beberapa peristiwa sepanjang bulan oktober 2008

31 10 2008

30 Oktober 2008 – RUU Pornografi disahkan menjadi Undang-Undang oleh 8 fraksi di DPR minus fraksi PDS dan PDI-P dan dua orang anggota FPG dari Bali. UU tersebut tinggal disahkan di rapat paripurna. (Detik)

29 – Gempa bumi Pakistan 2008 mengguncang Quetta. Menewaskan sedikitnya 100 orang. (CNN)

Baca entri selengkapnya »





iklan tempo doeloe

31 10 2008

sejenak saya terbengong-bengong…

lalu tertawa terbahak-bahak…

kenapa..?

satu iklan produk “tempo doeloe” tentang pembalut wanita membuat saya tidak habis pikir. betapa ribet dan susahnya kaum wanita tempo doeloe waktu kedatangan “tamu” setiap bulannya. sungguh saya tidak kepikiran sampe segitunya. melihat pembalut wanita [biasa disebut softex] produk tahun 30-an, lengkap dengan pengikat di pinggang, mirip sabuk…hehehehe…oops sorry…! bahasa yang digunakan pun cukup aneh buat kita yang membacanya pada saat sekarang ini. dengan penyusunan kata-kata yang menurut saya agak janggal.

Baca entri selengkapnya »





bernard, si beruang kutub [lucu banget]

28 10 2008

buat yang suka dengan aksi Bernard si Beruang Kutub…

untuk klip yang lainnya bisa anda down load link di bawah ini :

selamat ber haha hihi dengan kelucuan si bernard….
the storm : klik disini
sky diving : klik disini
the prisoner : klik disini
hang gliding : klik disini
i love sky : klik disini
ice climbing : klik disini
the cart : klik disini
the car : klik disini
in gymn : klik disini
the windows cleaner : klik disini
the oasis : klik disini
the mosquito : klik disini

//teke407





billiard [best billiard trik shot ever happen]

17 10 2008

buat para penggemar billiard….

klip video ini saya dapat dari milis tetangga…

lumayan untuk hiburan…

selamat melihat….:





kaca spion (catatan masa kecil Andy F Noya)

10 10 2008

dapat dari milis tetangga, tidak ada salahnya saya share disini buat teman-teman yg sengaja atau tidak sengaja mampir di Warkop saya ini.
sebagai bahan perenungan diri, buat kita yang kebetulan sudah sukses atau makmur pada saat ini, apalagi yang punya pengalaman masa kecil yg kurang beruntung…

selamat membaca…

Kaca Spion (Catatan Andy Noya)

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said,
Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .
Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.

Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya.

Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai
gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami ? ibu, dua kakak, dan saya ? harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan
uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering sayamengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani. Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri.

Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya.

Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu.Pucat pasi.

Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.





PSM makassar keok lagi…hiks..hiks…

10 10 2008

PSM makassar, Kesebelasan pujaan warga makassar kembali menelan pil pahit

kali ini dalam pertandingan tandang ke duanya di pulau jawa, setelah sebelumnya melawan persitara.

dalam pertandingan tandang perdana setelah lebaran, melawan persitara, PSM sukses menangguk 3 angka. tapi di pertandingan kedua, semalam, melawan persijap jepara, PSM menelan kekalahan telak 3 – 1.

kekuatiran akan kekalahan ini pernah diungkapkan sebelumnya oleh pelatih baru PSM, Raja Isa, sebelum berangkat ke Pulau jawa untuk lawatan pertandingan tandang PSM.

ada rumor menyebutkan bahwa stadion kandang Persijap betul-betul angker. bukan dalam arti kiasan, tapi dalam arti sesungguhnya. maksudnya aroma mistis di dalam stadion cukup kuat. katanya [lagi] sering pemain-pemail lawan tidak dapat menguasai bola karena ada faktor-faktor non-teknis tadi. terbukti kesebelasan-kesebelasan besar menelan kekalahan pada saat bertandang ke kandang persijap ini.

namun kekalahan PSM kali ini sepertinya bukan cuman faktor itu. ada motif sengaja melepas pertandingan ini yang dilakukan oleh Raja Isa. ini terlihat dari dirombaknya formasi inti PSM dengan mengedepankan pemain cadangan untuk menjadi starter.

terbukti, eksperimen Raja Isa ternyata berbuah kekalahan telak. tidak dimasukannya J-Lo menjadi starter mengundang kritik banyak pihak. karena mesin gol PSM ini tidak dimainkan.

dua pertandingan lagi menanti pembuktian keampuhan raja Isa sebagai ahli strategi. target 7 poin dalam 4 laga tandang tentunya bukan hal mudah, karena 2 kesebelasan lainnya yang akan di hadapi bukan musuh enteng.

Jangan sampai nasibmu seperti Kamerad “rudy” Radoy, datok…!!

go PSM…go…go…go…winnn..!!!

//teke407





sampah lebaran kota makassar 1,2 juta ton…!!!

8 10 2008

baru-baru ini situs resmi pemkot makassar mengumumkan bahwa sampah yang dikumpulkan oleh personel dinas kebersihan kota makassar dari beberapa titik pelaksanaan sholat ied dan sampah-sampah rumah tangga mencapai 1,2 juta ton…!!!

Enam titik yang dibersihkan di antaranya Lapangan Karebosi, Masjid Al-Markaz, Masjid Raya, Lapangan Hertasning, dan Masjid HM Asyik. Kepala Dinas PLHK Makassar Kusaiyyeng menjelaskan, pada enam titik itu ratarata sampah yang dibersihkan berupa sampah kering, yakni kertas koran bekas penggunaan alas saat salat Idul Fitri.

Sementara sisanya sampah rumah tangga yang dihasilkan dari meningkatnya jumlah konsumsi masyarakat pada hari Lebaran dan H+1 Lebaran. produksi sampah di Makassar ini meningkat 1.200 ton per hari atau sekitar 4.200 meter kubik pada hari Lebaran dan pada H+2. Bila dibandingkan hari biasa produksi sampah hanya capai 800 ton per hari atau sekitar 3.580 meter kubik.

ini berarti terjadi peningkatan sebesar 30%, didasarkan jumlah penduduk kota makassar sebanyak 1,2 juta orang dengan produksi sampah sebesar 4 liter setiap jiwanya.

sumber : http://makassarkota.go.id





sejarah nama kota makassar

8 10 2008

Kota Makassar pada 2007 ini konon sudah berusia 400 tahun. Untuk menelusuri kembali sejarah kota berjuluk “Kota Daeng” dan “Kota Angingmammiri” itu, Pemerintah Kota Makassar pada Sabtu, 30 Juni 2007 yang lalu, di Hotel Sahid Makassar, mengadakan Seminar Nasional 400 Tahun Makassar.”

Seminar dengan tema ”Menemukenali dan Merangkai Sejarah dan Budaya Makassar” itu menghadirkan 400 tokoh dan menampilkan beberapa pembicara.

Makassar adalah nama tempat bandar niaga kerajaan kembar Gowa dan Tallo. Kerajaan kembar itulah yang kemudian menyandang nama Kerajaan Makassar.

Nama Makassar sudah disebut dalam naskah kuno Jawa, Negara Kertagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca, pada 1364. Naskah itu juga menyebut nama Luwu, Bantaeng, dan Selayar.

”Nama tempat yang yang disebut Makassar (dalam naskah itu, red) belum dapat diidentifikasi hingga sekarang,” kata sejarawan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Edward L Poelinggomang.

Dalam tradisi pelaut dan pedagang yang berniaga ke Maluku, kawasan yang pulau-pulaunya berada di utara Pulau Sumbawa disebut dengan nama Makassar.

Tradisi penyebutan pulau-pulau tersebut dari para pelaut dan pedagang, kemudian diserap oleh pelaut dan pedagang Portugis setelah merebut dan menduduki Malaka.

Dalam catatan Tome Pores, diungkapkan bahwa pedagang-pedagang Melayu menginformasikan adanya jalur paling singkat dalam pelayaran ke Maluku, yaitu melalui Makassar (Cortesao, 1944).

Informasi itu mendorong pelaut dan pedagang Portugis menelusuri jalur pelayaran tersebut, sehingga dalam peta pelayaran pengembara Portugis, Pulau Kalimantan diberi nama ”Pulau Makassar yang Besar” (Gramdos ilha de Macazar), sedangkan Pulau Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya disebut ”Pulau-pulau Makassar (Ilhas dos Macazar).

Selain itu, kota-kota pelabuhan yang berada di pesisir barat Sulawesi yang menjadi tempat singgah dalam pelayaran ke Maluku, juga diberikan predikat Makassar, antara lain Siang Makassar, Bacukiki Makassar, Suppa Makassar, Sidenreng Makassar, Napo Makassar, dan Tallo Makassar.

Edward L Poelinggoman mengatakan, bandar niaga Makassar terbentuk dari dua bandar niaga dari kerajaan kembar Gowa-Tallo, yaitu bandar Tallo dari Kerajaan Tallo yang terletak di pesisir muara Sungai Bira (Sungai Tallo), serta bandar Sombaopu dari Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir muara sungai Jeneberang.

Dua kerajaan tetangga itu kemudian berhasil membentuk persekutuan pada 1528, setelah melalui pemufakatan penyelesaian konflik (perang). Kesepakatan itu berpengaruh bagi rakyatnya dan semua yang mengenal dua kerajaan kembar itu, sehingga muncul ungkapan ”satu rakyat, dua raja” (se’reji ata narua karaeng).

Persekutuan yang dibangun itu bersifat menyatukan dua kerajaan dalam kehidupan kenegaraan, tetapi tetap mengakui kedudukan kekuasaan masing-masing sebagai kerajaan.

Kerajaan Gowa ditempatkan sebagai pemegang kendali kekuasaan kerajaan kembar itu (sombaya), sedangkan Raja Tallo sebagai pejabat mangkubumi (tuma’bicara butta).

Membangun Tembok dan Benteng Pertahanan

Perang yang berakhir dengan pembentukan persekutuan kerajaan kembar Gowa-Tallo, berbasis pada keinginan Kerajaan Gowa untuk mengubah orientasi kehidupan kerajaannya dari agraria ke dunia maritim pada periode pemerintahan Raja Gowa IX, Tumapa’risi’ Kallonna Daeng Matanre Karaeng Manguntungi (1510-1546).

Kebijakan itu dilaksanakan mengingat semakin banyak arus migran pedagang Melayu ke kawasan ini setelah Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511.

”Setelah melakukan persekutuan dua kerajaan itu, yang secara kesejarahan diperintah oleh raja dari keturunan yang sama, Kerajaan Kembar itu melaksanakan perluasan kekuasaan dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan pesisir dan memaksa mereka untuk melakukan perdagangan dengan bandar niaga Tallo dan Sombaopu,” tutur sejarawan dari Unhas, Edward L Poelinggomang.

Raja Gowa ke-10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565), yang menjadi pelanjut Raja Gowa ke-9, memandang kebijakan itu kurang memberikan peluang bagi kemajuan bandar niaga kerajaan kembar Gowa-Tallo.

Ia kemudian merancang penaklukan kerajaan-kerajaan pesisir dan kerajaan-kerajaan yang memiliki potensi ekonomi dengan kebijakan baru, yaitu memaksa kerajaan-kerajaan taklukan untuk tunduk dan patuh kepada Raja Gowa X, serta mengangkut orang dan barang dari negeri taklukan, khususnya yang bergiat dalam dunia perdagangan maritim ke bandar Kerajaan Gowa-Tallo.

Akibat kebijakan itu, bandar-bandar niaga yang berada di pesisir jazirah selatan menjadi sirna, dan hanya ada dua bandar niaga, yakni bandar niaga Tallo dan bandar niaga Sombaopu.

Kedua bandar niaga itu secara fisik seolah-olah sudah menyatu dan membentang dari muara Sungai Bira (Sungai Tallo) hingga muara Sungai Jeneberang yang dipenuhi oleh para pedagang dari berbagai bandar niaga yang sebelumnya disebut Makassar.

Itulah yang kemudian mendasari para pedagang menyebut bandar niaga Tallo dan Sombaopu dengan sebutan Bandar Makassar, dan tidak menyebut Tallo Makassar atau Sombaopu Makassar.

Kerajaan kembar Gowa-Tallo juga kemudian disebut dengan nama Kerajaan Makassar, di mana Raja Gowa diangkat menjadi Raja, sedangkan Raja Tallo menjadi Mangkubumi atau Kepala Pemerintahan Kerajaan.

Bandar Makassar kemudian berkembang dan menjadi pusat kegiatan bagi para pelaut dan pedagang, termasuk pelaut dan pedagang dari Portugis pada 1532, Belanda (VOC) pada 1603, Inggris pada 1613, Spanyol pada 1615, Denmark pada 1618, dan China pada 1618.

”Berkumpulnya para pedagang di bandar Makassar, berhasil meningkatkan kegiatan perdagangan di kota pelabuhan itu,” urai Edward.

Untuk melindungi kegiatan perdagangan di kota pelabuhan itu, pemerintah Kerajaan Makassar membangun sejumlah benteng pertahanan sepanjang pesisir dari yang paling utara Benteng Tallo hingga yang paling selatan Benteng Barombong.

Selain benteng, sepanjang wilayah pesisir kota juga dibangun tembok yang di depannya berjejer perahu dan kapal dagang dari berbagai kerajaan di Asia Tenggara, China, dan dari Eropa, sedangkan di balik tembok juga berlangsung kegiatan perdagangan, baik di pasar tradisional, maupun di rumah-rumah dagang.

sumber :

http://makassarkota.go.id

harian pedoman rakyat – makassar, 8 agustus 2007





tentang lebaran…(nambah kolesterol..hehehe..)

4 10 2008

hari pertama lebaran

pagi hari kami sudah sibuk berkemas-kemas…

maklum, biarpun kami tidak merayakan lebaran tapi ada keluarga dekat kami yang merayakannya. dan sudah menjadi kewajiban kami untuk mengunjungi kerabat kami itu karena beliau adalah oom dari bapak mertua. sekitar jam 8.30 pagi kami sudah siap berangkat, semua perabotan, terutama perlengkapannya regina, sudah dimuat di bagasi mobil. tiba-tiba tante di depan rumah sudah nongol, dan mengajak kami untuk singgah terlebih dahulu di rumahnya untuk berlebaran dan menikmati hidangan lebaran di rumahnya….

tak dapat ditolak…hehehe..kamipun menikmati sarapan pagi di rumah tante itu..hhmm..hidangannnya : makanan khas gorontalo, kalo gak salah namanya “kuah bugis”, trus opor ayam, sambel ati goreng, dan penutupnya sepotong black forrest…ueenakk..rekkk…!!

jam 9.15 kami pun meninggalkan kota makassar menuju lebong, kurang lebih 15 km sebelum malino.

setiba disana kakek dan nenek sudah menunggu. dan kami pun langsung disuruh makan. cotto makassar dan burasa (sejenis lontong) sudah menunggu untuk disantap. kami pun “dengan terpaksa” harus makan. kalo tidak nanti nenek bisa marah..hehehe…2 mangkuk cotto pun akhirnya masuk ke dalam perutku. kekenyangan….

sejam kemudian kami pergi ke rumah kerabat lainnya, yaitu rumah anaknya nenek yang berada di tidak jauh dari rumah nenek. dan langsung disuruh makan. hidangannya : sambel pete, opor ayam, sambel ati goreng, lontong + ketupat. demi menghormati tuan rumah akhirnya saya pun harus makan lagi…hwwaahhh…katanya kalo gak makan yang punya rumah bisa tersinggung…hehehehe….

sekitar 2 jam kemudian kami berpindah rumah kunjungan. kali ini rumah adiknya nenek. dan langsung disuruh makan lagi…hidangannya : sup ayam, kari ayam, lontong, sambal goreng…

saya tidak berani makan banyak, kuatir isi perut nanti tumpah semua…hehehe…

akhirnya…jam 14.30 kami pulang kembali ke makassar.

tiba di rumah, istirahat sebentar. jam 18.15 saya, istri saya dan regina melanjutkan kunjungan lebaran ke rumah teman kantor. setiba disana beberapa teman sudah menunggu. karena kami datang belakangan kamipun langsung disuruh makan. hidangannya : cotto makassar, lontong, sambal goreng…

tiba di rumah, mertua saya mengingatkan supaya kami mengunjungi salah satu tetangga di sebelah rumah (tante tuti), kami pun segera datang berkunjung kesana tanpa sempat ganti baju dulu karena hari sudah larut malam. tiba di rumah tante tuti, setelah bersalam-salaman kami pun langsung disuruh makan…tanpa bisa menolak kami pun langsung makan. hidangannya : opor ayam, lontong, nasi, sambal. karena sudah kekenyangan sekali saya pun makan hanya sedikit…weleh..welehhh..

pulang dari rumah tante tuti saya langsung ganti baju dan langsung tersungkur di tempat tidur dan ngorok…kekenyangan…!!

lebaran hari kedua makan cotto di rumah kak hasna, trus di lanjut ke rumahnya harry (temannya sari) untungnya di rumah ini kami hanya makan kuwe. malam hari kami mengunjungi rumah sepupu dan oom dari mertua, makan opor ayam dan sup ayam…

hari ketiga

karena hari kedua kami tidak sempat datang di salah satu rumah teman kerja saya, akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung siang hari tadi. dan sama dengan kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, langsung disuruh makan. hidangannya : cotto makassar, lontong, burasa, salad buah, dan penutupnya es buah…

alhasil badan saya selama tiga hari ini terasa pegal-pegal…kayaknya kelebihan kolesterol…








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.