Renungan Harian Januari 2009 [Renungan Harian Online]

semua konten renungan harian ini diambil dari Renungan Harian Online

http://renungan-harian-online.blogspot.com/

Belajar Dari Masa Lalu

Posted: 01 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 16:8
===================
“Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!”

Kemarin saya sudah panjang lebar menuliskan tentang bagaimana kita seharusnya bersikap menyongsong tahun baru yang secara logika kita akan jauh lebih sulit dibanding sebelumnya dan penuh dengan ketidakpastian serta ancaman krisis. Hari ini saya kembali diteguhkan lewat ayat bacaan hari ini, dan saya ingin membagikannya dengan teman-teman sekalian.

Apa yang saya dapat hari ini tepatnya adalah sebuah ajakan Tuhan untuk bercermin pada apa yang pernah diperbuat Tuhan di masa lalu. Saya diingatkan tentang sejarah bangsa Israel ketika lepas dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan. Lihatlah betapa baiknya Tuhan. Dia menurunkan tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari sehingga bangsa Israel bisa berjalan siang dan malam. (Keluaran 13:21). Dalam Keluaran 16, diceritakan bahwa Tuhan memberikan manna, roti yang turun dari langit, agar mereka semua mendapat makanan dalam perjalanan mereka. Begitu baiknya Tuhan, tapi mereka pun masih bersungut-sungut. Mereka bukannya berterimakasih, malah mengeluh bahwa mereka bosan makan manna, dan mulai menyesalkan keputusan mereka untuk keluar dari Mesir. Lebih baik jadi budak di Mesir ketimbang jadi raja di tanah yang dijanjikan Tuhan. Itulah yang terdengar. Lalu kisah yang sudah sangat kita kenal, bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari kejaran Firaun dan bala tentaranya lewat Musa yang membelah Laut Teberau alias Laut Merah sehingga mereka bisa melintasinya, sedangkan Firaun dan tentara-tentaranya habis ditenggelamkan ketika melewati belah lautan yang sama. (Keluaran 14:1-31). Cukupkah itu untuk menenangkan dan meyakinkan bangsa Israel? Ternyata tidak. Sesaat setelah mereka dilepaskan, mereka kembali mengeluh karena tidak mendapat air ketika melintasi padang gurun Syur. Lihatlah betapa bangsa Israel terus menerus fokus pada permasalahan. Ketika masalah datang, mereka bukannya melihat apa yang pernah-dan bisa- dilakukan Tuhan, tapi malah fokus pada permasalahan dengan terus bersungut-sungut, mengeluh dan protes. Padahal begitu banyak kisah luar biasa akan mukjizat Tuhan turun atas mereka sepanjang perjalanan. Ini baru kisah bangsa Israel. Jika kita lihat dalam Alkitab, ada banyak lagi kuasa Tuhan yang luar biasa mengatasi masalah bertabur di sana. Hal-hal yang ajaib, yang sudah diluar nalar dan logika, tapi mampu dilakukan Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Tapi mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cenderung khawatir dan takut ketika logikanya menghadapi sebuah ketidakpastian masa depan. Murid-murid Yesus pun sama. Mereka pernah menyaksikan bagaimana Yesus mampu memecahkan 5 roti hingga sanggup memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Tapi mereka masih juga memperbincangkan soal kelupaan mereka membawa roti ketika menyeberangi danau. Dan Yesus pun menegur mereka. “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya! Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian?” (Matius 16:8-9). Perhatikan perkataan “Hai orang-orang yang kurang percaya!” Kalimat ini kembali diulangi Yesus ketika angin ribut melanda perahu yang sedang Dia tumpangi bersama murid-muridNya. Para murid ketakutan melihat angin ribut dan gelombang badai. Dan Yesus menegur dengan kalimat yan sama: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”(Matius 8:26).

Memang kita tidak boleh terbelenggu dengan masa lalu dan terus menatap ke depan. Itu benar. Tapi kita pun tidak boleh melupakan segala berkat dan mukjizat Tuhan yang sudah pernah Dia lakukan dalam sejarah panjang manusia, bahkan dalam kehidupan kita masing-masing. Jika Tuhan mampu melakukan itu di masa lalu, sekarang pun Dia sanggup, dan di masa depan pun Dia tetap sanggup. Tuhan tahu betul tahun-tahun ke depan akan semakin sulit, tapi Dia pun ingin agar kita tahu betul bahwa penyertaanNya mampu mengangkat kita lebih tinggi dari persoalan dan krisis. Ingin bukti? Berbagai kisah dalam Alkitab, salah satunya kisah bangsa Israel di atas adalah bukti kuat akan kuasa Tuhan. Kesaksian-kesaksian yang dialami banyak orang hingga hari ini pun bisa menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih terus bekerja hingga kini. Belajarlah dari bukti penyertaan Tuhan di masa lalu agar kita kuat melangkah ke depan tanpa rasa takut. Kita harus tetap percaya dengan iman yang teguh, terus bersyukur dan memuliakan Tuhan, bertekun dalam doa, rajin membaca, merenungi dan melakukan firman Tuhan, sambil terus giat bekerja. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan satu pun anak-anakNya terlantar. Jika anda merasa khawatir, serahkanlah semuanya pada Tuhan dan pegang janjiNya. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Mari masuki Tahun Baru dengan pengharapan baru. Damai sukacita dan penyertaan Tuhan akan selalu menyertai anda semua.

Fear not, because God is always be with you

Firman Tuhan Meneguhkan

Posted: 02 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 119:28
======================
“Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu”

firman Tuhan meneguhkan, kemiskinanDalam perjalanan ke Jakarta untuk meliput event jazz besar bulan lalu saya melihat sebuah pemandangan yang kontras. Sebuah perjalanan nyaman menuju Jakarta dalam kendaraan ber-AC, melintasi jalan tol mulus yang dipenuhi mobil-mobil mewah, gedung-gedung megah di Jakarta, semua itu berbanding terbalik dengan realita gubuk-gubuk di pinggiran sungai, pengemis, pengamen di lampu merah. Sebuah kekontrasan yang nyata, ketika ada banyak yang setidaknya bisa menikmati hidup dengan kecukupan, saudara-saudara kita lainnya saat ini tengah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Ketika kita berpikir bagaimana bulan depan, atau tahun depan, mereka mungkin sulit melihat bagaimana mereka harus hidup esok hari. Bagaimana mereka bisa mengais sedikit rejeki untuk mengisi perut. Pikiran saya menerawang, bagaimana seorang pencuri ayam akhirnya ditembak kakinya karena mereka harus memberi makan anak dan istrinya, disisi lain koruptor kaya menikmati “hotel prodeo”, penjara dengan fasilitas mewah, full AC, televisi dan akses lainnya setelah mengemplang uang negara milyaran bahkan trilyunan. Itu gambaran hidup di dunia yang jauh dari ideal dan adil. Di Istora, ketika orang dengan gegap gempita menonton pagelaran jazz di dalam, di luar ada banyak orang berjualan dan mengemis. Pemandangan yang sungguh ironis terbentang tidak hanya disana, tapi rasanya hampir di setiap jarak pandang kita bisa melihat hal seperti itu.

Saya diteguhkan oleh sebuah firman Tuhan dalam kitab Mazmur seperti yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ketika jiwa menangis karena duka hati, firman Tuhan meneguhkan. Saya segera sadar bahwa pengharapan ada dalam Kristus, Roh Kudus membimbing, dan kekuatan serta hikmat ada dari Tuhan, yang salah satunya kita peroleh lewat firman-firmanNya. Ketika kita mampu, ada banyak saudara-saudara kita yang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Karena itu, ingatlah selalu bahwa kita bisa menjadi representasi kasih Yesus kepada sesama kita. Apapun yang kita buat untuk mereka, walau sekecil apapun, artinya kita melakukannya untuk Yesus (Matius 25:40). Dan ingat pula bahwa semua itu merupakan korban yang berkenan di hadapan Bapa. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:16).

Ada ratusan bahkan jutaan orang yang saat ini tengah bergumul dengan kesusahan dan penderitaan. Ada begitu banyak orang yang belum mengenal Yesus, masih hidup dalam ketidakpastian tanpa adanya secercah pengharapan. Mungkin bagi kita juga, ada saat-saat dimana kita bergumul dengan masalah dan kehilangan pengharapan. Tapi lihatlah ada begitu banyak pesan Tuhan dalam firman-firmanNya yang meneguhkan, dan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut jika Yesus ada beserta kita. Ayat-ayat pada kitab Mazmur 119 pun meneguhkan kita. Ketika jiwa kita “melekat pada debu”, kita dihidupkan kembali lewat firman Tuhan (Mazmur 119:25). Ketika jiwa kita berduka, kita diteguhkan lewat firman Tuhan (ay 28). Ketika jalan dusta mengancam kita, kita bisa mengikuti kebenaran firmanNya (ay 29-30). Dan hati kita pun bisa menjadi lapang dan lega, dibebaskan dari segala kesesakan, jika kita menuruti firman Tuhan. (ay 32). Dalam menghadapi beban masalah seberat apapun, berpeganglah pada janji-janji Tuhan. Ada pengharapan, bimbingan dan petunjuk yang mampu menolong dalam setiap saat, dan semuanya ada dalam firman Tuhan. Berpeganglah teguh.

Firman Tuhan itu mampu menyegarkan jiwa yang kering

Old and New

Posted: 03 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:17
======================
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

manusia baru, tahun baruKata “Old and New” identik dengan sebuah perayaan menjelang Tahun Baru. Kita meninggalkan tahun lama dan menyongsong tahun yang baru. Detik-detik menjelang pergantian tahun biasanya dihitung mundur, dan terompet serta kembang api biasanya segera menyemarakkan suasana begitu tahun berganti, disertai peluk cium atau jabat tangan dari teman-teman. Sms atau telepon pun biasanya langsung sibuk dipenuhi ucapan selamat. Menjelang tahun baru, ramai orang yang mulai sibuk menyusun “new year’s resolution” mereka, menuliskan apa kebiasaan jelek yang hendak dirubah, atau menyusun rencana-rencana yang hendak dicapai untuk tahun depan. Sayangnya kebanyakan “new year’s resolution” itu tidak berumur panjang. Mungkin seminggu atau sebulan, kebiasaan-kebiasaan buruk itu kembali lagi. Seringkali kita punya tekad untuk menjadi manusia baru dengan pola kehidupan baru yang lebih baik, namun dalam waktu singkat akhirnya kembali lagi kepada diri kita yang lama, yang dikuasai oleh berbagai keinginan daging yang sulit untuk dilepaskan.

Ketika kita ada di dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17). Sebuah hubungan baru dengan Tuhan, sebuah perdamaian pun kita peroleh lewat Kristus (ay 18). Kita pun dilayakkan untuk menerima janji-janji Tuhan, hingga memperoleh kehidupan kekal. Kita sekarang bisa masuk ke hadirat Tuhan, bisa menikmati hubungan indah denganNya. Sebagai sebuah ciptaan baru, yang seharusnya bisa menaklukkan keinginan daging dan hidup oleh Roh. Kehidupan seorang ciptaan baru sudah seharusnya memiliki Roh yang terus berbuah. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, penguasaan diri…” (Galatia 5:22-23). Inilah buah-buah Roh yang harus terus kita hasilkan, dan harus semakin ditingkatkan memasuki tahun yang baru.

Malam ini saya berdoa, kiranya saya dan teman-teman sekalian bisa memasuki tahun yang baru dengan lebih baik lagi, seperti ayat berikut: “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:23-24). Momen memasuki tahun yang baru hendaknya bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah perubahan kepada kehidupan dalam Roh yang berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita tinggalkan diri kita yang lama dengan kebiasaan-kebiasaan buruk kita, dan masuklah ke dalam masa depan sebagai manusia baru yang terus berbuah lebih lagi. Be more fruitful this year!

Jadilah manusia baru, hiduplah dalam Roh dan teruslah berbuah mulai sekarang

Kerendahan Hati

Posted: 04 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:6
===========================
“Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.”

“ah kamu tahu apa..” sebuah kalimat yang sangat singkat ini, yang diucapkan oleh seorang dosen ternyata menimbulkan kepahitan pada seorang teman saya. Ia merasa segala usahanya disepelekan dan dianggap rendah. Padahal selama setahun penuh saya tahu betul dia sudah berusaha dengan semampunya. Terkadang manusia sulit mengontrol perkataan dan perbuatannya, apalagi ketika mereka sudah mampu mencapai sebuah tingkatan tertentu dalam perjalanan hidupnya. Teman saya itu sekarang sudah meninggal dunia akibat leukemia, dan saya ingat betul sehari sebelum ia meninggal, ia masih menyebutkan sakit hatinya akibat ucapan dosen itu.

Mungkin di dunia pekerjaan atau pendidikan kita kerap bertemu dengan orang-orang yang, baik sengaja maupun tidak sengaja, bernada atau berkesan merendahkan. Mungkin kita pun pernah secara tidak sadar melakukan hal yang sama. Ironisnya di dalam gereja pun hal seperti ini terjadi. Ada seorang teman yang pindah berjemaat ke Gereja lain karena ia merasa diremehkan dan tidak dihargai sebagai seorang pianis di Gerejanya. Ada pendeta yang berkata bahwa ia ingin jemaatnya bertumbuh, namun ketika jemaatnya menerima mukjizat, mereka curiga dan tidak percaya. Ada Gereja-gereja yang “rel” nya bergeser, tidak lagi memuliakan Tuhan di atas segalanya tapi fokus kepada program-program wajib yang harus diikuti jemaat. Jika tidak ikut, itu artinya tidak “holy”. Dalam persekutuan-persekutuan, selalu ada saja orang yang merasa dirinya lebih tahu dari yang lain, mungkin dari segi usia, lamanya melayani Tuhan dan sebagainya. Padahal, itu tidaklah serta merta menjadikan seseorang lebih dari yang lain, karena Tuhan mampu mencurahkan hikmatNya dan memakai seseorang yang tadinya tidak ada apa-apanya menjadi berkat luar biasa bagi sesama. From zero to hero.. seperti Paulus.

Hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan nasihat Paulus agar kita senantiasa rendah hati. Kita tahu bagaimana beratnya penderitaan yang dialami Paulus dan kawan-kawan dalam mewartakan injil. Lihatlah apa kata Paulus: “Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.” (1 Korintus 4:9-10). Paulus melayani jemaat Korintus yang terkenal kuat, berani dan mulia dengan sebuah kerendahan hati luar biasa. Hanya orang rendah hati lah yang sanggup berkata seperti Paulus. Sebab orang yang tinggi hati akan selalu mencari posisi lebih dari orang lain dan menuntut perlakuan penuh hormat dari orang lain, bahkan selalu menghakimi/menilai orang lain.

Perkataan Paulus ini mengajarkan kita agar tidak bermegah diri di hadapan orang, tidak iri hati kepada orang lain dan selalu hidup dengan rendah hati. Orang yang mempunyai kasih Kristus dalam dirinya seharusnya mampu hidup rendah hati, mampu bersyukur atas karunia Tuhan pada orang lain. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4). Tuhan tidak pernah menginginkan keselamatan yang dianugrahkanNya pada kita sebagai dasar untuk sombong, meninggikan diri. Tuhan mengingatkan bahwa semua itu adalah atas dasar kasih karunia pemberian Allah. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Mari kita jalani hidup dengan sebuah kerendahan hati, baik dalam kondisi apapun.

Runtuhkan tembok keegoisan dan kesombongan, gantikan dengan kerendahan hati

Penyertaan Tuhan

Posted: 05 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ulangan 28:3
====================
“Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.”

penyertaan TuhanPagi ini ketika saya bangun, sebuah pertanyaan hadir di dalam hati saya, yang kira-kira berbunyi, “apakah yang paling kamu perlukan saat ini.” Saya menjawab dalam hati saya, yang paling saya perlukan adalah penyertaan Tuhan, agar Tuhan memberkati setiap usaha dan pekerjaan saya, agar Tuhan berkenan pada segala sesuatu yang saya lakukan. Soal harta kekayaan, biarlah itu menjadi bagian Tuhan, karena saya tidak mau kaya jika tidak ada penyertaan Tuhan di dalamnya, di dalam hidup saya dan di dalam keluarga saya. Meskipun saya tahu bahwa Tuhan sanggup, dan sudah menjanjikan sebuah hidup yang berkelimpahan bagi siapapun yang menerima Kristus (Yohanes 10:10), tapi saya hanya mau menerimanya jika saya sudah dianggap layak dan mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saya. Bagi saya, penyertaan Tuhan yang mencukupkan segala sesuatu yang kami butuhkan, itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak butuh sesuatu yang berlebihan, kami juga tidak ingin sampai kekurangan. Cukup. Itu saja, dan saya percaya penyertaan Tuhan akan selalu mencukupkan segala sesuatu. Haleluya. Itu fakta yang menjadi bagian hidup saya hingga hari ini. Saya tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan. Saya cukup makan, saya bisa berusaha dan bekerja, saya bisa bersukacita, ada Tuhan yang bertahta di atas keluarga, dan itu jauh lebih indah dibandingkan sebuah kekayaan berlimpah tapi tanpa rasa sukacita, bahagia, damai dan sebagainya, yang bisa terjadi jika tidak ada penyertaan Tuhan, dan tanpa berkat Tuhan turun atas segala sesuatu yang kita hasilkan. Panjang lebar saya menjawab dalam hati, intinya adalah saya hanya membutuhkan “penyertaan Tuhan”. Dan begitu saya selesai menjawab, sebuah motor melintas di depan saya dengan sebuah stiker bertuliskan: “working to win”. Saya merasakan sebuah sukacita dalam hati saya.

Ayat hari ini berbicara, jika kita mendengarkan suara Tuhan, melakukan dengan setia segala perintahNya, maka pekerjaan dan kehidupan kita akan diberkati. (Ulangan 28:1-3). Tidak berhenti sampai disitu saja, bahkan berbagai berkat lain susul menyusul hingga ayat 14. Sebaliknya, ayat 15-46 berbicara mengenai kutuk, yang akan turun ketika kita tidak mendengarkan suara Tuhan dan tidak melakukan perintah/ketetapanNya. Kembali pada ayat 3, kata diberkati disana tidak hanya berhenti pada masalah kelimpahan materi, tapi saya percaya itu lebih luas lagi. Berkat Tuhan juga menyangkut akan terbukanya kesempatan-kesempatan, hikmat yang turun atas kita agar bisa berhasil, bahkan kuasa untuk menikmati pun adalah karunia dari Tuhan. “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.” (Pengkotbah 5:19). Alangkah sempitnya pikiran kita jika kita hanya berhenti pada sebuah kekayaan materi saja. Perkataan Tuhan memberkati baik di kota maupun di ladang juga berbicara mengenai adanya penyertaan Tuhan, sehingga berkatNya turun atas kita. Bayangkan jika kita memperoleh uang dengan jalan pintas seperti korupsi, penipuan, pemerasan dan lain-lain. Harta bisa banyak, tapi tidak ada berkat diatasnya, sehingga hidup kita pun tidak akan pernah damai sejahtera. Bayangkan pula jika tidak ada kesempatan yang terbuka bagi kita. Jangankan berusaha, peluang pun tidak ada. Atau bayangkan ini: segala yang dimiliki tidak bisa dinikmati. Harta datang dan pergi, seperti roller coaster, orang menjadi hamba uang, hanya memikirkan untuk menumpuk uang tapi tidak mendapat kebahagiaan dan kedamaian apapun dari itu semua. Saya pribadi tidak ingin demikian. Saya hanya ingin ada penyertaan Tuhan dalam setiap usaha dan perbuatan saya, dalam hidup saya, menaungi keluarga saya. That’s all. Dengan adanya berkat Tuhan, saya bisa berusaha, saya bisa “work to win”, segalanya dicukupkan agar saya bisa maksimal, sehingga apapun nantinya yang saya hasilkan adalah yang terbaik, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam beribadah pun demikian. “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Beribadah pun perlu proses pembiasaan diri agar rajin berdoa, saat teduh atau membaca serta mendalami Alkitab. Selanjutnya bagaimana melakukan apa yang kita dengar dan baca dari firman Tuhan untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari. Semua itu butuh proses. Life is a process. Dalam setiap proses itu, adalah penting untuk memastikan bahwa penyertaan Tuhan ada di sana hingga akhir. Bekerjalah sungguh-sungguh, hiduplah dengan benar. Hal-hal lain akan dengan sendirinya mengikuti, dan saya tahu pasti bahwa segala sesuatu dimana ada penyertaan Tuhan didalamnya akan menghasilkan sesuatu yang baik, bahkan luar biasa. Let God be with you, and bless you, in everything you do. The rest will follow.

Semua sia-sia tanpa penyertaan Tuhan

Sistem Timbangan Tuhan

Posted: 06 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 114:3
====================
“Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?”

timbangan Tuhan, kita berharga, Tuhan mengasihi kitaDalam beberapa kali belanja kebutuhan dapur terakhir, saya tiba-tiba tertarik pada timbangan. Timbangan yang dipakai ketika menimbang daging, menimbang cabe, telur, dan lain-lain. Awalnya saya tidak tahu pasti mengapa saya mengamati jalannya timbangan-timbangan itu. Namun malam ini sebelum tidur, semua menjadi jelas. Saya bertemu dengan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, dan saya pun segera mengucap syukur dan berterimakasih karena Tuhan sangat memperhatikan kita, sangat memperhitungkan kita, sangat mempedulikan kita, dan tentu saja, sangat mengasihi kita. Dan saya segera bergegas menunda waktu tidur saya untuk menuliskan renungan ini. Dalam timbangan Tuhan, kita ternyata punya berat yang jauh melebihi apapun.

Saya baru saja keluar, langit terlihat cerah bertaburan bintang. Ada berapa banyak bintang di langit? Ada saat-saat ketika saya kecil, saya berusaha untuk menghitung jumlah bintang di langit. Para ahli astronomi dibantu dengan teleskop, berusaha mengungkap tabir angkasa luar, gugus tata surya dan sebagainya. Mereka menemukan galaksi demi galaksi, bahkan menemukan fakta bahwa ada bintang-bintang yang berukuran jauh lebih besar dari bumi, atau malah lebih besar dari matahari. Bintang super raksasa ini membuat ukuran bumi tidak lebih dari ukuran sebutir debu aja. Apalagi kita manusia yang diam di dalam planet bernama bumi ini. Begitu luar biasanya Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Saya yakin masih ada banyak ciptaan Tuhan yang masih berupa misteri yang belum mampu diungkap lewat kepintaran manusia.

Jauh sebelum teleskop ditemukan, Daud sudah menyadari bahwa segala ukuran super raksasa di angkasa luar itu tidaklah sebanding dengan ukuran nilai seorang manusia. Kita manusia, meskipun ukurannya sangat jauh lebih kecil ketika dibandingkan dengan ukuran bumi, matahari atau benda tata surya lainnya, tapi bernilai jauh lebih besar dibandingkan itu semua. Kita adalah objek yang sangat penting di mata Tuhan. Sebegitu pentingnya, sehingga Dia sangat peduli akan keselamatan kita, sampai-sampai merasa perlu untuk menganuhgrahkan Kristus agar kita tidak binasa dan beroleh hidup yang kekal. Sebuah permisalan menarik dibuat Yesus sendiri: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:26). Selanjutnya Yesus juga berkata: “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (ay 30). Jika semua yang lain saja diperhatikan Tuhan, masa kita luput dari perhatianNya? Lihatlah dalam Matius pasal 10. “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.” (10:29) Kita sangat Dia kasihi. Bahkan rambut di kepala kita pun Dia ketahui jumlahnya, dan tidak akan jatuh tanpa persetujuanNya (ay 30), kita telah dilukiskan dalam telapak tangan Tuhan, dan ada dalam ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Lebih tegas lagi, sejak awal Tuhan menyatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Lihatlah betapa berharganya kita dimata Tuhan.

Kembali kepada timbangan, bayangkanlah sebuah timbangan. Letakkan segala bintang dan benda alam semesta di satu sisi, dan diri anda, dalam sisi yang lain. Dalam sistem timbangan Tuhan, anda lebih berat dibanding segala bintang dan benda alam semesta! Hari ini, marilah kita semua bersyukur pada Tuhan karena Dia telah memilih untuk mencintai kita semua lebih dari segalanya. Tuhan sungguh mengasihi anda, dan anda semua merupakan ciptaanNya, masterpiece Nya yang paling berharga. Sudahkah anda mempercayakan hidup anda sepenuhnya pada perlindungan Tuhan yang sangat mengasihi anda?

Kehadiran Yesus dan karya penebusanNya merupakan bukti nyata kasih terbesar Tuhan pada manusia

Tuhan Beserta Kita

Posted: 07 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:2
=======================
“TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya.”

tuhan beserta kitaBeberapa hari yang lalu saya menuliskan mengenai pentingnya penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Saya merasakan sendiri betapa damainya dan amannya hidup jika Tuhan beserta kita, jika hidup kita ada dalam perlindunganNya. Nothing to fear, nothing to worry, meskipun kita belum melihat apa yang membentang di hadapan kita. Jika Tuhan memelihara hidup kita, maka kita pun bisa berjalan dengan tenang menyongsong hari depan tanpa rasa khawatir. Sekarang pertanyaannya, kapan Tuhan menyertai kita? Ayat bacaan hari ini menjelaskan bahwa Tuhan akan selalu beserta kita selama kita beserta Dia, selama kita bertekun mencariNya.

Ada banyak orang yang selalu menyebut-nyebut nama Tuhan. Ketika kaget, dalam suka, dalam duka, bahkan ketika mengumpat. Apakah dengan terus menyebut nama Tuhan itu berarti seseorang ada beserta Tuhan? Tidak. Lihatlah ayat ini: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Kenyataannya banyak orang yang salah kaprah dengan melakukan pembenaran atas tindakan mereka yang sesat dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka berusaha meyakinkan orang untuk membenarkan perbuatan mereka dengan membawa-bawa nama Tuhan. Bahkan tidak jarang, mereka berusaha meyakinkan Tuhan bahwa apa yang mereka perbuat adalah benar, bukan sebaliknya, mengikuti kebenaran firman Tuhan secara mutlak. Beserta dengan Tuhan berarti kita mengetahui apa yang menjadi keinginan Tuhan. Apa yang menjadi kehendakNya. Pastikan bahwa kita selalu menginginkan penyertaanNya, menginginkan Dia secara pribadi, bukan hanya mengharapkan berkatNya, bukan butuh Tuhan hanya agar segala keinginan, keluhan dan kebutuhan kita dikabulkan. Motivasinya adalah karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi bahkan segenap kekuatan kita (Markus 12:30), seperti yang diajarkan Kristus sendiri. Orang yang mengasihi Tuhan akan selalu rindu untuk berada dekat denganNya, rajin berdoa, rajin membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Percaya pada Kristus sebagai Juru Selamat dan hidup senantiasa dalam tuntunan Roh Kudus. Selama itu kita sadari dan lakukan, maka kita akan selalu beserta Dia, dan dengan demikian, Tuhan pun akan selalu beserta kita.

Tuhan Yesus mengajarkan “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7). Kita perlu terus melatih diri kita untuk terus intim dengan Tuhan, baik lewat puji-pujian, penyembahan maupun doa sebagai wujud rasa syukur dan kasih kita kepadaNya. Kita harus terus memelihara diri kita agar tetap berada dalam kasih Allah. “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” (Yudas 1:21). Dengan demikian, Tuhan akan selalu ada beserta kita, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Betapa indahnya hidup dalam penyertaan Tuhan. Pastikan bahwa kita selalu beserta denganNya, mendengarkan dan melakukan firmanNya, maka Tuhan pun akan selalu beserta kita.

Tuhan selalu ada bersama setiap orang yang setia padaNya dan mengasihiNya dengan sungguh-sungguh

Ajaibnya Tuhan

Posted: 08 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 59:1
===================
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar”

ajaibnya TuhanSebagai seorang wartawan, mengejar narasumber untuk mendapatkan berita merupakan hal mutlak. Begitu pula dengan sebuah tugas dalam festival Jazz internasional di Jakarta akhir bulan November yang lalu. Ada seorang musisi legendaris asal Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri tampil di sana. Selain harus berjuang untuk memintanya bersedia di wawancara, saya juga adalah fans beratnya sejak dulu. Begitu banyak orang yang mengejarnya untuk foto bareng, sementara dia juga harus meluangkan waktu untuk makan malam dan bertemu dengan teman-teman lamanya, para musisi dari Indonesia, membuatnya membatasi kesempatan untuk bersama para penggemar. Saya bisa bayangkan, jika ia ladeni semuanya, mungkin seluruh waktunya akan habis tersita. Maka restoran tempat ia makan pun dijaga, pengunjung yang masuk ke dalam dibatasi selama ia berada disana. Saya tidak punya waktu banyak, karena di saat yang sama, ada 4 atau 5 panggung lainnya yang harus saya liput, belum lagi mencari kesempatan wawancara dengan musisi-musisi lainnya. Dalam hati saya berdoa, singkat saja, mungkin terkesan sambil lalu.. saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi saya percaya Tuhan mampu memungkinkan saya bertemu dengan si artis legendaris itu. Singkat saja, saya cuma berkata demikian dan menyerahkan pada Tuhan. Haleluya, mukjizat terjadi. Tuhan menjawab doa saya dengan instan. Begitu saya ucapkan “amin”… tiba-tiba artis itu menoleh ke arah saya dan memanggil saya. Ia pun memanggil saya untuk masuk ke ruangan restoran. Apa katanya? Dia berkata, bahwa dia sudah melihat saya beberapa kali di area acara, dan ada sesuatu yang berbeda dari saya, katanya. Dia tidak tahu saya wartawan, tapi yang dia tahu dia harus memanggil dan bertemu saya. Akhirnya, tidak hanya bisa foto bersama, tapi dia juga memberikan nomor telepon dan emailnya. “you can contact me anytime you want..” begitu katanya.Ajaib.

Urusan seperti di atas mungkin sepele bagi sebagian orang, tapi bagi seorang fans dan wartawan, itu adalah sangat penting. Ketika kita mendengar kata mukjizat, banyak orang yang mengartikan mukjizat dengan mengacu pada sesuatu yang “besar”, seperti orang mati dihidupkan, orang sakit berat disembuhkan, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat dan sebagainya. Tapi sebenarnya mukjizat Tuhan tidaklah terbatas pada itu saja. Dalam hal-hal yang relatif “kecil” dan mungkin subjektif, seperti kesaksian saya diatas pun, itu tetap merupakan mukjizat dari Tuhan. Hal yang sangat mustahil, bukan saya yang menemukan jalan bertemu dengan si artis, tapi malah si artis yang memanggil saya.Padahal saya berada di tengah kerumunan begitu banyak orang. Jika itu bukan atas kuasa Tuhan yang ajaib, bagaimana hal itu mungkin dengan logika manusia? Ketika menghadapi kendala, kita seringkali sibuk sendiri mencari jalan sesuai logika dan kemampuan daya pikir kita sendiri, namun kita lupa bahwa ada Tuhan yang pegang kendali atas hidup kita. Jika penyertaan Tuhan ada dalam pekerjaan dan hidup kita, maka mukjizat demi mukjizat baik besar maupun kecil bukan lagi merupakan hal yang aneh. Ketika kita mau hidup sesuai kehendakNya, terus berusaha hidup kudus, maka ayat bacaan hari ini menjadi nyata. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar..”(Yesaya 59:1). Haleluya. Tuhan Yesus telah berkali-kali mengingatkan akan hal ini juga. Matius 17:20 misalnya, mengatakan jika kita punya iman meski sebesar biji sesawi saja, gunung sekalipun akan pindah. “..dan takkan ada yang mustahil bagimu”. Dalam Markus 9:23 Yesus juga berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Atau ayat berikut: “Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”(Markus 10:27).

Tidak ada yang mustahil, semua mungkin bagi Tuhan. Tangan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk menolong, dan telingaNya tidak pernah kurang tajam untuk mendengar kita. Hiduplah dengan benar, lalu serahkanlah seluruh hidup kita ke dalam tanganNya. Tuhan kita adalah Allah yang peduli, yang tahu pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Alami hari-hari penuh berkat, penuh mukjizat, rasakan kehadiranNya yang ajaib dalam setiap pergumulan anda, karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Tuhan mampu bekerja secara ajaib diluar batas logika manusia

Ucapan Syukur

Posted: 09 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Lukas 17:18
========================
“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

ucapan syukur, terimakasih, thank youSulitkah mengucapkan terimakasih? Rasanya tidak akan sulit untuk mengeluarkan dua patah kata itu dari mulut kita. Tapi kenyataannya, ada banyak orang yang sulit untuk mengucapkan terimakasih. Ada seorang pemilik sebuah situs musik yang terkenal dan sukses di Indonesia, dan ia ternyata merupakan salah satu orang yang sulit mengucapkan terimakasih. Beberapa teman saya yang mengenalnya berkata bahwa ia tidak pernah mengucapkan kata itu ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. “jangankan bilang terimakasih, senyum saja tidak”, kata salah seorang teman. Apakah ia tidak menghargai? saya tidak tahu, karena saya tidak dalam kapasitas untuk menilai atau menghakiminya. Tapi yang saya tahu, ia termasuk orang yang sulit mengucapkan kata itu. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu lagi dengan salah seorang teman yang baru saja selesai kuliah dari luar negeri. Ketika saya mengucapkan terimakasih pada pelayan yang mengantarkan minuman, dengan tertawa ia berkata,“buat apa bilang terimakasih? itu memang tugasnya kok..” Apakah mengucapkan terimakasih itu tabu? atau memang ucapan terimakasih yang disampaikan dengan tulus itu tidak penting? Saya merasa ucapan terimakasih dan rasa syukur itu patut kita sampaikan sebagai tanda apresiasi dan penghargaan kita terhadap pemberian,usaha atau perbuatan orang lain. Saya yakin semua orang senang jika mendapat ucapan terimakasih. Bagi saya pribadi, itu membuat saya tahu bahwa apa yang telah saya perbuat itu dihargai.

Pagi tadi saya diingatkan akan kisah 10 orang kusta yang tertulis dalam Lukas 17:11-19. Pada suatu kali ketika Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea dalam perjalanannya menuju Yerusalem, ada 10 orang kusta yang menjumpai Yesus. Mereka memohon belas kasihan Yesus. Yesus pun menyembuhkan mereka. Namun berapa orang yang mengucap syukur dan berterimakasih atas mukjizat kesembuhan dari Yesus itu? Hanya 1 orang. Dan itupun orang Samaria. “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.” (Lukas 17:15-16). Kemana yang lainnya? Mungkin mereka terlalu gembira karena telah sembuh, dan lupa untuk berterimakasih. Maka Yesus pun heran dan berkata: Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (ay 17-18).

Ada banyak orang, dan mungkin kita pun pernah berlaku seperti itu. Ketika masalah menerpa, ketika kita tengah menderita penyakit, kita pun terus menerus berdoa memohon Tuhan melepaskan kita, membebaskan dan menyembuhkan kita. Tapi begitu kita lepas dari masalah, begitu kita sembuh, ketika mukjizat terjadi, kitapun menikmati itu semua secara berlebihan sehingga lupa untuk mengucap syukur atau berterimakasih kepada Tuhan. Doa lebih banyak diisi dengan “Wish list”, permintaan dan permohonan ini dan itu. Orang akan terus berdoa ketika mereka butuh sesuatu, namun ketika hidup menjadi nyaman tanpa masalah, orang akan lupa berdoa. Tidakkah kita pun akan merasa sedih ketika apa yang kita perbuat seakan-akan tidak dihargai sama sekali oleh orang yang telah kita bantu? Saya membayangkan betapa kecewanya Tuhan dengan anak-anakNya yang tidak tahu berterimakasih. Dalam kehidupan dengan sesama manusia pun seperti itu. Sebuah ucapan terimakasih yang tulus bisa menjadi jembatan indah sebuah hubungan yang akrab dengan orang lain. Ucapan terimakasih dan ucapan penghargaan bisa membuat semangat orang meningkat, kinerjanya meningkat, bahkan bisa mewakili mengalirnya kasih dari diri kita kepada orang lain.

Dalam Efesus, Paulus mengingatkan kita agar selalu mengucapkan syukur atas segala sesuatu. “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:20) Dalam surat untuk jemaat Tesalonika, ia kembali mengulangi pesan yang sama. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Tidak hanya dalam keadaan cukup, tidak hanya ketika anda berada dalam zona nyaman, tapi ketika dalam himpitan masalah dan berbagai pergumulan, biasakanlah untuk tetap mengucap syukur. Karena seperti ayat bacaan kemarin berbunyi: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yesaya 59:1) Tuhan tahu segala pergumulan kita, dan dia tetap memberikan yang terbaik lengkap dengan anugrah yang sempurna. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:17). Oleh karena itu, meskipun mungkin saat ini kita masih belum melihat pertolongan Tuhan turun atas kita, janganlah putus pengharapan. Bahkan yang tidak bisa kita lihat sekalipun, yang tidak terpikirkan sebelumnya, yang tidak bisa dianalisa secara logika sekalipun dapat hadir dalam hidup kita jika kita menantikan dengan tekun. (Roma 8:25). Karena itu, hendaklah kita senantiasa mengucapkan syukur dan terimakasih, baik kepada orang lain sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas jerih payah, pemberian maupun atas usaha mereka, terlebih kepada Tuhan atas berkat, rahmat, karunia dan penyertaanNya yang setia sepanjang hidup kita. Ucapan syukur dan memuliakan Tuhan yang keluar dari mulut kita bahkan merupakan sebuah persembahan korban syukur yang indah bagi Tuhan. “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15).

Learn how to always be thankful and say it sincerely right from your heart

Iman Yang Radikal

Posted: 10 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Daniel 3:17-18
====================
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

iman yang radikal, sadrakh, mesakh, abednegoSeberapa jauh kita sanggup berjalan dengan iman? Seberapa besar kasih kita pada Tuhan? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar klise, dan jawabannya pun mungkin klise, namun jika kita benar-benar renungkan, ini sebuah pertanyaan yan sebenarnya sulit untuk dijawab, apalagi untuk dijalankan secara nyata dalam kehidupan kita. Mungkin mudah bagi kita untuk percaya pada Tuhan ketika doa-doa kita dijawab, ketika mukjizat terjadi, ketika berkat Tuhan turun atas kita, ketika kita dilepaskan dari pergumulan dan kesesakan. Namun, mampukah kita memiliki iman yang sama ketika kita tengah berada dalam jurang masalah, ketika kita belum melihat satupun “tangga” yang dapat membawa kita keluar dari jurang tersebut? Tadi malam sebelum tidur, saya diingatkan akan kisah tiga orang berani yang punya iman luar biasa akan Tuhan: Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Alkisah, ada tiga pemuda yang berani melawan titah raja Nebukadnezar. Pada saat itu, sang raja baru membuat patung emas dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta (kurang lebih 27 x 3 m), dan ia memerintahkan seluruh bangsa, suku dan bahasa untuk menyembah patung tersebut. Mendengar perintah tersebut, bangsa-bangsa itu pun sujud menyembah patung tersebut, agar raja tidak menimpakan murka dan menghukum mati mereka yang membantah. Hukuman yang ditetapkan bagi pembangkang tidak main-main. “dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.” (Daniel 3:11). Namun lihatlah, diantara mereka yang tunduk, ternyata ada 3 orang yang berani membantah. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Seketika mereka pun ditangkap dan dibawa menghadap raja. Raja pun berkata: “…jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (ay 15). Apa jawab mereka? “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay 17-18). Mendengar itu, Nebukadnezar pun murka. Dia memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan perapian tujuh kali lebih panas dari biasanya untuk membakar ketiga pemuda itu hidup-hidup. Saking panasnya, api itu sampai membakar orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke perapian. Apa yang terjadi selanjutnya? Nebukadnezar kaget melihat bahwa ketiga orang itu tidak terbakar sama sekali. Bahkan ia melihat ada “orang keempat” berjalan bebas ditengah-tengah api, dan seluruhnya tidak terbakar. (ay 25). Lalu takutlah Nebukadnezar dan segera bergegas membebaskan ketiga pemuda tadi. Mereka tidak terbakar sama sekali, bahkan bau hangus pun tidak ada pada mereka. (ay 27). Sang raja pun kemudian berkata “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.” (ay 28).

Teman, inilah bentuk iman yang radikal. Radikal bukan berarti bahwa kita harus memusuhi saudara-saudara kita yang tidak seiman, apalagi sampai melakukan kekerasan atau membunuh. Radikal bukanlah berarti melakukan sebuah gerakan penuh kebencian. Namun radikal yang saya maksudkan adalah mengacu pada pengertian sebenarnya, yakni sampai ke akar suatu masalah, mengerti secara mendalam hingga ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas logika atau fisik yang ada. Apa yang dimiliki Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah bentuk iman yang radikal, yang tidak pamrih dan hanya terfokus pada berkat dan pertolongan Tuhan semata. Lihatlah sekali lagi jawaban mereka: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami…tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku.” Ada pertolongan atau tidak, iman mereka tidak goyah sedikitpun. Inilah iman sesungguhnya yang berakar secara radikal dalam hidup mereka.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah persimpangan dimana iman kita harus diuji, mampukah kita memiliki keyakinan seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Mampu kita mendahulukan iman kita lebih dari segalanya? Mampukah kita berkorban demi iman kita akan Kristus? Hari ini, marilah kita memiliki iman radikal kepada Kristus, percaya sepenuhnya dan tidak pernah putus pengharapan. Ketika pertolongan Tuhan belum tiba pada anda, janganlah tergesa-gesa meragukan kemampuan Tuhan, apalagi sampai meragukan keberadaanNya. Apa yang direncanakan Tuhan bagi setiap kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29: 11). Dan ingatlah bahwa segala yang diturunkan Bapa pada kita adalah pemberian yang baik dan anugrah yang sempurna. (Yakobus 1:17). Jika anda merasa belum mendapat jawaban, jangan putus asa, dan tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Ketika anda merasakan berkat Tuhan luar biasa mengalir dalam hidup anda, jangan lupa bersyukur. Dan yang paling penting, ada berkat, pertolongan, mukjizat atau tidak, iman terhadap Tuhan tidak boleh goyah sedikitpun. Marilah miliki iman yang radikal terhadap Tuhan. Trust him fully with all our heart, mind and soul.

Iman radikal adalah mematuhi Tuhan dengan serius bukan karena apa yang dapat Dia lakukan, namun semata-mata karena mengasihiNya sepenuh hati

Sedikit Bicara, Banyak Mendengar

Posted: 11 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:17-5:1
=========================
“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.”

sedikit bicara, menghampiri tahta AllahAda sebuah ungkapan yang pernah saya dengar, kira-kira bunyinya begini: “the more you talk, the more you expose yourself.” Semakin banyak kita bicara, semakin terbukalah diri kita dengan segala kelemahannya. Ada juga yang pernah berkata, “the more you talk, the more stupidity fly out.” Ada beberapa orang yang mengaplikasikan ungkapan-ungkapan ini secara terlalu sempit, sehingga mereka menjadi pelit kata, dan hanya bicara ala kadarnya. Sebaliknya ada yang terlalu banyak menghamburkan kata, sehingga dianggap kebanyakan omong kosong. Berbagai pemilihan kepala daerah dan calon legislatif terlalu sering memberi janji-janji muluk, orasi berapi-api yang menyatakan jika mereka terpilih, bukan saja rakyat daerah yang dipimpinnya, tapi seolah-olah dunia ini pun akan langsung makmur. Dan ketika mereka terpilih, janji hanyalah tinggal janji, karena tidak ada yang berubah secara substansial. Dalam kerohanian, ada banyak pula orang yang bernazar macam-macam agar doanya dikabulkan. Tapi begitu dikabulkan? Jangankan melakukan nazarnya, berterimakasih pun lupa.

Salomo mengingatkan agar kita menjaga langkah, sikap, perbuatan, ucapan dan perkataan ketika kita menghampiri tahta Allah. Adalah lebih baik untuk mendengar apa kata Tuhan dalam doa-doa kita, daripada melemparkan segepok daftar permintaan pada Tuhan. Apalagi kalau pakai janji macam-macam. “kalau Tuhan kabulkan, aku akan begini, begitu…” terlalu banyak janji muluk, dan ketika saatnya tiba, janji-janji itu tidak ada satupun yang terpenuhi. Ayat berikutnya dalam Pengkotbah melanjutkan lebih jauh. “Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.” (Pengkotbah 5:2). Lalu dengarlah mengenai nazar: “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.” (ay 3-4).

Ketika kepada sesama manusia pun kita harus menjaga perkataan kita, lebih terutama lagi kita harus menjaga perkataan kepada Tuhan. Segala perkataan itu, sekecil apapun tetap harus dipertanggungjawabkan. Yesus mengingatkan demikian: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Jika perkataan saja sudah begitu penting, lebih penting lagi sebuah janji, apalagi jika janji itu ditujukan pada Tuhan. Karena itu, hendaklah kita tidak mengumbar terlalu banyak perkataan dan permintaan dalam setiap doa kita. Latihlah diri agar bisa menjadi pendengar yang peka saat menghampiri Tuhan, karena Dia adalah Tuhan yang sangat mengetahui  segala sesuatu yang kita butuhkan. Seperti halnya prinsip berdoa yang diajarkan Tuhan Yesus : “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Matius 6:7), biarlah kata-kata kita sedikit agar kita bisa mendengar apa yang hendak Dia katakan dan tawarkan dalam keheningan.

Adalah lebih penting untuk mendengar perkataan Tuhan daripada menumpuk daftar permintaan

Orang Bijak Mendengar

Posted: 12 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 1:5
=================
“baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan”

bijak mendengar, rajin bertanyaSekian lama melakukan wawancara dengan berbagai musisi baik dalam negeri, asia dan manca negara, dari yang mulai menapak karir hingga yang sudah sangat terkenal, saya menemukan satu kepuasan dalam melakukan itu. Apa yang membuat saya puas? Saya puas karena saya bisa mengajukan pertanyaan, dan jawaban dari mereka menambah pengetahuan saya. Saya menjadi tahu lebih banyak soal perkembangan musik di luar, perjuangan bagaimana mereka bisa mencapai sukses dan sebagainya. Selalu saja ada hal yang saya tidak tahu sebelumnya, dan saya sampai pada satu kesimpulan: semakin banyak yang saya tahu, semakin banyak pula yang saya tidak tahu. Karenanya semakin banyak wawancara, semakin besar pula keinginan saya untuk tahu lebih banyak lagi. Sebelum melakukan wawancara, saya pun biasanya mempersiapkan diri dengan mengenal calon narasumber saya terlebih dahulu. Biasanya saya memanfaatkan internet untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya, hal-hal penting dalam karir mereka, hingga latar belakang lagu-lagu yang mereka bawakan jika ada. Hasilnya? Saya berhasil menghindari pertanyaan-pertanyaan klise seperti: “sudah berapa album?” , “albumnya sudah dirilis belum?” ,  “lagi sibuk apa?” dan sebagainya. Puji Tuhan, sejauh ini semua musisi yang pernah saya wawancarai menyatakan rasa puas dan senang, karena menurut mereka saya beda dengan kebanyakan wartawan yang kerap kali mengajukan pertanyaan klise yang membosankan. Betapa senangnya mereka ketika mengetahui orang yang bertanya mengenal mereka, jenis musik yang mereka bawakan dan pola permainan mereka. Dan saya pun bisa menggali sisi-sisi teknik maupun seluk beluk lainnya dengan lebih mendalam.

Salomo mengingatkan bahwa agar menjadi bijak, hendaklah kita mau mendengar dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya orang yang bijaksana hendaknya selalu punya bahan pertimbangan yang luas dan tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya menurut pendapatnya sendiri. Masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui, yang dapat menambah pengetahuan kita akan segala sesuatu, dan akhirnya bisa menjadikan kita sebagai orang dengan wawasan pemikiran luas serta bijaksana. Ketika menghadapi suatu persoalan, kita akan mampu melihat dari berbagai sisi dengan lebih tenang. Terkadang kita hanya ingin mendapat jawaban yang cepat, tapi sesungguhnya untuk membuat hidup menjadi lebih kuat, kita membutuhkan lebih banyak lagi hikmat yang bisa kita peroleh dengan banyak mendengar dan mau tetap belajar. Tidak ada orang yang sudah tahu segalanya. Kita masih harus terus belajar selama kita masih mampu untuk itu. Jangan pernah gengsi untuk bertanya kepada orang lain. Kemudian dengarkan lawan bicara dengan baik, dan berilah kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan ide, pola pikir, kebiasaan, pengalaman, nasihat, tips, trik dan lain-lain.

Ada kalanya kita perlu menyampaikan pendapat, ada kalanya kita harus diam dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Di saat kita diam dan mendengar, disana kita menghargai mereka dan memiliki kesempatan untuk menyerap dan memahami hal-hal baru. Memasang gengsi terlalu tinggi atau bersikap sok tahu hanya akan merugikan kita sendiri. Terhadap suara Tuhan pun demikian. Jangan berdoa hanya satu arah, hanya menjadikan doa sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai keinginan dan permintaan ini-itu saja, tapi pakailah doa sebagai saat-saat indah dalam hubungan dengan Tuhan, dimana kita mendengarkan apa kata Tuhan, pesan, nasihat maupun teguran dengan hati yang lapang. “…”Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7). Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan terus berbicara mengingatkan diri kita agar jangan sampai tersesat dan terjatuh, baik lewat hati nurani, nalar ataupun dari pengalaman kita sendiri atau orang lain. Jangan sampai kita lalai,melewatkan banyak kesempatan untuk bertumbuh dan menjadi orang bebal. “Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.” (Amsal 1:32). Miliki roh yang peka agar kita selalu bisa mendapat berbagai masukan dari hal disekeliling kita maupun dari orang lain. Ketika kita berpura-pura tahu segalanya, disitulah kita melewatkan kesempatan untuk ditambahkan.

Belajarlah dengan mendengar lewat hati yang lunak

Mukjizat Kesembuhan Atas Jazzel

Posted: 13 Jan 2009 11:24 AM CST

Ayat bacaan: Matius 18:19-20
======================
“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

mukjizat kesembuhan, anjing kecilBeberapa hari setelah natal menjelang tahun baru kemarin anjing betina kecil kami yang sudah kami anggap seperti anak sendiri, namanya Jazzel, tiba-tiba meraung kesakitan luar biasa ketika saya hendak menggendongnya. Saya kaget, karena tidak biasanya dia seperti itu. Saya menyadari pasti ada yang salah.. dan ketika saya melihat tubuhnya, benarlah demikian. Bagian dadanya membengkak seperti ada tulang yang patah. Saya dan istri pun sempat panik, kemudian menelpon dokter hewan. Namun tampaknya tidak ada dokter yang buka, karena bertepatan dengan hari libur umum. Sementara bentuk dada Jazzel di sebelah kanan terlihat menakutkan karena bengkak. Di tengah rasa cemas, kami memutuskan untuk berdoa bersama. Lalu kami duduk berdua, memegang punggung Jazzel yang masih gemetar kesakitan dan berdoa bersama. Apa yang terjadi? Begitu selesai berdoa, Jazzel langsung berjalan tanpa terlihat sakit, namun bengkaknya masih ada. Lima menit sesudahnya, dia sudah berani melompat turun naik di sofa. Kemudian, hampir sepanjang malam dia habiskan untuk tidur. Dan besoknya, dada Jazzel kembali normal. Ketika digendong Jazzel tidak lagi merasakan apa-apa. Haleluya!

Itu sebuah mukjizat luar biasa yang kembali hadir dalam keluarga kami. (Silahkan baca kesaksian di “Tuhan Peduli Terhadap Segala Hal” dan “The Other Side Of Taki Story” ) Bayangkan, dada yang membengkak, terlihat seperti ada yang patah, raungan Jazzel yang sangat kesakitan ketika dipegang, dalam seketika Tuhan bisa pulihkan. Dan itu terjadi bukan pada manusia, melainkan pada seekor anjing. Tuhan Yesus sungguh ajaib dan luar biasa. Apa yang menjadi dasar doa kami sore itu adalah ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20). Kami memutuskan untuk sepakat, bersatu dalam doa, dalam nama Yesus yang bertahta di dalam hidup dan keluarga kami. Kami menyerahkan permasalahan ke dalam tanganNya dan berdoa, kemudian percaya penuh bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik. Dan hasilnya luar biasa. Yesus luar biasa.

Terkadang ada orang yang ragu apakah Tuhan mau menjawab doa mereka. Apakah masalah mereka cukup layak untuk mendapat uluran tangan Tuhan. Seorang teman pernah berkata “masalahku tidak separah masalah-masalah berat yang dialami sebagian orang, dan Tuhan sudah terlalu sibuk mengurus berbagai masalah berat, pastilah masalah saya tidak lagi sempat diurusNya..” Tidak, tidak demikian. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk! Dia selalu mendengarkan doa kita. “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu” (Yeremia 29:12). Tuhan siap menjawab doa-doa kita dan memberikan mukjizatnya. Apa yang kita perlukan adalah :
- Percaya
“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24)
- Tetap hidup kudus sesuai firman Tuhan
“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”(Yakobus 5:16b)
- Berani melakukan langkah iman, dan melakukannya dalam nama Yesus
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18)
- Meminta sesuatu yang benar-benar berguna, bukan sekedar memuaskan hawa nafsu duniawi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan
“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3)

Kepada Yesus telah diserahkan segala kuasa di sorga dan di bumi (Matius 28:18), maka mintalah dalam Yesus, dan Bapa di surga akan mengabulkannya. Tuhan sanggup melakukan mukjizat dalam hidup kita, anak-anakNya yang selalu taat untuk hidup kudus dan percaya sepenuhnya pada kuasaNya. Jika Tuhan sanggup menyembukan seekor anjing kecil, Dia pasti sanggup melakukan mukjizat atas hidup kita. Seperti apa yang diucapkan Ayub: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2), percayalah, Tuhan pasti selalu memberikan jawaban yang terbaik. He never fails!

Mukjizat terjadi pada orang yang percaya pada Yesus sepenuhnya dan taat melakukan firman

Sang Penebus

Posted: 14 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yohanes 1:29
====================
“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

tuhan tidak adil, yesus sang penebusSeorang teman saya tadi bercerita bahwa ia baru aja membantah dosennya, karena sang dosen dengan lantang berkata bahwa Tuhan itu tidak adil. Sang dosen mengatakan bahwa berbagai bencana yang terjadi di dunia ini adalah untuk menyiksa manusia dan menunjukkan ketidakadilan Tuhan. Dengan tegas dia membantah, dan akibatnya ia mendapat hukuman di “suspend” untuk beberapa hari. Namun untunglah, dekan menganulir hukuman tersebut karena menurut si dekan, ia punya hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Baru saja saya kemarin menulis renungan tentang kitab Yoel, dan apa yang terjadi pada teman saya itu mengingatkan saya akan renungan tersebut. Jika dibaca sepintas, terlihat hukuman yang dijatuhkan Tuhan memang mengerikan. Tapi kita harus melihat hal ini lebih luas, karena hukuman itu bukan sembarangan dijatuhkan apalagi menganggap bahwa itu adalah bentuk tindakan kesewenang-wenangan Tuhan yang mempermainkan manusia bagaikan boneka demi kepuasan pribadi. Kemarin saya sudah menuliskan bagaimana Tuhan memulihkan segala sesuatu dengan seketika begitu kita bertobat. Itu menunjukkan belas kasihNya yang luar biasa. Bahkan dosa semerah kirmizi sekalipun akan menjadi seputih salju, semerah kain kesumba pun akan seputih bulu domba. (Yesaya 1:18). Dan itu akan langsung kita peroleh. Bukan saja diampuni, tapi Allah bahkan tidak lagi mengingat dosa kita. (Yeremia 31:34). Bukti lain bahwa Tuhan adalah penuh kasih dan sangat menyayangi kita? Tuhan ternyata juga pro-aktif. Nabi demi nabi diutus untuk mengingatkan manusia agar kembali berbalik dari jalan-jalan yang sesat. Dan tidak berhenti sampai disitu. Tuhan pun mengutus AnakNya yang tunggal agar kita tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).

Inilah yang diucapkan Yohanes ketika ia memperkenalkan Yesus kepada murid-muridnya. Apa yang tertulis pada Yesaya 53 akhirnya digenapi, dan Yohanes tahu dia tengah berhadapan dengan Anak Domba yang dinubuatkan dalam Yesaya. Yohanes pun tahu bahwa ia adalah orang yang ditugaskan Tuhan sebagai pembuka jalan bagi pelayanan luar biasa Yesus di dunia ini, sebagai tanda betapa Allah mengasihi kita semua. Kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk membayar lunas segala dosa-dosa kita lewat karya penebusan di atas kayu salib, kemudian memulihkan hubungan kita dengan Bapa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukan untuk memanggil orang benar, melainkan untuk orang berdosa. “… Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Penebusan Kristus pun tidak berbicara hanya bagi satu orang, satu suku atau satu bangsa saja, tapi berlaku untuk semua manusia, (1 Timotius 2:6)  untuk dosa seluruh dunia (1  Yohanes 2:2). Demikianlah besarnya kasih Tuhan pada kita semua.

Jika kita menyadari hal diatas dengan benar, tentu kita akan sadar bahwa Tuhan teramat sangat mengasihi kita. Dia sangat peduli dan tidak ingin satu pun dari kita berakhir pada tempat penuh siksaan dengan api belerang yang menyala-nyala. Dia sangat mengerti kelemahan kita, karenanya Tuhan tidak pernah berhenti mengingatkan kita, malah menganugrahkan Kristus untuk menebus dosa-dosa kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan kita denganNya. Sudah sepantasnya kita mensyukuri kasih Tuhan yang begitu besar. Bertobat dan berbaliklah dari jalan-jalan yang salah jika kita menghargai kasihNya, dan tekunlah menjaga diri agar tidak terjerumus terus menerus ke dalam dosa. Menuduh Tuhan tidak adil, seperti halnya dosen teman saya di atas tidak akan keluar dari mulut atau pikiran kita jika kita benar-benar memahami pribadi Tuhan yang sesungguhnya.

Kristus Sang Penebus adalah bukti nyata kasih Allah yang begitu besar bagi manusia

Kematian – Kematian Kecil

Posted: 15 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 141:8
=====================
“Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!”

kematian kecil, kehilangan percaya diri, mental ambruk, berlindung pada TuhanBertemu dengan orang-orang yang meruntuhkan mental kita merupakan hal yang tidak sepenuhnya bisa kita hindari. Hampir setiap hari kita akan bertemu dengan orang-orang, yang, baik lewat sikap dan tingkah lakunya maupun perkataan-perkataan mereka dapat membuat mental atau rasa percaya diri kita jatuh. Di kantor, di sekolah, di kampus, di lingkungan rumah, di kalangan teman, seringkali kita merasakan hal ini. Mungkin mereka tidak bermaksud menjatuhkan, tapi efeknya bisa seperti sebuah pukulan yang mampu membuat kita knock out, secara mental. Seorang teman pernah merasa sakit hati ketika idenya untuk membuat studio desain “dilecehkan” oleh dosennya. “ngapain kamu mikir sampai sejauh itu? mending belajar dulu yang benar deh… nggak pantes..” Perkataan itu keluar cuma sekian detik, namun efeknya masih dirasakan teman saya sampai sekarang. Padahal itu terjadi tahun 2003.

Tanpa kita sadari, tanpa kita inginkan, tanpa bermaksud, terkadang kita menempatkan diri kita pada kematian-kematian kecil. Yang saya maksud dengan kematian-kematian kecil adalah berbagai hal kecil yang bisa membuat kita makin lama makin kehilangan kedamaian dan sukacita yang berasal dari Tuhan, atau kehilangan keyakinan diri dan sebagainya. Ada orang yang lebih suka pada kebohongan yang terasa nikmat ketimbang kebenaran. Ada orang yang menolak kesempatan untuk diberkati, ada juga yang melewatkan kesempatan untuk memaksimalkannya. Ada banyak orang yang cenderung mempercayai pandangan orang lain yang keliru tentang dirinya, ada banyak orang mengalami kepahitan dan sulit bangkit ketika mendapat kritikan atau perkataan menyakitkan dari orang lain. Mungkin anda pun pernah merasa demikian, ketika anda merasa bahwa anda tidak berguna dan tidak mampu apa-apa, akibat perkataan seseorang yang menjatuhkan rasa percaya diri anda. Ironisnya terkadang hal itu malah diperoleh dari rumah, lewat perkataan orang tua ataupun saudara sendiri. “kamu kok bodoh banget sih..tidak seperti kakakmu”, “nyesal punya adik seperti kamu”, “kamu benar-benar bikin malu keluarga kita” dan sebagainya. Ada banyak orang yang saya kenal mengalami kesulitan untuk bangkit karena harga diri dan percaya dirinya sudah sedemikian anjlok sampai titik rendah. Ada yang bahkan sampai menyesali hidup. Ini semua bisa membawa kita pada kematian-kematian kecil yang akan merampas dan menghancurkan kedamaian, kasih dan sukacita yang telah Tuhan berikan pada kita.

Padahal lihatlah apa kata Tuhan mengenai kita. Kita adalah ciptaanNya yang luar biasa. We are His masterpiece. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30). Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Jika kita menyadari demikian, kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Selalulah tujukan mata kepada Allah. Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga.

Hindari kematian-kematian kecil dengan berlindung pada Allah yang memberi kehidupan besar

Perselisihan Itu Biasa (1) : Cepat Mendengar

Posted: 16 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

bertengkar, peselisihan, cepat mendengarPerselisihan/pertengkaran dalam rumah tangga? Itu biasa.. kita semua memiliki kepribadian yang berbeda. Pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan berbeda, pendapat tentang sesuatu hal bisa berbeda, dan seterusnya, sehingga pada saat-saat tertentu bisa saja terjadi “gesekan-gesekan” kecil akibat berbagai perbedaan tersebut. Sayangnya, seringkali gesekan kecil itu bisa berkembang menjadi besar. Bagaikan manusia purbakala yang menggesek-gesekkan kayu sehingga menimbulkan api kecil, namun api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar ketika api kecil itu mulai menyambar benda-benda yang mudah terbakar. Demikian pula dalam rumah tangga, antara suami dan istri, ayah/ibu dengan anak, antar saudara dan sebagainya. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai menyambar kemana-mana sehingga eskalasinya pun menjadi tak terkendali. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari, sudah jauh dari pokok masalah, dan seperti api besar bisa membakar habis rumah bahkan kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.

Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yang akan disusul oleh prinsip kedua dan ketiga besok dan lusa.

Pertama, kita diminta cepat untuk mendengar. Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu wajar, namun kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar. Dengarkan dulu alasan-alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan. Seringkali perselisihan memuncak karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar, sehingga ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Berikan suatu ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik, sehingga kita mampu melihat sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri. Lihatlah bagaimana tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan Maria menurut Yesus adalah “memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar..” (Lukas 8:18).

Dalam mendengar apa kata Tuhan pun demikian. Seperti yang telah saya tulis dalam renungan-renungan kemarin, seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan “daftar permintaan” kita di setiap doa, atau karena kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Dengarlah baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7)

Ada kalanya kita harus berbicara, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik, yang mampu mendengar dengan cepat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang akan merusak diri kita sendiri dan menyakiti orang lain.

Cepatlah mendengar sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan emosi belaka

Perselisihan Itu Biasa (2) : Lambat Berkata-kata

Posted: 17 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

cepat mendengar, lambat berkata-kata, lambat marahAda berapa kata yang sanggup diucapkan manusia secara rata-rata per menitnya? Sebuah penelitian mengatakan bahwa orang rata-rata mampu berbicara sebanyak 150 an kata per menit. Itu rata-rata, karena saya mengenal beberapa teman yang bisa berbicara dengan super cepat. Presenter radio atau televisi pun banyak yang mampu berbicara cepat dengan lafal yang masih jelas ditangkap telinga. Jika talenta ini dipakai untuk hal yang bermanfaat tentu baik, namun bayangkan jika kita terbiasa cepat berkata-kata ketika kita tidak setuju dengan sesuatu, tanpa terlebih dahulu mendengar atau membaca dengan teliti. Apalagi jika yang keluar adalah tuduhan, cacian, hujatan bahkan kutuk. Hal itu akan berbahaya. Mengapa? Karena ada kuasa di balik perkataan yang keluar dari bibir dan lidah kita.

Ketika kemarin kita sudah melihat pentingnya cepat untuk mendengar, sekarang kita lihat korelasinya dengan mengeluarkan perkataan. Cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata. Berhati-hatilah dengan perkataan yang kita ucapkan. Selain alasan mendasar di atas, terlalu banyak omong juga akan membuka kelemahan kita atau malah menunjukkan kebodohan kita dan mempermalukan diri sendiri. Tadi secara tidak sengaja saya mendengar percakapan dua orang yang kebetulan berdiri di sebelah saya. Yang satu berkata: “dari cara ngomongnya saja sudah ketahuan dia itu orang pintar..” Temannya bertanya, kenapa.. dan ia melanjutkan “karena tutur katanya teratur, tidak buru-buru dan berisi.” Seorang dosen saya pun dulu pernah mengatakan sesuatu yang masih saya ingat sampai sekarang. Kira-kira begini katanya: “kita bisa mengukur seseorang dari apa yang mereka ucapkan..” Artinya, mau atau tidak, akan ada orang-orang yang mempelajari siapa diri kita, atau titik lemah kita ketika kita tidak menjaga perkataan kita. Terdidik atau tidak, itu bisa terlihat dari cara dan kesopanan berbicara. Tingkat intelektual pun ternyata sedikit banyak bisa tergambar dari apa yang kita ucapkan. Seringkali orang yang terburu nafsu dan dikuasai emosi semata akan mempermalukan diri mereka sendiri dengan mengumbar kata-kata menyerang yang provokatif tanpa mempelajari sesuatu terlebih dahulu dengan cukup. Protes tak berdasar, menyerang orang lain hanya dengan pendapat pribadinya, selain tidak baik tapi juga bisa membuat orang anti-pati terhadap mereka. Maka tepatlah apa yang tertulis pada Amsal. “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.” (Amsal 18:2), atau ini: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (ay 13).

Yesus sendiri mengajarkan sesuatu yang sangat menarik mengenai perkataan. Yesus berkata: “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34b). Lalu dilanjutkan dengan: “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (ay 35). “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”(ay 36) dan: “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (ay 37).

Perselisihan yang besar bisa dihindarkan dengan “tips” Yakobus. Cepat mendengar, tapi lambat berkata-kata. Jangan terburu-buru mengeluarkan kata-kata sebelum segala sesuatunya jelas betul. Tapi dengarkanlah terlebih dahulu agar kita dapat mengerti. Orang yang sebelum mendengar sudah langsung berbicara sesungguhnya tengah mempermalukan diri mereka sendiri. Bukan orang yang dimarahi yang malu, tapi yang belum apa-apa sudah marah-marah, itulah yang malu. Amsal menuliskan, bahkan orang bodoh sekalipun bisa disangka bijak jika ia berdiam diri. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (Amsal 17:27-28). Yakobus mengatakan, lidah, meskipun kecil, namun dapat memegahkan perkara-perkara besar. Seperti halnya api, meski kecil, tapi dapat membakar hutan yang lebat. (Yakobus 3:5). “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 6). Semua ini menunjukkan begitu pentingnya untuk menjaga perkataan kita. Selain dapat mempermalukan diri kita sendiri, juga dapat membakar habis sebuah hubungan dan menghanguskan seluruh hidup kita. Ketika anda tidak sependapat dengan orang lain, ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan pendapat anda, ambillah sikap tenang. Cepatlah mendengar, lambatlah berkata-kata. Hal itu akan menjauhkan kita dari berbagai sikap tercela dan menunjukkan kebijakan diri kita.

Terlalu cepat berbicara sebelum mendengar baik-baik akan mempermalukan diri kita sendiri

Perselisihan Itu Biasa (3) : Lambat Untuk Marah

Posted: 18 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=========================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

lambat untuk marah, kendalikan amarah, emosiPernah nonton film “Anger Management” ? Film komedi yang dibintangi Jack Nicholson dan Adam Sandler menceritakan tentang seorang pemuda yang belum pernah kehilangan kontrol emosi, hingga ia bertemu dengan seorang doktor/terapis anger management yang sangat aneh. Kita bisa melihat bagaimana tekanan demi tekanan akhirnya bisa meledakkan seseorang yang sangat sabar. Disana juga kita bisa melihat adanya kelompok-kelompok orang yang menjalani terapi kontrol kemarahan di Amerika. Semakin lama dunia memang semakin menjadi tempat yang sulit untuk didiami, begitu banyak hal yang bisa mendatangkan emosi kita hadapi setiap hari. Jalan macet, cuaca yang tidak karuan, tetangga yang sulit, teman sekerja, bos, dosen, guru, dan lain-lain. Hidup yang kita jalani tidak akan pernah selalu mulus, dan setiap saat kita bisa berhadapan dengan situasi, kondisi atau orang-orang yang bisa mendatangkan emosi.

Seorang ahli psikologi bernama Charles Spielberger,PhD menerangkan apa yang dimaksud dengan “kemarahan” atau anger. Kemarahan menurut Charles adalah sebagai berikut: “Anger is an emotional state that varies in intensity from mild irritation to intense fury and rage” Kemarahan adalah sebuah tingkat emosional dengan intensitas tertentu antara hanya merasa terganggu hingga tingkat mengamuk. Seperti jenis perasaan lainnya, kemarahan juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Detak jantung menjadi cepat, tekanan darah meninggi, beberapa hormon pun mengalami peningkatan level. Tidak heran faktor kemarahan yang tidak terkendali bisa merugikan orang lain, menimbulkan kekerasan yang tidak hanya merugikan orang lain tapi juga diri sendiri. Selain itu kemarahan tak terkontrol juga bisa menimbulkan berbagai penyakit pada kita sendiri.

Bolehkah kita marah? Marah sebenarnya adalah bagian jiwa manusia, sehingga rasanya tidak akan ada orang yang sama sekali tidak pernah marah. Wajar, jika pada kondisi tertentu orang bisa marah. Dan terkadang dalam situasi tertentu, kita memang perlu marah. Alkitab juga tidak melarang untuk marah. Yang tidak boleh adalah marah secara berlebihan, berkepanjangan dan tidak terkendali, atau menjadikan amarah sebagai sebuah kebiasaan yang akan segera muncul begitu kita berada pada kondisi tidak nyaman/tidak sesuai dengan keinginan kita.Hati-hati ketika marah, karena pada saat itu dosa sedang mengintip peluang untuk masuk.

Daud mengajarkan bagaimana kita sebaiknya bersikap ketika sedang marah. “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5). Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Maka berhati-hatilah ketika kita sedang marah. Lalu Paulus mengajarkan hal yang sama. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27). Jangan sampai marah kita berlarut-larut terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis. Yakobus mengingatkan agar kita “lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19). Untuk hal ini, Yakobus punya alasan yang menarik. Perhatikan ayat berikutnya: “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Janganlah terburu-buru untuk marah, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita bahkan orang lain, dan merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Yakobus 1:19 memberikan sebuah tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri. Adalah sangat sulit sebenarnya untuk marah tanpa berbuat dosa, maka adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah). Berselisih itu wajar, bertengkar itu biasa, tapi pakailah tips ini agar akibatnya jangan sampai menimbulkan dosa dan membuka pintu masuk bagi iblis untuk menghancurkan kita.

Control your anger before your anger controls you

Turning Point

Posted: 19 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ibrani 12:26-28
=======================
“Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga. Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”

krisis global, phk, ahli waris kerajaan AllahDunia sedang mengalami krisis global. Ada begitu banyak orang stress saat ini, tidak sedikit pula yang mulai putus asa. Seorang penyanyi rohani membagikan pemandangan yang disaksikannya belum lama ini. Ia bercerita, ketika ia masuk ke sebuah food court di Jakarta, dia melihat seseorang membentur-benturkan kepalanya ke atas meja. Suaminya sendiri baru saja terkena PHK. Krisis membuat perusahaan tempat suaminya bekerja terpaksa menutup cabang-cabangnya termasuk caband di Indonesia, dan akibatnya suaminya pun kehilangan pekerjaan dengan seketika. Beberapa teman saya pun mengalami hal yang sama dalam keluarganya. Seorang saudara dari teman saya sudah bekerja di perusahaan asing di Jakarta selama 15 tahun, karir berjalan dengan baik, dan pada suatu pagi ketika ia masuk ke ruang kantornya, dia melihat listrik sudah dipadamkan, dan ada sebuah kotak besar terletak di atas mejanya. Ternyata pagi itu dia diberhentikan. Berbagai versi muncul akhir-akhir ini, tapi semuanya menuju pada satu hal yang sama: kehilangan pekerjaan akibat krisis global yang melanda dunia. Situasi tidak menentu, bahkan para pengamat ekonomi pun banyak yang kebingungan menyikapi situasi yang berkembang. Hampir tidak ada lagi penjelasan yang masuk akal mengenai krisis global ini. Dunia mungkin mulai kehilangan harapan, orang mungkin mulai atau sudah putus asa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita harus ikut putus asa? Nanti dulu.

Ayat bacaan hari ini menggambarkan bahwa dunia boleh goncang, bahkan langit sekalipun. Dunia yang kita pijak, langit yang memayungi kita, suatu ketika bisa tergoncang. Hal-hal yang sifatnya tidak kekal bisa tergoncang. Ekonomi, keuangan, karir, pangkat, status, pekerjaan, jabatan dan sebagainya, semua tidaklah kekal dan suatu saat akan tergoncang. Saat ini pun semua itu tengah tergoncang bagi banyak orang. Namun lihatlah bahwa kita diingatkan untuk sadar, bahwa yang tinggal hanyalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa tergoncangkan, yaitu Kerajaan Allah.

Roma 8:14 mengatakan: “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Anak Allah berarti menjadi ahli waris Kerajaan Surga. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (ay 17). Lihatlah ada janji Tuhan yang berlaku pada semua anak-anakNya yang mengasihi Dia. Yang dijanjikan Tuhan itu luar biasa. Dia menjanjikan kita menjadi ahli waris dari sesuatu yang tidak akan pernah, dan bisa, tergoncangkan. Dalam menghadapi masa yang sukar di hari-hari sekarang ini, janji Tuhan inilah yang harus kita pegang. Ingat bahwa ahli waris Kerajaan hanyalah dijanjikan kepada siapapun yang mengasihi Dia seperti yang tertulis pada Yakobus 2:5.

Mengasihi Tuhan berbicara mengenai bagaimana kita hidup kudus, hidup berkenan di hadapan Tuhan. Mengasihi Tuhan berbicara mengenai percaya sepenuhnya dan menyerahkan hidup secara total ke dalam tangan Tuhan. Mengasihi Tuhan berbicara mengenai mengenal pribadi Tuhan dan beriman kepada PutraNya yang tunggal, Yesus Kristus. Mengasihi Tuhan berbicara mengenai waktu-waktu kita untuk datang pada Tuhan dengan pujian dan penyembahan, mempersembahkan korban syukur yang terbaik dalam doa-doa, saat teduh maupun persekutuan. Mengasihi Tuhan berbicara mengenai sebuah hidup yang kita jalani sepenuhnya bersama Tuhan, baik dalam pekerjaan, pelayanan maupun keluarga dan lingkungan. Lihatlah bahwa dalam goncangan luar biasa yang melanda dunia saat ini, ada sebuah janji Tuhan untuk meluputkan kita dari itu semua. Ketika kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, ketika kita berada di dalamnya, kita pun tidak akan tergoncang. Haleluya!

Inilah sebuah momen “turning point” bagi kita. Pada hari-hari ini, kita tidak akan bisa lagi bertumpu pada hal-hal yang sifatnya sementara. Kita tidak bisa lagi bergantung pada uang, kita tidak lagi bisa berpegang pada harta kekayaan, kita tidak lagi bisa mengandalkan kekuatan manusia. Ini saatnya untuk melakukan perubahan, sebuah titik balik untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan, Raja dari Kerajaan yang tidak akan bisa tergoncangkan. Dia menjanjikan keselamatan ditengah badai kesulitan yang menerpa dunia saat ini. Ini waktunya bagi kita untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut, dan terimalah status anda sebagai ahli waris dari sebuah Kerajaan yang tidak akan pernah tergoncangkan.

Jadilah ahli waris dari Kerajaan Allah yang kokoh dan kekal selama-lamanya

Aman Bersama Tuhan

Posted: 20 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 121:4
=========================
“Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”

tuhan tidak terlelap, tuhan tidak tertidur, tuhan tidak lengahKetika kita ada dalam tekanan masalah, apakah itu berarti Tuhan tengah terlelap dan lengah menjaga diri kita? Dimanakah Tuhan ketika beban itu begitu berat menekan kita? Ini pertanyaan yang mungkin sering timbul dalam benak kita ketika sedang mengalami kesulitan-kesulitan hidup. Ada saat dimana kita merasa bahwa kita sendirian, ada saat ketika di tengah kesendirian itu kita mempertanyakan posisi Tuhan di tengah pergumulan kita. Pertanyaan ini tidak saja timbul pada kita, namun beberapa tokoh Alkitab pun pernah mempertanyakan hal yang sama. Ayub pernah mengalami kepahitan terhadap Tuhan. Lihat apa yang pernah ia katakan: “Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.” (Ayub 22:23). Atau lihat jeritan Daud ketika ia berada dalam pergumulan. “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1), “…janganlah berdiam diri terhadap aku…”(28:1), “Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!” (54:4), “Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku, janganlah bersembunyi terhadap permohonanku!” (55:2). Dalam hari-hari yang sulit ditimpa badai krisis global yang tengah melanda dunia, ada banyak orang mulai kehilangan arah dan goyah imannya. Apakah benar Allah tidak sanggup mengangkat anak-anakNya keluar dari kesulitan? Tuhan sanggup. Tidak ada hal yang mustahil bagi Dia, tidak ada hal yang mustahil yang bisa Dia lakukan bagi orang percaya. Sesungguhnya Tuhan selalu perduli, Dia tidak pernah berubah. “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel”.

Tuhan tetap ada memperhatikan kita. Dia rindu untuk terus memberkati kita, bahkan menjanjikan kita posisi sebagai ahli waris KerajaanNya seperti apa yang saya tulis pada renungan kemarin. Semua itu Dia janjikan pada setiap anak-anakNya yang mengasihi Dia. Ketika hari-hari ini kita sulit memakai logika dan tidak lagi cukup untuk mengandalkan kekuatan kita sendiri atau orang lain, ini saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidaklah mampu berbuat apa-apa. Di sinilah kita harus menyadari bahwa kita harus mengandalkan kekuatan Tuhan, Raja dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Kita harus senantiasa berseru kepada Tuhan, dan lebih dalam lagi, kita harus senantiasa membangun sebuah hubungan yang intim dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah lengah dan tidak siap untuk menurunkan mukjizatNya dan segera melepaskan anda dari beban masalah. Yang Dia perlukan hanyalah iman anda. Iman yang teguh, tidak goyah dalam kondisi apapun, dan tetap percaya dengan pengharapan penuh akan kuasa Tuhan.

Apa yang terjadi pada saat Yesus ada di dalam perahu bersama murid-muridNya ditengah badai dalam Matius 8:23-27? Disana dikatakan Yesus tengah tidur di buritan, dan murid-muridNya pun panik. Apakah itu berarti bahwa Tuhan tertidur dan lengah? Sama sekali tidak. Yesus tidak berkata, “maaf, Saya ketiduran..” tapi Yesus malah menegur murid-muridNya. “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” (ay 26). Perhatikan bahwa bencana seperti apapun bukanlah menjadi masalah sulit bagi Tuhan. Tuhan menantikan reaksi dari kita untuk membangun sebuah hubungan dan komunikasi yang baik dengan Dia.

Ketika kita hanya mengandalkan kekuatan diri kita dan menjauh dari Tuhan, maka kita akan terkutuk. (Yeremia 17:5). Di saat seperti inilah kita harus mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan. Kita harus mampu menyadari bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan tanpa henti. Janji-janji Tuhan tidak akan ada yang sia-sia dan semuanya pasti digenapi. Imanilah hal itu dengan sungguh-sungguh, dan teruslah dekat padaNya dengan penuh rasa percaya. Dalam Mazmur dikatakan: “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23), “Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.” (63:7-9), “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (37:23). Ini semua adalah janji Tuhan yang berlaku bagi siapapun yang mengasihi Dia dengan iman yang teguh. Dalam Mazmur selanjutnya dikatakan bahwa Tuhan akan selalu ada bagi kita semua yang setia dan berharap padaNya. (31:24-25). Masalah seperti apapun boleh datang, namun percayalah Tuhan sanggup melepaskan anda dari jeratan badai seganas apapun. Haleluya.

Tuhan tidak pernah lengah menjaga anak-anakNya yang selalu mengasihi Dia dengan setia dan dengan iman yang teguh

Bersukacitalah!

Posted: 21 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Nehemia 8:10b
======================
“Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

bersukacita, jangan bersusah hati, beban masalah, perampas sukacitaAdakah diantara anda yang tengah bersusah hati hari ini? Ada banyak tekanan hidup ditengah terpaan krisis global ini yang siap merampas sukacita dari diri kita. Tidak heran ada banyak orang stres saat ini, ada yang kehilangan arah, bahkan ada yang mulai putus asa. Ada pula yang bersedih karena kehilangan sesuatu yang berharga, ada yang susah hatinya karena tidak melihat harapan untuk masa depannya, ada yang hatinya resah karena punya pergumulan, bahkan ada juga yang hatinya bisa tiba-tiba susah tanpa sebab. Terkadang berbagai kepahitan yang melanda hidup bisa terakumulasi mendera hati kita, dan menjadikan kita sebagai pribadi yang murung. Saat ini di kampus saya melihat sebuah perubahan nyata di antara murid-murid saya. Selama beberapa bulan terakhir saya mengajari mereka, saya terus menerus menyuntikkan semangat dan menaikkan mental serta percaya diri mereka. Tidak hanya mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan teknik desain, tapi saya juga kerap bertindak sebagai motivator. Karena saya rasa, apapun yang mereka pelajari akan berakhir sia-sia tanpa dibarengi mental pejuang dan pemenang. Setelah bulan-bulan awal, terjadi peningkatan drastis dari performa mereka di kelas. Mereka jauh kelihatan lebih ceria dan bersemangat. Bahkan tugas-tugas yang mereka kerjakan pun jauh lebih baik, karena semuanya dilakukan dengan penuh semangat. Kelas menjadi jauh lebih hidup, penuh gelak tawa dan wajah-wajah cerah. Perbedaannya nyata dan signifikan. Lihatlah perbedaan nyata dari hidup yang didasari kesedihan atau kesusahan hati dengan hidup dalam sebuah sukacita.

Tidak heran Tuhan berulang kali mengingatkan kita untuk senantiasa bersukacita. Bersukacita mungkin mudah ketika kita sedang tanpa masalah dan dalam keadaan berlimpah. Tapi mampukah kita tetap bersukacita ketika tengah menghadapi masalah atau ketidakpastian? Tuhan mau kita mampu, karena disanalah akan tergambar kepercayaan penuh kita pada kuasa Tuhan. Ayat hari ini berbicara tegas dan jelas tentang hal ini. “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:10b). “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.”(Yesaya 59:1). Jika kita percaya sepenuhnya dengan menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tanganNya, kita pun akan berada dalam pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Karenanya, kita boleh terus bersukacita, dan dalam sukacita kita karena Tuhan itu pula terletak perlindungan atas kita. Tuhan Yesus pun berulang kali mengingatkan kita agar jangan takut. Dia telah berjanji untuk selalu menyertai kita sampai akhir zaman. (Matius 28:20). Daud menyadari betul bahwa jika Tuhan ada bersamanya, maka dia tidak perlu takut pada siapapun. “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1).

Sukacita adalah salah satu buah Roh. (Galatia 5:22). Artinya, jika kita hidup dengan bimbingan Roh Kudus yang diam dalam diri kita, maka sukacita sudah seharusnya pula menjadi bagian dari hidup kita. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Berbagai kesulitan yang mungkin bagi logika kita mustahil untuk dilepaskan hanyalah sebuah lahan subur bagi Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Kelemahan kita merupakan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan betapa ajaib perbuatanNya. Jadi jangan patah semangat, putus asa dan kehilangan harapan, dalam keadaan apapun. Percayakan segalanya pada Tuhan, dan bersukacitalah, maka Tuhan akan melepaskan kita. “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4).

Malam ini, datanglah kepadaNya, bukan untuk mengais harapan kosong, bukan untuk sekedar mencoba, tapi sandarkan seluruh hidup anda padaNya dengan sukacita, seperti halnya Daud yang berkata: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2). Mengapa? Ini jawabannya: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (ay 5). Percayakan hidup anda sepenuhnya pada Tuhan, dan nikmatilah sukacita sesungguhnya ditengah kesulitan. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4) Tuhan mengasihi anda semua.

Rejoice in the Lord for the Lord is Good!

Tuhan Sangat Mengenal Kita

Posted: 22 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 139:1-3
=======================
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.”

tuhan mengenal kita, tidak ada orang mengerti, tidak ada yang peduliPernahkah anda merasakan bahwa tidak ada satupun orang yang mengerti? Saya pernah mengalaminya, seorang teman pun baru-baru ini merasakan hal yang sama. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Teman-teman tidak mengikuti secara serius apa yang anda rasakan. Pendeknya, tidak ada orang yang mau mengerti, tidak ada yang peduli apakah anda sedang bergembira atau bersedih. Nobody understands. Nobody wants to understand. Nobody cares. “Kenapa semuanya menyakitkan..?” demikian kata teman saya.

Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Daud menyadari betul hal itu. Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, bisa kah kita berkata bahwa Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? “..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”? (Yesaya 29:16). Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu. Dia tidak pernah mengecewakan. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan peduli.

Tuhan tidak pernah mengecewakan, Dia sangat mengenal kita

Menuntut Berlebihan

Posted: 23 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Markus 6:25
====================
“Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!”

menuntut terlalu banyak, merengek, menekan orang tuaSaya teringat akan berita tentang seorang ibu yang ditangkap petugas keamanan di sebuah Mal di Jakarta karena mencuri. Si Ibu mencuri beberapa pasang pakaian anak-anak yang ia sembunyikan di balik pakaiannya. Sambil menangis sang ibu menjelaskan alasannya mencuri. Dia berkata bahwa dia tidak tahan mendengar anaknya setiap hari menangis minta baju lebaran, sedangkan dia sama sekali tidak mampu untuk membelinya. Kasus ini rasanya selalu terdengar berulang-ulang menjelang perayaan hari besar. Dalam kasus lain yang lebih fatal, saya pernah membaca seorang ayah tega membunuh majikannya karena anaknya ingin punya motor. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya. Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan ini itu. Minta handphone karena semua teman-teman sudah punya, atau malah minta yang model paling bagus karena takut diejek teman ketinggalan jaman. Minta mobil, atau motor, minta dibelikan game, dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya?

Ayat bacaan hari ini menggambarkan sebuah kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes, sehingga Herodes menyatakan akan sanggup memberi apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Maka ia pun meminta kepala Yohanes di atas sebuah talam. Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun mengorbankan Yohanes.

Teman-teman RHO-ers yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menjerumuskan mereka ke dalam dosa. Apakah itu korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:9-10).

Para remaja yang masih hidup dengan orang tuanya harus belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan atau dipermalukan. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul demi menutup rasa malu. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan menjerumuskan siapapun ke dalam dosa.

Membuat orang yang kita sayangi terdesak akibat permintaan kita yang berlebihan sama artinya dengan menghancurkan mereka

Sisi Lain Penderitaan

Posted: 24 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
“Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.”

sisi lain penderitaan, dibentuk, belajar mengandalkan Tuhan, bergantung pada TuhanRasanya tidak ada orang yang mau hidup menderita. Tapi mau tidak mau, ada saat-saat dimana kita harus melalui jalan penderitaan itu. Apa yang harus kita lakukan di saat seperti itu? Haruskah kita mengasihani diri kita terus menerus secara berlebihan? Haruskah kita menyesali hidup atau bahkan menyalahkan Tuhan? Ketahuilah hal seperti itu selain tidak membawa manfaat apa-apa, justru akan terus menjerumuskan kita ke dalam jurang yang lebih dalam lagi. Penderitaan terkadang bagus buat pertumbuhan diri kita menuju proses pendewasaan. Penderitaan bisa membawa kita menuju suatu kedalaman tersendiri dalam pengenalan akan diri kita sendiri maupun dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Saya pernah mengalami masa-masa dimana hidup saya benar-benar jungkir balik. Dari punya penghasilan tetap yang lebih dari cukup, dalam sekedip mata semuanya hilang. Hidup menjadi sangat sulit dan tidak jarang saya terbangun tengah malam dan menangis. Tapi yang terjadi kemudian, saya menyadari bahwa saya tengah dibentuk. Ini adalah proses yang harus saya lewati untuk bisa menjadi dewasa, bukan dari segi umur tapi dari segi iman, ketaatan dan pertumbuhan kerohanian saya secara menyeluruh. Di tengah penderitaan itulah saya belajar untuk tidak putus asa, tidak menyerah. Di saat itulah saya belajar untuk percaya sepenuhnya pada Tuhan. Pada titik tersebut, saya menyadari bahwa mengandalkan kekuatan sendiri hanya akan berakhir sia-sia. Saya memutuskan untuk mulai menyerahkan hidup sepenuhnya pada Tuhan, dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah yang saya lakukan. Hari ini saya bersyukur atas segala penderitaan yang harus saya lalui saat itu selama beberapa tahun, karena tanpa itu, saya tidak akan pernah bertumbuh dan masih menjadi orang yang hidup dalam kesombongan dan berbagai godaan daging.

Ayub berkata bahwa penderitaan akan membuat kita mampu melihat Tuhan lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5). Yesus sendiri digambarkan sebagai sosok yang penuh penderitaan dan kesengsaraan dalam nubuatan Yesaya. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.” (Yesaya 53:3). Yesus, Anak allah, mengosongkan diriNya, datang ke dunia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7) dan belajar menjadi taat melalui penderitaan yang Dia alami (Ibrani 5:8). Lewat semua yang dialami Kristus itulah Dia membayar lunas segala dosa kita, menebus kita semua agar bisa memperoleh hidup yang kekal dengan hubungan yang dipulihkan dengan Bapa. Ada hal-hal luar biasa yang justru bisa kita peroleh lewat penderitaan yang kita pikul.

Pengkotbah menulis: “Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.” Ketika anda tengah mengalami penderitaan, jangan patah semangat dan menjauh dari Tuhan, tapi bersyukurlah senantiasa karena ada begitu banyak hal yang dapat membentuk karakter anda menjadi jauh lebih baik lagi. Berada dalam zona nyaman terus menerus akan membuat kita lengah dan terbuai dengan segala kenyamanan. Justru ketika kita menghadapi masalah dan mengalami beratnya pergumulan kita bisa melatih diri untuk lebih dewasa, lebih bijak bahkan bisa belajar untuk mulai mengandalkan Tuhan. Tidak mudah memang, dan mungkin sangat menyakitkan ketika kita sedang mengalami penderitaan dan kesedihan, mungkin kita belum melihat titik terang, namun percayalah, pada saatnya Tuhan sendiri yang akan melepaskan kita. Pakailah saat-saat bersedih dan menderita sebagai saat yang tepat untuk bertumbuh agar bisa semakin menyerupai Kristus.

Kita bisa belajar lebih banyak lewat penderitaan daripada lewat kenyamanan

Yang Penting Hati?

Posted: 25 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 12:35
=====================
“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.”

hati yang baik, yang penting hatiDi sebuah kantor tempat salah seorang teman saya bekerja ada banyak anak-anak Tuhan bahkan pelayan Tuhan. Teman saya bercerita bahwa kelakuan mereka dalam pekerjaan tidaklah mencerminkan pribadi anak Tuhan sama sekali. Mereka memang berdoa setiap pagi dan setiap kali sebelum mengawali rapat, namun apa yang mereka tunjukkan dalam pekerjaannya tidaklah sejalan. Mereka kerap kali melakukan hal-hal yang dilakukan orang-orang dunia. Korupsi, suap menyuap, membeda-bedakan orang dan sebagainya. “Yang penting itu hati kita tetap tertuju pada Tuhan…” itu kata salah satu teman kantornya sambil tertawa. Benarkah kita boleh berbuat apapun asal hati kita tertuju pada Tuhan? Tanpa kita sadari, kita pun mungkin seringkali memakai alasan ini sebagai jurus pamungkas, sebagai pembenaran dari apa yang kita lakukan. 1 Samuel 16:7 memang berkata “…manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Ada orang-orang yang mungkin terlalu “mengimani” ayat ini sehingga mereka beranggapan bahwa yang penting hati mereka, bukan cara hidup dan cara mereka bekerja yang penting. Tapi ayat hari ini menunjukkan sesuatu yang menarik sehubungan dengan hal tersebut. “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:35).

Orang baik akan mengeluarkan segala sesuatu yang baik karena ia penuh kebaikan, dan sebaliknya. Dalam bahasa Inggrisnya terlihat lebih jelas. “The good man from his inner good treasure flings forth good things, and the evil man out of his inner evil storehouse flings forth evil things.” Jika hati kita memang benar tertuju pada Tuhan, tentu kita akan hidup sesuai firmanNya, dan dengan sendirinya yang tercermin dari cara hidup kita tentu hal-hal yang baik pula. Bagaimana mungkin hati kita mengingat Tuhan sedangkan perbuatan kita adalah hal-hal yang menyakiti hatiNya? Salomo berkata hati adalah cermin dari manusia. “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19). Hal ini menunjukkan bahwa jika kita tidak hidup sesuai firman Tuhan, artinya sebenarnya hati kita pun tidak tertuju pada Tuhan. Yang tertuju sebenarnya hanyalah sebatas “lips service” saja. Dalam Yesaya tertulis: “…Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku..” (Yesaya 29:13). Berhati-hatilah dengan situasi seperti ini, karena itu sama artinya dengan memberi kesempatan bagi iblis untuk menghancurkan diri kita lewat segala pembenaran yang kita perbuat atas dosa.

Jika seorang suami selingkuh dan berkata pada istrinya bahwa meski ia kencan dengan wanita lain, namun hatinya hanya tertuju pada sang istri semata, bisakah sang istri menerima alasan ini? Saya yakin tidak. Tidak akan ada istri yang mau diperlakukan seperti itu. Demikian pula halnya dengan hubungan kita dengan Tuhan. “Tuhan, saya korupsi, saya harus menyuap, saya harus memperlakukan karyawan saya berbeda-beda, but don’t worry….hati saya hanya tertuju padaMu semata..” Bagaimana mungkin kita bisa berkata demikian kepada Tuhan? Kenyataannya hati yang baik akan mengeluarkan perbendaharaan-perbendaharaan yang baik pula yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika hal itu belum terjadi pada diri kita, berarti hati kita masih belum fokus pada Tuhan. Itu berarti masih banyak yang harus dibenahi dari diri kita, itu berarti kita harus bertobat dan berubah. Hendaklah kita berhenti untuk mencari pembenaran atas segala dosa yang terus kita perbuat. Perbaikilah hati dengan mengisinya dengan firman Tuhan, sehingga hati kita akan menjadi baik dan mengeluarkan hal-hal yang baik pula, seturut dengan firman Tuhan.

Jangan berlindung di balik kata “Yang penting hati..”, karena hidup yang baik hanyalah berasal dari hati yang baik pula

Dengarlah Suara Tuhan

Posted: 26 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ulangan 28:6
=====================
“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.”

mendengar suara TuhanHari raya Imlek adalah sebuah perayaan yang dahulu kala dilakukan oleh para petani di Cina untuk menyambut datangnya musim semi yang didasarkan oleh penanggalan bulan (lunar). Biasanya keluarga berkumpul untuk menyambut datangnya tahun baru. Adalah penting bagi para petani untuk melakukan ritual keagamaan dalam menyambut masuknya tahun baru sehingga hasil panen mereka bisa berhasil kelak di tahun yang baru. Mereka memanjatkan rasa syukur dan doa agar tahun depan bisa mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Ada pula kebiasaan yang masih berlanjut hingga hari ini seperti membagi-bagikan “ang pau” kepada anak-anak atau yang belum menikah, yang asalnya merupakan ungkapan rasa syukur dan membagi berkat kepada anak-anak atau yang belum menikah.

Bagi kita umat Kristiani, Tuhan sejak jauh hari telah memberikan janjiNya untuk memberkati kehidupan kita seutuhnya tanpa kekurangan. Mari kita baca Ulangan 28:1-14. “Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:3-8). Ini janji Tuhan yang luar biasa pada kita semua. Sayangnya ayat-ayat indah ini seringkali dikutip secara sepihak, sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang tertulis di atas, kita pun dengan mudah menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan ingkar janji. Padahal untuk menerima berkat-berkat yang dijanjikan itu, ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Demikian firman Tuhan: “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu”(ay 2). Dan kemudian ditegaskan kembali pada penutup perikop ini. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ay 13-14). Kita diingatkan untuk selalu mendengarkan suara/perintah/firman Tuhan, dan harus senantiasa berjalan lurus sesuai firmanNya, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan dengan mengikuti allah lain dan beribadah padanya.

Adat istiadat adalah warisan budaya yang memang baik untuk dilestarikan, tapi ingatlah bahwa jangan sampai adat istiadat itu malah lebih penting dari perintah Allah. Yesus sudah mengingatkan demikian: “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Markus 7:6-9). Ketika hal ini terjadi, bukan berkat yang kita terima, melainkan kebalikannya, yang tertulis dalam perikop lanjutan dalam Ulangan setelah berkat, yaitu kutuk. (Ulangan 28:15-46).

Adalah penting bagi kita untuk terus taat pada perintah Tuhan, menjaga diri kita untuk tetap berjalan lurus sesuai jalan yang berkenan di hadapan Tuhan, sehingga berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan tidak terhalang untuk sampai pada kita. Tuhan tidak menjanjikan segala sesuatu yang sia-sia dan tidak akan pernah ingkar janji. Teruslah berjalan bersama Tuhan, yang akan selalu memberkati anda di kota dan di ladang, memberkati anda memasuki tahun baru hingga tahun berikutnya. Have a prosperous Lunar New Year.


Tuhan mendatangkan berkat bagi yang mendengar suaraNya, sebaliknya mendatangkan kutuk bagi yang melanggar hukumNya dan menyembah ilah lain

Tumpukan Batu Dosa

Posted: 27 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mikha 7:19
==================
“Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”

tumpukan batu dosa, jauh ke dalam tubir laut, Tuhan mengampuniSudah seminggu ini saya melihat setumpuk batu berukuran besar yang dipakai untuk membuat bangunan diletakkan menggunung di seberang rumah saya. Ternyata ada warga yang hendak membangun rumah, hanya saja jalan menuju rumahnya curam turun ke bawah dan tidak bisa dilewati mobil. Untuk mencapai rumahnya, orang harus meniti setapak jalan dipinggir sungai terlebih dahulu. Batu yang menggunung itu ternyata harus diangkut manual satu per satu ke bawah menuju rumahnya. Bayangkan jarak jauh, jalan menurun yang curam, meniti sungai harus dilewati oleh tukang pengangkut batu. Dan yang membuat saya kaget, pengangkut batunya hanya terdiri dari dua orang, dan keduanya sudah berusia lanjut. Malam ini ketika saya berdiri di teras, saya diingatkan akan dosa-dosa kita yang seringkali menumpuk seperti batu-batu besar tersebut.

Apa yang saya dengar dalam hati saya memang ironis. Banyaknya dosa kita memang bisa menggunung seperti batu-batu itu. Batu yang berukuran besar dengan banyak sisi yang tajam. Banyak orang yang lebih rela untuk mengangkat batu-batu berat tersebut dalam perjalanan hidupnya. Sudah tahu dosa, masih juga terus dilakukan. Dan seringkali dosa itu hanya terasa nikmat sesaat, namun pada akhirnya merugikan kesehatan atau diri mereka sendiri, bahkan mengakibatkan kematian. Mabuk-mabukan, obat bius, dan sebagainya, selain harganya mahal, itu juga akan menghancurkan hidup dan kesehatan. Itu dosa, namun banyak yang lebih memilih untuk meniti hidupnya dengan bersusah-susah membawa beban-beban dosa yang sungguh berat dan banyak tersebut ketimbang bertobat, menerima hidup baru, dipulihkan dan hidup dengan damai, kasih yang pasti jauh lebih “ringan” dan membawa kita menuju keselamatan.

Mikha mengingatkan kita akan kebaikan dan kasih Tuhan yang luar biasa. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mikha 7:18-19). Begitulah kasih Tuhan. Dosa-dosa yang membuat kita seharusnya berakhir dalam kematian kekal penuh siksaan semua dibayar lunas oleh Kristus sendiri. Kristus datang ke dunia untuk melakukan karya penebusan sebagai anugerah Tuhan, karena Tuhan begitu mengasihi kita, manusia yang terus berdosa ini. Ketika kita sudah diselamatkan, tidakkah keterlaluan jika kita malah memilih untuk terus menimbun dosa-dosa besar an mengangkutnya dari masa ke masa dalam hidup kita? Kasih setia Tuhan terus tercurah, Dia menyayangi kita, dan siap untuk melemparkan dosa-dosa kita yang besar itu jauh ke dalam tubir laut. Jika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan, seharusnya kita pun segera bertobat. Dan pertobatan kita akan berbuah pengampunan. Tidak hanya diampuni, tapi Tuhan juga berjanji untuk tidak lagi mengingat dosa kita. “..sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:34). Dalam kesempatan lain, Daud pun menyadari hal itu. Mari kita lihat kutipan dari Mazmur 103. “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103: 8-13). That’s our God, and He loves us so much, so much that He never wants us to end up in eternal death.

Sudah saatnya bagi kita untuk meninggalkan batu-batu besar yang penuh sisi-sisi tajam. Bertobatlah, agar Tuhan segera melemparkan batu-batu itu jauh ke dalam tubir laut, kemudian tidak lagi mengingat dosa masa lalu kita. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, dan Tuhan rindu untuk segera melemparkan semua itu sejauh-jauhnya. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah sahabat dari orang berdosa (Lukas 7:34). Dia datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Itu luar biasa. Tuhan siap kapan saja untuk membuang tumpukan batu dosa kita sejauh mungkin dengan cepat dan tidak lagi mengingatnya. Semua tergantung diri kita.

Tidak sulit bagi Tuhan untuk mengangkut tumpukan batu dosa kita dan membuangnya jauh-jauh, yang sulit adalah kesediaan kita untuk berbalik padaNya

Apa Yang Paling Berharga?

Posted: 28 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 13:46
===================
“Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

apa yang paling berharga, harta karun, mutiara yang indah, kerajaan surgaSeberapa jauh kita sanggup mengorbankan milik kita untuk mendapatkan sesuatu yang sangat berharga? Ada banyak orang tua yang sadar betul akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka siap mengorbankan harta milik mereka, menjual simpanannya, menjual tanah, menjual ladang mereka agar sanggup menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Biaya pendidikan yang semakin tinggi membuat banyak orang tua tidak lagi sanggup mengandalkan pendapatan hasil bekerjanya setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Maka mereka pun rela melepas harta bendanya, yang paling berharga sekalipun untuk itu. Suatu kali ada teman saya yang menjual koleksi kaset dan cd kesayangannya agar dapat membeli hadiah ulang tahun kekasihnya. Orang biasanya mampu mengorbankan miliknya yang berharga demi mendapatkan sesuatu yang lebih penting bagi kehidupannya, bagi masa depannya.

Ketika hal-hal yang jelas “kelihatan”, seperti pentingnya pendidikan atau menjaga hubungan seperti dua contoh diatas bisa membuat kita sadar betul untuk melakukan pengorbanan akan barang-barang berharga kita, tidak demikian halnya untuk hal-hal yang “tidak kelihatan”. Pentingkah sebuah kesempatan untuk turut masuk dalam Kerajaan Surga? Tentu hal itu sangat penting, karena saya yakin tidak ada orang yang dengan sadar lebih memilih untuk disiksa kekal di neraka. Namun ada berapa banyak orang yang mau mengorbankan segala kenikmatan dunia yang bergelimang dosa untuk memperoleh kesempatan masuk dalam Kerajaan Surga? Seringkali kenikmatan-kenikmatan semu dunia membuat orang lupa akan betapa berharganya Surga itu. Mata mereka seolah tertutup oleh semua hal duniawi. Demi menumpuk kekayaan, banyak orang rela mengorbankan idealisme dan kejujurannya, kemudian korupsi, mengambil apa yang bukan haknya. Demi harta dan jabatan bisa membuat orang menghalalkan segala cara, biarpun hal tersebut tidak benar di mata Tuhan. Obat-obatan terlarang bagi pemakainya dianggap memberi kenikmatan, dan mereka rela memberi segala milik mereka untuk membeli obat-obat terlarang itu. Demi cinta, banyak orang rela mengorbankan imannya. Banyak orang lebih memilih untuk memprioritaskan hidupnya demi pekerjaan kemudian mengesampingkan meluangkan waktu buat keluarganya, apalagi buat Tuhan. Dan sebagainya. Mereka rela melepaskan Kerajaan Surga demi mendapatkan segala sesuatu yang hanya semu dan sementara sifatnya.

Ayat bacaan hari ini berbicara tentang pentingnya arti Kerajaan Surga. “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Matius 13:44-46). Demikianlah seharusnya orang memandang Kerajaan Surga, seperti sebuah harta terpendam dan mutiara yang indah. Ketika kita bisa memandang seperti demikian, kita pun akan rela melepaskan segala yang kita miliki demi mendapatkannya.  Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya menyadari betul hal itu. Begini katanya: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4: 17) Mengapa demikian? “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (ay 18). Kerajaan Surga memang belum saatnya untuk bisa kita lihat, namun yang tidak kelihatan itulah yang sifatnya kekal. Bukan segala kenikmatan duniawi, harta, jabatan dan sebagainya, yang suatu saat akan habis. Semua itu pada satu ketika akan digoncangkan, seperti yang kita alami hari-hari ini lewat krisis global  yang melanda dunia. Namun ada yang tidak tergoncangkan, dan itu adalah Kerajaan Surga. (Ibrani 12:27-28). Kerajaan Surga sifatnya kekal dan tidak tergoncangkan. Bukankah hal tersebut sangat berharga?

Yesus juga mengingatkan pada seorang muda yang kaya dalam Injil Matius 19:16-26. Untuk memperoleh hidup yang kekal, kita harus taat pada segala perintah Allah (ay 17). Yesus kemudian merinci perintah-perintah Allah tersebut dalam ayat berikutnya. “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (ay 18-19). Semua itu sudah dituruti oleh pemuda kaya tersebut. Apa yang masih kurang? Demikian jawab Yesus: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.(ay 21). Pemuda itu menolak, karena dia memiliki banyak harta. Artinya, pemuda itu belum siap untuk mengorbankan segala miliknya, dan belum bisa melihat betapa berharganya kesempatan untuk turut serta dalam sesuatu yang “tidak terlihat”, yang kekal sifatnya, yang tidak bisa digoncangkan, yaitu Kerajaan Surga.

Apa yang paling berharga saat ini bagi anda? Apakah itu harta kekayaan, karir, jabatan, status, kekasih atau lainnya? Hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan bahwa ada yang jauh lebih berharga dari semuanya itu. Kerajaan Surga bisa menjadi bagian kita, dan itu kekal sifatnya. Karena itu, kita harus siap melepaskan segala sesuatu agar jangan sampai kehilangan kekekalan penuh damai sukacita, tanpa ratap tangis dan penderitaan, selama-lamanya. Let’s follow Jesus and receive The Kingdom of Heaven today.


Tidak ada yang lebih berharga dari Kerajaan Surga yang kekal, penuh damai sukacita dan tidak tergoncangkan

Do Something Today!

Posted: 29 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 25:26
=====================
“Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?”

jangan menunggu, melipatgandakan talenta, do something, lakukan sesuatuTugas saya adalah mengajar teknik web dan grafik desain. Saya memberikan ilmu yang siap pakai bagi para siswa. Itu tugas utama saya. Tapi dalam berbagai kesempatan saya merasa perlu untuk memberikan nasihat. Nasihat seperti apa? Saya melihat ada banyak orang yang hanya duduk menunggu walaupun mereka sudah dibekali ilmu pengetahuan,keterampilan bahkan sekedar kemampuan yang cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Tidak ada modal, tidak ada kesempatan, belum ada perusahaan yang memanggil dan sebagainya, selalu saja menjadi alasan orang untuk terus menunggu dan menunggu. Ketika orang selesai kuliah, mereka fokus hanya pada mencari lowongan kerja dan memasukkan lamaran. Selama tidak ada yang memanggil, mereka pun hanya terus menanti tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya dengan apa yang sudah mereka punya, mereka sudah bisa mulai untuk melakukan sesuatu. Kemarin saya memberi sebuah contoh pada siswa saya. Saya mengajak mereka keluar untuk melihat rumput di halaman, dan mengajak mereka berpikir apa yang dapat mereka hasilkan dari sepetak rumput tersebut. Mereka mulai berpikir dan ternyata mampu memberi jawaban beragam. Mereka bisa beternak, mereka bisa memotong rumput, bisa menanam bagian-bagian yang gundul dan sebagainya. Ada begitu banyak peluang namun sedikit yang mampu melihat, apalagi menangkap peluang dan mengolahnya menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 memberi sebuah gambaran jelas mengenai hal ini. Ada seorang tuan yang hendak bepergian ke luar negeri, dan dia mempercayakan hartanya pada hamba-hambanya. Seorang diberikan lima talenta, seorang lagi dua, dan seorang lagi satu, sesuai dengan kesanggupannya. Sekembalinya sang tuan, para hamba pun dipanggil. Yang mendapat lima talenta ternyata bisa menggandakannya menjadi sepuluh, yang mendapat dua telanta mampu menggandakannya menjadi empat. Dan keduanya pun mendapat jawaban yang sama. Mereka dianggap baik dan setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, dan kepada mereka akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar lagi. Mereka pun layak untuk masuk dalam kebahagiaan tuannya. Seorang lagi yang mendapat satu talenta ternyata hanya menanamnya, tidak menggandakan, malah menuduh tuannya sebagai manusia yang kejam. (ay 24). Tuannya pun menyebut sang hamba yang satu ini sebagai orang yang jahat dan malas. (ay 26). Perhatikan kata jahat. Apakah dia mencuri uang tuannya? Tidak. Apakah dia korupsi? Tidak. Apakah dia menggunakan uang tuannya untuk berbuat dosa? Tidak. Namun dia diganjar kata jahat. Hamba satu ini jahat, karena dia tidak setia. Dia tidak memanfaatkan apa yang telah dipercayakan kepadanya untuk berbuat sesuatu. Dia tidak menghargai tanggung jawab yang diberikan. Mungkin dia menganggap satu talenta itu sangat sedikit dibanding kedua temannya, dan dia merasa diperlakukan dengan tidak adil. Hamba dengan satu talenta tidak menyadari bahwa satu talenta pun, meski sedikit, namun tetaplah sebuah talenta yang bisa dilipat gandakan. Maka hukumannya pun jelas. “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (ay 30).

Tuhan memberikan kelimpahan kepada orang yang tahu memanfaatkan talentanya, mengolahnya menjadi sesuatu yang berhasil. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29). Orang yang bisa melakukan pekerjaan kecil dengan baik dengan tanggung jawab penuh akan diberi hingga berkelimpahan, dan sebaliknya. Ingatlah bahwa kepada kita semua telah diberikan talenta, menurut kesanggupan kita. Jika mendapat talenta kecil, mulailah dari perkara kecil, maka Tuhan akan melimpahkan perkara-perkara yang lebih besar lagi hingga berkelimpahan. Tidak ada alasan untuk bersungut-sungut, malas-malasan dan berlindung di balik berbagai alasan, karena , sekali lagi, talenta tetaplah talenta, yang bisa kita pakai untuk berbuat sesuatu. Tuhan telah memberikan segala sesuatunya cukup bagi kita untuk mulai melakukan sesuatu. Tuhan sangat tidak suka pada pemalas. Dalam Amsal kita melihat hal yang sama, bahwa Tuhan memberkati orang yang rajin. “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27), “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” (Amsal 13:4).

Dalam melayani Tuhan pun demikian. Kita telah diberikan kemampuan, waktu dan kesempatan yang cukup banyak selama kita masih ada dalam dunia ini. Maka kita juga harus melayani Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan, kemudian harus mampu melipatgandakan, mengembangkan talenta yang sudah Dia berikan dan menggunakannya dengan baik. Seseorang tidak harus menjadi pendeta utnuk melayani, tidak harus menjadi worship leader, tidak harus hafal Alkitab luar kepala, tidak harus berkotbah dimana-mana, untuk melayani. Sebuah perbuatan yang didasarkan atas kerinduan untuk melayani Tuhan dengan tulus karena mengasihiNya, sebesar atau sekecil apapun, sangatlah Dia hargai. Dan Tuhan siap memberkati dengan melimpah-limpah. Tuhan memberikan kita talenta bukan untuk disimpan dan ditimbun, tapi untuk pelipatgandaan dan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. So, don’t just sit and wait, do something today.

Setiap orang telah dibekali talenta yang cukup untuk bisa mulai melakukan sesuatu

Tergantung Di Tangan Siapa

Posted: 30 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Matius 6:33
====================
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

baik buruk tergantung di tangan siapa, carilah dahulu Kerajaan AllahBerbahayakah internet bagi manusia? Sebuah lembaga pendidikan yang saya kenal menganggapnya demikian, setidaknya bagi mahasiswanya. “Jika fasilitas internet ditambahkan di kampus, maka semua mahasiswa hanya akan mencari film-film porno..” begitu kata ketua yayasan pada suatu kali. Padahal ada banyak info berharga yang berguna bagi pendidikan terdapat disana. Saya sendiri memakai fasilitas internet untuk mewartakan firman Tuhan. Bagi hacker, internet bisa dipakai untuk mencuri uang orang lain. Internet bisa dipakai untuk mencari nafkah dengan cara-cara halal. Bahkan untuk sekedar mencari resep sambal sekalipun, internet bisa sangat membantu. Pisau tajam di tangan koki bisa membantu menghasilkan racikan makanan lezat dengan dekor makanan yang indah dipandang mata. Obat-obatan bagi dokter dapat menyembuhkan orang sakit, namun di tangan pecandu, obat bisa menghancurkan dan mematikan dirinya. Nuklir bisa dipakai sebagai sumber energi. Namun di tangan orang kejam, nuklir bisa dipakai menjadi senjata sangat mematikan. Uang bisa dipakai untuk membantu orang lain, tapi di tangan penjudi, uang menjadi sumber dosa yang bisa setiap saat menghancurkan keluarganya. Ada pula yang menghambakan uang. Padahal bukan uangnya yang salah, tapi orangnya. Seringkali manusia terlalu cepat mengambil kesimpulan akan sebuah objek. Internet itu negatif, uang itu menghancurkan, kedudukan dan jabatan itu sebuah awal kesombongan, obat-obatan tidak baik, politik itu jahat dan kotor, ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dari Tuhan dan sebagainya. Tapi sebenarnya semua itu tergantung pada siapa yang mendapatkannya. Ya, semua tergantung di tangan siapa.

Pagi ini saya diingatkan akan sisi lain dari ayat yang sudah sering kita baca. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Matius 6:33). Ayat ini biasanya dipakai untuk menjelaskan bahwa Tuhan menjamin hidup kita, anak-anakNya yang selalu taat dan rindu untuk berada di dekat Tuhan. Itu sungguh benar. Di sisi lain, kita bisa melihat ayat ini dari sudut pandang topik yang saya bahas hari ini. Jika kita mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, jika kita hidup benar sesuai firman Tuhan, maka berbagai hal diatas bisa menjadi berkat bagi banyak orang.tidak akan menjadi senjata berbahaya atau awal dari kebinasaan. Yang penting adalah bagaimana kita mendahulukan untuk hidup dalam kebenaran, hidup benar sesuai firman Tuhan. Jika kita memprioritaskan hal ini, kita pun akan terbentuk menjadi manusia yang benar, sehingga apapun yang ada di tangan kita tidak akan menjadi benda mematikan,senjata berbahaya atau sesuatu yang menghancurkan, tidak akan menjadi sesuatu yang negatif, namun bisa menjadi sebuah berkat yang berguna bagi sesama dimana kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan. Tuhan Yesus berkata: “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” (Matius 12:33). Yang harus kita perhatikan adalah pohonnya, dan bukan buahnya. Sebuah pohon yang baik akan selalu menghasilkan buah-buah yang baik. Demikianlah orang-orang yang selalu mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, tentu akan mempergunakan berbagai berkat jasmani dan benda-benda yang dipercayakan Tuhan kepadanya untuk sesuatu yang memberkati orang lain.

Penulis Ibrani menuliskan “Janganlah kamu menjadi hamba uang..” (Ibrani 13:5). Bukan uangnya yang salah, namun bagaimana orang memandang uanglah yang salah. Apakah uang dianggap lebih penting dari segala-galanya sehingga uang diperhambakan, atau uang dipakai untuk mencukupi keluarga juga dipakai untuk memberkati orang lain yang membutuhkan pertolongan. Amsal berkata: “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Amsal 9:22). Bukan rezekinya yang salah, bukan uangnya yang salah, tapi bagaimana pemanfaatannya. Tuhan mampu dan siap untuk memberikan kita hidup yang berkelimpahan. Berkat-berkat Tuhan siap tercurah pada kita. Namun sebelumnya, pastikan dulu diri kita untuk mendahulukan untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, sehingga semua berkat yang datang daripadaNya tidak akan membawa kita membuka pintu-pintu dosa yang menjerumuskan kita ke dalam kematian kekal, melainkan menjadikan kita sebagai anak-anak Tuhan yang selalu membagi berkat dan membantu sesama dimana kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan.

Prioritaskan Kerajaan Allah dan kebenarannya sehingga segala sesuatu di tangan kita menjadi alat yang berguna bagi orang lain

Merengek

Posted: 31 Jan 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 55:8
===================
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”

tuhan tahu yang terbaik, merengekPemandangan anak kecil yang merengek-rengek pada ibunya meminta sesuatu rasanya bukan lagi sesuatu yang aneh. Kita sering menyaksikan pemandangan seperti itu di pusat-pusat perbelanjaan. Terkadang mereka sampai duduk di lantai, menarik-narik orang tuanya sambil meraung agar keinginan mereka dipenuhi. Ketika hal tersebut tidak diberikan, maka mereka pun akan menangis sejadi-jadinya dan menarik perhatian banyak orang. Seorang teman saya yang mempunyai anak kecil mengatakan sungguh sulit mendiamkan anaknya ketika ia menginginkan sesuatu. Tidak semua permintaan anak harus dikabulkan, karena terkadang apa yang mereka minta tidak membawa kebaikan bagi mereka. Anak yang terus menerus minta permen misalnya, jika dituruti tentu akan merusak giginya. Anak yang terus minta mainan tidak akan mau belajar. Apa yang mereka minta tentu sesuai dengan keinginan mereka, namun orang tua mampu berpikir lebih jauh dan berhak memutuskan apa yang terbaik bagi anaknya. Orang tua yang baik akan tahu kapan mereka harus menuruti, dan kapan mereka harus menolak.

Sadar atau tidak, kita seringkali punya perilaku seperti anak kecil yang merengek-rengek itu. Kita sering datang pada Tuhan membawa “wish list” kita, berisi serangkaian permintaan ini dan itu. Ketika melihat mobil tetangga, kita pun datang pada Tuhan meminta mobil yang sama, atau kalau bisa lebih mewah lagi. Ketika mobil tidak kunjung datang, kita pun bersungut-sungut menuduh Tuhan tidak adil. Tuhan tidak mendengar doa kita, Tuhan tidak peduli, bahkan Tuhan pilih kasih. Padahal jika mobil itu diberikan pada kita, mungkin iman kita belum siap untuk memilikinya, sehingga bukan berkat yang datang, melainkan sesuatu yang bisa merusak hubungan kita dengan Tuhan dan menjauhkan kita dariNya.

Tuhan Yesus berkata: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu..” (Matius 7:7) Itu benar, karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun ingatlah bahwa apa yang kita anggap baik buat kita, apa yang kita anggap diperlukan, belum tentu yang terbaik untuk kita. Tuhan yang menciptakan kita tentu lebih tahu mengenai apa yang terbaik buat kita, seperti halnya orang tua yang tahu apa yang terbaik buat anaknya. Ayat bacaan hari ini berbicara mengenai hal itu. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8). Kemudian dilanjutkan dengan: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (ay 9). Apa yang kita inginkan seringkali merupakan keinginan untuk memuaskan hasrat kedagingan atau sesuatu yang hanya memberi kesenangan sementara saja. Dibalik itu, ada banyak hal yang mungkin bisa merusak kehidupan kita. Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Dia tidak pernah memberi rancangan untuk menghancurkan kita. Dia hanya memberikan rancangan damai sejahtera untuk hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Tidak ada yang perlu diragukan akan hal itu, karena kita tahu persis betapa Tuhan mengasihi kita semua. Kehadiran Tuhan Yesus ke dunia dengan karya penebusanNya yang luar biasa adalah bukti nyata betapa besar kasih Tuhan pada kita yang selalu saja berbuat dosa ini.

Bayangkan diri kita sebagai anak yang merengek minta permen, Tuhan sebagai “Orang Tua” kita akan tahu kapan harus menuruti dan menolak permintaan kita. Bukan untuk menyiksa, menyengsarakan kita, tapi justru karena Dia punya rencana yang jauh lebih baik buat kita. Yang terbaik adalah menyerahkan sepenuhnya kehidupan kita ke dalam tangan Tuhan. Biarlah Dia yang menentukan apa yang sebaiknya harus diberikan pada kita. Bukan kehendak kita yang paling baik, tetapi rancangan Tuhan lah yang sempurna. Yakobus menganjurkan agar kita meminta hikmat kepada Tuhan, dan Dia akan memberi dengan murah hati. (Yakobus 1:5) Itulah yang kita butuhkan agar kita bisa mengerti bahwa Tuhan akan selalu menyediakan segala sesuatu yang terbaik sesuai dengan rancanganNya yang penuh damai sejahtera buat hidup kita.

Bukan menurut kita, namun menurut rancangan Tuhan, itulah yang terbaik

Satu tanggapan

7 01 2009
RHO

Shalom,
saya lihat anda mempublish kembali renungan kami di website anda, kami sangat menghargai itu dan merasa senang jika itu menjadi berkat buat anda :) tapi kalau boleh sesuai etikanya tolong disebutkan source-nya ya karena anda mengambil contentnya dari RHO. God bless you :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: