Renungan Harian Februari 2009 [Renungan Harian Online]

Lagu Merdu

Posted: 01 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
“Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.”

pelaku firman, mendengar firman, melakukan firmanProfesi sebagai wartawan musik jazz sekaligus penggemar membuat saya akrab dengan koleksi lagu-lagu jazz dari berbagai genre. Begitu banyak lagu yang menemani saya dalam berbagai aktivitas, baik ketika bekerja, sedang bersantai, bahkan tidur, lagu menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari saya. Lagu bisa bercerita tentang banyak hal, mulai dari yang positif hingga negatif. Tapi seberapa jauh orang mau melakukan apa yang tertulis dalam syair-syair lagu tersebut? Jarang sekali bukan? Lagu biasanya didengarkan, dinikmati, paling banter dinyanyikan sendiri. Maka kita mengenal istilah penikmat/pendengar lagu atau musik, dan hampir tidak pernah mendengar istilah pelaku lagu.

Ada banyak orang yang menuliskan keinginannya untuk lebih rajin lagi membaca Alkitab sebagai “New Year Resolution” alias target hal yang ingin mereka capai setahun ke depan. Ini sebuah target yang sangat baik, karena dengan membaca firman Tuhan kita akan lebih mengenal pribadi Tuhan, mengenal kehendakNya dan lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin menghadang di depan. Tapi hendaknya janganlah berhenti sampai di situ saja. Yehezkiel berbicara pada sekelompok orang yang suka mendengar tapi tidak mau melakukan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: “Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.” (Yehezkiel 33:32).

Teman-teman sekalian, ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan berarti mati. (ay 26). Adalah baik untuk rajin membaca firman Tuhan, tapi jauh lebih baik lagi jika kita mau melakukannya. Menjadi pelaku firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita. Ini penting. Karena kita tidak tahu bagaimana kondisi yang akan kita hadapi dalam setahun ke depan. Dunia semakin sulit, hidup semakin sulit. Tahun ini dibuka dengan sebuah keraguan akan perbaikan ekonomi, bukan saja di negara kita tapi juga dunia. Ancaman PHK merebak karena adanya kehancuran ekonomi dunia, sebagian orang mulai putus harapan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Ada janji penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita para pelaku firman. Yesus pun telah berjanji untuk senantiasa beserta kita sampai akhir jaman. (Matius 28:20).

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7:24-27). Lihat bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan “mendengar”, tapi melanjutkan kalimat dengan “melakukannya”. Inilah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi badai kesulitan yang menghadang di depan. Kita tidak perlu takut akan masa depan, karena bagi orang yang mendengar dan melakukan selalu ada penyertaan Tuhan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan, pertolongan dan keselamatan. Janji Tuhan ini tidak tergantung dari besar kecilnya masalah yang menimpa anda dan saya, tidak tergantung dari tingkat kesulitan yang di hadapi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan Dia sanggup mengangkat kita tinggi-tinggi melewati kesulitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang sedang menimpa dunia. Jangan berhenti hanya pada target untuk lebih rajin lagi membaca Alkitab, tapi miliki tekad untuk melakukan firman Tuhan. Mari kita melangkah memasuki tahun yang baru dengan keyakinan teguh. Berjalanlah dan hiduplah sebagai pelaku firman agar kita semua mampu melewati tahun yang berat dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Membaca, mendengar, memahami dan melakukan firman Tuhan akan membawa kita kuat memasuki tahun yang baru

Lampu Emergency

Posted: 02 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Markus 4:38
===================
“Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

lampu emergency, libatkan Tuhan, mengatasi badaiBagi banyak rumah tangga, kebutuhan akan sebuah lampu emergency adalah sangat penting. Masalah pemadaman aliran listrik, baik dengan pemberitahuan maupun tiba-tiba bukan lagi hal baru. Karena itu, ada banyak rumah memperlengkapi rumahnya dengan lampu emergency yang akan otomatis menyala ketika listrik tiba-tiba padam. Dengan demikian penghuni rumah tidak perlu meraba-raba mencari korek api dan lilin lagi seandainya listrik padam di malam hari. Kenapa saya berbicara tentang lampu emergency? Karena malam ini saya diingatkan akan banyak diantara kita yang memperlakukan Tuhan hanya sebagai lampu emergency semata.

Ketika kita sedang tidak dalam masalah, ketika hidup tenang-tenang saja, kita lupa untuk melibatkan Tuhan dalam hidup kita. Jangankan melibatkan, mengingat Tuhan saja lupa. Kita hanya tenggelam, larut menikmati segalanya dan lupa bahwa segalanya berasal dari Tuhan. Seharusnya kita tidak lupa diri, namun banyak diantara kita yang melupakan saat-saat teduh, saat bersama Tuhan ketika kita tidak sedang dalam himpitan masalah. Ketika masalah datang, ketika kita mulai khawatir, barulah kita mulai mencari Tuhan untuk meminta pertolongan. Jika ini yang terjadi, itulah tanda bahwa Tuhan hanya berfungsi sebagai sebuah lampu emergency dalam hidup kita. Kontak ke Tuhan baru “menyala” ketika badai masalah tiba.

Injil Markus 4: 35-41 mengisahkan tentang Angin Ribut Diredakan. Pada suatu petang, sehabis melayani, Yesus mengajak murid-muridNya untuk pergi ke seberang danau. Tidak satupun diantara murid Yesus yang menolak. Mereka semuanya patuh dan bergegas menaiki perahu. Dalam perjalanan, terjadi badai yang sangat dahsyat, air mulai masuk memenuhi perahu. Sontak para murid Yesus ketakutan. Dimana Yesus saat itu? Yesus ternyata sedang tidur di buritan alias di belakang kapal. Murid-murid Yesus yang dilanda kepanikan segera membangunkanNya dan berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ay 38). Dan kita tahu apa yang terjadi setelahnya. Yesus bangun, menghardik angin badai dan menenangkan danau. Seketika angin pun reda dan danau menjadi sangat tenang. (ay 39).

Kita lihat murid-murid Yesus. Mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Yesus dalam pelayananNya. Mereka tahu Firman. Mereka sudah pelayanan. Mereka juga taat. Saya yakin mereka pada saat itu dalam keadaan letih setelah melayani terus menerus. Tapi ketika Yesus mengajak mereka menyeberang, mereka patuh dan ikut tanpa membantah. Artinya, mereka adalah orang-orang taat. Tapi lihatlah bahwa badai tetap bisa menghantam orang-orang pengikut Yesus yang taat sekalipun. Dan kemudian lihatlah, bahwa orang-orang taat yang sudah melayani sekalipun ternyata masih bisa memiliki iman yang kurang teguh, akibatnya mengalami ketakutan. Padahal mereka sedang bersama Yesus pada saat itu. Apa yang mampu dilakukan Yesus? Dia sanggup meredakan badai yang membuat danau bergejolak dalam seketika. Dan selanjutnya Yesus menegur murid-muridNya. (ay 40).

Menjadi pengikut Yesus tidak berarti kita akan 100% hidup tanpa masalah. Sudah pelayanan, selalu taat, mengerti Firman sekalipun tidak menjamin hidup akan benar-benar tanpa badai persoalan. Ada kalanya kita akan berhadapan dengan “angin ribut” dalam kehidupan kita. Ada kalanya “air” mulai memasuki “kapal” kehidupan kita yang siap menenggelamkannya. Tapi ingatlah bahwa kita tidak perlu khawatir apabila kita tetap berjalan bersama Yesus. Jangan sampai kita yang mengaku percaya pada Yesus ternyata tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita sehari-hari, sampai-sampai Tuhan hanya ditempatkan “di buritan” hingga tertidur sendirian. Tidak akan ada badai yang mampu menjungkirbalikkan apabila kita selalu melibatkan Yesus dalam hidup kita. Itu kunci utama agar kita bisa terus berjalan dengan jiwa penuh damai meskipun sedang berada ditengah-tengah amukan badai kehidupan. Dengan berjalan bersama Yesus dalam hidup baik dalam keadaan tenang maupun dalam angin ribut, kita bisa menyerakita tidak perlu takut karena kita bisa menyerahkan kekhawatiran kita kepadaNya seperti yang dikatakan Petrus. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Jangan jadikan Tuhan sebatas lampu emergency, yang hanya menyala ketika dibutuhkan, namun jadikanlah Tuhan sebagai partner dalam menempuh perjalanan hidup. Libatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan anda.

Tuhan lebih dari sekedar lampu emergency! Libatkan Tuhan dalam hidup anda

Menjadi Sahabat Allah (1)

Posted: 03 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 2:23
=====================
“Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

sahabat Allah, AbrahamCoba pikirkan sejenak, bagaimana rasanya menjadi sahabat Tuhan? Tentu luar biasa rasanya. Orang pasti mengenal dengan baik sahabatnya. Kenalan boleh banyak, teman bisa banyak, tapi yang bisa menjadi seorang sahabat biasanya sedikit. Kepada seorang sahabat biasanya kita tidak menyembunyikan sesuatu, dan bisa menjadi diri kita sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi pribadi yang lain. Seorang sahabat akan menjadi orang-orang pertama yang mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya. Apakah ada berita gembira, ada masalah, suka dan duka, sahabat akan menjadi orang nomor satu yang dikabari. Itu sebuah kualitas yang tumbuh antara dua sahabat. Jika antara dua manusia saja arti persahabatan sudah terasa begitu istimewa, apalagi jika manusia bisa bersahabat dengan Tuhan.

Sebuah ayat sungguh menggugah saya malam ini. Yakobus 2:23 mengatakan bahwa “Abraham disebut sebagai “Sahabat Allah”. Pengakuan Abraham sebagai sahabat Allah juga tertulis dalam 2 Tawarikh 20:7. Wow, ini luar biasa! Bagaimana seorang Abraham mampu mencapai tingkatan istimewa sebagai sahabat Allah?

Ada banyak diantara kita yang mengaku percaya, mengaku beriman, namun banyak pula diantaranya yang hanya berupa iman kosong belaka. Yakobus menggambarkan ini sebagai iman tanpa perbuatan. “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20). Dan pada hakekatnya iman seperti ini adalah iman yang mati. (ay 17). Kita mengaku punya iman, tapi seberapa jauh kita bisa taat menuruti perintah Allah? Itu sebuah pertanyaan yang kedengarannya gampang, namun pelaksanaannya seringkali sulit. Ketika kita sedang ditimpa masalah, seberapa besar keyakinan kita bahwa Tuhan mampu melepaskan kita? Ketika kita sakit, seberapa besar keyakinan kita bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan? Ketika kita sudah berulangkali berdoa, namun kelihatannya Tuhan belum juga berkenan menjawab, seberapa tinggi kesabaran kita untuk mempercayaiNya? Ada banyak orang yang segera mencari alternatif-alternatif duniawi, bahkan menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kesesatan lewat kuasa-kuasa kegelapan karena ingin hasil instan tanpa memperhitungkan konsekuensi sebagai akibat dari keputusan mereka. Sekarang kita lihat Abraham. Ujian yang ia hadapi sungguh luar biasa besar. Tidak main-main, ia diminta untuk mempersembahkan Ishak, anaknya sendiri sebagai korban persembahan. Bayangkan jika permintaan ini menimpa kita, seberapa tinggi ketaatan kita? Tapi lihatlah Abraham taat sepenuhnya. Dia siap mempersembahkan Ishak sesuai permintaan Tuhan! Dan kita tahu kelanjutan ceritanya. Dan inilah bukti dari sebuah iman yang tidak kosong dan tidak mati, iman yang disertai perbuatan. Abraham berhasil membuktikannya.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika Tuhan menganggap Abraham sebagai sahabat. Dalam Kejadian 26, Allah berbicara pada Ishak dan kembali meneguhkan janji yang Dia berikan pada Abraham. Demikian firman Tuhan: “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 26:3-4). Apa dasar Tuhan untuk meneguhkan janji ini? Ayat berikutnya adalah alasannya. “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” (ay 5). Yesus pun mengajarkan hal yang sama mengenai bagaimana agar kita bisa menjadi sahabatNya. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14).   Inilah salah satu dari kualitas Abraham. Begitu istimewanya Abraham di mata Allah, sehingga kemudian kita menemukan firman Tuhan dalam Yesaya sebagai berikut: “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:8-10). Luar biasa bukan? kita merupakan keturunan Abraham yang tidak lain adalah sahabat Allah. Abraham adalah manusia seperti kita secara jasmani, namun keteguhan iman dan ketaatannya mengakibatkan terjalinnya sebuah hubungan persahabatan yang hangat dan istimewa dengan Tuhan. It’s amazing.

Tuhan selalu mengulurkan tangan untuk bersahabat dengan kita semua. Apakah kita mau menyambut uluran tangan Tuhan itu? Jika ya, belajarlah dari ketaatan dan kesetiaan penuh dan tanpa syarat dari Abraham. Percayakan segala sesuatu pada Tuhan dan jadilah sahabat Allah.

Memiliki iman disertai bukti perbuatan dan ketaatan agar kita bisa menjadi sahabat Allah

Menjadi Sahabat Allah (2)

Posted: 04 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kejadian 18:16
======================
“Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”

sahabat Allah, AbrahamKemarin kita sudah melihat bagaimana kualitas Abraham sehingga ia dianggap sebagai sahabat Allah. Hari ini kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana hubungan Abraham dengan Allah sebagai seorang sahabat. Mungkinkah seorang dikatakan sebagai sahabat jika kita jarang berkomunikasi dengannya? Rasanya tidak ada orang yang menjadikan sahabat mereka sebagai orang terakhir yang mereka hubungi jika mereka mengalami sesuatu hal. Sebuah hubungan persahabatan akan berisi serangkaian hubungan erat penuh komunikasi tanpa perlu menutup-nutupi sesuatu. Itu bedanya sahabat dengan teman biasa. Apakah Abraham juga seperti itu? Ya, Abraham jelas seperti itu. Abraham rajin berkomunikasi dengan Tuhan!

Ayat bacaan hari ini menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Ketika Tuhan menganggap seseorang sebagai sahabatNya, ternyata Tuhan gelisah untuk berbicara pada kita ketika Dia hendak berbuat sesuatu. Ketika Tuhan hendak menyatakan rencanaNya pada Sodom, Tuhan sampai harus berpikir untuk menyatakan atau merahasiakan rencanaNya dari Abraham. Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19). Wow, ini luar biasa! Bagaimana ini mungkin terjadi? Selain apa yang kita baca kemarin tentang ketaatan, kesetiaan dan iman penuh Abraham, ayat-ayat selanjutnya menunjukkan sebuah jalinan komunikasi antar dua sahabat dalam kekerabatan yang erat. Mari kita lihat bagaimana hubungan erat tersebut dalam Kejadian 18:20-33. Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ay 23-25). Dan Tuhan menjawab: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.”(ay 26). Lalu Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (ay 27-28a). Tuhan kembali menjawab: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”(ay 28b), dan seterusnya hingga ayat 33. Lihatlah jalinan percakapan yang terjalin antara Abraham dan Tuhan. Ada komunikasi erat diantara mereka sebagai dua sahabat.

Amsal 17:17 berkata: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Sahabat sejati adalah mereka yang saling setia, saling mengasihi, saling mempercayai satu dengan lainnya baik dalam suka maupun duka. Jika seorang manusia saja bisa menjadi sahabat dalam pengertian sesuai dengan Amsal 17:17 tersebut, bayangkan jika Allah sendiri yang menjadi sahabat kita. Hubungan antara Abraham dan Allah sungguh sebuah hubungan yang luar biasa. Saya percaya Tuhan selalu rindu untuk menjadikan kita sahabat-sahabatNya. Jika tidak, tentu Tuhan tidak harus repot-repot membuat manusia segambar denganNya. Tuhan selalu mengulurkan salam persahabatan kepada kita, anak-anakNya. Semua tergantung kita, apakah kita mampu untuk selalu bersepakat denganNya, tidak mempertanyakan segala keputusanNya, seperti halnya Abraham taat penuh mengenai Ishak, menjalankan perintahNya tanpa banyak tanya. Apakah kita mampu untuk terus menjalin komunikasi dengan Tuhan baik dalam doa-doa maupun saat-saat teduh kita setiap hari? Apakah kita mau melibatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita? Apakah dalam doa-doa kita, kita mau memberi kesempatan untuk membiarkan Tuhan berbicara, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tidak mendatangiNya hanya untuk membawa segepok permintaan saja? Saling percaya, saling terbuka, saling berkomunikasi dengan erat. That’s what friends do! Demikian pula yang diperbuat Tuhan ketika Dia menganggap kita sebagai sahabatNya. Lihatlah bagaimana Kristus memandang kita manusia yang lemah ini sebagai sahabat. Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Dan itulah yang dilakukan Kristus. Dia memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. That’s the real friendship we have in Jesus. Siapkah anda menjadi sahabat Allah?

Dalam persahabatan sejati terdapat komunikasi dua arah satu sama lain

Kuasa Roh Kudus

Posted: 05 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Hakim Hakim 14:6
========================
“Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing–tanpa apa-apa di tangannya…”

kuasa Roh Kudus, kuasa Roh Tuhan, Roh Allah, Simson, Singa, hidup dipimpin RohAda banyak orang yang merasa tidak mampu untuk mulai berusaha dengan berbagai macam alasan. Tidak punya modal misalnya, itu menjadi alasan yang paling sering saya dengar. Tidak punya keahlian khusus, pendidikan rendah, tidak ada koneksi dan sebagainya. Lucunya, banyak diantara mereka hanya tenggelam dalam ketidakmampuan tanpa melakukan apa-apa, dan terus menyalahkan kondisi mereka. Banyak diantara kita yang lupa bahwa tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Memiliki keahlian tentu saja bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk bekerja. Jika anda beruntung memiliki modal tentu saja bisa sangat membantu untuk memulai sebuah usaha. Namun di atas itu semua, jangan lupa bahwa kita butuh Roh Tuhan dalam hidup kita. Roh Tuhan akan membimbing kita, memampukan kita untuk bekerja bahkan lebih dari apa yang kita kira. Anda akan terheran-heran apabila kuasa Roh Kudus bekerja. Saya berulangkali sudah membuktikannya sendiri.

Pagi ini saya memulai hari dengan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Simson adalah manusia seperti halnya kita. Tapi sungguh luar biasa ketika Alkitab mencatat bahwa Simson mampu mencabik-cabik seekor singa, dan perhatikan: tanpa apa-apa ditangannya. Simson tidak dikatakan memiliki golok, atau senjata lainnya untuk melawan singa. Dia melakukan itu dengan tangan kosong.  Bagaimana Simson mampu melakukan itu? Itu terjadi karena Roh TUHAN berkuasa atas dia. Tanpa Roh Tuhan, mungkin Simson akan berusaha lari terbirit-birit menyelamatkan diri, atau mungkin pasrah dirobek-robek oleh singa. Tapi tidak demikian, karena ketika Roh Tuhan berkuasa atas hidupnya, dia mampu melakukan pekerjaan yang begitu mustahil sekalipun. Dalam kisah lainnya, kita melihat betapa Mikha menyadari bahwa kemampuannya untuk menyampaikan pesan Tuhan bukanlah semata-mata karena kehebatannya, namun itu semua bisa terjadi karena Roh Tuhan. “Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh TUHAN, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya.” (Mikha 3:8). Ada kuasa luar biasa dalam Roh Kudus yang sanggup memampukan kita melakukan perkara-perkara yang besar.

Kita harus mulai menyadari bahwa dalam hidup ini kita butuh kehadiran Roh Kudus lebih dari kebutuhan kita akan modal, skill dan lain-lain. Itu sebabnya dalam Galatia 5:25 jelas tertulis bahwa kita harus hidup dan dipimpin oleh Roh. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Kita bisa belajar dari kisah Simson berhadapan dengan singa diatas, bahwa Roh Tuhan mampu memungkinkan hal-hal luar biasa terjadi dalam hidup kita, meski kita tidak punya apa-apa. Lebih dari itu, hidup yang dipimpin oleh Roh Allah akan menjadikan kita sebagai anak Allah. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 12:14-15). Roh Allah bukanlah roh perbudakan yang membuat kita senantiasa takut, bimbang dan ragu, terperangkap dalam segala kelemahan dan kekurangan kita, tapi Roh Allah adalah Roh yang memerdekakan. “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:7).

Orang yang hidup dengan dipimpin oleh Roh Kudus adalah orang yang mematikan segala perbuatan kedagingan dalam hidupnya. “hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.  Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17). Agar kita bisa hidup dipimpin oleh Roh Kudus, hendaknya kita mampu mematikan berbagai perbuatan kedagingan seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya seperti yang tertulis dalam Galatia 5:19-21.

Dalam hidup kita, seperti halnya Simson kita pun berhadapan dengan “singa-singa ganas”, yaitu masalah, kesulitan, pergumulan, masalah keuangan, sakit penyakit dan penderitaan lainnya, yang setiap saat bisa merobek-robek kita. Tapi dengan kuasa Roh Allah yang memerdekakan, kita sanggup merdeka dari segala beban masalah yang menghimpit kita. Mari kita buka hati kita hari ini kepada Roh Kudus, hiduplah penuh dalam pimpinanNya. Betapapun kecilnya kita, dalam Roh Tuhan kita dapat melakukan perkara-perkara besar! Bahkan perkara-perkara yang menurut logika anda dan manusia lainnya adalah mustahil. Kita manusia yang terbatas, tapi Tuhan yang kita sembah tidak terbatas. Hidup dalam Roh Tuhan akan memampukan kita melakukan hal-hal luar biasa bahkan di luar batas kemampuan kita.

Manusia yang “kecil” sanggup melakukan perkara besar dengan kuasa Roh Kudus

Memandang Muka

Posted: 06 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yakobus 2:1
====================
“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”

memandang muka, tidak membeda-bedakan“Kesan pertama begitu menggoda..” kata sebuah iklan parfum. Begitu pentingnya kesan pertama sehingga ada banyak iklan yang menekankan pentingnya tampil sempurna untuk mendapatkan kesan pertama yang baik. Sadar atau tidak, begitulah kita, manusia di dunia ini. Kita cenderung menilai seseorang terlalu cepat. Baik lewat penampilan luar, mewah tidaknya pakaian yang dikenakan, pekerjaan dan sebagainya. Salah seorang murid saya juga bekerja sebagai satpam, dan dia mati-matian menyembunyikan identitasnya kepada kekasihnya. Pada suatu kali, kekasihnya kebetulan lewat dan melihat dirinya sedang mengatur parkir lengkap dengan seragamnya, dan dia pun panik. “orang tua mana yang mau punya menantu satpam sekaligus tukang parkir di kampus?” begitu katanya sambil tersenyum miris. Dalam kesempatan lain kita seringkali melihat perbedaan perlakuan terhadap orang di tempat-tempat umum. Saya berkali-kali melihat hal tersebut baik di mal atau kantor-kantor. Ketika orang datang dengan setelan lengkap dan terlihat kaya, maka sambutan pun bukan main ramahnya. Tapi jika pengunjungnya hanya bersandal dan lusuh, mereka akan memasang tampang kaku, atau malah buang muka. Padahal ada banyak kasus dimana penampilan luar bisa membuat orang tertipu. Ada banyak kasus penipuan dilakukan oleh “orang berdasi” yang kita kenal dengan sebutan “white-collar crime.” Itu bukan hal aneh lagi saat ini. Yang menyedihkan, hal seperti ini tidak saja terjadi di dunia, tapi juga bisa terjadi di Gereja dan di kalangan hamba-hamba Tuhan. Teman saya bercerita bahwa ada banyak teman sekantornya yang juga hamba Tuhan di Gereja mereka masing-masing berperilaku jelek di kantornya. Mereka hanya bergaul dengan kelompok mereka dan membeda-bedakan teman sekantornya yang lain. “Apalagi kalau hanya cleaning service atau pesuruh… sudah deh..” begitu katanya. That’s what the world does. Seharusnya kita tidak seperti itu.

Yakobus menyadari kecenderungan ini kemudian mengingatkan kita agar tidak sesat dalam membeda-bedakan orang. Ia berkata bahwa sebagai orang-orang yang beriman, percaya pada Yesus, tidaklah pada tempatnya iman kita diamalkan dengan memandang muka. Yakobus benar. Karena Kristus sendiri tidak memandang muka. Dia melakukan banyak mukjizat dalam masa-masa kedatanganNya ke dunia tanpa memandang latar belakang orang yang Dia layani. Yesus sudah membuktikan sendiri bahwa Dia mau menjadi sahabat orang miskin, pengemis, penderita kusta yang pada masa itu dianggap penyakit menjijikkan dan orang-orang terbuang, bahkan sahabat dari orang-orang berdosa sekalipun seperti yang tertulis dalam Matius 11:19. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia tanpa membedakan siapapun. Perhatikan kata Yesus berikut: “..Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:15b-16). Yesus datang untuk semua manusia tanpa terkecuali. Amanat agungNya pun berbunyi demikian. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (matius 28:18-20). Yesus mengatakan semua bangsa, tanpa memandang muka. Maka tepatlah jika Yakobus mengingatkan bahwa jika kita beriman pada Kristus, sungguh tidak tepat apabila kita mengamalkan iman kita dengan memandang muka, dengan pilih kasih.

Paulus mengingatkan dalam Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini..”(Roma 12:2a). Ketika dunia memandang muka, hendaklah kita yang beriman pada Yesus Kristus tidak ikut-ikutan serupa dengan dunia. Kalau kita kembali pada Yakobus 2, kita melihat bahwa dengan membeda-bedakan, artinya kita sudah bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat (ay 4). Yakobus kemudian mengingatkan bahwa orang miskin pun bisa dipilih Tuhan untuk menjadi kaya dalam iman bahkan menjadi ahli waris Kerajaan. (ay 5). Sebaliknya, orang kaya bisa berhati jahat, menindas dan menghujat Allah (ay 6,7). Apa yang harus kita lakukan ada pada ayat berikutnya. “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.” (ay 8). Kita harus memandang orang lain dengan sebuah kaca mata kasih. Alangkah ironis jika seseorang sudah menjaga hidupnya dari banyak kecemaran namun melupakan hal yang satu ini dan masih hidup dengan memandang muka. Konsekuensinya tidak main-main. “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (ay 10).

Ketika hari ini anda berpapasan dengan pengemis, pandanglah mereka dengan kasih. Ingatlah bahwa mereka pun dicintai Tuhan. Tuhan sama perdulinya pada mereka seperti halnya pada kita. Baik dalam pekerjaan, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan, kenakanlah ukuran yang sama. Perlakukan semua orang dengan adil, layani semuanya dengan keseriusan yang sama. Ingatlah bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan kembali diukurkan pada kita (Matius 7:2). Seperti halnya Kristus, Sang Gembala yang baik turun ke bumi untuk menyelamatkan semua orang tanpa memandang muka, hendaknya kita pun mampu memandang setiap orang dengan hormat. Kenakan kaca mata kasih terhadap siapapun itu tanpa terkecuali.

Iman pada Yesus Kristus adalah iman yang diamalkan dengan tidak memandang muka

Restored!

Posted: 07 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 80:20
=========================
“Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.”

restored, dipulihkan, pemulihanPenggemar game terutama RPG (Role Playing Games) tentu tidak asing lagi dengan life bar seperti contoh gambar di samping. Ketika sang jagoan terus menerus berhadapan dengan musuh yang tidak kunjung habis kemudian terluka sedikit demi sedikit, life bar akan terus berkurang. Jika life bar itu mendekati habis, resikonya jelas. Jagoan kita akan terkapar, mati dan game over. Dalam setiap game tentu disediakan benda-benda di tempat-tempat tertentu yang bisa me-restore life bar secara full dalam sekali pakai. Dan jagoan kita pun akan memiliki life bar yang penuh seketika, sehingga sang jagoan bisa melanjutkan petualangannya dengan tenaga baru.

Dalam hidup ini, kita seringkali terus menerus “cedera” dihantam berbagai problema kehidupan. Terkadang begitu intens, silih berganti bahkan diserang kiri kanan sekaligus, sehingga “life bar” kita pun bisa menyusut. Jika keadaan dibiarkan berlarut-larut, kita bisa kehilangan tenaga untuk berjuang dan mulai putus pengharapan. Saya pernah mengalami hal ini ketika menghadapi ibu saya yang sedang sakit keras. Setiap hari saya dilanda kecemasan, dan saya butuh orang yang bisa menguatkan saya. Saya tidak bisa mengharapkan itu dari ayah dan adik saya yang juga sama-sama dalam keadaan tertekan. Biaya pengobatan membengkak, namun kondisi ibu tidak kunjung membaik. Ayah dan adik saya kemudian mengambil jalur okultisme, sedangkan saya terus dengan prinsip saya untuk menyerahkan segalanya pada Tuhan. Bisa dibayangkan, akhirnya saya pun akhirnya mulai merasa sendirian menghadapi itu. Kekasih saya tidak bisa berada di samping saya karena kuliah di kota lain. Saat itu saya butuh keberadaannya untuk menguatkan saya, namun itu tidak bisa saya dapatkan. Perlahan saya pun mulai breakdown. Sedih, takut, kesal, emosi, lelah, dan sebagainya datang serentak menghantam saya dari segala sisi. Saya mulai kehilangan harapan, tenaga dan kemampuan untuk bertahan. Dan “life bar” saya pun menyusut drastis. Pada suatu subuh ketika saya sudah 3 hari tidak bisa tidur, tiba-tiba sebuah sinar luar biasa terang menyilaukan mata saya dalam kamar. Begitu terangnya sehingga ketika saya memejamkan mata pun cahaya itu masih terasa menyilaukan. Lalu saya merasa seperti ada sebuah selimut besar melingkupi saya. Apa yang saya rasakan waktu itu? Rasa damai luar biasa. Bayangkan rasa damai luar biasa hadir dalam sebuah pelukan sangat hangat disaat saya sedang dalam keadaan sangat kalut. Dan tanpa sadar saya kemudian menangis sejadi-jadinya. Dan selimut besar itu seolah memeluk saya semakin erat. Sinar terang pun masih menerangi ruangan. Sekitar 15 menit saya merasakan itu, dengan keadaan selimut besar itu masih melingkupi saya, saya pun tertidur dengan damai. Saya bangun keesokan harinya dengan segar, penuh tenaga baru untuk kembali bergumul dengan situasi kritis ibu saya.

Ini sebuah kesaksian saya dari 6 tahun yang lalu. Pada pagi ini ternyata saya temukan ayatnya dalam Alkitab, yang persis sama dengan apa yang saya alami. Demikian kata pemazmur: “Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Mazmur 80:20). “Restore us, O Lord of hosts…” Ya, dalam keadaan begitu tertekan, Tuhan mampu memulihkan kita secara penuh dalam seketika. Ada saat-saat dalam hidup kita, dimana masalah yang bertubi-tubi akan terus melemahkan kita. Itu wajar. Life without a problem is not a life at all. Masalah-masalah itu bisa mencabik-cabik kita hingga kita lama-lama habis, namun lihatlah, Tuhan mampu memulihkan kita! He can restore us! Seperti apa Tuhan memulihkan kita? Lihat ini: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku (He refreshes and restores my life).” (Mazmur 23:1-3a).

Jika anda mengalami hal yang sama hari ini, ingatlah bahwa justru kelemahan-kelemahan itu bisa menjadi lahan subur buat Tuhan untuk menyatakan keajaibanNya. Hal itu pun disadari oleh Paulus, yang berkata: “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Korintus 12:10). Kita punya Allah yang jauh lebih besar dari masalah. Kita punya Allah yang sanggup memulihkan “life bar” kita seketika. Mungkin bukan masalah kita yang langsung selesai, tapi bukankah kekuatan untuk mampu menghadapi masalah pun sangat kita butuhkan? Datanglah padaNya, biarkan sinarNya menerangi jiwa kita. And then.. you’re restored!

God can restore us with His amazing shine

Menempatkan Pelita Dengan Benar

Posted: 08 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Markus 4:21
===================
“Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.”

menempatkan pelita dengan benar, anak terang, terang dunia, talentaMatikan lampu kamar, dan ambillah sebuah lilin kecil. Coba tempatkan di bawah kolong tempat tidur. Dapatkah lilin tersebut menerangi kamar? Tentunya tidak bukan? Terang itu akan tertutup oleh tempat tidur sehingga cahayanya tidak akan bisa keluar. Kemudian coba pegang lilin itu, dan angkat ke atas. Bagaimana sekarang? Lilin akan mampu menerangi ruangan yang gelap gulita. Ini sebuah percobaan kecil yang mudah untuk kita buktikan. Hal inilah yang menjadi awal sebuah perumpamaan tentang pelita.

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, maka kita pun menerima terang. Sebab Yesus adalah terang yang sejati. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Saat terang Yesus hadir dalam diri kita, maka terang itu pun akan menyinari kita semua; Kristus sendiri yang akan bercahaya atas kita. (Efesus 5:14). Dengan demikian kita yang dulu hidup dalam kegelapan, kini berubah menjadi anak-anak terang. “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” (Efesus 5:8). Hidup sebagai terang akan nyata ketika hidup kita berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran. (ay 9). Dan dengan hidup dalam terang, dimana darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. (1 Yohanes 1:7). Artinya, kita dilayakkan untuk menerima keselamatan. Namun terang yang kita peroleh dari sang “Terang Dunia” bukanlah dimaksudkan hanya untuk diri kita sendiri saja melainkan juga untuk menyinari saudara-saudara kita yang masih terperangkap dalam kegelapan. Ayat ini menegaskan hal itu. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2).

Pelita dinyalakan bukan untuk ditempatkan di bawah kolong atau ditutupi, namun agar cahaya bisa menerangi gelap, maka cahaya tersebut haruslah ditempatkan pada posisi yang benar. Bagaimana terang yang kita miliki mampu untuk menyinari orang lain, apabila kita terus menyembunyikannya di “kolong” hati kita? Terang kita tidak akan terlihat, tidak akan mampu menjangkau orang lain, sehingga kita gagal untuk melakukan amanat agung yang difirmankan Tuhan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Dan hal ini akan diperhitungkan pada hari penghakiman, dimana saat itu tidak lagi ada hal yang tersembunyi. All will be revealed. Hal inilah yang menjadi kelanjutan ayat bacaan di atas. “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22). Pada saat itu, siap atau tidak, kita harus mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan. Apakah kita hidup sesuai firman Tuhan atau tidak. Apakah kita sudah melakukan segalanya atas dasar kasih, atau malah mementingkan diri sendiri selama hidup. Apakah kita sudah melayani Tuhan dan pekerjaanNya, atau kita malas-malasan dan hanya menuntut berkat tanpa ingin memberkati. Semua itu akan dibuka pada hari penghakiman. Tuhan melengkapi kita dengan talenta, hendaklah talenta-talenta itu dilipat gandakan, digunakan untuk melayani dan menyelamatkan orang lain, digunakan untuk bekerja di ladang Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, bukan dipendam dalam tanah seperti yang tertulis dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30, Lukas 19:12-27). Lihat apa yang diputuskan Tuhan terhadap hamba yang malas ini. Pertama apa yang ia miliki diambil dan diberikan kepada orang yang melipat gandakan talenta (Matius 25:28), lalu ia dilempar ke dalam kegelapan tergelap, tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. (ay 30). Perhatikan kesamaan ayat dalam perumpamaan tentang talenta: “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya” (Matius 25:29) dengan ayat dalam perumpamaan tentang pelita. “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Markus 4:25). Dengan demikian kita bisa melihat dengan jelas relevansinya, bahwa jika kita menyia-nyiakan talenta kita, dan menyimpannya di bawah kolong, maka segalanya akan diambil dan kita akan menerima ganjarannya di tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. Sebaliknya, jika kita mempergunakan talenta-talenta kita untuk menjadi terang dan berkat bagi banyak orang, maka kepada kita akan ditambahkan lebih banyak lagi. Tuhan akan mencurahkan lebih banyak lagi berkat, yang kemudian mampu anda pergunakan pula untuk memberkati orang lain lebih banyak lagi.

Karena Tuhan mengasihi kita dan menjanjikan hidup yang kekal, hal tersebut bukan berarti bahwa kita boleh melakukan apapun dengan sesuka hati. Jangan pernah menyalah gunakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita! Pada saatnya nanti kita harus mempertanggungjawabkan segala yang dipercayakan Tuhan selama masa hidup kita. Ketika Tuhan telah mengaruniakan kita dengan terang, Dia akan melihat apa yang akan kita lakukan dengan terang itu. Apakah kita menerangi banyak orang dan lebih banyak lagi, apakah kita melipatgandakan talenta-talenta itu untuk tujuan mempermuliakan nama Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, atau memilih untuk tidak melakukan itu semua sama sekali dan menjadi orang yang self-centered. Pilihan ada di tangan kita, karena Tuhan sudah mencurahkan segalanya secara cukup bagi kita untuk mulai berbuat sesuatu. Tidak perlu malu, takut, merasa tidak sanggup dan sebagainya untuk menyatakan terang, karena “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” (Markus 4:24). Inilah perumpamaan tentang Pelita yang disebutkan Yesus. Saya berdoa semoga kita semua mampu menjadi terang yang benar, seperti halnya Kristus sang “Terang Dunia”. Dunia saat ini penuh dengan lingkup kegelapan, dan sangat membutuhkan seberkas sinar untuk meneranginya. Jika kita mau menjadi terang sesuai firman Tuhan, maka Tuhan akan berkata: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). It’s time to shine, let’s shine on!

Terang gunanya untuk menerangi, bukan untuk dipendam

Seberapa Besar Pengampunan Yang Telah Saya Terima?

Posted: 09 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Lukas 7:47
===================
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

besar pengampunan yang saya terima, sejauh mana Tuhan mengampuni dosaSeberapa besar pengampunan yang telah saya terima? Itu sebuah pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya malam ini. Saya menyadari masa lalu saya yang jauh dari baik, dan rasanya semua sudah saya bereskan di hadapan Tuhan sendiri. Namun tetap saja pertanyaan menggelitik ini muncul di saat saya sedang bersiap-siap tidur. Saya pun teringat pernah bertemu dengan beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka merasa tidak lagi punya kesempatan untuk mendapat tempat di surga. “dosa-dosaku sudah terlalu banyak…. tidak mungkin lagi ada pengampunan yang layak bagiku..” demikian kata seorang wanita malam pada suatu kesempatan ketika bertemu dengan saya sekian tahun yang lalu. Atau dalam keadaan bercanda, seorang teman pernah berkata: “udah tanggung… mau bertobat juga percuma, ya sekalian saja lah..” Begitulah terkadang manusia sulit menangkap konsep pengampunan yang disediakan Tuhan pada manusia. Maka pertanyaan yang muncul malam ini mungkin menjadi pertanyaan banyak orang. Seberapa besar batas maksimal pengampunan dari Tuhan? Sampai titik mana Tuhan tidak lagi sanggup atau bersedia mengampuni? Dan.. malam ini saya mendapat jawaban lewat ayat yang saya ambil dari sebuah perikop dalam Lukas 7.

Lukas 7:36-50 berbicara mengenai kisah Yesus yang diurapi oleh perempuan berdosa. Pada suatu hari, Simon orang Farisi mengundan Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus pun datang. Di kota itu ada seorang perempuan yang berkubang dalam lumpur dosa. Ketika ia mendengar kedatangan Yesus ke rumah Simon, dia pun datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Apa yang ia lakukan saya anggap mengharukan. Dia mendekati Yesus dari belakang, lalu menangis hingga membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Menyadari itu, ia pun menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Lalu ia mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi yang sudah ia bawa. Melihat kejadian itu, Simon orang Farisi pun bergumam dalam hatinya. Katanya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” (ay 39). Dalam bahasa Inggrisnya lebih tajam lagi, dikatakan bahwa perempuan itu adalah “a notorious sinner,a social outcast, devoted to sin.” Lalu Yesus memanggil Simon dan memberi sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang. Yang satu berhutang 500 dinar, sedangkan satunya “hanya” 50 dinar. Karena tidak sanggup membayar, orang yang dipiutangi memberi pengampunan, menghapuskan hutang keduanya. Yesus bertanya: “Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” (ay 42). Dan demikian jawaban Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” (ay 43). Benar. Apa inti pertanyaan Yesus? Mari kita baca penjelasan dari Yesus. ” Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.” (Ay 44-46). Dan kita sampai pada kesimpulan: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (ay 47). Dan wanita yang dianggap “notorious sinner, devoted to sin” itu pun diampuni. “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni…Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (ay 48,50).

Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, baik besar maupun kecil. Dia disiksa, dipaku dan mati di kayu salib untuk sebuah karya penebusan luar biasa. Sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, hati yang remuk, tersungkur di kakiNya mengakui segala dosa-dosa yang telah kita perbuat, pengampunan pun segera Dia sediakan bagi kita. Perkataan yang sama akan Yesus berikan pada kita juga. “Dosamu telah diampuni…Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” Haleluya!

Semakin besar dosa kita, semakin besar pula penghargaan akan sebuah pengampunan. Sebesar apa dosa anda yang anda rasakan memberatkan hidup anda hari ini? Anda merasa Yesus tidak berkenan lagi mengampuni? Salah. Dia selalu rindu untuk mengampuni kita, apapun latar belakang kita sebelumnya. Orang yang menyadari dan mengakui dosa-dosaNya sudah diampuni, dan penghargaan akan pengampunan itu akan berbuah kasih yang besar pula pada sesama. Lihat ayat berikut ini: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32). Makna ayat tersebut bisa memiliki efek yang jauh lebih besar bagi mereka yang sudah ditebus dari dosa-dosa yang mungkin bagi manusia tidak terampuni. Yang diperlukan adalah pengakuan kita dan pertobatan kita, disertai sebuah komitmen untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama. Hati yang remuk dan hancur jika kita bawa ke hadapan tahta Allah akan menjadi sebuah korban sembelihan bagi Dia. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Sukacita sejati adalah mengakui betapa buruknya dan besarnya dosa-dosa kita lalu membandingkannya dengan sebesar apa kita telah diampuni. Maka tidak perduli sebesar apa dosa yang membelenggu anda hari ini, percayalah bahwa pengakuan anda akan membawa anda pada sebuah pengampunan total dari Tuhan yang begitu mengasihi anda. Miliki sukacita sejati hari ini juga!

Lepaskan diri anda dari belenggu dosa hari ini juga, ketahuilah bahwa pengakuan anda dihadapanNya akan berbuah sebuah pengampunan penuh

Every Sin Is A Serious Sin

Posted: 10 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 25:11
======================
“Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.”

semua dosa itu serius, all sin is a serious sin, menyadari kesalahan, mengakui dosaKemarin malam saya makan di sebuah warung bersama istri saya. Setelah membayar dan beranjak keluar, saya menyadari bahwa kasirnya memberi kembalian yang salah, jauh melebihi kembalian yang seharusnya ia berikan. Saya segera kembali lagi dan mengembalikan uang lebih yang telah ia berikan kepada saya. Saya merasa sangat gembira karena memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut dan tidak memanfaatkan kesalahan kasir itu demi keuntungan saya. Bayangkan jika sang kasir harus mengganti uang itu dengan gajinya sendiri. Tapi lebih dari itu, saya merasa senang karena sanggup bersikap jujur ketika ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan meski dengan cara yang tidak benar. “tapi itu kan bukan salahmu? itu salah kasir… ya nasibnya deh..” itu mungkin kata dunia, bahkan terkadang kata-kata itu seolah “dibisiki” sebagai pembenaran agar kita terjerumus dalam dosa. Atau jangan-jangan jika kita melakukan itu, teman-teman kita bisa menertawakan kita dan berkata: “ah, sok alim!” Generasi yang sudah bengkok tentu akan melihat itu sebagai sebuah kesempatan yang alangkah sangat bodohnya jika tidak dimanfaatkan.

Dulu saya akan segera kabur jika kasir salah mengembalikan uang sehingga menguntungkan saya, tetapi saya menjadi orang yang protes duluan jika kesalahan kembalian itu merugikan saya. Jika naik pesawat, saya kerap mengambil majalah di pesawat, mengantungi gula bahkan sendok garpu. “saya kan sudah bayar mahal-mahal..wajar dong..” itu pikiran saya waktu itu. Bagi saya, dosa itu tidaklah seberapa. Toh saya tidak membunuh, saya tidak merampok bank, saya tidak memakai narkoba, saya tidak menyumpahi orang, saya tidak judi, saya tidak mabuk-mabukan dan sebagainya. Tapi itu adalah salah, karena dosa tetaplah dosa. Dosa tidak memandang besar atau kecil, karena dosa apapun tetap memisahkan kita dari Allah. “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. (Yesaya 59:2). Mengutil, mengambil sesuatu yang bukan hak kita, sekecil apapun, tetaplah sebuah dosa yang memisahkan kita dari Tuhan. Menyambung renungan kemarin, ketika Simon orang Farisi ditegur Tuhan (lihat injil Lukas 7:36-50), bukanlah menerangkan bahwa dosa Simon jauh lebih “kecil” dibanding dosa wanita yang berkubang dosa, namun teguran itu mengacu pada sebuah peringatan bahwa Simon tidak dapat atau tidak mau melihat dosanya sejelas wanita itu melihat dosanya. Begitulah manusia, kita seringkali menghakimi orang lain, melihat dosa-dosa orang lain dan merasa bahwa diri kita tidak seburuk mereka. Itu sebuah pandangan yang keliru, karena, sekali lagi, dosa tetaplah dosa. No matter what, no matter how. Hati kita bisa dengan cepat terkontaminasi dengan provokasi-provokasi dan tipu daya iblis. Hati adalah organ yang rentan, jika tidak kita jaga, hati kita akan penuh dengan kebusukan dan kelicikan dalam waktu yang sangat singkat. Yeremia pun menyadari itu. “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Kita tidak sadar, bahwa dengan berbuat dosa-dosa yang kita anggap “kecil” lengkap dengan pembenaran-pembenaran versi kita, kita sama buruknya dengan orang-orang yang kita anggap penuh dengan dosa besar.

Ketika kemarin kita melihat bahwa Tuhan Yesus disiksa, dipaku hingga mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa “yang besar” sekalipun, hari ini marilah kita menyadari bahwa Dia pun melakukannya demi dosa-dosa yang kita anggap kecil tadi. Yesus disalibkan karena kemalasan kita. Yesus disalibkan karena gosip-gosip kita. Yesus disalibkan karena kita mengutil majalah di pesawat. Yesus disalibkan karena kita memanfaatkan kekeliruan kasir. Yesus disalibkan karena kita membuang sampah sembarangan. Dan segudang dosa-dosa yang kita anggap tidak ada apa-apanya. Ingatlah bahwa semua dosa bersifat serius dan memisahkan hubungan kita dengan Allah. Menyadari itu, marilah malam ini kita berhenti mengkategorikan dosa. Mulailah menganggap dosa apapun itu sebagai sesuatu yang serius, dan berani mengakui seluruh dosa kita di hadapan Allah. Kita semua adalah manusia yang lemah, yang setiap saat tidak luput dari dakwaan dan tipu daya iblis. Lawanlah itu dengan membuka semua dosa dihadapan Allah dan sesama kita kemudian berhenti berbuat dosa. Jangan beri iblis peluang untuk menipu kita. Ketika godaan untuk itu datang, ingatlah bahwa Yesus telah disiksa, dipaku dan mati di atas kayu salib untuk seluruh dosa-dosa kita. Hargai dan bersyukurlah atas karya penebusan Kristus dengan berkomitmen untuk tidak berbuat dosa, walau se”kecil” apapun.

There’s no such thing as a small sin… every sin is a serious sin!

Buah Ketaatan

Posted: 11 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Amsal 13:13
=====================
“Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.”

buah ketaatan, taat dan melakukan firman, berlipat kali gandaSudah lama saya berharap agar website musik jazz yang saya sudah saya kelola selama lebih dari setahun bisa menghasilkan keuntungan. Dalam 3 bulan terakhir Tuhan memang telah membukakan begitu banyak pintu berkat, sehingga situs tersebut mulai dikenal bukan saja di Indonesia tapi juga di luar. Saya mulai mendapat banyak respon dari jumlah pengunjung yang terus meningkat. Saya juga mulai mendapatkan permintaan review album dan wawancara dari banyak artis mancanegara. Haleluya, puji Tuhan, karena tanpa Tuhan saya yakin perjuangan dan usaha saya tidak akan mampu mencapai peningkatan seperti itu. Tapi secara finansial, website itu belumlah mampu menghasilkan.

Kira-kira seminggu yang lalu, saya hendak mengganti skin layout dari website itu. Dan ketika memilih-milih, saya pun bertemu dengan sebuah template yang menarik dan rasanya pas bagi website saya. Ternyata template itu tidak gratis, dan harganya lumayan mahal, sekitar US $40. Sedangkan tempat dimana saya menemukan template tersebut ternyata sebuah forum yang menyediakannya secara bajakan. Secara mudah sebenarnya saya bisa mempergunakan template itu dengan gratis, habis perkara. Tapi di saat itu hati nurani saya terasa menentang hal tersebut. Uang sejumlah $40 itu bukanlah jumlah yang kecil bagi saya. Namun saya memilih untuk belajar taat pada firman Tuhan, dan memilih untuk membayar jumlah tersebut kepada pembuatnya. Betapa lega rasanya bisa terhindar dari melakukan perbuatan curang. Saya merasakan sukacita meskipun mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar.

Tepat seminggu kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi. Secara luar biasa saya mendapatkan pemasangan iklan dalam situs tersebut sebanyak tiga buah, dan jumlah yang saya peroleh dari iklan tersebut adalah lebih dari 10 kali lipat dari US $40 yang saya keluarkan seminggu sebelumnya. Lebih dari 10 kali lipat! Wow.. puji Tuhan! Tuhan menggenapi janjinya, ketika saya memilih untuk taat mendengar firmanNya. Haleluya.

Amsal menuliskan bahwa “Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” Dalam bahasa inggrisnya berbunyi demikian: “Whoever despises the word and counsel [of God] brings destruction upon himself, but he who [reverently] fears and respects the commandment [of God] is rewarded.” (Amsal 13:13). Ayat ini digenapi secara luar biasa. Lihatlah buah yang kita hasilkan dari ketaatan. Tuhan menjanjikan dalam banyak kesempatan bahwa Dia sanggup melimpahkan berkatNya ketika kita mau taat kepada firmanNya. Tuhan selalu menepati janjiNya, dan hari ini saya mengalaminya sendiri. Apabila kita taat, maka kita akan diberkati bahkan ditambahkan berlipat-lipat. Serangkaian ayat mengenai berkat dalam Ulangan 28, dimana salah satunya berbunyi: “Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu.” (ay 8) merupakan serangkaian janji Tuhan dalam melimpahkan berkatNya buat kita. Namun itu semua haruslah dimulai dengan keputusan-keputusan kita dalam hidup untuk taat kepada perintahNya. Awal dari perikop berkat adalah sebagai berikut:“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.” (ay 1). Semua berkat Dia sediakan bagi kita, jika kita mendengarkan baik-baik suara Tuhan, dan tidak berhenti hanya pada mendengarkan, melainkan melanjutkannya dengan melakukan Firman secara nyata dengan setia. Jika ini kita lakukan, maka Tuhan akan melimpahkan berkatNya secara luar biasa. Sebuah kebahagiaan bagi saya hari ini untuk menjadikan apa yang saya alami sebagai sebuah kesaksian, betapa Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan setia menggenapi semua janjiNya.

Bagi orang yang banyak berkecimpung di dunia maya seperti saya, masalah bajak membajak sebenarnya merupakan hal yang lumrah, kita bisa menjumpai segalanya di internet dan mendapatkannya secara ilegal. Namun lihatlah apa yang saya petik sebagai buah ketaatan dan kejujuran. Tuhan memperhitungkan segala yang kita perbuat dan putuskan. Itu pasti. Setiap perbuatan curang, sekecil apapun, merupakan kekejian bagi Tuhan. “..setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 25:16). Dalam Ayub kita membaca: “Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka. Tetapi, jikalau mereka tidak mendengar, maka mereka akan mati oleh lembing, dan binasa dalam kebebalan.” (Ayub 36:11-12). Dalam surat Paulus kepada Titus pun ia mengingatkan demikian: “Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.” (Titus 2:9-10). Terkadang tidak mudah untuk taat, terlebih ketika kita harus menderita atau mengalami kerugian terlebih dahulu. Seperti apa yang saya alami, tidaklah mudah untuk mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar, namun ketika saya memutuskan untuk taat, kini saya memetik buahnya. Belajarlah untuk senantiasa berlaku taat dan jujur, dalam hal sekecil apapun. Ketika anda memilih untuk taat dan melakukan sesuai Firman, Tuhan sanggup memberkati anda berlipat kali ganda. Lakukan bagian kita, dan Tuhan akan melakukan bagianNya.

Ketaatan yang ditanam akan menghasilkan buah berlipat ganda

Ungkapan Kasih Nyata

Posted: 12 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:13
======================
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

sebentuk kasih nyata, valentine, hari kasih sayangBagi banyak pasangan, hari kasih sayang alias valentine’s day yang akan tiba dua hari lagi merupakan sebuah agenda penting untuk menyatakan kasih sayang pada pasangannya, baik lewat ucapan, puisi, sekuntum atau sebuket bunga, kartu, kado, candle light dinner dan sebagainya. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang justru membenci hari valentine ini. Mungkin wajar jika hal itu datang dari saudara-saudara kita yang tidak seiman yang mengaitkan valentine sebagai sebuah perayaan Kristen, tapi ternyata di antara saudara seiman pun hal yang sama bisa terjadi. Ada banyak orang yang mengalami kekecewaan dalam hubungannya berkali-kali, ada yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua atau keluarganya, ada yang mati rasa, hambar bahkan pahit. Ada seorang teman yang memiliki kebiasaan untuk memutar lagu-lagu yang disebutnya sebagai “anti valentine songs”. Ada banyak lagu-lagu yang anti kasih, bercerita tentang kesendirian, tidak perlu cinta hingga lirik penuh kebencian. Mungkin artis-artis itu pun punya pengalaman pahit tentang sebuah kasih. Ketika saya tadi bercerita dengan salah seorang murid saya tentang itu, dia berkata: “wah kasihan banget…” Ya, kita seringkali merasa kasihan, tapi akhirnya berhenti hanya sampai sebuah ucapan kasihan saja. Sadarilah, ada banyak orang disekitar kita yang mungkin belum pernah mengenal kasih sama sekali, atau sudah skeptis dan menganggap cinta kasih hanyalah omong kosong belaka.

Apakah benar manusia itu tidak butuh kasih? apakah kasih itu hanya sesuatu yang semu dan tidak pernah nyata? Bagi mereka di atas, mungkin jawabannya ya. Walaupun saya yakin, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka pun sama seperti kita, yang butuh dicintai dan ingin bisa mencintai. 1 Korintus 13 berbicara panjang lebar mengenai kasih. Kasih disana digambarkan bukan hanya sebatas dicintai oleh orang lain, namun lebih jauh berbicara mengenai memiliki sebentuk kasih. Lihatlah apa yang dikatakan mengenai kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” (1 Korintus 13:4-6). Lebih jauh lagi, orang yang memiliki kasih akan tahan menghadapi segala sesuatu, dan mau melihat sisi baik dari setiap orang, tidak pernah kehilangan harapan dan sabar. “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (ay 7). Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lengkap, tapi kasih tidak berkesudahan. (ay 8). Tidak akan pernah ada saat dimana orang tidak perlu saling mengasihi. Itu firman Tuhan. Bahkan begitu pentingnya kasih, sehingga diantara yang penting untuk tetap kita lakukan, yaitu iman, pengharapan dan kasih, Tuhan mengatakan yang terpenting diantara itu semua adalah kasih. (ay 13). Mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, itulah yang terpenting.

Puji Tuhan. Baru saja saya mendapat telepon dari seorang sosok legendaris jazz yang tidak pernah putus pengharapan dari Tuhan. Beliau bercerita bahwa hari Natalnya kemarin diisi dengan makan bersama para tetangganya yang tidak mampu. “Tidak peduli apa agamanya, karena Tuhan yang saya kenal mengasihi siapapun tanpa pandang bulu..” itu katanya. Beliau menceritakan betapa repotnya membelikan kado untuk setiap anak-anak sebelum pesta. Tapi rasa lelahnya terobati begitu melihat sukacita dari anak-anak yang tidak mampu itu ketika mereka merasakan sebuah bentuk kasih. “Tidak perlu jauh-jauh lho… di sekitar kita pun banyak orang yang butuh uluran tangan, bahkan merindukan rasa disayangi..” katanya. Haleluya! Ternyata Tuhan menyampaikan tambahan lewat sang artis legendaris tepat disaat saya sedang menuliskan renungan ini. Ini bentuk kasih, yang tidak hanya berhenti sebatas ucapan kasihan. Kepedulian itu dinyatakan lewat sebuah tindakan nyata yang bisa memberkati begitu banyak orang. Orang-orang yang mungkin tadinya dipinggirkan dan diabaikan, pada malam Natal itu mendapat sebuah bentuk kasih nyata dari seseorang yang sangat sadar betapa Tuhan mengasihinya, dan sangat sadar pula bahwa kasih dari Tuhan itu harus pula ia bagikan kepada orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. “It was really joyful.. saya benar-benar merasakan kehadiran Tuhan saat itu..” katanya.

Mudah bagi kita untuk merasa kasihan, namun seringkali sulit bagi kita untuk melakukan tindakan nyata sebagai bentuk kepedulian kita. Jangan berhenti hanya sebatas ucapan saja. Ada begitu banyak orang yang menjadi tawar karena tidak lagi merasakan kasih dalam hidupnya, dan mereka ini ada di sekitar anda dan saya. Jika anda menganggap bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup anda, jika anda tahu bagaimana rasanya dikasihi dan mengasihi, sekarang saatnya untuk membagikan sukacita yang sama pada mereka yang membutuhkan. Hari valentine yang diperingati sebagai hari kasih sayang hendaknya bisa pula dipakai sebagai sebuah hari yang bukan saja khusus untuk kekasih atau orang-orang terdekat saja, namun jadikan itu sebagai titik tolak bagi kita untuk membagi kasih kepada sesama manusia, tanpa terkecuali.

Semakin anda mengenal kasih Tuhan, hendaknya semakin banyak pula kasih yang kita berikan pada sesama

Valentine’s Day: A Day Of Love

Posted: 13 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:7
===========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”

valentine's day, hari kasih, nyatakan cintaAda berapa banyak kartu valentine yang dikirimkan dalam setahun? Dari wikipedia saya mendapatkan datanya. Menurut The US Greeting Card Association, diperkirakan ada sekitar 1 milyar kartu valentine yang dikirimkan di seluruh dunia. Angka ini menjadikan hari valentine sebagai hari raya terbesar setelah Natal untuk urusan berkirim kartu. Itu adalah kartu yang dikirim lewat pos, belum lagi ucapan lewat e-card, sepucuk surat cinta, sms, telepon atau yang merayakan secara langsung tanpa kartu. Dalam merayakan valentine pun biasanya orang punya tradisi untuk mengajak orang yang dicintai ke restoran menikmati candle light dinner. Bunga mawar, atau bertukar kado, itu pun menjadi sebuah kebiasaan bagi banyak orang. Ada banyak restoran menawarkan paket valentine lengkap dengan sekuntum bunga dan paket-paket acara spesial lainnya, toko-toko dan mal pun biasanya membuat dekorasi khusus valentine.

Seberapa pentingkah sebuah perayaan valentine? Ada orang yang beranggapan tidak penting, karena merupakan pemborosan. Ada yang beranggapan tidak perlu, karena mereka tidak memerlukan satu hari khusus untuk menyatakan cinta kasih mereka. Ada yang beranggapan perlu karena di hari itu mereka bisa menyatakan perasaan mereka dengan nuansa yang berbeda dibanding hari-hari biasanya. Sebenarnya akan sangat baik jika kita mampu mengungkapkan perasaan sayang dan cinta kasih kita kepada orang-orang terdekat setiap hari. Namun seringkali kehidupan kita tidak memungkinkan kita untuk demikian. Sibuk bekerja, sibuk belajar, berbagai aktivitas yang menyita sebagian besar waktu kita, membuat kita tidak sempat untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta kita kepada orang-orang yang sangat kita kasihi. Maka bagi saya, hari valentine bisa dipakai sebagai sebuah hari yang kita sediakan secara khusus buat orang-orang yang spesial bagi kita.

Ketika tragedi 9/11 terjadi tahun 2001 yang lalu, ada begitu banyak orang menyadari bahwa mereka tidak seharusnya menunda lebih lama lagi untuk menyampaikan ucapan cinta kepada orang-orang terdekatnya, sebelum semuanya terlambat. Berbagai kisah dramatis dan tragis muncul dari para korban dan orang-orang yang ditinggalkan. Ada yang sempat menelpon dari pesawat sebelum pesawatnya ditabrakkan ke gedung WTC, dan kata terakhir mereka adalah “I love you..” Ada banyak pula orang yang menyesal terlambat menyatakan cinta mereka ketika orang yang mereka kasihi masih hidup. Kesibukan dan aktivitas sehari-hari membuat kita lupa untuk itu, bahkan sekedar ucapan singkat sekalipun. Dan mungkin sudah sifat manusia untuk terlena ketika semuanya masih ada, kemudian baru sadar ketika kesempatan untuk itu sudah tidak ada lagi. Tidak perlu ada hari khusus jika kita sanggup menyatakan kasih kita kepada pasangan, keluarga dekat dan teman-teman kita setiap hari. Namun jika kita menyadari betapa hari-hari kita begitu padat sehingga tidak sempat untuk itu, maka hari valentine bisa kita pakai sebagai sebuah momen yang indah untuk mengungkapkan kasih kita pada mereka.

Jangan berhenti hanya pada pasangan atau kekasih anda saja, ingatlah bahwa ada orang-orang yang sangat bermakna dalam hidup kita. Orang tua kita, kakek dan nenek, saudara, sahabat dan teman-teman, mungkin juga tetangga, dosen/guru dan sebagainya. Ayat bacaan hari ini mengajak kita untuk saling mengasihi secara luas, karena kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi adalah orang yang lahir dari Allah dan mengenal pribadiNya. (1 Yohanes 4:7). Yesus pun mengajarkan yang sama. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bahkan Yesus memberi sebuah dimensi baru mengenai kasih, yaitu sebuah kasih seorang yang begitu besar hingga sanggup memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13). Tidak hanya mengajarkan, namun Yesus telah melakukannya sendiri lewat karya penebusanNya di atas kayu salib, karena Dia begitu mengasihi kita.

Valentine’s day is a day of love. Berikan perhatian khusus dan ucapan atau ungkapan kasih anda pada semua orang-orang terdekat anda. Ketika anda bertemu dengan pengemis, setidaknya berikan senyum anda. Ada banyak orang yang kehilangan kasih di sekitar kita. Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang tuanya, keluarga broken home, suami/istri yang bermasalah, orang-orang yang hidupnya begitu susah, dan sebagainya. Alangkah indahnya jika hari ini tidak hanya dipakai untuk kerabat terdekat saja, tapi sebagai titik tolak untuk membagikan sebentuk kasih yang kita terima dari Allah. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11). Jika kita saling mengasihi, Allah ada di dalam kita dan kasihNya sempurna di dalam kita. (ay 12). Selain itu, anda bisa memanfaatkan hari kasih ini untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sedang retak. This is the moment. Let’s celebrate love’s day by sharing God’s love to each other. Happy Valentine’s day, my friends.. God bless you all.

Nyatakan kasih secara khusus hari ini, sebelum semuanya terlambat

Katakan Cinta Hari Ini

Posted: 14 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kidung Agung 1:15-16
===========================
“Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.”

katakan cinta, ungkapan cinta, romantis, mencintai istri, mencintai suami, valentineKemarin saya kaget membaca status seorang teman saya di facebook. Sebut saja namanya X. Disana tertulis: “X is sad.. my husband told me I was a rhino..duh..” Bagaimana seorang suami tega menyebut istrinya seperti badak? Mungkin maksudnya bercanda, tapi bercanda juga kira-kira dong… itu yang ada di benak saya. Atau kalaupun teman saya tadi memang gemuk, bukan begitu caranya berkata pada istri sendiri. Saya jadi ingat pernah membaca sebuah survey mengenai suami istri. Hasil yang diperoleh ternyata mencengangkan.. Ada banyak yang berkata bahwa mereka tidak pernah menerima pujian, kemudian disusul pula dengan “jarang sekali, hampir tidak pernah.” Ada yang pernah berkata dia tidak ingat lagi kapan terakhir kali dipuji oleh pasangannya. Seorang teman pernah berkata sambil tertawa bahwa ia bisa membedakan pasangan yang masih pacaran dan sudah menikah hanya dari perilaku mereka di restoran. Yang masih pacaran, katanya, akan terlihat sangat mesra, mata seolah-olah tidak bisa lepas dari tatapan ke arah kekasihnya. Sedangkan yang sudah menikah? Biasanya cuek dengan kesibukan masing-masing. Dua-duanya sibuk main ponsel, atau satu baca koran, satunya sms-an. Di sisi lain ada orang yang sulit memuji. Tidak terbiasa untuk memuji dari kecil, bukan lahir di lingkungan keluarga yang saling menghargai, ada yang merasa risih untuk memberi pujian, ada yang malu, bahkan ada pula yang takut pujian mereka bisa membuat orang lain besar kepala.

Ada banyak bentuk memang yang bisa dipakai untuk menyatakan sebentuk cinta atau kasih kepada sesama. Cinta bukan hanya sebatas di bibir saja, melainkan lewat perbuatan. Itu benar. Dan semua bentuk yang dipakai untuk menyatakan cinta kasih sepanjang dilakukan dengan tulus tentunya patut dihargai. Tapi ingatlah bahwa manusia tetap butuh sebentuk pernyataan cinta kasih, pujian dan penghargaan lewat perkataan. Kita sering mudah menegur atau mengkritik jika ada yang salah, namun sulit memberikan pujian ketika mereka melakukan sesuatu yang baik. Bagi banyak pasangan suami istri, seiring perjalanan waktu, kebersamaan itu mulai terasa biasa-biasa saja, romantisme menurun. Kesibukan, kehadiran anak-anak, dan rutinitas, misalnya, bisa membuat sebuah hubungan lama-lama menjadi datar. Lama-lama, ucapan “my wife is like a rhino..”, atau “suamiku seperti karung goni bentuknya” pun bisa keluar. Padahal lihatlah betapa tidak pantasnya ucapan seperti ini ditujukan bagi pendamping hidup kita yang sudah menjadi satu daging, dan dimateraikan langsung oleh Tuhan.

Membaca Kidung Agung membuat saya berpikir, betapa indahnya sebuah hubungan cinta antara dua sejoli yang menikah. Begitu banyak pujian puitis sepanjang kitab ini, dan itu menunjukkan betapa bentuk ungkapan kasih lewat perkataan tulus kepada pasangan kita merupakan hal yang penting di mata Tuhan. Ayat bacaan hari ini misalnya: “Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.” (dalam bahasa Inggrisnya: “Behold, you are beautiful, my love! Behold, you are beautiful! You have doves’ eyes. [She cried] Behold, you are beautiful, my beloved [shepherd], yes, delightful! Our arbor and couch are green and leafy.”) (Kidung Agung 1:15-16). Indah bukan? Begitu banyak lagi ayat-ayat yang sangat puitis dan berterus terang mengenai hubungan romantis antara suami dan istri sepanjang Kidung Agung. Cinta yang dianugrahkan Tuhan bagi kita itu sangatlah kuat. Begitu kuatnya sehingga disebutkan air sebanyak apapun tak akan dapat memadamkan api cinta. “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. ” (8:7).

Begitu pentingnya sebuah ungkapan cinta, pujian dan penghargaan. Sebegitu pentingnya, sehingga kita sering mendengar hancurnya sebuah hubungan keluarga akibat tidak ada kehangatan cinta kasih yang keluar dari perkataan. Tuhan sendiri bagaimana? Meski Tuhan selalu mementingkan dan menguji hati manusia, bentuk ucapan bibir penuh ungkapan syukur untuk memuliakan namaNya pun Dia rindukan. “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). Kapan terakhir kali anda memuji pasangan anda? Sudah berapa lama anda menyatakan sebuah ungkapan cinta dan penghargaan padanya? Jangan tunda lagi, katakan hari ini juga, betapa anda mencintai mereka. Betapa anda bersyukur pada Tuhan karena anda telah dianugrahi seorang pasangan yang begitu luar biasa.

Ungkapan cinta, pujian dan penghargaan mampu memperkokoh dan menjaga kehangatan sebuah hubungan

Jangan Menunda Pekerjaan

Posted: 15 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Pengkotbah 11:6
============================
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”

jangan menunda pekerjaan, tetap semangat, bekerja dengan giatBeberapa hari ini pekerjaan rasanya begitu menumpuk. Saya merasa sangat lelah. Tadi sore saja ketika saya mengajar di kelas untuk ketiga kalinya dalam hari ini, nafas saya sudah tersengal-sengal. Mata rasanya perih, sulit konsentrasi dan fokus pada sesuatu. Yang lebih mengesalkan, sesampainya di rumah nanti pun saya masih harus mengerjakan banyak hal. Ada beberapa pekerjaan menanti dan seharusnya diselesaikan malam ini juga. Ketika di jalan pulang pun saya mengendarai mobil ekstra hati-hati, karena saya tahu konsentrasi saya sedang lemah. Di kampus saya sempat berpikir untuk langsung tidur setelah pulang ke rumah agar stamina saya bisa kembali meningkat. Saya sudah merencanakan untuk menunda pekerjaan saya di depan komputer malam ini hingga besok. Tapi di jalan, saya tiba-tiba diingatkan akan ayat yang saya jadikan ayat bacaan di atas. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkotbah 11:6). Sejenak saya sempat bertanya, apakah Tuhan tidak tahu kalau saya sedang mengalami keletihan yang luar biasa? “Tuhan, saya ingin istirahat…, please..I’m exhausted.” itu yang saya katakan, namun ayat ini kembali hadir dalam hati saya. Kemudian saya sempat berpikir, apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat ini. Apakah ayat ini bermaksud agar kita semua menjadi workaholic akut alias orang-orang gila kerja? Apakah kita diminta untuk fokus pada pekerjaan dan menomorduakan keluarga bahkan Tuhan?

Tidak. Tidak demikian. Saya mendapat pencerahan dari Roh Kudus. Apa yang dimaksud pada ayat itu adalah sebuah peringatan agar kita tidak menunda-nunda pekerjaan. Mengapa demikian? Karena kemampuan kita terbatas untuk mengetahui yang mana yang akan berhasil, atau bahkan kedua-duanya sama baik. Pekerjaan saya memang beragam. Yang mana yang akan berhasil? salah satu atau keduanya? Kita tidak akan pernah tahu kapan berkat Tuhan turun atas kita lewat pekerjaan yang kita lakukan. Alangkah ironisnya jika berkat Tuhan itu lewat begitu saja hanya karena kita menunda pekerjaan kita. Saya juga diingatkan bahwa Tuhan telah mencukupkan segala-galanya bagi saya untuk mampu bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak ada alasan untuk mengeluh, karena toh saya tidak bekerja dengan kekuatan saya sendiri. Ada Tuhan yang selalu bersama saya yang siap setiap saat untuk menopang dan meneguhkan semangat saya. Apa yang harus saya lakukan sangat jelas: komitmen dan semangat untuk terus menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Itu bagian saya. Then let God do His part.

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10) Ayat ini juga mengingatkan kita agar kita bekerja sungguh-sungguh dengan semampu-mampunya kita. Idealnya adalah menganggap apapun yang kita kerjakan seperti mengerjakannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Bagaimana dengan keletihan yang saya alami? Ada Tuhan Yesus yang sanggup meringankan kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28).

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan pekerjaan saya malam ini. Ternyata saya masih punya cukup tenaga, bahkan lebih dari cukup hingga saya masih mampu menulis renungan ini dengan penuh sukacita. Pekerjaan sebanyak apapun tidak seharusnya membuat kita menomorduakan Tuhan. Saya percaya Tuhan menghargai setiap jerih payah anak-anakNya yang tulus melayani Dia bukan karena hal-hal keduniawian tapi semata-mata karena mengasihiNya. Apa saya masih merasa letih saat ini? Begini yang saya rasakan: jika saya rebah di tempat tidur setelah ini, saya tahu saya akan tidur nyenyak dengan seuntai senyum di bibir, karena saya berhasil menyelesaikan pekerjaan, tidak jadi menundanya, dan terlebih karena Tuhan ternyata ada bersama saya dan menopang dan memberi kekuatan. Haleluya!

Tuhan tidak suka orang yang malas. Bahkan dengan tegas dalam Yeremia dikatakan: “Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai” (Yeremia 48:10). Di dalam segala hal, dalam keadaan sulit atau letih sekalipun, jangan pernah melupakan puji-pujian akan Tuhan. Karena kemudian Roh Tuhan akan berkuasa atas kita, dan memampukan kita melakukan segalanya dengan penyertaan Tuhan. “Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau.” (1 Samuel 10:6-7). Tetap lakukan apa yang menjadi tugas kita dengan penuh semangat. Jangan pandang pekerjaan menumpuk sebagai beban menyiksa, namun pandanglah itu sebagai sebuah berkat dari Tuhan. Apakah salah satu pekerjaan akan berhasil, atau kedua-duanya, itu bukan menjadi masalah kita. Biarlah Tuhan yang memutuskan. Yang saya tahu pasti, jika kita rajin membaca, merenungkan dan melakukan firmanNya, Dia akan memberkati segala pekerjaan yang kita lakukan, dan apa saja yang kita buat akan berhasil. (Mazmur 1:2-3)  Do your part by doing your best in all your works. Jangan biasakan menunda pekerjaan. Dan lihatlah bagaimana luar biasanya Tuhan memberkati pekerjaan anda.

Jangan menunda pekerjaan, tapi giatlah bekerja hingga selesai

Tinggalkan Masa Lalu

Posted: 16 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Kejadian 19:26
=====================
“Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”

menoleh ke belakang, dibelenggu masa lalu, di bawah bayang bayang masa laluSebuah pertanyaan hadir di hati saya hari ini. Mengapa ada orang yang selalu gagal dalam hidupnya? Ada yang sudah berulang kali didoakan namun tetap saja mereka sulit bangkit. Ada orang yang saya benar-benar saya kenal mengalami hal ini. Hidupnya statis dalam segala keterbatasan, jika tidak disebut kekurangan. Padahal dia hidup baik dan rajin membaca firman Tuhan setiap hari. Apakah Tuhan tidak memberkatinya? Apakah janji Tuhan hanya berlaku bagi sebagian kecil orang yang terpilih? Saya yakin tidak, karena janji Tuhan berlaku bagi semua orang. Lantas apa yang menyebabkan? Ayat bacaan hari ini hadir dalam hati saya. Salah satu penyebabnya ada dalam ayat ini.

Salah satu penyebab orang sulit bangkit adalah ketika mereka terbelenggu masa lalu. Dalam ayat mengenai kisah Sodom dan Gomora kita melihat bagaimana istri Lot yang seharusnya ada dalam rencana penyelamatan Tuhan ternyata berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Apa yang terjadi? Dia berubah menjadi tiang garam. Kita fokus kepada kata “menoleh ke belakang”. Menoleh ke belakang maksudnya adalah dikuasai masa lalu, dihantui berbagai hal traumatis, kegagalan atau timbunan dosa-dosa di masa lalu. Ada juga orang yang mengalami kepahitan akibat disakiti orang terdekat, kejadian-kejadian buruk dalam berbagai hal, yang begitu berat, sedemikian rupa sehingga mereka yang mengalami ini menjadi terus terikat dengan bayang-bayang masa lalunya. Mereka menjadi sulit maju, karena mereka terikat dengan hal-hal traumatis yang pernah terjadi. Ada yang jadi statis, tidak bertumbuh, tidak berkembang, jalan di tempat, tidak sedikit pula yang akhirnya  malah terperosok semakin dalam. Istri Lot sebenarnya ada dalam rencana Tuhan untuk diselamatkan, namun ia memilih untuk menoleh ke belakang. Sebuah pilihan yang membawa konsekuensi fatal, ia berubah seketika menjadi tiang garam.

We have to start to move forward, we really have to do it now. Ingat iblis sang pendakwa akan selalu menuduh anda dengan segala hal di masa lalu untuk memperlambat anda, menghentikan anda, bahkan memundurkan anda ke belakang. Iblis sangat tidak suka jika anda maju. Yesus mengingatkan hal yang sama. Mari kita lihat kisah mengenai seseorang yang mau mengikuti Yesus namun memilih untuk berlama-lama. “Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.”(Lukas 9:61). Apa jawab Yesus? “Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”(ay 62). Tuhan rindu setiap kita untuk maju. Dia rindu untuk mencurahkan berkat-berkatNya, namun bayang-bayang masa lalu kerap membuat kita selalu menoleh ke belakang, dan dengan demikian gagal mencapai janji-janji Tuhan.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi juga sempat berbicara mengenai hal yang sama. Sepertinya Paulus menyadari tendensi manusia untuk selalu berada dalam bayang-bayang masa lalunya, hingga ia merasa perlu untuk mengingatkan. “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dia memberi contoh, bahwa walaupun dia telah melayani Tuhan, dia tetap harus fokus untuk melupakan segala masa lalunya, seburuk apapun, dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai di depan. Kita tidak akan bisa maju jika selalu berada dalam belenggu masa lalu kita yang kelam. Kita perlu benar-benar mengerti bahwa Tuhan begitu mengasihi kita. Dia tidak mau kita hidup terikat dalam dosa, problema kehidupan dan hal traumatis di masa lalu. Apa buktinya? Jika Tuhan tidak perduli, untuk apa Tuhan repot-repot menganugrahkan Kristus, AnakNya yang tunggal untuk memerdekakan kita dari segala dosa, kutuk dan kuk perhambaan warisan masa lalu? Berhentilah menoleh ke belakang, dan raihlah janji-janji Tuhan, yang penuh rancangan damai sejahtera, hidup yang berkelimpahan dan penuh berkat. Lihatlah ayat berikut ini: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). Apa yang disediakan Tuhan adalah berkat yang tiada habisnya dan selalu baru setiap pagi. Jika demikian, untuk apa kita terus mengingat-ingat masa lalu? Bukankah artinya kita menjadi orang yang bodoh jika masih saja terkubur dalam masalah di waktu lalu, padahal Tuhan mencurahkan rahmatNya yang baru setiap pagi?

Tuhan menyediakan pengharapan baru bagi kita yang telah ada di dalam Kristus. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”(2 Korintus 5:17). In Christ, we are the new creation. Semua telah ditebus Kristus dengan lunas di atas kayu salib. Dan kita sekarang bisa menatap hari depan yang cerah, penuh pengharapan dari Tuhan. Tidak ada lagi belenggu masa lalu, kecuali kita yang mengijinkan dan menginginkan trauma masa lalu itu untuk terus hadir bersama kita, menghambat kita untuk bertumbuh dan maju. Today it’s time to let all your past go. Let’s stop looking back to the past, let’s move forward. Let’s move on with all hope and glory!

Menoleh ke belakang akan menghalangi kita untuk menerima janji-janji Tuhan yang telah Dia sediakan

It’s Your Call

Posted: 17 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Kor 1:27
===================
“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat”

batman call, it's your call Batman adalah salah satu tokoh favorit saya sejak kecil. Bagi saya, meskipun Batman tetaplah sebuah fiksi, tokoh superhero rekaan, namun banyak sisi-sisi humanisnya. Tidak seperti Superman yang datang dari planet Krypton dan punya kekuatan super, bisa terbang, kebal peluru dan sebagainya, Batman hanyalah manusia biasa seperti kita yang dilengkapi dengan kemampuan bela diri dan teknologi. Batman tidak bisa terbang, tidak kebal peluru, tidak immortal,bahkan sempat mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya pula. Kedua orang tuanya tewas di bunuh penjahat di depan matanya ketika ia masih kecil, akibatnya kehidupannya berubah drastis. Itu sedikit cuplikan kisah Batman yang kemudian menjadi superhero pahlawan penumpas kejahatan di seantero kota rekaan Gotham city. Sebuah lampu sinyal akan menyala ke langit jika Batman dibutuhkan. Lampu sorot yang membentuk logonya akan terlihat di langit, dan itu artinya ada tindak kejahatan serius yang membutuhkan kehadirannya.

Sadarkah kita bahwa setiap saat kita berhadapan dengan dunia yang penuh kejahatan dan kegelapan seperti Gotham? Ada begitu banyak hal di sekitar kita yang sangat membutuhkan kehadiran kita para anak-anak Tuhan untuk membawa terang, menyinari kegelapan dan menyelamatkan jiwa. Mungkin kita akan berkata, “itu bukan tugas kita…” “saya bukan Batman”, bukan pula jagoan, bukan superhero, bukan pendeta, bukan anak teologia, bukan hamba Tuhan dan sebagainya. Kita seringkali beranggapan bahwa kita tidak ada apa-apanya dan sama sekali tidak pada tempatnya untuk dipakai Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaanNya di dunia ini. Tapi lihatlah ayat hari ini berbicara sebaliknya. “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Timotius 1:27). Demikian pula ayat selanjutnya: “dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (ay 28-29). Orang-orang yang “bodoh” bagi dunia, orang-orang yang bagi dunia “tidak ada apa-apanya”, orang orang biasa seperti saya dan anda, itulah yang dipakai Tuhan untuk bekerja di ladangNya. Tidak perduli siapa saja, usia berapa, latar belakang apapun, bisa dipakai Tuhan, karena bukan kita yang hebat, melainkan Tuhan lah yang hebat dan bekerja melalui kita.

Sepanjang kisah tokoh-tokoh Alkitab, kita melihat bahwa orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa bukanlah orang-orang yang punya latar belakang hebat. Tuhan tidak memakai ahli perang untuk melawan Goliat, tapi dia memilih seorang anak yang masih kemerahan, yaitu Daud. (1 Samuel 17:42) Gideon hanya disuruh mengumpulkan tidak lebih dari 300 prajurit saja untuk menghadapi tentara Midian dan Amalek yang seperti pasir di tepi laut banyaknya. Yefta adalah seorang anak pelacur (Hakim Hakim 1:11). Yefta adalah produk broken home, diusir dari rumah, dan di masyarakat dia hanyalah orang terbuang. Tapi Tuhan sanggup mengangkatnya menjadi pahlawan gagah perkasa. Paulus seorang pembantai orang kristen, tapi dia diubahkan luar biasa untuk menjadi pewarta firman. Dan ada banyak lagi contoh dari para tokoh Alkitab yang justru berasal dari orang biasa saja, orang tertindas, terbuang, namun kemudian dipakai Tuhan secara luar biasa.

Tuhan tidak butuh superhero. Dia butuh orang-orang yang dianggap “bodoh” oleh dunia, orang-orang yang secara logika tidak mampu, orang-orang seperti anda dan saya, untuk bekerja demi kemuliaanNya. Mengapa demikian? Karena bukan kita yang luar biasa, namun Tuhan kita-lah yang luar biasa! Tuhan tidak pernah memandang latar belakang atau masa lalu kita. Jika tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas saja mampu Tuhan angkat menjadi begitu luar biasa, maka Dia pun sanggup melakukan hal yang sama untuk kita. Sekalipun kita dilahirkan di keluarga berantakan, sekalipun kita mempunyai masa lalu sangat kelam, Tuhan setiap saat mau menerima hidup kita. Pertanyaannya bukan sanggupkah kita, mampukah kita, tapi yang menjadi pertanyaan adalah, mau atau tidak. Maukah kita melayani Tuhan, menjadi terang, menjadi perantaraNya untuk menyampaikan berkat bagi orang-orang di sekitar kita? Soal sanggup atau tidak, itu tidak masalah, karena yang diminta Tuhan hanyalah kesediaan kita. Seperti Batman, lampu sorot untuk memanggil anda sekarang pun sedang dinyalakan, Dunia butuh kehadiran anda. Ada banyak orang yang butuh bantuan dalam berbagai bentuk, butuh dikasihi, diperhatikan dan sebagainya. Bukan soal bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. It’s your call.

Pengembara

Posted: 18 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yoel 2:13
==================
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”

pengembara, berbalik kepada Tuhan, bertobat, hati terkoyak, hati hancurKetika seorang pengembara pada suatu ketika menyadari bahwa ia salah jalan, apa yang sebaiknya ia lakukan? Haruskah ia melanjutkan perjalanannya meski ia tahu bahwa jalan yang ia tempuh akan semakin menyesatkannya dan membuatnya tidak akan sampai pada tujuan? Seorang pengembara yang baik akan cepat menyadari jika jalan yang ia tempuh adalah salah dan akan segera berbalik sebelum dirinya semakin jauh tersesat. Life is also a journey. Kita pun adalah pengembara – pengembara dalam menempuh perjalanan kehidupan. Begitu banyak percabangan jalan yang kita temui sepanjang perjalanan, begitu banyak godaan, dan jika salah jalan, kita pun bisa tersesat, dan dengan demikian gagal mencapai tujuan kita. Sebagai manusia yang lemah, adalah wajar jika pada suatu waktu kita akan salah melangkah. Namun yang penting adalah bertindak seperti sang pengembara yang baik. Ketika kita mengambil belokan yang salah dan menyimpang, cepatlah sadar dan bergegaslah untuk kembali menemukan jalan pulang kepada Bapa.

Jika kita membaca kitab Yoel, kita akan menemukan bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang jatuh atas bangsa Yehuda. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak pun tidak ada lagi, sehingga mereka tidak lagi bisa mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Apa yang dilakukan Yoel? Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah meninggalkanNya dan berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13),  puasa (ay 14), dan berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak, seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini. Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak kemudian mengembalikan belas kasih Tuhan pada umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Ketika kita mendapati diri kita ada ditengah situasi sulit, dimana kita terkepung dalam masalah ekonomi, kesulitan hidup, kecelakaan bahkan bencana. Dari kitab Yoel, kita bisa belajar sesuatu. Periksalah cara hidup, tingkah laku dan perbuatan. Apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan, mentaati dan memprioritaskanNya dalam perjalanan hidup kita? Sudahkah kita mendengarkan Tuhan dengan serius karena kita sungguh mengasihiNya? Terkadang himpitan masalah hidup yang menimpa kita itu bukannya membuat kita sadar, tapi malah menyalahkan bahkan mengutuk Tuhan. Rentang jarak pemisah untuk datangnya pertolongan Tuhan, terkadang timbul sebagai akibat dari jarak antara perbuatan kita yang penuh dosa dengan perbuatan Tuhan yang penuh berkat. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Bahkan dalam keadaan sangat hancur seperti bangsa Yehuda diatas sekalipun, belumlah terlambat untuk bertobat karena Tuhan akan segera mengampuni dan melimpahkan berkatNya segera begitu kita kembali padaNya. Bertobatlah dengan hati terkoyak, hati yang hancur, yang berarti dengan segala kesungguhan meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah, meskipun secara duniawi mungkin dosa-dosa itu terasa nikmat dan menyakitkan untuk ditinggalkan. Pertobatan sesungguhnya adalah urusan antara manusia dengan Penciptanya, bukan sebagai suatu perbuatan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Karenanya pertobatan tuntas dengan hati yang terkoyak akan menghasilkan pengampunan Tuhan secara tuntas pula. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19).

Jadilah pengembara yang baik yang segera berbalik ketika salah jalan

Anggur Yang Asam

Posted: 19 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Yesaya 5:4
=======================
“Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?”

pohon anggur berbuah anggur yang asamKesalkah anda ketika mendapati bahwa buah yang anda beli ternyata asam? Misalkan saja anda membeli sekilo jeruk. Dari penampilan luar jeruk itu mungkin punya kulit yang mulus tanpa cacat. Namun ketika anda memakannya, ternyata jeruk itu masamnya minta ampun sehingga tidak bisa dimakan. Kalau cuma satu dua buah mungkin tidak apa-apa, tapi bagaimana jika sebagian besar, atau bahkan seluruhnya tidak bisa dinikmati? Yang lebih parah, bagaimana jika bukan hanya masam, tapi juga busuk? Mungkin anda akan mengomel atau mengembalikan kepada si penjual sambil marah-marah. Ada banyak orang yang tertipu fisik luar buah yang terlihat mulus tak bercacat, namun ternyata tidak bisa dinikmati sama sekali.

Ayat bacaan hari ini berbicara tentang anggur yang asam. Dalam banyak ayat-ayat di Alkitab, pokok anggur seringkali berbicara mengenai sesuatu yang baik. Tetapi ayat bacaan hari ini menggambarkan sebaliknya. Mari kita lihat perikop pertama dalam Yesaya 5. Disana dikisahkan tentang sebuah kebun anggur yang ternyata menghasilkan anggur-anggur yang asam. Sang pemilik kebun dengan rajin mengurus kebun. “Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga ditengah – tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik..”(ay 2). Namun apa hasil yang didapat? “…tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” Bagian ini bercerita mengenai Tuhan si pemilik kebun, dan anak-anakNya yang digambarkan sebagai pohon-pohon anggur. Secara lebih spesifik, ayat-ayat ini berbicara tentang pertobatan yang menghasilkan buah. Ketika kita bertobat menerima Yesus, seharusnya kita menjadi sebuah ciptaan baru yang terus tumbuh dan berbuah. Namun dalam perjalanannya, ada banyak dari kita yang ternyata kembali pada kebiasaan lama yang buruk. Ada yang dari luar tampak baik, namun ternyata hatinya jahat. Setelah bertobat dan menerima Kristus bukannya berbuat kasih, namun malah bikin onar, menipu, jahat dan menjadi batu sandungan dimana-mana. Inilah buah-buah anggur asam itu. Lihatlah betapa ironisnya, ketika “Sang Pemilik Kebun” begitu setia dan rajin memelihara “kebun”Nya dengan penuh kasih dan perhatian, tapi ternyata bukan buah yang baik yang dihasilkan pohon-pohon tersebut, melainkan buah yang asam. Maka bisa dimaklumi jika “Pemilik kebun” pun mengeluh. “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? (ay 4). Apa yang kemudian terjadi bagi pohon-pohon dengan buah-buah asam ini? Kita baca ayat selanjutnya: “Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.” (ay 5-6). Konsekuensi yang dihadapi oleh pohon-pohon berbuah anggur yang asam sungguh tidak main-main. Dalam injil Matius, pokok-pokok yang tidak menghasilkan buah yang baik dikatakan akan “ditebang adan dibuang ke dalam api.” (Matius 3:10). Dalam Wahyu kita juga mendapati konsekuensi yang harus dihadapi oleh “buah-buah anggur asam” ini. “…Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah.” (Wahyu 14:18b-19).

Konsekuensi menjadi pohon anggur dengan buah yang asam sungguhlah serius, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Maka ketika kita sudah bertobat, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa kita mampu menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:8). Tuhan mengharapkan hidup anda untuk menghasilkan buah-buah yang manis, yang enak dinikmati. Artinya, kita harus mampu menjadi berkat bagi orang lain. Sebuah buah yang manis dan enak tentu dirindukan oleh semua orang. Kita harus hidup berbuah, jangan sampai berakhir sebagai pohon yang tidak menghasilkan buah sama sekali. Dan yang lebih penting lagi, kita perlu menghasilkan buah yang baik, manis, segar dan bermanfaat bagi orang lain. Sebuah keberhasilan menjadi anak-anak Allah yang mendapat hak waris di Kerajaan Surga bukanlah dilihat dari penampilan luar semata, namun yang ditentukan dari seberapa baik buah-buah baik yang anda hasilkan.

Jangan menghasilkan anggur asam, jadilah pohon anggur yang menghasilkan buah subur, manis dan bermanfaat bagi orang lain

Kebersamaan Dalam Kasih Yang Menguatkan

Posted: 20 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25
======================
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

persekutuan, saling dukung, tolong menolong sesama saudaraSeberapa kuat kita mampu menjalani hidup sendirian? Mungkin untuk sementara bisa, tapi untuk jangka waktu lama tentunya akan sangat sulit jika kita harus bertahan sendirian. Tuhan pun sejak awal menyadari itu. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja..” (Kejadian 2:18). Itu artinya manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling butuh dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk. Pada satu titik, kita akan tahu bahwa kita butuh orang lain untuk bisa bertahan hidup. Lingkungan yang sulit, dunia yang kejam dan sebagainya setiap saat akan membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman yang sanggup menguatkan, sanggup mengingatkan dan meneguhkan.

Ada kalanya kita menguatkan, ada kalanya kita butuh dikuatkan. Jujur saja, nobody’s perfect. Tidak ada manusia yang 100% sempurna, 100% kuat dan sanggup mengatasi segalanya sendirian. Bayangkan jika kita tidak memiliki teman-teman bisa saling dukung dan saling menasehati, memberi masukan, mengingatkan, menegur jika perlu, tentu kita akan jauh lebih kuat menghadapi timbunan masalah yang hadir dalam hidup kita. Sebuah pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sungguh baik dijadikan awal untuk saling mengenal satu sama lain. Sayang sekali ada banyak orang yang menganggap beribadah itu hanyalah kewajiban atau rutinitas semata, sehingga mereka hanya datang, duduk, diam, dengar dan lalu pulang. Mereka yang seperti ini akan melewatkan sebuah kesempatan untuk membina hubungan dengan saudara-saudara seiman. Inilah yang diingatkan oleh Paulus. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25). Paulus sungguh menyadari bahwa kita akan lemah dan jatuh jika kita tidak saling memperhatikan dan saling mendorong. Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli orang-orang yang mungkin duduk di sekitar anda. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita untuk saling menasihati dan mengingatkan.

Dalam banyak kesempatan, Alkitab mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain. Lihat contoh ketika ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Yesus di Kapernaum dalam Lukas 2:1-12. Begitu banyak orang mengerumuni Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi akhirnya dia mampu bertemu Yesus dan disembuhkan. Bagaimana caranya? Empat orang temannya menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. Seandainya si lumpuh tidak punya teman, dia akan gagal untuk berjumpa dengan Yesus dan mendapat mukjizat kesembuhan. Itu baru satu contoh, dan ada banyak lagi kisah-kisah dimana kita melihat pentingnya sebuah kebersamaan yang positif diantara kita. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar gembira pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua alias berpasang-pasangan. (Markus 6:7). Iman kita akan gampang merosot jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya teman-teman yang saling berbagi, kita mampu tetap kuat. Betapa pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu, saling sokong dan saling dorong, apalagi menjelang kedatangan Yesus buat kedua kalinya.

Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Ini sebuah pesan penting agar kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya. Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Beban yang ditanggung manusia sesungguhnya tidak ringan dan mampu membuat iman kita memudar. Orang bisa hilang pengharapan jika didera masalah terus menerus. Kita diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian artinya kita memenuhi perintah Yesus. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Jalin hubungan dengan tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah, di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan menguatkan satu sama lain.

Ke Gereja seminggu sekali saja tidaklah cukup, apalagi jika anda masih belum memiliki satu Gereja pun untuk bertumbuh. Jika saat ini anda masih mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh, pilihlah Gereja dimana anda bisa bertumbuh dan berbuahlah disana. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan, dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Kita tidak akan kuat berjalan sendirian. Teman kita pun demikian. Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita dimana Kristus bertahta di dalamnya.

Tidak cukup beribadah seminggu sekali, karena masalah datang berkali-kali setiap hari

Days Are Numbered

Posted: 21 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Mazmur 90:12
=====================
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

days are numbered, menghitung hari, bijaksana, hikmatSemakin tua, semakin singkat pula rasanya waktu berjalan. Ini yang saya rasakan. Saya mengingat waktu saya kecil dimana saya kerap kali merasakan waktu berjalan begitu lambat. Begitu lambat sehingga rasanya saya cepat sekali bosan terhadap sesuatu. Tapi sekarang saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru bangun, tiba-tiba tanpa terasa waktu untuk tidur sudah tiba. Rasanya baru saja hari senin, tahu-tahu sudah senin lagi. Bulan berlalu dengan cepat, tahun berlalu juga dengan cepat. Tidak terasa kita sudah hampir memasuki bulan ketiga di tahun ini, sementara rasanya baru saja kita merayakan tahun baru. Rasanya waktu seperti komet saja cepatnya. Malam ini saya merenung, sudah seberapa jauh saya memanfaatkan waktu-waktu, hari-hari yang diijinkan Tuhan untuk ada dalam hidup saya. Sudahkah saya memaksimalkan penggunaan waktu dengan seefektif mungkin? Sudahkah saya memakai segala talenta dan berkat dari Tuhan dalam waktu yang disediakan bagi saya untuk kemuliaanNya secara cukup? Begitu banyak pertanyaan, karena saya tahu saya tidak akan selamanya memiliki hari demi hari di dunia ini. Satu saat nanti itu akan berakhir. Dan saya tidak ingin mengakhirinya dengan sia-sia tanpa hasil. Saya ingin berbuah, meninggalkan jejak-jejak yang semoga bisa bermanfaat bagi sesama, dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan lewat berbagai penggunaan waktu secara efektif dalam hidup saya. That’s what I want.

Dalam Mazmur 90 kita melihat doa Musa. Musa yang dipakai Tuhan ketika usianya sudah lanjut, bukan sejak muda. Musa menyadari betapa waktu manusia ini sungguh singkat. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat, delapan puluh tahun..” (Mazmur 90:10). Begitu singkat sehingga jika tidak hati-hati, tanpa sadar kita akan menghabiskan masa hidup kita untuk segala sesuatu yang sia-sia. Begitu mudahnya kita disibukkan oleh segala sesuatu yang sesungguhnya tidak berguna. Lingkungan yang sulit, kesulitan hidup, mulai ketakutan ketika kerut-kerut wajah mulai muncul, uban yang mulai terlihat, kecemburuan terhadap orang yang lebih berada dari kita, dan sebagainya, bisa menimbulkan masalah, dan tanpa sadar kita akan mengisi hidup kita dengan berbagai keluhan. Hidup yang dikuasai emosi, penuh amarah, penuh kekesalan, penuh protes dan selalu merasa kurang. Akhirnya kita hidup dengan fokus yang salah, fokus pada segala permasalahan dan kekurangan daripada mensyukuri apa yang telah Tuhan lengkapi bagi kita, yang seharusnya sudah bisa kita manfaatkan untuk menjadi berkat buat orang lain. Di sisi lain, ada pula orang yang memanfaatkan waktunya hanya untuk bermalas-malasan. Tuhan tidak suka dengan hal ini. “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:9-11). Kemalasan bisa mendatangkan kemiskinan, dan itu baru salah satu akibat langsung dari pemborosan waktu yang langsung terasa dalam masa kehidupan di dunia ini. Untuk saat dimana kita menghadap Tuhan pun kita harus bertanggung jawab penuh atas segala yang Dia karuniakan dan untuk apa kita memanfaatkannya dalam hidup kita. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Tuhan tidak mau waktu yang tersedia bagi kita hanya terbuang sia-sia.

Victor Hugo, pengarang legendaris yang pernah menulis beberapa karya fenomenal seperti Les Miserables dan The Hunchback of Notre Dame suatu kali pernah berkata: “Short as life is, we make it still shorter by the careless waste of time.” Hidup sudah singkat, janganlah kita malah memperpendek hidup dengan membuang waktu secara percuma. Ada begitu banyak talenta yang sudah Tuhan percayakan pada hidup anda, ada begitu banyak yang bisa anda lakukan, ada begitu banyak orang yang bisa anda berkati, dimana semua itu bisa sangat bermakna baik bagi hidup anda, hidup orang lain dan dimata Tuhan. Betapa sayangnya jika waktu-waktu yang ada dalam hidup kita hanya dipakai untuk bermalas-malasan atau hanya dipenuhi keluh kesah. Musa tidak berdoa agar dia diberi kekayaan, diberi umur yang panjang, namun yang ia minta adalah hikmat untuk menghitung hari-hari dalam hidup dengan cermat hingga bisa semakin bijaksana. Untuk dapat memperoleh hikmat, kita harus bermula dari takut akan Tuhan dan selalu berpegang teguh pada firmanNya. “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Daripada memperpendek hidup yang sudah singkat ini dengan segala keluh kesah dan kemalasan, lebih baik kita mengisi diri kita dengan firman Tuhan terus menerus dan melakukan segala sesuatu sesuai firmanNya. Terus bertumbuh dalam hikmat setiap hari. Fokus pada apa yang penting buat kehidupan kekal. Manfaatkan hari-hari yang ada dengan segala sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri anda sendiri, bagi orang lain, dan lakukan semuanya dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan. Seperti apa yang dinyanyikan sebuah grup band lawas Alan Parsons Project berjudul Days Are Numbered, demikian cuplikan liriknya: “Days are numbered, Watch the stars, We can only see so far..Someday, you’ll know where you are..” , kita harus terus menyadari waktu kita terbatas dan jangan sampai menyesal di kemudian hari. Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan masa depan kita. Jika pertanyaan yang sama hadir buat anda, sudahkah anda menghitung hari-hari anda dan mempergunakannya secara maksimal, bagaimana jawaban anda? Jika anda merasa masih kurang memanfaatkannya, mulailah dari sekarang. God, teach us to number our days, may we all gain a heart of wisdom, because we know now that our days are numbered.

Days are numbered, use it effectively for the glory of God

How Much Enough Is Enough?

Posted: 22 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:6
=====================
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”

cukup, bersyukur, hamba uangHow much enough is enough? Ini pertanyaan yang sederhana namun biasanya cukup sulit untuk dijawab secara jujur. Batasan orang mengenai rasa cukup bisa beragam. Manusia cenderung sulit untuk merasa puas. Berbagai kebutuhan terus bertambah setiap saat. Dulu saya bisa hidup tanpa telepon, sekarang jika telepon selular saya ketinggalan di rumah saya sudah pusing. Dulu tanpa komputer hidup oke-oke saja, sekarang jika internet mati saya kerepotan. Perkembangan jaman membuat kebutuhan manusia pun berubah bertambah banyak di segala sisi kehidupan. Melihat tetangga punya mobil, kita pun ingin punya mobil. Sudah punya mobil? Tetap saja mobil tetangga lebih bagus. Sebagian pria menganggap wanita punya kebutuhan jauh lebih banyak dibanding pria. Banyak suami mengeluh istrinya terus saja belanja. Sepatu baru, tas baru, padahal yang lama belum juga puas dipakai. Tapi jaman sekarang ini pria pun banyak yang jadi pesolek, malah tidak jarang kebutuhan aksesoris sebagian pria justru melebihi kebutuhan wanita. Maka kita kembali pada pertanyaan, kapan kita bisa merasa cukup? Apa jika kita sudah punya mobil lebih dari satu, punya handphone lebih dari satu (satu GSM dan satu CDMA atau malah lebih), bisa makan di restoran, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bisa berbelanja tanpa pusing, bisa punya tabungan melewati 8 digit, dan seterusnya, kita akan merasa cukup? Kecenderungan manusia mengarah pada jawaban: belum cukup. Bahkan ketika kita sudah memiliki segalanya, seringkali rasa belum cukup itu malah bertambah. “Semakin banyak yang saya punya, semakin banyak pula yang tidak saya punya..” kata seorang teman pada suatu kali.

Jika mengacu pada Alkitab, how much enough is enough akan mengarah pada satu jawaban sederhana. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:8). Itu kebutuhan paling mendasar manusia yang seharusnya mendatangkan kata cukup jika sudah dimiliki. Mengapa demikian? Karena dari segala kebutuhan hidup, dua itu-lah yang paling vital. Jika kita lupa akan hal ini kita tidak akan pernah bisa bersyukur. Rasa tidak puas dan masih kurang akan terus menguasai diri kita. Ayat selanjutnya berkata: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” (ay 9). Inilah yang terjadi jika kita membiarkan diri kita untuk selalu mengejar kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan utama. Karena memburu uang, kita bisa menyimpang dari iman, terjatuh dalam lubang-lubang dosa dan menjadi seorang hamba uang. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” (ay 10).

Tidak mudah memang memiliki rasa cukup dan bisa bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini. Rasa selalu kekurangan akan membuat kita mengejar uang tanpa henti dan lupa beribadah. Lupa bersyukur, lupa menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan. Kalau tidak lupa, ya tidak sempat. Jika kita mampu mensyukuri apa yang kita miliki hari ini, kitapun akan mampu beribadah dengan khusuk tanpa terganggu berbagai keinginan. Setidaknya kita masih bisa makan dan punya pakaian bukan? Maka benarlah ucapan Paulus yang berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (ay 6). Ingatlah bahwa kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, dan nanti kita tidak akan dapat membawa apa-apa ke luar. (ay 7). Dalam Ibrani kembali diingatkan hal yang sama : “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Belajarlah untuk mampu mencukupkan diri dengan segala apa yang ada pada kita saat ini, dan bersyukurlah senantiasa. Buat apa merasa gelisah dan tak pernah cukup jika Tuhan sudah berjanji untuk tidak sekalipun meninggalkan dan membiarkan kita?

Yang terpenting adalah penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Paulus menyadari itu sepenuhnya. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi pasal 4, Paulus berkata bahwa ia tahu pasti apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan. Tidak ada rahasia dalam hal kenyang dan lapar, maupun kelimpahan dan kekurangan. Ia tahu itu semua, dan ia telah belajar mencukupkan dirinya dalam segala keadaan. (Filipi 4:11-12). Paulus tahu, yang terpenting adalah penyertaan Tuhan, karena bersama Tuhan ia akan mampu menanggung apapun. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (ay 13). Kebutuhan boleh saja banyak, boleh saja bertambah dari waktu ke waktu, namun janganlah hal tersebut dijadikan tolak ukur kita untuk merasa cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan hal yang paling dasar, dan bersyukurlah senantiasa.

Jangan dasarkan hidup pada yang tidak kita miliki, tapi bersyukurlah senantiasa dengan apa yang kita miliki

Sempurna Dalam Kelemahan

Posted: 23 Feb 2009 10:00 AM CST

Ayat bacaan: Keluaran 4:10
=====================
“Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

sempurna dalam kelemahan,Tuhan mau pakai kita, dalam kelemahan kuasa Tuhan sempurnaTidak terasa RHO sudah melewati setahun. Selama setahun saya menulis renungan tiap malam, membaca Alkitab, merenungkan firman Tuhan tanpa lewat satu kali pun, dan yang paling utama, selama setahun penuh pula Tuhan berbicara sehingga saya bisa menuliskan renungan demi renungan setiap harinya. Jika saya mengingat kembali pada awal dimana saya memutuskan untuk menulis, ada keraguan yang sempat terbersit di hati saya, apakah saya sanggup? Ini mengingat saya bukanlah lulusan teologia, masuk saja tidak pernah. Saya terhitung baru menerima Kristus sebagai Juru Selamat, baru memasuki tahun ke 8. Hidup saya di masa lalu bergelimang dosa dalam berbagai bentuk. Sebelum saya mulai menulis, saya sangat jarang membaca Alkitab, paling di Gereja saja, itu juga tidak setiap minggu saya jalani. Saya jarang berdoa, sangat tidak teratur. Ketika saya mencoba, terkadang saya tertidur di saat berdoa, dan amin-nya baru besok pagi. Tidak heran jika saya bingung dan ragu ketika saya diminta Tuhan untuk melayani lewat internet. Saya berkata, “Tuhan, serius dong… apa mungkin saya bisa? Apa nggak mending pedeta saja atau siswa sekolah teologia?” Dan kata-kata yang terdengar dalam hati saya waktu itu sangat jelas.Aku tidak bertanya bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Karena bukan kamu yang bekerja, tapi Aku.” Dan saya memutuskan untuk taat. Saya merasa begitu banyak hidup saya yang tersia-siakan karena dulu saya hanya bergantung pada kekuatan saya sendiri. It’s time for a turning point. This time I’ll listen to Him and let Him decide whatever best for me. Itu yang menjadi tekad saya. Saya mau belajar percaya, mau belajar patuh dan mau menyerahkan perjalanan hidup saya ke depan bersama Dia. Dan hari ini saya cuma mau berucap syukur. Tuhan, Engkau luar biasa. Sudah lebih setahun, dan ternyata janjiNya terbukti. Tidak saja Dia berbicara setiap hari untuk bahan yang harus dituliskan, namun penyertaanNya dalam perjalanan hidup saya penuh dengan mukjizat atau keajaiban-keajaiban. I feel so close to Him, closer than I’ve ever felt, and that has been going for more than a year! Begitu kuatnya keberadaan Tuhan dalam hidup saya, sehingga saya bisa meninggalkan segala kekhawatiran mengenai masa depan, saya tidak perlu takut atau ragu, karena saya tahu ada Tuhan yang bertahta di atas segala pekerjaan yang saya lakukan, dan hidup yang saya jalani bersama keluarga saya. Berbagai keajaiban yang lewat nalar manusia rasanya tidak mungkin, terjadi berkali-kali. Mukjizat kesembuhan, berkat dalam pekerjaan, teguran-teguran, hikmat dan banyak lagi bentuk kemuliaanNya hadir dalam hidup saya. Jika sekarang saya boleh merasakan sukacita dan damai sejahtera, itu karena tidak ada lagi rasa khawatir untuk hari depan, sebab Tuhan dalam hidup saya. Haleluya!

Musa ternyata pernah mengalami keraguan yang sama ketika ia diutus Tuhan. Musa saat itu sudah tidak muda lagi. Maka ketika Tuhan tiba-tiba memanggilnya dikala Musa sedang menggembalakan domba-domba mertuanya, Yitro, Musa pun bingung. Banyak pertanyaan hadir di benaknya. “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Keluaran 3:11). Jawab Tuhan: “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (ay 12). Musa kembali bertanya, dan kemudian Tuhan menjawab: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (ay 14). Dalam bahasa Inggrisnya lebih tegas: “I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE.” Serangkaian pertanyaan masih dikemukakan Musa yang saya yakin saat itu sedang kebingungan. Dia kemudian menyadari keterbatasan kemampuannya. “Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (4:11). Jika mengacu dari versi bahasa Inggris, kelihatannya Musa memiliki masalah dalam berbicara. “..for I am slow of speech and have a heavy and awkward tongue.” Tapi lihatlah jawaban Tuhan: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” (ay 11-12). Ya, bukan kemampuan Musa yang menentukan, namun kuasa Tuhanlah yang memampukan.

Sepanjang berbagai kisah dalam Alkitab, Tuhan berulang kali membuktikan bahwa Dia sanggup memakai siapapun. Mulai dari gembala hingga pembantai orang Kristen, mulai dari anak-anak, wanita hingga orang tua, orang berdosa, pemungut cukai, nelayan, pelacur, semua bisa diubahkan Tuhan menjadi saluran berkatNya. Paulus yang punya latar belakang pembantai orang Kristen, bisa diubahkan begitu luar biasa dalam sesaat. Tuhan berkata padanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus 2:9) Dia kemudian sampai pada satu kesimpulan, bahwa dalam kelemahannya-lah dia menjadi kuat. (2 Korintus 12:10).

Kelemahan kita, ketidakmampuan kita, keterbatasan kita, kekurangan kita, bahkan ketidaklengkapan kita sekalipun bisa dipergunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Tuhan mampu memenuhi kita dengan kekuatan sehingga Dia bisa mempergunakan segala keterbasan kita untuk hal yang baik. Dalam segala keterbatasan kita, datanglah pada Tuhan dan berpeganglah padaNya. Kita akan terus bertumbuh dalam kekuatan, semangat, dan sukacita jika kita terus membangun hubungan dengan Bapa di Surga. Semua tergantung seberapa besar kita mau taat, seberapa besar kita mau mematuhi dan menuruti kehendakNya bagi hidup kita.

Tidak harus super sarjana untuk berhasil dalam hidup, tidak harus jadi super pendeta untuk mampu melayani. Kita semua bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya. We all can be used for His glory. Berbagai latar belakang kita, selemah apapun, bisa diubah menjadi sumber berkat luar biasa. Dibalik segala kelemahan kita, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna.

Kuasa Tuhan justru sempurna dalam kelemahan kita

Dari Sisi Positif

Posted: 24 Feb 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Filipi 4:8
================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

dari sisi positifBulan lalu saya meliput di sebuah acara yang diadakan oleh anak-anak SMA. Sebagai wartawan jazz, saya diundang untuk meliput karena ada satu band jazz yang akan tampil mengisi acara tersebut. Saya membawa seorang teman yang bertindak sebagai fotografer. Kami memperkirakan acaranya bakal ramai. Tapi ketika kami sampai disana, yang menonton ternyata hanyalah 20 an anak, itupun yang serius menyimak cuma sedikit. Sound systemnya parah. Bayangkan band harus dua kali terhenti ditengah permainan karena ada masalah pada sound system. Teman saya pun berkata, “garing ah… apa yang mau diulas kalau seperti ini?” Memang acaranya tanpa greget, tapi bagi saya segala sesuatu itu punya dua sisi, seperti halnya mata uang. Artinya, dari acara yang tanpa greget itupun pasti ada sisi baik yang bisa diambil sebagai sebuah ulasan yang baik. Dan malamnya pun saya menulis. Saya mengambil sisi positif. Apa misalnya? Band itu masih tetap bersemangat main dan tidak menggerutu walaupun sound systemnya jelek. Benar cuma ada 20an anak, tapi mereka yang menonton dengan sungguh-sungguh terlihat begitu menikmati pertunjukan. Anak SMA bisa mengerti komposisi jazz yang lumayan rumit dan menikmatinya, itu pun bagi saya merupakan perkembangan yang menggembirakan. Bukankah semua itu hal positif? Dari sana saya mengembangkan artikel ulasan saya. Dan ketika selesai, teman saya pun berkata “pinter banget nulisnya.. great, great,great!” Band jazz dan kordinatornya pun senang. All ended well. Saya yakin tidak ada penyelenggara yang mau acaranya sepi penonton. Bayangkan jika sudah sepi, mereka malah dihakimi oleh pers dan dibaca oleh begitu banyak orang. Kasihan kan? Padahal mereka sudah mati-matian berusaha. Puji Tuhan, saya sudah sekian lama berlatih untuk mendasari hidup dengan sikap positif, seperti yang ditulis dalam ayat bacaan hari ini, dan itu membuat saya mampu mengambil sisi positif dari sebuah situasi. Betapa bergunanya sikap demikian dalam salah satu pekerjaan saya sebagai wartawan.

Profesi sebagai wartawan memang bisa mempengaruhi pembaca. Wartawan yang provokatif akan selalu menyitir bagian-bagian yang negatif tanpa pikir panjang akan akibatnya bagi pembaca. Kalau perlu hakimi satu pihak sejelek-jeleknya untuk mengangkat pihak lain. Wartawan gosip akan selalu membesar-besarkan cerita, malah memutarbalikkan perkataan narasumber demi kepentingan pribadi atau medianya. Judul yang dipilih seringkali jauh dari isi, hanya mencari judul bombastis agar menarik perhatian orang saja. Kembali ke liputan saya diatas, apakah saya membohong agar tulisan saya bisa bernada positif? Tidak, sama sekali tidak. Saya menuliskan hal benar dari apa yang saya amati disana, yang saya lihat dengan kacamata positif.

Mendasarkan sesuatu dari sudut pandang positif itu sungguh baik. Kita akan terhindar dari kebiasaan berburuk sangka, berpikir negatif terhadap segala sesuatu, menyinggung perasaan orang bahkan merugikan diri sendiri. Betapa stresnya jika hidup kita hanya diisi dengan berbagai hal negatif yang dengan cepat dapat membuat kita penuh sumpah serapah, keluh kesah bahkan emosi. Maka Paulus pun mengingatkan pada jemaat Filipi akan hal ini. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Semua itu akan membuat kita hidup penuh sukacita dan tidak akan tertutupi lagi oleh awan negatif yang setiap saat bisa membuka berbagai pintu dosa untuk masuk ke dalam diri kita.

Saya terlahir sebagai orang yang pesimis, yang selalu berpikiran negatif, dan begitu sulitnya melihat sisi baik dari suatu hal. Perlahan namun pasti, setelah bertobat, “menjadi ciptaan baru” seperti yang tertulis pada 2 Korintus 5:17 terjadi dalam hidup saya. Transformasi terjadi. Melalui proses Tuhan ubahkan sifat dasar saya itu. Dan hasilnya, hidup saya jauh lebih damai, dan penuh sukacita. Meski demikian, saya masih terus belajar, karena saya sadar sebagai manusia yang lemah, jika tidak hati-hati saya bisa jatuh kembali pada diri lama saya.

Dalam kisah 12 orang yang diutus Musa untuk mengintai tanah terjanji, tanah Kanaan di kitab Bilangan, kita bisa melihat perbedaan sudut pandang seperti dua sisi mata uang. 10 orang berkata bahwa ada beda kelas antara orang yang tinggal di sana dibandingkan dengan bangsa  yang dipimpin Musa. Bagaikan belalang kecilnya dibanding mereka. (Bilangan 13:33). Demikian pendapat 10 orang. Tapi dua orang lainnya, Kaleb dan Yosua melihat dari sisi positif dengan dasar iman yang sepenuhnya percaya pada Tuhan. Demikian kata Kaleb: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Mengapa Kaleb bisa begitu yakin? Karena Kaleb tahu pasti bahwa tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan. Maka jika Tuhan sendiri yang menjanjikan, dan Tuhan pun menyertai mereka, mengapa harus takut?

Demikianlah hidup. Seringkali kita dihadapkan pada berbagai hal, dimana hal tersebut bisa kita pandang dari dua sudut yang berbeda. Pilihan terhadap sisi negatif akan membuat kita lemah, hidup penuh amarah, kekecewaan, kegelisahan, ketakutan yang sama sekali jauh dari sehat. Disisi lain, ada sudut positif yang akan membawa damai sejahtera dan sukacita sepenuhnya bagi hidup kita. Tuhan ada bersama kita dalam segala keadaan, sepanjang kita selalu setia dan berharap padaNya. (Mazmur 31:24-25). Hidup akan jauh lebih indah, lebih damai dan lebih bermakna jika kita mengisi pikiran kita senantiasa dengan hal-hal yang positif.

Mendasarkan pikiran kepada kebajikan akan membuat hidup lebih indah

Makna Sebuah Belas Kasih

Posted: 25 Feb 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Lukas 1:78-79
==========================
“oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

belas kasih, anugrah pengampunan TuhanAda sebuah penggalan kisah menarik dari sejarah kehidupan Napoleon. Pada suatu ada seorang ibu yang mendatangi Napoleon dan meminta pengampunan bagi putranya. Saat itu putranya akan dihukum mati.Napoleon pun mengingatkan bahwa kejahatan anaknya sudah keterlaluan, dan keadilan yang paling tepat bagi tindakan kriminal yang dilakukan anaknya adalah hukuman mati. Begini jawaban si ibu,“sir, not justice, but mercy..” “Tetapi yang aku mohon bukanlah keadilan, namun belas kasihan”. Demikian katanya. Napoleon kemudian menjawab: “tapi anakmu tidak layak menerima belas kasihan!” Dan si ibu kembali berkata sambil menangis: “tuan, bukanlah belas kasihan namanya jika ia layak menerimanya..” Napoleon tertegun sejenak, kemudian berkata: “benar juga..ibu benar.. aku mau memberikan belas kasihan.” Dan anaknya pun dibebaskan.

Kisah diatas menggambarkan sebuah konsep mengenai belas kasihan yang berasal dari Bapa kepada kita. Sepanjang Alkitab kita menemukan begitu banyak belas kasihan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Misalnya kisah ibu Yunani bangsa Siro-Fenisia yang memohon belas kasih Yesus atas anak perempuannya yang kerasukan roh jahat (Markus 7:24-30). Lalu seorang ayah bernama Yarius yang memohon belas kasih Yesus turun atas anak perempuannya yang sedang sekarat. Yang terjadi adalah Yesus membangkitkan anaknya yang sebenarnya sudah keburu meninggal. (Markus 5:21-43). Dalam kisah itu terselip pula seorang wanita yang sudah 12 tahun lamanya mengalami pendarahan, yang mengharap belas kasih Yesus dengan menyentuh jubahNya. Orang buta, orang lumpuh, orang kusta, dan lain-lain, telah menjadi kesaksian akan luar biasa besarnya belas kasih Tuhan. Dalam perjanjian lama pun demikian. Ada begitu banyak kisah dimana Tuhan melimpahkan belas kasihNya yang luar biasa besar.

Kembali pada kisah sang ibu dengan Napoleon di atas, dari kisah itu kita bisa mendapat gambaran mengenai bagaimana sebenarnya bentuk belas kasih itu. Belas kasih dianugrahkan pada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Itulah inti dasar dari sebuah belas kasih. Kita manusia yang setiap hari berlumur dosa, dan ganjaran yang sesuai adalah kebinasaan. Tapi lihatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Dia penuh belas kasih, sangat mengasihi kita, hingga mau menganugerahkan Kristus untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan. (Yohanes 3:16). Daniel dari jauh hari sudah paham dengan hal ini. “Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.”(Daniel 9:9-10). Kita datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan tangan yang sangat kotor, bahkan berdarah. Kita datang dengan kesadaran penuh bahwa sebenarnya kita layak menerima penghakiman, jika kita bicara soal keadilan semata, tanpa berhak untuk protes. Namun itulah besarnya kasih Tuhan pada kita. Dia tidak ingin satupun dari kita binasa. Itulah kehendak Tuhan atas kita semua, seperti yang ditulis Petrus. “…karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Sungguh besar dan tak terbatas kasihNya pada kita. Setelah Daud ditegur nabi Natan karena berzinah dengan Batsyeba, Daud pun berkata: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” (Mazmur 51:3). Allah siap mengampuni saya dan anda, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita di masa lalu. Ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, tangan yang kotor dan berdarah, belas kasihNya pun akan turun atas kita. Kehendak Tuhan adalah kita semua diselamatkan dan dimenangkan. Belas kasihanNya membebaskan kita. Adalah Tuhan sendiri yang menghapus dosa kita, dan Dia tidak lagi mengingat-ingat dosa kita. (Yesaya 43:25) Ketika manusia penuh dosa dan seharusnya layak binasa, kasih Allah yang besar siap memberi pengampunan dan menyelamatkan manusia sepenuhnya. Itulah belas kasih Tuhan.

Belas kasih artinya memberikan pengampunan dan kebebasan kepada yang sebenarnya tidak layak menerimanya

Kasih Karunia

Posted: 26 Feb 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Roma 11:6
===================
“Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.”

kasih karunia, hadiah cuma-cuma dari Tuhan, keselamatan, hidup yang kekalNilai tukar, balas jasa, upah, gaji, imbalan, itu semua merupakan hal yang tidak lagi asing bagi kita. Ketika kita bekerja tentu kita mengharapkan sebuah imbalan. Sebuah konsep “take and give” dalam arti seluas-luasnya merupakan sebuah proses mata rantai yang lumrah dalam hidup, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, dunia usaha dan sebagainya. Kecenderungan manusia adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan imbalan, mendapatkan sebentuk balas jasa. Sejak jaman sebelum uang dipakai sebagai sebuah alat tukar, orang sudah menerapkan hal ini melalui barter atau pertukaran. Seekor kambing ditukar dengan alat pertanian misalnya. Hal tersebut hingga saat ini pun masih berlangsung. Ada orang yang masih menggadaikan benda kesayangannya sebagai alat tukar untuk mendapatkan sesuatu.

Ketika kita melakukan sebuah pekerjaan dan menerima upah atasnya, itu merupakan sebuah hak yang kita peroleh berdasarkan kerja keras kita. “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.” (Roma 4:4). Ketika anda merasa berhutang budi pada seseorang dan memberi hadiah pada suatu ketika, itu adalah sebuah imbalan balas jasa yang timbul dari rasa berhutang budi. Itu semua bukanlah sesuatu yang dinamakan dengan kasih karunia. Kasih karunia adalah sesuatu yang diberikan dengan cuma-cuma. Tuhan menawarkan keselamatan untuk memperoleh hidup yang kekal melalui sebuah pemberian kasih karunia kepada manusia yang sebenarnya tidak layak mendapatkan itu. Apakah Tuhan memberikan kasih karunia karena Dia berhutang sesuatu kepada kita manusia? Tidak. Tuhan tidak pernah dan tidak akan perlu berhutang pada siapapun. Tuhan tidak berhutang sebuah hidup yang kekal kepada kita. Tapi tetap Dia menawarkan keselamatan untuk hidup yang kekal kepada kita. Dia menawarkannya sebagai hadiah. Itulah bentuk kasih karunia. Belas kasih Tuhan memberikan pengampunan kepada kita orang yang tidak layak, kasih karunia yang turun kepada kita memberikan keselamatan dan menjadikan kita dibenarkan. Kita menjadi orang yang dibenarkan, dan berhak mendapat hidup yang kekal, itu semua adalah hasil kasih karunia Tuhan.

Mari kita lihat sebuah ilustrasi mengenai bentuk kasih karunia. Dalam kisah anak bungsu dan anak sulung pada Injil Lukas 15:11-32, kita ketahui bahwa anak bungsu telah berlaku sebagai anak durhaka. Ia meminta warisan ketika ayahnya masih hidup, dan pergi memakainya untuk berfoya-foya. Ketika semuanya habis dan dia hidup menderita, bahkan sampai makan ampas makanan babi, ia pun sadar akan kesalahannya. Dia pun memutuskan untuk kembali kepada ayahnya untuk memohon belas kasih supaya mendapat pengampunan. Si bungsu berkata: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:18-19). Apakah ayahnya mengampuni? Kita tahu ceritanya. Dari jauh begitu ayahnya melihat kedatangannya, ayahnya berlari dan segera memeluk dan mencium si bungsu. Itu sebuah proses belas kasih. Mari kita baca ayatnya: “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (ay 20). Lihat ketika si anak bungsu tahu dosa-dosanya, ia sadar betul bahwa ia sesungguhnya tidak lagi layak untuk dianggap sebagai anak. (ay 21). Tapi apa jawab ayahnya? “Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.” (ay 22-23). Jubah yang terbaik, cincin dan sepatu, diikuti dengan memotong lembu tambun untuk pesta sukacita, yang diberikan kepada anak durhaka yang sebenarnya sama sekali tidak layak untuk menerimanya, secara cuma-cuma, itulah kasih karunia.

Dengan kasih karunia, Tuhan menyelamatkan kita dan memberikan hidup yang kekal secara cuma-cuma. Itu bukanlah atas hasil usaha, tapi merupakan pemberian Tuhan. Kasih karunia bukanlah seperti sebuah tiket keselamatan yang bisa dibeli, tapi murni merupakan hadiah dari Allah yang begitu mengasihi kita. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Sebuah kasih karunia dianugrahkan kepada kita hanya lewat Yesus. Kita memperoleh kasih karunia tersebut dan oleh karenanya dibenarkan dengan cuma-cuma, semua karena penebusan dalam Kristus. “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24). Tanpa Yesus, dan hanya mengandalkan hukum-hukum agama dan tata cara peribadatan, maka itu artinya kita hidup di luar kasih karunia. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Galatia 5:4).

Sebuah kasih karunia adalah hadiah cuma-cuma dari Tuhan yang dianugrahkan pada kita lewat Yesus Kristus. Dan luar biasanya, Tuhan mengatakan bahwa dimana dosa dan pelanggaran bertambah banyak, disitulah kasih karunia Tuhan menjadi berlimpah-limpah. (Roma 5:20). Meski demikian, kasih karunia bukan berarti bahwa kita boleh terus berbuat dosa. (Roma 6:1). Seperti layaknya sebuah hadiah yang sangat berharga, tentu kita akan selalu menghargai hadiah itu, menjaganya dengan sepenuh hati sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Tuhan telah menganugrahkan sebuah hadiah yang sangat istimewa, kita menjadi orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya dan berhak memperoleh sebuah kehidupan kekal sesuai dengan pengharapan kita. (Titus 3:7). Tidak ada orang yang mau berakhir dalam siksa kekal, dan jalan untuk selamat sudah dihadiahkan Tuhan secara cuma-cuma dalam Kristus. Ketika kita menolak tawaran kasih karunia Tuhan tersebut, itu sama artinya dengan kita memilih untuk menghadapi penghukuman yang kekal. Semua pilihan ada di tangan kita.  Yang pasti Tuhan begitu mengasihi kita dan rindu untuk terus melimpahkan kasih karuniaNya.

Hanya dengan kasih karunia dalam Yesus kita memperoleh keselamatan untuk berhak menerima kehidupan yang kekal

Hilang Fokus Dalam Beribadah

Posted: 27 Feb 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Matius 7:3
===================
“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

selumbar, balok, hilang fokus dalam beribadahKemarin ketika sedang kebaktian di Gereja, seorang anak muda yang kebetulan duduk di sebelah saya tertidur lelap ketika kotbah baru saja dimulai. Mungkin dia terlalu capai malam sebelumnya, mungkin dia merasa bosan, mungkin dia sudah mengetahui isi kotbah, saya tidak tahu pasti. Namun dia begitu dalam tertidur. Saking lelapnya, kepalanya beberapa kali hampir menyentuh pundak saya. Dalam hati, saya berpikir, waduh.. sayang banget kotbah yang begitu penting seperti ini dilewatkan karena tertidur.. lalu saya pun sempat merasa geli karena membayangkan kisah Eutikhus dalam Kisah Para Rasul 20:9. Disana diceritakan akibat lamanya Paulus kotbah di lantai tiga sebuah gedung, ada seorang muda bernama Eutikhus yang jadi mengantuk, kemudian tertidur lelap. Sayang sepertinya dia duduk di tepi jendela, dan akibatnya dia pun terjatuh dari lantai tiga ke bawah. Saya tertawa dalam hati, untung saya yang disebelahnya, bukan jendela, kalau tidak mungkin dia sudah senasib seperti Eutikhus. Di saat itulah saya mendapat sebuah teguran dalam hati. “kenapa kamu menertawakan dia? Bukankah karena terlalu sibuk memperhatikannya kamu sendiri juga hilang fokus pada kotbah?” Saya terkesiap. Dan itu benar. Tanpa sadar dan tanpa maksud, saya sudah menghakimi saudara yang duduk di samping saya. Oh no… forgive me Lord for I have sinned..

Seringkali tanpa sadar kita terjatuh dalam dosa. Karena kita tidak sadar, kita pun menganggap diri kita lebih baik dari yang lain. Padahal belum tentu kita lebih baik, bahkan mungkin lebih buruk. Dalam rangkaian kotbah Yesus di atas bukit di hadapan orang banyak, salah satu yang diingatkan Yesus adalah mengenai hal menghakimi. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.” (Matius 7:3-4). Dalam bahasa Indonesia pun kita punya pepatah yang isinya sama: “semut di seberang lautan terlihat, gajah di pelupuk mata tidak terlihat.” Ketika kita mulai terpikir untuk mengomentari orang lain, ingatlah sebuah pengajaran tegas dari Yesus yang berkata: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (ay 1-2). Jangan sibuk memperhatikan selumbar di mata saudara kita, padahal balok di dalam mata kita pun tidak bisa kita lihat. Ingatlah bahwa urusan penghakiman adalah hak Tuhan, bukan kita, seperti yang diingatkan dalam Roma 12:19. Kita pun diingatkan untuk mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang benar, hal-hal yang bermakna, yang terhormat, adil, murni, manis dan baik (Filipi 4:8). Jangan sampai kita menjadi orang yang cepat melihat sisi negatif namun sulit menangkap sisi positif dari setiap hal yang kita lihat.

Di sisi lain, hendaklah detik demi detik dalam beribadah kita pergunakan sepenuhnya untuk mengalami hubungan yang intim dengan Tuhan. Berkumpul bersama saudara-saudara seiman dan saling mendoakan satu sama lain, merasakan kehadiran Yesus ditengah-tengah kita yang tengah berkumpul bersama-sama menyembah dan memuji Tuhan. Menerima firman Tuhan dengan hati yang lembut, dan membiarkan kuasa Roh Kudus menerangi hati kita agar bisa menangkap makna dibalik firman Tuhan yang disampaikan hambaNya di mimbar. Miliki fokus yang benar penuh dengan kerinduan untuk mencari dan bertemu Tuhan ketika kita beribadah. Fokus yang benar disertai motivasi yang benar akan membuat kita mampu menerima firman Tuhan dengan segala kelembutan hati, sehingga firman Tuhan itu akan menjadi seperti benih yang jatuh di tanah yang baik, sehingga bisa tumbuh subur dan berbuah beratus kali lipat dalam hidup kita. Kita akan mengalami sukacita dalam kemuliaan Tuhan seutuhnya, memuji dan menyembah Tuhan dengan seluruh yang ada dalam diri kita. Ada yang tertidur, ada yang sibuk sms-an di tengah ibadah, ada yang ngobrol, dan gangguan-gangguan lain hendaknya jangan sampai membuat kita kehilangan fokus dan akibatnya kehilangan begitu banyak hal penting yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita. Dan tentu saja, jagalah diri kita agar jangan sampai menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang lain dengan melakukan hal-hal yang bisa merusak konsentrasi saudara-saudara kita yang tengah beribadah. Nikmatilah persekutuan dengan Tuhan sepenuhnya.

Jagalah jangan sampai balok semakin membesar di dalam mata karena terlalu fokus melihat selumbar

Motivasi Yang Benar Dalam Bekerja

Posted: 28 Feb 2009 08:00 AM PST

Ayat bacaan: Amsal 23:4
===================
“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.”

motivasi bekerja yang benarHidup sendiri jauh lebih mudah ketimbang setelah berkeluarga. Itu kesimpulan banyak teman yang sudah merasakan sulitnya mengatur keuangan setelah menikah. “Ketika masih lajang, yang dicukupkan cuma diri sendiri, sekarang ada keluarga yang harus saya tanggung.. saya tidak bisa lagi seenaknya beli ini itu dan memutuskan ini itu, karena dampaknya bisa mengenai keluarga saya..” begitu kata seorang teman pada suatu ketika. “Cash flow” dalam rumah tangga haruslah dijaga agar tetap sehat, jangan sampai kolom “kredit” jauh melebihi kolom “debet”, dan akhirnya ada banyak lubang menganga yang siap membuat kita terjerat dalam masalah. Ada yang menjadi korban hutang, gali lubang tutup lubang, membuka hutang baru untuk menutupi hutang yang lain terus menerus. Ada yang tergoda untuk melakukan korupsi, mulai dari yang kelas teri hingga kelas kakap dengan mengemplang uang milyaran sekalipun. Ada yang memilih jalan okultisme. Ada yang jadi kecanduan judi. Ada yang akhirnya merampok, mencuri, bahkan membunuh demi harta. Ada yang jatuh dalam dosa perzinahan karena hal ini. Masalahnya seperti yang sudah pernah saya ulas sebelumnya. How much enough is enough? Manusia punya kecenderungan untuk sulit puas. Apakah anda pernah berpikir, jika saja anda bisa mendapatkan gaji dua kali lipat dibanding saat ini, tentulah hidup akan lebih nyaman? Misalnya anda mendapatkan 1 juta saat ini, anda akan berpikir bahwa 2 juta mungkin akan cukup.. begitu anda mendapatkan 2 juta, anda akan berpikir bahwa 4 juta akan membuat hidup jauh lebih mudah.. anda mendapatkan 4 juta, anda pun akan berkata 8 juta tentu akan membuat hidup lebih nyaman, dan seterusnya. Tidak akan ada angka final yang bisa membuat kita mencapai kepuasan jika kita terus memandang hidup dari sisi kebutuhan duniawi. Tidak heran jika dikatakan akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang. (1 Timotius 6:10). Bermula dari mengejar harta, orang bisa terjerumus ke dalam berbagai dosa yang semakin lama akan semakin parah.

Apakah kekristenan melarang untuk kaya? Tidak. Apakah kekristenan mengharamkan bekerja keras untuk mencari pendapatan? Sama sekali tidak. Yang dipermasalahkan bukanlah uangnya, tetapi motivasinya. Pengkotbah menulis panjang lebar mengenai kesia-siaan kekayaan jika motivasinya salah. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” (Pengkotbah 5:11). Kekayaan tidak membuat kita bisa tidur nyenyak. Kemiskinan juga tidak membuat kita tidur nyenyak, itu benar. Yang bisa membuat kita tidur nyenyak adalah mensyukuri apa yang kita peroleh sebagai hasil kerja keras kita. “There is a serious and severe evil which I have seen under the sun..” kata Pengkotbah, “riches were kept by their owner to his hurt”. (ay 12). Mati-matian mengejar harta dengan motivasi yang salah adalah seperti orang yang berlelah-lelah menjaring angin, alias sia-sia. Semua itu bisa habis seketika, karena setiap saat ngengat dan karat bisa merusakkannya, pencuri pun bisa membongkar dan mencurinya.(Matius 6:19). Maka penulis Amsal mengingatkan demikian: “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.” (Amsal 23:4) Mencari jalan pintas untuk menjadi kaya dalam sekejap mata tidak akan pernah membawa kebaikan. “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.” (Amsal 13:11).

Jadi bagaimana yang baik? Yang baik adalah menetapkan skala prioritas yang tepat. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Yang baik adalah melakukan pekerjaan kita dengan serius dan sungguh-sungguh seperti melakukannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Ingatlah bahwa Tuhan sanggup memberkati anda, mencukupi segala kebutuhan anda. Berkat datangnya dari Tuhan, dan bukan dari segala harta kekayaan yang kita kumpulkan. Karena itu tidak perlu cemas akan hari depan, jangan sampai motivasi bergeser menjadi hamba uang, namun lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya disertai rasa syukur akan Tuhan. Jangan lupa memberkati orang lain melalui apa yang telah kita terima, dan jangan lupa memuji dan menyembahNya. Betapa indahnya jika apa yang kita miliki berasal dari berkat Tuhan yang turun atas kita, berapa pun itu, karena apa yang berasal dari Tuhan pasti memberkati hidup kita dan tidak membawa kita ke dalam kesia-siaan. Carilah dahulu kerajaanNya dan kebenarannya, maka ketika semua ditambahkan kepada kita, kita tidak menjadi sesat dan lupa diri sehingga jatuh dalam berbagai jerat dosa. Apapun pekerjaan anda saat ini, selama tidak menyimpang dari firman Tuhan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, walaupun mungkin apa yang anda peroleh belum cukup untuk memenuhi kebutuhan anda sekeluarga. Percayalah Tuhan mampu memberkati anda lewat pekerjaan anda, dan mencukupi kebutuhan anda sehingga anda tidak berkekurangan!

Tuhan mampu memberkati pekerjaan yang kecil sekalipun secara luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: