22 januari

22 01 2009

bangun tidur tadi pagi, lihat kalender yang ada di sebelah tempat tidur, yak..hari ini tanggal 22 Januari 2009…ada apa yah dengan tanggal 22 januari ini..?? sepertinya tanggal yang tidak asing buat saya….hari ultah seseorang yang istimewa..?? bukan….lalu apa..?

bergegas saya ambil handuk, tapi alam pikiran saya masih terus memikirkan tanggal ini…

hmmmm….sambil mengguyur kepala dengan segayung air dingin, mencoba menjernihkan pikiran..masih belum juga terbersit di otak saya ada apa dengan tanggal 22 januari ini…

walah…koq sampe segitunya..yah udah…saya ambil sikap utk tidak peduli dengan pikiran saya tentang tanggal ini…selesai berpakaian saya ambil tas ransel warna hitam-oranye, tas kantor kesayangan, yang sudah berisi notebook, buku bacaan, charger, modem, mouse, dsb..dsb…

masuk ke dalam mobil…sambil menstater mesin tiba-tiba bayangan tanggal 22 januari ini kembali berkelebat dalam pikiran..lho koq…ada apa yah…??? saya segera menghidupkan radio mobil, berharap bayangan ttg tanggal ini segera hilang…tapi….yup…akhirnya ketemu jawabannya, setelah saya mendengar suara lagu di radio kesayangan saya..sebenernya bukan lagu itu yg dimaksud tapi adanya lagu yg saya dengar tadi membuka memori saya…

yak…22 januari adalah salah satu judul lagu karya Iwan Fals, kebetulan lagu kesayangan saya…

ada yang tahu lagunya…?? nah disini coba saya sharing liriknya yah…

22 Januari

22 januari, kita berjanji

coba saling mengerti apa di dalam diri

22 januari tidak sendiri,

aku berteman iblis yang baik hati…

reff:

jalan bergandengan tak pernah ada tujuan

membelah malam mendung yang slalu datang

ku dekap erat, kupandang senyummu

dengan sorot mata yang keduanya buta

lalu kubisikkan sebaris kata-kata putus asa…

sebentar lagi hujan..

2 buku teori kau pinjamkan aku

tebal tidak berdebu kubaca slalu

empat lembar fotomu dalam lemari kayu

kurawat dan kujaga sampai kita jemu

back to reff :

diambil dari album 1978 – 1988 karya Iwan Fals

//teke407





3 hal

7 01 2009

3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali :

  1. waktu
  2. kata-kata
  3. kesempatan

3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang :

  1. kemarahan
  2. keangkuhan
  3. dendam

3 hal yang tidak boleh hilang :

  1. harapan/obsesi
  2. keikhlasan
  3. kejujuran

3 hal yang paling berharga :

  1. kasih
  2. keluarga & teman
  3. kebaikan

3 hal dalam hidup yang tak pernah pasti :

  1. kekayaan
  2. kesuksesan
  3. mimpi

3 hal yang membentuk karakter seseorang :

  1. komitmen
  2. ketulusan
  3. kerja keras

sumber : pesan singkat melalui HP dari seorang sahabat saya menyambut tahun baru 2009.

//teke407





siapkan biskuit, permen dan susu kotak…

10 12 2008

image001 image002

Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari

image004Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Mari kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai angka 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 – Rp 30.000. Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per hari!

Kita membuat mereka betah di jalan
Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan – satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.

Jajan, main dingdong, dan setoran
Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak sepakat dengan salah satu program UNICEF, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari sekian penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah, dan tetap berkeliaran di jalan.

Siapkan biskuit, permen, susu kotak

Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada Anda semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai pengganti uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak pakai. Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen, buah, susu kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya – yang langsung bisa diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat Anda.

sumber : milis impala_unibraw@yahoogroups.com





kartun nabi muhammad – sebuah kontroversi berbau SARA

22 11 2008

keasyikan blog walking sampe2 saya lupa untuk nulis lagi, ditambah lagi dengan kehebohan adanya posting berupa kartun yang menghujat saudara kita muslim yang dimuat di sebuah blog yang berjudul http://lapotuak.wordpress.com membuat saya semakin asik untuk melihat-lihat komentar yang ada di blog-blog yang mengulas kartun di situs yang menghebohkan itu…huh..!!!

sempat saya berfikir, apakah ini memang kerjaan orang yang iseng saja ataukah dia mempunyai maksud tertentu…???

yah…dengan memuat sebuah postingan yang bombastis tentunya akan meningkatkan jumlah hitlist di blog tersebut, efek sampingnya jumlah kunjungan meningkat dengan signifikan, otomatis dia bisa meraup keuntungan secara pribadi tanpa memperdulikan ada pihak lain yang merasa sakit hati.

secara ekonomi si pemilik blog diuntungkan, tapi disisi lain ini mengundang protes banyak pihak, terutama disini adalah saudara kita muslim. reaksi keras bermunculan sampai dengan di tutupnya blog itu oleh WordPress…syukurlah….

tapi bagaimana kalo ternyata si pemilik blog ini memang punya maksud lain, misalnya bermaksud mengadu domba..? apalagi judul blognya aja berkaitan dengan suku batak yang notabene mayoritas beragama kristen…nah ini yang bakalan ruwet….!!

tapi tunggu dulu…saya baca di http://unjil.wordpress.com/2008/11/20/stop-press-wordpress-akan-buka-kembali-blog-penghujat/ situs ini akan dibuka kembali, tentunya dengan bebagai pertimbangan dari wordpress.

ini kutipan dari tulisan di blog tadi :

Akhirnya, setelah dipikir lebih matang lagi, WordPress memberi anda 2 pilihan (hanya dua, karena memang cuma itu yang ada):

Pilihan pertama, WordPress akan menutup blog manapun yang anda minta untuk ditutup. Ini artinya siapapun bisa menutup blog anda hanya karena tidak sependapat dengan pemikiran anda.

Pilihan kedua, WordPress.com buka kembali blog-blog yang sudah ditutup atas laporan pelecehan agama dan tidak akan lagi menghiraukan laporan-laporan sejenis di masa yang akan datang.

saya jadi tambah mumet nih, kira-kira saya setuju yang mana yah? di satu pihak saya setuju dengan opsi pertama, tapi mengandung konsekwensi, seandainya ada pihak apakah itu seseorang atapun segolongan orang yang tidak suka dengan isi tulisan di blog ini, maka dengan suka-sukanya blog saya ini bisa ditutup…walahhh..

tapi di sisi lainnya saya sepakat denga opsi kedua, wordpress tidak akan menutup blog manapun yang menggunakan jasa hosting gratisannya dengan alasan apapun…artinya blog milik siapapun akan aman-aman saja, gak kuatir sewaktu-waktu bakal ditutup oleh wordpress…tapi ini juga bisa membuat orang dengan suka-sukanya bisa membuat tulisan2 atau posting berupa apapun yang bisa membuat orang lain atau sekelompok orang kebakaran jenggot…

walahhh..[lagi] jadi mumet nih…

kalo anda kira2 setuju dengan opsi yang mana..?





::asiabersama.com :: [sebuah peluang - sekaligus beramal]

10 11 2008

berawal dari sebuah komen yan masuk dalam tulisan saya yang berjudul think positive…

isi komennya singkat aja, cuman meminta kita utk ber positive thinking dalam melihat segala hal. tentunya sesuai dengan topik tulisan saya. akhirnya saya coba masuk ke dalam situs/blog si pengirim komen. disitu dia menulis tentang sebuah program investasi yang secara garis besar menggambarkan kalo dengan investasi sedikit uang ditambah dengan promosi utk menggaet calon investor lainnya, niat yang tulus dan ikhlas dari si investor, maka uang uang diinvestasikan akan kembali secara berlipat ganda bahkan sampe 9 digit lho…!!! sungguh fantastis dan menggiurkan….!!

sempat saya berfikir, akh…ada-ada saja, koq kayak orang kurang kerjaan…tapi kemudian hati kecil saya berbisik…”hey boss…be positive…berfikir positive lah, khan ente undah nulis tentang positive thinking, jadi sekaranglah kau berfikir positif, jangan lah dulu memutuskan baik atau bukruk sebelum kau lihat dari sudut pandang yang lain…”

ahh…benar juga…lalu saya memutuskan untuk membaca habis isi program yang diberikan…

sempat terjadi pergumulan dalam hati kecil saya, apa bener…??

akhirnya saya bulatkan tekad untuk mencoba program ini. akhirnya saya mendaftar disitu dan melakukan kewajiban sebagai member. akhirnya saya pun punya pekerjaan baru, yaitu mempromosikan program ini kepada siapa saja, baik yang kenal maupun tidak kenal, termasuk kepada anda yang membaca blog saya ini.

pada awalnya memang berat untuk mempromosikan program ini kepada teman2 dekat saya. bahkan kakak saya sendiri mencibir. dan memberi tanggapan yg tidak positif. biar demikian tetap saya mencoba. yang ada dipikiran saya saat ini adalah, tidak ada salahnya mencoba, kalo memang tidak berhasil anggap saja saya sedang beramal kepada orang lain, lagi pula uang yang diinvestasikan tidaklah banyak. setara dengan minum kopi berdua di cafe bean atau oh lala..hehehehe…

jadi…prinsip saya pada saat mendaftar menjadi member di program ini adalah “NOTHING TO LOSE”, gak ada target muluk-muluk, sekalian trial and error, karena kita baru bisa menilai sesuatu itu baik atau tidak, bener atau tidak, tentunya dengan kita mencobanya terlebih dahulu. supaya kita terhindar dari kesimpulan…”kata orang begini,,,kata orang begitu…” tanpa kita tahu kebenarannya sendiri…hhehehe…

untuk informasi lebih lengkap tentang program ini, silahkan klik link ini : http://www.asiabersama.com

selamat berinvestasi, semoga beruntung…!!

salam,





anak menteng jadi presiden

6 11 2008

singkat aja postingan saya pagi ini…

selamat untuk Mr Barrack “barry oentoro” Hussein Obama Jr, you’re the man….jangan lupa sama Menteng ya mister..hehehe..

CHANGE…WE BELIEVE IN…!!!

Baca entri selengkapnya »





think positive…!!

1 11 2008

hari ini saya membaca Renungan Harian edisi tgl 29 Oktober 2008…

isi renungan yang dibahas cukup menarik, berkisar keseharian kita. yaitu ” terburu-buru menarik kesimpulan”…

berikut kutipan renungan harian yang saya baca : Baca entri selengkapnya »





ReStart

1 11 2008

hari sabtu, 1 november 2008…

hari pertama di bulan november ini kami sekeluarga pergi jalan-jalan ke salah satu gerai fastfood yg ada di kota makassar, kebetulan kantor istri saya mengadakan bazzar berupa menjual kupon makanan cepat saji yang di adakan di gerai fastfood ini.

sebetulnya agak malas mau ikut tapi karena sudah menjadi kebiasaaan kami untuk jalan-jalan mengajak puteri kami Regina di setiap hari sabtu akhirnya saya pun berangkat.

Baca entri selengkapnya »





iklan tempo doeloe

31 10 2008

sejenak saya terbengong-bengong…

lalu tertawa terbahak-bahak…

kenapa..?

satu iklan produk “tempo doeloe” tentang pembalut wanita membuat saya tidak habis pikir. betapa ribet dan susahnya kaum wanita tempo doeloe waktu kedatangan “tamu” setiap bulannya. sungguh saya tidak kepikiran sampe segitunya. melihat pembalut wanita [biasa disebut softex] produk tahun 30-an, lengkap dengan pengikat di pinggang, mirip sabuk…hehehehe…oops sorry…! bahasa yang digunakan pun cukup aneh buat kita yang membacanya pada saat sekarang ini. dengan penyusunan kata-kata yang menurut saya agak janggal.

Baca entri selengkapnya »





kaca spion (catatan masa kecil Andy F Noya)

10 10 2008

dapat dari milis tetangga, tidak ada salahnya saya share disini buat teman-teman yg sengaja atau tidak sengaja mampir di Warkop saya ini.
sebagai bahan perenungan diri, buat kita yang kebetulan sudah sukses atau makmur pada saat ini, apalagi yang punya pengalaman masa kecil yg kurang beruntung…

selamat membaca…

Kaca Spion (Catatan Andy Noya)

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said,
Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .
Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.

Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya.

Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai
gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami ? ibu, dua kakak, dan saya ? harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan
uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering sayamengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani. Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri.

Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya.

Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu.Pucat pasi.

Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.