hari ini yang berkata: Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (ay 5). Haleluya.

Hari ini kita memperingati kelahiran Yesus, yang bukan didasarkan pada tanggal kelahiran, tapi pada sebuah penekanan pada kedatangan Kristus, Anak Allah, sebagai terang dunia yang membebaskan kita semua dari belenggu dosa, memulihkan hubungan kita dengan Allah, dan menjadi jalan satu-satunya untuk memperoleh hidup yang kekal. Lihatlah jaminan keselamatan yang ada di dalam Yesus. “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28). Ini luar biasa. Inilah sebuah bukti bahwa siapapun yang menerima Kristus akan memasuki sebuah awal dari sebuah pengharapan baru yang menuju pada damai sukacita dalam kehidupan kekal selama-lamanya.

Para budak kulit hitam menyadari betul hal itu, dan mereka pun bersukacita menyambut kelahiran Yesus, meskipun keadaan mereka waktu itu jauh dari baik. Kelahiran Yesus ke dunia memberikan perbedaan nyata dalam kehidupan siapapun yang menerimaNya, percaya dan beriman padaNya. Setiap orang percaya akan mempunyai pola dan gaya hidup yang berbeda dengan kebiasaan duniawi, akan selalu penuh kasih, damai dan sukacita, selalu mampu bersyukur dalam setiap kondisi, karena kita punya Yesus yang selalu setia menyertai hingga akhir zaman. Tidak ada tempat lagi bagi ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran jika kita menyadari betul makna dari kedatangan Kristus ke dunia. Dan semua itu menjadi nyata ketika Yesus lahir, sesuai dengan nubuatan Yesaya. Pada hari Natal ini, mari kita mulai sebuah lembaran baru, lembaran yang penuh iman dan percaya sepenuhnya pada kuasa Yesus, sehingga kita mampu melewati perjalanan hidup kita ke depan dengan hati bersukacita, penuh rasa syukur dan keyakinan.

Go tell it on the mountain that Jesus Christ is born

Belajar Dari Empat Binatang Kecil (1) : Belalang

Posted: 26 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
“belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur”

belalang,hidup teraturAda beberapa orang yang saya kenal memutuskan untuk tidak mau bekerja untuk orang karena tidak mau disuruh-suruh atau bekerja di bawah perintah. Bagi mereka daripada bekerja untuk orang lebih baik duduk diam di rumah. Dan itulah yang terjadi. Mereka hanya mau bekerja wiraswasta, seperti membuka usaha, tapi modal tidak pernah kunjung datang. Istri mereka lah akhirnya yang bekerja, dan sampai pada satu titik tertentu, usia mereka tidak lagi memadai untuk mencari pekerjaan. Dalam beberapa contoh kasus yang saya saksikan sendiri, mereka ini bukan saja menganggur, tapi kerap merepotkan dengan sikap mereka. Rasa minder atau rendah diri membuat mereka tampil penuh emosi dan sindiran untuk menutupi perasaan rendah diri yang mereka rasakan. Kalau sudah begini, dimana lagi letak keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga? Mereka tidak kekurangan, karena istri mereka bekerja, namun sukacita dalam rumah tangga tidak lagi mereka rasakan. Maka tepatlah apa yang dikatakan sebuah peribahasa terkenal: “Money can’t buy happiness.”

Salah satu tipikal karakter manusia adalah sulit diatur, tapi senang mengatur. Orang senang mengatur karena dengan demikian mereka merasa memiliki otoritas dan kewenangan untuk memerintah orang lain sesuai dengan seleranya. Sebaliknya harga diri terasa anjlok jika harus hidup dibawah aturan. Peraturan-peraturan dilanggar seenaknya. Dalam rumah tangga pun begitu. Ada banyak rumah tangga yang akhirnya hancur berantakan karena anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua, atau suami/istri yang sama-sama mempertahankan ke-egoisannya. Itulah salah satu sifat negatif manusia yang seringkali menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran. Itu baru masalah tidak mau menuruti aturan di dunia, apalagi menuruti firman Tuhan. “wah, nanti dulu… urusan hidup aja belum beres, udah ngomong Tuhan segala..” demikian kata seorang teman pada suatu saat.

Manusia harusnya malu terhadap belalang. Belalang tidak punya raja, tapi mereka hidup dengan teratur. “belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur” (Amsal 30:27), demikian kata Agur bin Yake. Belalang yang tidak punya raja saja teratur, sedangkan kita yang memiliki Raja di atas segala Raja, malah hidupnya tidak punya aturan. Karena itulah, kita diajak untuk belajar dari belalang. Belajar mematuhi aturan dan belajar untuk hidup disiplin sesuai firman Tuhan. Kita harus mampu melatih diri kita untuk mau hidup teratur dalam berdoa, saat teduh, membaca alkitab dan sebagainya. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Ya, tanpa mematuhi firman Tuhan, kita tidak akan mampu untuk tumbuh secara rohani dan tidak akan diselamatkan.

Memang terkadang sulit bagi kita untuk mau mulai untuk patuh terhadap aturan Firman Tuhan, namun ingatlah bahwa apa yang akan kita peroleh pun sebanding. Betapa indahnya jika sebuah keluarga saling mengasihi dan hidup sesuai aturan, dan mau bersepakat bersama-sama membangun sebuah mesbah doa keluarga. Apa yang akan kita peroleh? Demikian firman Tuhan: “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:19). Luar biasa bukan? Disiplin adalah sesuatu yang harus dilatih. Belajar dari belalang, marilah kita mulai melatih diri untuk memiliki hidup yang teratur agar hidup kita berkenan di hadapan Tuhan.

Belalang tidak punya pemimpin saja mampu hidup terur, apalagi kita yang memiliki Raja di atas segala raja

Belajar Dari Empat Binatang Kecil (2) : Pelanduk

Posted: 27 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 30:26
===================
“pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu”

pelanduk, gunung batu, bukit batuPelanduk adalah sejenis hewan menyusui yang berukuran kecil. Masih tergolong keluarga rusa, tapi ukuran pelanduk dewasa kira-kira sama dengan kelinci. Hewan ini kecil dan lemah. Bayangkan jika hewan berukuran kecil ini berkeliaran bebas di hutan belantara. Pelanduk akan dengan mudah menjadi santapan hewan-hewan lain yang lebih besar darinya. Burung elang misalnya, akan dengan mudah menyambar pelanduk dan memangsanya. Begitu pula ular, dan hewan-hewan buas lainnya. Bagaimana pelanduk mampu melindungi dirinya? Ternyata pelanduk cukup bijaksana untuk membuat rumahnya di bukit batu. Pelanduk melindungi dirinya dari keganasan rimba dengan cara berlindung di balik bebatuan. Jika tidak demikian, rasanya mustahil bagi pelanduk untuk dapat bertahan hidup. Alkitab Perjanjian Lama pun menyebutkan bahwa gunung tinggi dan bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. (Mazmur 104:18).

Salah satu hikmat mengenai empat hewan kecil yang berasal dari Agur adalah mengenai pelanduk. Ayat ini sungguh menarik, karena menggambarkan bagaimana sebuah spesies lemah mampu bertahan hidup dengan cara membangun rumahnya di bukit batu. Tidak jauh berbeda dengan pelanduk, kita manusia pun sangat lemah. Terjangan masalah, badai problema hidup, kegoncangan dan pergumulan yang kita hadapi sehari-hari cepat atau lambat akan membuat kita menjadi lemah dan tidak berdaya. Ketika hal seperti itu terjadi, celah untuk masuknya dosa pun akan terbuka. Betapa rentan nya manusia, seperti halnya pelanduk.

Kalau begitu, kita bisa belajar dari pelanduk. Ketika pelanduk membangun rumah di bukit batu, kita pun juga sebaiknya demikian. Mari kita lihat apa yang diajarkan Yesus. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Itu buat orang yang mendengar dan melakukan firman Tuhan. Jika sebaliknya? Ini yang terjadi: “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (ay 26-27). Ketika kita menyadari bahwa sekuat-kuatnya kita manusia, kita tetaplah manusia yang lemah, hendaknya kita mau membangun hidup kita di atas “batu”. Rumah yang dibangun dengan pondasi kuat tentu tidak rubuh meski digoncang angin badai sekalipun. Sekarang mari kita fokus pada kata “batu”. Dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan bukit/gunung batu itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (Mazmur 18:31). Atau lihat ayat ini: ” TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:2). Daud begitu menyadari bahwa gunung batu tempat perlindungan yang kuat dan teguh ada pada Tuhan sendiri. Lalu dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa yang dimaksud dengan batu itu adalah Kristus. “dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. (1 Korintus 10:4).

Ingatlah bahwa sehebat-hebatnya kita, kita tetaplah manusia yang lemah dan mudah hancur. Kekuatan dan perlindungan ada pada Kristus, gunung batu kita. Mari kita semua mulai membangun hidup kita, keluarga kita, pekerjaan dan pelayanan kita di atas Gunung Batu, biarlah Kristus bertahta di atas segala sendi kehidupan kita, sehingga kita mampu tegar menghadapi persoalan apapun yang menimpa kita. Bersama Kristus, kita yang lemah akan dikuatkan. Haleluya!

Belajarlah dari pelanduk yang tahu bahwa perlindungan ada pada bukit batu

Belajar Dari Empat Binatang Kecil (3) : Semut

Posted: 28 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 30:25
===================
“semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas”

belajar dari semutPepatah “ada gula ada semut” agaknya kurang tepat saat ini. Kenapa demikian? Karena saya melihat semut tetap hadir dimana-mana dengan aktif meski ada gula atau tidak. Di atas meja, di lantai, bahkan semut masuk ke dalam dispenser yang isinya hanya air mineral. Mungkin anda pernah juga merasa kesal dengan keberadaan semut di mana-mana, dan mungkin anda juga pernah membunuh semut-semut itu saking kesalnya. Semut memang binatang yang sangat kecil dan tidak sebanding dengan kita, tetapi ada begitu banyak hal positif yang dapat kita pelajari lewat perilaku dan kebiasaan semut.

Ayat bacaan hari ini berisi kelanjutan hikmat tentang empat hewan kecil yang dikatakan oleh Agur bin Yake dari Masa. Dalam Amsal 30:24-28, Agur menjabarkan empat binatang kecil yang bisa menjadi pelajaran bagi kita agar bisa hidup lebih baik lagi. Hari ini saya mengulas tentang semut. Kebiasaan dan perilaku apa saja yang bisa kita petik dari seekor semut?

1. Semut tidak pernah putus asa
Cobalah bentangkan tangan anda untuk menutup jalan yang tengah dilalui seekor semut. Semut itu tidak akan berhenti atau mundur, ia akan terus berjalan ke segala arah untuk mencari rute lain. Tidak jarang, semut itu akan dengan santainya menaiki tangan kita untuk bisa melewati rintangan dan kembali melanjutkan perjalanannya. Kita bisa belajar dari seekor semut kecil ini untuk urusan kegigihan dan pantang menyerah. Ketika anda menemui jalan buntu, mengalami kegagalan, ketika anda merasa seolah-olah masalah anda tidak punya solusi, janganlah putus asa. Semut saja pantang menyerah, apalagi kita yang punya Yesus yang luar biasa dalam hidup kita. Tuhan berkali-kali mengingatkan kita agar kita jangan takut, jangan ragu, khawatir atau bimbang dalam menjalani hidup yang tengah didera badai. Pegang janji Tuhan berikut: “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Selalu ada solusi dalam Kristus, amin.

2. Semut itu rajinnya luar biasa
Anda pernah melihat semut sedang tidur-tiduran beristirahat dengan santai? Itu akan menjadi suatu pemandangan yang sangat jarang, karena hampir setiap kali kita melihat semut dalam keadaan aktif, berjalan dan bekerja mengangkut makanan. Semut selalu rajin, kerja sudah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Ayat bacaan di atas paralel dengan hikmat dalam apa yang tertulis pada pasal sebelumnya. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” (Amsal 6:6-8). Soal kerajinan pun bisa kita pelajari dari semut.


3. Semut itu kuat
Tidak jarang kita melihat semut sanggup mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Sebaliknya kita manusia, mungkin mengangkat beban sedikit saja sudah langsung mengeluh dan bersungut-sungut. Begitu pula ketika kita tengah mengalami beban masalah, tidak jarang kita akan merasa patah semangat dan menyerah seketika. Padahal, ketika kita memiliki iman yang kuat dalam Kristus, kitapun seharusnya percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan hal-hal luar biasa yang jauh melebihi logika kita. “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20). Kita sanggup menanggung segala perkara, karena Tuhan memberi kekuatan pada kita. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya, kata Yesus. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23)

4. Semut itu saling tolong menolong dan berjiwa sosial
Apa yang dilakukan semut ketika makanan yang hendak diangkut terlalu berat? Mereka akan mengangkatnya bersama-sama. Sudahkah kita memiliki kepedulian dan mau membantu meringankan beban saudara-saudara kita? Atau kita masih berpangku tangan dan pura-pura tidak melihat mereka yang tengah menangis meminta pertolongan? No man is an island.. tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri. Kita manusia yang bukan diciptakan untuk hidup sendirian. Kita selalu diingatkan untuk bekerja sama, saling dukung saling tolong menolong. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya pun, Dia mengutus mereka berdua-dua alias berpasangan. “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua…”(Markus 6:7-8). Paulus pun mengingatkan kita agar selalu bersatu. “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan… Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (ay 25,27).

5. Semut cepat melihat peluang
Betapa cepatnya semut hadir ketika dia mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan. Semut akan segera hadir di tempat-tempat yang menguntungkan baginya. Semut tidak akan melewatkan kesempatan emas ketika ada sesuatu yang bisa dia peroleh. Kita harus belajar seperti semut yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Ada banyak orang yang mundur ketika melihat bahwa kesempatan yang terbentang itu membutuhkan pengorbanan, dan akibatnya mereka akan melewatkan peluang dan kehilangan kesempatan. Ingatlah bahwa kesempatan pun merupakan sebuah berkat dari Tuhan. Tuhan seringkali tidak serta merta menyediakan ikan, tapi Dia menyediakan pancing dan jala bagi kita agar kita bisa menangkap ikan. Kita akan melewatkan begitu banyak kesempatan dan membuang waktu sia-sia dalam hidup jika kita hanya bersungut-sungut dan duduk menanti ikan jatuh dari langit. “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27)

Semut memang binatang yang kecil dan lemah, namun kaya akan kebiasaan dan perilaku positif yang bisa kita jadikan pedoman untuk memperbaiki pola kebiasaan hidup kita. Terlebih ada Yesus dalam diri kita dengan segala kasihNya. Mari kita belajar dari semut dan terus mengembangkan kebiasaan dan pola hidup positif dan benar.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari semut agar hidup kita menjadi lebih baik lagi

Belajar Dari Empat Binatang Kecil (4) : Cicak

Posted: 29 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 30:28
========================
“cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.”

cicak, lemah tapi bergunaSebagian orang merasa geli pada sosok cicak, bahkan ada yang merasa jijik. Kita semua pasti sepakat menyimpulkan bahwa cicak adalah binatang yang sangat lemah. Tidak seperti ular yang bisa menggigit dan berbisa, cicak tidak mempunyai sistem pertahanan yang memadai untuk melindungi dirinya dari hewan yang lebih besar atau manusia. Maka manusia pun bisa menangkap cicak dengan tangan tanpa bantuan senjata apapun, memegang cicak tanpa resiko apapun, bahkan dengan mudah bisa membunuh cicak. Tapi lihatlah betapa Tuhan menciptakan segala sesuatu itu bukan tanpa sebab. Tuhan tidaklah menciptakan cicak asal-asalan dan menjadikan cicak hanya sebagai mangsa atau santapan empuk predator saja. Cicak dilengkapi dengan ekor yang sanggup ber-regenerasi alias tumbuh lagi jika terputus. Ekor cicak ini akan terputus ketika cicak merasa sedang dalam bahaya. Ekornya akan terus bergerak-gerak sehingga pemangsa akan terfokus pada ekor yang putus dan akibatnya cicak bisa berlari jauh-jauh untuk menyelamatkan diri. Cicak juga dibekali dengan kemampuan beradaptasi tingkat tinggi. Coba lihat, mereka ada dimana-mana, mulai dari lingkungan kotor, kumuh hingga lingkungan mewah. Cicak ada di rumah, di sekolah, di kantor hingga istana-istana raja.

Satu lagi binatang kecil yang lemah namun bisa menjadi sumber pembelajaran bagi kita adalah cicak. Mengapa cicak bisa lalu lalang dengan bebas di istana? Cicak tidak dibunuh karena mereka memakan serangga-serangga yang merugikan seperti nyamuk. Gerakan lidahnya cepat dalam menyergap serangga. Meski lemah, cicak ternyata berguna, dan karenanya mereka pun bisa berada dengan bebas di dalam istana, lebih hebat dari manusia-manusia yang lebih kuat dari mereka namun mungkin belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke dalam istana raja. Kemampuan adaptasinya yang luar biasa pun bisa kita jadikan sebagai sebuah pelajaran.

Manusia seringkali tidak menyadari bahwa mereka telah dilengkapi berbagai organ, indra dan kemampuan adaptasi oleh Tuhan dalam menjalani hidup. Banyak orang yang lebih mudah untuk mengeluh bahkan menyesali keadaan dirinya, ketimbang memikirkan hal sebaliknya: betapa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu secara lengkap, yang cukup bagi kita untuk menghasilkan buah, bekerja buat Dia dan memuliakanNya. Dalam dunia yang begitu luas dan kejam ini kita sama lemahnya seperti cicak. Tapi dengan segala sesuatu yang ada pada kita, kita pun bisa berusaha untuk tampil sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Tuhan punya rencana bagi setiap kita, masing-masing sudah dilengkapi secara khusus dan ditempatkan sesuai yang Dia kehendaki, seperti yang digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 12:18. Untuk itu semua Tuhan telah menyediakan segalanya. Anda merasa lemah? “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” (ay 22). Selemah apapun anda, anda tetap berguna bagi Tuhan dan diinginkan untuk berhasil dalam kehidupan dan dijanjikan kehidupan yang kekal dalam Kristus. Tuhan tidak pernah menginginkan kita hanya sebagai ekor, melainkan sebagai kepala. Kita diciptakan untuk tetap naik dan bukan turun. Dan ini semua bisa kita lakukan jika kita mendengar perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia” (Ulangan 28:13). Belajar dari cicak, kita harus mampu memaksimalkan segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan pada hidup kita untuk menyatakan kemuliaanNya baik dalam pekerjaan maupun kehidupan kita sehari-hari. Pergunakan segala talenta dan anugrah Tuhan untuk berbuat yang terbaik, dan tetaplah mendengar serta menjadi pelaku firman, maka biarpun kita manusia yang lemah dalam dunia yang keras, kita pun akan mampu tampil di depan, seperti halnya cicak di istana-istana raja.

Pergunakan karunia yang diberikan Tuhan untuk tampil lebih dari pemenang

Jangan Takut!

Posted: 30 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Lukas 1:37
===================
“For with God nothing is ever impossible and no word from God shall be without power or impossible of fulfillment.”

malaikat, jangan takut, pesan tahun baru 2009Menjelang Tahun Baru, di Gereja saya ada dua Pendeta dalam kesempatan berbeda menyampaikan sebuah pesan yang sama. Saya menangkap ini pesan profetik yang menjadi pesan Tuhan bagi kita semua untuk memasuki tahun yang baru. Tahun 2009 dipercaya banyak orang sebagai tahun yang sukar. Ada ancaman PHK besar-besaran sebagai akibat dari krisis global yang tengah melanda dunia. Efek PHK itu akan membawa efek domino yang bakal membuat begitu banyak orang menderita. Dan terpaan krisis itu sudah mulai dirasakan orang saat ini. Ada banyak orang yang mulai merasa kesulitan. Di sebuah harian di kota saya menyebutkan jumlah penderita stress disini meningkat pesat beberapa bulan terakhir. Krisis boleh saja terjadi, dan memang tidak pernah dijanjikan bahwa kehidupan Kristiani berarti lepas 100% dari masalah. Setiap saat badai bisa boleh menerpa kita, setiap saat “kapal” kehidupan kita bisa “bocor” dan terancam karam. Tapi jangan lupa, kita punya Allah yang luar biasa yang jauh lebih besar dari semua masalah dunia, sebesar apapun.

Pesan dari dua Pendeta itu berbicara mengenai hal yang sama: Jangan Takut. Mari kita lihat kisah menjelang kelahiran Yesus. Pada saat itu, Malaikat terlihat sangat sibuk. Malaikat muncul dimana-mana mempersiapkan kedatangan Tuhan ke dunia. Mari kita lihat satu persatu.

Kemunculan kepada Zakharia
Zakharia adalah ayah Yohanes. “Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.” (Lukas 1:11-13) Malaikat menyampaikan pesan bagi Zakharia bahwa istrinya akan melahirkan anak, dimana anaknya akan berjalan mendahului Tuhan dan mempersiapkan umat yang layak bagiNya. (ay 17)

Kemunculan kepada Maria
Malaikat kemudian muncul di hadapan Maria. “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (ay 28,30).


Kemunculan kepada Yusuf
Selain pada Maria, malaikat pun menampakkan diri pada Yusuf. Pada saat itu Yusuf sedang bingung, karena tunangannya Maria ternyata mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka menikah.(Matius 1:18). Ketika Yusuf mempertimbangkan untuk menceraikan Maria, malaikat menampakkan diri dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”(ay 20-21).


Kemunculan pada para gembala
Pesan yang sama hadir pada para gembala di padang rumput. “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:8-11)

Semua kemunculan itu membawa satu pesan yang sama, yaitu : Jangan Takut. Kelahiran Yesus Kristus ke dunia sebagai Juru Selamat. Dia dan hanya Dia yang mampu menyelamatkan kita. Jika hidup kita yang penuh dosa pun sudah ditebusNya sehingga kita dilayakkan untuk menerima Kerajaan Allah, apalagi jika hanya berbicara mengenai masalah kehidupan di dunia. Apa yang kita perlukan adalah kerinduan kita untuk senantiasa berjalan bersama Dia. Ayat bacaan hari ini menegaskan dengan tegas alasan mengapa kita harus jangan takut, dan apa yang harus kita lakukan agar terbebas dari rasa takut. Dalam bahasa Indonesia dikatakan singkat saja: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Namun dalam versi bahasa Inggrisnya lebih jelas: “For with God nothing is ever impossible and no word from God shall be without power or impossible of fulfillment.” (Lukas 1:38). Bukan hanya bagi Allah saja, tapi perhatikan kata “WITH GOD”, “Dengan Allah.” Berjalan bersama Tuhan akan membuat kita mampu mengalami perkara-perkara besar dan memampukan kita untuk melewati badai masalah tanpa kehilangan sukacita. Berjalan bersama Tuhan akan membuat kita mengalami hal-hal yang mungkin mustahil bagi logika manusia. Dalam ayat 38 kita selanjutnya melihat jawaban Maria terhadap pesan yang disampaikan malaikat. “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Inilah kunci lain untuk mengalami perkara besar dalam hidup kita, yaitu berserah pada Tuhan.

Pesan pada Zakharia (mewakili ayah, para sepuh yang sudah lanjut usia), Maria (wanita), Yusuf (pemuda, ayah, pengusaha) dan Gembala (hamba/pelayan Tuhan) adalah sama. Jangan Takut. Dengan Tuhan, tidak ada perkara yang mustahil. Menyikapi peringatan kelahiran Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, dan memasuki tahun baru, inilah pesan Tuhan bagi kita semua yang percaya pada Yesus. Ada jaminan keselamatan yang disediakan bagi kita jika kita tetap berjalan beriringan bersama Tuhan dan berserah total sepenuhnya pada Tuhan. Tahun boleh sulit, krisis boleh menerpa, masalah boleh setiap saat hadir dalam hidup kita, tapi tidak perlu khawatir, sebab Tuhan selalu beserta kita. Haleluya!

Satu pesan yang sama bagi setiap kita menghadapi tahun sulit: JANGAN TAKUT

Menantikan Tuhan Dalam Memasuki Tahun Baru

Posted: 31 Dec 2008 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mikha 7:7
======================
“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!”

menantikan Tuhan, tahun baru, tahun sulit, penyertaan TuhanDalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah ayat disebutkan berulang-ulang dalam hati saya. Sesampainya di rumah pun saya segera bergegas membaca apa yang tertulis pada ayat itu. Ayat yang saya dengar itu menjadi ayat bacaan hari ini. Ini pesan Tuhan bagi kita semua untuk menyambut 2009.

Tahun ini dimulai dengan kondisi sulit dan krisis yang terjadi di mana-mana. Sejak dua bulan terakhir, setidaknya, kita melihat betapa kondisi dunia menjadi memprihatinkan. Tidak saja di negara kita, tapi krisis ekonomi kali ini sifatnya global. Negara kuat seperti Amerika sekalipun tidak mampu mencegah krisis global ini. Imbasnya menjalar kemana-mana, termasuk apa yang kita alami hari-hari ini. Begitu banyak karyawan yang dirumahkan, ancaman PHK ada dimana-mana, banyak perusahaan bangkrut, dan sebagainya. Hidup yang sudah sulit menjadi semakin sulit, dan ada banyak orang mulai putus asa dan tidak tahu harus bagaimana untuk bertahan hidup. Ada beberapa teman saya pengusaha berkata bahwa krisis yang terjadi ini sudah di luar nalar, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisa lagi dengan logika. Situasi kacau. Salah seorang dari mereka menggambarkannya dengan sebuah kiasan menarik: “kalau di lapangan bola, ini seolah-olah pemain menendang bola tidak lagi terarah dan beraturan. Bola ditendang kemana-mana, kena kemana-mana tanpa arah.” Inilah yang terjadi hari-hari ini. Bukan sebuah suasana menyenangkan tentunya memasuki sebuah tahun baru yang secara logika kita akan terlihat begitu suram dan bagi sebagian besar orang, tanpa harapan.

Tuhan mau kita belajar dari apa yang terjadi pada masa pelayanan Mikha. Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang pelayanannya ada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Situasi dan kondisi dunia saat ini sudah terjadi pula pada masa Mikha. Mari kita lihat apa saja yang terjadi pada masa itu dalam Mikha pasal 7. Kelaparan, gagal panen (ay 1), kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2), sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3), orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4), tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5), kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6). Semua ini dikatakan Mikha seperti sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular (Mikha 1:9).

Apa yang kita hadapi ke depan kurang lebih sama dengan situasi yang Mikha hadapi. Kita bisa belajar darinya bagaimana bersikap menghadapi kondisi sulit ke depan. Ayat hari ini menggambarkan penyerahan sepenuhnya pada Tuhan. “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Jika Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan pun sanggup! Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya. (Ibrani 13:8) “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” (Mazmur 46:2-8). Haleluya! Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, karenanya kita tidak perlu takut memasuki tahun baru yang secara manusia adalah suram dan penuh ketidakpastian. Dalam Ibrani selanjutnya kita baca sebagai berikut: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (Ibrani 12:26-27). Ayat selanjutnya berbicara mengenai apa yang harus kita lakukan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (ay 28).

Mikha tetap menanti-nantikan Tuhan, percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu menyelamatkan dan mendengarkan doa anak-anakNya. Daud mengingatkan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita meski bumi hancur sekalipun. Dalam Ibrani kita juga membaca bahwa ada kita harus selalu bersyukur dan beribadah pada Allah karena Dia memberi janji buat kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, meski segala yang lain tergoncangkan. Yesus sendiri berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Karena itu, memasuki tahun baru, 2009, mari kita semua tetap setia menantikan Tuhan, teruslah mengucap syukur dan berdoa, karena Tuhan akan meluputkan permasalahan bagi setiap yang percaya kepadaNya. Mari masuki tahun baru dengan penuh sukacita. Tidak perlu takut, khawatir dan ragu, karena Tuhan ada bersama kita! Selamat Tahun Baru 2009, Tuhan Yesus memberkati!

Bersukacitalah dan bersyukurlah dalam tahun yang sulit, karena Tuhan ada bersama kita


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: